Tafsir Al-Qur’an pada Masa Nabi dan Shahabat

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Allah memberikan jaminan kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan memelihara al-Qur’an dan menjelaskannya: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah menghimpunnya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (al-Qiyaamah: 17-19)

Nabi memahami al-Qur’an secara global dan terperinci. Dan adalah kewajibannya menjelaskannya kepada para shahabatnya: “Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkannya.” (an-Nahl: 44)

Para shahabat juga memahami al-Qur’an karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka, sekalipun mereka tidak memahami detail-detailnya. Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnya menjelaskan: “Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan menurut uslub-uslub balaghahnya. Karena itu semua orang Arab memahaminya dan mengetahui makna-maknanya baik kosa kata maupun susunan kalimatnya.” Namun demikian mereka berbeda-beda tingkat pemahamannya, sehingga apa yang tidak diketahui oleh seseorang di antara mereka bolehjadi diketahui oleh orang lain.

Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaidah dalam al-Fadaa-il dari Anas, Umar bin Khaththab pernah membaca di atas mimbar ayat: wa faakiHataw wa abban (‘Abasa: 31) lalu ia berkata: “Arti kata faakiHaH (buah) telah kita ketahui, tetapi apakah arti kata abb?” kemudian dia menyesali diri sendiri dan berkata: “Ini suatu pemaksaan diri, takalluf, wahai Umar.” (al-itqaan jilid 2 hal 113)

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan pula melalui Mujahid dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: “Dulu saya tidak tahu apa makna faatirus samaawaati wal ardl; sampai datang kepadaku dua orang dusun yang bertengkar tentang sumur. Salah seorang mereka berkata: ‘Ana fatartuHaa’, maksudnya ‘ana ibtada’tuHaa’ (akulah yang membuatnya pertama kali). (al-itqaan jilid 2 hal 113)
Atas dasar itu Ibn Qutaidah berkata: “Orang arab itu tidak sama pengetahuannya tentang kata-kata gharib dan Mutasyabih dalam al-Qur’an. Tetapi dalam hal ini sebagian mereka mempunyai kelebihan atas yang lain.” (at-Tafsir wal Mufassiriin, jilid 1 hal 36)

Para shahabat dalam menafsirkan al-Qura’n masa itu berpegang pada:

1. Al-Qur’anul Karim, sebab apa yang dikemukakan secara global di satu tempat dijelaskan secara terperinci di tempat lain. Terkadang pula sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian disusul oleh ayat lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Inilah yang dinamakan “Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an.” Penafsiran seperti ini cukup banyak contohnya. Misalnya kisah-kisah dalam al-Qur’an yang ditampilkan secara ringkas (muujaz) di beberapa tempat, kemudian di tempat lain datang uraiannya panjang lebar (mushab). Contoh lainnya adalah firman Allah yang artinya: “Dihalalkan bagimu binatang ternak kecuali yang akan dibacakan kepadamu…” (al-Maaidah: 1) ditafsirkan oleh ayat:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai…” (al-Maaidah: 3)

Dan firman-Nya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan..” (al-An’am: 103), ditafsirkan oleh ayat: “Kepada Tuhannyalah mreeka melihat.” (al-Qiyamah: 23)

2. Nabi saw., mengingat beliau lah yang bertugas untuk menjelaskan al-Qur’an. Karena itu wajarlah kalau para shahabat bertanya kepada beliau ketika mendapat kesulitan dalam memahami suatu ayat.

Dari Ibn Mas’ud diriwayatkan, ia berkata: Ketika turun ayat ini: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan imannya dengan kedhaliman…” (al-An’am: 82), hal ini sangat meresahkan hati para shahabat. maka mereka bertanya: “Ya Rasulallah, siapakah di antara kita yang tidak berbuat dhalim terhadap dirinya?” Beliau menjawab: “Kedhaliman di sini bukanlah seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu mendengar apa yang dikatakan hamba yang shalih [Lukman]: ‘Sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah kedhaliman yang besar.’ (Lukman: 13). Kedhaliman di sini sesungguhnya adalah syirik.” (Hadits Ahmad, Bukhari-Muslim dan lainnya)

Demikian juga Rasulullah menjelaskan kepada mereka apa yang ia kehendaki ketika diperlukan. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah mengatakan di atas mimbar ketika membaca ayat, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi’ (al-Anfaal: 60). Ketahuilah, ‘Kekuatan’ disini adalah memanah.” (Hadits Muslim dan lainnya)

Dari Anas dia berkata: Rasulullah bersabda: “Al-Kautsar adalah sungai yang diberikan Tuhan kepadaku di surga.” (Hadits Ahmad dan Muslim)

Kitab-kitab himpunan sunnah telah menyajikan satu bab khusus memuat tafsir bil-ma’tsuur (penafsiran berdasarkan riwayat/atsar) dari Rasulullah. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Dan Kami tidaklah menurunkan kepadamu Kitab, melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (an-Nahl: 64)

Di antara kandungan al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat dita’wilkan kecuali melalui penjelasan Rasulullah. Misalnya rincian tentang perintah dan larangan-Nya serta ketentuan mengenai hukum-hukum yang difardlukan-Nya. inilah yang dimaksud dengan perkataan Rasulullah: “Ketahuilah, sungguh telah diturunkan kepadaku al-Qur’an dan bersamanya pula sesuatu yang serupa dengannya…”

3. Pemahaman dan ijtihad. Apabila para shahabat tidak mendapatkan tafsiran dalam al-Qur’an dan tidak pula mendapatkan sesuatu pun yang berhubungan dengan hal itu dari Rasulullah saw., mereka melakukan ijtihad dengan mengerahkan segenap kemampuan nalar. Ini mengingat mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat menguasai bahasa Arab, memahami dengan baik dan mengetahui aspek-aspek kebalaghahan yang ada di dalamnya.

Di antara para shahabat yang terkenal banyak menafsirkan al-Qur’an adalah empat khalifah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, dan ‘Aisyah, dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyakknya penafsiran mereka. cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada mereka dan kepada shahabat yang lain di berbagai tempat tafsir bil-ma’tsuur yang tentu saja berbeda-beda derajat keshahihannya dan ke-dlaifannya dilihat dari sudut sanad (mata rantai periwayatan).

Tidak diragukan lagi, tafsir bil-ma’tsuur yang berasal dari shahabat mempunyai nilai tersendiri. Jumhur ulama berpendapat, tafsir shahbat mempunyai status hukum marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah saw) bila berkenaan dengan asbabun nuzul dan semua hal yang tidak mungkin dimasuki ra’y. Sedang hal yang memungkinkan dimasuki ra’y maka statusnya adalah mauquf (terhenti) para shahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah saw.

Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir yang mauquf pada shahabat, karena merekalah yang paling ahli bahasa Arab dan menyaksikan langsung konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui mereka, di samping mereka mempunyai daya pemahaman yang shahih. Zarkasyi dalam kitabnya al-Burhaan berkata:

“Ketahuilah, al-Qur’an itu ada dua bagian. Satu bagian penafsirannya datang berdasarkan naql (riwayat) dan sebagian yang lain tidak dengan naql. Yang pertama, penafsiran itu kadangkala dari Nabi, shahabat atau tokoh tabi’in. Jika berasal dari Nabi, hanya perlu dicari keshahihan sanadnya. Jika berasal dari shahabat, perlu diperhatikan apakah mereka menafsirkan dari segi bahasa? Jika ternyata demikian maka mereka adalah yang paling mengerti tentang bahasa Arab, karena itu pendapatnya dapat dijadikan pegangan, tanpa diragukan lagi. Atau jika mereka menafsirkan berdasarkan asbab nuzul atau situasi dan kondisi yang mereka saksikan, maka hal itu pun tidak diragukan lagi.” (al-itqaan jilid 2 hal 183)

Berkata al-Hafidz Ibn Katsir dalam Muqaddimah Tafsirnya: “Dengan demikian jika kita tidak mendapatkan tafsiran dalam al-Qur’an dan tidak pula dalam sunnah, hendaknya kita kembalikan, dalam hal ini ke pendapat shahabat; sebab mereka lebih mengetahui mengenai tafsir al-Qur’an. Hal ini karena merekalah yang menyaksikan konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui mereka sendiri. Juga karena mereka mempunyai pemahaman sempurna, ilmu yang shahih dan amal yang shalih, terutama para ulama dan tokoh besarnya, seperti empat khulafaur Rasyidin, para imam yang mendapat petunjuk dan Ibn Mas’ud.” (Ibn Katsir jilid 1 hal 3)

Pada masa ini tidak ada sedikitpun tafsir yang dibukukan, sebab pembukuan baru dilakukan pada abad kedua. Di samping itu tafsir hanya merupakan cabang dari hadits, dan belum mempunyai bentuk yang teratur. Ia meriwayatkan secara bertebaran mengikuti ayat-ayat yang berserakan, tidak tertib atau berurutan sesuai sistematika ayat-ayat al-Qur’an dan surah-surahnya di samping juga tidak mencakup keseluruhannya.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: