Hal-Hal yang Terlarang Ketika Berziarah Kubur

5 Feb

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi; Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Hadits-hadits sebelumnya mencakup pengertian yang sangat penting, bahwa ziarah kubur bagi laki-laki dan perempuan adalah boleh. Begitu pula mengucapkan salam kepada ahli kubur, bahkan mayit menjawab salam orang yang mengucapkan kepadanya. Dan juga, wanita dibolehkan menangis di sisi kubur.

Andaikan ziarah kubur itu diharamkan, niscaya Nabi saw. melarang dan mencegah wanita itu dalam hadits tersebut di atas, sebagaimana beliau mencegah dan melarang orang yang melakukan hal-hal yang diharamkan dan terlarang. Jadi, apa yang diriwayatkan orang tentang larangan berziarah kubur bagi wanita adalah tidak shahih. (masalah ini telah dibicarakan pada tulisan sebelumnya)

Adapun apa yang shahih adalah apa yang telah dikatakan tadi, yakni boleh, kecuali jika ketika keluar rumah, wanita itu melakukan hal-hal yang tidak dibolehkan seperti tabarruj, yakni mempertontonkan perhiasan dan kecantikan, atau perkataannya, atau lainnya supaya memikat hati orang. Itu memang dilarang.

Dan sebelum bab ini, telah diterangkan perbedaan antara wanita tua dan gadis remaja, maka perhatikanlah kembali.
Jadi kalian boleh saja menangis di sisi kubur keluargamu karena sedih atau kasihan atas apa yang tengah ia alami, sebagaimana dibolehkan menangis pada saat ia meninggal.

Adapun menangis dalam tradisi orang Arab, memang ada yang berupa tangisan biasa dan baik-baik, dan ada pula yang disertai dengan teriakan [niyahah], bahkan terkadang disertai pula dengan jeritan, memukul-mukul pipi dan merobek-robek saku baju. Tangisan model kedua inilah yang diharamkan secara ijma’ oleh para ulama. Dan tangisan ini pula yang diancam oleh sabda Nabi saw. “Aku berlepas diri dari orang yang mencukur rambutnya, berguling-guling dan merobek-robek baju.” (HR Muslim [104])

Adapun tangisan tanpa teriakan, maka ada hadits yang membolehkannya, baik di kuburan maupun ketika seseorang baru meninggal, yaitu tangisan kasih-sayang yang sulit dihindari oleh manusia. Bahkan Nabi sendiri pernah menangis ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal. Begitu pula Umar berkata, “Biarkan wanita itu menangis atas meninggalnya Abu Sulaiman selama tidak disertai teriakan, atau teriakan terus-menerus.”

“Naq’u,” artinya, suara keras. “Laqlaqah,” artinya, tangisan terus-menerus. dan ada pula yang mengatakan, “Naq’u.” Artinya, menaburkan tanah di atas kepala. wallaaHu a’lam.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: