Arsip | Februari, 2014

Qiradh (Mudharabah)

28 Feb

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para Imam madzab sepakat dibolehkannya mdharabah atau qiradh menurut bahasa penduduk Madinah, yaitu seseorang menyerahkan modal kepada orang lain untuk diperdagangkan dan keuntungannya dibagi bersama.

Apabila seseorang memberikan barang keapda orang lain, seraya mengatakan kepadanya: “Juallah barang ini, dan harganya [uangnya] jadikan qiradh.” Maka qiradhnya tidak sah. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali. Menurut Maliki: qiradhnya sah. Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang ber-qiradh dengan mata uang. Para imam madzab tidak mengesahkannya, sedangkan Ashab dan Abu Yusuf membolehkannya, kalau mata uang tersebut masih berlaku.

Menurut pendapat umumnya para ulama, apabila pelaksana pekerjaan telah mengambil harta qiradh dengan persaksian, tidak terlepas ia daripadanya ketika terjadi pertengkaran, kecuali dengan persaksian. Para ulama Irak: diterima pengakuan pekerjaan tersebut dengan sumpah.

Apabila modal telah diserahkan kepada pelaksana pekerjaan [‘amil], lalu dibelikan barang, kemudian modalnya habis sebelum diserahkan kepada penjual, ia tidak dapat kembali meminta modal untuk membayar barang tersebut kepada pemberi modal. Dan barang menjadi milik pelaksana kerja, dan ia wajib membayarnya sendiri. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali. Menurut Hanafi: ia meminta kembali kepada pemilik modal.

Qiradh tidak boleh ditentukan batas waktunya, yang tidak menjadi batal sebelum datangnya, atau sudah sampai temponya. Kemudian, diakhiri hak menjual dan membeli. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali. Menurut Hanafi: dibolehkan yang demikian itu.

Apabila pemilik modal memberikan syarat kepada pelaksana kerja, yaitu jangan membeli sesuatu kecuali dari si fulan [orang tertentu], atau jangan menjual kecuali kepada si fulan, qiradhnya menjadi batal [tidak sah]. Demikian menurut pendapat Maliki dan Syafi’i. Hanafi dan Hambali: sah qiradhnya.

Apabila qiradh tidak sah, lalu pemilik modak bekerja, dan mendapatkan keuntungan [laba], pelaksana berhak upah sebanding dengan pekerjaannya, sedangkan laba hak dari pemilik modal [investor], dan kerugian menjadi tanggungjawabnya. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i.

Maliki mempunyai pendapat yang berbeda-beda, yaitu laba dikembalikan kepada qiradh, baik keuntungan ataupun kerugian. Al-Qadhi Abdul Wahab: dikembalikan kepada qiradh jika terjadi kerugian. Pendapat Maliki lainnya: Pelaksana diberi upah, sebagaimana pendapat Madzab Hanafi dan Syafi’i.

Apabila pelaksana kerja bepergian untuk kepentingan perdagangannya yang memerlukan biaya, belanjanya [keperluannya] diambilkan dari harta qiradh tersebut. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Maliki. Menurut Hambali: ditanggung sendiri, bahkan ongkos kendaraan.

Syafi’i mempunyai dua pendapat, dan pendapatnya yang paling jelas adalah belanjanya dari miliknya sendiri. Barangsiapa yang membuat qiradh dengan dasar keuntungan diperuntukkan baginya [investor], dan ia tidak dikenakan kerugian, hal ini diperbolehkan, demikian pendapat Maliki.

Para ulama Irak: modal menjadi utang baginya. Syafi’i: pelaksana mendapat upah yang biasa diterima orang lain, dan keuntungan menjadi milik investor. Pelaksana qiradh mendapat untung dengan jalan pembagian, bukan karena semata-mata memperoleh laba. Demikian menurut Syafi’i yang paling shahih dan Maliki. Hanafi: ia mendapat laba dengan semata-mata mendapat keuntungan. Seperti ini juga pendapat Syafi’i lainnya.

Para imam madzab berbeda pendapat, apabila pemilik modal membeli sesuatu dengan modal qiradh, yang menurut Maliki dan Abu Yusuf adalah sah. Menurut Syafi’i tidak sah. Seperti ini juga salah satu pendapat Hambali yang paling kuat.

Jika pelaksana menyatakan bahwa pemilik modal mengizinkan dirinya dalam menjual dan membeli dengan kontan dan tidak kontan, sedangkan pemilik modal [investor] mengatakan bahwa dia tidak mengizinkan kepadanya menjual atau membeli kecuali dengan kontan saja, yang diterima adalah perkataan pelaksana dengan sumpahnya. Demikian pendapat Hanafi, Maliki dan Hambali. Syafi’i: yang diterima adalah perkataan investor [pemilik modal] dengan sumpahnya.

Apabila pelaksana bermudharabah [qiradh] dengan orang lain, lalu ia menyerahkan modal kepada orang tersebut, kemudian mendapat keuntungan, kerja sama tersebut tidak diperbolehkan. Adapun kalau ia telah berbuat demikian, keuntungannya diberkan kepada qiradh yang pertama. demikian pendapat Hambali.

&

Akhirat adalah Derajat yang Paling Utama di Sisi Allah

28 Feb

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Firman Allah yang artinya:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir. Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). dan pasti kehidupan akhirat lebih Tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Israa’: 18-21)

&

Derajat di Surga dan Posisinya

28 Feb

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa surga memiliki banyak derajat. Di sana, juga terdapat perbedaan derajat di antara para hamba Allah yang semuanya bergantung pada amal mereka dan Allah-lah yang telah mendatangkan amal tersebut.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menegakkan shalat, berpuasa di bulan Ramadlan, berjuang di jalan Allah, atau tinggal di tanah kelahirannya, menjadi hak Allah untuk memasukkan orang tersebut ke dalam surga.” Shahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, apakah tidak seharusnya kita memberi kabar gembira kepada manusia?” Rasulullah saw. menjawab, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkat yang disediakan Allah untuk orang-orang yang berjuang di jalan Allah, sedangkan jarak di antara tingkat adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kalian ingin memohon kepada Allah, mohonlah surga firdaus karena surga firdaus berada di tengah-tengah surga dan merupakan surga tertinggi.”

Abu Hurairah mendengar Rasulullah bersabda, “Surga firdaus beradadi atas ‘Arsy Allah dan di sanalah sungai-sungai surga mengalir.”

Disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih dari Anas bin Malik bahwa Ummu Haritsah datang menghadap Rasulullah saw. sedangkan Haritsah termasuk mujahid yang gugur dalam perang Badar karena terkena anak panah. Lalu, Ummu Haritsah berkata, “Wahai Rasulallah, sungguh saya telah berbuat untuk Haritsah dari hati saya. Jika ia sekarang di surga, saya tidak akan menangis untuknya. Namun jika ternyata tidak, engkau akan melihat apa yang aku perbuat.” Rasulullah menjawab, “Apakah surga hanya satu? Surga itu banyak sekali, sedangkan yang tertinggi adalah surga firdaus.”

Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa ahli surga itu memiliki tingkatan-tingkatan, berdasarkan posisi mereka saat berada di surga.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ahli surga itu saling melihat antar kamar dan atasnya, sebagaimana saling memandangnya bintang-bintang yang beredar dan yang tetap di ufuk timur atau barat karena di antara mereka saling memiliki kelebihan.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, apakah di sana ada posisi yang khusus bagi para Nabi, yang orang lain tidak akan bisa sampai ke sana?” Rasulallah menjawab, “Tidak demikian, demi Dzat yang diriku berada di kekuasaan-Nya. Para Nabi akan berada satu posisi bersama orang-orang yang beriman kepada Allah dan yang membenarkan para Rasul itu.” (Shahih Bukhari)

Dala sebuah susunan Turmudzi dan Ibnu Majah, serta Shahih Ibnu Hibban, disebutkan sebuah hadits dari Abu Sa’id, yang ia terima dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Sesungguhnya ahli surga yang berada pada tingkat tertinggi dapat melihat orang-orang yang berada pada tingkat di bawahnya, sebagaimana melihat bintang-bintang yang tertinggi di langit. Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk golongan yang menikmatinya.” (HR Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Imam Turmudzi mengatakan, “Mu’adz bin Jabal tidak mengetahui tentang pemberian tersebut.”
Penulis buku ini mengatakan, “Hadits ini ditakhrij oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah, sebagaimana hadits terdahulu dan itu merupakan hadits yang shahih dan muttashil.”

Diriwayatkan dari Ibnu Wahab, dari Abdurrahman bin Zaid bin An’am, dari Utbah bin Ubaid Adh-Dhaby bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah saw. lalu ia bertanya: “Wahai Rasulallah, di surga ada berapa tingkatan?” Rasulullah saw. menjawab, “Seratus tingkat. Jarak antara satu tingkat dengan tingkat yang lain seperti jarak antara langit dan bumi. Pada tingkat pertama, rumah, pintu, dipan dan kuncinya terbuat dari emas. Pada tingkat kedua, rumah, pintu, dipan, dan kuncinya terbuat dari perak. Pada tingkat ketiga, rumah, pintu, dipan dan kuncinya terbuat dari yakut, mutiara, dan zabarjad [batu mulia]. Dan ada 97 tingkat lagi yang tidak seorang pun mengatahuinya kecuali Allah.”

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Di surga, terdapat seratus tingkat. Kalau saja seluruh alam dikumpulkan pada salah satu tingkat di surga tersebut, niscaya muat.” (HR Ibnu Majah dalam Sunan)

Imam Qurthubi dalam at-Tadzkirah mengomentari tentang keindahan tingkatan-tingkatan di surga dan tingginya posisi. Beliau berkata, “Ketahuliah bahwa ketinggian dan karakter kamar-kamar ini bergantung pada perbedaan perbuatan penghuninya. Oleh karena itu, sebagian menjadi lebih tinggi dari sebagian yang lain. Sedangkan, pengertian sabda Rasulullah saw. “Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, para Nabi akan berada satu posisi bersama-sama orang-orang yang beriman kepada Allah dan yang membenarkan para Rasul itu.” Hadits ini tidak menyebutk kata-kata amal atau yang lainnya, kecuali keimanan dan membenarkan para Rasul. Yang dimaksud sebenarnya adalah keimanan yang sempurna dan membenarkan para Rasul tanpa bertanya. Jika tidak demikian, bagaimana mungkin orang akan memperoleh kamar-kamar dengan keimanan dan pembenaran, sebagaimana pada umumnya? Jika demikian, semua orang yang mengesakan Allah akan berada pada posisi dengan kamar-kamar papan atas dan kelas tinggi. Dan ini adalah sesuatu yang mustahil. Allah berfirman: “Merkea itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi [dalam surga] atas kesabaran mereka…” (al-Furqaan: 75)

Kesabaran adalah upaya mengerahkan seluruh kemampuan jiwa dan tetap konsisten berdiri tegak di depan Allah dengan hati penuh pengabdian. Ini adalah karakteristik orang-orang yang dekat dengan Allah. Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya: “Dan bukanlah harta dan anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi [dalam surga].” (Saba’: 37)

Kamar tersebut tidak dapat diperoleh dengan banyaknya harta atau anak. Kamar itu hanya dapat diperoleh dengan keimanan dan amal shalih. Allah juga menjelaskan bahwa ahli surga juga memperoleh imbalan dari kelemahan mereka. Dan, tempat mereka adalah kamar-kamar. Semua itu mengajarkan akan keharusan adanya keimanan yang konsisten, serta hatinya senantiasa digantungkan kepada Allah, bahkan dalam seluruh urusan.

Ia tidak mengerjakan amal perbuatan buruk yang dapat merusak amal baik yang telah diperbuatnya. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan keimanan yang sempurna, yang membuat pemiliknya akan tetap tenang dengan keimanan tersebut. Sementara itu, orang yang keimanannya bercampur, tentu amal perbuatannya tidak akan demikian. Oleh karena itu, sangat relevan jika harus ada tingkatan-tingkatan dalam posisi di surga.

Di dalam surah ar-Rahman disebutkan adanya empat surga, dua di antaranya ada di atas yang lain. Ayat ini termasuk salah satu yang menunjukkan adanya perbedaan derajat di surga, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.” (ar-Rahmaan: 46)
“Dan selain dari dua surga tiu ada dua surga lagi.” (ar-Rahmaan: 62)

Dalam shahih Bukhari terdapat sebuah hadits yang membahas tentang dua surga di bawah surga yang lain tersebut.

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua surga yang terbuat dari perak, seluruh wadah serta seluruh benda yang ada di dalamnya. Dan ada dua surga yang terbuat dari emas, seluruh wadah serta seluruh benda yang ada di dalamnya. Batas antara suatu kaum dengan kesempatan melihat Tuhannya hanya sebatas surban orang dewasa yang menutupi wajahnya saat berada di surga ‘adn.” (HR Bukhari dan Muslim)

&

Derajat Tertinggi

28 Feb

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Firman Allah yang artinya: “Tetapi barangsiapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah beramal shalih maka mereka itulah yang memperoleh derajat yang tinggi [mulia].” (ThaaHaa: 75)

&

Kelebihan Derajat dalam al-Qur’an

28 Feb

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Masalah keutamaan adalah urusan Allah karena ilmu-Nya mencakup seluruh makhluk-Nya. adapun derajat di dunia merupakan karunia Allah berkaitan dengan apa yang telah diperbuat hamba-Nya. Akan tetapi, derajat di akhirat bergantung pada amal ijtihad, ketaatan kepada Allah, dan pelaksanaan perintah-Nya serta menjauhi semua yang dilarang-Nya selam di dunia.

Para Nabi adalah orang-orang yang paling besar dan paling baik amalnya serta ijtihadnya. Merekalah yang berada di derajat tertinggi. Sementara itu para ulama yang mengamalkan ilmunya, para ahli ilmu dan para ahli ijtihad yang semata-mata karena mengharap keridlaan Allah Swt. akan berada pada derajat tertinggi bersama-sama orang-orang yang selalu berbuat baik dan bertakwa, sebagaimana ahli al-Qur’an, para syuhada, dan para mujahid fii sabilillah. Mereka dan yang lainnya yang termasuk golongan orang-orang mukmin yang shalih, akan berada pada derajat tertinggi di surga Allah yang abadi.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Surga itu memiliki derajat dengan keutamaan yang agung. Para wali Allah yang mukmin dan bertakwa, akan berada pada derajat tersebut berdasarkan keimanan dan ketakwaan mereka.”

&

Keutamaan Derajat Manusia Menurut Al-Qur’an

28 Feb

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Firman Allah yang artinya:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain…” (an-Nisaa’: 32)

“Laki-laki [suami] itu pelindung bagi perempuan [istri] karena Allah telah melebihkna sebagian [laki-laki] atas sebagian yang lain [perempuan]….” (an-Nisaa’: 34)

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rizky…” (an-Nahl: 71)

“Rasul-Rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang [langsung] Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat…” (al-Baqarah: 253)

Ketika menceritakan tentang kelebihan orang-orang yang berjuang di jalan Allah, Allah swt berfirman: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,” (an-Nisaa’: 95)

Demikian juga, kelebihan dari Allah terhadap sebagian makhluk dan jenis-jenisnya bagi sebagian yang lain. Allah berfirman yang artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rizky dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (al-Israa’: 70)

&

Setiap Derajat Bergantung pada Amalnya

28 Feb

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Firman Allah yang artinya: “Dan masing-masing orang ada tingkatannya, [sesuai] dengan apa yang mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (al-An’am: 132) “Mereka itulah orang-orang yang beriman. Mereka akan memperoleh derajat [tinggi] di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizky [nikmat] yang mulia.” (al-Anfaal: 4) “….Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadid: 10) &

Tinggi Derajat karena Iman dan Ilmu

28 Feb

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Firman Allah yang artinya: “…Allah akan mengangkat [derajat] orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (al-Mujaadilah: 11)

&

Hadits Arba’in ke 31: Hakekat Zuhud

26 Feb

Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 31 (tiga puluh satu)Abul Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi ra. berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Wahai Rasulallah, tunjukkan padaku suatu amalan yang apabila kulakukan aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia.” Rasululullah saw. bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, pasti Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang di tangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu.” (HR Ibnu Majah dan yang lain, hadits ini hasan)

URGENSI HADITS

Hadits ini berisikan dua pesan Nabi saw. yang sangat penting.
– Pertama: zuhud terhadap dunia dan bahwa zuhud merupakan faktor penyebab kecintaan Allah terhadap hamba-Nya.
– Zuhud terhadap apa-apa yang dimiliki orang lain. Ini merupakan penyebab untuk mendapatkan kasih sayang dan penghormatan dari orang lain.

Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang muslim tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kecuali jika ia mendapatkan cinta Allah dan kasih sayang sesama manusia. Cinta Allah dapat diraih dengan mengutamakan kepentingan akhirat daripada kepentingan dunia. Sedangkan kasih sayang sesama manusia dapat diraih dengan tidak serakah ingin memiliki harta dunia yang dimiliki orang lain, dan lebih mengutamakan amal shalih. Karena amal shalih akan lebih bermanfaat bagi akhiratnya.

Karena itulah, Ibnu Hajar al-Haitamy berkata, “Hadits ini adalah satu dari empat hadits yang menjadi siklus ajaran Islam.”

KANDUNGAN HADITS

1. Pengertian Zuhud
Ada banyak definisi yang diberikan oleh Shalafush shalih terhadap zuhud. Namun semuanya bermaura kepada sebuah definisi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Abu Idris al-Khaulani ra. berkata, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini keberadaan yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Jika ditimpa musibah, maka kita lebih berharap untuk mendapatkan pahala.”

Jadi pada dasarnya, zuhud bisa disimpulkan dalam tiga hal. Ketiganya adalah amalan hati. Karena itulah, Abu Sulaiman ad-Darany berkata, “Janganlah kamu bersaksi bahwa seseorang itu orang yang zuhud, karena zuhud tempatnya di hati.”
Tiga hal tersebut adalah:

a. Lebih meyakini keberadaan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan. Sikap seperti ini lahir dari keyakinan yang benar dan tertanam sangat kuat bahwa Allah swt. akan dan selalu menjamin rizky hamba-Nya.
Firman Allah: “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkynya.” (Huud: 6)
“Dan di langit terdapat [sebab-sebab] rezekinya.” (adz-Dzaariyaat: 22)

b. Jika seseorang mendapatkan musibah dalam urusan dunia, misalnya: hilangnya harta benda, meninggalnya anak, maka ia lebih berharap akan mendapatkan pahala atas musibah tersebut, daripada meraung-raung seraya meminta agar musibah tersebut tidak terjadi. Sikap seperti ini hanya bisa ditumbuhkan oleh keimanan yang sempurna. Sikap ini menunjukkan betapa seseorang menganggap dunia adalah sesuatu yang remeh.

Ibnu Umar ra. berkata, dalam doanya Rasulullah saw. menyebutkan, “Ya Allah, berikanlah kepada kami, rasa takut kepada-Mu yang bisa menyampaikan kami kepada surga-Mu dan keyakinan yang bisa menjadikan kami menganggap remeh berbagai musibah duniawi.”

c. Baik pujian maupun cercaan tidak mempengaruhinya dalam berpegang teguh pada kebenaran. Ini adalah merupakan tanda sikap zuhud terhadap dunia. Ibnu Mas’ud berkata, “Yakin adalah tidak mengharapkan keridlaan manusia dengan cara yang membuat Allah murka.”

Berikut beberapa ungkapan para ulama seputar zuhud:
Hasan al-Basri berkata, “Seorang yang zuhud adalah jika ia melihat orang lain ia berkata: ‘Ia lebih baik dariku.’”
Wahb bin al-Ward berkata, “Zuhud adalah hendaknya kamu tidak sedik ketika kehilangan dunia dan tidak bangga ketika mendapatkannya.”
Az-Zuhri berkata, ketika ditanya tentang zuhud, “Tidak tergoda oleh yang haram, dan tidak tertipu oleh yang halal.”
Sufyan bin Uyainah berkata, “Seseorang yang zuhud adalah jika mendapat nikmat ia bersyukur, dan jika ditimpa musibah ia sabar.”
Rabi’ah berkata, “Zuhud yang paling utama adalah mengumpulkan sesuatu yang benar dan meletakkannya dengan benar.”
Suyan ats-Tsauri berkata, “Zuhud adalah pendek angan-angan. Bukan dengan memakan makanan yang tidak enak dan mengenakan pakaian yang jelek.”
Imam Ahmad berkata, “Zuhud adalah pendek angan-angan dan tidak serakah terhadap harta yang dimiliki orang lain.”

2. Macam-macam Zuhud.
Menurut sebagian salafush Shalih, zuhud ada tiga:
a. Zuhud terhadap kemusyrikan
b. Zuhud terhadap perkara-perkara yang dilarang
c. Zuhud terhadap perkara-perkara yang diperbolehkan.

Dua macam zuhud pertama adalah wajib, sedangkan yang ketiga bukanlah yang wajib.
Ibnul Mubarak berkata, bahwa Ma’la bin Abi Muthi’ berkata, “Zuhud ada tiga bentuk:
a. Segala perbuatan atau ucapan hanya karena Allah, dan bukan untuk mendaptkan keuntungan duniawi.
b. Hanya membatasi diri pada hal-hal yang bermanfaat.
c. Zuhud terhadap hal-hal yang halal. Ini hanya sebatas anjuran.

Ibrahim bin Adham berkata, “Zuhud ada tiga jenis: zuhud wajib, zuhud keutamaan, dan zuhud keselamatan. Zuhud wajib adalah zuhud terhadap hal-hal yang dilarang. Zuhud keutamaan adalah zuhud terhadap hal-hal yang dibolehkan. Sedangkan zuhud keselamatan adalah zuhud terhadap hal-hal yang syubhat.”

Imam Ahmad Ahmad berkata, “Zuhud ada tiga bentuk:
a. Meninggalkan yang dilarang. Ini adalah zuhudnya orang-orang awam
b. Meninggalkan perkara-perkara yang diperbolehkan akan tetapi melebihi kebutuhan. Ini adalah zuhudnya khowash (orang-orang khusus)
c. Meninggalkan hal-hal yang memalingkan dari mengingat Allah. Ini adalah zuhudnya arifin (orang-orang yang memahami ajaran Islam dengan sempurna)

3. Langkah-langkah untuk meraih sifat zuhud.
Ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh seorang muslim, untuk meraih sifat zuhud. Diantaranya:

a. Memikirkan kehidupan akhirat dan hari perhitungan. Dengan begitu ia dapat mengalahkan godaan syetan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia yang sementara. Diriwayatkan bahwa Haritsah ra. berkata kepada Rasulullah saw., “Pagi ini saya menjadi orang mukmin yang sebenarnya.” Beliau berkata kepadanya: “Seorang mukmin yang benar itu memiliki hakekat. Lantas apa hakekat dari keimananmu?” ia menjawab: “Saya jauhkan diriku dari dunia, hingga di mataku batu dan permata tampak sama. Saya seakan-akan melihat singgasana Tuhanku tampak nyata. Saya seakan-akan melihat penduduk surga bersenang-senang di dalam surga, dan penduduk neraka disiksa di dalam neraka.” beliau berkata, “Hai Haritsah, kamu telah mengetahuinya. Karena itu, tetaplah seperti itu.”

b. Menumbuhkan perasaan bahwa kenikmatan dunia dapat memalingkan hati dari dzikir kepada Allah, dan dapat mengurangi derajat di sisi-Nya. Juga dapat memperlambat proses hisab, karena akan ditanya tentang bagaimana ia mensyukuri nikmat tersebut. Firman Allah: “Kemudian kamu pasti akan ditanya, pada hari itu, tentang kenikmatan [yang kamu megah-megahan di dunia].” (at-Takaatsur: 8)

c. Memahami sepenuhnya bahwa dunia adalah perkara yang tidak ada harganya dan akan cepat sirna jika dibanding dengan apa yang ada di sisi Allah. “Seandainya dunia ini, di sisi Allah, sebanding dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum orang kafir, walau seteguk air.”

d. Selalu menghadirkan perasaan bahwa dunia adalah terkutuk. Rasulullah bersabda, “Dunia adalah terkutuk dan terkutuk juga apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang mengikutinya, orang yang berilmu, atau orang yang mencari ilmu.” (HR Ibnu Majah. Sanad hadits ini hasan)

Riwayat lain menyebutkan: “Kecuali hal-hal yang dipergunakan untuk mencari ridla Allah.” Artinya, dunia dan isinya hanya akan menjauhkan manusia dari Allah, kecualii ilmu yang bermanfaat yang dapat membimbing manusia untuk mengenal, mendekat, dan mengingat Allah.

4. Dunia itu sepele, jangan sampai tertipu.
Orang-orang yang zuhud terhadap dunia, akan semakin bertambah kezuhudannya, manakala membaca firman-firman Allah swt. dan hadits-hadits Rasulullah saw. Ia akan mendapatkan bahwa dunia hanyalah sesuatu yang tidak berharga. Karenanya, ia tidak akan tertipu dengan dunia.

Firman Allah, “tetapi kamu [orang-orang] kafir memilih kehidupan dunia. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (al-A’laa: 16-17)
“Katakanlah: ‘Kesenangan dunia hanya sebentar. Sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (an-Nisaa’: 77)
“Maka janganlah sekali-sekali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan [pula] penipu [setan] memperdayakanmu dalam [menaati] Allah.” (Lukman: 33)
“Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia ini [dibandingkan dengan] akhirat, hanyalah kesenangan [yang sedikit].” (ar-Ra’d: 26)
Jabir bin Abdullah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. lewat di sebuah pasar. Sementara orang-orang sibuk dengan urusan dunia. Ketika melihat bangkai seekor anak kambing congek, beliau mengambilnya dan bertanya, “Siapa di antara kalian yang mau membeli ini satu dirham?” Mereka menjawab: “Kami tidak mau. Kami apakan bangkai itu?” Beliau bertanya, “Bagaimana, kalau ini kalian miliki secara gratis?” Mereka menjawab: “Demi Allah, seandainya ia masih hidup, kami tidak tertarik karean kambing itu kambing congek. Apalagi sudah menjadi bangkai.” Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, sungguh dunia ini leibih rendah derajatnya daripada bangkai ini, di sisi Allah.” (HR Muslim)

Al-Mustaurid al-Fihri berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah dunia, jika dibandingkan dengan akhirat, melainkan semupama salah seorang di antara kamu memasukkan ujung jarinya ke lautan, maka lihatlah air yang menempel di ujung jari.” (HR Muslim)

5. Cercaan terhadap dunia tidak ditujukan kepada waktu atau tempat. Cercaan itu disebutkan dalam al-Qur’an maupun hadits, bukan tertuju pada masa, yaiti siang dan malam yang saling bergantian hingga hari kiamat. Karena Allah menjadikan keduanya bergantian untuk memberi kesempatan bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan mau bersyukur.

Cercaan tersebut juga bukan tertuju pada tempat, yaitu bumi yang telah dijadikan Allah sebagai tempat berpijak. Bukan pula pada tumbuhan dan makhluk-makhluk yang diciptakan Allah sebagai nikmat bagi hamba-hamba-Nya. Bagaimanapun kenikmatan tersebut telah diberikan Allah kepada kita, untuk dimanfaatkan. Bahkan segala kenikmatan yang ada adalah bukti bahwa Allah itu ada dan Mahakuasa.

Akan tetapi cercaan tersebut pada dasarnya adalah cercaan terhadap sikap dan perilaku di dunia. Karena sering kali manusia menyalahi ajaran para Rasul, dan melakukan hal-hal yang menimbulkan mudlarat.
Firman Allah, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudina tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning.” (al-Hadid: 20)

Ibnu Rajab al-Hambali membagi manusia dalam dua golongan:

1. Pertama, golongan yang mengingkari kehidupan setelah mati. Mereka tidak mempercayai semua amalannya di dunia akan mendapatkan balasan. Mereka inilah yang disebut dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, merasa tentaram dengan kehidupan ini, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Tempat mereka adalah neraka, sebagai balasan atas apa yang mereka perbuat.” (Yunus: 7)

Mereka hanya mengejar kesenangan dunia, sebelum ajal menjemput mereka. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang [di dunia] dan makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

Di antara mereka, ada yang menyerukan untuk berlaku zuhud. Mereka berfikir, bahwa banyaknya urusan dunia hanya akan menambah pusing, bahkan manakala hati semakin cinta dunia maka ia akan semakin merasa pedih saat berpisah dengan dunia.

2. Kedua, golongan yang mempercayai adanya kehidupan setelah mati. Mereka meyakini bahwa semua perbuatan di dunia akan mendapatkan balasan. Mereka inilah pengikut para rasul. Golongan ini terbagi menjadi tiga kelompok:
a. Dhalim terhadap dirinya
b. Pertengahan
c. Senantiasa berlomba dalam kebaikan.

Kelompok yang paling banyak adalah kelompk pertama. mereka ini terbuai dengan kesenangan dunia. Bahkan dunia menjadi tujuan utamanya. Mereka tidak menyadari bahwa kenikmatan dunia hanyalah menopang untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat, meskipun mereka mengklaim beriman terhadap akhirat.

Sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang yang memahami hakekat kehidupan dunia, namun masih terlampau berlebihan dalam mereguk kenikmatan yang dibolehkan. Meskipun tindakan itu tidak berdosa, namun akan mengurangi derajatnya di sisi Allah swt.
Ibnu Umar ra. pernah berkata, “Setiap kali seseorang mendapatkan dunia, niscaya derajatnya di sisi Allah berkurang, meskipun ia orang yang dermawan.”

Qatadah bin Nu’man ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjauhkan orang tersebut dari dunia, seperti kalian menjauhkan orang sakit dari makanan dan minuman yang membahayakan. (HR Tirmidzi)

Abdullah bin Umar ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.” (HR Muslim)

Adapun kelompok ketiga adalah kelompok yang paling sedikit. Mereka inilah yang betul-betul memahami hakekat kehidupan dunia dan mengimplementasikan pemahaman mereka dalam kehidupan nyata.
Mereka memahami bahwa dunia hanyalah ujian bagi manusia, agar dapat diketahui siapa yang paling baik amalnya. Mereka juga memahami semua kenikmatan dunia tidaklah kekal.

Firman Allah, “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan [pula] apa yang di atasnya menjadi rata lagi tandus.” (al-Kahfi: 8)

Karena itu mereka mengambil segala kenikmatan dunia hanyalah sekedarnya. Atau diibaratkan dalam sebuah hadits, seperti sekadar melepas lelah.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda, “Aku tidak ada urusan dengan dunia. Perumpamaanku dengan dunia, ibarat seorang musafir yang bernaung di bawah pohon, setelah itu ia melanjutkan perjalanan.”

Di antara mereka ada yang mengambil kenikmatan dunia hanya sekadar untuk menyambung hidup. Gaya hidup seperti inilah yang sering ditempuh mereka yang juhud.
Di antara mereka ada yang mengambil kenikmatan dunia hanya sekedar yang mereka butuhkan, agar kuat dalam melakukan ibadah kepada Allah.

Rasulullah bersabda, “Aku dikaruniai rasa suka kepada wanita dan wewangian.” (HR Ahmad dan Nasa’i)

‘Aisyah ra. berkata, “Rasulullah saw. sukan kepada wanita, wewangian dan makanan. Ia mendapatkan wanita dan wewangian. Sedangkan makanan beliau tidak mendapatkannya.” (HR Ahmad) beliau juga bersabda, “Dunia adalah sebaik-baik tempat bagi orang yang menjadikannya bekal untuk akhirat demi mencari ridla Tuhannya. Dan dunia adalah seburuk-buruk tempat bagi orang yang terlena dengannya sehingga tercampak di akhirat dan tidak mendapatkan ridla Allah.” (al-Hakim)

6. Cara mendapatkan kecintaan Allah.

Kita bisa mendapatkan mahabbatullah [cinta Allah] dengan bersikap zuhud terhadap dunia, karena Allah mencintai orang yang menaati-Nya. Dengan zuhud terhadap dunia, berarti kita hanya mengisi ruang hati kita dengan kecintaan kita kepada Allah, maka Allah pun akan mencintai kita. Lain halnya dengan orang yang mencintai dunia. Ruang hatinya akan terisi kecintaan dunia, hingga tidak mungkin menyatu dengan kecintaan Allah.

Karena itu dalam riwayat Rasulullah saw. bersabda, “Cinta dunia adalah pangkal segala dosa.”

Allah adalah Dzat yang tiada sekutu bagi-Nya. Karenanya, Dia tidak suka jika ada yang menempati hati hamba-Nya selain Dia.
Andaikan tetap dipaksakan maka orang tersebut telah menyekutukan Allah di dalam hatinya dengan kecintaan terhadap dunia.
Cinta dunia yang dilarang adalah cinta dunia yang membuatnya lupa kepada Allah. Sedangkan cinta dunia yang dimaksud untuk kebaikan dan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, maka hal tersebut sangatlah baik. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik harta yang baik adalah hartanya laki-laki yang baik [shalih]. Harta tersebut digunakan untuk menyambung silaturahim dan untuk melakukan kebaikan.” (HR Ahmad)

7. Cara mendapatkan kasih sayang sesama manusia

Hadits di atas mengajarkan kepada kita bagaimana mendapatkan kasih sayang dari sesama manusia. Yaitu dengan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ketika kita membiarkan mereka dengan apa yang mereka senangi, maka mereka akan suka kepada kita. Sebaliknya, jika kita menginginkan apa yang mereka senangi, mereka akan membenci kita.

Hasan al-Bashri berkata, “Seseorang akan tetap disenangi sesama manusia selama ia tidak tamak terhadap apa-apa yang mereka miliki. Karena jika ia tamak, maka mereka akan membencinya.”

Seorang Badui bertanya kepada penduduk Bashrah, “Siapakah pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Hasan al-Bashri.” Ia bertanya, “Dengan apa ia menjadi pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Orang-orang membutuhkan ilmunya, sedangkan ia tidak memerlukan dunia yang mereka miliki.” Ia berkata, “Alangkah baiknya orang ini.”

Etika seperti itu perlu sekali dimiliki oleh para pemimpin dan ulama. Ketika pemimpin bersikap zuhud, rakyat akan menyukai dan mengikuti aturannya. Demikian juga ulama, jika mereka zuhud, umat akan menghormati ucapannya dan akan mematuhi nasehatnya.

Ibnu Salam pernah bertanya kepada Ka’ab ra. di hadapan Umar ra., “Apa yang menjadikan ilmu itu cepat hilang, padahal sebelumnya telah dihafal dan dijaga?” Ka’ab ra. menjawab, “Tamak, perangai buruk, dan meminta-minta.” Ibnu Salam berkata, “Benar.”

8. Zuhudnya Rasulullah dan para shahabatnya

Jika kita ingin mengetahui contoh keteladanan dalam masalah zuhud, maka kita akan mendapatkanya pada diri Rasulullah saw. baik ucapannya maupun perbuatannya. Bagaimanapun ucapan dan perbuatan Rasulullah saw. adalah hasil didikan Allah swt.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu dari kepada mereka apa-apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (ThaaHaa: 131)

Selama hidupnya, sebelum dan sesudah hijrah, dalam keadaan senang maupun susah, Rasulullah saw. senantiasa bersikap zuhud terhadap segala kenikmatan dunia, mengejar kepentingan akhirat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Sikap ini kemudian ditiru oleh para shahabat ra. Mereka kemudian menjadi orang-orang yang patut menjadi teladan bagi orang-orang yang berusaha bersikap zuhud.

Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang yang bertanya, “Dimana orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat?” lalu Ibnu Umar menunjukkan Kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, seraya berkata, “Mereka yang kamu tanyakan?”

Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata kepada teman-temannya, “Shalat, puasa dan jihad kalian, lebih banyak dari yang dilakukan oleh para shahabat ra. Akan tetapi kebaikan mereka lebih banyak daripada kalian.” Mereka bertanya, “Bagaimana bisa terjadi?” Ia menjawab, “Mereka lebih zuhud dari pada kalian. Mereka mendapatkan banyak harta dunia, akan tetapi harta itu mereka belanjakan untuk perjuangan Islam.”

Abu Sulaiman pernah berkata, “Utsman ra. dan Abdurrahman bin Auf ra. adalah gudang harta. Keduanya membelanjakan harta itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Semua tingkah lakunya dilakukan sepenuh hati dan didasari pengetahuan yang luas.”

9. Zuhud yang tidak benar.

Zuhud yang benar adalah seperti yang telah dijelaskan di atas. Adapun zuhud yang tidak benar adalah menolak semua jenis kenikmatan dunia dan tidak mau merasakannya sedikitpun. Zuhud dengan pengertian seperti ini dianut oleh sebagian umat Islam pada masa pemerintahan Abasiyah mulai melemah. Mereka mengenakan baju compang-camping dan tidak mau bekerja. Hidup mereka adalah hanya menggantungkan dari shadaqah orang lain. Dengan kondisi seperti ini, mereka mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang zuhud. Padahal Islam sama sekali tidak menghendaki perilaku hina yang membawa kehancuran tersebut.

Umat Islam dewasa ini telah bisa menjauhi pemikiran seperti ini, mereka berusaha dan berlomba-lomba untuk mendapatkan keuntungan dunia yang halal. Bahkan ada kekhawatiran, berkibat lupa akan akhirat. Karenanya kita harus selalu berusaha mencari sarana yang dapat mengingatkan kita kepada Allah, dan membawa kita kepada sikap zuhud, agar kita selamat dari godaan setan dan tidak terlena dengan dunia.

&

Hadits Arba’in ke 38: Wali Allah dan Sarana-Sarana untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

25 Feb

Al-Wafi; Imam Nawawi; DR.Musthafa Dieb al-Bugha

Hadits Arbain nomor 38 (tiga puluh delapan)Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk menggenggam dan manjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Ku-beri, dan jika memohon perlindungan-Ku pasti Kulindungi.” (HR Bukhari)

URGENSI HADITS

Allah swt. memberikan mahabbah dan penjagaan terhadap para wali-Nya. Wujud dari penjagaan itu adalah kemarahan Allah bila seseorang berusaha mencelakakan mereka. hadits ini menjelaskan siapa wali Allah dan kekasih-Nya di dunia maupun di akhirat. Karena itu, ada yang berpendapat bahwa hadits ini adalah hadits yang paling mulia, yang berbicara tentang para wali.

Imam asy-Syaukani berkata, “Hadits ini mengandung banyak faedah berharga, bagi orang yang betul-betul memahami dan mentadabburinya dengan benar.”

Ath-Thukhi berkata, “Hadits ini adalah pijakan menuju Allah, mengenal dan mencitai Allah. Juga merupakan jalan untuk merealisasikan berbagai kewajiban yang sifatnya batin [iman] dan kewajiban yang sifatnya dhahir [Islam] dan gabungan antara keduanya [ihsan]. Sedangkan Ihsan mencakup karakteristik orang-orang yang berusaha menuju Allah swt. Karakteristik tersebut di antaranya: zuhud, ikhlas, muraqabah dan lain sebagainya.

KANDUNGAN HADITS

1. Wali-wali Allah.
Wali Allah adalah orang yang melakukan ketaatan kepada Allah. Dalam al-Qur’an, mereka ini dicirikan dengan dua sifat: iman dan takwa. Firman Allah:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati. [yaitu] orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62-63)

Rukun yang pertama kali harus dipenuhi untuk mendapatkan kewalian adalah keimanan kepada Allah. Sedangkan rukun kedua adalah ketakwaan. Dengan demikian, hal ini akan membuka peluang yang sangat luas bagi orang-orang untuk menjadi wali, sehingga akan mendapat ketenangan. Dari sini, mereka bisa meningkat lagi pada derajat yang lebih tinggi, yaitu orang-orang yang berada dalam baris terdepan dalam melaksanakan setiap kebaikan. Derajat umat Islam tersebut dalam al-Qur’an dikelompokkan menjadi tiga golongan:

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.” (Fathir: 32)

Golongan pertama, orang yang mendhalimi diri sendiri adalah ummat Islam yang masih bergelimang dalam kubangan dosa. Golongan kedua pertengahan, adalah mereka-mereka yang menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan. Mereka inilah wali-wali Allah. Namun demikian mereka ini kewaliannya masih berada pada tangga terendah. Sedangkan golongan ketiga, yang senantiasa dalam baris depan dalam melaksanakan kebaikan adalah mereka yang tidak terbatas melakukan kewajiban, akan tetapi berlomba-lomba melakukan perbuatan sunnah. Tidak terbatas menjauhi perkara-perkara haram, namun juga berlomba untuk menjauhi perkara-perakara yang makruh. Mereka inilah yang menempati tangga puncak dalam tangga kewalian.

Wali-wali Allah yang paling mulia adalah para Nabi dan Rasul. Mereka adalah manusia-manusia yang terjaga dari setiap dosa, dan didukung oleh mukjizat Allah swt.
Menempati urutan kedua adalah para shahabat Rasulullah. Mereka adalah orang-orang yang telah merefleksikan al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.
Berikutnya adalah orang-orang yang hidup setelah mereka hingga hari ini. Yang perlu diingat, bahwasannya kewalian tidak akan terealisasi dalam diri siapapun kecuali orang tersebut memiliki keimanan dan ketakwaan, mengikuti dan meneladani Rasulullah saw. dalam setiap ucapan, sikap dan perbuatannya.

Kesalahan paling fatal yang terjadi dalam masyarakat kita dewasa ini, adalah anggapan yang menyatakan bahwa kewalian hanyalah dimiliki orang-orang tertentu dan jumlahnya sedikit. Yang lebih celaka lagi, jika derajat kewalian tersebut diberikan kepada orang-orang yang tidak diketahui keimanan dan ketakwaannya, bahkan lebih pantas disebut sebagai walis setan, karena sikap dan perilakunya yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam sama sekali.

2. Memusuhi wali Allah ??
Siapapun yang menyakiti seorang mukmin, baik jiwa, harta maupun kehormatannya, maka Allah menyatakan perang kepada orang tersebut. Ketika Allah menyatakan perang kepada seseorang, berarti Allah pasti menghancurkannya. Kadang Allah menunda adzab-Nya, bukan berarti melupakan kesalahan orang tersebut. Kadang Allah membiarkan orang dhalim berbuat aniaya di bumi untuk beberapa saat. Setelah itu Allah menimpakan kepadanya adzab yang sangat pedih.

Orang yang memusuhi wali Allah disebut juga telah menyatakan perang kepada Allah. ‘Aisyah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, bahwa Allah berfirman, “Barangsiapa yang menyakiti wali-Ku, maka ia telah menyatakan perang kepada-Ku.” (HR Ahmad)
Abu Umamah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah swt. berfirman, “Baransiapa yang menghina wali-Ku, berarti ia telah menantang-Ku untuk perang.

3. Amalah yang paling afdlal
Dalam hadits di atas terdapat isyarat yang jelas. “Dan tidaklah hamba-Ku mendekat-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku-cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan.”
Umar ra. berkata, “Amalan yang paling afdlal adalah melakukan apa-apa yang telah diwajibkan Allah, meninggalkan perkara-perkara yang telah diharamkan Allah dengan niat yang ikhlas.”

Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, “Ibadah yang paling afdlal adalah melakukan kewajiban dan menjauhi berbagai perkara yang diharamkan. Karena Allah, dalam mewajibkan berbagai perkara kepada hamba-Nya, hanyalah semata-mata agar hamba-Nya mendekatkan diri kepada-Nya, mendapatkan keridlaan dan karunia-Nya.

Kewajiban fisik [yang juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah] yang paling utama, adalah shalat. Allah swt. berfirman, “Sujudlah dan dekatlah [dirimu kepada Rabb].” (al-‘Alaq: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Saat hamba paling dekat denga Rabbnya adalah ketika ia sujud.”

Termasuk kewajiban yang dapat mendekatkan diri kepada Allah adalah keadilan pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpin. Baik pemimpin yang sifatnya umum, misalnya penguasa, atau pun pemimpin yang sifatnya khusus, misalnya seorang suami terhadap istri dan anaknya.

Abu Sa’id al-Khudri berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hamba yang paling dicintai Allah yang paling dekat tempatnya dengan Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil.” (HR Tirmidzi)

Abdullah bin Umar ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil akan berada di sisi Allah, di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, persisi di sebelah kanan ar-Rahman [Allah]. Kedua tangan-Nya adalah kanan. Mereka itu adalah orang-orang yang berbuat adil dalam setiap keputusan hukumnya, terhadap keluarga dan orang-orang yang dipimpinnya.” (HR Muslim)

4. Meninggalkan maksiat adalah bagian dari menunaikan kewajiban.
Allah swt. mewajibkan hamba-Nya untuk meninggalkan maksiat. Allah juga telah menjelaskan bahwa siapapun yang melanggar batasan-batasan-Nya dan melakukan kemaksiatan, maka ia layak mendapatkan siksa yang teramat pedih, baik di dunia maupun di akhirat. Karenanya meninggalkan maksiat juga masuk dalam keumuman ucapan, “Dan tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan.”

Bahkan sebenarnya kewajiban meninggalkan maksiat lebih didahulukan daripada kewajiban untuk melakukan ketaatan. Ini diisyaratkan oleh hadits, “Jika aku perintahkan kepada kalian suatu perintah, maka tunaikanlah semampu kalian. Sedangkan jika aku larang kalian terhadap sesuatu, maka janganlah kalian mendekatinya.”

Dalam menjelaskan hadits ini, Ibnu Rajab berkata, “Semua maksiat pada dasarnya adalah memerangi Allah.” Ibnu Rajab lalu mengutip ucapan Ibnu Adam, “Apakah kamu mampu memerangi Allah? Siapapun yang maksiat kepada Allah, maka ia telah memerangi-Nya. Semakin besar dosa dari kemaksiatan, maka semakin besar pula ia memerangi Allah. Karena itu, Allah menamakan orang-orang yang memakan riba dan perampok sebagai orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Karena besarnya kedhaliman kedua perbuatan tersebut bagi ummat manusia.”

5. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah.
Hal ini harus didahului dengan menunaikan semua kewajiban: shalat, puasa, zakat, haji [jika telah mampu], dan kewajiban lainnya. Di samping itu juga menahan diri dari semua perkara yang makruh. Inilah yang layak mendapat mahabbah [kecintaan] Allah swt. Barangsiapa yang dicintai Allah swt. maka Allah akan memberikan karunia untuk selalu mentaati-Nya, senantiasa menyibukkan diri dengan dzikir dan beribadah kepada-Nya. dengan demikian, ia layak dekat dengan Allah swt. Orang-orang seperti inilah yang disinyalir dalam sebuah ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (al-Maaidah: 54)

Amalan sunnah yang paling besar, untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah banyak membaca al-Qur’an, mendengar, mentadabburi dan memahaminya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Abu Umamah ra. Karena bagi orang yang mencintai tidak ada sesuatu yang paling indah selain ucapan orang yang dicintainya. Karenanya Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang mencintai al-Qur’an, maka ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Termasuk amalan sunnah yang besar adalah banyak berdzikir. Allah swt. berfirman: “Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat [pula] kepadamu.” (al-Baqarah: 152)

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, Allah swt. berfirman, “Aku sejalan dengan dugaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam kesendiriannya, maka Aku mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku di depan umum, maka Aku akan mengingatnya di depan umum yang lebih baik dari mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

6. Dampak kecintaan Allah terhadap para walinya.
Hal ini tergambar dalam hadits di atas, “Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang dia gunakan untuk menggenggam dan manjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan.”
Dalam riwayat lain disebutkan, “Hatinya yang ia pergunakan untuk berfikir, dan lisannya yang ia pergunakan untuk berbicara.”

Ibnu Rajab berkata, “Maksudnya, barangsiapa yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah dengan semua amalan wajib, lalu dengan amalan sunnah, maka ia sungguh telah mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian naik lebih tinggi dari derajat keimanan ke darajat ihsan. Sehingga ia beribadah kepada Allah seolah-olah ia telah melihat-Nya. Hatinya dipenuhi ma’rifat, kecintaan, pengagungan, rasa takut, dan rindu kepada Allah. Sehingga apa yang ada di dalam hatinya seolah terlihat dengan jelas.”

Ketika hati telah dipenuhi oleh kebesaran Allah, maka apapun selain Allah akan tersingkir dari hati itu. Bahkan hawa nafsunya pun lenyap dan tidak ada sedikitpun keingingan, kecuali apa-apa yang diinginkan oleh Allah. Dalam kondisi seperti inilah, seseorang tidak akan terucap kecuali dalam rangka dzikir kepada Allah, tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya. Jika ia berbicara, maka berbicara karena Allah. Jika ia mendengar maka mendengar karena Allah. Jika ia melihat maka ia melihat karena Allah, jika ia memegang sesuatu maka hanya karena Allah. Inilah yang dimaksud oleh hadits di atas.

Dengan demikian, siapapun yang mengiterpretasikan pada selain hal di atas, misalnya manunggaling kawulo gusti (hamba dan Tuhan jadi satu jasad), maka Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari semua itu.

Imam Syaukani berpendapat bahwa yang dimaksud oleh hadits di atas adalah bahwa Allah akan memberikan cahanya-Nya kepada setiap badan yang disebut dalam hadits. Dengan cahaya itulah anggota badan tersebut akan berjalan menelusuri jalan hidayah dan menjauhi jalan kesesesatan. Al-Qur’an juga telah menegaskan bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi (an-Nuur: 35)

Dalam hadits shahih juga dijelaskan bahwa Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, pada mataku, pada pendengaranku…”

7. Doa wali pasti dikabulkan.
Termasuk karunia Allah terhadap para walinya adalah apabila wali tersebut meminta sesuatu, maka Allah akan memberinya. Jika meminta perlindungan maka Allah akan memberinya perlindungan. Jika berdoa kepada-Nya maka akan dikabulkan doanya. Karenanya ia menjadi orang yang dikabulkan doanya. Dalam sejarah Islam, tersebutlah nama-nama yang dikenal dengan orang-orang yang doanya dikabulkan, seperti: Barra’ bin Malik, Sa’ad bin Abi Waqash, dan yang lainnya. Namun demikian, di antara mereka yang selalu dikabulkan doanya, mereka lebih memilih bersabar terhadap ujian yang menimpanya. Mereka mengharapkan pahala dari ujian itu, dan tidak berdoa agar dibebaskan dari ujian yang menimpanya.

Bisa jadi ada wali Allah yang meminta sesuatu kepada Allah. Namun, Allah Maha Mengetahui apa yang baik bagi kekasihnya. Lalu permintaan hamba tersebut tidak dikabulkan dan digantikan dengan sesuatu yang lebih baik. Jika tidak di dunia maka di akhirat.
Abu Sa’id al-Khudri ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah, yang dalam doa tersebut tidak terdapat unsur dosa atau pun pemutusan tali silaturahim, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari ketiga hal berikut ini: mungkin mengabulkannya dengan segera apa yang diminta dalam doanya, atau akan diberikan di akhirat, atau ia akan dihindarkan dari keburukan yang sebanding dengan permintaannya.” (HR Ahmad)

8. Keragu-raguan Allah untuk mencabut nyawa seorang Muslim.
Dalam riwayat Imam Bukhari terdapat tambahan,
“Tidaklah Aku ragu-ragu tentang sesuatu yang Aku pasti melakukannya, seperti keraguan-Ku mencabut nyawa hamba-Ku yang Mukmin. Ia membenci kematian, dan Aku membenci menyakitinya.”

Ibnu Shalah berkata, “Yang dimaksud dengan keraguan disini bukanlah keraguan yang kita kenal. Tetapi keraguan tersebut lebih disebabkan karena cintanya yang amat sangat, sehingga seakan tidak mau menyakitinya dengan kematian. Karena kematian adalah sakit yang maha dahsyat di dunia, kecuali bagi orang-orang tertentu. Namun kematian memang harus terjadi, karena telah menjadi ketentuan Allah.”

Dengan tambahan di atas, maka jelaslah bahwa kematian [bagi orang yang dicintai Allah] bukanlah sesuatu yang bertujuan menghinakannnya, tetapi justru mengangkat derajatnya. Karena kematian merupakan jalan untuk berpindah ke tempat yang mulia dan penuh kenikmatan.

9. Tawadlu’
Imam Bukhari menggunakan hadits di atas sebagai dalil tawadlu’. Beliau menempatkan hadits tersebut dalam bab “tawadlu”. Karena mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan sunnah pada dasarnya adalah karena sikap tawadlu’. Demikian juga, mencintai dan tidak memusuhi wali-wali Allah, juga merupakan sikap tawadlu’ dan kepatuhan kepada Allah.

Iyadh bin Hammar ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian semua bersikap tawadlu’, agar tak ada seorang pun merasa lebih mulia dari yang lain.” (HR Muslim)

Selain itu, hadits di atas juga mengisyaratkan beberapa hal:
a. Wali Allah mempunyai kedudukan yang tinggi, karena ia menyerahkan semua urusan dirinya kepada Allah swt.
b. Seseorang yang menyakiti wali Allah, tetapi tidak segera ditimpa musihab, bukan berarti terlepas dari kemarahan Allah. Bisa jadi musibahnya dalam bentuk yang lain. Karena sesungguhnya kesesatan adalah bentuk dari musibah.

&