Arsip | 09.27

Surah-Surah yang Dibaca dalam Shalat Sunnah Fajar

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Dalam melakukan shalat sunnah fajar itu disunnahkan pula membaca surah-surah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi saw. Di antara hadits-hadits yang menerangkannya adalah:

Dari ‘Aisyah ra. katanya: “Rasulullah saw. itu dalam kedua rakaat shalat fajar membaca surah ‘Qul yaa ayyuHal kaafiruun’ dan ‘Qul HuwallaaHu ahad’, serta dibacanya perlahan-lahan [tidak dikeraskan suaranya].” (HR Ahmad dan Thahawi)

Dan dari ‘Aisyah pula bahwa Nabi saw. bersabda: “Kedua shalat itu ialah sebaik-baik surah.” Beliau membaca surah ‘Qul yaa ayyuHal kaafiruun’ dan ‘Qul HuwallaaHu ahad’ dalam masing-masing rakaat fajar itu.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari Jabir diterangkan bahwa ada seseorang yang shalat sunnah sebelum shubuh dan dalam rakaat pertama ia membaca surah ‘Qul yaa ayyuHal kaafiruun sampai selesai.
Maka bersabdalah Nabi saw.: “Inilah hamba yang mengenal Rabb-nya.” dan dalam rakaat yang penghabisan ia membaca ‘Qul HuwallaaHu ahad’ sampai habis. Nabi saw. bersabda pula: “Inilah hamba yang beriman kepada Rabb-nya.” Thalhah berkata: “Oleh karena itulah saya gemar membaca kedua surah itu dalam kedua rakaat ini.” (HR Ibnu Hibban dan Thahawi)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. katanya: “Rasulullah saw. dalam kedua rakaat shalat fajar membaca; maksudnya bahwa Nabi saw. pada rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca ayat berikut: Quuluu aamannaa billaaHi wa maa unzila ilainaa wa maa unzila ilaa ibraahiima wa ismaa’iila wa ishaaqa wa ya’quuba wal asbaathi, wa maa uutiya muusaa wa ‘iisaa wa maa uutiyan nabiyyuuna mir rabbiHim laa nufarriqu baina ahadim minHum wa nahnu laHuu muslimuun. [Kami percaya kepada Allah dan kepada apa-apa yang diturunkan kepada kami, juga yang diturunkan kepada Nabi-Nabi: Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak-anaknya serta cucu-cucunya; Musa dan Isa dan yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Rabb mereka. tiadalah kami membedakan seseorang pun di antara mereka dan kepada Allah kami menyerahkan diri.” (al-Baqarah: 136)]
Sedang dalam rakaat kedua ialah:
Qul yaa aHlal kitaabi ta’aalau ilaa kalimatin sawaa-im bainanaa wa bainakum allaa na’buda illallaaHa, wa laa nusyrika biHii syai-an, wa laa yattakhidza ba’dlunaa ba’dlan arbaabam min duunillaaHi, fa in tawallau faquulusyHaduu bi annaa muslimuun. [Katakanlah: Hai ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), marilah kembali kepada kalimat yang serupa di antara kami dengan kalian, yaitu supaya kita tidak menyembah kecuali kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun dan janganlah sebagian kita mempertuhan yang lain kecuali Allah. Dan apabila mereka mengabaikan seruan itu, maka katakanlah: Saksikanlah oleh kamu sekalian bahwa kami ini benar-benar Muslimin.”] (Ali ‘Imraan: 64)

Juga dalam riwayat Abu Daud dari Ibnu Abbas diterangkan bahwa Rasulullah saw. dalam rakaat pertama membaca: Quuluu aamaannaa billaaHi….[al-Baqarah: 136] dan dalam rakaat kedua membaca: falammaa ahassa ‘iisaa minHumul kufra qaala man anshaarii ilallaaHi, qaalal hawaariyyuuna nahnu anshaarullaaHi aamannaa billaaHi wasyHad bi annaa muslimuun. [Maka ketika Nabi Isa telah merasakan kekafiran mereka ia pun berkata: ‘Siapakah yang akan membelaku dalam menegakkan agama Allah?’ Kaum Hawari menjawab: ‘Kamilah yang akan menjadi pembela Allah. Kami telah beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa Kami adalah Muslimin yang sebenarnya.” (surah Ali ‘Imraan: 52)

Boleh pula dalam kedua rakaat sunnah Fajar itu seseorang menyingkat dengan hanya membaca surah al-Fatihah saja dengan alasan hadits riwayat ‘Aisyah yang telah disebutkan, yang menerangkan bahwa berdirinya Nabi saw. itu hanyalah sekedar cukup untuk membaca al-Fatihah.

&

Shalat Sunnah Fajar

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Keutamaan shalat sunnah Fajar.
Banyak hadits yang menjelaskan betapa besar keutamaannya menjaga dan tetap melakukan shalat sunnah fajar itu.

Dari ‘Aisyah yang diterima dari Nabi Muhammad saw. dalam menerangkan keutamaan shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat fajar, sabdanya: “Kedua rakaat itu lebih saya sukai daripada dunia seluruhnya.” (HR Ahmad, Muslim dan Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Jangan engkau tinggalkan kedua rakaat sunnah fajar itu, meskipun kamu dikejar oleh tentara berkuda.” (HR Abu Daud, Baihaqi dan Thahawi)

Pengertian hadits ini adalah hendaknya dua rakaat sunnah fajar itu jangan sekali-sekali ditinggalkan sekalipun waktu dikejar oleh musuh.

Dari ‘Aisyah katanya: Rasulullah saw. dalam mengerjakan shalat-shalat sunnah itu tidak serajin dalam mengerjakan shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Daud)

Dari ‘Aisyah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Kedua rakaat sunnah fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR Ahmad, Muslim, Turmudzi, dan Nasa’i)

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, katanya: Saya tidak pernah melihat Nabi saw. begitu rajin dan cepatnya mengerjakan suatu kebaikan, sebagaimana rajin dan cepatnya melakukan dua rakaat sebelum fajar.”

&

Shalat Sunnah Dhuhur Enam Rakaat

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Dari Abdullah bin Syaqiq, katanya: Saya bertanya kepada ‘Aisyah perihal shalat Rasulullah saw. Beliau berkata bahwa Nabi saw. shalat empat rakaat sebelum dhuhur dan dua rakaat sesudahnya. (HR Ahmad, Muslim dan lain-lain)

Dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan bahwa Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa shalat dalam sehari-harinya dua belas rakaat maka dibangunkanlah untuknya sebuah rumah di surga; yaitu empat rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah ‘isya dan dua rakaat sebelum shalat fajar.” (HR Turmudzi, dan ia berkata hadits ini hasan lagi shahih dan oleh Muslim diriwayatkan secara ringkas)

&

Shalat Sunnah Dhuhur Empat Rakaat

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Dari Ibnu Umar katanya: Saya ingat dari perbuatan Nabi saw. ada 10 rakaat sunnah rawatib, yakni dua rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib di rumahnya, dua rakaat sesudah ‘isya di rumahnya pula, dan dua rakaat sebelum shubuh.” (HR Bukhari)

Dari Mughirah bin Sulaiman, katanya: Saya mendengar Ibnu Umar berkata: Rasulullahs saw. itu tidak pernah meninggalkan dua rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah ‘isya dan dua rakaat sebelum shubuh. (HR Ahmad dengan sanad yang baik)

&

Shalat Sunnah Dhuhur Delapan Rakaat

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Dari Ummu Habibah, katanya: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa shalat empat rakaat sebelum dhuhur dan empat rakaat pula sesudahnya, maka Allah mengharamkan dagingnya dari api neraka.” (HR Ahmad dan ash-habus Sunan dan dishahihkan oleh Turmudzi)

&

Ringan Bacaan dalam Shalat Sunnah Fajar

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Yang terkenal dari petunjuk Nabi saw. ialah bahwa beliau suka meringankan bacaan dalam kedua rakaat sunnah fajar.

Dari Hafshah ra. katanya: “Rasulullah saw. shalat dua rakaat shalat fajar sebelum shubuh di rumahku dan beliau melakukannya cepat sekali.” Nafi berkata: “Abdullah bin Umar juga melakukannya dengan cepat.” (ini adalah riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. katanya: “Rasulullah saw. shalat dua rakaat sebelum shubuh dan melakukannya dalam waktu singkat. Karena demikian cepatnya, sampai-sampai saya ragu apakah dalam kedua rakaat itu beliau membaca surah al-Fatihah ataukah tidak.” (HR Ahmad dan lain-lain)

Dan dari ‘Aisyah ra. pula, katanya: “Berdirinya Rasulullah saw. dalam kedua rakaat sebelum shalat shubuh itu hanyalah sekedar untuk membaca al-Fatihah belaka.” (HR Ahmad, Nasa’i, Baihaqi, Malik dan Thahawi)

&

Mengkadla Shalat Sunnah Fajar

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang belum shalat dua rakaat fajar sampai matahari terbit, maka hendaklah mengerjakannya.” (HR Baihaqi)
Imam Nawawi berkata bahwa isnad hadits itu adalah baik.

Dari Qais bin Umar, bahwa ia keluar menuju masjid untuk melakukan shalat Shubuh dan di sana didapatinya Nabi saw. sedang melakukan shalat subuh, sedang ia sendiri belum mengerjakan dua rakaat sunnah fajar. Ia pun lalu shalat shubuh bermakmum kepada Nabi saw. kemudian setelah selesai ia berdiri lagi dan mengerjakan shalat sunnah fajar dua rakaat. Nabi saw. pun berjalan melewatinya, dan bertanya shalat apakah yang dilakukannya tadi. Olehnya dijawab shalat sunnah fajar; beliau saw. diam saja dan tidak memberikan teguran apapun.” (HR Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan ash-habus Sunan kecuali Nasa’i, al-Iraqi berkata bahwa isnad hadits ini adalah baik)

Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Umar bin Hushain: “Bahwa Nabi saw. pada suatu ketika sedang dalam bepergian. Sekalian shahabat pada tertidur sampai tak sempat lagi melakukan shalat fajar [shubuh]. Mereka bangun di saat matahari sudah terbit, mereka pun lalu berjalan sedikit sampai matahari agak tinggi. Kemudian beliau saw. menyuruh seorang muadzdzin untuk berdiri melakukan adzan dan seterusnya lalu melakukan dua rakaat sunnah sebelum fajar dan qamat serta melakukan shalat shubuh [fajar].”

Hadits-hadits di atas menyatakan bahwa shalat sunnah fajar itu boleh diqadla sebelum terbit matahari maupun sesudahnya, biar terlambat itu disebabkan udzur atau lainnya, dan biarpun terlambat itu hanya sunnah fajar itu sendiri, atau bersama-sama dengan shalat shubuh.

&

Keutamaan Shalat Sunnah Empat Rakaat Sebelum Dhuhur

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Dari Abu Ayyub an-Anshari bahwa ia shalat empat rakaat sebelum dhuhur. Kemudian sewaktu ia ditanya: “Mengapa anda selalu mengerjakan shalat sunnah ini?” ia menjawab: “Saya melihat Rasulullah saw. selalu mengerjakannya, lalu saya pun bertanya seperti itu dan beliau menjawab: ‘Sesungguhnya ada suatu saat di mana semua pintu langit dibuka, maka saya ingin sekali bahwa dalam saat itu ada suatu amal kebaikanku yang naik ke sana.’” (HR Ahmad dan sanadnya baik)

Dari ‘Aisyah, katanya: “Rasulullah saw. tidak meninggalkan empat rakaat sebelum dhuhur dan dua rakaat sebelum fajar, walaupun dalam keadaan bagaimanapun.” (HR Ahmad dan Bukhari)

Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah: “Bahwa Nabi saw. shalat empat rakaat sebelum dhuhur dengan memanjangkan berdiri di dalam keempat rakaat itu serta membaguskan pula rukuk dan sujudnya.”

Antara hadits riwayat Ibnu Umar yang menjelaskan bahwa beliau [Nabi saw.] itu shalat dua rakaat sebelum dhuhur dan hadits-hadits lain bahwa yang dikerjakannya itu adalah empat rakaat, sebenarnya tidak ada pertentangan, karena masing-masing meriwayatkan apa-apa yang dilihatnya masing-masing.

Hafidz berkata dalam kitab al-Fath, bahwa sebaiknya kedua macam hadits itu ditafsirkan dalam dua keadaan, yakni kadang-kadang beliau mengerjakan dua rakaat dan kadang-kadang empat rakaat.

Ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa kedua macam hadits ini dianggap bahwa apabila beliau sedang ada di masjid maka dikerjakanlah dengan pendek yaitu dua rakaat, sedang bila di rumah dikerjakannya empat rakaat.

Mungkin juga beliau mengerjakan yang dua rakaat di rumahnya lalu keluar masjid dan di sana ditambahkannya pula dua rakaat lagi. Jadi menurut penglihatan Ibnu Umar, beliau [Nabi saw.] hanya mengerjakan dua rakaat sebagaimana yang di masjid, sedang yang di rumah tidak diketahuinya, padahal ‘Aisyah mengetahui kedua-duanya yakni dua rakaat di rumah dan dua rakaat di masjid.

Pendapat ini dikuatkan oleh hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dalam hadits ‘Aisyah yang menjelaskan bahwa beliau [Nabi saw] shalat di rumahnya sebanyak empat rakaat sebelum dhuhur lalu keluar masjid. Sementara itu Abu Ja’far ath-Thabari berpendapat bahwa Rasulullah saw. dalam banyak hal shalat sunnah sebelum dhuhur empat rakaat dan jarang sekali dua rakaat.

Apabila seseorang shalat sebanyak empat rakaat baik sebelum dhuhur ataupun sesudahnya, maka yang lebih utama ialah agar memberi salam setiap selesai dua rakaat, sekalipun sah juga kiranya ia meneruskan empat rakaat dengan sekali salam. Hal ini berpedoman kepada sabda Rasulullah saw. “Shalat [sunnah] malam ataupun siang itu ialah dua-dua rakaat.” (HR Abu Daud dengan sanad yang sah)

&

Doa Setelah Shalat Sunnah Fajar

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar menerangkan demikian: “Diriwayatkan pada kita dalam kitab Ibnus Sunni dari Abul Malih yang namanya sendiri adalah Amir bin Usamah dari ayahnya, bahwa ayahnya itu shalat fajar dua rakaat dan bahwa Rasulullah saw. juga shalat di dekatnya dua rakaat yang singkat. Olehnya kedengaran Rasulullah saw. membaca sambil duduk setelah selesai shalat itu:

doa setelah selesai shalat sunnah fajar 1AllaaHumma rabba jibriila wa israafiila wa miikaa-iila wa muhammadin nabiyyi shallallaaHu ‘alaiHi wa sallama a’uudzubika minan naar (“Ya Allah, Rabbnya Jibril, Israfil, Mikail dan Muhammad saw, saya mohon perlindungan-Mu dari siksa api neraka” 3x)

Dalam kitab itu diriwayatkan kepada kita dari Anas dari Nabi sabdanya:

doa setelah selesai shalat sunnah fajar 2“Barangsiapa yang pada pagi hari Jum’at sebelum melakukan shalat shubuh membaca: astaghfirullaaHal ladzii laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaiHi (Saya mohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan Mengatur makhluk-Nya dan saya bertobat kepada-Nya) 3x, maka Allah Ta’ala mengampuni semua dosanya, walau sebanyak buih di lautan.”

&

Berbaring Sesudah Shalat Sunnah Fajar

27 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

‘Aisyah berkata: “Rasulullah saw. itu apabila telah selesai melakukan dua rakaat shalat fajar, lalu berbaring atas pinggang kanannya.” (HR Jama’ah)

Diriwayatkan juga dari ‘Aisyah ra. katanya: “Rasulullah saw. apabila telah selesai melakukan dua rakaat fajar, jika saya masih tidur, beliu pun berbaring lagi dan jika saya telah bangun, beliau pun bercakap-cakap dengan saya.”

Tentang hukum berbaring ini banyak sekali perbedaan pendapat di antara para ulama. Hanya yang lebih kuat adalah bahwa berbaring itu disunnahkan bagi orang yang melakukan shalat sunnah fajar di rumahnya dan tidak disunnahkan bagi orang yang melakukannya di masjid.

Al-Hafidz berkata dalam kitab al-Fath, sebagian ulama menetapkan sunnah itu bila dilakukan di rumah, bukan di masjid. Hal ini berpedoman pada apa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan pendapat demikian dikuatkan oleh sebagian ulama kita dengan alasan bahwa belum ada sebuah riwayatpun yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah melakukannya di masjid. Bahkan ada peristiwa yang benar-benar terjadi bahwa Ibnu Umar pernah melempari orang yang melakukannya di masjid. Demikianlah keterangan yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah.

Imam Ahmad ketika ditanya mengenai berbaring itu, berkata: “Saya sendiri tidak berbuat demikian itu, tetapi jikalau ada orang yang melakukannya, maka itu pun baik.”

&