Arsip | 07.24

Tafsir Al-Qur’an pada Masa Nabi dan Shahabat

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Allah memberikan jaminan kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan memelihara al-Qur’an dan menjelaskannya: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah menghimpunnya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (al-Qiyaamah: 17-19)

Nabi memahami al-Qur’an secara global dan terperinci. Dan adalah kewajibannya menjelaskannya kepada para shahabatnya: “Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkannya.” (an-Nahl: 44)

Para shahabat juga memahami al-Qur’an karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka, sekalipun mereka tidak memahami detail-detailnya. Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnya menjelaskan: “Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan menurut uslub-uslub balaghahnya. Karena itu semua orang Arab memahaminya dan mengetahui makna-maknanya baik kosa kata maupun susunan kalimatnya.” Namun demikian mereka berbeda-beda tingkat pemahamannya, sehingga apa yang tidak diketahui oleh seseorang di antara mereka bolehjadi diketahui oleh orang lain.

Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaidah dalam al-Fadaa-il dari Anas, Umar bin Khaththab pernah membaca di atas mimbar ayat: wa faakiHataw wa abban (‘Abasa: 31) lalu ia berkata: “Arti kata faakiHaH (buah) telah kita ketahui, tetapi apakah arti kata abb?” kemudian dia menyesali diri sendiri dan berkata: “Ini suatu pemaksaan diri, takalluf, wahai Umar.” (al-itqaan jilid 2 hal 113)

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan pula melalui Mujahid dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: “Dulu saya tidak tahu apa makna faatirus samaawaati wal ardl; sampai datang kepadaku dua orang dusun yang bertengkar tentang sumur. Salah seorang mereka berkata: ‘Ana fatartuHaa’, maksudnya ‘ana ibtada’tuHaa’ (akulah yang membuatnya pertama kali). (al-itqaan jilid 2 hal 113)
Atas dasar itu Ibn Qutaidah berkata: “Orang arab itu tidak sama pengetahuannya tentang kata-kata gharib dan Mutasyabih dalam al-Qur’an. Tetapi dalam hal ini sebagian mereka mempunyai kelebihan atas yang lain.” (at-Tafsir wal Mufassiriin, jilid 1 hal 36)

Para shahabat dalam menafsirkan al-Qura’n masa itu berpegang pada:

1. Al-Qur’anul Karim, sebab apa yang dikemukakan secara global di satu tempat dijelaskan secara terperinci di tempat lain. Terkadang pula sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian disusul oleh ayat lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Inilah yang dinamakan “Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an.” Penafsiran seperti ini cukup banyak contohnya. Misalnya kisah-kisah dalam al-Qur’an yang ditampilkan secara ringkas (muujaz) di beberapa tempat, kemudian di tempat lain datang uraiannya panjang lebar (mushab). Contoh lainnya adalah firman Allah yang artinya: “Dihalalkan bagimu binatang ternak kecuali yang akan dibacakan kepadamu…” (al-Maaidah: 1) ditafsirkan oleh ayat:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai…” (al-Maaidah: 3)

Dan firman-Nya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan..” (al-An’am: 103), ditafsirkan oleh ayat: “Kepada Tuhannyalah mreeka melihat.” (al-Qiyamah: 23)

2. Nabi saw., mengingat beliau lah yang bertugas untuk menjelaskan al-Qur’an. Karena itu wajarlah kalau para shahabat bertanya kepada beliau ketika mendapat kesulitan dalam memahami suatu ayat.

Dari Ibn Mas’ud diriwayatkan, ia berkata: Ketika turun ayat ini: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan imannya dengan kedhaliman…” (al-An’am: 82), hal ini sangat meresahkan hati para shahabat. maka mereka bertanya: “Ya Rasulallah, siapakah di antara kita yang tidak berbuat dhalim terhadap dirinya?” Beliau menjawab: “Kedhaliman di sini bukanlah seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu mendengar apa yang dikatakan hamba yang shalih [Lukman]: ‘Sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah kedhaliman yang besar.’ (Lukman: 13). Kedhaliman di sini sesungguhnya adalah syirik.” (Hadits Ahmad, Bukhari-Muslim dan lainnya)

Demikian juga Rasulullah menjelaskan kepada mereka apa yang ia kehendaki ketika diperlukan. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah mengatakan di atas mimbar ketika membaca ayat, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi’ (al-Anfaal: 60). Ketahuilah, ‘Kekuatan’ disini adalah memanah.” (Hadits Muslim dan lainnya)

Dari Anas dia berkata: Rasulullah bersabda: “Al-Kautsar adalah sungai yang diberikan Tuhan kepadaku di surga.” (Hadits Ahmad dan Muslim)

Kitab-kitab himpunan sunnah telah menyajikan satu bab khusus memuat tafsir bil-ma’tsuur (penafsiran berdasarkan riwayat/atsar) dari Rasulullah. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Dan Kami tidaklah menurunkan kepadamu Kitab, melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (an-Nahl: 64)

Di antara kandungan al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat dita’wilkan kecuali melalui penjelasan Rasulullah. Misalnya rincian tentang perintah dan larangan-Nya serta ketentuan mengenai hukum-hukum yang difardlukan-Nya. inilah yang dimaksud dengan perkataan Rasulullah: “Ketahuilah, sungguh telah diturunkan kepadaku al-Qur’an dan bersamanya pula sesuatu yang serupa dengannya…”

3. Pemahaman dan ijtihad. Apabila para shahabat tidak mendapatkan tafsiran dalam al-Qur’an dan tidak pula mendapatkan sesuatu pun yang berhubungan dengan hal itu dari Rasulullah saw., mereka melakukan ijtihad dengan mengerahkan segenap kemampuan nalar. Ini mengingat mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat menguasai bahasa Arab, memahami dengan baik dan mengetahui aspek-aspek kebalaghahan yang ada di dalamnya.

Di antara para shahabat yang terkenal banyak menafsirkan al-Qur’an adalah empat khalifah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, dan ‘Aisyah, dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyakknya penafsiran mereka. cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada mereka dan kepada shahabat yang lain di berbagai tempat tafsir bil-ma’tsuur yang tentu saja berbeda-beda derajat keshahihannya dan ke-dlaifannya dilihat dari sudut sanad (mata rantai periwayatan).

Tidak diragukan lagi, tafsir bil-ma’tsuur yang berasal dari shahabat mempunyai nilai tersendiri. Jumhur ulama berpendapat, tafsir shahbat mempunyai status hukum marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah saw) bila berkenaan dengan asbabun nuzul dan semua hal yang tidak mungkin dimasuki ra’y. Sedang hal yang memungkinkan dimasuki ra’y maka statusnya adalah mauquf (terhenti) para shahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah saw.

Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir yang mauquf pada shahabat, karena merekalah yang paling ahli bahasa Arab dan menyaksikan langsung konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui mereka, di samping mereka mempunyai daya pemahaman yang shahih. Zarkasyi dalam kitabnya al-Burhaan berkata:

“Ketahuilah, al-Qur’an itu ada dua bagian. Satu bagian penafsirannya datang berdasarkan naql (riwayat) dan sebagian yang lain tidak dengan naql. Yang pertama, penafsiran itu kadangkala dari Nabi, shahabat atau tokoh tabi’in. Jika berasal dari Nabi, hanya perlu dicari keshahihan sanadnya. Jika berasal dari shahabat, perlu diperhatikan apakah mereka menafsirkan dari segi bahasa? Jika ternyata demikian maka mereka adalah yang paling mengerti tentang bahasa Arab, karena itu pendapatnya dapat dijadikan pegangan, tanpa diragukan lagi. Atau jika mereka menafsirkan berdasarkan asbab nuzul atau situasi dan kondisi yang mereka saksikan, maka hal itu pun tidak diragukan lagi.” (al-itqaan jilid 2 hal 183)

Berkata al-Hafidz Ibn Katsir dalam Muqaddimah Tafsirnya: “Dengan demikian jika kita tidak mendapatkan tafsiran dalam al-Qur’an dan tidak pula dalam sunnah, hendaknya kita kembalikan, dalam hal ini ke pendapat shahabat; sebab mereka lebih mengetahui mengenai tafsir al-Qur’an. Hal ini karena merekalah yang menyaksikan konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui mereka sendiri. Juga karena mereka mempunyai pemahaman sempurna, ilmu yang shahih dan amal yang shalih, terutama para ulama dan tokoh besarnya, seperti empat khulafaur Rasyidin, para imam yang mendapat petunjuk dan Ibn Mas’ud.” (Ibn Katsir jilid 1 hal 3)

Pada masa ini tidak ada sedikitpun tafsir yang dibukukan, sebab pembukuan baru dilakukan pada abad kedua. Di samping itu tafsir hanya merupakan cabang dari hadits, dan belum mempunyai bentuk yang teratur. Ia meriwayatkan secara bertebaran mengikuti ayat-ayat yang berserakan, tidak tertib atau berurutan sesuai sistematika ayat-ayat al-Qur’an dan surah-surahnya di samping juga tidak mencakup keseluruhannya.

&

Tafsir Al-Qur’an Tematik (Mauduu’i)

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Pada masa pembukuan di samping tafsir bercorak biasa atau umum, tafsir tematik yang mengkaji masalah-masalah khusus berjalan beriringan dengannya. Misalnya, Ibnul Qayyim menulis kitab at-Tibyaan fi Aqsaamil Qur-aan, Abu ‘Ubaidah menulis sebuah kitab tentang Majaazul Qur-aan, ar-Raaghib al-Asfahani menyusun Mufraadatul Qur-aan, Abu Ja’far an-Nahas menulis an-Naasikh wal Mansuukh, Abu Hasan al-Wahidi menulis Asbaabun Nuzul dan al-Jassaas menulis Ahkaamul Qur-aan. Dan kajian-kajian Qur’ani pada masa modern, tidak satupun yang terlepas dari penafsiran sebagian ayat-ayat al-Qur’an untuk salah satu aspek dari aspek-aspek tersebut.

&

Tafsir Al-Qur’an pada Masa Tabi’in

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Sebagaimana tokoh-tokoh shahabat yang banyak dikenal dalam lapangan tafsir, maka sebagian tokoh tabi’in yang menjadi murid dan belajar kepada mereka pun terkenal di bidang tafsir. Dalam hal sumber tafsir, para tabi’in berpegang pada sumber-sumber yang ada pada masa para pendahulunya disamping ijtihad dan pertimbangan nalar mereka sendiri.

Berkata Ustadz Muhammad Husain adz-DzaHabi: “Dalam memahami Kitabullah, para mufasir dari kalangan tabi’in berpegang pada apa yang ada dalam al-Qur’an itu sendiri, keterangan yang mereka riwayatkan dari para shahabat yang berasal dari Rasulullah, penafsiran yang mereka terima dari para shahabat berupa penafsiran mereka sendiri, keterangan yang diterima tabi’in dari Ahli Kitab yang bersumber dari isi kitab mereka, dan ijtihad serta pertimbangan nalar mereka terhadap Kitabullah sebagaimana yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka.”

Kitab-kitab tafsir menginformasikan kepada kita pendapat-pendapat tabi’in tentang tafsir yang mereka hasilkan melalui ra’y dan ijtihad. Dan penafsiran mereka ini sedikit pun bukan berasal dari Rasulullah atau dari shahabat.

Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan, tafsir yang dinukil dari Rasulullah dan para shahabat tidak mencakup semua ayat al-Qur’an. Mereka hanya menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami bagi orang-orang yang semasa dengan mereka. kemudian kesulitan ini semakin meningkat secara bertahab di saat manusia bertambah jauh dari masa Nabi dan shahabat. maka para Tabi’in yang menekuni bidang tafsir merasa perlu untuk menyempurnakan sebagian kekurangan ini. Karenanya merekapun menambahkan ke dalam tafsir keterangan-keterangan yang dapat menghilangkan kekurangan ini. Setelah itu muncullah generasi sesudah tabi’in. Generasi ini pun berusaha menyempurnakan tafsir al-Qur’an secara terus menerus dengan berdasarkan pada pengetahuan mereka atas bahasa Arab dan cara bertutur kata, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya al-Qur’an yang mereka pandang valid dan pada alat-alat pemahaman serta sarana pengkajian lainnya. (at-Tafsir wal Mufassiruun jilid 1 hal 99-100)

Penaklukan Islam semakin luas. Hal ini mendorong tokoh-tokoh shahabat berpindah ke daerah-daerah taklukkan dan masing-masing mereka membawa ilmu. Dari tangan mereka inilah para tabi’in, murid mereka itu, belajar dan menimba ilmu, sehingga selanjutnya tumbuhlah berbagai madzab dan perguruan tafsir.

Di Makkah misalnya, berdiri perguruan Ibnu ‘Abbas. Di antara muridnya yang terkenal adalah Sa’ad bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah maula Ibn ‘Abbas, Thawus bin Kaisan al-Yamani dan ‘Atha’ bin Abi Rabah. Mereka ini semua dari golongan maulaa (sahaya yang telah dibebaskan). Dalam hal periwayatan tafsir dari Ibn ‘Abbas mereka tidaklah setingkat; ada yang sedikit dan ada pula yang banyak, sebagaimana para ulama pun berbeda pendapat mengenai kadar “keterpercayaan” dan kredibilitas mereka. dan yang mempunyai kelebihan di antara mereka tetapi mendapat sorotan adalah ‘Ikrimah. Para ulama berbeda pandangan di sekitar penilaian terhadap kredibilitasnya meskipun mereka mengakui keilmuan dan keutamaannya.

Di Madinah, Ubai bin Ka’b lebih terkenal di bidang tafsir dari orang lain. Pendapat-pendapatnya tentang tafsir banyak dinukilkan oleh generasi sesudahnya. Di antara muridnya dari kalangan tabi’in, yang belajar kepadanya secara langsung atau tidak, yang terkenal adalah Zaid bin Aslam, Abu ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’b al-Qurazi.

Di Irak berdiri perguruan Ibn Mas’ud yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal bakal madzab ahli ra’y. Dan banyak pula para tabi’in di Irak yang dikenal dalam bidang tafsir. Yang masyhur di antaranya adalah ‘Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, Murrah al-Hamazani, ‘Amir asy-Sya’bi, Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di’aamah as-Sadusi.

Merekalah mufasir-mufasir terkenal dari kalangan tabi’in di berbagai wilayah Islam, dan dari mereka pulalah tabi’it tabi’in (generasi setelah tabi’in) belajar. Mereka telah menciptakan untuk kita warisan ilmiah yang abadi.

Para ulama berbeda pendapat tentang tafsir yang berasal dari tabi’in jika tafsir tersebut tidak diriwayatkan sedikitpun dari Rasulullah; apakah pendapat mereka itu dipegangi ataukah tidak.
Segolongan ulama berpendapat, tafsir mereka tidak (harus) dijadikan pegangan, sebab mereka tidak menyaksikan peristiwa-peristiwa situasi dan kondisi yang berkenaan dengan turunnya ayat-ayat al-Qur’an, sehingga mereka dapat saja berbuat salah dalam memahami apa yang dimaksud. Sebaliknya, banyak mufasir berpendapat, tafsir mereka dapat dipegangi sebab pada umumnya mereka menerimanya dari para shahabat.

Pendapat yang kuat adalah jika para tabi’in sepakat atas sesuatu pendapat, maka bagi kita wajib menerimanya, tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil yang lain.

Ibn Taimiyah berkata: “Syu’bah bin Hajjaj dan lainnya berpendapat, ‘Pendapat para tabi’in itu bukan hujjah.’ Maka bagaimana pula pendapat-pendapat tersebut dapat dijadikan hujjah di bidang tafsir? Maksudnya, pendapat-pendapat itu tidak menjadi hujjah bagi orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. inilah pendapat yang benar. Namun jika mereka sepakat atas sesuatu maka tidak diragukan lagi bahwa kesepakatan itu merupakan hujjah. Sebaliknya, jika mereka berbeda pendapat, maka pendapat sebagian mereka tidak menjadi hujjah, baik bagi kalangan sendiri (tabi’in) maupun bagi generasi sesudahnya. Dalam keadaan demikian, persoalannya dikembalikan kepada bahasa al-Qur’an, sunnah, keumuman bahasa Arab dan pendapat para shahabat tentang hal tersebut.” (Ibn Taimiyah, Muqaddimah fii Usulit Tafsiir; hal 28-29; dan al-itqaan jilid 2 hal 179)

Pada masa ini, tafsir tetap konsisten dengan cara khas, penerimaan dan periwayatan (talaqqi wa talqiin). Akan tetapi setelah banyak Ahli Kitab masuk Islam, para tabi’in banyak menukil dari mereka cerita-cerita Isra’iliyat yang kemudian dimasukkan ke dalam tafsir. Misalnya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Salam ‘Aziz bin Juraij. Di samping itu, pada masa ini, mulai timbul silang pendapat mengenai status tafsir yang diriwayatkan dari mereka karena banyaknya pendapat-pendapat mereka. namun demikian pendapat-pendapat tersebut sebenarnya berdekatan satu dengan yang lain atau hanya merupakan sinonim semata. Dengan demikian perbedaan itu hanya dari segi redaksional, bukan perbedaan saling bertentangan dan kontradiktif.

&

Tafsir Al-Qur’an pada Masa Pembukuan

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Masa pembukuan dimulai pada akhir dinasti Bani Umayah dan awal dinasti Abbasiyah. Dalam hal ini hadits mendapat prioritas utama dan pembukuannya meliputi berbagai bab, sedang tafsir hanya merupakan salah satu bab dari sekian banyak bab yang dicakupnya. Pada masa ini penulisan tafsir belum dipisahkan secara khusus yang hanya memuat tafsir al-Qur’an, surah demi surah dan ayat demi ayat, dari awal al-Qur’an hingga akhir.

Perhatian segolongan ulama terhadap periwayatan tafsir yang dinisbahkan kepada Nabi, shahabat atau tabi’in sangat besar di samping perhatian terhadap pengumpulan hadits. Tokoh terkemuka di antara mereka dalam bidang ini adalah Yazid bin Harun as-Sulami (wafat 117 H), Syu’bah bin al-Hajjaj (wafat: 160 H), Waki’ bin Jarrah (wafat: 197 H), Sufyan bin ‘Uyainah (wafat: 198 H), Rauh bin ‘Ubaddah al-Basri (wafat: 205 H), Abdurrazzaq bin Hammam (wafat: 211 H), Adam bin Abu Ilyas (wafat: 220 H) dan ‘Abd bin Humaid (wafat: 249 H).
Tafsir golongan ini sedikitpun tidak ada yang sampai kepada kita. Yang kita terima hanyalah nukilan-nukilan yang dinisbatkan kepada mereka sebagaimana termuat dalam kitab-kitab tafsir bil-ma’tsur.

Sesudah golongan ini datanglah generasi berikutnya yang menulis tafsir secara khusus dan independen serta menjadikannya sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan terpisah dari hadits. Al-qur’an mereka tafsirkan secara sistematis sesuai dengan tertib Mushaf. Di antara mereka adalah Ibn Majah (wafat 273 H), Ibn Jarir at-Tabari (wafat 310 H) Abu Bakar bin al-Mudzir an-Naisaburi (wafat 318 H), Ibn Abi Hatim (wafat 327 H), Abusy Syaikh bin Hibban (wafat 369 H), al-Hakim (wafat 405 H) dan Abu Bakar bin Mardawaih (wafat 410 H)

Tafsir generasi ini memuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah, Shahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in, dan terkadang disertai dengan pent-tarjih-an terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan dan penyimpulan (istinbaat) sejumlah hukum serta penjelasan kedudukan kata (i’raab) jika diperlukan, sebagaimana dilakukan Ibn Jarir at-Tabari.

Kemudian muncul sejumlah mufasir yang (aktifitasnya) tidak lebih dari batas-batas tafsir bil-ma’tsuur, tetapi dengan meringkas sanad-sanad dan menghimpun berbagai pendapat tanpa menyebutkan pemiliknya. Karena itu persoalannya menjadi kabur dan riwayat-riwayat yang saling bercampur dengan yang tidak shahih.

Ilmu semakin berkembang pesat, pembukuannya mencapai kesempurnaan, cabang-cabangnya bermunculan, perbedaan pendapat terus meningkat, masalah-masalah “kalam” semakin berkobar, fanatisme madzab menjadi serius dan ilmu-ilmu filsafat bercorak rasional bercampur baur dengan ilmu-ilmu naqli serta setiap golongan berupaya mendukung madzab masing-masing. Ini semua menyebabkan tafsir ternoda polusi tidak sehat tersebut. Sehingga para mufasir dalam menafsirkan al-Qur’an berpegang pada pemahaman pribadi dan mengarah ke berbagai kecenderungan. Pada diri mereka melekat istilah-istilah ilmiah, akidah madzabi dan pengetahuan falsafi. Masing-masing mufasir memenuhi tafsirnya hanya dengan ilmu yang paling dikuasainya tanpa memperhatikan ilmu-ilmu yang lain. Ahli ilmu rasional hanya memperhatikan dalam tafsirnya kata-kata pujangga dan filosof, seperti Fakhruddin ar-Razi. Ahli Fikih hanya mementingkan kisah dan berita-berita, seperti as-Sa’labi dan al-Khazin. Demikian pula golongan ahli bid’ah berupaya menta’wilkan Kalamullah menurut selera madzabnya yang rusak itu, seperti ar-Rummani, al-Juba’i, al-Qadi Abdul Jabbar dan Zamakhsyari dari kaum Mu’tazilah, Mala Muhsin al-Kasyi dari golongan Syi’ah Imamiyah al-Isna ‘Asyriyah, dan golongan ahli tasawwuf hanya mengemukakan makna-makna isyari (tersirat) seperti Ibn ‘Arabi.

Di samping tafsir dengan corak tersebut juga banyak tafsir yang menitikberatkan pada pembahasan ilmu nahwu, sharaf dan balaghah. Demikianlah kitab-kitab tafsir menjadi kitab-kitab yang di dalamnya bercampur baur antara debu dengan samin, yang berguna dengan yang berbahaya, dan yang baik dengan yang buruk. Masing-masing golongan menafsirkan ayat-ayat al-qur’an dengan penafsiran yang tidak dapat diterima oleh ayat itu sendiri, demi mendukung madzab-madzabnya atau menolak pihak lawan, sehingga tafsir kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana petunjuk, pembimbing dan pengetahuan mengenai hukum agama. Dengan demikian, tafsir bir-ra’yi menang atas tafsir bil-ma’tsuur.

Pada masa-masa selanjutnya, penulisan tafsir mengikuti pola di atas melalui upaya golongan muta’akhkhiriin yang mengambil begitu saja penafsiran golongan mutaqaddimiin, tetapi dengan cara meringkasnya di saat dan memberinya komentar di saat lain. Keadaan demikian terus berlanjut sampai lahirnya pola baru dalam tafsir mu’aasir (modern), dimana sebagian mufasir memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kontemporer di samping upaya penyingkapan asas-asas kehidupan sosial, prinsip-prinsip tasyri’ dan teori-teori ilmu pengetahuan dari kandungan al-Qur’an sebagaimana terlihat dalam tafsir al-Jawaahir, al-Manaar dan az-Zilaal.

&

Tabaqat (Kelompok) Mufasir

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Berdasarkan uraian sebelumnya, kita dapat mengelompokkan mufasir sebagai berikut:

1. Mufasir dari kalangan shahabat.
Di antara mereka yang terkenal adalah empat khalifah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin az-Zubair, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Jabir dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘As.

Di antara empat khalifah yang paling banyak diriwayatkan tafsirnya adalah Ali bin Abi Thalib, sedang periwayatan dari tiga khalifah lainnya jarang sekali. Hal ini karena mereka meninggal lebih dahulu, sebagaimana terjadi pada Abu Bakar. Ma’mar meriwayatkan dari Wahb bin Abdullah, dari Abut Tufail, ia berkata: “Saya pernah menyaksikan Ali berkhutbah, mengatakan: ‘Bertanyalah kepadaku karena, demi Allah, kamu tidak menanyakan kepadaku melainkan aku akan menjawabnya. Bertanyalah kepadaku tentang Kitabullah karena, demi Allah, tidak satu ayatpun yang tidak aku ketahui apakah ia diturunkan waktu malam ataukah pada waktu siang, di lembah ataukah di gunung.’”

Sementara itu Ibnu Mas’ud lebih banyak diriwayatkan tafsirnya daripada Ali. Ibnu Jarir dan yang lain meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, ia berkata: “Demi Allah, tiada Tuhan selain Dia, tidaklah diturunkan satu ayatpun dari Kitabullah kecuali aku tahu berkenaan dengan siapa dan dimanakah ia diturunkan. Andaikata aku mengetahui tempat seseorang yang lebih tahu dari aku tentang Kitabullah sedang ia dapat dicapai dengan kendaraan, pasti aku datangi.”
Mengenai Ibn ‘Abbas, insya Allah akan kita kemukakan riwayatnya.

2. Mufasir dari kalangan tabi’in. Ibn Taimiyah menjelaskan, orang yang paling mengetahui tentang tafsir adalah penduduk Makkah, karena mereka adalah murid-murid Ibn ‘Abbas, seperti Mujahid, ‘Atha’ bin Abi Rabah, ‘Ikrimah maula (sahaya yang dimerdekakan oleh) Ibn ‘Abbas, Said bin Jubair, Thawus dan lain-lain. Di Kufah adalah murid-murid Ibn Mas’ud dan di Madinah adalah Zaid bin Aslam yang tafsirnya diriwayatkan oleh putranya sendiri Abdurrahman bin Zaid, dan Malik bin Anas. Di antara murid Ibn Mas’ud adalah ‘Alqamah, al-Aswad bin Yazid, Ibrahim an-Nakha’i dan asy-Sa’bi. Termasuk mufasir kelompok ini adalah al-Hasan al-Bashri, ‘Atha’ bin Abi Muslim al-Khurrasani, Muhammad bin Ka’b al-Qarazi, Abul ‘Aliyah Rafi’ bin Mhran ar-Rabi’ bin Anas dan as-Sadi. Mereka adalah para mufasir pendahulu dari kalangan tabi’in, dan pada umumnya pendapat mereka diterima dari para shahabat.

3. Kemudian lahir generasi berikutnya, yang sebagian besar berusaha menyusun kitab-kitab tafsir yang menghimpun pendapat-pendapat para shahabat dan tabi’in, seperti Sufyan bin ‘Uyainah, Waki’ bin al-Jarrah, Syu’bah bin al-Hajjaj, Yazid bin Harun, Abdurrazzaq, Adam bin Abi Iyas, Ishaq bin Rahawaih, ‘Abd bin Humaid, Rauh bin ‘Ubadah, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan lain-lain.

4. Angkatan berikutnya diantaranya: Ali bin Abi Thalhah, Ibn Jarir at-Tabari, Ibn Abi Hatim, Ibn Majah, al-Hakim, Ibn Mardawaih, Abusy-Syaikh bin Hibban, Ibnul Mudzir dan lain-lain. Tafsir-tarsir mereka memuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepada para shahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Semuanya sama, kecuali yang disusun oleh Ibn Jarir at-Tabari, dimana ia mengemukakan berbagai pendapat dan mentarjih salah satu atas yang lain, serta menerangkan i’rab dan istinbaat (penyimpulan hukum). Karena itu tafsir ini lebih unggul dari lainnya.

5. Generasi berikutnya menyusun kitab-kitab tafsir yang dipenuhi dengan keterangan-keterangan berguna yang dinukil dari para pendahulunya. Pola demikian terus berlangsung sampai datang masa kebangkitan modern. Maka sebagian mufasir menempuh pola baru dengan memperhatikan pada kelembutan uslub, keindahan ungkapan dan penekanan pada aspek-aspek sosial dan pemikiran kontemporer. Sehingga lahirlah tafsir bercorak sastra “sastra sosial” yang tidak menyebutkan sanad-sanad, ditambah sedikit pendapat dari penulisnya. Misalnya karya Abu Ishaq az-Zujaj, Abu Ali al-Farisi, Abu Bakar an-Naqqasy, Abu Ja’far an-Nahhas dan Abul Abbas al-Mahdawi.

6. Kemudian golongan muta’akhkhiriin menulis kitab-kitab tafsir. Mereka meringkas sanad-sanad riwayat dan mengutip pendapat-pendapat secara terputus. Karenanya masuklah ke dalam tafsir sesuatu yang asing dan riwayat yang shahih bercampur baur dengan yang tidak shahih.

7. Selanjutnya, setiap mufasir memasukkan begitu saja ke dalam tafsir pendapat yang diterima dan apa-apa yang terlintas dalam pikirannya yang dipercayainya. Kemudian generasi sesudahnya mengutip apa adanya semua yang tercantum di sana dengan anggapan bahwa hal itu mempunyai dasar, tanpa meneliti lagi tulisan yang datang dari ulama salaf dan shalih dan mereka yang menjadi panutan dalam hal ini. Akibatnya masuklah ke dalam tafsir berbagai macam pendapat. Sampai-sampai as-Suyuti mengatakan, “Penafsiran firman Allah; ghairil maghdluubi ‘alaiHim wa laadl dlaalliin; ada sepuluh pendapat. Padahal penafsiran yang berasal dari Nabi, semua shahabat dan tabi’in hanya ada satu, yaitu ‘orang Yahudi dan Nasrani”.” Oleh karena itu Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di antara para mufasir mengenai hal itu.”

8. Sesudah itu banyak mufasir yang mempunyai keahlian dalam berbagai disiplin ilmu mulai menulis tafsir. Mereka memenuhi kitab-kitabnya dengan cabang ilmu tertentu dan hanya membatasi pada bidang yang dikuasainya, seakan-akan al-Qur’an hanya diturunkan untuk ilmu tersebut, bukan untuk yang lain, padahal al-Qur’an memuat penjelasan mengenai segala sesuatu.

Misalnya kita lihat ahli nahwu. Ia tidak mempunyai perhatian lain kecuali hanya membeberkan panjang lebar persoalan i’rab dan wajah-wajah yang dimungkinkannya, sekalipun telah menyimpang terlalu jauh. Dan untuk itu ia kemukakan kaidah-kaidah nahwu, masalah-masalahnya, cabang-cabangnya dan bermacam pendapat mengenainya, seperti dilakukan oleh Abu Hayyan dalam al-Bahr dan an-Nahr.

Mufasir ahli berita hanya memikirkan kisah-kisah yang dibeberkannya secara tuntas serta menyuguhkan sejumlah riwayat yang diterima dari orang dulu, shahih maupun bathil, seperti as-Sa’labi. Sedang ahli fiqih menumpahkan semua permasalahan fiqih dalam tafsirnya, dan bahkan terkadang ia mengemukakan dalil-dalil fiqih yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ayat, serta menolak dalil-dalil pihak lawan, seperti dilakukan oleh Qurthubi.

Demikian pula ahli ilmu-ilmu rasional, ‘Aqli, terutama Imam Fakhruddin ar-Razi. Ia memenuhi tafsirnya dengan kata-kata ahli hikmah dan filosof, dan ia keluar dari suatu pembahasan ke pembahasan lain, sehingga orang yang memperhatikan merasa heran akan ketidasesuaiannya dengan ayat yang ditafsir. Dalam al-Bahr Abu Hayyan mengatakan, “Imam ar-Razi telah menghimpun dalam tafsirnya segala hal panjang lebar yang sebenarnya tidak diperlukan bagi ilmu tafsir. Oleh karena itu sebagian ulama berkata, di dalam tafsirnya terdapat segala sesuatu kecuali tafsir itu sendiri.”

Tidak terkecuali juga dengan ahli bid’ah. Ia tidak mempunyai maksud lain kecuali menyelewengkan ayat-ayat dan menafsirkannya dengan selera madzabnya yang rusak, sehingga kalau tampak baginya sesuatu yang aneh dan jauh, dikejarnya, atau jika mendapatkan sesuatu kesempatan (untuk mendukung pendiriannya) ia segera memanfaatkannya. Keterangan dari Bulqini membuktikan hal tersebut. Ia mengatakan: “Saya mengutip dari al-Kasysyaaf sejumlah faham Mu’tazilah untuk didiskusikan. Antara lain mengenai firman Allah yang artinya “Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung.” (Ali ‘Imraan: 185) disebutkan: “Keuntungan manakah yang lebih besar bagi orang itu daripada masuk surga?” penafsiran ini mengisyaratkan tentang tiadanya melihat Tuhan.”
Demikian pula halnya kaum atheis dan golongan sesat lainnya.

9. Masa kebangkitan modern. Pada saat ini para mufasir menempuh langkah dan pola baru dengan memperhatikan keindahan uslub dan kehalusan ungkapan serta menitikberatkan pada aspek-aspek sosial, pemikiran kontemporer, sehingga lahirlah tafsir bercorak “sastra-sosial”. Di antara mufasir kelompok ini ialah Muhammad Abduh, Sayid Muhammad Rasyid Rida, Muhammad Mustafa al-Maraghi, Sayid Quthub dan Muhammad ‘Izza Darwazah.

&