Jadal (Debat) dalam Al-Qur’an

20 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Hakekat-hakekat yang sudah jelas dan nyata telah dapat disentuh manusia, dibeberkan oleh bukti-bukti alam dan tidak memerlukan lagi argumentasi lain untuk menetapkan dalis atas kebenarannya. Namun demikian, kesombongan sering kali mendorong seseorang untuk membangkitkan keraguan dan mengacaukan hakekat-hakekat tersebut dengan berbagai keraguan yang dibungkus baju kebenaran tersebut serta dihiasinya dalam cermin akal. Usaha demikian itu perlu dihadapi dengan hujjah agar hakekat-hakekat tersebut mendapat pengakuan yang semestinya, dipercaya atau malah diingkari.

Al-Qur’anul Karim, seruan Allah kepada seluruh umat manusia, berdiri tegak di hadapan berbagai macam arus yang mengupayakan kebathilan untuk mengingkari hakekat-hakekatnya dan memperdebatkan pokok-pokoknya. Karenanya ia perlu membungkam intrik-intrik mereka secara kongkrit dan realistis serta menghadapi mereka dengan uslub bahasa yang memuaskan, argumentasi yang pasti dan bantahan yang tegar.

DEFINISI JADAL

Jadal atau jidaal adalah bertukar fikiran dengan cara bersaing dan berlomba untuk mengalahkan lawan. Pengertian ini berasal dari kata “jadaltul habla” yakni “ahkamtu fatlahu” (aku kokohkan jalinan tali itu), mengingat kedua belah pihak yang berdebat itu mengokohkan perdebatannya masing-masing dan berusaha menjatuhkan lawan dari pendirian yang dipegangnya.

Allah Ta’ala dalam al-Qur’an menyatakan bahwa jadal atau berdebat merupakan salah satu tabiat manusia:

“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak debatnya.” (al-Kahfi: 54) yakni paling banyak bermusuhan dan bersaing.

Rasulullah saw. juga diperintahkan agar berdebat dengan kaum musyrikin dengan cara yang baik yang dapat meredakan keberingasan mereka, firman-Nya:

“Serulah manusia kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.” (an-Nahl: 125)

Di samping itu, Allah memperkokoh juga berdiskusi dengan Ahli Kitab dengan cara yang baik. Firman-Nya:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik.” (al-Ankabuut: 46)

Berdiskusi demikian bertujuan untuk menampakkan yang haq (kebenaran sejati) dan menegakkan hujjah atas validitasnya. Itulah esensi metode jadal al-Qur’an dalam memberi petunjuk kepada orang kafir dan mengalahkan para penentang al-Qur’an. Ini berbeda dengan perdebatan orang yang memperturutkan hawa nafsu, dimana perdebatannya hanya merupakan persaingan yang bathil. Allah berfirman:

“…..tetapi orang-orang kafir membantah dengan cara yang bathil….” (al-Kahfi: 56)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: