Arsip | 07.21

Shalat Sunnah (Tathawwu’) lebih Utama Dilakukan di Rumah

23 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Imam Ahmad dan Muslim menceritakan dari Jabir ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Jikalau salah seorang daripadamu biasa shalat di masjid, hendaklah rumahnya juga diberi bagian dari shalatnya, supaya Allah meletakkan kebaikan di dalam rumahnya itu karena shalatnya tadi.”

Menurut riwayat Imam Ahmad dari Umar ra. bahwa Rasulullah bersabda: “Shalat seseorang di dalam rumahnya itu yakni berupa shalat sunnah adalah sebagai cahaya. Maka barangsiapa suka, di dapat menerangi rumahnya hingga bercahaya.”

Abdullah bin Umar ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kerjakanlah sebagian shalatmu itu dalam rumahmu dan jangan engkau jadikan rumahmu itu bagaikan kuburan [untuk tidur saja].” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Abu Daud meriwayatkan dengan isnad yang sah dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi saw. bersabda: “Shalat seseorang di rumahnya itu lebih utama daripada shalat di masjidku ini, kecuali jika shalat fardlu.”

Hadits-hadits di atas menjelaskan lebih utamanya shalat sunnah di rumah dan bahwa shalat di rumah itu bahkan lebih utama pula daripada di masjid. Imam Nawawi berkata: “Dianjurkan shalat sunnah di rumah itu ialah agar lebih tersembunyi dari umum hingga terhindar dari perbuatan riya’ [pamer kepada sesama manusia], juga lebih terjaga daripada apa-apa yang mungkin membatalkan amal. Lagi pula supaya rumah itu mendapat banyak berkah, banyak dituruni rahmat dan malaikat, serta setan lari daripadanya.”

&

Shalat Sunnah (Tathawwu’) Boleh Sambil Duduk

23 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Shala sunnah boleh dilakukan sambil duduk sekalipun kuat berdiri, bahkan boleh pula dilakukan dengan cara sebagian duduk dan sebagian lagi berdiri, baik berdiri itu lebih dulu maupun belakangan. Semua cara itu boleh tanpa makruh sama sekali. Perihal bolehnya duduk itu boleh dilakukan dengan cara bagaimanapun, hanya saja yang lebih utama ialah duduk tarabbu’ [bersila pada tapak kaki].

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Alqamah, katanya: Saya bertanya kepada ‘Aisyah: “Bagaimana dilakukan Rasulullah saw. jika shalat dua rakaat sambil duduk?” Ia menjawab: “Nabi saw. dalam kedua rakaat itu membaca sambil duduk, kemudian jika akan rukuk beliau berdiri dan terus rukuk.”

Imam Ahmad dan ash-habus Sunan meriwayatkan pula dari ‘Aisyah, katanya: Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw. membaca sambil duduk di waktu shalat malam, kecuali ketika beliau telah memasuki usia lanjut [tua]. Di saat itulah beliau membaca sambil duduk. Kemudian apabila telah tinggal empat puluh atau tiga puluh ayat, beliau berdiri meneruskan bacaannya dan terus rukuk serta sujud.”

&

Pembagian Shalat Sunnah (Tathawwu’)

23 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Shalat sunnah itu terbagi atas dua macam, yaitu Muthlaq dan Muqayyid
Untuk shalat sunnah muthlaq cukuplah seseorang berniat shalat saja. imam Nawawi berkata: “Seseorang yang melakukan shalat sunnah dan tidak menyebutkan berapa rakaat yang akan dilakukannya dalam shalat itu, bolehlah ia melakukan shalat satu rakaat lalu salam dan boleh juga menambahkannya menjadi dua, tiga, seratus, seribu rakaat dan seterusnya.
Apabila seseorang shalat sunnah dengan bilangan rakaat yang tidak diketahunya, lalu salam, maka hal itu pun sah pula tanpa perselisihan pendapat antara para ulama. Demikianlah yang telah disepakati oleh golongan kami [madzab Syafi’i] dan diuraikan pula oleh Imam Syafi’i dalam al-Imra’.”

Imam Baihaqi meriwayatkan dengan isnadnya bahwa Abu Dzar ra. melakukan shalat dengan rakaat yang banyak, dan setelah salam ditegur oleh Ahnaf bin Qais ra, katanya: “Tahukah anda bilangan rakaat dalam shalat tadi, apakah genap atau ganjil?” ia menjawab: “Jikalau saya tidak mengetahui berapa jumlah rakaatnya, maka cukuplah Allah mengetahuinya, sebab saya pernah mendengar kekasihku Abul Qasim [Nabi Muhammad] saw. bersabda.” Sampai di sini Abu Dzar ra. menangis –kemudian melanjutkan pembicaraannya: “Saya pernah mendengar kekasihku Abul Qasim bersabda: ‘Tiada seorang hamba pun yang bersujud kepada Allah satu kali, melainkan diangkatnya ia oleh Allah sederajat dan dihapuskan daripadany satu dosa.’” (HR Darami dalam musnadnya dengan sanad yang sah dan hanya ada seorang yang oleh para ahli hadits diperselisihkan adalah –keadilannya dalam meriwayatkan hadits)

Adapun shalat sunnah Muqayyid terbagi atas dua macam:
a. Yang disyariatkan sebagai shalat-shalat sunnah yang mengikuti shalat fardlu dan inilah yang disebut shalat sunnah Rawatib. Yang termasuk dalam bagian ini ialah shalat-shalat sunah Fajar, Dhuhur, ‘Asyar, Maghrib dan ‘Isya.
b. Yang disyariatkan bukan sebagai shalat sunnah yang mengikuti shalat-shalat fardlu.

&

Disyariatkannya Shalat Sunnah (Tathawwu’)

23 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Sengaja disyariatkannya shalat sunnah adalah untuk menambal kekurangan yang mungkin terdapat pada shalat-shalat fardlu, juga karena shalat itu mengandung keutamaan yang tidak terdapat pada ibadah-ibadah lain.

Dari Abu Hurairah ra. diceritakan bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya yang pertama-tama akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat itu ialah shalat. Allah berfirman kepada malaikat, sedang Dia adalah Maha Lebih Mengetahui: ‘Periksalah shalat hamba-Ku, cukupkah atau kurangkah?’ maka jikalau terdapat cukup, dicatatlah cukup. Tetapi jika terdapat kekurangan, Allah berfirman pula: ‘Periksalah lagi, apakah hamba-Ku itu mempunyai amalan shalat sunnah?’ jikalau terdapat ada shalat sunnahnya, lalu Allah berfirman lagi: ‘Cukupkanlah kekurangan shalat fardlu hambaku itu dengan shalat sunahnya.’ Selanjutnya diperhitungkanlah amal perbuatan itu menurut cara demikian.” (HR Abu Daud)

Dari Abu Umamah diceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah tidak memperhatikan sesuatu amal perbuatan hamba yang lebih utama daripada dua raka’at shalat sunah yang dikerjakannya. Sesungguhnya rahmat selalu di atas kepala hamba itu selama ia dalam shalat.” (HR Ahmad, Turmudzi dan disahkan oleh Suyuthi)

Imam Malik ra. berkata dalam kitab Muwaththa’: Aku menerima berita dari Nabi saw.: ‘Tetaplah engkau sekalian beristiqamah dan tidak dapat engkau sekalian menghitung kebaikan istiqamah itu. Ketahuilah bahwa sebaik-baik amal perbuatanmu itu ialah shalat dan tidak dapat menjaga wudlunya kecuali orang yang benar-benar beriman.”

Dan Imam Muslim ra. meriwayatkan dari Rabi’ah bin Malik al-Aslami, katanya: Rasulullah saw. bersabda: “Mintalah.” Jawabku: “Saya mohon berteman anda dalam surga.” Beliau bersabda pula: “Apakah ada lagi selain itu?” Jawabku: “Cukuplah itu saja.” maka beliau bersabda: “Tolonglah aku untuk terkabulnya permintaanmu dengan memperbanyak sujud [shalat].”

&

Dalam Shalat Sunnah (Tathawwu’), Lebih Utama Lama Berdiri daripada Banyak Sujud

23 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Jamaah ahli hadits kecuali Abu Daud meriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah, katanya: “Sesungguhnya Rasulullah saw. itu berdiri untuk shalat sehingga bengkak kedu betis atau kakinya dan ketika ditegur, beliau menjawab: ‘Tidakkah selayaknya saya menjadi seorang hamba yang bersyukur.’”

Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah bin Hubsyi al-Khatsami bahwa Nabi saw. ditanya: “Amal perbuatan manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab: “Lama berdiri dalam shalat.” Ditanya pula: “Sedekah manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab: “Hasil tenaga orang yang berkekurangan.” Ditanya pula: “Hijrah manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab: “Yakni orang yang hijrah artinya meninggalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah.” Ditanya pula: “Jihad manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab: “Orang yang berjihad melawan kaum musyrikin dengan harta dan jiwanya.” Ditanya pula: “Kematian manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang sampai ditumpahkan darahnya dan terbunuh pula kudanya.”

&