Peminjaman Barang (‘Ariyah)

25 Feb

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzab sepakat peminjam barang (‘ariyah) merupakan ibadah yang disunnahkan serta diberi pahala. Mereka berbeda pendapat mengenai tanggungannya bila terjadi kerusakan.

Menurut Syafi’i dan Hambali: tanggungannya dibebankan kepada peminjam disebabkan kesalahannya maupun tidak. Sedangkan Hambali dan para ulama pengikutnya: barang pinjaman merupakan amanah. Tidak dibebankan kepada peminjam bila terjadi kerusakan, kecuali disebabkan oleh kesalahannya. Tentang kerusakan, yang diterima adalah pengakuan peminjam. Demikian juga pendapat Hasan al-Bashri, an-Nakha’i, al-Awza’i, dan ats-Tsawri.

Adapun pendapat Maliki: apabila sudah nyata bahwa barang yang dipinjam itu rusak, tanggungannya tidak dibebankan kepada peminjam, baik yang dipinjamnya itu berupa hewan, pakaian dan perhiasan yang terbungkus maupun perhiasan yang tampak, kecuali jika ia berbuat kesalahan. Inilah pendapat Maliki yang paling jelas.

Qatadah dan para ulama lainnya berpendapat bahwa apabila orang yang meminjamkannya mensyaratkan kepada peminjam adanya tanggungan bila terjadi kerusakan, maka tanggungannya menjadi beban peminjam. Jika tidak disyaratkan demikian, maka tanggungannya tidak menjadi bebannya.

Apabila seseorang meminjam suatu barang, apakah dibolehkan ia meminjamkannya lagi kepada orang lain? Hanafi dan Maliki: boleh, meskipun tidak seizin pemiliknya, yaitu selama tidak dipergunakan untuk sesuatu maksud yang tidak bertentangan dengan kegunaan barang tersebut.
Hambali: tidak boleh, kecuali dengan seizin pemiliknya.

Syafi’i tidak memiliki ketentuan dalam masalah tersebut. Namun menurut pendapat para ulama pengikutnya, terdapat dua pendapat dan pendapat yang paling shahih adalah tidak boleh.

Para imam madzab berbeda pendapat, apakah orang yang meminjamkan boeh meminta kembali barang yang dipinjamkannya? Hanafi, Syafi’i dan Hambali: ia tidak boleh meminta kembali barangnya kapan ia suka, meskipun sudah diserahkan dan belum dipergunakan oleh peminjamnya.

Maliki: jika meminjamnya untuk suatu masa tertentu, tidak boleh diminta sebelum masa peminjamannya habis. Orang yang meminjamkan tidak meminjamkan barangnya yang dipinjam selama belum dimanfaatkan oleh peminjamnya.

Apabila seseorang meminjamkan tanah untuk dibangun suatu bangunan atau untuk menanam tanaman, ia tidak boleh meminta kembali. akan tetapi, orang yang meminjamkannya diminta memberikan harganya bila ia membongkarnya atau memerintahkan untuk membongkarnya jika dengan pembongkaran itu ia dapat mengambil manfaat. Jika peminjaman itu dibatasi waktu tertentu maka tidak boleh diminta sebelum habis waktunya. Apabila waktunya habis, pemberi pinjaman boleh memilih seperti di atas.

Hanafi: jika ditentukan masa peminjamannya, ia boleh dipaksa membongkarnya setelah habis waktunya. Ia tidak boleh dipaksa sebelum waktunya tiba.

Syafi’i dan Hambali: jika disyaratkan pada permulaan, ia boleh membongkarnya kapan saja. adapun jika tidak disyaratkan, dan peminjam memilih agar dibongkar, haruslah dibongkar. Apabila ia tidak memilih untuk dibongkar, peminjam boleh memilih antara memilikinya dan mengganti harganya atau membongkar dengan membayar kerugian. Jika orang yang meminjamkannya tidak memiliki salah satu pilihan tersebut, tidak boleh dibongkar bila orang yang meminjam membayar sewanya.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: