Arsip | 16.39

DO’A KETIKA MENGENAKAN PAKAIAN BARU

2 Apr

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

DO’A KETIKA MENGENAKAN PAKAIAN BARU:

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ.

“Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada-Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang ia diciptakan karena-nya”.

Doa Ketika Mengenakan Pakaian

2 Apr

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

Doa Ketika Mengenakan Pakaian:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِن ْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.

“Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-pada-Nya tanpa daya dan kekuatan dari-ku.”

&

Bacaan Ketika Bangun Tidur

2 Apr

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

1. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاناَ بَعْـدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

1.“Segala puji bagi Allah Yang membangunkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan”.

2. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَـرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ رَبِّ اغْفِرْ ليِ.

2.“Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Ya Tuhanku, ampunilah dosaku”.

3. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

3.“Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan kesehatan kepada-ku, mengembalikan ruh dan merestuiku untuk berdzikir kepada-Nya”.

ali imraan ayat 190-200

4. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah bagi kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung ”.

&

Keutamaan Berdzikir

2 Apr

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

 

Allah  berfirman:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)” (QS. Al Baqarah: 152)

“Hai orang-orang yang beriman ber-dzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut nama-Nya)” (QS. Al Ahzaab: 41)

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung” (QS. Al Ahzaab: 35).

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al A’raf: 205)
Rasulullah  bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang menyebut (nama) Tuhannya dengan orang yang tidak menyebut (nama)-Nya, laksana orang hidup dengan orang yang mati ”.
Rasulullah  juga bersabda:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ الله َفِيْهِ وَ الْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ الله فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk zikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuknya, laksana orang hidup dengan yang mati”.
Rasulullah  juga bersabda:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فيِ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرَقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى.

“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu dari-pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Mau wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah yang Maha Tinggi”.

Allah  Yang Maha Tinggi berfirman (Dalam hadits Qudsi):

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْراً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعاً وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعاً وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

“Aku terserah persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”.

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَاِئعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“Dari Abdullah bin Busr  dia berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah! sesungguhnya syari’at Islam telah banyak aku terima, oleh karena itu, beri tahulah aku sesuatu hal buat peganganku”. Beliau bersabda: “Tidak henti-hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya) ”.

مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ لَكَ ((آلـم)) حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif Laaam Miim, satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf ”.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ الله  وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ: أَيـُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِي مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلىَ الْمَسْجِدِ فَيُعَلِّم، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ.

“Dari Uqbah bin Amir  berkata: “Rasulullah  keluar, sedangkan kami berada di serambi masjid (Madinah). Lalu beliau bersabda: “Siapakah diantara kamu yang senang berangkat pagi setiap hari ke Buthan atau Al Aqiq, lalu kembali dengan membawa dua unta yang besar punuknya tanpa mengerjakan dosa dan memutus silaturrahmi?” kami (yang hadir) berkata: “Yaa kami senang ya Rasulullah!”, lalu beliau bersabda: “Seseorang di antara kamu berangkat pagi ke mesjid, lalu mengajar atau membaca dua ayat Al Qur’an, hal itu lebih baik baginya daripada dua unta. Dan (bila mengajar atau membaca) tiga (ayat) akan lebih baik daripada memperoleh tiga (unta). Dan (bila membaca atau mengajar) empat ayat akan lebih baik baginya daripada memperoleh empat (unta) dan dari seluruh bilangan unta”.
Rasulullah  bersabda:

مَنْ قَعَدَ مَقْعَداً لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَـتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَــــعَ مَضْجَـعاً لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ.

“Siapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka dia akan mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah. Barang siapa yang berbaring di suatu tempat, lalai tidak berdzikir kepada Allah, maka dia akan mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi dari Allah”.

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِساً لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ.

“Apabila suatu kaum duduk di majlis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi-Nya, niscaya mereka mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah. Apabila Allah berkehendak, maka Dia akan menyiksa mereka; dan apabila tidak, Allah akan mengampuni dosa mereka”.

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةٌ

“Setiap kaum yang berdiri dari suatu majlis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka mereka laksana berdiri dari bangkai keledai dan mereka akan menyesal (di hari kiamat) ”.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (25)

2 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 45“45. dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (an-Nuur: 45)

Allah menyebutkan kekuasaan-Nya yang Mahasempurna dan kerajaan-Nya yang Mahaagung dengan menciptakan berbagai jenis makhluk dalam bentuk, rupa, warna dan gerak-gerik yang berbeda dari satu unsur yang sama, yaitu air.

Firman Allah: fa minHum may yamsyii ‘alaa bathniHii (“Sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya”) seperti ular dan sejenisnya. Wa minHum may yamsyii ‘alaa rijlaini (“sebagian berjalan dengan dua kaki.”) seperti manusia dan burung. Wa min Hum may yamsyii ‘alaa arba’ (“Sedang sebagian [yang lain] berjalan dengan empat kaki”) seperti hewan ternak dan binatang-binatang lainnya. Oleh karena itu, Allah berfirman: yakhluqu may yasyaa-u (“Allah menciptakan apa yang yang dikehendaki-Nya”) yakni menciptakan dengan kekuasaan-Nya, karena apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Oleh karena itu Allah menutup firman-Nya : innallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”)

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 46“46. Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (an-Nuur: 46)

Allah menegaskan bahwa Dia banyak sekali menurunkan hikmah, hukum dan permisalan yang jelas dan muhkam dalam al-Qur’an ini. Allah swt. mengajak Ulil Albaab, Ulil Bashaa-ir dan Ulin NuHaa supaya memahami dan memikirkannya. Karena itu Allah berfirman: wallaaHu yaHdii may yasyaa-u ilaa shiraatim mustaqiim (“Dan Allah menunjukki siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”)

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 47-52“47. dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan Kami mentaati (keduanya).” kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. 48. dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. 49. tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. 50. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya Berlaku zalim kepada mereka? sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zalim. 51. Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. 52. dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan[1046].” (an-Nuur: 47-52)

Allah swt. menceritakan karakter kaum munafik yang menampakkan semua yang bertentangan dengan apa yang terselip di dalam hati. Mereka mengatakan dengan lisan mereka: aamannaa billaaHi wa birrasuuli wa atha’naa tsumma yatawallaa fariiqum minHum mim ba’di dzaalika (“Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati [keduanya], kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu.”) ucapan mereka menyelisihi amal perbuatan mereka. mereka mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Oleh karen itu Allah befirman: wa maa ulaa-ika bil mu’miniin (“Sekali-sekali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”)

Firman Allah: wa idzaa du’uu ilallaaHi wa rasuuliHii liyahkuma bainaHum (“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum [mengadili] di antara mereka.”) yakni jika mereka diminta untuk mengikuti hidayah yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, mereka berpaling darinya dan menolak untuk mengikutinya dengan sikap sombong.

Firman Allah: wa iy yakul laHumul haqqu ya’tuu ilaiHi mudz’iniin (“Tetapi jika keputusan itu untuk [kemaslahatan] mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh.”) yakni jika keputusan hukum menguntungkan mereka dan tidak merugikan mereka, maka mereka datang dengan patuh dan taat, itulah makna dari “mudz’iniin”. Jika keputusan hukum tidak menguntungkan mereka, maka mereka pun berpaling darinya dan mengajak untuk berhukum kepada yang tidak haq serta menghendaki agar berhukum kepada selain Rasulullah saw. demi mendukung kebathilan mereka.

Firman Allah: a fii quluubiHim maradlun (“Apakah [ketidak datangan mereka itu karena] dalam hati mereka ada penyakit.”) yakni tidak ada alternatif lain selain hati mereka telah terjangkiti penyakit yang selalu menyertai atau keraguan tentang agama ini telah masuk ke dalam hati mereka atau mereka khawatir Allah dan Rasul-Nya berlaku dhalim dalam menetapkan hukum. Apa pun alternatifnya, tindakan mereka itu merupakan kekufuran yang nyata. Allah Mahatahu tentang mereka semua dan siapa saja yang memiliki karakter seperti itu.

Firman Allah: bal ulaa-ika Humudh dhaalimuun (“Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dhalim”) yakni pada hakekatnya merekalah orang-orang yang dhalim dan fajir, Allah dan Rasul-Nya terlepas dari apa yang mereka sangka dan perkirakan, yaitu sangkaan akan berlaku dhalim dan curang. Mahasuci Allah dan Rasul-Nya dari hal tersebut.

Kemudian Allah menceritakan sifat kaum Mukminin yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya: innamaa kaana qaulal mu’miniina idzaa du’uu ilallaaHi wa rasuuliHii liyahkuma bainaHum ay yaquulu sami’naa wa atha’naa (“Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami patuh.’”) yakni kami mendengar dan mematuhinya. Oleh sebab itu Allah mensifati mereka sebagai orang-orang yang beruntung, yaitu yang berhasil meraih apa yang diinginkan dan selamat dari apa yang ditakuti. Allah berfirman: wa ulaa-ika Humul muflihuun (“Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”).

Firman Allah: wa may yuthi’illaaHa wa rasuulaHuu (“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya”) Qatadah mengatakan: “Mentaati Allah dan Rasul-Nya dengan mengerjakan segala perkara yang telah diperintahkan dan meninggalkan segala perkara yang telah dilarang, takut kepada Allah terhadap dosa yang telah dilakukannya dan bertakwa kepada-Nya untuk masa yang akan datang.

Firman Allah: fa ulaa-ika Humul faa-izuun (“Maka mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”) yaitu merekalah orang-orang yang menang dan memperoleh segala kebaikan dan aman dari segala keburukan di dunia dan di akhirat.

Bersambung ke bagian 26

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (24)

2 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 41-42“41. tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. 42. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” (an-Nuur: 41-42)

Allah mengabarkan bahwa seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi, mulai dari malaikat, manusia, jin, hewan sampai benda mati, bertasbih kepada Allah swt. seperti yang disebutkan dalam ayat lain: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.” (al-Israa’: 44)

Firman Allah: wath-thairu shaaffaatin (“[juga] burung dengan mengembangkan sayapnya.”) yakni burung bertasbih kepada Rabbnya pada saat terbang di angkasa, beribadah kepada-Nya dengan ucapan tasbih yang diilhamkan dan diajarkan kepadanya, burung itu tahu apa yang harus dilakukan. Oleh sebab itu Allah berfirman: kullun qad ‘alima shalaataHuu wa tasbiihaHu (“Masing-masing telah mengetahui [cara] shalat dan tasbihnya.”) yakni semua makhluk telah diajari cara dan metode beribadah kepada Allah swt.

Kemudian Allah mengabarkan bahwa Allah Mahamengetahui semua itu, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Oleh karena itu Allah befirman: wallaaHu ‘aliimum bimaa yaf’aluuna (“Dan Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan.”) kemudian Allah mengabarkan bahwa kepunyaan-Nya lah langit dan bumi. Dialah hakim yang mengatur, Ilah yang berhak diibadahi, ibadah yang tidak patut ditunjukkan kecuali kepada-Nya semata, tidak ada satupun yang dapat menyanggah keputusan-Nya.

Firman Allah: wa ilallaaHil mashiir (“Dan kepada Allah lah kembali [semua makhluk]”) pada hari kiamat, Dia menghukum menurut kehendak-Nya.

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 43-44“43. tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan. 44. Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (an-Nuur: 43-44)

Allah menyebutkan bahwa Dia mengarak awan dengan kekuasaan-Nya. Pada awal penciptaannya dalam kondisi lemah, itulah yang disebut “izjaa’”. Firman Allah: tsumma yu-allafu bainaHu (“Kemudian mengumpulkan antara [bagian-bagian]nya.”) yakni Dia mengumpulkan setelah berserakan di sana-sini. Firman Allah: tsumma yaj’aluHuu rukaaman (“kemudian menjadikannya bertindih-tindih”) yakni saling tumpang-tindih, yang satu di atas yang lain. Firman Allah: fataral wadaqa (“Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya.”) al-wadqu artinya hujan. Yakhruju min khilaaliHi (“Keluar dari celah-celahnya”) ‘Abdullah bin ‘Abbas dan adh-Dhahhak membacanya “khilaaliHi”.

Firman Allah: wa yunazzilu minas samaa-i min jibaalin fiiHaa mim baradin (“Dan Allah juga menurunkan [butiran-butiran] es dari langit, [yaitu] dari [gumpalan-gumpalan awan seperti] gunung-gunung.”) sebagian ahli nahwu mengatakan kata “min” yang pertama untuk menunjukkan permulaan, sedang “min” yang kedua untuk menunjukkan bagian, sementara “min” yang ketiga untuk menunjukkan jenis. Pendapat ini berdasarkan kepada perkataan sebagian ahli tafsir bahwa firman Allah: min jibaalin fiiHaa min barada; maknanya, di atas langit terdapat gunung-gunung es, di situlah Allah menurunkan butiran-butiran es. Adapun bagi yang mengartikannya sebagai kinayah [arti kiasan] dari gumpalan awan, maka “min”yang kedua untuk menunjukkan permulaan, kedudukannya adalah badal bagi “min” yang pertama. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: fa yushiibu biHii may yasyaa-u wa yashrifuHu ‘am may yasyaa-u (“Maka, ditimpakan-Nya [butiran-butiran] es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya.”) kemungkinan maksud dari firman Allah, fa yushiibu biHii: “Maka ditimpakan-Nya” yaitu dengan menurunkan dua jenis hujan dari langit, hujan biasa dan hujan es. Berarti firman Allah: fa yushiibu biHii may yasyaa-u (“Maka ditimpakan-Nya [butiran-burtiran] es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”) sebabagai rahmat dari-Nya.

Dan firman Allah: wa yashrifuHuu ‘am may yasyaa-u (“Dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya”) yaitu turunnya hujan ditunda untuk mereka. dan kemungkinan juga firmannya fa yushiibu biHii: “Maka ditimpakan-Nya” yaitu butiran-butiran es tersebut sebagai balasan dari-Nya terhadap siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena hujan es dapat merusak buah-buah mereka dan menghancurkan tanaman-tanaman dari pepohonan mereka. dan Allah memalingkannya dari siapa ayng dikehendaki-Nya sebagai bentuk rahmat dari-Nya untuk mereka.

Firman Allah: yakaadu sanaabarqiHi yadzHabu bil abshaar (“kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”) yakni kilauan sinar kilatnya hampir-hampir saja menghilangkan penglihatan mereka jika dipandangi dan dilihat.

Firman Allah: yuqallibullaaHul laila wan naHaara (“Allah mempergantikan malam dan siang”) yaitu Allah mengatur pergantian keduanya. Allah swt. yang memanjangkan siang dan memendekkan malam, memendekkan siang dan memanjangkan malam sehingga keduanya menjadi seimbang. Dialah yang memanjangkan siang yang sebelumnya pendek dan memendekkan malam yang sebelumnya panjang. Dialah yang mengatur panjang pendeknya siang dan malam dengan perintah, kekuasaan, keagungan dan ilmu-Nya.

Firman Allah: inna fii dzaalika la’ibratal li ulil abshaar (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan”) yakni menjadi tanda-tandan kebesaran dan keagungan Allah swt.

Bersambung ke bagian 25

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (23)

2 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 39-40“39. dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. 40. atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila Dia mengeluarkan tangannya, Tiadalah Dia dapat melihatnya, (dan) Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah Tiadalah Dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (an-Nuur: 39-40)

Ini merupakan dua perumpamaan yang Allah sebutkan untuk dua jenis manusia kafir. Adapun yang pertama adalah perumpamaan orang kafir yang mengajak pada kekafirannya, ia merasa berada pada perbuatan dan keyakinan yang benar, namun sebenarnya mereka tidak berada di atas kebenaran. Perumpamaan mereka adalah seperti fatamorgana di tanah yang datar yang terlihat dari jauh seolah lautan luas. Kata “qii’atun” adalah bentuk jamak dari kata “qaa’un” seperti halnya kata “jaa’un” bentuk jamaknya “jii’aanun”. Dan kata “alqaa’un” juga merupakan bentuk tunggal dari kata “alqii’aanun” seperti halnya “jaarun” bentuk tunggal dari kata “jiiraanun”, artinya adalah tanah datar yang luas dan terhampar, biasanya di atasnya terlihat fatamorgana.

Fatamorgana biasanya terlihat pada tengah hari. Adapun “al-aalu” (fatamorgana) adalah fatamorgana yang terlihat pada pagi hari, terlihat seolah seperti air di antara langit dan bumi. Apabila orang yang membutuhkan air melihat fatamorgana ini, ia pasti mengira bahwa di sana terdapat air, lalu iapun mendatanginya dengan harapan mendapat air dan minum darinya. Ketika sampai di sana ternyata ia tidak mendapatkan apa yang diharapkannya. Demikianlah orang kafir yang mengira telah melakukan amal-amal kebaikan. Ia mengira telah mendapat sesuatu, kemudian tatkala Allah membalasnya pada hari kiamat dan menghisab dan memintanya pertanggungjawaban amal perbuatannya, ia mendapati amalnya itu merupakan sesuatu yang tidak diterima sama sekali. Kadangkala karena tidak ikhlas dan kadangkala karena tidak mengikuti aturan syariat.

Seperti yang Allah sebutkan dalam ayat lain yang artinya: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu [bagaikan] debu yang beterbangan.” (al-Furqaan: 23). Dalam ayat ini Allah berfirman: wa wajadallaaHu ‘indaHuu fawaffaaHu hisaabaHu, wallaaHu sarii’ul hisaab (“Dan didapatinya [ketetapan] Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup.”)

Demikianlah yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Mujahid, Qatadah dan yang lainnya. Dalam ash-Shahihain disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti akan ditanyakan kepada orang Yahudi: “Apa yang dahulu kamu sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah ‘Uzair putera Allah.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kalian dusta, Allah tidak pernah mengambil anak, lalu apa yang kalian inginkan?” mereka berkata: “Ya Rabbi, kami haus, berilah kami minum.” Lalu dikatakan: “Tidakkah kalian lihat?” lalu menjelmalah api neraka menjadi fatamorgana yang saling menghanguskan satu sama lain. Mereka pun berlari sambil berseru. Ini merupakan perumpamaan orang-orang jahil murakkab [orang bodoh sekali].

Adapun orang-orang jahil basith [orang bodoh] mereka laksana tomat busuk, yang bisa bertaklid kepada pemimpin-pemimpin kafir, bisu, tuli dan tidak dapat berfikir. Perumpamaan mereka seperti disebutkan oleh Allah: au kadhulumaatin fii bahril lujjiyyi (“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam.”) Qatadah mengatakan, “bahr lujji”artinya lautan yang dalam.

Firman Allah: yaghsyaaHu maujum min fauqiHii maujum min fauqiHii sahaabun dhulumaatum ba’dluHaa fauqa ba’dlin idzaa akhraja yadaHuu lam yakad yaraaHaa (“Yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak [pula], di atasnya [lagi] awan; gelap gulita yang tindih menindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir ia tiada bisa melihatnya.”) artinya nyaris ia tidak dapat melihatnya karena sangat gelap. Ini adalah perumpamaan hati orang kafir yang jahil basith muqallid [ahli taqlid] yang tidak dapat mengetahui hakekat orang yang menggiringnya dan tidak tahu mau dibawa kemana. Seperti yang disebutkan tentang permisalan seorang jahil yang ditanya: “Anda akan pergi kemana?” ia menjawab: “Pergi bersama mereka.” lalu ditanya lagi: “Kemanakah mereka pergi?” Ia menjawab: “Aku sendiri tidak tahu.”

Berkaitan dengan firman Allah: dhulumaatum ba’dluHaa fauqa ba’dlin (“Gelap gulita yang tindih-menindih”) Ubay bin Ka’ab berkata: “Ia tidak terlepas dari lima kegelapan; Perkataannya gelap, amalnya gelap, tempat masuknya gelap, tempat keluarnya gelap dan tempat kembalinya pada hari kiamat [menuju] kepada kegelapan yakni ke neraka.”
As-Suddi dan ar-Rabi’ bin Anas juga mengatakan hal serupa.

Firman Allah: wa mal lam yaj’alillaaHu laHuu nuuran famaa laHuu min nuur (“[dan] barangsiapa yang tidak diberi cahaya [petunjuk] oleh Allah, tidaklah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”) yakni barangsiapa tidak diberi petunjuk oleh Allah, maka ia pasti binasa, jahil, terhalang, hancur dan kafir. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya yang artinya: “Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tidak ada orang yagn memberi petunjuk.” (al-A’raaf: 186)

Ini adalah lawan dari apa yang disebutkan tentang perumpamaan kaum Mukminin: “Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.” (an-Nuur: 25). Kita memohon kepada Allah Yang Mahaagung, semoga menjadikan cahaya dalam hati kita, di kanan dan kiri kita, dan membesarkan cahaya itu bagi kita.

Bersambung ke bagian 24

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (22)

2 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

Dianjurkan bagi siapa saja yang memasuki masjid agar mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan doa seperti yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari (diriwayatkan oleh Abu Dawud) dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra, dari Rasulullah saw. bahwasannya apabila masuk masjid, beliau berdoa: a’uudzubillaaHil ‘adhiim, wa bi wajHil kariim, wa sulthaaniHil qadiim, minasy-syaithaanir rajiim (“Aku berlindung kepada Allah yang Mahaagung dan wajah-Nya yang mulia, serta kekuasaan-Nya yang qadiim dari godaan syaithan yang terkutuk.” Beliau bersabda: “Apabila seseorang mengucapkan demikian, maka syaithan akan mengatakan: ‘Orang ini telah dijaga dariku seluruh harinya.’”

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Humaid atau Abu Usaid, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang dari kamu masuk ke dalam masjid, hendaklah ia mengucapkan: AllaaHummaftah lii abwaaba rahmatika (‘Ya Allah, bukakanlah untukku pintu rahmat-Mu’), dan apabila keluar dari masjid ucapkanlah: AllaaHumaa inii as-aluka min fald-lika (‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagian dari rahmat-Mu.’)”
Diriwayatkan juga oleh an-Nasa-i dari keduanya, dari Rasulullah saw.

Firman Allah: wa yudzkara fiiHasmuHuu (“Dan disebut nama-Nya di dalamnya.”) yakni asma’ Allah. Ibnu ‘Abbas berkata: “Yakni dibacakan Kitab-Nya di dalamnya.”

Firman Allah: yusabbihu laHuu fiiHaa bilghuduwwi wal aashaal (“Bertasbihlah kepada Allah pada waktu pagi dan petang”) yakni pada waktu pagi dan waktu petang. Kata “al-ashalu” adalah bentuk jamak dari kata “ashiilun” yaitu penghujung siang. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. ia menyebutkan bahwa yang dimaksud “alghuduwwun” adalah shalat shubuh dan yang dimaksud dengan “al-ashaalu” adalah shalat ‘ashar. Keduanya adalah shalat yang pertama kali Allah wajibkan, karena itulah disukai penyebutannya di sini agar hamba-hamba-Nya selalu mengingatnya. Demikianlah yang dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri dan adh-Dhahhak, yakni maksudnya adalah shalat.

Sejumlah qari membacanya “yusabbahu laHuu” (dengan memfathahkan huruf “ba”) dalam bentuk kata kerja pasif, untuk itu bacaan berhenti pada kata “al-aashaalu” lalu bacaan dimulai lagi pada kata: rijaalun laa talHiiHim tijaaratuw walaa bai’un ‘an dzikrillaaH (“laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak [pula] oleh jual beli dari mengingat Allah”) seakan menerangkan fa’il [pelaku] yang tidak disebutkan pada kalimat pasif tersebut.
Seakan dikatakan: “Siapakah yang mensucikan nama-Nya itu?” Maka jawabannya: “Rijaalun [laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan…].”

Adapun bagi yang membacanya dengan mengkasrahkan huruf “ba”, yakni: “Yusabbihu laHuu” menjadikannya sebagai kata kerja aktif dan pelakunya adalah “rijaalun” (lelaki), maka tidak boleh waqaf (berhenti) kecuali pada fa’il, karena dengan demikian, kalimat tersebut sempurna.

Firman Allah: rijaalun [“para lelaki”] mengesankan tekad, niat dan ‘azam mereka yang kuat dan tinggi untuk menjadi orang-orang yang memakmurkan masjid yang merupakan rumah Allah di bumi-Nya, tempat beribadah kepada-Nya, bersyukur, mentauhidkan dan mensucikan-Nya. seperti: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah dijanjikan kepada Allah.” (al-Ahzaab: 23)

Adapun kaum wanita, mengerjakan shalat di rumah adalah lebih baik bagi mereka. berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Shalat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada shalat di sekitar rumahnya. Dan shalatnya di dalam kamarnya lebih baik daripada shalat di dalam rumahnya.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ummu Salamah ra. dari Rasulullah saw. beliau berkata: “Sebaik-baik masjid bagi kaum wanita adalah di dalam ruangan rumahnya.”

Namun ia boleh mengikuti jama’ah kaum pria dengan syarat tidak mengganggu kaum pria, misalnya dengan menonjolkan perhiasan atau aroma parfum. Seperti yang diriwyatkan dalam kitab ash-Sahih, dari ‘Abdullah bin ‘Umar ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian melarang kaum wanita mendatangi masjid.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Dan dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud ditambahkan: “Meski sebenarnya tetap di rumah lebih baik bagi mereka.”
Dalam riwayat lain ditambahkan: “Hendaklah mereka mendatanginya dengan tidak mengenakan wewangian.” Yakni tidak mengeluarkan aroma parfum dari tubuh mereka. dalam shahih Muslim diriwayatkan dari Zainab, istri ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah saw. berkata kepada kami: “Jika salah seorang dari kamu [kaum wanita] ingin mendatangi masjid, janganlah ia memakai wewangian.”

Dalam kitab ash-Shahihain diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Dahulu para wanita Mukminah mengikuti shalat fajar berjamaah bersama Rasulullah saw. kemudian mereka kembali dengan mengenakan kain untuk menutupi tubuh mereka. mereka tidak dapat dikenali karena hari masih gelap.”

Masih dalam ash-Shahihain, juga dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Sekiranya Rasulullah melihat apa yang dilakukan oleh kaum wanita sekarang, tentu beliau akan melarang mereka pergi ke masjid sebagaimana dilarangnya kaum wanita bani Israil.”

Firman Allah: rijaalun laa tulHiiHim tijaaratuw wa laa bai’un ‘an dzikrillaaHi (“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak [pula] oleh jual beli dari mengingat Allah.”) Sama seperti firman-Nya yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalikanmu dari mengingat Allah.” (al-Munaafiquun: 9)

Allah berfirman bahwa mereka tidak disibukkan dengan dunia, gemerlapnya, perhiasannya, kelezatan jual beli dan keuntungan dari mengingat Allah yang telah menciptakan mereka dan memberi rizky. Mereka tahu bahwa apa yang tersedia di sisi-Nya lebih baik dan lebih bermanfaat daripada apa yang ada di tangan mereka. karena segala sesuatu yang mereka miliki pasti fana dan apa-apa yang ada di sisi-Nya pasti kekal abadi. oleh karena itu Allah berfirman: rijaalun laa tulHiiHim tijaaratuw wa laa bai’un ‘an dzikrillaaHi wa iqaamish shalaati wa iitaa-iz zakaati (“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak [pula] oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayar zakat.”) yakni mereka lebih mengutamakan ketaatan, keinginan dan kecintaan-Nya daripada keinginan dan kecintaan diri mereka.

‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, berkaitan dengna firman Allah: rijaalun laa tulHiiHim tijaaratuw wa laa bai’un ‘an dzikrillaaHi (“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak [pula] oleh jual beli dari mengingat Allah.”) yakni dari mengerjakan shalat fardlu. Demikian pula Muqatil bin Hayyan dan ar-Rabi’ bin Anas mengatakan hal serupa. As-Suddi mengatakan: “Yakni dari mengerjakan shalat berjamaah.”

Muqatil bin Hayyan mengatakan: “Tidak dilalaikan oleh hal itu dari menghadiri shalat dan menegakkannya seperti yang diperintahkan oleh Allah, menjaga waktu-waktunya yang telah Allah perintahkan untuk dijaga.”

Firman Allah: yakhaafuuna yauman tatalaqqabu fiiHil quluubu wal abshaar (“Mereka takut kepada suatu hari yang [di hari itu] hati dan penglihatan menjadi goncang.”) pada hari kiamat yang membuat hati dan penglihatan tergoncang karen takut yang sangat akan keadaan yang mengerikan.

Firman Allah: liyajziyaHum min fadl-liHi (“[Mereka mengerjakan yang demikian itu] supaya Allah memberi balasan kepada mereka [dengan balasan] yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”) yakni mereka termasuk orang-orang yang amal kebaikan mereka diterima dan kesalahan-kesalahan mereka dimaafkan.

Firman Allah: wa yaziidaHum min fadl-liHi (“Dan supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka.”) yaitu amal-amal kebaikan mereka diterima dan dilipatgandakan. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain yang artinya: “Barangsiapa datang membawa amal yang banik, maka baginya [pahala] sepuluh kali lipat amalnya.” (al-‘An’am: 160)

Ayat ini ditutup dengan firman-Nya: wallaaHu yarzuqu may yasyaa-u bighairi hisaab (“dan Allah memberi rizky kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”)

Bersambung ke bagian 23

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (21)

2 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 36-38“36. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, 37. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. 38. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan Balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (an-Nuur: 36-38)

Setelah menyebutkan perumpamaan hati orang Mukminin, Allah menyebutkan tempatnya yaitu masjid-masjid yang tidak lain adalah tempat yang paling disukai Allah, masjid adalah rumah Allah, tempat hamba-hamba-Nya beribadah dan mengesakan-Nya.

Firman Allah: fii buyuutin adzinallaaHu an turfa’a (“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk memuliakan,”) yaitu yang telah diperintahkan untuk dipelihara dan dijaga kebersihannya dari kotoran dan dari perkataan atau perbuatan yang sia-sia yang tidak layak dilakukan di dalamnya. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abi Thalhah dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. berkaitan dengan firman Allah: fii buyuutin adzinallaaHu an turfa’a (“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk memuliakan,”) beliau berkata: “Allah telah melarang perbuatan sia-sia di dalamnya.” Qatadah mengatakan: “Maksudnya adalah masjid-masjid yang telah Allah perintahkan untuk membangun, memakmurkan, memuliakan dan menjaga kebersihannya.”

Banyak sekali hadits yang berisi anjuran untuk membangun masjid, menghormati, memuliakan, mengelokkan dan mewangikannya. Di antaranya: diriwayatkan dari Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa membangun masjid semata-mata mengharap wajah Allah, niscaya Allah akan membangun untuknya rumah seperti itu di dalam surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk membangun masjid di kampung-kampung kami dan membersihkannya serta mengelokkannya.” (HR Ahmad dan para penulis sunan kecuali an-Nasa’i)

Bukhari meriwayatkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab ra. berkata: “Bangunlah masjid untuk masyarakat yang cukup untuk menaungi mereka, janganlah mewarnainya merah atau kuning karena dapat mengganggu kekhusyukan mereka.”

Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Akut tidak diperintahkan untuk membangun masjid.” ‘Abdullah bin ‘Abbas mengatakan: “Yakni menghiasinya seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani menghiasi tempat ibadah mereka.”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia berbangga-bangga dengan bangunan-bangunan masjid.”

Diriwayatkan dari Buraidah, ia bercerita: Seorang lelaki mencaci barangnya yang hilang di dalam masjid. Ia bertanya: “Siapakah yang melihat untaku yang berwarna merah?” Rasulullah saw. menjawab: “Engkau tidak akan menemukannya! Sesungguhnya masjid dibangun untuk tujuan tersendiri [yakni untuk shalat dan dzikrullah].” (HR Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjual beli di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya: ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan dari jual belimu!’ dan apabila kalian melihat seseorang mencari barangnya yang hilang di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya: ‘Semoga Allah tidak mengambalikannya kepadamu!’” (HR Tirmidzi, ia berkata: “Hadits ini hasan gharib.”)

Ibnu Majah dan yang lainnya telah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra. secara marfu’ dari Rasulullah saw.: “Beberapa perkara yang tidak boleh dilakukan di dalam masjid: jangan menjadikan masjid sebagai tempat melintas, jangan menghunus pedang / senjata di dalamnya, jangan menarik tali busur panah di dalamnya, jangan menaburkan anak panah di dalamnya, jangan lewat di dalamnya dengan membawa daging mentah, jangan melaksanakan hukum hadd di dalamnya, jangan melakukan hukum qishash di dalamnya, jangan menjadikannya sebagai pasar [tempat jual beli].”

Diriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqa’ ra, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Jauhkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak, orang gila, jual beli, perdebatan, suara hingar bingar, pelaksanaan hudud [hukuman] dan janganlah menghunus pedang di dalamnya. Buatlah tempat wudlu dan berilah wewangian pada hari-hari Jum’at.” (HR Ibnu Majah, namun sanad kedua riwayat di atas Dlaif)

Masalah larangan melintas masjid, sebagian ulama menganggap makruh melintas di dalam masjid apabila ada alternatif jalan lain untuk lewat, kecuali untuk suatu keperluan. Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa para Malaikat heran melihat seorang lelaki melintas dalam masjid namun ia tidak shalat di dalamnya.

Masalah larangan menghunus senjata, menarik tali busur panah dan menaburkan anak panah dalam masjid, disebabkan dapat mencederai orang lain, karena banyak orang-orang yang shalat di dalamnya. Oleh karena itu Rasulullah saw. memerintahkan siapa saja yang melintas dalam masjid dengan membawa senjata, hendaklah mengamankan bagian yang tajam agar tidak melukai orang lain seperti yang diriwayatkan dalam kitab ash-Shahih.

Masalah larangan membawa daging mentah dalam masjid, karena dikhawatirkan tetesan darahnya akan mengotori masjid, sebagaimana halnya wanita haidh dilarang lewat di dalamnya karena dikhawatirkan akan mengotori masjid.

Larangan melaksanakan hukum hadd dan qishash di dalam masjid, karena dikhawatirkan akan menimbulkan kotoran di dalamnya dari percikan darah orang yang dihukum pancung atau potong tangan.

Larangan menjadikannya sebagai pasar [tempat jual beli], karena masjid dibangun untuk dzikrullah dan shalat seperti disabdakan oleh Rasulullah saw. kepada seorang Arab Badui yang buang air kecil di sudut masjid: “Sesungguhnya masjid tidak dibangun untuk ini [buang hajat], namun dibangun untuk dzikrullah dan shalat di dalamnya.” Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan agar dibawa seember air lalu disiramkan ke atas kencingnya.” (HR Bukhari)

Imam Bukhari meriwayatkan dari as-Sa-ib bin Yazid ak-Kindi, ia berkata: Suatu ketika aku berada di masjid Nabawi, tiba-tiba seseorang melemparku dengan kerikil kecil. Aku melihatnya ternyata orang itu ‘Umar bin al-Kahththab ra. ia berkata: “Pergi dan bawalah kedua lelaki itu kemari.” Maka akupun membawa kedua lelaki yang dimaksud ke hadapan beliau. ‘Umar bertanya: “Dari mana kalian berdua?” “Dari Tha’if,” jawab mereka berdua. ‘Umar berkata: “Sekiranya kalian berdua berasal dari kota ini [yakni Madinah] niscaya aku pukul kalian! Karena kalian mengangkat suara di dalam masjid Rasulullah saw.!”

Dalam ash-Shahihain telah diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Shalat seorang lelaki berjamaah dilipatgandakan nilainya sebanyak dua puluh lima kali daripada shalatnya di rumah atau di kedainya. Yaitu bilamana seseorang dari kamu berwudlu dan menyempurnakan wudlunya, kemudian ia pergi ke masjid, tidak ada yang mengeluarkannya dari rumah selain untuk mengerjakan shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kakinya melainkan Allah angkat derajatnya satu tingkat dan menghapus kesalahannya. Apabila ia telah mengerjakan shalat maka malaikat selalu mendoakannya selama ia berada di tempat shalatnya, para malaikat berkata: ‘Ya Allah, berilah shalawat atasnya, ya Allah rahmatilah dia.’ ia tetap berada dalam shalat selama ia dalam keadaan menunggu shalat.”

Dalam marfu’ yang dikeluarkan oleh ath-Thabrani disebutkan: “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuai di masjid.” (di-dlaif-kan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dlaiful Jami’ [6297]

Dalam kitab Sunan disebutkan: “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan malam berupa cahaya yang sempurna pada hari kiamat nanti.”

Bersambung ke bagian 22

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (20)

2 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

Firman Allah: matsalu nuuriHii (“Perumpamaan cahaya-Nya”) ada dua pendapat berkaitan dengan dlamir [kata ganti orang ketiga] dalam ayat ini:

1. Dlamir tersebut kembali kepada Allah, yakni perumpamaan petunjuk-Nya dalam hati seorang Mukmin seperti miyskaah [lobang yang tak tembus]. Demikian dikatakan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas.

2. Dhamir tersebut kembali kepada orang-orang mukmin yang disebutkan dalam konteks kalimat, yakni perumpamaan cahaya seorang Mukmin yang ada dalamhatinya misykaah. Hati seorang Mukmin disamakan dengan fitrahnya, yaitu hidayah dan cahaya al-Qur’an yang diteriman yang sesuai dengan fitrahnya, seperti disebutkan dalam ayat lain yang artinya: “Apakah [orang-orang kafir itu sama dengan] orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata [al-Qur’an] dari Rabbnya, dan diikuti pula oleh seorang saksi [Muhammad] dari Allah.” (Huud: 17)

Allah menyamakan kemurnian hati seorang Mukmin dengan lentera dari kaca yang tipis dan mengkilat, menyamakan hidayah al-Qur’an dan syariat yang dimintanya dengan zaitun yang bagus lagi jernih, bercahaya dan tegak, tidak kotor dan tidak bengkok. Firman Allah: kamisy-kaatin (“seperti sebuah lubang yang tak tembus”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Muhammad bin Ka’ab dan lain-lain mengatakan: “Misykah adalah tempat sumbu pada lampu, itulah makna yang paling masyhur.”
Firman Allah: fiiHaa mishbaah (“Yang di dalamnya ada pelita besar”) yaitu cahaya yang terdapat di dalam lentera. Ubay bin Ka’ab mengatakan: “Mishbaah adalah cahaya, yaitu al-Qur’an dan iman yang terdapat dalam dada seorang Mukmin.”

Firman Allah: al mishbaahu fii zujaajaH (“pelita itu di dalam kaca”) cahaya tersebut memancar dalam kaca yang bening. Ubay bin Ka’ab dan para ulama lainnya mengatakan: “Maksudnya adalah perumpamaan hati seorang Mukmin.” Firman Allah: az-zujaajatu ka-annaHaa kaukabun durriyyun (“[dan] kaca itu seakan-akan bintang [yang bercahaya] seperti mutiara.”) sebagian qari’ membacanya “durriy” tanpa hamzah di akhir kata, yakni seakan-akan bintang seperti mutiara. Sebagian lainnya membacanya “durriyyun” dan “durrii-un” atau “dirrii-un” dengan kasrah dan dlamah huruf daal dan dengan hamzah, diambil dari kata “ad-dar-u” artinya lontaran. Karena bintang apabila dilontarkan akan lebih bercahaya daripada kondisi-kondisi lainnya. Bangsa Arab menyebut bintang-bintang yang tidak diketahui namanya dengan sebutan “daraariy”. Ubay bin Ka’ab mengatakan: “Yakni bintang-bintang yang bercahaya”

Firman Allah: yuuqadu min syajarati mubaarakati (“Yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya”) yaitu berasal dari minyak zaitun, pohon yang penuh berkah, yakni pohon zaitun. Dalam kalimat, kedudukan kata “zaituunatin” adalah badal atau ‘athaf bayan.

Firman Allah: laa syarqiyyatiw walaa gharbiyyatin (“Yang tumbuh tidak di sebelah timur [sesuatu] dan tidak pula di sebelah barat[nya].”) tempat tumbuhnya bukan di sebelah timur hingga tidak terkena sinar matahari di awal siang dan bukan di sebelah barat hingga tertutupi bayangan sebelum matahari terbenam, namun terletak di tengah, terus disinari matahari sejak pagi hingga sore. Sehingga minyak yang dihasilkan jernih, sedang, dan bercahaya.

Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab tentang firman Allah: laa syarqiyyatiw walaa gharbiyyatin (“Yang tumbuh tidak di sebelah timur [sesuatu] dan tidak pula di sebelah barat[nya].”) beliau berkata: “Yakni pohon zaitun yang hijau dan segar yang tidak terkena sinar matahari, bagaimanapun kondisinya, baik ketika matahari terbit maupun matahari terbenam.” Beliau melanjutkan: “Demikianlah seorang mukmin yang terpelihara dari fitnah-fitnah. Adakalanya dia terkena fitnah, namun Allah meneguhkannya, dia selalu berada dalam empat keadaan berikut: jika berkata ia jujur, jika menghukum ia berlaku adil, jika diberi cobaan ia bersabar, dan jika diberi ia bersyukur. Keadaannya di antara manusia lainnya seperti seorang yang hidup berjalan di tengah-tengah kubur orang-orang yang sudah mati. Zain bin Aslam mengatakan: “Maksud firman Allah:
laa syarqiyyatiw walaa gharbiyyatin (“Yang tumbuh tidak di sebelah timur [sesuatu] dan tidak pula di sebelah barat[nya].”), yaitu negeri Syam.”

Firman Allah: yakaadu zaituHaa yudlii-u walau lam tamsasHu naarun (“[yaitu] yang minyaknya [saja] hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.”) Abdurrahman bin Za’id bin Aslam mengatakan: “Yakni, disebabkan kilauan minyak yang bercahaya. Firman Allah: nuurun ‘alan nuur (“Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis]”), al-Aufi meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa maksudnya adalah iman seorang hamba dan amalnya. Ubay bin Ka’ab berkata tentang firman Allah: nuurun ‘alan nuur (“Cahaya di atas cahaya [berlapis-lapis]”) yakni tidak lepas dari lima cahaya: perkataannya adalah cahaya, amalnya adalah cahaya, tempat masuknya adalah cahaya, tempat keluarnya adalah cahaya, tempat kembalinya adalah cahaya pada hari kiamat, yakni surga.
As-Suddi mengatakan: “Maksudnya adalah, cahaya api dan cahaya minyak, apabila bersatu akan bersinar, keduanya tidak akan bersinar dengan sendirinya jika tidak berpasangan. Demikian pula cahaya al-Qur’an dan cahaya iman manakala bersatu, tidak akan bercahaya kecuali kecuali keduanya bersatu.”

Firman Allah: yaHdillaaHu linuuriHii may yasyaa-u (“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ‘Abdullah bin ‘Amr ra. bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian Allah memberi cahaya-Nya kepada mereka. barangsiapa mendapat cahaya-Nya pada saat itu, berarti ia telah mendapat petunjuk dan barangsiapa tidak mendapatkannya berarti ia telah tersesat. Oleh karena itu, aku katakan: ‘Al-Qur’an [penulis takdir] dari ilmu Allah telah kering.’”

setelah menyebutkan perumpamaan cahaya-Nya dan hidayah-Nya dalam hati seorang Mukmin, Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: wa yadl-ribullaaHul amtsaala linnaasi wallaaHu bikulli syai-in ‘aliim (“Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”) yaitu Allah Mahamengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak disesatkan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hati itu ada empat macam: pertama qalbun ajrad [hati yang polos tak bernoda] di dalamnya seperti ada pelita yang bersinar. Kedua qalbun aghlaf [hati yang tertutup] yang terikat tutupnya. Ketiga qalbun mankuus [hati yang terbalik]. Keempat qalbun mushffah [hati yang berlapis]. Adapun qalbun ajrad adalah hati seorang Mukmin, pelita dalam hatinya adalah cahaya. Qalbun aghlaf adalah hati seorang kafir, qalbun mankuus adalah hati seorang munafik, yang mengetahui kemudian mengingkari. Qalbun mushffah adalah hati yang di dalamnya bercampur antara iman dan nifak, iman yang ada di dalamnya seperti tanman yang disirami air segar dan nifak yang ada di dalamnya seperti bisul yang disirami darah dan nanah, mana ada dua unsur di atas yang lebih dominan, maka itulah yang akan menguasai hatinya.” (sanadnya bagus, namun tidak diriwayatkan oleh penulis-penulis kitab hadits lainnya)

&