Arsip | Maret, 2014

Bahasa Arab: LaHuu, Lahum,…(kepemilikan)

26 Mar

Bahasa Arab untuk Memahami Al-Qur’an
Mohammad Ridlo Hisyam, Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus “AMM” Yogyakarta

 

 Bahasa Arab: LaHuu, Lahum,...(kepemilikan) b10 b11 b12 b13 b14 b15 b16 b17 b18

Percakapan Ringan Bahasa Arab 2

26 Mar

Bahasa Arab untuk Memahami Al-Qur’an
Mohammad Ridlo Hisyam, Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus “AMM” Yogyakarta

 

percakapan ringan bahasa arab 2 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b8

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (16)

26 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 31“31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nuur: 31)

Ini merupakan perintah Allah kepada wanita-wanita Mukminah, karena kecemburuan-Nya terhadap suami-suami mereka, para hamba-hamba-Nya yang beriman, dan untuk membedakan mereka dengan sifat wanita jahiliyyah dan wanita musyrikah. Sebab turunnya ayat ini seperti yang disebutkan oleh Muqatil bin Hayyan, bahwa ia berkata: Telah sampai kepada kami riwayat dari Jabir bin ‘Abdillah al-Anshari, ia menceritakan bahwa Asma’ binti Marstsad berada di tempatnya di kampung Bani Haritsah. Di situ para wanita masuk menemuinya tanpa mengenakan kain sehingga tampaklah gelang pada kaki-kaki mereka dan tampak pula dada dan jalinan rambut mereka. Asma’ berkata: “Sungguh jelek kebiasaan seperti ini.” Lalu turunlah firman Allah:

Wa qul lil mu’minaati yaghdludl-na min abshaariHinna (“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka.’”) yakni dari perkara yang haram mereka lihat, diantaranya melihat laki-laki selain suami mereka. oleh karena itu, sebagian besar ulama berdalil dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari jalur az-Zuhri, dari Nabhan, maula Ummu Salamah, ia bercerita, Ummu Salamah bercerita kepadanya bahwa suatu hari ia dan Maimunah bersama Rasulullah saw.. ia berkata: “Ketika kami berada di sisi beliau, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum dan masuk menemui beliau. Peristiwa itu terjadi setelah turunnya perintah berhijab. Rasulullah saw. berkata: “Berhijablah darinya.” Aku berkata, “Wahai Rasulallah, bukankah ia seorang buta yang tidak dapat melihat kami dan tidak mengenali kami?” Maka Rasulullah saw. berkata: “Apakah kalian berdua juga buta? Bukankah kalian berdua melihatnya?” (at-Tirmidzi berkata hadits ini hasan shahih)

Sebagian lainnya berpendapat: “Kaum wanita boleh melihat laki-laki bukan mahram asalkan tanpa disertai syahwat. Seperti yang diriwayatkan dalam ash-Shahih, bahwa Rasulullah menyaksikan kaum Habasyah yang sedang bermain tombak pada hari ‘Ied di dalam masjid, sementara ‘Aisyah Ummul Mukminin juga menyaksikan mereka dari belakang beliau, beliau menutupinya dari mereka hingga ‘Aisyah jemu dan pulang.”

Firman Allah: wa yahfadh-na furuujaHunna (“Dan memelihara kemaluan mereka”) Sa’id bin Jubair berkata: “Yakni dari perbuatan keji [zina].”

Qatadah dan Sufyan mengatakan: “Dari perkara yang tidak halal bagi mereka.” Muqatil mengatakan: “Dari perbuatan zina.” Abul ‘Aliyah mengatakan: “Seluruh ayat dalam al-Qur’an yang disebutkan dalamnya perintah menjaga kemaluan, maka maksudnya adalah menjaganya dari perbuatan zina, kecuali ayat ini, maksudnya adalah agar tidak terlihat oleh seorang pun.”

Firman Allah: wa laa yubdiina ziinataHunna illaa maa dhaHara minHaa (“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali [biasa] nampak dari mereka.”) yakni janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kepada laki-laki bukan mahram, kecuali perhiasan yang tidak mungkin disembunyikan.

‘Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Contohnya kerudung, baju luar yaitu pakaian yang biasa dikenakan oleh wanita Arab, yaitu baju kurung yang menutupi seluruh tubuhnya. Adapun yang tampak di bawah baju tersebut tiada dosa atas mereka. karena hal itu tidak mungkin ditutupi. Sama halnya dengan perhiasan wanita yang tampak berupa kain sarung yang tidak mungkin ditutupi.”

Para ulama lain yang berkata seperti ini antaranya al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Abul Jauza’, Ibrahim an-Nakha’i dan lain-lain. Al-A’masy meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas berkaitan dengan firman Allah: wa laa yubdiina ziinataHunna illaa maa dhaHara minHaa (“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali [biasa] nampak dari mereka.”) ia berkata: “Yakni wajah, kedua telapak tangan dan cincinnya.”

Diriwayatkan seperti itu juga dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Atha’, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abusy Sya’tsaa, adh-Dhahhak, Ibrahim an-Nakha’i dan selain mereka.

Kemungkinan ini merupakan tafsir dari perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan seperti yang dikatakan oleh Abu Ishaq as-Sabi’i, dari Abul Ahwash, dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra. tentang firman Allah: wa laa yubdiina ziinataHunna (“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka.”) beliau berkata, “Perhiasan seperti anting-anting, gelang tangan, gelang kaki dan kalung.”

Dalam riwayat lain, masih dari beliau melalui sanad ini juga: “Perhiasan ada dua macam, perhiasan yang hanya boleh dilihat oleh suami, yaitu cincin dan kalung. Dan perhiasan yang dapat dilihat oleh orang lain, yaitu pakaian luar.”

Az-Zuhri berkata: “Kaum wanita hendaklah tidak menampakkan perhiasannya kepada orang-orang yang Allah sebutkan dalam ayat di atas yang tidak halal baginya, kecuali kalung, kerudung dan anting-anting tanpa menyingkap pakaiannya. Adapun terhadap orang lain, ia tidak boleh menampakkannya kecuali cincin.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari az-Zuhri berkaitan dengan firman Allah: illaa maa dhaHara minHaa (“Kecuali yang [biasa] nampak dari mereka.”) yaitu cincin dan gelang kaki.”

Bersambung ke bagian 17

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (15)

26 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

Demikian pula diriwayatkan oleh Ahmad dari Husyaim, dari Yunus bin ‘Ubaid. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i juga meriwayatkannya, at-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.” Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadz: “Tundukkanlah pandanganmu.” Yakni menundukkan pandangan ke bawah. Memalingkan memiliki makna yang lebih umum, karena boleh jadi dengan memandang ke bawah atau ke arah lain. wallaaHu a’lam.

Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah saw. berkata kepada Ali: “Hai Ali, janganlah ikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua. Karena pandangan pertama untukmu [dimaafkan] dan pandangan kedua tidak untukmu [tidak dimaafkan].”

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadits Syuraik, lalu beliau berkata: “Gharib, kami tidak mengetahui kecuali dari haditsnya.”

Dalam kitab shahih diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hindarilah duduk-duduk di pinggir jalan!” mereka berkata, “Wahai Rasulallah, kami tidak dapat meninggalkannya karena kami biasa mengobrol di sana.” Rasulullah saw. bersabda: “Jika kalian merasa tidak bisa meninggalkannya, maka berilah hak jalan.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulallah, apa itu hak jalan?” Rasulullah saw. menjawab: “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.”

Abul Qasim al-Baghdawi meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Thalut bin ‘Abbad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Husain, ia berkata: Aku telah mendengar Abu Umamah berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Berilah jaminan untukku [untuk tidak melakukan] enam perkara ini, niscaya aku jami bagi kalian surga; jika berbicara jangan dusta, jika diberi amanah janganlah dikhianati, jika berjanji janganlah diingkari, tundukkanlah pandangan kalian, tahanlah tangan kalian, dan jagalah kemaluan kalian.”

Dalam shahih al-Bukhari disebutkan: “Barangsiapa menjamin bagiku antara dua janggutnya [mulutnya] dan dua kakinya [kemaluannya], niscaya aku jamin untuknya surga.” Beliau menyebutkan dua perkara di antaranya.

Firman Allah: qul lilmu’miniina yaghudl-dluu min abshaariHim (“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya.’”) pandangan mata dapat menyebabkan rusaknya hati, seperti yang disebutkan oleh sebagian Salaf: “Pandangan mata merupakan panah beracun yang mengincar hati.”
Oleh karena itulah Allah memerintahkan kita untuk menjaga kemaluan sebagaimana Dia memerintahkan kita untuk menjaga pandangan yang merupakan pendorong ke arah itu. Allah berfirman: qul lilmu’miniina yaghudl-dluu min abshaariHim wa yahfadhuu furuujaHum (“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.’”) menjaga kemaluan kadangkala maksudnya adalah mencegah diri dari perbuatan zina, seperti yang Allah sebutkan dalam ayat: walladziina Hum lifuruujiHim haafidhuun (“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.”) (al-Mu’minuun: 5)

Dan kadangkala menjaganya agar tidak terlihat oleh orang lain, seperti disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan kitab-kitab sunan: “Jagalah auratmu, kecuali terhadap istri-istrimu atau budak-budak yang kamu miliki.”

Firman Allah: dzaalika azkaa laHum (“Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.”) lebih suci bagi hati mereka dan lebih bersih bagi agama mereka. sebagaimana disebutkan: “Barangsiapa menjaga pandangannya, maka Allah akan memberinya cahaya pada pandangannya atau pada hatinya.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah ra. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang Muslim melihat kecantikan seorang wanita kemudian ia menundukkan pandangannya, melainkan Allah menggantikannya dengan ibadah yang dia rasakan manisnya.”
Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Hudzaifah Ibnul Yaman dan ‘Aisyah ra. akan tetapi sanad-sanadnya dla’if, hanya saja dalam bab targhib dan sejenisnya, riwayat seperti ini masih bisa ditolerir.

Dalam kitab ath-Thabrani diriwayatkan dari jalur ‘Abdullah bin Yazid, dari ‘Ali bin Yazid, dari al-Qasim dari Abu Umamah secara marfu’ dengan lafadz: “Hendaklah kalian menahan pandangan dan menjaga kemaluan, atau kalau tidak wajah kalian muram atau suram.” (dlaif, sanadnya mursal)

Ath-Thabrani berkata, diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya pandangan itu merupakan salah satu dari panah iblis yang beracun. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku, niscaya Aku akan menggantinya dengan manisnya keimanan yang dapat ia rasakan di dalam hatinya.” (Dlaif jiddan, dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam adl-Dla’ifah [1065])

Firman Allah: innallaaHa khabiirum bimaa yashna’uun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.”) sama seperti firman Allah dalam ayat lain: ya’lamu khaa-inatal a’yuni wa maa tukhfish shuduur (“Dia mengetahui [pandangan] mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (al-Mu’min: 19)

Dan dalam kitab ash-Shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak Adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa dihindari, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, zina telinga adalah mendengar, zina tangan adalah menggunakannya, zina kaki adalah melangkah, jiwa berharap dan berhasrat, kemaluanlah yang membenarkan agtau mendustakannya.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq dan Muslim secara musnad dari jalur lain yang senada dengan yang disebutkan. Sebagian besar ulama salaf telah melarang memandangi amrad [bocah lelaki yang belum tumbuh janggutnya]. Para imam kaum Shufi melarang keras hal ini dan sebagian ahli ilmu, bahkan mengharamkannya karena dapat menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama lainnya sangat keras melarang hal tersebut.

Bersambung ke bagian 16

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (14)

26 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

Al-‘Aufi meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. ia berkata: “Al-isti’naas yang dimaksud dalam ayat adalah isti’dzaan [meminta izin]. Demikian yang dikatakan oleh sejumlah ulama.

Husyaim meriwayatkan, ia berkata, Mughirah telah meriwayatkan kepada kami bahwa maksudnya adalah kewajiban meminta izin.” Demikian pula sebuah riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Rauh, bahwa Kaladah bin al-Hanbal menceritakan kepadanya, bahwasannya Syafwan bin Umayyah mengutusnya pada hari penaklukan kota Makkah dengan membawa libaa [susu yang diperah saat unta baru saja melahirkan], jadaayah [rusa yang baru berusia enam bulan] dan dhaghaabiis [buah semacam mentimun]. Ketika itu Rasulullah saw. berada di atas lembah, aku menemui beliau tanpa mengucapkan salam dan tanpa minta izin. Beliau bersabda: “Kembalilah, ucapkanlah: ‘Assalaamu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’”
Peristiwa ini terjadi setelah Shafwan bin Umayyah masuk Islam.

Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i meriwayatkan hadits ini. At-Tirmidzi berkata: “Hasan gharib, kami tidak mengatahui kecuali melalui haditsnya.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Rib’i, ia berkata: Seorang laki-laki dari Bani ‘Amir datang meminta izin kepada Rasulullah saw. saat itu beliau berada di dalam rumah. Lelaki itu berkata: “Bolehkah aku masuk?” Rasulullah saw. berkata kepada pelayannya: “Keluar dan temui orang itu, lalu ajarilah adab-adab meminta izin.” Rasulullah berkata kepada pelayannya: “Suruh dia mengucapkan: assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” lelaki itu mendengarnya, ia pun mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” maka Rasulullah saw. pun mengizinkannya dan ia pun masuk.”

Abu Ja’far bin Jarir meriwayatkan dari keponakan Zainab, istri ‘Abdullah bin Mas’ud, dari Zainab, ia berkata: “Apabila Abdullah pulang dari suatu keperluan lalu sampai di depan pintu, beliau berdehem dan meludah. Beliau tidak suka masuk menemui kami dalam keadaan yang tidak beliau sukai.” (sanadnya shahih)

Imam Ahmad berkata: “Jika seseorang hendak masuk rumahnya, dianjurkan agar berdehem atau menghentakkan alas kakinya [sepatu atau sendal].”

Oleh karena itu, dalam kitab ash-Shahih diriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau melarang seseorang pulang menemui keluarganya pada malam hari, supaya tidak mengejutkan mereka.”

Firman Allah: dzaalikum khairul lakum (“Yang demikian itu lebih baik bagimu”) yakni meminta izin lebih baik bagimu, bagi kedua belah pihak, bagi yang meminta izin dan bagi tuan rumah. Dan, la’allakum tadzakkaruun (“Agar kamu [selalu] ingat”)

Firman Allah: fa illam tajiduu fiiHaa ahadan falaa tadkhuluuHaa hattaa yu’dzanalakum (“Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin”) karena hal itu dapat menyebabkan ia menggunakan milik orang lain tanpa seizinnya. Jika si tuan rumah menghendaki, ia bebas memilih antara memberinya izin atau tidak.

Firman Allah: wa in qiila lakumur ji’uu (“Dan jika dikatakan kepadamu: ‘Kembali [saja] lah.”) jika ia menolakmu sebelum memberi izin atau pun sesudahnya. Maka: farji’uu Huwa azkaa lakum (“Hendaklah kamu kembali. itu lebih bersih bagimu”) yakni kembali pulang lebih suci dan lebih bersih bagimu. Firman Allah: wallaaHu bimaa ta’maluuna ‘aliim (“Dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan”) berkenaan dengan ayat ini, Sa’id bin Jubair mengatakan: “Janganlah kamu berdiri di depan pintu rumah orang lain.”)

Firman Allah: laisa ‘alaikum junaahun an tadkhuluu buyuutan ghaira maskuunatin (“Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami.”) ayat ini lebih khusus daripada ayat sebelumnya. Intinya adalah, bolehnya masuk ke dalam rumah yang tidak didiami oleh seorang pun dan ia ada keperluan di dalamnya tanpa harus meminta izin. Seperti rumah yang memang disediakan untuk para tamu, jika di awal ia telah diberi izin, maka cukuplah baginya. Ibnu Juraij berkata: Abdullah bin ‘Abbas berkata: “Firman Allah: Laa tadkhuluu buyuutan ghaira buyuutikum (“Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu”) telah dimansukh atau telah dikecualikan dengan firman Allah: laisa ‘alaikum junaahun an tadkhuluu buyuutan ghaira maskuunatin fiiHaa mataa’ul lakum (“Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami yang di dalamnya ada keperluanmu.”)

Demikianlah yang diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan al-Hasan al-Bashri. Sementara ulama lain berkata: “Maksudnya adalah tempat jualan [toko] para pedagang, seperti kedai, losmen untuk kaum musafir, rumah-rumah di Makkah dan lain sebagainya.”

Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan beliau menukilnya dari sejumlah ulama. Pendapat yang lebih tepat, wallaaHu a’lam. Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, maksudnya adalah sanggar-sanggar syair.

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 30“30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. (an-Nuur: 30)

Ini merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar menahan pandangan dari perkara-perkara yang haram dilihat. Janganlah melihat kecuali kepada hal-hal yang dibolehkan untuk dilihat dan hendaklah mereka menahan pandangannya dari perkara-perkara yang haram untuk dilihat. Jika tanpa sengaja pandangan tertuju pada perkara yang haram dilihat, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannnya seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, dari Abu Zur’ah bin ‘Amr bin Jarir, dari kakeknya, yakni Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali ra. ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang pandangan spontan. Beliau memerintahkan agar segera memalingkan pandangan.”

Bersambung ke bagian 15

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (13)

26 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 27-29“27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. 28. jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 29. tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (an-Nuur: 27-29)

Ini merupakan adab syar’i yang Allah ajarkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu adab meminta izin. Allah memerintahkan mereka agar tidak memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin, lalu mengucapkan salam. Hendaklah ia meminta izin sebanyak tiga kali, apabila tidak diizinkan hendaklah ia kembali seperti yang disebutkan dalam kitab ash-Shahih bahwa ketika Abu Musa minta izin kepada ‘Umar untuk masuk sebanyak tiga kali namun tidak ada jawaban, ia pun kembali. kemudian ‘Umar berkata: “Bukankah itu tadi suara ‘Abdullah bin Qais yang meminta izin? Berilah ia izin.” Mereka pun mencarinya, lalu mendapatinya telah pergi. Kemudian ketika ia datang, setelah itu ‘Umar bertanya: “Apa yang menyebabkan kamu kembali?” Abu Musa menjawab: “Aku telah meminta izin tiga kali, namun tidak diberi izin, sedang aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Jika salah seorang dari kamu sudah meminta izin sebanyak tiga kali, namun tidak diberi izin, maka kembalilah.’” Umar berkata: “Engkau harus membawa saksi atas perkataanmu itu atau kalau tidak, aku akan memukulmu.”

Abu Musa pun mendatangi sekelompok Shahabat Anshar dan menceritakan perkataan ‘Umar itu kepada mereka. mereka berkata: “Cukup orang yang paling muda dari kami yang bersaksi untukmu.” Maka bangkitlah Abu Sa’id al-Khudri dan menyampaikan kepada ‘Umar tentang hadits tersebut. ‘Umar lalu berkata: “Sungguh kesibukan berjual-beli di pasar dahulu telah melalaikanku.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik atau dari Shahabat lain, bahwa Rasulullah saw. meminta izin kepada Sa’ad bin ‘Ubadah dengan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaika wa rahmatullaaH!” Sa’id menjawab: “Wa ‘alaikas salaam wa rahmatullaaH.” Namun Rasulullah tidak mendengar jawabannya. Hingga beliau mengucapkan salam tiga kali dan Sa’ad pun menjawabnya tiga kali juga, namun Rasulullah tidak mendengar jawabannya, maka beliau pun kembali. Sa’ad mengejar Rasulullah, lalu berkata: “Wahai Rasulallah, ibu dan ayahku jadi tebusan atas dirimu, tidaklah engkau mengucapkan salam melainkan aku mendengarnya dan aku telah menjawab salammu, namun aku tidak memperdengarkannya kepadamu. Aku ingin engkau banyak mengucapkan salam kepadaku dan aku mengharapkan berkah darinya.” Kemudian aku mempersilakan beliau masuk dan menghidangkan kismis kepada beliau dan beliau memakannya. Setelah selesai beliau bersabda: “Orang-orang shalih telah memakan makanan kalian, para malaikat pun telah mendo’akan kalian dan orang-orang yang berpuasa telah berbuka dengan hidangan kalian.”

Abu Dawud dan an-Nasa’i juga telah meriwayatkan dari Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah, ia berkata: “Suatu kali Rasulullah saw. datang mengunjungi rumah kami. Beliau mengucapkan salam: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaaH!” Sa’ad menjawabnya dengan suara lirih. Qais berkata: “Tidakkah engkau memberi izin kepada Rasulullah?” Sa’ad menjawab: “Biarkanlah beliau banyak mengucapkan salam kepada kita.” Rasulullah kembali mengucapkan salam:
“Assalaamu ‘alaikum warahmatullaaH!” Sa’ad menjawabnya dengan suara lirih. Rasulullah kembali mengulangi salamnya: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaaH!” kemudina beliau kembali dan dikejar oleh Sa’ad, lalu ia berkata: “Wahai Rasulallah, sebenarnya aku mendengar ucapan salammu, namun aku menjawabnya dengan suara lirih agar engkau banyak mengucapkan salam kepada kami.”

Kemudian ia mengajak Rasulullah saw. ke rumah. Sa’ad menyodorkan cuci tangan kepada beliau dan beliau pun mencuci tangan. Kemudian ia memberikan selimut yang dicelup dengan za’faran atau daun wars, lalu beliau berselimut dengannya. Kemudian Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, turunkanlah pujian dan rahmat-Mu atas keluarga Sa’ad bin ‘Ubadah.” Kemudian Rasulullah mencicipi hidangan yang disediakan. Ketika beliau hendak kembali, Sa’ad menyediakan seekor keledai yang telah dialas dengan kain. Rasulullah saw. menaikinya. Sa’ad berkata kepada Qais: “Sertailah Rasulullah saw.” Qais berkata: “Rasulullah berkata: ‘Naiklah.’” Aku menolak naik, Rasulullah saw. berkata: ‘Naiklah atau engkau kembali saja.’ aku pun memilih kembali.’”
Hadits ini diriwayatkan dengan beberapa versi lainnya, hadits ini jayyid dan kuat, wallaaHu a’lam.

Bagi yang meminta izin masuk ke rumah orang lain, janganlah ia berdiri di depan pintu, hendaklah ia berdiri di sisi atau di kanan pintu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Bisyr, ia berkata: “Apabila Rasulullah saw. mendatangi rumah orang, beliau tidak berdiri di depan pintu, akan tetapi di samping kanan atau di samping kiri. Kemudian beliau mengucapkan salam: ‘Assalaamu ‘alaikum!’ [karena saat itu rumah-rumah belum dilengkapi dengan tirai].” (Abu Dawud seorang diri meriwayatkan hadits ini)

Abu Dawud juga meriwayatkan dari Huzail, ia berkata, “Seorang lelaki –‘Utsman bin Abi Syaibah menyebutkan, lelaki ini adalah Sa’ad bin Abi Waqqash ra.- ia berdiri di depan pintu Rasulullah saw. untuk meminta izin. Ia berdiri tepat di depan pintu. ‘Utsman bin Abi Syaibah mengatakan: ‘Berdiri menghadap pintu.’ Rasulullah saw. berkata kepadanya: “Menyingkirlah dari depan pintu, sesungguhnya meminta izin disyariatkan untuk menjaga pandangan mata.”

Dalam kitab ash-Shahihain, diriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwa beliau berkata: “Sekiranya ada seseorang yang mengintip rumahmu tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu hingga tercungkil matanya, maka tiada dosa atasmu.”

Diriwayatkan oleh al-Jamarah, dari jalur Syu’bah, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir, ia berkata: “Aku datang menemui Rasulullah saw. untuk melunasi hutang ayahku. Aku mengetuk pintu rumah beliau. Beliau bertanya: ‘Siapa?’ ‘Saya.’ Jawabku. Beliau membalas: ‘Saya, saya!’ sepertinya beliau tidak menyukai jawabanku tadi.
Karena tuan rumah tidak dapat mengenali identitas si tamu dengan jawaban seperti itu hingga ia menyebutkan namanya atau kunyah-nya yang biasa dipakai. Sebab semua orang bisa menyebut dirinya dengan ‘saya’, dan itu tidak memenuhi maksud dari isti’dzaan [syariat meminta izin] atau isti’naas yang diperintahkan dalam ayat.”

Bersambung ke bagian 14

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (12)

26 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

Firman Allah: yauma tasyHadu ‘alaiHim alsinatuHum wa aidiiHim wa arjuluHum bimaa kaanuu ya’maluun (“Pada hari [ketika] lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”) ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Ketika kami duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba beliau tersenyum hingga terlihat gigi beliau. Kemudian beliau berkata: “Tahukah kalian mengapa aku tersenyum?” “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” jawab kami. Beliau berkata: “Karena dialog seorang hamba dengan Rabbnya. Ia berkata: ‘Ya Rabb, bukankah Engkau telah menyelamatkanku dari kedhaliman?’ ‘Tentu saja.’ jawab Allah. Ia melanjutkan: ‘Aku tidak menghendaki saksi atasku kecuali diriku sendiri,’ Allah berkata: ‘Cukuplah dirimu menjadi saksi bagimu pada hari ini dan para malaikat yang mulia adalah saksi atas dirimu.’ Lalu mulutnya pun dibungkam dan dikatakan kepada anggota tubuhnya: ‘Bicaralah.’ Lalu anggota tubuhnya menceritakan seluruh amal perbuatannya. Kemudian ia diberi kuasa untuk berbicara, ia berkata: ‘Celaka kalian [anggota tubuhnya]! Sesungguhnya untuk kalianlah dahulu aku berbuat.’” (diriwayatkan juga oleh Muslim dan an-Nasa’i, wallaHu a’lam, demikianlah beliau sebutkan)

Qatadah bin Adam berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kalian memiliki saksi-saksi yang tidak diragukan kesaksiannya, yakni tubuh kalian. Jagalah diri kalian dan bertakwalah kepada Allah saat sendiri dan di tengah keramaian, karena tidak ada satupun perkara yang tersembunyi atas dirimu. Dalam kegelapan pasti ada cahaya, dan setiap rahasia pasti terungkap. Barangsiapa mampu datang bertemu Allah dalam keadaan berbaik sangka keapda-Nya, hendaklah ia melakukannya, sesungguhnya tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.”

Firman Allah: yauma-idziy yuwaffiiHimullaaHu diinaHumul haqqa (“Di hari itu, Allah akan memberi balasan yang setimpal menurut semestinya”) maksudnya dari kata “diinaHum” dalam ayat di atas adalah hisab, seperti yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas. Semua kata “diinaHum” dalam al-Qur’an bermakna “hisab” seperti yang dikatakan oleh sejumlah ulama. Kemudian jumhur membaca dengan menashabkan kata “alhaqqu” sebagai sifat dari kata “diinaHum”. Firman Allah: wa ya’lamuuna annallaaHa Huwal haqqul mubiin (“Dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang haq, lagi Yang menjelaskan [segala sesuatu menurut hakekat yang sebenarnya]”) yakni janji dan ancaman-Nya, dan hisab-Nya adalah keadilan yang tidak ada kecurangan di dalamnya.

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 26“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (an-Nuur: 26)

‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: “Maksudnya, kata-kata yang buruk hanya pantas bagi laki-laki yang buruk. Dan laki-laki yang jahat yang pantas baginya hanyalah kata-kata yang buruk. Kata-kata yang baik hanya pantas bagi laki-laki yang baik dan laki-laki baik, yang pantas baginya hanyalah kata-kata yang baik. Ayat ini turun berkenaan dengan ‘Aisyah dan ahlul ifki.” Demikianlah diriwayatkan dari Mujahid, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, al-Hasan al-Bahsri, Habib bin Abi Tsabit, adh-Dhahhak dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari. Intinya, perkataan yang buruk lebih pantas ditujukan kepada orang-orang yang jahat dan perkataan baik hanya pantas bagi orang-orang yang baik. Tuduhan keji yang ditujukan kaum munafik kepada ‘Aisyah sebenarnya lebih pantas ditujukan kepada mereka. dan ‘Aisyah lebih pantas bersih dari tuduhan itu daripada mereka. oleh sebab itu, Allah berfirman: ulaa-ika mubara-uuna mimmaa yaquuluun (“Mereka [yang dituduh] itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka [yang menuduh].”)

‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan laki-laki yang jahat hanya cocok bagi wanita yang jahat. Wanita yang baik hanya layak bagi laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya pantas bagi wanita yang baik. Perkataan ini merupakan konsekuensi lazim, yaitu tidaklah Allah menjadikan ‘Aisyah sebagai istri Rasulullah saw. melainkan ia adalah seorang wanita yang baik, karena Rasulullah saw. adalah manusia yang paling baik. Sekiranya ‘Aisyah tidak baik, tentu secara syar’i dan kauni tidak pantas bagi beliau.

Oleh karena itulah Allah berfirman: ulaa-ika mubarra-uuna mimmaa yaquuluun (“Mereka [yang dituduh] itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka [yang menuduh]”) mereka jauh dari apa yang dituduhkan oleh mereka [yang menuduh]”). Mereka jauh dari yang dituduhkan oleh ahlul ifki. Firman Allah: laHum maghfiratun (“Bagi mereka ampunan”) karena tuduhan dusta yang ditujukan kepada mereka. firman Allah: wa rizqun kariim (“Dan rizky yang mulia”) di sisi Allah, yaitu surga yang penuh kenikmatan. Ayat ini berisi janji bahwa istri-istri Rasulullah saw berada dalam Jannah.

Bersambung ke bagian 13

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (11)

26 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 22“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nuur: 22)

Firman Allah: wa laa ya’tali (“Janganlah bersumpah”) diambil dari kata “al-alyatu” yaitu sumpah. Yakni janganlah bersumpah. Ulul fadl-li minkum (“Orang-orang yang mempunyai kelebihan di antara kamu”) yakni memiliki kelebihan, sedekah dan kebaikan. Was sa’ati (“dan kelapangan”). An yu’tuu ulul qurbaa wal masaakiina wal muHaajiriina fii sabiilillaaHi (“Bahwa mereka [tidak] akan memberikan [bantuan] kepada kaum kerabat[nya], orang-orang miskin yang berhijrah di jalan Allah”) yakni janganlah mereka bersumpah untuk tidak menyambung tali silaturahim dengan kerabat yang miskin dan kaum Muhajirin. Ini merupakan puncak kehalusan dan kelembutan dalam anjuran menyambung tali silaturahim. Oleh karena itu Allah berfirman: wal ya’fuu wal yashfahuu (“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada”) yakni atas apa yang mereka lakukan dalam bentuk gangguan dan lainnya. Ini merupakan ke-Mahasantunan Allah, ke-Mahapemurahan, dan ke-Mahalembutan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya meski mereka telah mendhalimi diri mereka sendiri.

Ayat ini turun berkenaan dengan kisah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. ketika bersumpah tidak akan memberikan nafkah apa pun kepada Misthah bin Utsatsah setelah menuduh ‘Aisyah ra. seperti yang disebutkan dalam hadits di atas. Ketika Allah menurunkan pembebasan diri Ummul Mukminin ‘Aisyah ra., jiwa-jiwa yang Mukmin menyambutnya dengan suka cita, Allah menerima taubat dari orang-orang Mukmin yang terlibat membicarakannya dan hukum hadd telah pula dilaksanakan atas orang-orang yang berhak menerimanya, Allah –Dialah yang memiliki karunia dan anugerah- menganjurkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq agar berbelas kasih kepada karib kerabatnya, yakni Misthah bin Utsatsah. Ia adalah keponakan beliau dan orang yang miskin yang tidak mempunyai harta melainkan apa yang diberikan oleh Abu Bakar kepadanya. Ia juga tergolong Muhajirin fii SabiilillaaH.

Misthah tergelincir dalam masalah ini, lalu bertaubat kepada Allah dan Allah menerima taubatnya. Dan ia pun telah menjalani hukuman. Abu Bakar ash-Shiddiq terkenal dengan kebaikannya. Ia banyak menolong dan membantu karib kerabatnya dan orang-orang lainnya. Ketika turun firman Allah ini, alaa tuhibbuuna ay yaghfirallaaHu lakum (“Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?”) karena balasan sesuai dengan kadar amal perbuatan. Sebagaimana kamu memaafkan orang yang berbuat jahat kepadamu, begitu pula Allah akan memaafkanmu juga. Sebagaimana engkau berlapang dada atas kesalahannya, demikian pula engkau akan diberi kelapangan. Saat itu Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Tentu saja, demi Allah, kami ingin Engkau mengampuni kami wahai Rabb kami.” Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah seperti yang beliau berikan dahulu, lalu berkata: “Demi Allah, aku tidak akan memutus nafkah ini selama-lamanya.” Sebagai tebusan dari perkataan belaiu sebelumnya: “Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya selama-lamanya.” Oleh karen itu beliau adalah ash-Shiddiq yang memang benar-benar seorang shiddiq, semoga Allah meridlai beliau dan puteri beliau.

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 23-25“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. di hari itu, Allah akan memberi mereka Balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (an-Nuur: 23-25)

Ini merupakan ancaman dari Allah terhadap orang-orang yang menuduh wanita baik-baik yang lengah –yakni menurut kebiasannya- lagi beriman telah berbuat zina. Ummahatul Mukminin lebih layak memiliki sifat-sifat tersebut dari semua wanita yang baik-baik. Terlebih lagi, sebab turunnya ayat ini adalah berkaitan dengan ‘Aisyah binti ash-Shiddiq. Seluruh ulama sepakat bahwa siapa saja yang menuduh ‘Aisyah dengan tuduhan tersebut setelah turun ayat ini, maka hukumnya adalah kafir karena ia telah menentang al-Qur’an. Adapun terhadap istri-istri Nabi yang lainnya, ada dua pendapat. Pendapat yang paling shahih adalah, tuduhan terhadap mereka hukumnya sama seperti tuduhan terhadap ‘Aisyah, wallaaHu a’lam. Firman Allah: lu’inuu fid-dun-yaa wal aakhirati (“Mereka terkena laknat di dunia dan akhirat”) dan ayat seterusnya. Sama seperti firman Allah lainnya: innal ladziina yu’dzuunallaaHa wa rasuulaHuu (“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya”) dan ayat seterusnya (al-Ahzab: 57)

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ini khusus berkaitan dengan tuduhan terhadap ‘Aisyah ra. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas tentang firman Allah: innal ladziina yarmuunal muhshanaatil ghaafilaatil mu’minaati (“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman [dengan tuduhan berbuat zina].”) dan ayat seterusnya. Beliau berkata: “Ini berkaitan dengan kasus ‘Aisyah dan istri-istri Nabi, namun disamarkan namanya di sini.”

Perkataan beliau: “Disamarkan namanya” yakni hukum haramnya berlaku umum terhadap siapa saja yang menuduh wanita Mukmin yang baik-baik, begitu pula laknat di dunia dan di akhirat.

Demikianlah yang dikatakan oleh ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam: “Ayat ini turun berkenaan dengan ‘Aisyah dan siapa saja yang berbuat semacam ini terhadap wanita-wanita Muslimah. Ia berhak mendapat ancaman yang Allah sebutkan. Hanya saja ‘Aisyah adalah contoh dalam masalah ini.”

Ibnu Jarir juga berpendapat seperti itu dan itu pulalah pendapat yang shahih, terlebih didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah tujuh perkara muubiqaat [yang mendatangkan kebinasaan].” Para shahabat bertanya, “Apakah tujuh perkara itu, wahai Rasulallah?” Rasulullah saw. menjawab: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, melontarkan tuduhan zina terhadap wanita Mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu menahu dengannya.” (ash-shaihain, Bukhari-Muslim)

Bersambung ke bagian 12

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (10)

24 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 16-18“Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.” Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (an-Nuur: 16-18)

Ini adalah pengajaran, apabila terlintas perkara yang tidak layak diucapkan tentang seorang hamba yang terbaik, maka tindakan yang seharusnya mereka ambil adalah berbaik sangka. Dan janganlah mereka berprasangka selain itu. Jika masih terlintas sesuatu yang mengganggu dan mengusik fikirannya, maka seyogyanya ia tidak mengucapkannya, karena Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Allah memaafkan ummatku atas apa yang terlintas di dalam hati mereka selama mereka tidak mengucapkannya dan tidak melakukannya.” (HR Bukhari-Muslim)

Firman Allah: wa lau laa idz sami’tumuuHu qultum maa yakuunu lanaa an natakallama biHaadzaa (“Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: ‘Sekali-sekali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini.”) yakni tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan ini dan menyampaikannya kepada orang lain. Firman Allah: subhaanaka Haadzaa buHtaanun ‘adhiim (“Mahasuci Engkau [ya Rabb kami], ini adalah dusta yang besar.”) yakni Mahasuci Allah, tidak patut tuduhan seperti itu ditujukan kepada istri Rasul-Nya dan kesayangan dan kekasih-Nya.

Firman Allah: ya’idhukumullaaHu an ta’uuduu limitsliHii abadan (“Allah memperingatkan kamu agar [jangan] kembali membuat yang seperti itu selama-lamanya.”) yakni Allah melarang dan mengancammu agar tidak melakukan perbuatan seperti itu selama-lamanya, yakni pada masa-masa yang akan datang. Oleh karena itu Allah berfirman: in kuntum mu’miniin (“Jika kamu orang-orang yang beriman”) yakni jika kamu beriman kepada Allah dan syariat-Nya serta mengagungkan Rasulullah saw.

Adapun orang yang memiliki sifat kufur, maka baginya hukum yang lain pula. Wa yubayyinullaaHu lakumul aayaati (“Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu.”) yakni menjelaskan hukum-hukum syar’i kepadamu dan hukum-hukum qadari [kauni]. Lalu Allah berfirman: wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana”) yakni Mahamengetahui apa saja yang membawa maslahat bagi hamba-hamba-Nya dan Mahabijaksana dalam syariat dan takdir yang diputuskan-Nya.

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 19“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (an-Nuur: 19)

Firman Allah: innalladziina yuhibbuuna an tasyii’al faahisyatu fil ladziina aamanu laHum ‘adzabun aliim (“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar [berita] perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih.”) yakni memilih tersiarnya perkataan keji tentang orang-orang yang beriman. laHum ‘adzaabun aliimun fid-dun-yaa wal aakhirati (“Bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat”) yakni di dunia dengan ancaman hukum hudud dan di akhirat dengan ancaman siksa. wallaaHu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun (“Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”) yakni kembalikanlah semua urusan kepada-Nya, niscaya kalian akan mendapatkan bimbingan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Tsauban, dari Rasulullah saw: “Janganlah menyakiti hamba-hamba Allah dan jangan mencela mereka. janganlah mencari-cari aib mereka. sebab, barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama Muslim, niscaya Allah akan mencari-cari aibnya dan membongkarnya hingga sampai aib dalam rumahnya.”

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 20-21“20. dan Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).
21. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (an-Nuur: 20-21)

Firman Allah: walau laa fadl-lullaaHi ‘alaikum wa rahmatuHuu wa annallaaHa ra-uufur rahiim (“Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Mahapenyantun dan Mahapenyayang, [niscaya kamu akan ditimpa adzab yang besar],”) yakni kalaulah bukan karena itu semua, niscaya ceritanya sudah lain, akan tetapi Allah Mahapenyantun, dan Mahapenyayang kepada hamba-hamba-Nya. Allah menerima taubat dari siapa yang bertaubat kepada-Nya dari masalah ini. Ada yang bersih karena hukum hudud yang ditegakkan atas mereka. kemudian Allah berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tattabi’uu khuthuwaatisy syaithaan (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan”) yakni jalan-jalan, cara-cara dan apa saja yang diperintahkannya. Wa may yattabi’ khuthuwaatisy syaithaani fa innaHuu ya’muru bil fahsyaa-i wal munkar (“Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaithan, maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar.”) ini merupakan peringatan dengan ungkapan yang sangat tajam, ringkas dan baik.

‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas tentang firman Allah: khuthuwaatisy syaithaan (“Langkah-langkah setan”) yakni perbuatannya. ‘Ikrimah mengatakan: “Yakni gangguannya.” Qatadah mengatakan: “Setiap perbuatan maksiat, maka itulah langkah-langkah syaithan.”

Firman Allah: walau laa fadl-lullaaHi ‘alaikum wa rahmatuHuu maa zakaa minkum min ahadin abadaa (“Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih [dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu] selama-lamanya.”) kalaulah Allah tidak memberi rizky kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya, dan kalaulah Allah tidak membersihkan jiwa dari noda syirik, kejahatan, kotoran dan akhlak-akhlak yang jelek, masing-masing sesuai dengan kondisinya, niscaya tidak seorang pun yang dapat bersih dan baik. Firman Allah: walakinnallaaHa yuzakkii may yasyaa’ (“Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya,”) dari makhluk-Nya. Dialah yang menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menjerumuskannya ke dalam kebinasaan, kesesatan dan penyimpangan. wallaaHu samii’un (“Dan Allah Mahamendengar”) yakni mendengar perkataan hamba-hamba-Nya. Firman Allah: ‘aliimun (“lagi Mahamengetahui”) siapa saja yang berhak mendapatkan hidayah atau mendapat kesesatan.

Bersambung ke bagian 11

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (9)

24 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 12-13“12. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” 13. mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi Maka mereka Itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta.” (an-Nuur: 12-13)

Ini merupakan pengajaran dari Allah swt. kepada kaum Mukminin berkaitan dengan kisah ‘Aisyah ra. firman Allah: lau laa (“Mengapakah”) idz sami’tumuuHu (“Di waktu kamu mendengar berita bohong itu”) yaitu tuduhan yang ditujukan kepada Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra.

Firman Allah: dhannal mu’minuuna wal mu’minaatu bi anfusiHim khairan (“Orang-orang mukmin dan Mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri”) yakni memisalkan tuduhan semacam itu menimpa diri mereka sendiri. Jika tuduhan semacam ini tidak layak dilayangkan kepada diri mereka, tentunya Ummul Mukminin lebih layak terbebas dari tuduhan itu.

Firman Allah: innalladziina jaa-uu bil ifki ushbatum minkum (“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong adalah dari golonganmu juga.”) yaitu Hasan dan rekan-rekannya yang telah melontarkan tuduhan-tuduhan. Kemudian Allah berfirman: lau laa idz sami’tumuuHu dhannal mu’minuuna wal mu’minaatu bi anfusiHim khairan wa qaaluu Haadzaa ifkum mubiin (“Mengapa sewaktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan Mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan [mengapa tidak] berkata: ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”)

Firman Allah: dhannal mu’minuuna (“Berprasangka [baik] kaum Mukminin”) yaitu mengapa mereka tidak berprasangka baik. Karena Ummul Mukminin lebih berhak mendapat prasangka baik tersebut. Ini berkaitan dengan masalah bathin. Firman Allah: wa qaaluu (“dan mereka berkata”) dengan lisan mereka. Haadzaa ifkum mubiiin (“Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”) yakni dusta yang nyata terhadap Ummul Mukminin, ‘Aisyah ra.

Firman Allah: lau laa, artinya mengapakah. Firman Allah: jaa-uu ‘alaiHi (“Mengapakah mereka [yang menuduh itu] tidak mendatangkan”) bukti atas apa yang mereka katakan itu. Firman Allah: bi arba’ati syuHadaa-a (“empat orang saksi”) yang bersaksi membenarkan tuduhan mereka.
Firman Allah: fa idz lam ya’tuu bisy syuHadaa-i fa ulaa-ika ‘indallaaHi Humul kaadzibuun (“Oleh karena itu, mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.”) yaitu dusta dan fajir dalam hukum Allah.

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 14-15“Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. 15. (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar.” (an-Nuur: 14-15)

Firman Allah: walau laa fadl-lullaaHi ‘alaikum wa rahmatuHuu fid-dun-yaa wal aakhirati (“Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu semua di dunia dan di akhirat.”) hai orang-orang yang larut dalam menuduh ‘Aisyah, Allah telah menerima taubat dan inayah kalian di dunia dan Allah memaafkan kalian karena keimanan kalian kepada negeri akhirat. Firman Allah: lamassakum fii maa afadl-tum fiiHi ‘adzaaban ‘adhiim (“Niscaya kamu ditimpa adzab yang besar, karena pembicaraanmu tentang berita bohong itu.”) yakni karena kasus tuduhan dusta ini.

Ini berlaku atas orang yang memiliki keimanan, Allah menerima taubatnya karena keimanannya, seperti Misthah, Hassan dan Hamnah binti Jahsy, saudara perempuan Zainab binti Jahsy. Adapun kaum munafik yang larut dalam tuduhan itu seperti ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dan kawan-kawannya, mereka tidak termasuk orang yang disebutkan dalam ayat ini, karena mereka tidak memiliki iman dan amal shalih yang dapat mengimbangi kesalahan ini dan yang dapat menolaknya. Demikian pula seluruh perkara yang berkaitan dengan ancaman atas suatu perbuatan tertentu, syaratnya ialah tidak adanya taubat dan amal shalih yang dapat mengimbangi atau menutupinya.

Kemudian Allah berfirman: idz talaqquunaHu bi alsinatikum (“[Ingatlah] di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut”) Mujahid dan Sa’id bin Jubair berkata: “Maksudnya ialah, kalian menyampaikannya dari mulut ke mulut dengan mengatakan: ‘Aku telah mendengarnya dari si Fulan, atau si Fulan telah berkata begini dan begini, sebagian orang menyampaikannya begini dan begini.’”

Firman Allah: wa taquuluuna bi afwaaHikum maa laisa lakum biHii ‘ilmun (“Dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga.”) yaitu kalian mengatakan apa yang tidak kalian ketahui. Wa tahsabuunaHu Hayyinaw wa Huwa ‘indallaaHi ‘adhiim (“Dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”) yakni kalian melontarkan tuduhan yang berat terhadap ‘Aisyah, Ummul Mukminin, kalian mengira tuduhan itu ringan dan mudah. Andaikan ‘Aisyah bukan istri Nabi, tuduhan itu tetap bukanlah urusan yang ringan. Lalu bagaimana pula bilamana ‘Aisyah adalah istri Nabi saw? Sungguh suatu perkara yang sangat besar di sisi Allah menuduh istri Nabi dan Rasul-Nya dengan tuduhan keji.

Dalam sebuah hadits kitab ash-Shahihain disebutkan: “Sesungguhnya seseorang mengucapkan sebuah kalimat yang mendatangkan kemarahan Allah sedang ia tidak menyadari akibatnya, sehingga membuatnya tersungkur ke dalam api neraka lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Ia tidak memperhitungkan baik buruknya ucapan itu.”

Bersambung ke bagian 10