Kaidah Kelima ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Kaidah Kelima ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah:
“Berserah diri (taslim), patuh, dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas (analogi), perasaan, kasyf (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat imam-imam dan yang lainnya.”

Imam Muhammad bin Syihab az-Zuhri (wafat 124 H) berkata: “Allah yang menganugerahkan risalah [mengutus para Rasul], kewajiban Rasul adalah menyampaikan risalah, dan kewajiban kita adalah tunduk dan taat.”

Kewajiban seorang Muslim adalah tunduk dan taslim secara sempurna, serta tunduk kepada perintah beliau saw. menerima berita yang datang dari beliau dengan penerimaan yang penuh dengan pembenaran, tidak boleh menentang apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dengan perkataan bathil, hal-hal yang syubhat atau ragu-ragu, dan tidak boleh juga dipertentangkan dengan perkataan seorang pun dari manusia.

Penyerahan diri, tunduk patuh dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya merupakan kewajiban seorang Muslim. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak. Taat kepada Rasulullah saw. berarti taat kepada Allah swt.

Firman Allah: “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu (Muhammad), sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka.” (an-Nisaa’: 80)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisaa’: 65)

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (an-Nuur: 51)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Seorang hamba akan selamat dari siksa Allah swt. bila ia mentauhidkan Allah swt. dengan ikhlas dan ittiba’ kepada Rasulullah saw. Tidak boleh mengambil kepada selain beliau sebagai pemutus hukum dan tidak boleh ridla kepada hukum selain hukum beliau saw. Apapun yang Allah dan Rasul-Nya putuskan tidak boleh ditolak dengan pendapat seorang guru, imam, qiyas,dan lainnya.

Sesungguhnya seorang Muslim tidak akan selamat dunia dan akhirat, sebelum ia berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menyerahkan apa yang belum jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya. Hal tersebut artinya berserah diri kepada nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidan menentangnya dengan pena’wilan yang rusak, syubhat, keragu-raguan, dan pendapat orang.

Ada sebuah riwayat yaitu ketika beberapa shahabat Nabi saw. sedang duduk-duduk di dekat rumah Nabi saw. tiba-tiba di antara mereka ada yang menyebut salah satu ayat al-Qur’an lantas mereka bertengkar hingga semakin keras suara mereka. lalu Rasulullah saw. keluar dalam keadaan marah dan merah mukanya, sambil melemparkan debu seraya bersabda:

“Tenanglah wahai kaumku, sesungguhnya cara bertengkar seperti ini telah membinasakan umat-umat sebelum kalian, yaitu mereka menyelisihi para Nabi mereka serta berpendapat bahwa sebagian isi kitab itu bertentangan dengan sebagian yang lain. Ingat! Sesungguhnya al-Qur’an tidak turun untuk mendustakan sebagian dengan sebagian lainnya, bahkan ayat-ayat al-Qur’an sebagian membenarkan sebagian yang lainnya. Karena itu apa yang telah kalian ketahui, maka amalkanlah dan apa yang kalian tidak ketahui, serahkanlah kepada yang paling mengetahui.” (HR Ahmad [II/181/185/195/196])

Diriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda: “Bertengkar dalam masalah al-Qur’an adalah kufur.” (HR Ahmad [II/286/300/424/475/503/ dan 528])

Imam ath-Thahawi (wafat 321 H) berkata: “Barangsiapa yang mencoba mempelajari ilmu yang terlarang; tidak puas pemahamannya untuk pasrah [kepada al-Qur’an dan as-Sunnah], maka ilmu yang dipelajarinya itu akan menutup jalan baginya dari kemurnian tauhid, kejernihan ilmu pengetahuan, dan keimanan yang benar.” (lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah, takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki, hal 233)

Penjelasan ini bermakna, larangan keras berbicara tentang masalah agama tanpa ilmu.
Orang yang berbicara tanpa ilmu tidak lain pasti mengikuti hawa nafsu, Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (al-Israa’: 36)

“….Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dhalim.” (al-Qashas: 50)

“Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaithan yang jahat, yang telah ditetapkan terhadap syaithan itu bahwa barangsiapa yang berkawan dengannya, tentu ia akan menyesatkannya, dan membawanya ke dalam adzab neraka.” (al-Hajj: 3-4)

“ Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raaf: 33)

Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang anak-anak kaum musyrikin yang meninggal dunia, beliau menjawab: “Allah-lah yang Mahatahu apa yang telah mereka kerjakan.” (HR al-Bukhari dalam shahihnya [1384] dan Muslim dalam Shahihnya [2659], dari shahabat Abu Hurairah)

Dari Abu Umamah al-Bahili, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah suatu kaum akan tersesat setelah mendapat hidayah, kecuali apabila di kalangan mereka diberi kebiasaan berdebat.” Lalu beliau membaca firman Allah [yang artinya]: “… Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar…” (az-Zukhruf: 58) (HR at-Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [No.48], Ahmad [V/252/256] dll, dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi)

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak taslim kepada Rasulullah saw., maka telah berkurang tauhidnya. Orang yang berkata dengan ra’yunya (logikanya), hawa nafsunya atau taklid kepada orang yang mempunyai ra’yu dan mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah, maka berkuranglah tauhidnya menurut kadar jauhnya ia dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. sesungguhnya ia telah menjadikan sesembahan selain Allah swt.

Firman Allah:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jaatsiyah: 23)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: