Tafsir Al-Qur’an pada Masa Tabi’in

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Sebagaimana tokoh-tokoh shahabat yang banyak dikenal dalam lapangan tafsir, maka sebagian tokoh tabi’in yang menjadi murid dan belajar kepada mereka pun terkenal di bidang tafsir. Dalam hal sumber tafsir, para tabi’in berpegang pada sumber-sumber yang ada pada masa para pendahulunya disamping ijtihad dan pertimbangan nalar mereka sendiri.

Berkata Ustadz Muhammad Husain adz-DzaHabi: “Dalam memahami Kitabullah, para mufasir dari kalangan tabi’in berpegang pada apa yang ada dalam al-Qur’an itu sendiri, keterangan yang mereka riwayatkan dari para shahabat yang berasal dari Rasulullah, penafsiran yang mereka terima dari para shahabat berupa penafsiran mereka sendiri, keterangan yang diterima tabi’in dari Ahli Kitab yang bersumber dari isi kitab mereka, dan ijtihad serta pertimbangan nalar mereka terhadap Kitabullah sebagaimana yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka.”

Kitab-kitab tafsir menginformasikan kepada kita pendapat-pendapat tabi’in tentang tafsir yang mereka hasilkan melalui ra’y dan ijtihad. Dan penafsiran mereka ini sedikit pun bukan berasal dari Rasulullah atau dari shahabat.

Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan, tafsir yang dinukil dari Rasulullah dan para shahabat tidak mencakup semua ayat al-Qur’an. Mereka hanya menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami bagi orang-orang yang semasa dengan mereka. kemudian kesulitan ini semakin meningkat secara bertahab di saat manusia bertambah jauh dari masa Nabi dan shahabat. maka para Tabi’in yang menekuni bidang tafsir merasa perlu untuk menyempurnakan sebagian kekurangan ini. Karenanya merekapun menambahkan ke dalam tafsir keterangan-keterangan yang dapat menghilangkan kekurangan ini. Setelah itu muncullah generasi sesudah tabi’in. Generasi ini pun berusaha menyempurnakan tafsir al-Qur’an secara terus menerus dengan berdasarkan pada pengetahuan mereka atas bahasa Arab dan cara bertutur kata, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya al-Qur’an yang mereka pandang valid dan pada alat-alat pemahaman serta sarana pengkajian lainnya. (at-Tafsir wal Mufassiruun jilid 1 hal 99-100)

Penaklukan Islam semakin luas. Hal ini mendorong tokoh-tokoh shahabat berpindah ke daerah-daerah taklukkan dan masing-masing mereka membawa ilmu. Dari tangan mereka inilah para tabi’in, murid mereka itu, belajar dan menimba ilmu, sehingga selanjutnya tumbuhlah berbagai madzab dan perguruan tafsir.

Di Makkah misalnya, berdiri perguruan Ibnu ‘Abbas. Di antara muridnya yang terkenal adalah Sa’ad bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah maula Ibn ‘Abbas, Thawus bin Kaisan al-Yamani dan ‘Atha’ bin Abi Rabah. Mereka ini semua dari golongan maulaa (sahaya yang telah dibebaskan). Dalam hal periwayatan tafsir dari Ibn ‘Abbas mereka tidaklah setingkat; ada yang sedikit dan ada pula yang banyak, sebagaimana para ulama pun berbeda pendapat mengenai kadar “keterpercayaan” dan kredibilitas mereka. dan yang mempunyai kelebihan di antara mereka tetapi mendapat sorotan adalah ‘Ikrimah. Para ulama berbeda pandangan di sekitar penilaian terhadap kredibilitasnya meskipun mereka mengakui keilmuan dan keutamaannya.

Di Madinah, Ubai bin Ka’b lebih terkenal di bidang tafsir dari orang lain. Pendapat-pendapatnya tentang tafsir banyak dinukilkan oleh generasi sesudahnya. Di antara muridnya dari kalangan tabi’in, yang belajar kepadanya secara langsung atau tidak, yang terkenal adalah Zaid bin Aslam, Abu ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’b al-Qurazi.

Di Irak berdiri perguruan Ibn Mas’ud yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal bakal madzab ahli ra’y. Dan banyak pula para tabi’in di Irak yang dikenal dalam bidang tafsir. Yang masyhur di antaranya adalah ‘Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, Murrah al-Hamazani, ‘Amir asy-Sya’bi, Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di’aamah as-Sadusi.

Merekalah mufasir-mufasir terkenal dari kalangan tabi’in di berbagai wilayah Islam, dan dari mereka pulalah tabi’it tabi’in (generasi setelah tabi’in) belajar. Mereka telah menciptakan untuk kita warisan ilmiah yang abadi.

Para ulama berbeda pendapat tentang tafsir yang berasal dari tabi’in jika tafsir tersebut tidak diriwayatkan sedikitpun dari Rasulullah; apakah pendapat mereka itu dipegangi ataukah tidak.
Segolongan ulama berpendapat, tafsir mereka tidak (harus) dijadikan pegangan, sebab mereka tidak menyaksikan peristiwa-peristiwa situasi dan kondisi yang berkenaan dengan turunnya ayat-ayat al-Qur’an, sehingga mereka dapat saja berbuat salah dalam memahami apa yang dimaksud. Sebaliknya, banyak mufasir berpendapat, tafsir mereka dapat dipegangi sebab pada umumnya mereka menerimanya dari para shahabat.

Pendapat yang kuat adalah jika para tabi’in sepakat atas sesuatu pendapat, maka bagi kita wajib menerimanya, tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil yang lain.

Ibn Taimiyah berkata: “Syu’bah bin Hajjaj dan lainnya berpendapat, ‘Pendapat para tabi’in itu bukan hujjah.’ Maka bagaimana pula pendapat-pendapat tersebut dapat dijadikan hujjah di bidang tafsir? Maksudnya, pendapat-pendapat itu tidak menjadi hujjah bagi orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. inilah pendapat yang benar. Namun jika mereka sepakat atas sesuatu maka tidak diragukan lagi bahwa kesepakatan itu merupakan hujjah. Sebaliknya, jika mereka berbeda pendapat, maka pendapat sebagian mereka tidak menjadi hujjah, baik bagi kalangan sendiri (tabi’in) maupun bagi generasi sesudahnya. Dalam keadaan demikian, persoalannya dikembalikan kepada bahasa al-Qur’an, sunnah, keumuman bahasa Arab dan pendapat para shahabat tentang hal tersebut.” (Ibn Taimiyah, Muqaddimah fii Usulit Tafsiir; hal 28-29; dan al-itqaan jilid 2 hal 179)

Pada masa ini, tafsir tetap konsisten dengan cara khas, penerimaan dan periwayatan (talaqqi wa talqiin). Akan tetapi setelah banyak Ahli Kitab masuk Islam, para tabi’in banyak menukil dari mereka cerita-cerita Isra’iliyat yang kemudian dimasukkan ke dalam tafsir. Misalnya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Salam ‘Aziz bin Juraij. Di samping itu, pada masa ini, mulai timbul silang pendapat mengenai status tafsir yang diriwayatkan dari mereka karena banyaknya pendapat-pendapat mereka. namun demikian pendapat-pendapat tersebut sebenarnya berdekatan satu dengan yang lain atau hanya merupakan sinonim semata. Dengan demikian perbedaan itu hanya dari segi redaksional, bukan perbedaan saling bertentangan dan kontradiktif.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: