Arsip | 13.07

Pakaian yang Wajib – Sunah Dipakai ketika Shalat

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Yang wajib di antara pakaian itu ialah yang menutup aurat walaupun sempit dan hanya sekira menutup aurat. Dan jika ia tipis dan terbayang warna kulit di baliknya dan dapat diketahui putih atau merahnya, maka tidak boleh shalat dengan pakaian itu.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. ditanya orang tentang shalat dengan hanya selembar pakaian saja. maka sabdanya: “Apakah setiap kamu mempunyai dua macam pakaian?” (HR Muslim dan Malik serta lain-lainnya)

Dan disunnahkan shalat dengan memakai dua macam pakaian atau lebih dan sedapat mungkin agar berhias atau bersolek.

Dari Ibnu ‘Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang di antaramu hendak shalat, hendaklah ia mengenakan dua macam pakaian, karena terhadap Allah-lah kita lebih layak untuk berhias diri. Umpamanya ia tidak mempunyai dua lembar pakaian, hendaklah ia memakai sarung bila hendak shalat, dan janganlah kamu membelitkan pakaianmu ke tubuhmu sewaktu shalat itu sebagaimana halnya orang-orang Yahudi.” (HR Thabrani dan Baihaqi)

Dan ‘Abdur Razak meriwayatkan: Bahwa Ubai bin Ka’ab dan ‘Abdullah bin Mas’ud berdiskusi. Kata Ubai: “Shalat dengan memakai satu macam pakaian tidaklah makruh.” Dan kata Ibnu Mas’ud: “Itu hanya berlaku ketika pakaian masih sedikit.” Maka Umar pun tampil ke atas mimbar, katanya: “Yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Ubai, tapi janganlah Ibnu Mas’ud berputus harapan jika Allah melapangkan rizky maka mereka pun tentu akan bersolek dan bermegah-megah pula. Masing-masing laki-laki akan menghimpun pakaiannya hingga ada yang shalat dengan memakai sarung dan baju, ada yang memakai dengan kemeja, sarung dengan jaket, celana kulit dengan jaket, celana kulit dengan kemeja –dan kalau saya tak salah katanya pula- celana kulit dengan baju.” (Bukhari mencantumkan tanpa menyebut sebab)

Dan dari Buraida, katanya: Telah melarang Nabi saw. bila seseorang berselubungkan selembar kain dalam shalat sehingga ia tak dapat bergerak secara leluasa, juga ia melarang seseorang shalat dengan memakai celana tanpa baju.” (HR Abu Daud dan Baihaqi)

Dan dari Hasan bin Ali ra. bahwa bila hendak melakukan shalat, maka dipakainya pakaian terbaik lalu ditanyakan orang sebab-musababnya, maka ujarnya: “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan menyukai segala yang indah, dari itu kuperindah diriku untuk Tuhanku dan Dia telah berfirman: “Ambillah hiasanmu ketika hendak shalat.”

Shalat dengan kepala terbuka. Ibn ‘Asakir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi saw. kadang-kadang membuka kain tutup kepalanya dan meletakkanya sebagai hamparan di depannya.”

Menurut golongan Hanafi, tak ada salahnya jika laki-laki shalat dengan kepala terbuka, bahkan mereka menganggapnya sunah bila mencapai kekhusyukan. Dan tak ada dalil menyatakan lebih utamanya menutup kepala di waktu shalat.

&

Niat Shalat

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Niat dalam shalat adalah termasuk rukun shalat, karena firman Allah yang artinya: “Dan mereka tiada dititah, kecuali untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya semata.” (al-Bayyinah: 5)

Juga berdasarkan sebuah hadits bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya segala perbuatan tergantung kepada niat, dan setiap manusia akan mendapat sekadar apa yang diniatkannya. Maka siapa-siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul, hijrahnya itu adalah karena Allah dan Rasul (maksudnya hijrahnya itu beroleh hasil), dan barangsiapa yang hijrahnya karena keduniawian yang hendak diperolehnya, atau disebabkan wanita yang hendak dikawininya, maka hijrahnya itu adalah karena tujuan-tujuan yang hendak dicapainya itu.” (artinya hijrahnya itu bernilai rendah dan hina)

Dan mengenai hakekat niat ini telah dibicarakan dalam wudlu.
Dalam bukunya ighatsatul lahfan, Ibnul Qaiyim menyatakan: “Niat artinya adalah menyengaja dan bermaksud sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Dan tempatnya adalah di dalam hati, dan tak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan lisan. Dari itu tidak pernah diberitakan dari Nabi saw. begitu juga dari para shahabat mengenai alfadz niat ini.

Dan ungkapan-ungkapa yang dibuat-buat dan diucapkan pada permulaan bersuci dan shalat ini, telah dijadikan oleh setan sebagai arena pertarungan bagi orang-orang yang diliputi waswas, yang menuntut mereka untuk menyempurnakannya. Maka anda lihat masing-masing untuk mengulang-ulanginya dan bersusah payah untuk melafalkannya padahal demikian itu sama sekali tidak termasuk dalam ritual shalat.

&

Kaifiat atau Tata Cara Shalat

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Ada beberapa buah hadits yang diterima dari Rasulullah saw. menyatakan tata cara dan sifat shalat. Kita cukupkan disini mencantumkan dua buah hadits, yang pertama dari perbuatan beliau saw. dan yang kedua dari ucapan beliau:

1.Dari Abdullah bin Ghanam: Bahwa Abu Malik al-Asy’ari mengumpulkan kaumnya, katanya: “Hai golongan Asy’ari, berkumpullah dan himpunlah perempuan dan anak-anakmu, agar kuajarkan kepadamu cara shalat Nabi saw. yang dicontohkannya kepada kami di Madinah!” Maka berkumpullah mereka dan mereka himpun perempuan-perempuan dan anak-anak mereka.

Ab Malik pun berwudlulah dan diperlihatkannya kepada mereka cara-cara berwudlu, dengan membasuh semua anggota wudlu, hingga apabila matahari telah tergelincir dan bayang-bayang mulai condong ia pun bangkit lalu adzan. Laki-laki berbarislah pada shaf di muka diiringi anak-anak di belakang mereka, dan wanita di belakang anak-anak maka qamatlah ia lalu maju ke muka dan mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan takbir.

Setelah itu dibacanya al-Faatihah dan sebuah surah yang mudah, kemudia ia takbir, lalu rukuk dan mengucapkan, “SubhaanallaaHi wa bihamdiH.” Tiga kali.

Kemudian katanya pula: “Sami’allaaHu liman hamidaH.” Dan ia kembali bediri lurus, lalu takbir diiringi sujud ke bawah. Setelah itu ia takbir lagi dan mengangkat kepalanya, lalu takbir pula dan sujud, kemudian bangkit dan bangkit berdiri.

Maka dalam rakaat petama takbirnya adalah 6 kali. Dan sewaktu hendak bangkit pada rakaat kedua, ia membaca takbir pula. Dan kemudian, setelah selesai shalat, dihadapkannya wajahnya kepada kaumnya seraya katanya: “Hafalkanlah beberapa takbirku dan pelajari betapa caranya aku rukuk dan sujud, karena demikianlah cara shalatnya Rasulullah saw. yang pernah dicontohkan kepada kami di suatu siang hari seperti saat sekarang ini. Kemudian mengenai Rasulullah saw. setelah selesai melakukan shalat beliaupun menghadapkan mukanya kepada manusia, sabdanya: ‘Hai orang! Dengarkanlah dan pikirkanlah serta ketahuilah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mempunyai hamba-hamba bukan dari kalangan Nabi-nabi atau para syuhada tetapi para Nabi dan syuhada itu merasa iri kepada mereka disebabkan kedudukan dan dekatnya mereka kepada Allah.’

Tiba-tiba tampillah seorang laki-laki dan mengacungkan tangannya kepada Nabi saw. serta katanya: ‘Ya Nabi Allah! Anda mengatakan ada segolongan manusia yang bukan dari golongan anbiya maupun syuhada, tetapi anbiya dan syuhada ini merasa iri disebabkan kedudukan dan dekatnya mereka kepada Allah! Nah, coba anda terangkan sifat-sifat mereka kepada kami!’

Maka wajah Nabi saw. pun berseri-seri mendengar pertanyaan orang Badui itu, lalu sabdanya: ‘Mereka adalah orang-orang dari berbagai puak dan suku yang berbeda-beda, yang tidak ada sangkut-paut kekeluargaannya, tetapi berkasih-kasihan dan besusun bahu karena Allah. Allah akan menyediakan bagi mereka pada hari kiamat mimbar-mimbar dari cahaya dan mendudukkan mereka di sana.
Wajah-wajah mereka dijadikan Allah bersinar-sinar, begitu pun pakaian mereka. orang-orang pada hari kiamat itu sama-sama kecut, tetapi mereka sedikitpu tidak kecut, dan merekalah wali-wali Allah yang tidak kenal gentar maupun duka.’” (HR ahmad dan Abu Ya’la dengan isnad yang hasan begitu juga Hakim yang menyatakan isnadnya sah)

2.Dari Abu Hurairah, katanya: Seorang laki-laki telah masuk ke dalam masjid lalu shalat. Kemudian ia datang kepada Nabi saw. mengucapkan salam, Nabi pun membalas salamnya dan sabdanya: “Kembalilah shalat, karena kamu belum lagi benar-benar shalat!” orang itu pun kembali, dan melakukan shalatnya sampai tiga kali. Akhirnya katanya: “Demi Rabb yang telah mengutus anda dengan membawa kebenaran. Hanya seperti itulah yang dapat saya lakukan, maka ajarkanlah kepadaku.” Maka ujar Nabi saw.: “Jika kau hendak shalat, ucapkanlah takbir, kemudian bacalah ayat al-Qur’an yang mudah bagimu lalu rukuklah sampai keadaanmu tuma’ninah, artinya tenang tenteram, kemudian bangkitlah hingga berdiri lurus kembali, lalu sujud dengan tuma’ninah, kemudian duduk dengan tuma’ninah, lalu sujud kembali dengan tuma’ninah, kemudian lakukanlah seperti demikian pada shalatmu selanjutnya.” (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Hadits ini biasa disebut “haditsul musi’ fi shalatiH” artinya: “hadits orang yang tidak betul shalatnya”.

&

I’tidal Rukun Shalat Keenam

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Bangkit dari rukuk dan berdiri lurus [i’tidal], berdasarkan keterangan Abu Humaid mengenai sifat shalat Rasulullah saw.: “Dan jika beliau mengangkat kepalanya, maka beliau pun berdiri lurus hingga kembalilah setiap ruas punggung itu ke tempatnya semula.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan bercerita ‘Aisyah tentang Nabi saw.: “Maka bila beliau mengangkatkan kepala dari rukuk, beliau tidak sujud sebelum berdiri lurus lebih dahulu.” (HR Muslim)

Juga diriwayatkan bahwa Nabi saw. berpesan: “Kemudian bangkitlah sampai kamu berdiri lurus.” (Disepakati oleh ahli-ahli hadits)

Kemudian diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. telah bersabda: “Allah tidak akan memperhatikan shalat seorang laki-laki yang tidak meluruskan punggungnya di antara rukuk dan sujudnya.” (HR Ahmad, dan menurut Mudziri isnadnya cukup baik)

&

Fardlu-Fardlu Shalat

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Shalat mempunyai rukun-rukun dan fardlu, dari mana tersusun hakekat dan inti sarinya, sehingga bila ketinggalan salah satu di antaranya, maka hakekat tersebut tak dapat tercapai dan shalat dianggap tidak sah menurut syara’. Inilah perinciannya:

1. Niat
2. Takbiratul Ihram
3. Berdiri pada shalat wajib
4. Membaca al-Faatihah
5. Rukuk
6. Bangkit dari rukuk dan berdiri lurus (i’tidal) dengan tuma’ninah
7. Sujud
8. Duduk yang akhir sambil membaca tasyahud
9. Memberi salam

&

Hukum Orang Shalat yang Menyaksikan Ka’bah dan yang Tidak Menyaksikannya

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Orang yang shalat menyaksikan Ka’bah wajib menghadap ke arah Ka’bah itu sendiri, sedang yang tidak dapat menyaksikannya, wajib menghadap ke arahnya, karena inilah yang disanggupi dan Allah tidak membebani diri kecuali sekadar kemampuannya.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Apa yang terletak di antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR Ibnu Majah dan Turmudzi mengatakan hasan lagi shahih, juga Bukhari pernah membacanya)

Ini adalah untuk penduduk kota Madinah, dan orang yang sejurusan dengan mereka seperti pendudukan Syam, Jazirah dan Irah.

Mengenai penduduk Mesir, maka kiblat mereka di antara Timur dan Selatan [Tenggara]. Adapun Yaman, maka Timur hendaklah berada di sebelah kanan orang yang shalat, dan arah Barat di sebelah kirinya.
Dan India, hendaklah orang yang shalat membelakangi Timur dan menghadap Barat, demikian seterusnya.

Cara mengetahui kiblat: setiap negeri memiliki cara-cara tertentu untuk mengetahi kiblat. Di antaranya mihrab yang didirikan kaum Muslimin di bagian depan masjid, demikian juga kantor penunjuk arah dan lain-lain.

Hukum orang yang tidak mengetahui arah Kiblat:

Bagi orang yang tidak beroleh petunjuk-petunjuk kiblat misalnya karena gelap atau awan, wajib bertanya kepada orang yang tahu. Dan seandainya tidak ada, hendaklah ia berijtihad dan mengerjakan shalat menurut arah yang dihasilkan oleh ijtihadnya itu. Shalatnya sah dan tidak wajib diulangi, bahkan walaupun ternyata salah setelah selesai shalat.
Jika kekeliruan itu diketahui sementara shalat, hendaklah ia berputar ke arah kiblat tanpa memutuskan shalatnya.

Dari Ibnu ‘Umar ra. katanya: Sewaktu orang-orang berada di Kuba’ melakukan shalat shubuh, tiba-tiba datanglah seseorang mengatakan: “Pada malam tadi Nabi saw. telah menerima wahyu yang menyuruh menghadap Ka’bah. Dari itu menghadaplah ke sana!” ketika itu muka mereka menghadap ke Syam, maka mereka pun berputar menghadap Ka’bah.” (disepakati ahli-ahli hadits)

Kemudian bila seseorang shalat dengan menghadap ke arah sebagai hasil ijtihadnya, jika hendak melakukan shalat yang lain ia wajib mengulangi ijtihadnya.
Dan seandainya ijtihadnya itu mengalami perubahan, hendaklah ia mengamalkan hasil yang kedua, tetapi tidak wajib mengulangi shalat yang pertama tadi.

Gugurnya kewajiban menghadap kiblat:
Menghadap kiblat itu hukumnya fardlu, dan tidak gugur kecuali pada hal-hal berikut:

1. Shalat sunah bagi orang yang berkendaraan.
Dibolehkan bagi orang yang berkendaraan melakukan shalat sunah di atas kendaraan, rukuk dan sujud dengan isyarat kepala. Hendaklah sujud itu lebih rendah daripada rukuk, sedang kiblatnya mengikuti arah kendaraan. Dari Amir bin Rabi’ah, katanya: “Saya lihat Rasulullah saw. shalat di atas kendaraan menuruti arah kendaraan itu.” (HR Bukhari dan Muslim, dimana Bukhari menambahkan memberi isyarat dengan kepala, tapi demikian itu tidaklah dilakukannya pada shalat-shalat fardlu)

Sedangkan menurut riwayat Ahmad, Muslim dan Turmudzi, kalimatnya berbunyi sebagai berikut: “Bahwa Nabi saw. mengerjakan shalat di atas kendaraannya sewaktu datang dari Mekah menuju Madinah, dengan mengikuti arah kendaraan tersebut. Dan ketika itulah turun ayat: ‘Maka kemanapun kamu menghadap, akan diterima oleh Allah.’”

Dan dari Ibnu an-Nakha’i, katanya: “Mereka biasa shalat di atas kendaraan dan binatang-binatang tunggangan mereka menuruti arah yang ditujunya.” Berkata Ibnu Hazmin: “Ini merupakan hikayat para shahabat dan tabi’in umumnya, baik di waktu menetap, maupun sewaktu dalam perjalanan.”

&

Fardlu Membaca Al-Faatihah pada Setiap Shalat

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Membaca al-Faatihah pada setiap rakaat dari shalat fardlu dan sunnah. Telah diterima beberapa buah hadits shahih yang menyatakan fardlunya membaca al-Faatihah pada setiap raka’at. Dan karena hadits-hadits itu merupakan hadits-hadits shahih lagi tegas, maka ak ada dalil atau alasan untuk bertikai paham.

Dari Ubadah bin Shamit ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitab.”

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. telah bersabda: “Siapa yang mengerjakan suatu shalat tanpa membaca padanya ummul Qur’an –dalam sebuah riwayat: Faatihatul Kitab- maka shalat itu kurang tidak sempurna.” (HR Ahmad dan Bukhari dan Muslim) menurut khaththabi, kurang di sini maksudnya ialah kurang disebabkan rusak dan batal)

Menurut sebagian sumber dari “Hadits al Musi’ fii ShalatiHi” tersebut: “Kemudian bacalah Ummul Qur’an,” sampai sabdanya: “Kemudian lakukanlah demikian itu pada setiap raka’at.”

Kemudian telah diakui bahwa Nabi saw. selalu membaca al-Faatihah pada setiap raka’at dari shalat fardlu maupun sunnah, dan tidak pernah diterima menyalahi itu, sedang yang menjadi dasar utama dalam ibadah ialah mengikuti Nabi saw.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya shalat.” (HR Bukhari)

Para ulama telah sekata bahwa basmalah merupakan sebagian ayat pasa surah an-Naml. Mengenai basmalah yang terdapat pada permulaan surah, mereka berbeda pendapat dan terbagi atas tiga madzab yang terkenal:

1. Pertama: bahwa ia merupakan salah satu ayat dari al-Faatihah dan dari setiap ayat. Dan berdasarkan ini maka membacanya dalam al-Faatihah hukumnya wajib, dan mengenai sir ataupun jahar –melunakkan atau mengeraskan bacaan basmalah itu- hukumnya sama dan tidak ada bedanya dengan al-Faatihah. Alasan terkuat bagi madzab ini ialah hadits Na’im al-Mujammir, katanya: Saya shalat di belakang Abu Hurairah. Maka dibacanya: “BismillaaHir rahmaanir rahiim”, lalu dibacanya Ummul Qur’an. Demikian seterusnya dimana akhirnya ia berkata: “Demi Rabb yang nyawaku dalam tangan-Nya! saya ini adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah saw.” (HR Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Menurut Hafidh dalam al-Fath, hadits ini merupakan hadits yang paling sah menyatakan dibacanya basmalah secara jahar.

2. Kedua: bahwa ia merupakan suatu alat yang berdiri sendiri yang diturunkan untuk mengambil berkah dan pemisah di antara surah-surah, dan bahwa membacanya pada al-Faatihah hukumnya boleh bahkan sunnah, dan tidak disunnahkan menjaharkannya. Hal ini berdasarkan hadits Anas, katanya: Saya shalat di belakang Rasulullah saw. dan di belakang Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan mereka tidaklah membaca “BismillaaHir rahmaanir rahiim” secara jahar.” (HR Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Thahawi dengan isnad atas syarat Bukhari, dan Muslim)

3. Ketiga: bahwa basmalah adalah suatu ayat dari al-Faatihah atau dari surah lainnya, dan bahwa membacanya dimakruhkan baik secara sir maupun jahar, pada shalat fardlu maupun shalat sunnah. Madzab ini tidak kuat.

Ibnu Qaiyim telah menghimpun di antara madzab yang pertama dan yang kedua, katanya: “Adalah Nabi saw. sewaktu membaca “BismillaaHir rahmaanir rahiim” secara jahar, dan lebih sering membacanya dengan sir. Dan suatu hal yang tidak diragukan lagi adalah bahwa tidaklah selamanya beliau menjaharkannya, yakni sebanyak lima kali pada tiap siang dan malam, di waktu menetap maupun ketika bepergian. Dan hal ini tidak disadari oleh para khulafaur rasyidin dan oleh golongan terbesar dari shahabat-shahabatnya, serta kawan-kawan sebangsanya pada masa-masa berikutnya.”

Mengenai orang yang tak dapat membaca al-Faatihah, berkata Khaththabi: “Pada prinsipnya shalat itu tidak sah kecuali dengan membaca al-Faatihah. Dan adalah ma’qul atau logis bila membaca al-Faatihah itu hanya berlaku bagi orang yang dapat membacanya dengan baik, bukan bagi orang yang tidak dapat. Maka jika orang yang shalat itu tidak menguasai al-Faatihah, hanya ayat-ayat al-Qur’an lainnya, maka hendaklah ia membaca kira-kira tujuh ayat, karena dzikir utama setelah al-Faatihah, tidak lain dari yang setaraf dengannya, yaitu sama-sama ayat al-Qur’an. Dan seandainya ia tidak disebabkan oleh cacat pada watak, lemah ingatan, lidah yang kelu, atau penyakit-penyakit lain yang menimpanya, maka dzikir terbaik setelah al-Qur’an ialah apa yang diajarkan Nabi saw. berupa tasbih, tahmid dan tahlil.

Telah diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau telah bersabda: “Dzikir utama setelah firman Ilahi ialah ‘SubhaanallaaH, walhamdulillaaHi walaa ilaaHa illallaaHu, wallaaHu akbar.”
Sekian.

Apa yang dikatakan oleh Khaththabi itu dikuatkan oleh hadits Rifa’ah bin Rafi’: Bahwa Nabi saw. mengajarkan shalat kepada seorang laki-laki, sabdanya: “Jika ada ayat-ayat al-Qur’an yang hafal olehmu, bacalah. Jika tidak, maka ucapkanlah tahmid, tahlil dan takbir, kemudian rukuklah.” (HR Abu Daud dan Turmudzi yang menyatakannya hasan, juga Nasa’i dan Baihaqi)

&

Batas Aurat bagi Wanita

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Seluruh tubuh perempuan itu merupakan aurat yang wajib bagi mereka menutupinya, kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Firman Allah yang artinya: “Dan janganlah mereka memperlihatkan tempat-tempat perhiasan kecuali bagiannya yang lahir!” (an-Nuur: 31)

Maksudnya janganlah mereka memperlihatkan tempat-tempat perhiasan kecuali muka dan kedua telapak tangan, sebagaimana diterangkan oleh hadits dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan ‘Aisyah.

Dan dari ‘Aisyah bahwa Nabi saw. bersabda: “Allah tidak menerima shalat perempuan yang telah baligh kecuali dengan memakai selendang.” (HR Yang Berlima kecuali Nasa’i dan dinyatakan sah oleh Ibnu Khuzaimah dan Hakim, sedang Turmudzi menyatakannya sebagai hadits Hasan)

Dan dari Ummu Salamah: Bahwa ia menanyakan kepada Nabi saw.: “Bolehkah wanita shalat dengan memakai baju kurung dan selendang, tanpa kain atau sarung?” Ujar Nabi: “Boleh, asal saja baju itu dalam, hingga menutupi punggung dan kedua tumitnya.” (HR Abu Daud dan para Imam mensahkannya sebagai mauquf)

Dan dari ‘Aisyah bahwa ia ditanya orang: “Berapa macam pakaian yang harus dikenakan wanita yang hendak shalat?” Jawabnya kepada si penanya: “Tanyakanlah kepada Ali bin Abi Thalib, kemudian kembali dan beritahukan jawabannya kepada saya.”
Orang itupun datang mendapatkan Ali dan menanyakan hal itu padanya. Maka ujarnya: “Memakai selendang dan baju dalam.”
Sewaktu orang itu kembali kepada ‘Aisyah dan menceritakan hal itu, maka jawab ‘Aisyah: “Benarlah ia.”

&

Batas Aurat bagi Laki-Laki

21 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Aurat yang wajib ditutupi oleh laki-laki sewaktu shalat, ialah kemaluan dan pinggul. Mengenai yang lain, yakni paha, pusat dan lutut, maka terdapat perbedaan disebabkan bertentangannya hadits-hadits tentang hal itu.

Ada yang mengatakan bahwa paha, pusat dan lutut itu bukanlah aurat, dengan alasan: dari ‘Aisyah ra.: Bahwa Rasulullah saw. suatu ketika sedang duduk-duduk dengan pahanya yang terbuka. Maka Abu Bakar minta izin untuk masuk, yang dipersilakan oleh Nabi, sedang beliau masih tetap dalam keadaan seperti itu. Kemudian minta izin pula Umar yang juga dikabulkan oleh Nabi, dalam keadaan seperti tadi. Lalu datang pula Utsman minta izin masuk, maka Nabi pun melepaskan kainnya ke bawah. Dan setelah mereka bangkit pergi, saya tanyakan kepada beliau: “Ya Rasulallah, ketika Abu Bakar dan Umar minta masuk, anda kabulkan, sedangkan pakaian anda tetap seperti semula. Tetapi ketika Utsman minta masuk kenapa anda menurunkan kain?” Ujar beliau: “Hai ‘Aisyah. Tidakkah saya akan merasa malu terhadap orang, -yang demi Allah- sedangkan Malaikat sungguh merasa malu kepadanya?” (HR Ahmad dan Bukhari menyebutkannya sebagai mu’allaq)

Dan dari Anas ra.: bahwa Nabi saw. pada waktu perang Khaibar menyingsingkan kain dari pahanya, hingga kelihatan olehku paha yang putih itu.” (HR Ahmad dan Bukhari)

Berkata Ibnu Hazmin: “Terangkanlah bahwa paha itu bukan aurat. Seandainya aurat, tentulah tidak akan dibiarkan terbuka oleh Allah ‘Azza wa Jalla, paha Rasulullah saw. yang dijamin suci dan terpelihara dari dosa, di masa kenabian dan kerasulan, dan tentulah tidak akan sampai diperlihatkan-Nya kepada Anas bin Malik dan lain-lain, padahal Allah Ta’ala telah memelihara aurat beliau selagi masih kecil dan sebelum kenabian.”
Dalam kedua shahih Bukhari dan Muslim ada diriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah saw. suatu waktu ikut mengangkut batu Ka’bah bersama orang-orang, sedang ketika itu ia memakai sarung. Maka berkatalah pamannya, ‘Abbas, kepada beliau: “Hai keponakanku, bagaimana kalau kau tanggalkan sarungmu, dan kautaruh di atas bahumu untuk bantalan?” maka ditanggalkanlah oleh Nabi dan ditaruhnya di atas bahunya, tetapi akibatnya beliau pun jatuh pingsan. Dan semenjak itu beliau tak pernah lagi kelihatan telanjang.

Dan dari Muslim dari Abul ‘Aliyah al-Bara’, katanya: Abdullah bin Shamit telah memukul pahaku dengan telapak tangannya seraya katanya: “Saya pernah bertanya kepada Abu Dzar, lalu dipukulnya pahaku sebagaimana saya memukul pahamu sekarang ini, sambil katanya: ‘Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw. sebagaimana kau bertanya kepadaku, maka dipukulnya aku sebagaimana saya memukul pahamu, seraya sabdanya: lakukanlah shalat pada waktunya! Demikian sampai akhir hadits.

Berkata Ibn Hazim: “Seandainya paha itu aurat, tentulah tidak akan disentuh oleh Rasulullah saw. yaitu paha Abu Dzar, dengan tangan beliau yang suci itu!”

Begitu pula Abu Dzar jika menurut pendapatnya bahwa paha itu aurat, tentulah ia tidak akan menyentuhkan tangannya, demikian pula halnya Abdullah bin Shamit dan Abul Aliyah.

Dan sekali-sekali tidaklah mustahil seorang Muslim itu memukulkan tangannya kepada kemaluan orang atau kepada pantatnya atau ke tubuh seorang wanita asing tetapi dari luar kain!

Kemudian Ibnu Hazmin menyebutkan sebuah riwayat dengan isnad kepada Jubeir bin Huwairits, bahwa ia pernah melihat paha Abu Bakar yang ketika itu sedang terbuka, dan bahwa Anas bin Malik datang mendapatkan Qus bin Syumas dengan kedua pahanya terbuka.

Sedangkan orang yang beranggapan bahwa paha, pusat dan lutut adalah aurat, mengambil alasan kepada dua hadits berikut:

Dari Muhammad bin Jahsy, katanya: Rasulullah saw. lewat pada Ma’mar yang kedua pahanya sedang terbuka, maka sabdanya: “Hai Ma’mar tutuplah kedua pahamu karena paha itu aurat!” (HR Ahmad, Hakim dan Bukhari dalam buku Tarikh-nya, sedang dalam Shahihnya dinyatakan mu’alaq)

Dan dari Jarhad, katanya: Rasulullah saw. lewat sedang ketika itu saya sedang memakai pakaian dan paha saya terbuka, maka sabdanya: “Tutuplah pahamu, karena paha itu aurat!” (HR Ahmad, Malik, Abu Daud dan Turmudzi yang menyatakan hasan, sementara Bukhari menyatakannya dalam shahih-nya sebagai mu’allaq)

Demikianlah alasan-alasan yang dikemukakan oleh kedua belah pihak dan bagi orang-orang terserah untuk memilih salah satu di antaranya, walaupun dalam agama adalah lebih hati-hati bila orang yang mengerjakan shalat itu menutup sedapat mungkin antara pusat dan lututnya.

Berkata Bukhari: “Hadits Anas lebih kuat dari segi sanadnya, sedang hadits Jarhad lebih berhati-hati.” Maksudnya hadits Anas yang tersebut dulu, lebih sah jika ditinjau dari segi isnadnya.

&

Terjemah Tafsiriyah Al-Qur’an

21 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Dapatlah dikatakan, apabila para ulama Islam melakukan penafsiran al-Qur’an, dengan cara mendatangkan makna yang dekat, mudah dan kuat; kemudian penafsiran itu diterjemahkan dengan penuh kejujuran dan kecermatan, maka cara demikian dinamakan terjemah tafsir al-Qur’an atau terjemah tafsiriyah, dan dalam arti mensyarahi [mengomentari] perkataan dan menjelaskan maknanya dengan bahasa lain. Usaha seperti ini tidak ada halangannya, karena Allah mengutus Muhammad untuk menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia, dengan segala bangsa dan ras yang berbeda-beda.

Diriwayatkan bahwa Nabi saw. menjelaskan demikian: “Setiap Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedang aku diutus kepada manusia seluruhnya.” (Petikan hadits: “Telah diberikan kepadaku lima hal yang belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelum aku..” hadits ini terdapat dalam ash-Shahihain dan lainnya)

Dalam pada itu salah satu syarat risalah ialah balagh (sampai kepada umat rasul bersangkutan). Dan al-Qur’an yang diturunkan dalam bahasa Arab itu penyampaiannya kepada umat Arab merupakan suatu keharusan. Akan tetapi umat-umat lain yang tidak pandai bahasa Arab atau tidak mengerti sama sekali, penyampaian dakwah kepada mereka bergantung pada penerjemahan dakwah itu ke dalam bahasa mereka.

Padahal kita mengetahui bahwa kemustahilan terjemahan harfiyah dan keharamannya. Juga kemustahilan terjemah makna sanawi, sulitnya terjemah makna asli dan bahaya yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu jalan satu-satunya yang dapat ditempuh ialah menerjemahkan tafsir al-Qur’an yang mengandung asas-asas dakwah dengan cara yang sesuai dengan nas-nas Kitab dan sunnah, ke dalam bahasa setiap suku bangsa. Maka dengan cara ini sampailah dakwah kepada mereka dan tegaklah hujjah.

Terjemah tafsir al-Qur’an seperti telah kita sebutkan itu dapat kita namakan “terjemah tafsiriyah.” Corak terjemah ini berbeda dengan terjemah maknawiyah, sekalipun para peneliti tidak membedakan antara keduanya. sebab dalam terjemah maknawiyah terkesan seakan-akan penerjemah telah mengambil makna-makna al-Qur’an dengan berbagai aspeknya dan memindahkannya ke dalam bahasa asing, non Arab, sebagaimana dalam terjemahan selain al-Qur’an yang biasa disebut “Terjemah sesuai dengan bahasa aslinya.”

Penafsir berbicara dengan gaya seorang pemberi penjelasan terhadap makna kalam sesuai dengan pemahamannya, seakan-akan ia berkata kepada manusia: “Ini adalah apa yang saya pahami dari ayat anu.” Sedang penerjemah berbicara dengan gaya seorang yang mengetahui makna kalam secara sempurna dengan menuangkannya ke dalam lafadz-lafadz bahasa lain. Kedua hal ini jauh berbeda. Sebab penafsir akan mengatakan dalam menafsirkan ayat: “Maksudnya begini…,” lalu ia mengemukakan pemahamannya yang terbatas itu. Sedang penerjemah mengatakan: “Makna perkataan ini adalah makna ayat itu sendiri.” Dan kita telah mengetahui apa [bahaya, kemustahilan] yang terkandung dalam penerjemahan maknawi ini.

Berkenaan dengan terjemah tafsiriyah ini perlu ditegaskan bahwa ia adalah terjemahan bagi pemahaman pribadi yang terbatas. Ia tidak mengandung semua aspek pentakwilan yang dapat diterapkan pada makna-makna al-Qur’an, tetapi hanya mengandung sebagian takwil yang dapat dipahami penafsir tersebut. Dengan cara inilah aqidah Islam dan dasar-dasar syariatnya diterjemahkan sebagaimana dipahamkan dari al-Qur’an.

Apabila penyampaian dakwah merupakan salah satu kewajiban Islam, maka segala usaha yang dapat merealisasikan penyapaian ini, seperti pengkajian bahasa dan pemindahan dasar-dasar Islam ke dalamnya adalah wajib pula, sebagaimana pengetahuan akan bahasa-bahasa menurut kadar keperluan dapat memungkinkan kita mengkaji kitab-kitab berbahasa tersebut untuk menyanggah para misionaris dan orientalis yang berusaha menekan tiang Islam dari jauh maupun dari dekat. Inilah maksud Syaikhul Islam dalam kitabnya “al-Aql wan naql”, dimana ia berkata: “Adapun menyeru ahli istilah dengan istilah dan bahasa mereka tidaklah makruh apabila cara demikian diperlukan, dan makna-makna [seruan] yang disampaikan tetap benar. Misalnya menyeru bangsa asing seperti Romawi, Persia, Turki dengan bahasa dan adat kebiasaan mereka. hal demikian boleh dan baik, karena memang diperlukan. Tetapi para imam memandangnya makruh jika tidak diperlukan.”

Kemudian katanya: “Oleh karena itu, al-Qur’an dan hadits diterjemahkan bagi mereka yang hanya dalam memahami keduanya dengan terjemahan. Begitu pula seorang muslim boleh membaca kitab-kitab umat lain yang diperlukan, berbicara dengan bahasa mereka, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab, sebagaimana Nabi saw. telah memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mempelajari kitab orang Yahudi supaya ia dapat membacakan dan menuliskannya untuk beliau karena orang-orang Yahudi sendiri tidak dapat dipercaya.”

Apabila penerjemahan dengan pengertian hakiki, meskipun hanya penerjemahan makna-makna asal, tidak mungkin dilakukan terhadap semua ayat al-Qur’an, tetapi yang mungkin dilakukan adalah terjemahan dengan pengertian tafsir [terjemah tafsiriyah], maka perlulah mengingatkan para pembaca [terjemah al-Qur’an] terhadap hal demikian. Di antara caranya ialah menuliskan catatan-catatan di bagian tepi lembaran terjemahan yang menjelaskan bahwa terjemahan itu hanya merupakan salah satu segi atau segi paling kuat di antara sekian banyak segi yang dibawa ayat.

“Seandainya ada sebuah tim berniat baik dan berakal cemerlang menangani penerjemahan al-Qur’an ke dalam beberapa bahasa asing, dan mereka memahami benar maksud-maksudnya serta mempunyai pengetahuan mantap tentang bahasa-bahasa asing itu di samping menghindari segi-segi yang membuat kerancuan dalam terjemahan-terjemahan yang kini beredar di Eropa; tentulah usaha ini akan membuka bagi dakwah haq ini sebuah jalan yang semula masih tertutup, dan semakin tersebar pula agama yang suci dan mudah ini di negeri-negeri yang penuh dengan kelam dan kesesatan.” (Balaaghatul Qur-aan, hal 21)

&