Sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Ilmu Kalam

24 Feb

Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Imam Abu Hanifah (wafat th. 150 H) berkata: “Aku telah menjumpai para ahli ilmu kalam. Hati mereka keras, jiwanya kasar, tidak peduli jika mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka tidak memiliki sifat wara’ dan tidak juga taqwa.”

Imam Abu Hanifah juga berkata ketika ditanya tentang pembahasan yang diada-adakan dalam ilmu kalam mengenai sosok dan bentuk (bagi dzat Allah), ia berkata: “Hendaklah engkau berpegang kepada as-Sunnnah dan jalan yang telah ditempuh oleh salafush Shalih. Jauhi olehmu setiap hal baru, karena ia adalah bid’ah.”

Al-Qadli Abu Yusuf (wafat 182 H) murid dari Abu Hanifah berkata kepada Bisyr bin Ghiyats al-Marisi, “Ilmu kalam adalah suatu kebodohan dan bodoh tentang ilmu kalam adalah suatu ilmu. Seseorang, manakala menjadi pemuka agama atau tokoh ilmu kalam, maka ia adalah zindiq atau dicurigai sebagai zindiq (orang yang menampakkan permusuhan terhadap Islam).” Juga perkataan beliau: “Barangsiapa yang belajar ilmu kalam, ia akan menjadi zindiq…”

Imam Ahmad (wafat 241 H) berkata: “Pemilik ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya. Para ulama kalam itu adalah orang-orang zindiq (orang yang menampakkan permusuhan terhadap Islam).”

Imam Ibnul Jauzi (wafat 597 H) berkata: “Dahulu para ulama dan fuqaha (ahli fiqih) ummat ini mendiamkan (mengabaikan) ilmu kalam bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka menganggap ilmu kalam itu tidak mampu menyembuhkan seseorang yang haus, bahkan dapat menjadikan seseorang yang sehat menjadi sakit. Oleh karena itu, mereka tidak memberi perhatian kepadanya dan melarang untuk terlibat di dalamnya.”

Ibnu ‘Abdil Barr (wafat 463 H) berkata: “Para ahli fiqih dan ahli hadits yang berada di seluruh kota kaum Muslimin telah sepakat bahwa ilmu kalam adalah bid’ah dan penyelewengan dari kebenaran. Sebagaimana kesepakatan mereka bahwa ilmu kalam tidak dianggap bergabung dalam tingkatan para ulama. Yang dikategorikan ulama adalah ahli hadits dan orang-orang yang memahaminya dan mereka bertingkat-tingkat sesuai dengan keahlian masing-masing dalam mencermati, memisahkan (yang shahih dari yang dlaif), dan memahami hadits.”

Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) berkata: “Seandainya ilmu kalam adalah ilmu, niscaya para shahabat dan Tabi’in akan membicarakannya sebagaimana pembicaraan mereka terhadap ilmu-ilmu syariat, akan tetapi ilmu kalam adalah sebuah kebathilan yang menunjukkan kepada kebathilan.”

Imam Syafi’i berkata: “Para ulama ilmu kalam tidak akan pernah beruntung selama-lamanya.” Beliau juga mengucapkan : “Hukum untuk Ahli Kalam menurutku adalah mereka harus dicambuk dengan pelepah kurma dan sandal (sepatu) dan dinaikkan ke unta, lalu digiring keliling kampung. Dan dikatakan: ‘Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah serta mengambil ilmu kalam.’”
Beliau juga menyatakan: “Segala ilmu selain al-Qur’an hanyalah menyibukkan, terkecuali ilmu hadits dan fiqih untuk mendalami agama. Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaala haddatsana [telah menyampaikan hadits kepada kami].’ Selain dari itu adalah ‘bisikan syaithan’ belaka.”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: