Arsip | 11.53

Tahun Berdukacita (‘Amul Huzni)

19 Feb

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Pada tahun ke sepuluh kenabian, istri Nabi Muhammad saw., Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya, Abu Thalib, wafat. Berkata Ibnu Sa’ad di dalam Thabaqat-nya, “Selisih waktu antara kematian Khadijah dan kematian Abu Thalib hanya satu bulan lima hari.”

Khadijah ra., sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam, adalah menteri kebenaran untuk Islam. Pada saat-saat Rasulullah saw. menghadapi masalah-masalah berat, beliaulah yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya. Sebagaimana halnya Abu Thalib, dia telah memberikan dukungan kepada Rasulullah saw. dalam menghadapi kaumnya.

Berkata Ibnu Hisyam, “Setelah Abu Thalib meninggal, kaum Quraisy bertambah leluasa melancarkan penyiksaan terhadap Rasulullah saw. sampai orang awa Quraisy pun berani melempar kotoran ke atas kepala beliau sehingga Rasulullah saw. pulang ke rumah dengan berlumuran tanah. Melihat ini, salah seorang putri beliau bangkit membersihkan kotoran dari atas kepalanya sambil menangis. Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Janganlah engkau menangis wahai anakku. Sesungguhnya Allah akan menolong bapakmu.”

Nabi saw. menamakan tahun ini sebagai “Tahun Dukacita” karena begitu berat dan hebatnya penderitaan di jalan dakwah pada tahun ini.

BEBERAPA IBRAH

Perhatikanlah apa sebenarnya hikmah dan rahasia Allah dalam mempercepat kematian Abu Thalib sebelum terbentuknya kekuatan dan masih sedikitnya pertahanan kaum Muslimin di Makkah? Padahal seperti telah diketahui, Abu Thalib banyak memberikan pembelaan kepada Rasulullah saw. Demikian pula, apa hikmah dan rahasia Allah dalam mempercepat wafatnya Khadijah ra., padahal Rasulullah saw. masih memerlukan orang yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya atau meringankan beban-beban penderitaannya?

Di sini tampak suatu fenomena penting yang berkaitan dengan prinsip aqidah Islam.
Seandainya Abu Thalib berusia panjang dan membela Rasulullah saw. sampai tegaknya negara Islam di Madinah dan selama itu Rasulullah saw. dapat terhindar dari gangguan kaum musyrik, niscaya akan timbul kesan bahwa Abu Thalib adalah tokoh utama yang berada di balik layar dakwah ini. Dialah yang dengan pengaruh dan kedudukannya, seolah-olah memperjuangkan dan melindungi dakwah Islam kendatipun tidak menampakkan keimanan dan ketertarikannya kepada dakwah. Tentu akan muncul analisis yang panjang lebar yang menjelaskan “nasib baik” yang diperoleh Rasulullah saw. pada saat melaksanakan dakwahnya lantaran pembelaan pamannya, sementara “nasib baik” ini tidak diperoleh kaum Muslimin yang ada di sekitarnya. Seolah-olah, ketika semua orang disiksa dan dianiaya, hanya beliaulah yang terbebas dan terhindar.

Sudah menjadi ketentuan Ilahi bahwa Rasulullah saw. harus kehilangan orang yang secara lahiriyah melindungi dan mendampinginya, Abu Thalib dan Khadijah. Ini antara lain untuk menampakkan dua hakekat penting:

1. Pertama, sesungguhnya perlindungan, pertolongan dan kemenangan itu hanya datang dari Allah. Allah telah berjanji untuk melindungi Rasul-Nya dari kaum musyrik dan musuh-musuhnya. Karena itu, dengan atau tanpa pembelaan manusia, Rasulullah saw. tetap akan dijaga dan dilindungi oleh Allah dan bahwa dakwahnya pada akhirnya akan mencapai kemenangan.

2. Kedua, ‘ishmah (perlindungan dan penjagaan) di sini tidak berarti bahwa terhindar dari gangguan, penyiksaan, atau penindasan, tetapi arti ‘ishmah (perlindungan) yang dijanjikan Allah dalam firman-Nya: “Allah melindungi dari (gangguan) manusia.” (al-Maaidah: 67)
perlindungan itu berupa perlindungan dari pembunuhan atau dari segala bentuk rintangan dan perlawanan yang dapat menghentikan dakwah Islam. Ketetapan Ilahi bahwa para Nabi dan Rasul-Nya harus merasakan aneka ragam gangguan dan penyiksaan, tidak bertentangan dengan prinsip ‘ishmah yang dijanjikan Allah kepada mereka. karena itu setelah ayat:

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu),” (al-Hijr: 94-95)

Allah berfirman kepada Rasulullah saw.:

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (al-Hijr: 97-99)

Adalah termasuk sunnatullah dan hikmah ilahiyah yang sangat besar artinya bahwa Rasulullah saw. harus mengalami dan menghadapi berbagai cobaan berat di jalan dakwah. Dengan demikian, para da’i pada setiap zaman akan menganggap ringan segala bentuk cobaan berat yang ditemui di jalan dakwah.

Seandainya Nabi saw. berhasil dalam dakwahnya tanpa penderitaan atau perjuangan berat, niscaya para shahabatnya dan kaum Muslimin sesudahnya ingin berdakwah dengan “Santai”, sebagaimana dilakukan beliau, dan merasa berat menghadapi penderitaan dan ujian yang mereka temui di jalan dakwah.

Akan tetapi, dengan melihat penderitaan yang dialami Rasulullah saw., akan terasa ringanlah segala beban penderitaan yang harus dihadapi oleh kaum Muslimin di jalan dakwah. Dengan demikian, mereka sedang merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Rasulullah saw. dalam berjalan di jalan yang pernah dilewati oleh beliau.

Betapapun penghinaan dan penyiksaan kepada mereka, hal itu tak pernah melemahkan semangat perjuangannya. Bukankah Rasulullah saw. sendiri, sebagai kekasih Allah, pernah dianiaya dan dilempari kotoran pada kepalanya sehingga terpaksa harus pulang dengan kepala kotor. Apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan dan penyiksaan yang pernah ditemui Rasulullah saw. ketika berhijrah ke Tha’if.

Hal lain yang berkaitan dengan bagian shirah Rasulullah saw. ialah munculnya anggapan dari sebagian pihak bahwa Rasulullah saw. menamakan tahun ini sebagai “Tahun Dukacita” semata-mata karena kehilangan pamannya, Abu Thalib, dan istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Dengan dalih ini, mungkin mereka lalu mengadakan acara berkabung atas kematian seseorang selama beberapa hari memasang bendera tanda berkabung dan sebagainya.

Sebenarnya pemahaman dan penilaian ini keliru sebab Nabi saw. tidak bersedih hati sedemikian rupa atas meninggalnya paman dan istri beliau. Rasulullah juga tidak menyebut tahun ini dengan “Tahun Dukacita” semata-mata karena kehilangan sebagian keluarganya, tetapi karena bayangan akan tertutupnya hampir seluruh pintu dakwah Islam setelah kematian kedua orang ini. Sebagaimana kita ketahui, pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw. banyak memberikan peluang dan jalan untuk menyampaikan dakwah dan bimbingan. Rasulullah saw. sendiri telah melihat sebagian keberhasilannya dalam membantu melaksanakan tugas dakwahnya.

Akan tetapi, setelah kematian Abu Thalib, peluang-peluang itu menjadi tertutup. Setiap kali mencoba untuk menerobosnya, selalu saja mendapatkan rintangan dan permusuhan. Kemana saja beliau pergi, jalan selalu tertutup baginya. Tak seorang pun yang mendengarkan dan meyakini dakwahnya, bahkan semua orang mencemooh dan memusuhinya sehingga hal ini menimbulkan rasa sedih yang mendalam di hati Rasulullah saw. karena itulah kemudian tahun ini dinamakan “Tahun Dukacita”.

Kesedihan karena keberpalingan manusia dari kebenaran yang dibawanya ini telah sedemikian rupa mempengaruhi diri beliau sehingga untuk mengurangi kesedihan ini, Allah menurunkan beberapa ayat yang menghibur dan mengingatkannya bahwa ia hanya dibebani tugas untuk menyampaikan, tidak perlu menyesali diri sedemikian rupa jika mereka tidak mau beriman dan menyambut seruan.
Perhatian arti ayat berikut:

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita Rasul-rasul itu. Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa Amat berat bagimu, Maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang jahil.” (al-An’am: 33-35)

&

Utusan Pertama Menemui Rasulullah saw.

19 Feb

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Pada saat Rasulullah saw. dan para shahabatnya sedang menghadapi siksaan dan gangguan dari kaum Quraisy, datanglah utusan dari luar Makkah menemui Rasulullah saw. ingin mempelajari Islam. Mereka berjumlah tiga puluh orang lebih –dari kaum Nasrani Habasyah- datang bersama Ja’far bin Abu Thalib. Setelah bertemu dengan Rasulullah saw. dan mengetahui sifat-sifatnya serta mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan kepada mereka, segeralah mereka beriman semuanya.

Ketika berita ini sampai kepada Abu Jahal, segera ia mendatangi mereka seraya berkata, “Kami belum pernah melihat utusan yang paling bodoh kecuali kamu! Kamu diutus oleh kaummu untuk menyelidiki orang ini, tetapi belum sempat kamu duduk dengan tenang di hadapannya, kamu sudah melepaskan agamamu dan membenarkan apa yang yang diucapkannya.”
Mereka menjawab: “Semoga kesalamatan atasmu. Kami tidak mau bertindak bodoh seperti kamu. Biarlah kami mengikuti pendirian kami dan kamu pun bebas mengikuti pendirian kamu. Kami tidak ingin kehilangan kesempatan yang baik ini.”

Berkaitan dengan ini Allah menurunkan firman-Nya yang artinya:
“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi Kami amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. (al-Qashash: 52-55)

BEBERAPA IBRAH

1. Kedatangan utusan itu ke Makkah untuk menemui Rasulullah saw. dan mempelajari Islam pada saat-saat kaum Muslimin sedang menghadapi siksaan, gangguan, pemboikotan, dan tekanan merupakan bukti nyata bahwa penderitaan dan musibah yang dialami para aktifis dakwah Islam tidak berarti sama sekali sebagai kegagalan, disamping tidak boleh menjadi lemah dan putus asa. Siksaan dan gangguan, sebagaimana telah dikatakan, bahkan merupakan jalan yang harus ditempuh untuk mencapai keberhasilan dan kemenangan. Utusan dari Nasrani Habasyah yang berjumlah tigapuluh orang, dalam riwayat lain dikatakan enam puluh orang lebih, datang dari negeri seberang kepada Rasulullah saw. untuk menyatakan wala’ (dukungan) kepada dakwah baru (Islam). Juga secara de facto mereka menyatakan bahwa musuh-musuh dakwah Islam tidak akan mampu –kendatipun melancarkan berbagai tekanan, teror, siksaan, dan intimidasi kepada para aktifisnya- menghalangi keberhasilannya atau menahan penyebarannya ke berbagai penjuru dunia.

Abu Jahal seolah tidak mengetahui hakekat ini sehingga terlihat nyata pengaruhnya pada jiwa dan ucapannya yang busuk yang ditujukan kepada utusan itu. Namun yang dapat dia lakukan hanyalah meningkatkan siksaan dan teror kepada kaum Muslim. Dia dan orang-orang lain tidak akan mampu menghalangi keberhasilan dan tersebarnya dakwah Islam.

2. Kedua, apakah jenis keimanan utusan tersebut? Apakah dari jenis keimanan orang yang keluar dari kegelapan kepada cahaya? Sesungguhnya keimanan mereka hanyalah kelanjutan dari keimanan yang terdahulu dan sekedar melaksanakan konsekuensi dari aqidah yang dianutnya. Mereka adalah (menurut istilah para perawi sirah) para penganut Injil yang beriman dan mengikuti petunjuknya. Injil memerintahkan agar mengikuti Rasul yang datang sesudah Nabi ‘Isa as. dan sebagai konsekuensi keimanannya ialah mengimani Nabi ini, yaitu Muhammad saw.

Dengan demikian, keimanan mereka kepada Rasulullah saw. bukan proses perpindahan dari suatu agama kepada agama lain yang lebih baik. Ini hanya merupakan kelanjutan dari hakekat keimanan kepada ‘Isa as. dan ajarannya. Inilah yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya:
“Dan apabila dibacakan (al-Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: ‘Kami beriman kepadanya; sesungguhnya al-Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Rabb kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang yang membenarkan[nya].” (al-Qashash: 53)

Yakni kami sebelumnya telah membenarkan dan mengimani ajaran yang diserukan oleh Muhammad saw. sebelum bi’tsah-nya karena ajaran itu termasuk yang diperintahkan oleh Injil untuk mengimaninya.

Demikianlah sikap setiap orang yang benar-benar berpegang teguh kepada ajaran yang dibawa oleh Isa as. ataupun Musa as. Karena itu, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar dalam ajaran yang terdapat di dalam Taurat dan Injil yang mereka imani, Firman Allah:
“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun sehingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil…” (al-Maaidah: 68)

Ini merupakan penegasan terhadap apa yang telah dijelaskan bahwa ad-Diinul Haq (agama yang benar) itu hanya satu semenjak Adam as. hingga nabi Muhammad saw. Perkataan “agama-agama langit” yang sering kita dengar adalah tidak benar.
Memang terdapat syariat-syariat langit yang beraneka ragam dan setiap syariat langit menghapuskan syariat sebelumnya. Akan tetapi, tidak boleh disamakan antara ad-Diin atau aqidah dan syari’ah yang berarti hukum-hukum amaliah yang berkaitan dengan ibadah atau muamalah.
&

Hijrah Pertama dalam Islam

19 Feb

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah; analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Ketika Nabi saw. melihat keganasan kaum musyrik kian hari bertambah keras, sedangkan beliau tidak dapat memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin, beliau berkata kepada mereka, “Alangkah baiknya jika kamu dapat berhijrah ke negeri Habasyah karena di sana terdapat raja yang adil sekali. Di bawah kekuasaannya tidak boleh seorang pun dianiaya. Karena itu, pergilah kamu ke sana sampai Allah memberikan jalan keluar kepada kita karena negeri itu adalah negeri yang cocok bagi kamu.”

Akhirnya, berangkatlah kaum Muslimin ke negeri Habasyah demi menghindari fitnah dan lari menuju Allah dengan membawa agama mereka. Hijrah ini merupakan hijrah pertama dalam Islam. Di antara kamu muhajir yang terkemuka adalah Utsman bin Affan beserta istrinya, Raqayah binti Rasulullah saw., Abu Hudzaifah berserta istrinya, Zubair bin Awwam, Mush’ab bin Umair, dan Abdur Rahman bin Auf. Sampai akhirnya para shahabat Rasulullah saw. sebanyak delapan puluh orang lebih berkumpul di Habasyah.

Ketika kaum Quraisy mengetahui peristiwa itu, mereka segera mengutus Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amr bin Ash (sebelum masuk Islam) menemui Najasy dengan membawa berbagai hadiah. Hadiah-hadiah itu diberikan kepada raja, para pembantu dan pendetanya dengan harapan agar mereka menolak kehadiran kaum Muslimin dan mengembalikan mereka kepada musyrik Makkah.

Ketika kedua utusan itu berbicara kepada Najasy tentang kaum muhajir itu –sebelumnya kedua utusan ini telah melobi para pembantu dan uskupnya seraya menyerahkan hadiah yang dibawanya dari Makkah –ternyata Najasy menolak untuk menyerahkan kaum Muslimin kepada kedua utusan tersebut sebelum dia menanyai mereka tentang agama baru yang dianutnya. Kaum Muslimin dan kedua utusan tersebut kemudian dihadapkan kepada Najasy. Raja Najasy bertanya kepada kaum Muslimin, “Agama apakah yang membuat kamu meninggalkan agama yang dipeluk oleh masyarakat kamu dan kamu tidak masuk dalam agamaku dan agama lainnya?

Ja’far bin Abi Thalib, selaku juru bicara kaum Muslim menjawab, “Baginda Raja, kami dahulu adalah orang-orang jahiliyah, menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat kejahatan, memutuskan hubungan persaudaraan, berlaku buruk terhadap tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah. Allah kemudian mengutus seorang Rasul kepada kami, orang yang kami kenal asal keturunannya, kesungguhan tutur katanya, kejujuran dan kesucian hidupnya. Ia mengajak kami supaya mengesakan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun juga. Ia memerintahkan kami supaya berkata benar, menunaikan amanah, memelihara persaudaraan, berlaku baik terhadap tetangga, menjauhkan diri dari segala perbuatan haram dan pertumpahan darah, melarang kami berbuat jahat, berdusta, dan memakan harta milik anak yatim. Ia memerintahkan kami supaya shalat dan berpuasa. Kami kemudian beriman kepadanya, membenarkan semua tutur katanya, menjauhi apa yang diharamkan olehnya, dan menghalalkan apa yang dihalalkan bagi kami. Karena itulah, kami dimusuhi oleh masyarakat kami. Mereka menganiaya dan menyiksa kami, memaksa supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala. Ketika mereka menindas dan memperlakukan kami dengan sewenang-wenang dan merintangi kami menjalankan agama kami, kami terpaksa pergi ke negeri baginda. Kami tidak menemukan pilihan lain kecuali baginda dan kami tidak akan diperlakukan sewenang-wenang di negeri baginda.”

Najasy bertanya, “Apakah kamu dapat menunjukkan kepada kami sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah saw. dari Allah?”

Ja’far menjawab: “Ya.” Ja’far lalu membacakan surah Maryam. Mendenger firman itu, Najasy berlinang air mata. Najasy lalu berkata, “Apa yang engkau baca dan apa yang dibawa oleh ‘Isa sesungguhnya keluar dari pancaran sinar yang satu dan sama.” Najasy lalu menoleh kepada kedua orang utusan kaum musyrik seraya berkata, “Silakan kalian berangkat pulang. Demi Allah, mereka tidak akan kuserahkan kepada kalian.”

Keesokan harinya, utusan kaum musyrik itu menghadap Najasy. Mereka berkata, “Wahai baginda Raja, sesungguhnya mereka menjelek-jelekkan ‘Isa putra Maryam. Panggillah mereka dan tanyakanlah pandangan mereka tentang ‘Isa.” Mereka dihadapkan sekali lagi kepada Najasyu untuk ditanyakan tentang pandangan mereka terhadap ‘Isa al-Masih. Ja’far menerangkan, “Pandangan kami mengenai ‘Isa sesuai dengan apa yang diajarkan kepada kami oleh Nabi kami, yaitu bahwa Isa adalah hamba Allah, utusan Allah, ruh Allah, dan kalimat-Nya yang diturunkan kepada perawan Maryam yang sangat tekun bersembah sujud.”

Najasy kemudian mengambil sebatang lidi yang terletak di atas lantai kemudian berkata, “Apa yang engkau katakan tentang Isa tidak berselisih kecuali hanya sebesar lidi ini.”

Najasy kemudian mengembalikan barang-barang hadiah dari kaum musyrik Quraisy kepada kedua utusan itu. Sejak saat itulah, kaum Muslim tinggal di Habasyah dengan tenang dan tenteram. Sementara itu, kedua utusan Quraisy itu kembali ke Makkah dengan tangan hampa. Setelah beberapa waktu tinggal di Habasyah, sampailah kepada mereka berita tentang masuk Islamnya penduduk Makkah. Mendengar berita ini, mereka segera kembali ke Makkah hingga ketika sudah hampir masuk kota Makkah, mereka baru mengetahui bahwa berita tersebut tidak benar. Karena itu, tidak seorang pun dari mereka yang masuk Makkah kecuali dengan perlindungan (dari salah seorang tokoh Quraisy) atau dengan sembunyi-sembunyi. Mereka seluruhnya berjumlah tiga puluh orang. Di antara mereka yang masuk Makkah dengan “perlindungan” ialah Utsman bin Mazh’un, ia masuk jaminan perlindungan dari al-Walid ibnul Mughirah, dan Abu Salamah dengan jaminan perlindungan Abu Thalib.

BEBERAPA IBRAH:

1. Pertama, berpegang teguh dengan agama dan menegakkan sendi-sendinya merupakan landasan dan sumber bagi setiap kekuatan, juga merupakan pagar untuk melindungi setiap hak, baik berupa harta, tanah, kebebasan, maupun kehormatan. Karena itu, para penyeru kepada Islam dan mujahid di jalan Allah wajib mempersiapkan diri secara maksimal untuk melindungi agama dan prinsip-prinsipnya serta menjadikan negeri, tanah air, harta kekayaan, dan kehidupan sebagai sarana untuk mempertahankan aqidah sehingga apabila diperlukan, ia siap mengorbankan segala sesuatu di jalannya.

Apabila agama sudah terkikis atau terkalahkan, tidak ada lagi artinya negeri, tanah air, dan harta kekayaan; bahkan tanpa keberadaan agama dalam kehidupan, kehancuran akan melanda segala sesuatu. Akan tetapi, jika agama tegak, terpencar sendi-sendinya di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan aqidahnya terhujam dalam lubuk hati setiap orang, segala sesuatu yang dikorbankan di jalannya akan segera kembali, bahkan akan kembali lebih kuat dari sebelumnya karena dikawal oleh pagar kedermawanan, kekuatan, dan kesadaran.

Sudah menjadi sunnatullah di alam semesta sepanjang sejarah bahwa kekuatan moral merupakan perlindungan bagi peradaban dan kekuatan material. Jika suatu umat memiliki akhlak yang baik, aqidah yang sehat, dan prinsip-prinsip sosial yang benar, kekuatan materialnya akan semakin kukuh, kuat dan tegar. Akan tetapi, jika akhlaknya bejat, aqidahnya menyimpang, dan sistem sosialnya tidak benar, kekuatan materialnya tidak akan lama pasti mengalmi keguncangan dan kehancuran.

Mungkin anda akan melihat suatu bangsa yang secara material berdiri tegak dalam puncak kemajuannya, padahal sistem sosial dan akhlaknya tidak benar, sesungguhnya bangsa ini sedang berjalan dengan cepat menuju kehancurannya. Mungkin anda tidak dapat melihat dan merasakan “perjalanan yang cepat” ini karena pendeknya umur manusia dibanding dengan umur sejarah dan generasi. Perjalanan seperti ini hanya dapat dilihat oleh “mata sejarah” yang tidak pernah tidur, bukan oleh mata manusia yang picik dan terbatas.

Mungkin juga anda akan melihat suatu bangsa yang tidak pernah segan-segan mengorbankan segala kekuatannya demi mempertahankan aqidah yang benar dan membangun sistem sosial yang sehat, tetapi tidak lama kemudian bangsa pemilik aqidah yang benar dan sistem sosial yang sehat ini berhasil mengembalikan negerinya yang hilang dan harta kekayaannya yang dirampok, bahkan kekuatannya kembali jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Anda tidak akan mendapat gambaran yang benar tentang alam, manusia, dan kehidupan kecuali di dalam aqidah Islam yang menjadi agama Allah bagi hamba-Nya di dunia. Demikian pula anda tidak akan mendapatkan sistem sosial yang adil dan benar keucali dalam sistem Islam. Pengorbanan inilah yang menjamin keselamatan harta, negeri, dan kehidupan Muslim.

Karena itulah, prinsip hijrah ini disyariatkan di dalam Islam, Rasulullah saw. memerintahkan para shahabatnya berhijrah dan meninggalkan Makkah setelah menyaksikan penyiksaan yang dilancarkan kaum musyrik terhadap para shahabatnya dan kerena khawatir akan terjadinya fitnah pada keimanan mereka.

Hijrah ini sendiri merupakan salah satu bentuk siksaan dan penderitaan demi mempertahankan agama. Ia bukan tindakan menghindari gangguan dan mencari kesenangan, melainkan merupakan penderitaan lain di balik penantian akan datangnya kemenangan dan pertolongan Allah.

Tentu andapun mengetahui bahwa Makkah pada waktu itu belum menjadi Darul Islam sehingga tidak dapat digugat mengapa para shahabat itu meninggalkan Darul Islam demi mencari keselamatan jiwa mereka di negeri kafir? Makkah dan Habasyah juga negeri-negeri lainnya pada saat itu tidak berbeda kondisinya. Karena itu, negeri mana saja yang lebih memungkinkan bagi para shahabat melaksanakan agama-nya dan berdakwah kepadanya adalah lebih patut dijadikan tempat tinggal.

Dalam Islam, berhijrah dari Darul Islam (negeri Islam) memiliki tiga hukum antara wajib, boleh dan haram.

Wajib berhijrah dari darul Islam manakala seorang Muslim tidak dapat melaksanakan syiar-syiar Islam, seperti shalat, puasa, adzan, haji dan sebagainya di negeri tersebut. Boleh berhijrah dari Darul Islam manakala seorang Muslim menghadapi bala (cobaan) yang menyulitkannya di negeri tersebut. Dalam kondisi ini, ia boleh keluar darinya menuju negeri Islam yang lainnya. Haram berhijrah dari Darul Islam manakala hijrahnya itu mengakibatkan terabaikannya kewajiban Islam yang memang tidak dapat dilaksanakan oleh orang selainnya. (lihat tafsir al-Qurthubi, 5/35 dan Ahkamul Qur’an oleh Ibnu Arabi. 2/887.

2. Kedua, menunjukkan adanya titik persamaan antara prinsip Nabi Muhammad saw. dan Nabi ‘Isa as. Ia (Najasyi) asalah seorang yang mukhlis dan jujur dalam kenasraniannya. Salah satu bukti keikhlasannya adalah bahwa ia tidak mengikuti ajaran yang menyimpang dan tidak berpihak kepada orang yang aqidahnya berbeda dengan ajaran Injil dan apa yang dibawa oleh Isa as.

Seandainya kepercayaan “Isa anak Allah” dan “tritunggal” yang didakwakan oleh para pengikut Isa itu benar, niscaya Najasy (sebagai orang yang paling jujur) dan ikhlas kepada kenasraniannya akan berpegang teguh kepada kepercayaan tersebut dan pasti akan menolak penjelasan kaum Muslimin serta membela kaum Quraisy.

Akan tetapi, ternyata Najasyi berkomentar tentang pandangan al-Qur’an terhadap kehidupan Isa as (yang dibacakan oleh Ja’far) dengan ucapannya: “Apa yang engkau baca dan apa yang dibawa oleh Isa sesungguhnya keluar dari pancaran sinar yang satu dan sama.”

Komentar ini diucapkan oleh Najasy di hadapan para uskup dan tokoh al-Kitab yang ada di sekitarnya.

Hal ini membuktikan kepada kita bahwa semua Nabi membawa aqidah yang sama. Perselisihan di antara Ahli Kitab terjadi, sebagaimana dijelaskan Allah, setelah mereka mendapatkan pengetahuan karena kedengkian yang ada pada diri mereka.

3. Ketiga, bila diperlukan, kaum Muslimin boleh meminta “perlindungan” kepada non-Muslim, baik dari Ahli Kitab, seperti Najasy yang waktu itu masih Nasrani (tetapi setelah itu masuk Islam) atau dari orang musyrik, seperti mereka yang dimintai perlindungan oleh kaum Muslimin ketika kembali ke Makkah, antara lain Abu Thalib, paman Rasulullah saw. ketika masuk Makkah sepulangnya dari Thaif.

Tindakan ini dibenarkan selama perlindungan tersebut tidak membahayakan dakwah Islam, mengubah sebagian hukum agama, atau menghalangi nahi munkar. Jika syarat ini tidak dipenuhi maka seorang muslim tidak dibenarkan meminta perlindungan kepada non Muslim. Sebagai dalil ialah sikap Rasulullah saw. ketika diminta oleh Abu Thalib untuk menghentikan dakwahnya dan tidak mengecam tuhan-tuhan kaum musyrik maka ketika itu Rasulullah saw. menyatakan diri keluar dari perlindungan pamannya dan menolak mendiamkan sesuatu yang harus dijelaskan kepada umat manusia.

&

Obyek Kajian Ilmu ‘Aqidah

19 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu –sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlu ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

Disiplin ilmu ‘aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.

&

Definisi ‘Aqidah

19 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

‘Aqidah menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat dengan kuat.

Sedangkan menurut istilah (terminologi) yang umum, ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.

Jadi ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah swt. dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Hari Akhir, takdir yang baik dan buruk dan mengimani seluruh apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), Perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.

&