Sejarah Munculnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah

21 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Penamaan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah, yaitu generasi shahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in.

‘Abdullah bin ‘Abbas ra. berkata ketika menafsirkan firman Allah yang artinya: “Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya [kepada mereka dikatakan]: ‘Kenapa kamu kafir setelah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.’” (Ali ‘Imraan: 106)

“Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan sesat.”

Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama salaf, di antaranya:

1. Ayyub as-Sikhtiyani (wafat 131 H) ia berkata: “Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.”

2. Sufyan ats-Tsaury (wafat 161 H) berkata: “Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghurabaa’. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

3. Fudhail bin ‘Iyadh (wafat 187 H) berkata: “….Berkata Ahlus Sunnah: Iman itu keyakinan, perkataan, dan perbuatan.”

4. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (hidup 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-iimaan: “….Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian…”

5. Imam Ahmad bin Hanbal (hidup 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzab ahlul ‘ilmi, ash-haabul atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul saw. dan para shahabatnya, dari semenjak zaman para shahabat hingga pada masa sekarang ini…”

6. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari (wafat 310 H) berkata: “…adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum Mukminin akan melihat Allah pada hari kiamat, maka itu merupakan agama kami yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa penghuni surga akan melihat Allah sesuai dengan berita shahih dari Rasulullah saw.”

7. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi (hidup 239-321 H). Beliau berkata dalam muqaddimah kitab ‘aqidahnya yang masyhur (al-‘Aqiidatuth Thahaawiyyah): “…Ini adalah penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Dengan penukilan tersebut, maka jelaslah bagi kita bahwa lafadz Ahlus Sunnah sudah dikenal di kalangan Salaf (generasi awal ummat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak sebagai lawan kata Ahlul Bid’ah. Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah agar umat paham tentang ‘aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan Ahlul Bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Barbahari, Imam ath-Thahawi serta yang lainnya.

 

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: