Arsip | 13.43

Shalat Sunnah Sebelum Maghrib

17 Feb

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal, bahwa Nabi saw. bersabda: “Bershalatlah sebelum Maghrib, bershalatlah sebelum Maghrib,” dan pada kali yang ketiga beliau bersabda: “Bagi siapa yang suka.” Beliau bersabda demikian karena khawatir kalau-kalau akan dianggap sunnah muakaddah oleh orang-orang.

Dalam riwayat Ibnu Hibban Nabi saw. shalat dua rakaat sebelum Maghrib.

Juga riwayat Muslim dari Ibnu Abbas, katanya: “Kami shalat dua rakaat sebelum Maghrib dan Rasulullah saw. melihat perbuatan kami, tetapi tidak menyuruh dan tidak pula melarangnya.”

Hafidh berkata dalam kitab al-Fath bahwa dalil-dalil yang tersebut itu menunjukkan keutamaan meringankan sunnah sebelum maghrib tadi sebagaimana juga shalat sunnah fajar.

&

Shalat Sunnah Maghrib

17 Feb

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Sesudah shalat Maghrib disunnahkan melakukan shalat sunah dua rakaat sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu Umar bahwa Nabi saw. tidak pernah meninggalkannya.

SURAH-SURAH YANG DIBACA DALAM SHALAT SUNNAH MAGHRIB

Yakni disunnahkan membaca “Qul yaa ayyuHal kaafiruun” sesudah al-Faatihah dalam rakaat pertama dan surah “Qul HuwallaaHu ahad” dalam rakaat kedua.

Dari Ibnu Mas’ud, katanya: Rasanya tidak dapat saya hitung betapa seringnya saya mendengar Rasulullah saw. dalam kedua rakaat shalat sunnah sesudah shalat Maghrib dan kedua rakaat sunnah sebelum Fajar, membaca surah Qul yaa ayyuHal kaafiruun dan Qul HuwallaaHu ahad.” (HR Ibnu Majah dan Turmudzi yang manganggapnya sebagai hadits hasan)

Demikian pula disunnahkan supaya shalat sunnah ini dikerjakan di rumah masing-masing berdasarkan sebuah hadits dari Mahmud bin Lubaid, katanya: Rasulullah saw. mendatangi bani Abdul Asy-hal. Di sana beliau shalat Maghrib dan terus pula shalat sunnah sesudah Maghrib itu. Kemudian beliau bersabda: “Kerjakanlah kedua rakaat shalat Maghrib ini di rumahmu masing-masing.” (HR Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa’i)

Selain itu, juga ada keterangan-keterangan yang lalu yang menjelaskan bahwa beliau saw. selalu shalat sunnah sesudah Maghrib itu di rumahnya.

&

Shalat Sunnah Dua Rakaat Sebelum ‘Isya

17 Feb

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh jama’ah ahli hadits dari Abdullah bin Mugaffal bahwa Nabi saw. bersabda: “Antara kedua adzan itu ada shalat sunnah, di antara kedua adzan itu ada shalat sunnah.” Ketika beliau bersabda untuk ketiga kalinya, disambungnya dengan: “Untuk siapa saja yang suka.”

Demikian pula berdasarkan hadits Ibnu Hibban dari Ibnu Zubair bahwa Nabi saw bersabda: “Tiada suatu shalat fardlu pun, melainkan sebelumnya itu tentu ada dua rakaat sunnah.”

&

Shalat Sunnah Dua Rakaat atau Empat Rakaat Sebelum ‘Ashar

17 Feb

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Banyak hadits mengenai soal ini tetapi menjadi buah perbincangan, hanya karena banyak jalannya itu, maka yang sebagian dapat menguatkan yang lain, di antaranya adalah hadits Ibnu Umar, katanya: Rasulullah saw. bersabda: “Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat sunnah sebelum ‘Ashar empat rakaat.” (HR Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi)

Oleh Turmudzi dianggap sebagai hadits hasan, juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dianggapnya sebagai hadits shahih, demikian pula oleh Ibnu Khuzaimah.

Hadits yang lain ialah yang menerangkan: Bahwa Nabi saw. mengerjakan shalat sunnah sebelum ‘Ashar empat rakaat, pada tiap-tiap dua rakaat beliau membaca salam untuk Malaikat Muqarrabin, para Nabi dan semua yang mengikutinya dari kaum Muslimin dan Mukminin.” (HR Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah dan Turmudzi yang menganggapnya sebagai hadits hasan)

Adapun menyingkat sunah sebelum ‘Ashar itu menjadi dua rakaat saja, maka dalilnya ialah umumnya sabda Nabi saw. yang berbunyi: “Di antar dua adzan itu ada shalat sunnah.”

&

Mengkodlo Kedua Shalat Sunnah Dhuhur

17 Feb

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Dari ‘Aisyah: “Bahwa Nabi saw. jikalau ketinggalan shalat empat rakaat sebelum dhuhur, maka dikerjakannya itu sesudah shalat Dhuhur.” (HR Turmudzi dan katanya hadits ini hasan lagi gharib)

Ibnu Majah meriwayatkan dari ‘Aisyah, katanya: “Rasulullah saw. apabila ketinggalan shalat sunnah empat rakaat sebelum dhuhur, maka dikerjakannya sesudah mengerjakan sunnah dua rakaat sehabis Dhuhur.” (Perlu diketahui bahwa shalat-shalat sunnah rawatib sebelum shalat fardlu itu waktunya terus berlangsung sampai habisnya waktu shalat fardlu yang bersangkutan).

Uraian di atas adalah yang berkenaan dengan qadla shalat sunnah rawatib qabliyah (sebelum fardlu). Adapun yang berkenaan dengan qadla shalat rawatib ba’dliyah (sesudah fardlu), maka dapatlah dikemukakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ummu Salmah, katanya: Rasulullah saw. shalat Dhuhur, kemudian kedatangan harta. Beliau pun duduk membagi-bagikan harta itu sehingga terdengarlah suara muadzdzin untuk shalat ‘ashar. Kemudian beliau mengerjakan shalat ‘ashar dan setelah selesai lalu kembali ke rumahku, karena hari itu adalah gilirannya di tempatku. Rasulullah saw. terus shalat dua rakaat yang ringan sekali. Saya pun bertanya: “Shalat apakah dua rakaat tadi wahai Rasulallah? Apakah anda menerima perintah baru?” Rasulullah saw. lalu menjawab: “Tidak, ini hanya sebagai ganti kedua rakaat yang biasa saya kerjakan sesudah Dhuhur. Tadi saya sibuk membagikan harta sampai datanglah waktu shalat ‘Ashar. Maka saya tidak suka meninggalkan kedua rakaat tadi.” (HR Bukhari, Muslim serta Abu Daud dengan lafadz yang lain)

Dalam riwayat lain diterangkan bahwa Ummu Salmah bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah anda akan mengqadla seperti anda tadi, apabila ketinggalan?” Beliau saw. menjawab: “Tidak.” (Tetapi perlu diketahui bahwa riwayat ini dlaif)

&

Memisah antara Shalat Fardlu dengan Shalat Sunnah

17 Feb

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Sunnah memisah antara shalat fardlu dengan shalat sunnah sekedar cukup satu shalat. Dari seseorang yang termasuk shahabat Nabi saw: Bahwa Rasulullah saw. shalat ‘Ashar dan setelah selesai ada seseorang yang berdiri untuk mengerjakan shalat sunnah. Hal ini dilihat oleh Umar dan iapun berkata: “Duduklah dahulu. Sesungguhnya yang menyebabkan kerusakan Ahlulkitab dahulu ialah karena mereka tidak suka memisah antara shalat fardlu dengan shalat sunnahnya.” Rasulullah saw. lalu bersabda: “Benar ucapan Umar bin Khaththab itu.” (HR Ahmad dengan sanad yang shahih)

&

Keutamaan Shalat Witir dan Hukumnya

17 Feb

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Shalat witir adalah shalat sunnah muakkad yang dianjurkan serta disemangatkan benar-benar oleh Rasulullah saw.

Dari ‘Ali ra. katanya: Sebenarnya witir itu bukanlah fardlu sebagaimana shalat-shalat lima waktu yang diwajibkan. Hanya saja Rasulullah saw. setelah berwitir pernah bersabda: “Wahai Ahlul Qur’an, kerjakanlah shalat Witir sebab Allah itu witir (Mahaesa) dan suka sekali kepada yang ganjil.” (HR Ahmad dan Ash-habus Sunan oleh Turmudzi dianggap sebagai hadits hasan, sedangkan Hakim yang meriwayatkannya juga, menganggapnya sebagai hadits shahih)

Adapun pendapat Imam Abu Hanifah bahwa shalat Witir itu wajib, maka itu adalah pendapatyang lemah. Ibnu Mundzir berkata: “Tidak pernah saya mengetahui seorang pun yang menyetujui pendapat Abu Hanifah dalam hal ini.”

Menurut riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah bahwa Almukhdiji (salah seorang dari suku Kinanah), diberi tahu oleh seorang dari golongan shahabat Anshar yang bernama Abu Muhammad bahwa witir itu wajib.

Almukhdiji lalu pergi menemui ‘Ubadah bin Shamit dan menyampaikan bahwa Abu Muhammad mengatakan witir adalah wajib. Seketika itu juga ‘Ubadah bin Shamit berkata: “Salah Abu Muhammad! Saya sendiri pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Shalat lima waktu itu telah diwajibkan oleh Allah Yang Mahatinggi dan Mahaluhur. Barangsiapa yang mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikitpun karena menganggapnya enteng, maka Allah Yang Mahatinggi dan Mahaluhur itu berjanji akan memasukkannya ke dalam surga. Adapun barangsiapa yang tidak mengerjakannya. Kalau Allah menghendaki akan disiksa-Nya, atau kalau tiak akan diampuni-Nya.”

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Shalat lima waktu itu telah diwajibkan oleh Allah dalam sehari semalam.” Kemudian ada seorang Badui bertanya: “Apakah ada kewajiban atas diri saya selain itu?” Beliau saw. menjawab: “Tidak, kecuali kalau engkau suka melakukan yang sunnah.”

&

Pembagian (Qismah)

17 Feb

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzab sepakat bahwa pembagian itu boleh untuk barang yang dapat dibagi, karena terkadang orang yang berserikat dapat membahayakan sekutunya sendiri. Namun mereka berbeda pendapat, apakah pembagian itu dengan cara dijual atau dibagi barangnya? Hanafi: pembagian kadang-kadang berarti dijual, yaitu dalam hal yang bisa berlebih dan berkurang, seperti pakaian dan kebun, maka tidak boleh dijual dengan maksud memperoleh keuntungan. Kadang-kadang pembagian bermakna membagi bendanya, yaitu dalam perkara yang tidak bisa berlebih dan berkurang, seperti benda-benda yang dapat ditakar, ditimbang, dan dihitung, seperti kelapa dan telur, maka dalam hal ini masing-masing pemiliknya boleh menjualnya dengan cara mendapat keuntungan.

Maliki berkata: jika benda dan sifatnya sama maka harus dibagi. Sedangkan jika berbeda-beda maka cara membaginya adalah dengan dijual.
Syafi’i mempunyai dua pendapat dalam masalah ini. Pertama dijual. Kedua dibagi.
Hambali: dibagi.

Apabila salah seorang di antara dua orang yang bersekutu menuntut pembagian, tetapi hal itu dapat membahayakan pihak lain, dan penuntut tersebut ikut pula mendapat kerugian, maka tidak boleh dibagi. Jika penuntut dapat memperoleh manfaat dari pembagian itu maka ia dibolehkan memaksa orang yang menghalanginya dalam pembagian. Demikian pendapat Hanafi.
Maliki berkata: penuntut boleh memaksa orang yang melarang pembagian secara mutlak.

Menurut pendapat para ulama pengikut Syafi’i: jika penuntut ikut menanggung kerugian maka dalam masalah ini Syafi’i mempunyai dua pendapat, dan pendapat yang paling shahih: boleh memaksanya.
Hambali berkata: tidak dengan cara dibagi, tetapi dijual kemudian uang hasil penjualannya dibagi.

Apakah upah pembagian menurut kadar modal kedua orang yang hendak membagi ataukah berdasarkan banyaknya bagian mereka? hanafi dan Maliki dalam salah satu riwayatnay mengatakan: berdasarkan banyaknya modal mereka. syafi’i, Hambali dan Maliki dalam riwayat lainnya mengatakan: menurut banyaknya bagian mereka.

Apakah ongkos tersebut dibebankan kepada si penuntut saja? maliki, Syafi’i dan Hambali: dibebankan kepada mereka berdua.

Para imam madzab sepakat bahwa barang-barang yang tidak dapat dipindah-pindahkan, seperti rumah, dapat dibagi-bagi atas dasar kerelaan kedua belah pihak. Dapat pula atas dasar bagian masing-masing apabila sudah sepadan harganya, asalkan tidak mengurangi faedah sekutu-sekutunya.

Menurut pendapat Hanafi, Maliki, dan Syafi’i: jika pembagian tersebut menyebabkan hilangnya faedah, tidak dapat diambil manfaat, boleh dibagi atas dasar tuntutan salah seorang yang berhak.

Ibn al-Qasim berkata: tidak boleh dibagi, kecuali jika masing-masing yang menerima bagian dapat mengambil manfaat dari bagiannya tanpa kerugian.

Maliki dan Syafi’i mengatakan: apabila pembagian menyebabkan pertukaran manfaat dengan manfaat lain, seperti tempat mandi jika dibagi bertukar tempatnya, maka tidak boleh dibagi.

Apabila ada beberapa rumah maka hendaknya masing-masing rumah itu dibagi-bagi sendiri-sendiri, bukan dihargakan jika jenisnya sama. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i.
Maliki: jika jenisnya sama, dibagi dengan cara dihargakan dan diimbangi harga serta bagiannya.

Para imam madzab sepakat bahwa binatang dan permata tidak boleh dibagi karena akan menyebabkan kerusakan.

Apabila dua orang yang berkongsi bertengkar mengenai suatu benda, masing-masing pihak tidak mau mengambil manfaat secara bersama-sama, dan yang seorang mau menjual bagiannya kepada kongsinya, maka ia boleh dipaksa untuk dibeli dan boleh juga pembelinya membayar sebesar harga asalnya. Demikian menurut pendapat jumhur ulama, di antaranya adalah Maliki.
Para ulama Dhahiriyah mengatakan: tidak boleh dipaksa.

Para imam madzab sepakat apabila permata tersebut lebih dan satu jenis maka boleh dibagi atas dasar kerelaan kedua belah pihak.
Dapat dipaksa pembagian manfaat. Yang dilakukan berdasarkan masa atau benda. Berdasarkan masa ialah masing-masing pihak mengambil manfaat sama lamanya dengan masa yang dipergunakan oleh temannya. Adapun pembagian berdasarkan benda ialah ditentukan benda-benda tersebut tetap berada dalam perkongsian. Demikian menurut kesepakatan pendapat para imam madzab.

&

Ucapan Selamat Tinggal dan Rasa Pedih Saat Sakaratul Maut

17 Feb

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi; Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Menurut riwayat Abu Hadbah Ibrahim bin Hadbah, dia berkata, telah bercerita kepada kami, Anas bin malik ra. dari Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya semua manusia pasti mengalami kesusahan kematian dan sakaratul maut. Dan sesungguhnya sendi-sendi tulangnya masing-masing mengucapkan salam perpisahan kepada yang lain seraya berkata, ‘Semoga kamu sejahtera. Kamu berpisah dariku, dan aku pun berpisah darimu sampai hari kiamat.’” (Dlaif; hadits ini dikeluarkan pula oleh Sa’ad bin manshur, seperti yang ada dalam at-Tahrir al-Murasakh [190], dan disebutkan oleh Ibnu Iraq Tanzih Asy-Syari’ah)

Begitu pula al-Muhasibi menyebutkan dalam kitabnya, ar-Ri’ayah, bahwa Allah Ta’ala pernah berfirman kepada Ibrahim as, “Hai, kekasihku, bagaimana rasanya kematian?” Ibrahim menjawab: “Bagaikan batang besi pemanggang daging yang dipanaskan, dimasukkan ke dalam wool yang basah, lalu ditarik.” Allah berfirman, “Padahal sungguh, Kami benar-benar telah meringankannya untukmu, hai Ibrahim.” (Maudlu’ disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam al-Mudlu’at)

Dan diriwayatkan pula, bahwa ketika Nabi Musa as. rohnya dipanggil pulang kepada Allah, maka Dia bertanya kepadanya: “Hai Musa, bagaimana rasanya mati?” Musa menjawab: “Saya rasakan diriku seperti seekor burung kecil yang digoreng hidup-hidup di wajan. Tidak mati, maka akhirnya bisa tenang, dan tidak pula selamat, maka akhirnya bisa terbang.”
Dan dalam riwayat lain Nabi Musa as. berkata, “Saya rasakan diriku seperti seekor kambing yang dikuliti hidup-hidup oleh tukang jagal.” (Diriwayatkan oleh al-Mararzi dalam al-Jama’iz, sebagaimana yang ada dalam at-Tahir al-Murasakh, karya Ibnu Thulun (170/171)

Oleh karena itu Nabi ‘Isa bin Maryam a.s. menasehatkan, “Hai para Hawari, berdoalah kepada Allah agar meringankan untukmu sakarat ini.” Maksudnya, sakaratul maut.

Dan ada yang meriwayatkan, bahwa kematian lebih sakit daripada dipenggal dengan pedang, atau digergaji dengan gergaji, atau digunting dengan gunting.

Abu Nu’aim al-Hafidh menyebutkan sebuah hadits dalam kitabnya, al-Hilyah, dari Makhul, dari Watsilah bin al-Aqsa’, Nabi saw. bersabda, “Demi [Allah] Yang Menggenggam jiwaku, sesungguhnya melihat Malaikat Maut itu lebih dahsyat daripada seribu kali pukulan pedang.” (dlaif; dlaif al-Jami’ [208] dan adl-Dlaifah [2083] karya al-Albani)

Dalam menggambarkan sakaratul maut ini, ada lagi sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Hamid, dari Anas bin Malik, dari Nabi bersabda antara lain: “Sesungguhnya para malaikat mengurung seseorang [yang akan meninggal] dan menahannya. Kalau tidak demikian, maka dia pasti lari ke padang pasir dan ke padang belantara, karean dahsyatnya sakaratul maut.” (Imam Syamsuddin al-Qurthubi; penulis buku ini tidak mengenal hadits ini)

Riwayat lainnya bahwa malaikat Maut itu sendiri, jika Allah mencabut nyawanya kelak, setelah kematian seluruh makhluk, maka dia berkata, “Demi keagungan-Mu, andaikan aku tahu betapa pedihnya sakaratul maut seperti yang aku rasakan ini, niscaya aku tidak akan mencabut nyawa seorang mukmin pun.” Demikian disebutkan oleh al-Qadhi Abu Bakar bin al-‘Arabi.

Dari Syahr bin Hausyah, dia berkata, Rasulullah saw. pernah ditanya tentang maut dan kedahsyatannya. Beliau menjawab, “Sesungguhnya maut yang paling ringan ialah seperti rumput berduri yang ada dalam woll. Dapatkah rumput itu keluar dari woll tanpa menyangkut bulu-bulu woll?” (dlaif; diriwayatkan oleh Abi ad-Dun-ya dalam kitab Dzikr al-Maut. Syahr al-Hausah adalah seorang yang hasan haditsnya, kecuali jika haditnya berlawanan dengan hadits lainnya, atau secara sendirian dia menyampaikan hadits yang tidak dikenal oleh yang lain-lain. adapun isnad hadist ini memang dlaif karena mursal.)

Masih kata Syahr, ketika Amr bin al-Ash akan meninggal dunia, anaknya berkata, “Wahai ayah, sesungguhnya engkau pernah berkata kepada kami, ‘Andaikan aku bertemu dengan seorang pandai yang tetap berotak cerdas walau dalam kedatangan sakaratul maut, agar dia menerangkan kepadaku apa yang dia rasakan.’ Dan ternyata, orang itu adalah engkau sendiri. Maka, terangkanlah kepadaku kematian itu.”
Amr berkata, “Oh anakku, demi Allah, seakan-akan lambungku terhimpit dalam lemari. Seakan-akan aku bernafas melalui lobang jarum. Dan seakan-akan ada dahan berduri ditarik dari kedua telapak kakiku sampai ke ujung kepalaku.” Kemudian dia pun berkata,
“Andai saja di celah-celah bukit itu berada,
Dengan kawanan kambing yang kugembala,
Sebelum datangnya apa
Yang kini di hadapanku tampak nyata.”
(cerita yang serupa dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad. Begitu pula dalam at-Tahrir al-Murasakh [176-177) dimana pada catatan pinggirnya ada pernyataan. “Cerita yang shahih, diriwayatkan oleh Ahmad [199-200] dan Ibn Asakir, bahkan juga oleh adz-Dzahabi dalam biografi Amr bin al-Ash dalam kitabnya, Siyar A’lam an-Nubala’)

Ada pula sebuah riwayat dari Abu Maisarah, disampaikan secara marfu’, bahwa dia berkata, “Andaikan sakitnya seutas rambut dari orang yang meninggal dunia itu diberikan kepada penduduk langit dan bumi, niscaya mereka mati semua.” (tidak ada asalnya, demikian dinyatakan dalam at-Tahrir al-Murassakh [175]. Bahkan al-Iraqi berkata, “Saya tidak menemukan sumber kata-kata ini.”)

Dan orang-orang pun menyenandungkan syair:

Aku memang ingat akan binasa
Tapi tak kurasa takut kepadanya.
Keras nian hati di dada
Bagai batu tak berharga.

Aku tak henti mencari harta
Seolah ‘kan kekal di dunia
Padahal maut mengejar di belakangku
Langkah demi langkah terus menguntitku.

Maka ketahuilah, hai shahabat
Cukuplah maut sebagai penasehat
Bagi siapa yang pasti tiba,
Tercabut nyawa telah ditakdirkan

Intipan maut dari segala penjuru
Tempat bersembunyi pasti kan tahu
Kemana saja dia tangkap
Untuk selamat, tiada terhindar.

&

Tingkatan Sakaratul Maut

17 Feb

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi; Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Jika ada orang yang bertanya, apakah semua makhluk akan mengalami sakaratul maut? Sebagian ulama berkata, berdasarkan prinsip dan pendapat yang benar, pahwa piala maut itu pasti pahit rasanya, meskipun telah dan akan terus dikecap. Tetapi di sana memang ada dua golongan, ada beberapa kemungkinan dan berbagai pertimbangan.

Hanya Allah swt. Yang Mahakekal; Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, maka Dia memberlakukan sunnah kehancuran dan kebinasaan atas seluruh makhluk-Nya, kecuali terhadap diri-Nya sendiri. Namun boleh saja bagi Allah membeda-bedakan di antara para makhluk-Nya dalam hal itu, khususnya di antara makhluk-Nya yang kasat mata, sesuai dengan perbedaan kedudukan dan derajat masing-masing yang telah Dia tentukan.

Dalam kaitan ini, perlu diterangkan bahwa ada jenis makhluk hewani yang berasal dari tanah, yaitu manusia yang bukan manusia. Dan di atasnya adalah alam ruhani dan bangsa ulwani ridhwani. Tetapi semuanya telah meneguk piala maut itu dan merasakan cekikannya, sebagaimana firman Allah swt: “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (Ali ‘Imraan: 185)

Dalam kitab “Kasf Ulum al-Akhirah.” Abu Hamid berkata, ayat tersebut ada tiga tempat di al-Qur’an. Adapun yang dimaksud dengan ketiga kematian itu tidak lain adalah kematian bagi semesta alam. Yakni; makhluk yang tergolong alam dunia, makhluk yang tergolong malakut, dan makhluk yang tergolong alam jabarut. Mereka yang tergolong alam pertama adalah Adam dan anak-cucunya serta semua jenis binatang. Mereka yang tergolong alam malakut adalah berbagai jenis malaikat dan jin. Adapun yang tergolong alam jabarut adalah para malaikat pilihan, sebagaimana difirmankan Allah: “Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia.” (al-Hajj: 75)

Para malaikat pilihan yang dimaksud adalah para malaikat Karubiyyun, para pembawa ‘Arsy dan para penjaga Suradiq, sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:
“Dan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya, dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih siang malam, tiada henti-hentinya.” (al-Anbiyaa’: 19-20)

Mereka adalah para penghuni Hadhrat al-Quds, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan (istri dan anak) tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami hendak berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya).” (al-Anbiyaa’: 17)

Meskipun demikian tinggi kedudukan mereka, para malaikat itu pun tetap akan mati. Dan sekalipun mereka adalah makhluk-makhluk yang sangat dekat dengan Allah swt. namun kedekatan mereka itu tetap tidak menghalangi kematian mereka.”

Ibnu Qussi berkata, “Sebagaimana cara hidup di berbagai alam tersebut berbeda-beda, maka berbeda pula cara merasakan masing-masing, ketika mengecap sesak maupun pahitnya maut.

Perasaan makhluk ruhani terhadap hal-hal yang bersifat ruhani, adalah seperti halnya yang dialami orang tidur dalam kantuknya, atau rasa tersendat menyakitkan yang dia rasakan dalam tidurnya. Dalam tidurnya itu, dia memang merasa tersendat dan gelisah, sehingga ia terbangun. Tapi setelah bangun, ternyata dia tidak merasakan apa-apa. Dia merasa enak kembali dan hilang rasa sakitnya yang dialami, bahkan tetap aman dan nyaman.

Demikian pula perasaan makhluk ‘ulwi qudsi terhadap hal-hal yang bersifat ruhani, adalah seperti halnya yang dirasakan oleh orang yang mengantuk terhadap hal-hal yang bersifat ruhani. Tentu saja semua itu tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, kecuali berupa dugaan-dugaan belaka. Dan tidak bisa dipelajari, kecuali dalam bentuk imajinasi atau pencarian gejala-gejalanya saja.

Adapun perasaan makhluk paling bawah, yakni perasaan manusia dan jin terhadap kematian. Hampir tidak terkatakan tentang kesusahan-kesusahan dan cekikan-cekikan yang menyendat lehernya. Digambarkan, satu cekikan sama dengan seribu kali pukulan pedang. Maka, bagaimana bisa diungkapkan dan diceritakan? Sungguh, suatu hal yang sulit diketahui hakekatnya.

Sementara itu, manusia dalam menduga rasa kematian pun berbeda-beda, bergantung pada perbedaan tingkatan dan cara berfirkir masing-masing. Golongan Islam menduga rasa kematian dalam pikiran mereka, tidak seperti yang diduga oleh umat non Islam. Kemudian golongan Islam itu sendiri ternyata ada yang menduganya tidak persis seperti yang dinyatakan oleh para Nabi atau para pengikutnya. Lain dari itu, para nabi sendiri sesuai pribadi dan tingkat perasaan masing-masing- juga berbeda dalam menggambarkan pedihnya maut, sesuai dengan perbedaan nilai kata dan hakekat kebenaran yang diungkapkan. Karena para nabi juga memiliki keutamaan dan keistimewaan yang berbeda, sebagaimana firman Allah:

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia), dan sebagian lainnya Allah meinggikannya beberapa derajat.” (al-Baqarah: 253)

Sementara itu, Allah telah menyatakan diringankannya rasa kematian atas Nabi Ibrahim as. dalam firman-Nya, “Padahal sungguh, Kami benar-benar telah meringankannya untukmu, hai Ibrahim.” Dengan pernyataan ini berarti, tidak ada yang lebih ringan lagi daripada itu.

Demikian pula, apa yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala sebagai yang paling besar dan paling hebat, maka tidak ada lagi yang lebih besar dan lebih hebat daripadanya. Meskipun boleh saja orang berkata, ini kematian yang ringan, atau ini kerajaan yang besar dan hebat, tapi tentu tidak sehebat kenikmatan surga. Perhatikan firman Allah berikut: “Dan apabila amu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (al-Insan: 20)

Sebagaimana tidak ada yang lebih hebat daripada kerajaan surga, maka tidak ada yang lebih ringan daripada kematian Khalilullah, Ibrahim as.” demikian kata Ibnu Qussi. wallaaHu a’lam.

&