Arsip | 00.15

Sakaratul Maut yang Dialami Nabi Muhammad saw.

9 Feb

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi; Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Sakaratul maut yang dialami oleh Nabi Muhammad saw. tercermin dalam pernyataan istrinya, Aisyah Ra, “Di hadapan Rasulullah saw. (pada saat beliau akan meninggal) ada sebuah wadah atau bejana berisi air. Maka mulailah beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air dan mengusap-usapkannya ke wajah, seraya mengucapkan, ‘Laa ilaaHa illallaaH, sesungguhnya kematian itu diiringi sakarat-sakarat.’ Kemudia beliau menegakkan tangannya seraya bersabda, ‘Bersama ar-Rafiq al-A’laa,’ sampai beliau dicabut nyawanya, dan tangannya condong. (Shahih al-Bukhari [6510])

“Bejana” pada hadits ini adalah terjemahan dari kata “ulbah” yang maksudnya, sebuah bejana besar terbuat dari kayu untuk tempat perahan susu. Tapi, menurut Ibnu Faris dalam al-Mujmal, dan al-Jauhari dalam ash-Shihah, “’Ulbah’ adalah tempat perahan susu terbuat dari kulit. Jamaknya ‘Ulab dan ‘ilaab. Adapun al-Mu’allab adalah sesuatu yang dijadikan ‘ulbah.

Ada pula yang mengatakan, ‘ulbah itu bejana yang bagian bawahnya dari kulit, dan bagian atasnya adalah kayu seperti bingkai ayakan yang melingkari kulit itu. Dan ada lagi yang mengatakan, ‘ulbah itu bejana besar tempat memerah susu. Pendapat lain dari seorang ahli bahasa, Abu Hilal al-Hasan bin Abdullah bin Sahal al-Askari dalam kitabnya, at-Talkhish, dia katakan, “’Ulbah adalah bejana tradisional kaum Badui, berupa wadah besar, terbuat dari kulit unta bagian lambung. Bentuk jamaknya adalah ‘ilaab.”

Adapun sabda Nabi, “Sesungguhnya kematian itu diiringi sakarat-sakarat.” Maksudnya, kesusahan-kesusahan. Jadi, karatul maut maksudnya ialah kesusahan menjelang kematian.

&

Sakaratul Maut

9 Feb

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi; Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Allah swt. menerangkan betapa berat proses kematian yang dialami manusia, pada empat ayat:

1. Pertama, firman Allah: wa jaa-at sakratul mauti bil haqqi (“Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya.”) [Qaaf: 19]
2. Kedua, firman Allah: wa lau taraa idzidh dhaalimuuna fi ghamaraatil mauti (“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dhalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut.”)(al-An’am: 93)
3. Ketiga firman Allah: fa lau laa idzaa balaghatil hulquum (“Maka kenapa ketika nyawa sampai di kerongkongan.”)(al-Waaqi’ah: 83)
4. Keempat, firman Allah: Kallaa idzaa balaghatit taraaqii (“Sekali-kali jangan. Apabila nafas [seseorang] telah [mendesak] sampai ke kerongkongan.”)(al-Qiyaamah: 26)

Sementara itu, al-Bukhari telah meriwayatkan dari Aisyah Ra, bahwa di hadapan Rasulullah saw. (pada saat beliau akan meninggal) ada sebuah wadah atau bejana berisi air. Maka mulailah beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air dan mengusap-usapkannya ke wajah, seraya mengucapkan, “Laa ilaaHa illallaaH, sesungguhnya kematian itu diiringi sakarat-sakarat.” Kemudia beliau menegakkan tangannya seraya bersabda, “Bersama ar-Rafiq al-A’laa,” sampai beliau dicabut nyawanya, dan tangannya condong. (Shahih al-Bukhari [6510])

At-Tirmidzi telah meriwayatkan pula dari ‘Aisyah ra. dia berkata, “Aku tidak bisa berharap seseorang akan mengalami keringanan maut, setelah saya melihat betapa beratnya kematian yang dialami Rasulullah saw.” (Shahih; Sunan at-Tirmidzi [979] dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih at-Tirmidzi)

Dan dalam shahih al-Bukhari, dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah saw. meninggal, dan sesungguhnya beliau benar-benar berada di antara tulang selangkangku dan ujung daguku. Aku tidak akan membenci selamanya terhadap beratnya kematian seseorang setelah Nabi.” (Shahih; Shahih al-Bukhari [4446])

Abu Bakar bin Abu Syaibah menyebutkan dalam musnadnya, dari Jabir bin Abdullah, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Berceritalah kamu sekalian tentang Bani Israil, karena sesungguhnya di kalangan mereka ada cerita-cerita yang mengagumkan.”
Kemudian Nabi mulai bercerita kepada kami, “Ada sekelompok orang dari Bani Israil keluar rumah menuju salah satu kuburan mereka. mereka berkata: ‘Tidakkah kita melakukan shalat dua rakaat, lalu berdoa kepada Allah, semoga Dia mengeluarkan seseorang yang telah mati, biarlah dia memberitahukan kepada kita tentang kematian.’”
Nabi melanjutkan, “Maka mereka pun melakukan [apa yang mereka katakan itu]. Dan seketika itu, muncullah seorang lelaki berambut putih, berkulit hitam kecuali sedikit bagian saja. di antara kedua matanya terdapat bekas sujud. Laki itu berkata, ‘Hai orang-orang semua, mau apa kalian datang kepadaku? Aku ini telah meninggal seratus tahun yang lalu. Namun, panasnya kematian belum reda juga sampai sekarang. Maka berdoalah kalian kepada Allah, supaya mengembalikan aku seperti semula.’” (isnad hadits ini jayyid, selain kisahnya, disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Ahwal al-Qubur [97], dia katakan, “Ini adalah isnad jayyid… tetapi kata-kata: “Kemudian Nabi mulai bercerita” dan seterusnya sampai akhir kisah, adalah cerita dari Abdurrahman bin Sabith sendiri. Adapun al-Bazzar meriwayatkan dalam Musnadnya bagian awal dari hadits, tanpa menyebutkan kisah kelompok orang itu. Berarti kisah tersebut telah disisipkan [mudraj] dalam hadits ini, sebagaimana telah diterangkan)

&