Arsip | 09.34

Tafsir dan Ta’wil

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Al-Qur’anul Karim adalah sumber tasyri’ pertama bagi umat Muhammad. Dan kebahagiaan mereka bergantung pada pemahaman maknanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan pengamalan apa yang terkandung di dalamnya.

Kemampuan setiap orang dalam memahami lafadz dan ungkapan al-Qur’an tidak sama, padahal penjelasannya sedemikian gamblang dan ayat-ayatnya pun demikian rinci. Perbedaan daya nalar di antara mereka ini adalah suatu hal yang tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam hanya dapat memahami makna-maknanya yang dhahir dan pengertian ayat-ayatnya secara global. Sedang kalangan cerdik cendekia dan terpelajar akan dapat menyimpulkan pula daripadanya makna-makna yang menarik. Dan di antara kedua kelompok ini terdapat aneka ragam dan tingkat pemahaman.

Maka tidaklah mengherankan jika al-Qur’an mendapatkan perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata gharib (aneh, ganjil) atau menta’wilkan tarkib (susunan kalimat)

&

Syarat-Syarat bagi Mufasir

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Kajian ilmiah dan obyektif merupakan asas utama bagi pengetahuan yang valid yang memberikan kemanfaatan bagi para pencarinya, dan buahnya merupakan makanan paling lezat bagi santapan fikiran dan perkembangan akal. Oleh karena itu tersedianya sarana dan prasarana yang memadai bagi seorang pengkaji merupakan hal yang mempunyai nilai tersendiri bagi kematangan buah kajiannya dan kemudahan pemetikannya. Kajian ilmu-ilmu syariat pada umumnya dan ilmu tafsir khususnya merupakan aktifitas yang harus memperhatikan dan mengetahui sejumlah syarat dan adab agar dengan demikian, jernihlah salurannya serta terpeliharalah keindahan wahyu dan keagungannya.
Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki setiap mufasir sebagai berikut:

1. Aqidah yang benar
Sebab aqidah sangat berpengaruh terhadap jiwa pemiliknya dan seringkali mendorongnya untuk mengubah nas-nas dan berkhianat dalam penyampaian berita. Apabila seseorang menyusun sebuah kitab tafsir, maka dita’wilkannya ayat-ayat yang bertentangan dengan aqidahnya dan membawanya kepada madzabnya yang batil guna memalingkan manusia dari mengikuti golongan salaf dan dari jalan petunjuk.

2. Bersih dari hawa nafsu
Hawa nafsu akan mendorong pemiliknya untuk membela madzabnya sehingga ia akan menipu manusia dengan kata-kata halus dan keterangan menarik seperti dilakukan golongan Qodariyah, Syi’ah Rafidhah, Mu’tazilah dan para pendukung fanatik madzab sejenis lainnya.

3. Menafsirkan lebih dulu al-Qur’an dengan al-Qur’an, karena sesuatu yang masih global pada suatu tempat telah diperinci di tempat lain dan sesuatu yang dikemukakan secara ringkas di suatu tempat telah diuraikan di tempat lain.

4. Mencari penafsiran dari sunnah karena sunnah berfungsi sebagai pensyarah al-Qur’an dan penjelasannya. Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa semua hukum [ketetapan] Rasulullah berasal dari Allah.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.” (an-Nisaa’: 105)
Allah menyebutkan bahwa sunnah merupakan penjelas bagi Kitab.

Karena itu Rasulullah mengatakan: “Ketahuilah bahwa telah diberikan kepadaku al-Qur’an dan bersamanya pula sesuatu yang serupa dengannya.” Yakni sunnah.

Berkenaan dengan ini Syafi’i berkata: “Segala sesuatu yang diputuskan Rasulullah adalah hasil pemahamannya terhadap al-Qur’an.”
Contoh-contoh penafsiran al-Qur’an dengan sunnah ini cukup banyak jumlahnya dan telah didokumentasikan secara tertib oleh penulis al-itqaan dalam pasal terakhir kitabnya. Misalnya penafsiran as-sabil dengan az-zaad war raahilah (bekal dan kendaraan), adh-dhulm (kedhaliman) dengan asy-syirk (kemusyrikan) dan al-hisaab al-yasiir (hisab, perhitungan yang ringan) dengan al-ard (penampakan sekilas).

5. Apabila tidak didapatkan penafsiran dalam sunnah, hendaklah meninjau pendapat para shahabat karena mereka telah mengetahui tentang tafsir al-Qur’an; mengingat merekalah yang menyaksikan qarinah dan kondisi ketika al-Qur’an diturunkan di samping mereka mempunyai pemahaman (penalaran) sempurna, ilmu yang shahih dan amal yang shalih.

6. Apabila tidak ditemukan juga penafsiran dalam al-Qur’an, sunnah maupun dalam pendapat para shahabat maka sebagian besar ulama dalam hal ini memeriksa pendapat tabi’in (generasi setelah shahabat), seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah maula (sahaya yang dibebaskan oleh) Ibn ‘Abbas, ‘Atha’ bin Abi Rabah, Hasan al-Bashri, Masruq bin Ajda’, Sa’id bin Musayyab, ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, Dahhak bin Muzahim dan tabi’in lainnya. Di antara tabi’in ada yang menerima seluruh penafsiran ini dengan istinbat (penyimpulan) dan istidlaal (penalaran dalil) sendir. Tetapi yang (harus) menjadi pegangan dalam hal ini adalah penukilan yang shahih.

Berkenaan dengan hal ini Ahmad berkata: “Tiga kitab tidak mempunyai dasar; maghazi (tempat-tempat terjadinya suatu pertempuran atau sanjungan dan pujian terhadap perbuatan baik seorang tokoh), malaahin (kisah peperangan) dan tafsir (penafsiran).” Maksudnya tafsir yang tidak bersandar pada riwayat-riwayat shahih dalam penukilannya.

7. Pengetahuan bahasa Arab dengan segala cabangnya, karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan pemahaman tentangnya amat tergantung pada penguraian mufradaat (kosa kata) lafadz-lafadz dan pengertian-pengertian yang ditunjukkannya menurut letak kata-kata dalam rangkaian kalimat. Tentang syarat ini Mujahid berkata: “Tidak diperkenankan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berbicara tentang Kitabullah apabila ia tidak mengetahui berbagai dialek bahasa Arab.”

Makna (suatu kata dalam bahasa Arab itu) berbeda-beda disebabkan perbedaan i’rab (fungsi kata dalam kalimat). Maka atas dasar ini sangat diperlukan pengetahuan tentang ilmu nahwu (gramatikal) dan ilmu tasrif (konjugasi) yang dengan ilmu ini akan diketahui bentuk-bentuk kata. Sebuah kata yang masih samar-samar maknanya akan segera jelas dengan mengetahui kata dasar (masdar) dan bentuk-bentuk kata turunan (musytaq)nya. demikian juga pengetahuan tentang keistimewaan suatu susunan kalimat dilihat dari segi penunjukkannya kepada makna, dari segi perbedaan maksudnya sesuai dengan kejelasan atau kesamaran penunjukkan makna, kemudian dari segi keindahan susunan kalimat –yakni tiga cabang balaghah (retorika); ma’ani, bayaan dan badi’. Semua itu merupakan syarat sangat penting yang harus dimiliki seorang mufasir mengingat bahwa ia pun harus memperhatikan atau menyelami maksud-maksud kemukjizatan al-Qur’an. Sedang kemukjizatan tersebut hanya dapat diketahui dengan ilmu-ilmu ini.

8. Pengetahuan tentang pokok-pokok ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an, seperti ilmu qira’ah karena dengan ilmu ini diketahui bagaimana cara mengucapkan (lafadz-lafadz) al-Qur’an dan dapat memilih mana yang lebih kuat di antara berbagai ragam bacaan yang diperkenalkan, ilmu tauhid –dengan ilmu ini diharapkan mufasir tidak menta’wilkan ayat-ayat berkenaan dengan hak Allah dan sifat-sifat-Nya secara melampaui hak-Nya, dan dengan ilmu ushul terutama usulut tafsir dengan mendalami masalah-masalah (kaidah-kaidah) yang dapat memperjelas suatu makna dan meluruskan maksud-maksud al-Qur’an, seperti pengetahuan tentang asbabun nuzul, nasikh-mansukh dan lain sebagainya.

9. Pemahaman yang cermat sehingga mufasir dapat mengukuhkan sesuatu makna atas yang lain atau menyimpulkan makna yang sejalan dengan nas-nas syariat.

&

Pertumbuhan dan Perkembangan Tafsir

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Telah menjadi sunnatullah bahwa Dia mengutus setiap Rasul dengan menggunakan bahasa kaumnya. Hal ini agar komunikasi antara mereka berjalan dengan sempurna. Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (Ibrahim: 4)

Kitab yang diturunkan kepadanya juga dengan bahasanya dan bahasa kaumnya. Apabila bahasa Muhammad adalah bahasa Arab, maka kitab yang diturunkan kepadanya juga bahasa Arab. Demikianlah penjelasan ayat muhkam berikut: “Sesungguhnya Kami menurunkan berupa al-Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu memahaminya.” (Yusuf: 2)
“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, ia dibawa oleh ar-Ruuhul Amiin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara para pemberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (asy-Syu’ara’: 192-195)

Dengan demikian, lafadz-lafadz al-Qur’an adalah bahasa Arab. Dan aspek-aspek makna yang dikenal di kalangan bangsa Arab. Apabila terdapat sedikit lafadz yang diperselisihkan dalam pandangan para ulama, apakah ia berasal dari bahasa lain yang kemudian diarabkan ataukah ia bahasa Arab asli tetapi terdapat pula dalam bahasa lain? Maka yang demikian itu tidak mengeluarkan al-Qur’an dari statusnya sebagai kitab berbahasa Arab.

Pandangan yang dipegangi para penyelidik adalah bahwa lafadz-lafadz tersebut merupakan kata-kata yang ada kesamaannya antara bahasa Arab dengan bahasa bangsa lain. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh tokoh besar mufasir, Ibn Jarir at-Tabari. (tafsir at-Tabari, jiid 1 hal 13)

Contoh konkrit bagi masalah ini ialah pendapat yang diriwayatkan mengenai firman Allah: yu’tikum kiflaini mir rahmatiHi (“Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian”)(al-Hadid: 28). Dikatakan bahwa makna al-kiflaini adalah di’faani (dua kali lipat pahala) menurut bahasa Habasyah.

Firman-Nya: inna naasyi-atal laili (“Sesungguhnya bangun di waktu malam…”)(al-Muzzammil: 6) adalah bahasa Habasyah, sebab jika seseorang bangun di waktu malam, mereka mengatakan “nasyaa’a” (ia bangun tengah malam)

Firman-Nya: yaa jibaalu awwibii ma’aHu (“Wahai gunung-gunung, bertasbihlah bersama dia”)(Saba’: 10). Dikatakan, awwibii bermakna sabbihii (bertasbihlah) dalam bahasa Habasyah.

Firman-Nya: farrat ming qaswaraTi (“Lari dari singa”)(al-Muddatstsir: 51). Dikatakan, qaswaraTi adalah bahasa Habasyah artinya “asad” atau singa. Dan firman-Nya: hijaaratum min sijjiil (“batu dari tanah yang keras”) (Huud: 82 dan al-Hijr: 74). Dikatakan sijjiil adalah bahasa Persia yang diarabkan.

Berkenaan dengan riwayat itu semua at-Tabari menjelaskan, tidak seorang pun mengatakan bahwa kata-kata tersebut dan yang serupa dengannya bukan bahasa Arab. Namun sebagian mereka mengatakan, “Kata ini dalam bahasa Habasyah artinya begini, dan kata anu dalam bahasa non Arab artinya begitu.” Selain itu telah jelas pula bahwa terdapat sejumlah lafadz yang persis sama dalam berbagai bahasa, misalnya “dirham”, “dinar”, “qalam”, dan “qirtaas (kartas)”. Jika demikian, alasan apakah yang menjadikan lafadz-lafadz tersebut merupakan bahasa tertentu yang kemudian dialihkan ke dalam bahasa lain? Tak satupun dari dua bangsa yang lebih berhak mengklaim sebagai pemilik asalnya. Dan yang mengklaim demikian berarti ia mengklaim sesuatu tanpa dalil dan alasan.

&

Perbedaan Antara Tafsir dan Ta’wil

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Para ulama berbeda pendapat tentang perbedaan antara kedua kata tersebut. Berdasarkan pada pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Apabila kita berpendapat, ta’wil ialah menafsirkan perkataan dan menjelaskan maknanya, maka “ta’wil” dan “tafsir” adalah dua kata yang berdekatan atau sama maknanya. Termasuk pengertian ini ialah doa Rasulullah untuk Ibn ‘Abbas: “Ya Allah berikanlah kepadanya kemampuan untuk memahami agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.

2. Apabila kita berpendapat, ta’wil adalah esensi yang dimaksud dari suatu perkataan, maka ta’wil dari talab (tuntunan) adalah esensi perbuatan yang dituntut itu sendiri dan ta’wil dari khabar adalah esensi sesuatu yang diberitakan. Atas dasar ini maka perbedaan antara tafsir dan ta’wil cukup besar; sebab tafsir merupakan syarah dan penjelasan bagi suatu perkataan dan penjelasan ini berada dalam pikiran dengan cara memahaminya dan dalam lisan dengan ungkapan yang menunjukkannya. Sedang ta’wil ialah esensi sesuatu yang berada dalam realita (bukan dalam fikiran). Sebagai contoh, jika dikatakan: “Matahari telah terbit,” maka ta’wil ucapan ini adalah terbitnya matahari itu sendiri. Inilah pengertian ta’wil yang lazim dalam bahasa al-Qur’an sebagaimana telah dikemukakan. Allah berfirman yang artinya:

“Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna Padahal belum datang kepada mereka ta’wilnya.” (Yunus: 38-39)
Yang dimaksud ta’wil disini adalah terjadinya sesuatu yang diberitakan.

3. Dikatakan, tafsir adalah apa yang telah jelas di dalam Kitabullah atau tertentu (pasti) dalam sunnah yang shahih karena maknanya telah jelas dan gamblang. Sedang ta’wil adalah apa yang disimpulkan para ulama. Karena itu sebagian ulama mengatakan, “Tafsir adalah apa yang berhubungan dengan riwayat sedang ta’wil adalah apa yang berhubungan dengan diraayah. (al-itqaan jilid 2 hal 173)

4. Dikatakan pula, tafsir lebih banyak dipergunakan dalam (menerangkan) lafadz dan mufradat (kosa kata), sedang ta’wil lebih banyak dipakai dalam (menjelaskan) makna dan susunan kalimat. Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat lain.

&

Keutamaan Tafsir

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Tafsir adalah ilmu syariat paling agung dan paling tinggi kedudukannya. Ia merupakan ilmu yang paling mulia obyek pembahasannya dan tujuannya serta dibutuhkan. Obyek pembahasannya adalah Kalamullah yang merupakan sumber segala hikmah dan “tambang” segala keutamaan. Tujuan utamanya untuk dapat dipegang pada tali yang kokoh dan mencapai kebahagiaan hakiki. Dan kebutuhan terhadapnya sangat mendesak karena segala kesempurnaan agamawi dan duniawi haruslah sejalan dengan syara’ sedang kesejalanan ini sangat tergantung pada pengetahuan tentang pengetahuan tentang Kitab Allah. (al-itqaan jilid 2 hal 175)

&

Definisi Ta’wil Al-Qur’an

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Ta’wil menurut bahasa berasal dari kata “aul” yang berarti kembali ke asal. Dikatakan: aala ilaiHi aulaa wa maalan (kembali kepadanya). Awwalal kalaama ta’wiilan (memikirkan, memperkirakan dan menafsirkannya) atas dasar ini maka ta’wil kalam dalam istilah mempunyai dua makna:

1. Pertama, ta’wil kalam dengan pengertian sesuatu makna yang kepadanya mutakallim (pembicara, orang pertama) mengembalikan perkataannya, atau suatu makna yang kepadanya suatu kalam dikembalikan. Dan kalam itu kembali dan merujuk kepada makna hakikinya yang merupakan esensi sebenarnya yang dimaksud. Kalam ada dua macam, isnyaa’ dan ikhbaar. Salah satu yang termasuk insyaa’ adalah ‘amr (kalimat perintah)

Maka ta’wilul ‘amr ialah esensi perbuatan yang diperintahkan. Misalnya hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Adalah Rasulullah saw. membaca di dalam rukuk dan sujudnya “subhaanallaaHi wa bihamdika AllaaHumaghfirlii.” Beliau menta’wilkan (menjalankan perintah) al-Qur’an.” Maksudnya firman Allah yang artinya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (an-Nashr: 3)

Sedangkan ta’wilul ikhtibar ialah esensi dari apa yang diberitakan itu sendiri yang benar-benar terjadi. Misalnya firman Allah yang artinya:
“Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: ‘Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami membawa yang hak, Maka Adakah bagi Kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi Kami, atau dapatkah Kami dikembalikan (ke dunia) sehingga Kami dapat beramal yang lain dari yang pernah Kami amalkan?’” (al-A’raaf: 52-53)

Dalam ayat ini Allah menceritakan bahwa Dia telah menjelaskan Kitab, dan mereka tidak menunggu-nunggu kecuali ta’wilnya yaitu datangnya apa yang diberitakan al-Qur’an akan terjadi, seperti hari kiamat dan tanda-tandanya serta segala apa yang ada di akhirat berupa buku catatan amal (shuhuf), neraca amal (mizan), surga, neraka, dan lain sebagainya. Maka pada saat itulah mereka mengatakan: “Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami membawa yang hak, Maka Adakah bagi Kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi Kami, atau dapatkah Kami dikembalikan (ke dunia) sehingga Kami dapat beramal yang lain dari yang pernah Kami amalkan?”

2. Ta’wilul kalam dalam arti menafsirkan dan menjelaskan maknanya. Pengertian inilah yang dimaksudkan Ibn Jarir at-Tabari dalam Tafsirnya dengan kata-kata: “Pendapat tentang ta’wil firman Allah ini… begini dan begitu….” dan kata-kata: “Ahli ‘ta’wil’ berbeda pendapat tentang ayat ini..” Jadi yang dimaksud dengan kata “ta’wil” disini adalah tafsir.
Demikianlah makna ta’wil menurut golongan salaf.

Ta’wil dalam tradisi muta’akhkhirin adalah: “Memalingkan makna lafadz yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuuh) karena ada dalil yang menyertainya.”

Definisi ini tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dengan lafadz “ta’wil” dalam al-Qur’an menurut versi salaf.

Di antara para ulama ada yang membedakan antara makna, tafsir dan ta’wil mengingat ketiga kata ini, dari segi bahasa, mempunyai perbedaan arti, sekalipun agak berdekatan. Mengenai hal ini Zarkasyi telah menukil sebagai berikut (lihat al-itqaan jilid 2 hal 146):
Ibn Faris menjelaskan, makna-makna ungkapan yang menggambarkan sesuatu itu kembali kepada tiga kata: makna, tafsir dan ta’wil. Ketiga kata ini, sekalipun berbeda tetapi maksudnya berdekatan: ‘anaitu biHaadzal kalaami kadzaa (“Yang aku maksud dan aku tuju dengan perkataan ini adalah begini.”) kata ini diambil dari kata idzHar (menampakkan). Seperti kata-kata: ‘anatil qirbatu (wadah itu tidak dapat menampung air tetapi malah menampakkannya) dan dari sinilah asalnya ‘unwanul kitaab (judul kitab).

“Tafsir” menurut bahasa mengacu kepada arti “menampakkan dan menyingkap”. Ibn Al-Anbari menjelaskan, orang Arab mengatakan: “Fasartud dabbata wa fassartuHaa” maksudnya: aku memacu binatanga itu dalam dalam keadaan terikat agar lepas ikatannya.
Kata “tafsir” ini mengacu juga kepada arti menyingkap (al-Kasyf). Dengan demikian tafsir berarti menyingkap apa yang dimaksud oleh lafadz dan melepaskan apa yang tertahan dari pemahaman.

Adapun “ta’wil” maka menurut bahasa berasal dari kata “aul”. Perkataan mereka, “apa ta’wil perkataan itu?” artinya ialah: “sampai kemanakah akibat yang dimaksud oleh perkataan itu?” Misalnya Firman Allah: yauma ya’tii ta’wiiluHu (al-A’raaf: 53) maksudnya ialah “di saat akibat (kesudahan)nya tersingkap.” Dan dikatakan: aalal amru ilaa kadzaa; maksudnya, urusannya menjadi begini. Firman Allah: dzaalika ta’wiilu maa lam tasthi’ ‘alaiHi shabran (al-Kahfi; 82). “Ta’wil” berasal dari ma’aal, yaitu akibat dan kesudahan. Kata-kata; qad awwaltuHu faala, maksudnya: aku palingkan ia maka ia pun berpaling. Dengan demikian, ta’wil seakan-akan memalingkan ayat kepada makna-makna yang dapat diterimanya. Kata “ta’wil” dibentuk dengan pola “ta’wil” adalah untuk menunjukkan arti banyak.

&

Definisi Tafsir Al-Qur’an

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Tafsir secara bahasa mengikuti wazan “taf’iil”, berasal dari kata al-fasr (fa’, sin, ra’) yang berarti menjelaskan, menyingkap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata kerjanya mengikuti wazan “dlaraba-yadlribu” dan “nashara-yanshuru”. Dikatakan: fasara [asy-syai-a] yafsiru” dan “yafsuru, fasran”, dan “fas-saru” artinya “abaanaHu” (menjelaskannya). Kata at-tafsiir dan al-fasr mempunyai arti menjelaskan dan menyingkapkan yang tertutup. Dalam lisanul ‘Araab dinyatakan: Kata “al-fasr” berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedang kata “at-tafsir” berarti menyingkapkan maksud sesuatu lafadz yang musykil, pelik. Dalam al-Qur’an dinyatakan: wa laa ya’tuunaka bimatsalin illaa ji’naaka bilhaqqi wa ahsana tafsiiran (tidaklah mereka datang kepadamu [membawa] sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik penjelasannya dan paling baik tafsirnya) (al-Furqaan: 33). Maksudnya, “Paling baik penjelasan dan perinciannya.” Di antara dua bentuk kata itu, al-fasr dan at-tafsir, kata at-tafsir (tafsir)lah yang paling banyak dipergunakan.

Berkata Ibn ‘Abbas tentang firman Allah: wa ahsana tafsiiran: artinya lebih baik perinciannya.
Sebagian ulama berpendapat kata “tafsir” (fasara) adalah kata kerja yang terbalik, berasal dari kata “safara” (sin, fa’, ra’) yang juga berarti menyingkapkan (al-kasyf). Kata-kata: safaratil mar-atu sufuuran; berarti perempuan itu menanggalkan kerudungnya dari mukanya. Ia adalah “saafirah” (perempuan yang membuka mukanya). Kata-kata: asfarash shubhu (waktu shubuh telah terang. Pembentukan kata “al-fasr” menjadi bentuk “taf’il” (yakni tafsir) untuk menunjukkan kata taksiir (banyak, sering berbuat). Misalnya firman Allah: yudzabbihuuna abnaa-akum (mereka banyak menyembelih anak laki-laki kamu: al-Baqarah: 49) dan firman-Nya: wa ghalaqatil abwaabi (ia sering menutup pintu-pintu)(Yusuf: 23). Jadi seakan-akan “tafsir” terus mengikuti dan berjalan surah demi surah dan ayat demi ayat.

Menurut ar-Raghib, kata “al-fasr” dan “as-safr” adalah dua kata yang berdekatan makna dan lafadznya. Tetapi yang pertama untuk (menunjukkan arti) menampakkan (mendhahirkan) makna yang ma’qul (abstrak), sedang yang kedua untuk menampakkan benda kepada penglihatan mata, sedang yang kedua untuk menampakkan benda kepada penglihatan mata. Maka dikatakan: safaratil mar-atu ‘an wajHiHaa (perempuan itu menampakkan mukanya) dan asfarash shubhi (waktu shubuh telah terang).

Tafsir menurut istilah, sebagaimana didefinisikan Abu Hayyan ialah: “Ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz al-Qur’an, tentang petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dan makna-makna yang dimungkinkan baginay ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.”

Kemudian Abu Hayan menjelaskan secara rinci unsur-unsur definisi tersebut sebagai berikut:
Kata-kata “ilmu” adalah kata jenis yang meliputi segala macam ilmu. “yang membahas cara pengucapkan lafadz-lafadz al-Qur’an,” mengacu kepada ilmu qira’at. “Petunjuk-petunjuknya” adalah pengertian-pengertian yang ditunjukkan oleh lafadz-lafadz itu. Ini mengacu kepada ilmu bahasa yang diperlukan dalam ilmu (tafsir) ini. Kata-kata “hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusu,” meliputi ilmu sharaf, ilmu i’rab, ilmu bayan dan ilmu badi’. Kata-kata “makna-makna yang dimungkinkan baginya ketika tersusun”, meliputi pengertiannya yang hakiki dan majazi; sebab suatu susunan kalimat (tarkib) terkadang menurut lahirnya menghendaki suatu makna tetapi untuk membawanya ke makna lahir itu terdapat penghalang sehingga tarkib tersebut mesti dibawa ke makna yang bukan makna lahir, yaitu majaz. Dan kata-kata “hal-hal yang melengkapinya”, mencakup pengertian tentang naskh, sebab nuzul, kisah-kisah yang dapat menjelaskan sesuatu yang kurang jelas dalam al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Menurut az-Zarkasyi: “Tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad saw. menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum-hukum dari hikmahnya.” (al-itqaan jilid 2 hal 174).

&

Adab bagi Mufasir

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

1. Berniat baik dan bertujuan benar;
Sebab amal perbuatan itu tergantung pada niat. Orang yang mempunyai (berkecimpung dalam) ilmu-ilmu syariat hendaknya mempunyai tujuan dan tekad membangun kebaikan umum, berbuat baik kepada Islam dan membersihkan diri dari tujuan-tujuan duniawi agar Allah meluruskan langkahnya dan memanfaatkan ilmunya sebagai buah keikhlasannya.

2. Berakhlak baik;
Karena mufasir bagaikan seorang pendidik yang didikannya itu tidak akan berpengaruh ke dalam jiwa tanpa ia menjadi panutan yang diikuti dalam hal akhlak dan perbuatan mulia. Kata-kata yang kurang baik terkadang siswa enggan memetik manfaat apa yang didengar dan dibacanya, bahkan terkadang dapat mematahkan jalan fikirannya.

3. Taat dan Beramal;
Ilmu akan lebih dapat diterima (oleh khalayak) melalui orang yang mengamalkannya ketimbang dari mereka yang hanya memiliki ketinggian pengetahuan dan kecermatan kajian. Dan perilaku mulia akan menjadikan mufasir sebagai panutan yang baik bagi (pelaksanaan) masalah-masalah agama yang ditetapkannya. Seringkali manusia menolak untuk menerima ilmu dari orang yang luas pengetahuannya hanya karena orang tersebut berperilaku buruk dan tidak mengamalkan ilmunya.

4. Berperilaku jujur dan teliti dalam penukilan sehingga mufasir tidak berbicara atau menulis kecuali setelah menyelidiki apa yang diriwayatkannya. Dengan cara ini ia akan terhindar dari kesalahan dan kekeliruan.

5. Tawadlu dan lemah lembut, karena kesombongan ilmiah merupakan diding kokoh yang menghalangi antara seorang alim dengan kemanfaatan ilmunya.

6. Berjiwa mulia. Seharusnyalah seorang alim menjauhkan diri dari hal-hal yang remeh serta tidak mengelilingi pintu-pintu kebesaran dan penguasa bagai peminta-minta yang buta.

7. Vokal dalam menyampaikan kebenaran, karena jihad paling utama adalah menyampaikan kalimat yang haq di hadapan penguasa dhalim.

8. Berpenampilan yang baik yang dapat menjadikan mufasir berwibawa dan terhormat dalam semua penampilannya secara umum, juga dalam cara duduk, berdiri dan berjalan, namun hendaknya sikap ini tidak dipaksa-paksakan.

9. Bersikap tenang dan mantap. Mufasir hendaknya tidak tergesa-gesa dalam berbicara tetapi hendaknya ia berbicara dengan tenang, mantap dan jelas, kata demi kata.

10. Mendahulukan orang yang lebih utama daripada dirinya. Seorang mufasir hendaknya tidak gegabah dalam menafsirkan di hadapan orang yang lebih pandai pada mereka masih hidup dan tidak pula merendahkan mereka sesudah mereka wafat. Tetapi hendaklah ia menganjurkan belajar dari mereka dan membaca kitab-kitabnya.

11. Mempersiapkan dan menempuh langkah-langkah penafsiran secara baik, seperti memulai dengan menyebutkan asbabun nuzul, arti kosa kata, menerangkan susunan kalimat, menjelaskan segi-segi balaaghah dan i’rab yang padanya bergantung penentuan makna. Kemudian menjelaskan makna umum dan menghubungkannya dengan kehidupan umum yang sedang dialami umat manusia pada masa itu dan kemudian mengambil kesimpulan dan hukum.

Adapun mengambil korelasi dan pertautan antara ayat-ayat maka yang demikian bergantung pada susunan kalimat dan konteks.

&