Hukum Membuka Lahan

11 Mar

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para Imam Madzab sepakat tentang dibolehkannya tanah yang mati dihidupkan [dibuka] untuk ditanami. Dibolehkan juga membuka lahan yang mati dalam negara Islam bagi orang Islam.
Apakah orang dzimmi pun dibolehkan atau tidak? Maliki, Syafi’i dan Hambali berpendapat tidak boleh. Hanafi dan ash-hab-nya berpendapat dibolehkan.

Apakah dalam mebuka tanah yang mati itu disyaratkan harus ada izin dari imam [penguasa]? Dalam masalah ini Para Imam madzab berselisih pendapat. Hanafi: diperlukan izinnya.

Maliki: tanah yang terletak pada padang-padang yang terpencil jauh, atau merupakan tanah yang tidak bersengketa [diperebutkan orang] maka tidak perlu izin dari Imam [kepala negara, penguasa]. Adapun tanah yang dekat dengan perkampungan dan memungkinkan diperebutkan orang, diperlukan izin dari kepala negara. Syafi’i dan Hambali: tidak perlu izin kepala negara.

Para Imam madzab berbeda pendapat, jika tanah tersebut dimiliki orang, lalu pemiliknya mati dan ditinggalkan beberapa lamanya, apakah dapat dimiliki tanah tersebut dengan cara dihidupkan kembali? Hanafi dan Maliki: dapat dimiliki dengan cara itu. Syafi’i: tidak dapat dimiliki. Dari Hambali diperoleh dua riwayat, seperti kedua pendapat di atas. Hanya menurut pendapat yang kuat, beliau membolehkan dimiliki.

Dengan apa memiliki tanah yang dihidupkan itu? Menurut Hanafi dan Hambali: dengan memberinya pematang dengan batu, dan menghasilkan air untuknya jika dijadikan kebun. Adapun jika dijadikan rumah, dengan memagari tembok meskipun belum diberi atap. Menurut Maliki dengan cara melakukan sesuatu yang sudah dikenal oleh adat setempat, dengan perbuatan tersebut artinya sudah dihidupkan, seperti mendirikan rumah, menanam pohon, menggali sumur, dan sebagainya. Menurut Syafi’i jika hal itu untuk ditanami, dengan ditanaminya dan menggali sumur. Jika untuk didiaminya, dengan mendirikan bangunan rumah dan memberi atap.

Para Imam madzab berbeda pendapat tentang batasan kebiasaan membuat sumur. Hanafi: jika sumur itu diperuntukkan memberi minum unta jarak batasnya 40 hasta. Jika untuk penyiraman jaraknya 60 hasta. Dan jika untuk mata air jaraknya 300 hasta [dalam riwayat lain Hanafi berpendapat 500 hasta]. Karena itu jika ada orang yang hendak menggali dalam jarak batasan tersebut, harus dicegahnya. Maliki dan Syafi’i: tidak ada batasan tertentu, tetapi dikembalikan kepada kebiasan adat setempat. Hambali: kalau di tanah mati jarak batasan 25 hasta, dan jika tanah biasa 50 hasta. Adapun jika untuk mata air 500 hasta.

Rumput yang tumbuh pada tanah yang dimiliki, apakah menjadi milik orang yang memiliki tanah? Hanafi: tidak dimilikinya, karena itu jika seseorang mengambil rumput tersebut, ia pun menjadi pemiliknya. Syafi’i: dimiliki oleh orang yang memiliki tanah.

Dari Hambali diperoleh dua riwayat pendapat, dan pendapat yang paling jelas adalah sebagaimana pendapat Hanafi, yaitu tidak dimiliki oleh pemilik tanah. Maliki: jika tanah tersebut dipagari, rumputnya menjadi hak pemilik tanah. Adapun jika tidak dipagarinya, bukan miliknya.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang sesuatu yang lebih dari keperluan orang, keperluan binatangnya, dan keperluan tanamannya, seperti air yang ada di sungai atau dalam sumur.

Menurut pendapat Maliki jika sumur dan sungai berada di tanah lapang, pemiliknya berhak sekadar kebutuhannya, dan ia wajib memberi kelebihan itu jika diminta. Jika sumur atau sungai tersebut berada di dalam pagar, ia tidak diharuskan memberikan lebihnya air itu, kecuali kepada tetangganya yang menanam suatu tanaman, yang sumurnya sedang rusak atau tidak keluar airnya. Bila demikian keadaannya ia wajib memberinya jika tetangganya meminta, sampai sumur tetangganya itu diperbaiki atau keluar airnya. Adapun jika tetangganya itu tidak mau memperbaiki sumurnya, tidak wajib memberikan terus-menerus, dan ia pun dibolehkan memungut bayaran. Namun dalam riwayat lain Maliki berpendapat tidak boleh memungut bayaran.

Hanafi dan para ulama pengikut Syafi’i: hukumnya wajib diberikan untuk minuman orang dan hewan tanpa dipungut bayaran, tetapi tidak wajib diberikan orang lain untuk keperluan tanamannya, dan boleh ia memungut bayaran, sedangkan yang lebih baik tidak dipungut bayaran. Dari Hambali diperoleh dua riwayat pendapat. Pendapat yang lebih kuat wajib diberikan dengan tidak memungut bayaran, baik air itu untuk binatang maupun untuk tanamannya, dan tidak boleh dijual.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: