Metode Berdebat yang Ditempuh Al-Qur’an

20 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Al-Qur’anul Karim dalam berdebat dengan para penentangnya banyak mengemukakan dalil dan bukti kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orang ahli. Ia membatalkan setiap kerancuan dan mematahkan setiap perlawanan dan pertahanan dalam uslub yang konkrit hasilnya, indah susunannya dan tidak memerlukan pemerasan akal atau banyak penelitian.

Al-Qur’an tidak menempuh metode yang dipegang teguh oleh para ahli kalam yang memerlukan adanya mugaddimah (premis) dan natijah (konklusi), seperti dengan cara ber-istidlal (inferensi) dengan sesuatu yang bersifat kulliy (universal) atau yang juz’iy (partial) dalam qiyas syumuul, beristidlal dengan salah satu dua juz’iy atas yang lain dalam qiyas tamsiil, atau ber-istidlal dengan juz’iy atau kulliy dalam qiyas istiqraa’. Hal itu disebabkan:
a. Al-Qur’an datang dalam bahawa Arab dan menyeru mereka dengan bahasa yang mereka ketahui.
b. Berdasarkan pada fitrah jiwa, yang percaya pada apa yang disaksikan dan dirasakan, tanpa perlu penggunaan pemikiran mendalam dalam beristidlal adalah lebih kuat pengaruhnya dan lebih efektif hujjahnya.
c. Meninggalkan pembicaraan yang tidak jelas, yang mempergunakan tutur kata yang rumit dan pelik, merupakan kerancuan teka-teki yang hanya dapat dimengerti kalangan ahli. Cara demikian yang biasa ditempuh oleh para ahli mantiq (logika) ini tidak sepenuhnya benar. Karena itu dalil-dalil tentang tauhid dan hidup kembali di akhirat yang diungkapkan dalam al-Qur’an merupakan hal terntentu yang dapat memberikan makna yang ditunjukkan secara otomatis tanpa harus memasukkannya ke dalam universal proportion.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, ar-Raddu ‘alaa Mantiqiyyin: “Dalil-dalil analogi yang dikemukakan para ahli debat, yang mereka namakan ‘bukti-bukti’ untuk menetapkan adanya Tuhan, Sang Pencipta, Yang Suci dan Mahatinggi itu, sedikitpun tidak dapat menunjukkan esensi Dzat-Nya. Tetapi hanya menunjukkan sesuatu yang mutlak dan universal yang konsepnya itu sendiri tidak bebas dari kemusyrikan. Sebab jika kita mengatakan: ‘Ini adalah baru, dan setiap yang baru mempunyai pencipta’; atau ‘Ini adalah sesuatu yang mungkin dan setiap yang mungkin harus mempunyai yang wajib’. Pernyataan seperti ini hanya menunjukkan baru mutlak atau wajib mutlak… Konsepnya tidak bebas dari kemusryikan.”

Selanjutnya ia mengatakan: “Argumentasi mereka tidak menunjukkan kepada sesuatu tertentu secara pasti dan spesifik, tidak menunjukkan waajibul wujuud atau yang lainnya. Tetapi ia hanya menunjukkan kepada sesuatu yang kulliy, padahal sesuatu yang kully itu konsepnya tidak terlepas dari kemusyrikan. Sedang waajibul wujuud, pengetahuan mengenainya, dapat menghindarkan dari kemusyrikan. Dan barangsiapa yang tidak mempunyai konsep tentang sesuatu yang bebas dari kemusryikan, maka ia belum berarti telah mengenal Allah…” lanjutnya: “Ini berbeda dengan ayat-ayat yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya, seperti firman-Nya yang artinya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (al-Baqarah: 164)

“Sesungguhnya pada apa yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal, bagi kaum yang berfikir.” Dan lain sebagainya; menunjukkan sesuatu yang tertentu, seperti matahari yang merupakan tanda bagi siang hari… dan firman-Nya:

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan.” (al-Israa’: 12)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan esensi Pencipta yang Tunggal, Allah swt. tanpa serikat antara Dia dengan yang lain. Segala sesuatu selain Dia selalu membutuhkan Dia, karena itu eksistensi segala sesuatu itu menuntut secara pasti eksistensi Pencipta itu sendiri.”

Dalil-dalil Allah atas ketauhidan-Nya, ma’aad (hidup kembali di akhirat) yang diberitakan-Nya dan bukti-bukti yang ditegakkan-Nya bagi kebenaran Rasul-Rasul-Nya, tidak memerlukan qiyaas syumuul atau qiyaas tamsiil. Akan tetapi dalil-dalil tersebut benar-benar menunjukkan maknanya secara nyata. Pengetahuan tentang itu menuntut pengetahuan tentang makna yang ditunjukkannya; dan perpindahan pikiran dari dalil tersebut kepada madlulnya pun sangat jelas bagai proses perpindahan pikiran dari melihat sinar matahari ke pengetahuan tentang terbitnya matahari itu. Inferensi semacam ini bersifat aksiomatik dan dapat dipahami oleh semua akal.

Berkata az-Zarkasyi (lihat al-Burhaan hal. 24 dan seterusnya. Kutipan ini sudah diedit): “Ketahuilah bahwa al-Qur’an telah mencakup segala macam dalil dan bukti. Tidak ada satu dalil pun, satu bukti atau definisi-definisi mengenai sesuatu, baik berupa persepsi akal maupun dalil naql yang universal, kecuali telah dibicarakan oleh Kitabullah. Tetapi Allah mengemukakannya sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab; tidak menggunakan metode-metode berfikir ilmu kalam yang rumit, karena dua hal:
1. Mengingat firman-Nya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul-pun melainkan dengan bahasa kaumnya.” (Ibrahim: 4)
2. Orang yang cenderung menggunakan argumentasi pelik dan rumit itu sebenarnya ia tidak sanggup menegakkan hujjah dengan kalam agung. Sebab orang yang mampu memberikan pengertian (persepsi) tentang sesuatu dengan cara lebih jelas yang bisa dipahami sebagian besar orang, tentu tidak perlu melangkah ke cara yang lebih kabur, rancu dan berupa teka-teki yang hanya dipahami oleh segelintir orang.

Oleh karena itu Allah memaparkan seruan-Nya dalam berargumentasi dengan makhluk-Nya dalam bentuk argumentasi yang paling agung yang meliputi juga bentuk paling pelik, agar orang awam dapat memahami dari yang agung itu apa yang dapat memuaskan dan mengharuskan mereka menerima hujjah, dan dari celah-celah keagungannya kalangan ahli dapat memahami juga apa yang sesuai dengan tingkat pemahaman para sastrawan.

Dengan pengertian itulah hadits: “Sesungguhnya setiap ayat itu mempunyai lahir dan bathin, dan setiap hurufnya mempunyai hadd dan matla, diartikan, tidak dengan pendapat kaum batiniyah. Dari sisi ini maka setiap orang yang mempunyai ilmu pengetahuan lebih banyak, tentu akan lebih banyak pula pengetahuannya tentang ilmu al-Qur’an.

Itulah sebabnya apabila Allah menyebutkan hujjah atas rubbubiyah [ketuhanan] dan wahdaniyah [keesaan-Nya] selalu dihubungkan, kadang-kadang, dengan “mereka yang berakal”, dengan “mereka yang mendengar”, dengan “mereka yang berfikir”, dan terkadang dengan “mereka yang mau menerima pelajaran”. Hal ini untuk mengingatkann, setiap potensi dari potensi-potensi tersebut dapat digunakan untuk memahami hakekat hujjah-Nya itu. Misalnya firman-Nya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kebesaran Allah] bagi kaum yang berakal.” (ar-Ra’du: 4) dan sebagainya.

Ketahuilah bahwa terkadang nampak dari ayat-ayat al-Qur’an, melalui kelembutan pemikiran, penggalian dan penggunaan bukti-bukti rasional menurut ilmu kalam… di antaranya adalah pembuktian tentang Pencipta alam ini hanya satu, berdasarkan induksi yang diisyaratkan dalam firman-Nya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah hancur binasa.” (al-Anbiyaa’: 22)

Sebab seandainya alam ini ada dua pencipta, tentu pengendalian dan pengaturan keduanya tidak akan berjalan secara teratur dan kokoh, dan bahkan sebaliknya. Kelemahan akan menimpa salah seorang dari mereka atau keduanya. itu disebabkan andaikan salah seorang dari keduanya ingin menghidupkan satu makhluk, sedangkan yang lainnya ingin mematikannya maka hal itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan: a) keinginan keduanya dilaksanakan maka hal itu akan menimbulkan kontradiksi, karena mustahil terjadi pemilahan kerja andai terjadi kesepakatan antara mereka berdua, dan tidak mungkin dua hal yang bertentangan dapat berkumpul jika tidak terjadi kesepakatan. b) keinginan mereka berdua tidak terlaksana. Maka yang demikian itu menyebabkan kelemahan mereka. c) keinginan salah satunya tidak terlaksana, dan ini menyebabkan kelemahannya, padahal Tuhan tidaklah lemah.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: