Arsip | 13.58

Hikmah Pengulangan Kisah Al-Qur’an

29 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Al-Qur’an banyak mengandung berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang-ulang kali disebutkan dalam al-Qur’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Di satu tempat ada bagian-bagian yang didahulukan, sedang di tempat lain diakhirkan. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang-kadang secara panjang lebar, dan sebagainya. Di antara hikmahnya ialah:

1. Menjelaskan ke-balaghah-an al-Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Sebab di antara keistimewaan balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai bentuk yang berbeda. Dan kisah yang berulang ini dikemukakan di setiap tempat dalam uslub yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat yang lain.

2. Menunjukkan kehebatan mukjizat al-Qur’an. Sebab mengemukakan suatu makna dalam beragai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk tak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab, merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa al-Qur’an itu datang dari sisi Allah.

3. Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi betapa besarnya perhatian. Misalnya kisah Musa dengan Fir’aun. Kisah ini menggambarkan secara sempurna pergulatan sengit antara kebenaran dengan kebathilan. Dan sekalipun kisah ini sering diulang, tetapi pengulangannya tidak pernah terjadi dalam sebuah surah.

4. Perbedaan tujuan yang karenanya kisah itu diungkapkan. Maka sebagian dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat, karena hanya itulah yang diperlukan, sedang makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain, sesuai dengan tuntutan keadaan.

&

Tarjih dan Analisi Pendapat tentang Pengertian Tujuh Huruf

29 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Pendapat terkuat dari semua pendapat yang telah disebutkan tentang pengertian tujuh huruf adalah pendapat pertama [a], yaitu bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab dalam mengungkapkan makna yang sama. Misalnya aqbil, ta’ala, halumma, ‘ajal dan asra’. Lafal-lafal yang berbeda ini digunakan untuk menunjukkan satu makna yaitu perintah untuk menghadap. Pendapat ini dipilih oleh Sufyan bin ‘Uyainah, Ibn Jarir, Ibn Wahb dan lainnya. Ibn ‘Abdil Barr menisbahkan pendapat ini kepada sebagian besar ulama dan dalil bagi pendapat ini adalah apa yang terdapat dalam hadits Abu Bakrah berikut:

“Jibril mengatakan: ‘Wahai Muhammad, bacalah al-Qur’an dengan satu huruf.’ Lalu Mikail mengatakan: ‘Tambahkanlah.’ Jibril berkata lagi: ‘Dengan dua huruf.’ Jibril terus menambahkannya sampai enam atau tujuh huruf. Lalu ia berkata: ‘Semua itu obat penawar yang memadai, selama ayat azab tidak ditutup dengan ayat rahmat, dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat azab. Seperti kata-kata: halumma, ta’ala, aqbil, idHab, asra’ dan ‘ajal.’” (HR Ahmad dan Tabrani, dengan isnad jayyid. Dan ini adalah redaksi Ahmad)

Berkata Ibn ‘Abdil Barr: “Maksud hadits ini hanyalah sebagai contoh bagi huruf-huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan. Ketujuh huruf ini mempunyai makna yang sama pengertiannya, tetapi berbeda bunyi ucapannya. Dan tidak satu pun di antaranya yang mempunyai makna yang saling berlawanan atau satu segi yang berbeda makna dengan segi lain secara kontradiktif dan berlawanan, seperti rahmat yang merupakan lawan dari azab.” (lihat al-itqaan jilid 1 hal 47)
Pendapat pertama ini didukung pula oleh banyak hadits, antara lain: Seorang laki-laki membaca al-Qur’an di dekat Umar bin Khaththab. Umar marah padanya. Orang itu berkata: “Sungguh aku telah membacanya di hadapan Rasulullah, tetapi beliau tidak marah padaku.” Kata perawi: maka keduanya berselisih di hadapan Nabi. Orang itu berkata: “Wahai Rasulallah, bukankah engkau membacakan kepadaku ayat ini begini dan begini?” Nabi menjawab: “Ya.” Perawi menjelaskan: dengan jawaban ini timbullah ketidakpuasan dalam hati Umar, dan Nabi mengetahui hal tersebut di wajahnya. Lalu beliau menepuk-nepuk dada Umar seraya bersabda: “Jauhilah setan.” Ucapan ini diulanginya sampai tiga kali. Kemudian sabdanya pula: “Wahai Umar, al-Qur’an itu seluruhnya adalah benar, selama ayat rahmat tidak dijadikan ayat azab atau ayat azab dijadikan ayat rahmat.” (Hadits Ahmad dengan isnad yang para perawinya dapat dipercaya, dan dikeluarkan pula oleh Tabari)

Dari Busr bin Sa’id: Abu Juhaim al-Anshari mendapat berita bahwa dua orang lelaki berselisih tentang suatu ayat al-Qur’an. Yang satu mengatakan, ayat itu diterima dari Rasulullah, dan yang lain pun mengatakan demikian. Lalu keduanya menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Maka sabda Rasulullah: “Sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka janganlah kamu saling berdebat tentang al-Qur’an karena perdebatan mengenainya merupakan suatu kekafiran.” Sesungguhnya Allah telah menyuruh aku agar membaca al-Qur’an atas tujuh huruf.” (HR Ahmad dalam al-Musnad, dan Tabari, dinukil pula oleh Ibn Katsir dalam al-Fadaa’il dan oleh al-Haisami dalam Majma’uz Zawaa’id, dan ia mengatakan: Perawinya adalah para perawi hadits shahih)

Dari A’masy, ia berkata: Anas membaca ayat ini: inna naasyiyatal laili Hiya asyaddu wath-aw wa ashwabu qiilan (al-Muzzammil: 6). Maka orang-orang pun mengatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamzah, kalimat itu adalah ‘aqwamu’. Ia menjawab: “Aqwamu, ashwabu, aHyaa-u itu sama saja.” (Hadits Tabari, Abu Ya’la dan Bazzar, dan perawinya adalah perawi hadits shahih)

Dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: “Saya mendapat berita bahwa Jibril dan Mika’il datang kepada Nabi saw. Jibril berkata: ‘Bacalah al-Qur’an dengan dua huruf.’ Lalu Mika’il berkata kepadanya: ‘Tambahkanlah.’ Kata perawi: permintaan ini terus diulang hingga al-Qur’an boleh dibaca dengan tujuh huruf. Muhammad berkata: ‘Ketujuh huruf itu tidak berselisih mengenai yang halal dengan yang haram, dan tidak pula tentang perintah dengan larangan. Tetapi ia hanya seperti kata-katamu: Ta’aala, halumma dan aqbil.’ Selanjutnya ia menjelaskan, menurut qira’at kami ayat berikut ini dibaca: “in kaanat illaa shaihatuw waahidatun” (Yaasiin: 53) tetapi dalam qira’at Ibn Mas’ud dibaca: “in kaanat illaa zaqyataw waahidatun.” (HR Tabari dan Muhammad bin Sirin, seorang tabi’in. Maka hadits ini adalah mursal.)

Pendapat kedua [B] –yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam dari bahasa-bahasa Arab dengan mana al-Qur’an diturunkan; dengan pengertian bahwa kalimat-kalimatnya secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh bahasa tadi, karena itu maka himpunan al-Qur’an telah mencakupnya –dapat dijawab bahwa bahasa Arab itu lebih banyak dari tujuh macam, di samping itu Umar bin Khaththab dan Hisyam bin Hakim kedua-duanya adalah orang Quraisy yang mempunyai bahasa yang sama dan kabilah yang sama pula, tetapi qira’at [bacaan] kedua orang itu berbeda, dan mustahil Umar mengingkari bahasa Hisyam [namun ternyata Umar mengingkarinya]. Semua itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengna tujuh huruf bukanlah apa yang mereka kemukakan, tetapi hanyalah perbedaan lafadz-lafadz mengenai makna yang sama. Dan itulah pendapat yang kita kukuhkan.

Setelah mengemukakan dalil-dalil untuk membatalkan pendapat kedua ini, Ibn Jarir at-Tabari mengatakan: “Tujuh huruf yang dengannya al-Qur’an diturunkan adalah tujuh dialek bahasa dalam satu huruf dan satu kata karena perbedaan lafadz, tetapi sama maknanya. Misalnya: Halumma, aqbil, ta’aali, ilayya, qashdii, nahwii, qurbii, dan lain sebagainya yang lafadz-lafadznya berbeda karena perbedaan ucapan tetapi maknanya sama, meskipun lisan berlainan dalam menjelaskannya. Hal ini seperti yang kita riwayatkan tadi, dari Rasulullah dan dari shahabat bahwa yang demikian itu seperti kata-kata: Halumma, ta’aali, dan aqbil, atau seperti kata-kata: “maa yandhuruuna illaa zaqyatan” dan “illaa shaihatan”.

Tabari menjawab pertanyaan yang mungkin akan muncul, “Dimanakah kita jumpai di dalam kitab Allah satu huruf yang dibaca dengan tujuh bahasa yang berbeda-beda lafadznya, tetapi sama maknanya?” dengan mengatakan: “Kami tidak mendakwakan hal itu masih ada sekarang ini.” Ia juga menjawab pertanyaan yang diandaikan lainnya, “Mengapa pula huruf-huruf yang enam itu tidak ada?” ia menerangkan: “Umat Islam disuruh untuk menghafalkan al-Qur’an, dan diberi kebebasan untuk memilih dalam bacaan dan hafalannya sebagaimana diperintahkan. Namun pada masa Utsman keadaan menuntut agar bacaan itu ditetapkan dengan satu huruf saja karena dikhawatirkan akan timbul fitnah [bencana]. Kemudian hal ini diterima secara bulat umat Islam, suatu umat yang dijamin bebas dari kesesatan.” (lihat Tafsir at-Tabari, jilid 1 hal 57 dan sesudahnya)

Pendapat ketiga [C] –yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam hal [makna yaitu : amr, nahyu, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan masal –dijawab, bahwa dhahir hadits-hadits tersebut menunjukkan tujuh huruf ini adalah suatu kata yang dapat dibaca dengan dua atau tiga hingga tujuh macam sebagaimana keleluasan bagi umat; padahal sesuatu yang satu tidak mungkin dinyatakan halal dan haram di dalam satu ayat yang lain, dan keleluasan pun tidak dapat direfleksikan dengan pengharaman yang halal, penghalalan yang haram atau pengubahan sesuatu makna dari makna-makna tersebut.

Dalam hadits-hadits terdahulu ditegaskan bahwa para shahabat yang berbeda bacaan itu meminta keputusan kepada Nabi saw. lalu setiap orang diminta menyampaikan bacaannya masing-masing, lalu Nabi saw. membenarkan semua bacaan mereka meskipun bacaan-bacaan itu berbeda satu sama lainnya, sehingga keputusan Nabi itu, sehingga keputusan Nabi ini menimbulkan keraguan di sebagian mereka. maka kepada mereka yang masih ragu terhadap keputusan itu Rasulullah saw. katakan: “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf.”

Kita maklum, jika perselisihan dan sikap saling meragukan itu menyangkut penghalalan, pengharaman, janji, ancaman dan lain sebagainya yang ditunjuk oleh bacaan mereka, maka mustahil Rasulullah saw. akan membenarkan semuanya dan memerintahkan setiap orang untuk tetap pada bacaannya masing-masing, sesuai dengan qira’at yang mereka bacakan itu. Sebab jika hal demikian itu dapat dibenarkan, berarti Allah Yang Maha Terpuji telah memerintahkan dan mamfardlukan untuk melakukan sesuatu perbuatan tertentu dalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan kefardluannya; melarang dan mencegah untuk melakukan sesuatu itu, dalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan larangan dan cegahan; serta membolehkan secara mutlak untuk melakukannya, dalam arti memberikan keleluasaan bagi siapa saja di antara hamba-hamba-Nya untuk melakukan dan meninggalkannya di dalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan pilihan.

Pendapat demikian, jika memang ada, berarti menetapkan apa yang telah ditiadakan Allah Yang Maha Terpuji dari al-Qur’an dan hukum Kitab-Nya. Firman Allah yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau sekiranya itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.” (an-Nisaa’: 82)

Peniadaan tersebut (kontradiksi dalam al-Qur’an) oleh Allah Yang Maha Terpuji dari Kitab-Nya yang muhkam merupakan bukti yang paling jelas bahwa Dia tidak menurunkan Kitab-Nya melalui lisan Muhammad saw. kecuali dengan satu hukum yang sama bagi semua makhluk-Nya, bukan dengan hukum-hukum yang berbeda bagi mereka. (Takhrij at-Tabari, jilid 1 hal 48-49)

Pendapat ke empat (d) –yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam hal yang di dalamnya terjadi ikhtilaf- (pendapat ini adalah pendapat paling kuat sesudah pendapat yang kita pilih. Pendapat ini dipilih oleh ar-Razi yang didukung pula oleh Syaikh Muhammad Bakhit al-Muti’i dan Syaikh Muhammad ‘Abdul ‘Azim az-Zarqani, dari kalangan muta’akhirin).
Dijawab bahwa pendapat ini meskipun telah populer dan diterima, tetapi ia tidak dapat tegak di hadapan bukti-bukti dan argumentasi pendapat pertama yang menyatakan dengan tegas sebagai perbedaan dalam beberapa lafadz yang mempunyai makna sama. Di samping itu sebagian dari perubahan atau perbedaan yang mereka kemukakan pun hanya terdapat dalam qira’at-qira’at ahad. Padahal tidak diperselisihkan lagi, bahwa segala sesuatu yang berupa al-Qur’an itu haruslah mutawathir.

Begitu juga sebagian besar dari perbedaan-perbedaan itu hanya mengacu kepada bentuk kata atau cara pengucapannya yang tidak menimbulkan perbedaan lafadz, seperti perbedaan dalam segi i’rab, tasrif, tafkhim, tarqiq, fathah, imalah, idHar, idgham dan isymam. Perbedaan semacam ini tidak termasuk perbedaan yang bermacam-macam dalam lafadz dan makna; sebab cara-cara yang berbeda dalam pengucapan suatu lafadz tidak mengeluarkannya dari statusnya sebagai lafadz yang satu.

Para pendukung pendapat keempat memandang bahwa Mushaf-mushaf Utsmani mencakup ketujuh huruf tersebut seluruhnya, dengan pengertian bahwa mushaf-mushaf itu mengandung huruf-huruf yang dimungkinkan oleh bentuk tulisannya. Misalnya ayat: walladziina Hum li amaanaatiHim wa ‘aHdiHim raa-‘uun (al-Mukminun: 8), ayat ini dapat dibaca dengan bentuk jamak dan mufrad. Dalam rasam Utsmani ditulis lam+hamzah+mim+nun+ta’+Ha’+mim secara bersambung tetapi dengan menggunakan alif kecil (harakat berdiri).
Begitu juga dengan ayat: faqaaluu rabbanaa baa’id baina asfaarinaa (Saba’: 19), dalam rasam Utsmani ditulis “ba’+’ain+dal” secara bersambung dengan alif kecil di atasnya pula, dan seterusnya..
Apa yang mereka kemukakan sebagai salah satu macam ikhtilaf ini tidak dapat dibenarkan.

Perbedaan karena penambahan dan pengurangan, misalnya dalam firman-Nya: wa a-‘addalaHum jannaatin tajrii tahtaHal anHaaru (at-Taubah: 100) yang dibaca pula: “min tahtiHal anHaaru” dengan tambahan “min”. Dan firman-Nya: “wa maa khalaqadz dzakara wal untsaa (al-Lail: 3) yang juga dibaca: “wadz dzakara wal untsaa” dengan pengurangan kata “maa khalaqa”.

Perbedaan karena terdapat taqdim dan ta’khir, misalnya dalam firman-Nya: wa jaa-at sakratul mauti bil haqqi (Qaaf: 19), yang dibaca juga dengan “wa jaa-at sakratul haqqi bil mauti”. Sedang perbedaan dengan sebab ibdal [penggantian] seperti dalam firman-Nya: “wa takuunul jibaalu kal ‘iHnil manfuusy” yang dibaca: “wa takuunul jibaalu kash-shuufil manfuusy”.

Andaikata huruf-huruf itu masih terdapat dalam mushaf-mushaf Utsmani, tentulah Mushaf tersebut tidak dapat meredam pertikaian dalam hal perbedaan bacaan. Sebab meredam pertikaian hanya dapat tercapai dengan cara mempersatukan umat dalam satu huruf dari ketujuh huruf yang dengan al-Qur’an diturunkan. Kalaulah tidak demikian, tentulah perbedaan bacaan akan tetap ada dan juga tidak akan ada perbedaan antara motif pengumpulan mushaf yang dilakukan Utsman dengan pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar. Akan tetapi berbagai sumber menunjukkan bahwa pengumpulan al-Qur’an yang dilakukkan Utsman adalah penyalinan kembali al-Qur’an menurut satu huruf di antara ketujuh huruf itu untuk menyeragamkan kaum muslimin pada satu mushaf.

Utsman berpendapat bahwa membaca al-Qur’an dengan ketujuh huruf itu hanyalah untuk menghilangkan kesempitan dan kesulitan di masa-masa awal, dan kebutuhan akan hal itu pun sudah berakhir. Maka kuatlah motifnya untukmenghilangkan segala unsur yang menjadi faktor perbedaan bacaan, dengan mengumpulkan dan menyeragamkan umat pada satu huruf saja. dan kebijaksaan Utsman ini kemudian disepakati oleh para shahabat. maka dengan adanya kesepakatan ini terjadilah ijma’. Pada masa Abu Bakar dan Umar, para shahabat tidak memerlukan pembukuan al-Qur’an seperti yang dibukukan Utsman, sebab pada masa keduanya tidak terjadi perselisihan tentang al-Qur’an seperti yang terjadi pada masa Utsman. Dengan demikian, maka Utsman telah melakukan suatu kebijakan besar; menghilangkan perselisihan, mempersatukan dan menenteramkan umat.

Pendapat kelima (e) yang menyatakan bilangan tujuh itu tidak diartikan secara harfiah, dapat dijawab, bahwa nas-nas hadits menunjukkan hakekat bilangan tersebut secara tegas; seperti “Jibril” membacakan [al-Qur’an] kepadaku dengan satu huruf. Kemudian aku berulangkali mendesaknya agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahkannya kepadaku sampai tujuh huruf.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Dan sesungguhnya Tuhanku mengutusku untuk membacakan al-Qur’an dengan satu huruf. Lalu berulang-ulang aku meminta kepada-Nya untuk memberikan kemudahan kepada umatku. Maka Dia mengutusku agar membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf.” (Hadits Hasan).
Jelaslah bahwa hadits-hadits ini menunjukkan hakekat bilangan tertentu yang terbatas pada tujuh.

Pendapat keenam (f) yang menyatakan bahwa tujuh huruf adalah tujuh qiraat, dapat dijawab: bahwa al-Qur’an bukanlah Qiraat. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai bukti risalah dan mukjizat. Sedang qiraat adalah perbedaan dalam cara mengucapkan lafadz-lafadz wahyu tersebut, seperti meringankan [takhfif], memberatkan [tasqiil], membaca panjang dan sebagainya. Berkata Abu Syamah: “Suatu kaum mengira bahwa qiraat tujuh yang ada sekarang inilah yang dimaksudkan dengan tujuh huruf dalam hadits. Asumsi ini sangat bertentangan dengan kesepakatan ahli ilmu, dan yang beranggapan seperti itu hanyalah sebagian orang-orang bodoh saja.” (lihat al-itqaan jilid 1 hal 80)

Lebih lanjut at-Tabari mengatakan: “Adapun perbedaan bacaan seperti merafa’kan suatu huruf, men-jar-kan, menasabkan, mensukunkan, mengharakatkan dan memindahkannya ke tempat lain dalam bentuk yang sama; semua itu tidak termasuk dalam pengertian ucapan Nabi, “Aku diperintahkan untuk membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf”; sebab sebagaimana diketahui, tidak ada satu huruf pun dari huruf-huruf al-Qur’an yang perbedaan bacaannya, menurut pengertian ini, menyebabkan seseorang dipandang telah kafir karena meragukannya, berdasarkan pendapat salah seorang ulama –padahal Nabi mensinyalir keraguan tentang huruf itu sebagai suatu kekafiran- itu termasuk salah satu segi yang dipertentangkan oleh mereka yang berselisih seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat.” (Tafsir at-Tabari, jilid 1 hal 65)

Nampaknya apa yang menyebabkan mereka terperosok ke dalam kesalahan ini adalah adanya kesamaan “bilangan tujuh” [dalam hadits ini dengan qiraat yang populer], sehingga permasalahannya menjadi kabur bagi mereka. Ibn ‘Umar berkata: “Orang yang mengintepretasikan qiraat tujuh terhadap kata “Sab’ah” dalam hadits ini telah melakukan apa yang tidak sepantasnya dilakukan dan membuat kesulitan bagi orang awam dengan mengesankan kepada setiap orang yang berwawasan sempit bahwa qiraat-qiraat itulah yang dimaksudkan oleh hadits. Alangkah baiknya andaikata qiraat yang masyhur itu kurang dari tujuh atau lebih, tentu kekaburan dan kesalahan itu tidak perlu terjadi.”

Dengan pembicaraan ini, jelaslah bagi kita bahwa pendapat pertama (a) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan qiraat tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari bahasa Arab mengenai satu makna yang sama adalah pendapat yang sesuai dengan dhahir nas-nas dan didukung oleh bukti-bukti yang shahih.

Dari Ubai bin Ka’b, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku agar membaca al-Qur’an dengan satu huruf, lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku.’ Kemudian Dia memerintahkan kepadaku dengan firman-Nya: ‘Bacalah dengan dua huruf’. Kemudian aku berkata lagi: ‘Wahai Tuhanku, ringankanlah umatku.’ Maka Dia pun memerintahkan kepadaku agar membacanya dengan tujuh huruf dari tujuh pintu surga. Semuanya obat penawar dan memadai.’” (Hadits Muslim dan at-Tabari)

At-Tabari berkata: “Yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh macam bahasa, seperti yang telah kita katakan, dan tujuh pintu surga adalah makna-makna yang terkandung di dalamnya, yaitu, amr, nahyu, targhib, tarhib, kisah dan masal, yang jika seseorang mengamalkannya sampai dengan batas-batasnya yang telah ditentukan, maka ia berhak masuk surga. Alhamdulillah, tidak ada satu pendapatpun dari orang-orang terdahulu yang bertentangan dengan apa yang kita katakan ini, sedikitpun juga. Sedangkan makna ‘semuanya syaafin [obat penawar] dan kaafin [memadai]’ adalah sebagaimana difirmankan Allah Yang Maha Terpuji tentang sifat-sifat al-Qur’an:

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit-penyakit [yang berada] dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

Jadi al-Qur’an dijadikan oleh Allah sebagai obat penawar bagi orang-orang mukmin, yang dengan nasehat-nasehatnya mereka sembuhkan segalapenyakit yang menimpa hati mereka yaitu bisikan setan dan getaran-getarannya. Karena itulah maka al-Qur’an telah memadai dan mereka tidak memerlukan lagi nasehat yang lain, dengan penjelasan ayat-ayat-Nya itu.” (lihat Tafsir at-Tabari, jilid 1 hal 47, 67)
&