Kaidah dan Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

1. Sumber ‘aqidah adalah Kitabullah (al-Qur’an), Sunnah Rasulullah yang shahih, dan ijma’ Salafush Shalih.

2. Setiap sunnah yang shahih, yang berasal dari Rasulullah saw. wajib diterima, walaupun sifatnya ahad.
Firman Allah: “… Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” (al-Hasyr: 7)

3. Yang menjadi rujukan dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah adalah nash-nash (teks al-Qur’an maupun hadits) yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Jika hal tersebut telah benar, maka tidak dipertentangkan lagi dengan hal-hal yang sifatnya berupa kemungkinan menurut bahasa.

4. Prinsip-prinsip utama dalam agama (ushuluddin), semua telah dijelaskan oleh Nabi saw. Siapapun yang tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contohnya sebelumnya, apalagi sampai menyempurnakan agama-Nya, wahyu telah terputus dan kenabian telah ditutup, sebagaimana firman Allah:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu menjadi agama bagimu.” (al-Maaidah: 3)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalannya tertolak.”

5. Berserah diri (taslim), patuh, dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan batin. Tidak menolak sesuatu dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas (analogi), perasaan, kasfy (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat-pendapat imam-imam dan lainnya.

Firman Allah: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisaa’: 65)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)

6. Dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli (nash yang shahih). Sesuatu yang qath’i (pasti) dari kedua dalil tersebut, tidak akan bertentangan selamanya. Apabila sepertinya ada pertentangan di antara keduanya, maka dalil naqli (ayat maupun hadits) harus didahulukan.

7. Rasulullah saw. adalah ma’shum (dipelihara Allah dari kesalahan) dan para shahabat secara keseluruhan dijauhkan Allah dari bersepakat di atas kesesatan, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melindungi ummatku dari berkumpul (bersepakat) di atas kesesatan.” (HR Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitaabus Sunnah [82], dari shahabat Ka’ab bin ‘Ashim al-‘Asy’ari. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahihain [1331])

Namun secara individu, tidak ada seorangpun dari mereka yang ma’shum. Jika ada perbedaan pendapat di antara para Imam atau yang selain mereka, maka perkara tersebut dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. dengan memaafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa ia adalah orang yang berijtihad.

8. Bertengkar dalam masalah agama itu tercela, akan tetapi mujadalah (berbantahan) dengan cara yang baik itu masyru’ah (disyariatkan). Dalam hal yang telah jelas (ada dalil dan keterangannya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah) dilarang berlarut-larut dalam pembicaraan panjang tentangnya, maka wajib mengikuti ketetapan dan menjauhi larangannya, wajib menjauhi diri untuk berlarut-larut dalam pembicaraan yang memang tidak ada ilmu bagi seorang Muslim tentangnya (misalnya tentang sifat Allah, qadla’ dan qadar, tentang ruh dan lainnya, yang ditegaskan bahwa itu termasuk urusan Allah swt.). selanjutnya sudah selayaknya menyerahkan hal itu kepada Allah swt.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah sesat suatu kaum setelah Allah memberikan petunjuk atas mereka kecuali mereka suka berbantah-bantahan.” Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat: “…Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (az-Zukhruf: 58) (HR Tirmidzi [3253])

9. Kaum Muslimin wajib senantiasa mengikuti manhaj (metode) al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menolak sesuatu, dalam hal ‘aqidah dan dalam menjelaskan suatu masalah. Oleh karena itu, suatu bid’ah tidak boleh dibahas (dibantah) dengan bid’ah lagi, kekurangan tidak boleh dibantah dengan berlebih-lebihan atau sebaliknya. (maksud dari pernyataan ini adalah tentang bid’ahnya Jahmiyyah yang menafikan [meniadakan] sifat-sifat Allah, dibantah oleh Musyabbihah [Mujassimah] yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, dll)

10. Setiap perkara baru yang tidak ada sebelumnya di dalam agama adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR An-Nasa’i [III/189] dengan sanad yang shahih)

Firman Allah: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih.” (asy-Syuura: 21)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: