Syuf’ah

25 Feb

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzab sepakat tentang diperbolehkannya beserikat dalam hak milik. Tidak ada Syuf’ah (menyangga kongsi menjual barang kepada orang lain oleh seorang kongsi) bagi tetangga. Demikian pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali. Menurut Hanafi: para tetangga pun mempunyai hak syuf’ah.

Menurut Hanafi dan madzab Syafi’i yang paling kuat [rajih], syuf’ah itu hendaknya dilakukan dengan segera oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, barangsiapa yang melambatkan tuntutan syuf’ah, gugurlah haknya, sama dengan hak khiyar mengembalikan barang.

Imam Syafi’i pun mempunyai pendapat lain, yaitu ia masih berhak mengemukakan penolakannya, selama belum lewat tiga hari. Menurut pendapat beliau lainnya hak tersebut tetap dipeganginya kecuali dengan tegas menggugurkannya.

Adapun menurut pendapat Madzab al-Malikiyah, apabila barang yang dapat dikemukakan hak Syuf’ah sudah dijual, sedangkan kongsinya juga hadir dan mengetahui penjualan tersebut, ia tetap boleh mengemukakan syuf’ah-nya kapan saja dia kehendaki. Dan syuf’ahnya tidak pernah gugur, kecuali oleh salah satu sebab di antara dua sebab, pertama waktunya sudah lewat, dengan lewatnya waktu dan ia tidak mengajukan syuf’ah, berarti ia tidak mengemukakan syuf’ah. Kemudian mengenai lama waktunya, dari Maliki diperoleh riwayat yaitu selama satu tahun dan riwayat lainnya mengatakan lima tahun. Kedua, pembeli mengemukakan perkara kepada hakim, lalu hakim memutuskan bahwa barang tersebut harus diambil atau ditinggalkan. Dan syuf’ah itu tidak perlu disegerakan.

Dari Hambali pun diperoleh beberapa riwayat, pertama, syuf’ah itu harus disegerakan. Kedua, syuf’ah itu ditentukan waktunya dalam majelis. Ketiga, boleh dilambatkan, karena itu hak syuf’ah tidak hilang sehingga dengan jelas ia menggugurkannya atau ia tuntut.

Apabila buah masih berada di batangnya, dan ia dimiliki (secara kongsi) oleh dua orang, lalu salah satunya menjual bagiannya, apakah bagi kongsinya dibolehkan menolaknya untuk menjual atau tidak? Dalam hal ini Maliki mempunyai pendapat yang saling bertentangan. Dalam satu riwayat “boleh melalukan syuf’ah” sedangkan dalam riwayat lainnya “tidak ada syuf’ah baginya”. Hanafi: baginya mempunyai hak syuf’ah. Syafi’i dan Hambali: tidak ada hak syuf’ah baginya.

Apabila harta syuf’ah ditangguhkan pembayarannya, orang yang mengajukan syuf’ah boleh mengambil barang dengan membayar harganya dalam masa penangguhan itu. Jika orang yang men-syuf’ah itu orang kaya dan terpercaya, ia boleh mengemukakan seorang penjamin yang kaya untuk menjamin harga sehingga datang masa penangguhannya [temponya habis]. Demikian menurut pendapat Syafi’i dalam Qadim-nya dan pendapat Hambali.

Menurut pendapat Hanafi dan qaul jadid-nya Syafi’i yang dipandang paling kuat dalam madzabnya bahwa yang mengemukakan syuf’ah boleh memilih antara menyegerakan pembayaran harga dan menerima bagian atau ia tunggu hingga datang masa pembayaran, lalu dibayar harga dan ia mengambil barang tersebut.

Syuf’ah dapat dibagi antara orang-orang yang berhak mencegah menurut kadar bagian mereka masing-masing terhadap harta yang diberikan hak kepada mereka melakukan syuf’ah itu, lalu masing-masing kongsi [persero] tersebut mengambil sekadar memilikinya pada harta tersebut. Demikian pendapat Maliki dan seperti itu juga pendapat Syafi’i yang paling shahih. Hanafi: syuf’ah itu dibagi menurut banyaknya orang. Ini juga pendapat Syafi’i lainnya yang telah dipilih oleh al-Muzani. Dari Hambali diperoleh dua riwayat.

Syuf’ah ini dapat diwarisi, dan tidak menjadi batal karena terjadi kematian. Apabila seseorang sudah mendapat hak syuf’ah, lalu ia mati sebelum mengemukakan syuf’ahnya, hak itu berpindah kepada ahli warisnya. Demikian menurut pendapat Maliki dan Syafi’i. Hanafi: syuf’ah menjadi batal karena kematian, dan tidak dapat diwarisi. Hambali: tidak dapat diwarisi, kecuali jika orang yang mati tersebut sudah mengajukan syuf’ah.

Jika orang yang membeli bagian itu mendirikan rumah atau menanam pohon di tempat yang dibeli tersebut, lalu yang berhak syuf’ah menuntutnya, ia tidak boleh menuntut si pembeli dengan menghancurkan apa yang dibangunnya, dan tidak boleh menuntut mencabut tanaman yang telah ditanamnya itu, dengan bersandar pada harga yang telah diberikan. Demikian pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali.
Hanafi: orang yang berhak syuf’ah boleh memaksa pembeli untuk membongkar atau mencabut. Pengarang kitab ‘Uyunul Masail: segolongan ulama berpendapat, yang berhak syuf’ah boleh membayar harga bagian yang disangga tersebut dan boleh membiarkan bangunan dan tanaman di tempatnya.

Segala sesuatu yang tidak dapat dibagi, seperti kamar mandi, sumur, jalan, pintu, tidak ada syuf’ah baginya. Demikian menurut pendapat Syafi’i. Sedangkan Maliki memiliki pendapat berbeda, pertama ada syuf’ah. Kedua tidak ada syuf’ah. Al-Qadli ‘Abdul Wahab al-Maliki memilih pendapat pertama, demikian juga pendapat Hanafi.

Tempat kembali orang yang menyanggah, mengenai barang yang dijual adalah pembeli, dan tempat kembali pembeli adalah penjual. Demikian menurut pendapat kebanyakan para ulama [jumhur ulama]. Oleh karena itu, apabila nyata bahwa barang yang dijual itu adalah hak seseorang, yang berhak itu mengambilnya dari tangan penyanggah [orang yang berhak menyanggah penjualan barang], dan penyanggah itu kembali meminta harga kepada pembeli, kemudian pembeli meminta kembali uang kepada penjual. Ibn Abi laila: tempat kembali penyanggah adalah penjual dalam segala keadaan.

Para imam madzab berbeda pendapat: apakah dibolehkan seseorang mencari jalan untuk menggugurkan hak syuf’ah, seperti menjual dengan harga yang tidak diketahui pada orang yang melihat atau mengetahui hal tersebut yang dapat gugur bagi yang berhak syuf’ah, atau ia mengaku bahwa si pembeli mempunyai hak milik dari sebagian barang, lalu dijual sisanya kepadanya atau dihibahkan? Hanafi dan Syafi’i: boleh demikian. Maliki dan Hambali: tidak boleh.

Apabila seseorang menghibahkan bagiannya, dengan tidak mengambil ganti pembayarannya, tidak dapat dikemukakan pada syuf’ah. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i. Demikian pula menurut pendapat Hambali, tetapi tidak boleh tidak [harus] dengan pembayaran sebagai pengganti [‘iwadh]. Masalah ini, pendapat Maliki ada beberapa riwayat yang berbeda-beda. Sebagian riwayat dari beliau menyatakan tidak boleh ada syuf’ah padanya. Dan yang lainnya menyatakan ada syuf’ah.

Apabila sudah nyata sahnya diajukan syuf’ah, lalu pembeli memberikan kepadanya beberapa dirham agar tidak diteruskan sanggahan tersebut, boleh bagi yang menyanggah mengambil pemberian tersebut dan memilikinya. Demikian menurut pendapat Hanafi, Maliki dan Hambali.
Syafi’i: tidak boleh yang demikian itu, dan tidak boleh memiliki dirham tersebut. Ia tetap berhak menyanggah, meskipun dirham tersebut ia terima. Apakah dengan demikian syuf’ahnya menjadi gugur? menurut Ashab [ulama pengikut] Syafi’i ada dua pendapat.

Apabila dua orang dari beberapa orang yang berkongsi menjual bagian mereka sekaligus, bagi yang menyanggah dibolehkan mengambil bagian salah seorang di antara mereka dengan jalan hak syuf’ah, sebagaimana dibolehkannya ia mengambil bagian keduanya. demikian menurut pendapat Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Maliki: ia tidak dibolehkan mengambil bagian salah seorangnya, tetapi harus diambil keduanya atau ditinggalkan keduanya. pendapat Hanafi seperti pendapat Maliki di atas.

Apabila salah seorang yang berkongsi mengaku sudah menjual bagiannya kepada seseorang, tetapi orang yang dikatakan telah membelinya mengingkari pembelian tersebut, dan saksi pun tidak ada, sedangkan orang yang berhak syuf’ah menuntut syuf’ahnya, ia [orang yang menuntut] tidak diperbolehkan menuntutnya, kecuali sudah sah pembelian. Demikian menurut pendapat Maliki.

Hanafi: ia berhak menyanggahnya. Seperti ini juga pendapat yang paling shahih dalam Madzab Syafi’i. Sebab, ikrar [pengakuan] penjual berarti mengaku hak pembeli dan hak orang yang menyanggah. Oleh karena itulah, hak penyanggah tidak menjadi batal karena adanya pengingkaran dari pembeli.

Menurut Hanafi, Maliki dan Syafi’i bahwa hak syuf’ah bagi orang dzimmi ditetapkan juga [ada] sebagaimana dipegangi oleh orang Muslim. Hambali: tidak ada hak syuf’ah bagi orang dzimmi.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: