Arsip | 16.48

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (31)

4 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 63“63. janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nuur: 63)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa ia berkata: “Mereka dahulu mengatakan: ‘Hai Muhammad! Hai Abul Qasim!’ Kemudian Allah melarang mereka dari hal itu untuk mengagungkan Nabi-Nya saw. Rasulullah saw. berkata: ‘Katakanlah: Ya NabiyallaH, ya Rasulallah!’” demikian dikatakan oleh Mujahid dan Sa’id bin Jubair. Qatadah berkata: “Allah memerintahkan agar memuliakan, mengagungkan dan meninggikan Nabi-Nya saw.”

Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam berkaitan dengan firman Allah: laa taj’aluu du’aa-i ba’dlakum ba’dlan (“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian [yang lain].”) yaitu janganlah kamu mengira doa beliau atas orang lain seperti doa orang-orang lainnya. Karena doa beliau mustajab. Hati-hatilah jangan sampai beliau berdoa atas kalian sehingga kalian binasa. Demikianlah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, al-Hasan al-Bashri dan ‘Athiyah al-‘Aufi, wallaHu a’lam.

Firman Allah: qad ya’lamullaaHulladziina yatasallaluuna minkum liwaadzan (“Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung [kepada kawannya].’) Muqatil bin Hayyan berkata: “Mereka adalah kaum munafik, mereka merasa berat mendengarkan khutbah pada hari Jum’ah. Mereka berlindung dibalik para shahabat Nabi untuk keluar dari masjid. Padahal seorang pun tidak boleh keluar masjid pada hari Jum’ah kecuali dengan izin Rasulullah saw. setelah beliau menyampaikan khutbah. Apabila salah seorang dari mereka ingin keluar, maka ia memberi isyarat dengan jari kepada beliau tanpa berbicara, berulah beliau memberikan izin. Sebab, apabila mereka berbicara sementara beliau sedang berkhutbah, maka batallah Jum’ah-nya.

As-Suddi berkata: “Dahulu, apabila kaum munafik duduk bersama Rasulullah saw. salam sebuah masjid, sebagian mereka berlindung di balik yang lainnya kemudian menghilang tanpa terlihat oleh beliau.”

Firman Allah: fal yahdzaril ladziina yukhaalifuuna ‘an amriHii (“Maka hendaklah orang yang menyalahi perintah-Nya takut.”) yakni perintah Rasulullah saw., yaitu manhajnya, metodenya, sunnahnya dan syariatnya. Semua perkataan dan perbuatan diukur dengan perkataan dan perbuatan beliau. Mana yang bersesuaian dengannya harus diterima dan mana yang bertentangan harus ditolak, siapapun orangnya. Seperti yang disebutkan dalam kitab ash-Shahihain dan kitab lainnya, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mengerjakan amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalahnya itu tertolak.”

Yakni hendaklah orang-orang yang menyelisihi syariat Rasulullah saw. lahir maupun batin merasa takut tertimpa fitnah, yakni hati mereka terkena fitnah kekufuran, kemunafikan atau bid’ah. Atau mereka tertimpa adzab yang pedih, yakni di dunia dengan ditegakkannya hukuman dan hudud atau sanksi atau jenis hukuman lainnya. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:

“Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang lelaki yang menyalakan api. Ketika api itu mulai menerangi sekitarnya, ia membentangkan tikar. Kemudian kupu-kupu dan serangga-serangga yang biasa jatuh ke api berjatuhan ke dalamnya. Lalu lelaki itu berusaha mencegahnya. Namun serangga-serangga itu memperdayanya, lalu masuk ke dalam api. Begitulah perumpamaanku dengan kalian, aku berusaha mencegah kalian dari api seraya berseru, hindarilah api itu! Namun kalian memperdayai aku, lalu kalian masuk ke dalam api.” (HR Bukhari dan Muslim, dari hadits ‘Abdurrazzaq).

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 64“64. ketahuilah Sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui Keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. dan Allah Maha mengehui segala sesuatu.” (an-Nuur: 64)

Allah mengabarkan bahwa Dia lah pemilik langit dan bumi, bahwa Dia mengetahui perkara yang ghaib dan yang nyata. Dia Mahamengetahui apa yang dikerjakan oleh para hambanya, yang rahasia maupun yang nyata. Allah berfirman: qad ya’lamu maa antum ‘alaiHi (“Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya [sekarang].”) “qad” di sini berfungsi sebagai tahqiq [penunjuk kepastian]. Seperti dalam bacaan iqamat: qad qaamatish shalaatu qad qaamatish shalaatu.

Firman Allah: qad ya’lamu maa antum ‘alaiHi (“Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya [sekarang].”) yaitu Dia mengetahui dan menyaksikannya, tidak ada sebiji dzarrah pun yang tersembunyi dari-Nya. dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya: “Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang merek lahirkan.” (Huud: 5)

Firman Allah: wa yauma yurja’uuna ilaiHi (“Dan [mengetahui pada] hari [manusia] dikembalikan kepada-Nya.”) yaitu hari semua manusia dikembalikan kepada Allah, yaitu hari kiamat. Firman Allah: fa yunabbi-uHum bimaa ‘amiluu (“Lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”) yaitu mengabarkan kepada mereka tentang apa saja yang telah mereka lakukan dulu di dunia, berupa perbuatan mulia maupun perbuatan hina, perkara kecil maupun besar. Kemudian Allah berfirman: wallaaHu bikulli syai-in ‘aliim (“Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu”)

Walhamdu lillaaHi Rabbil ‘aalamiin Nas-aluHut Tamaam.
Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (30)

4 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

Firman Allah: fa idzaa dakhaltum buyuutan fasallamuu ‘alaa anfusikum (“Maka apabila kamu memasuki [suatu rumah dari] rumah-rumah [ini], hendaklah kamu memberi salam kepada [penghuninya berarti memberi salam] kepada dirimu sendiri.”) Sa’id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri dan az-Zuhri berkata: “Yakni hendaklah sebagian kalian mengucapkan salam kepada sebagian yang lainnya.”

Mujahid berkata: “Jika engkau memasuki masjdi Nabawi, ucapkanlah salam kepada Rasulullah saw. Jika engkau masuk ke dalam rumahmu untuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam kepada mereka. jika engkau masuk ke dalam rumah yang tidak ada seorang pun di dalamnya, ucapkanlah: assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadish shaalihiin (“Semoga kesejahteraan tercurah atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih”).

Firman Allah: tahiyyatam min ‘indillaaHi mubaarakatan thayyibatan (“Salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi baik.”) Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari ‘Abdullah bin’Abbas, bahwa beliau berkata: “Sesungguhnya tasyaHud diambil dari Kitabullah, aku mendengar Allah berfirman: “Fa idzaa dakhaltum buyuutan fa sallimuu ‘alaa anfusikum tahiyyatam min ‘indillaaHi mubaarakatan thayyibatan (“Maka apabila kamu memasuki [suatu rumah dari] rumah-rumah [ini], hendaklah kamu memberi salam kepada [penghuninya berarti memberi salam] kepada dirimu sendiri, Salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi baik.”)

Firman Allah: kadzaalika yubayyinullaaHu lakumul aayaati la’allakum ta’qiluun (“Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.”) setelah menyebutkan hukum-hukum yang muhkam, ketentuan-ketentuan syariat yang jelas dan tegas, Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya bahwa Dia telah menjelaskan ayat-ayat di atas dengan jelas dan terang kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mentadabburinya dan memahaminya, semoga mereka dapat memahaminya.

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 62“62. Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nuur: 62)

Ini merupakan pelajaran dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Sebagaimana Dia telah memerintahkan mereka untuk meminta izin apabila masuk ke rumah orang lain, demikian pula Dia memerintahkan mereka supaya meminta izin apabila hendak kembali. terutama bila mereka dalam sebuah pertemuan bersama Rasulullah saw., seperti shalat Jum’ah,’Ied, jama’ah, pertemuan musyawarah atau pertemuan-pertemuan lainnya.

Allah memerintahkan mereka agar jangan membubarkan diri dalam kondisi seperti itu kecuali setelah meminta izin dan berkonsultasi dengan beliau. Barangsiapa melakukan hal itu, berarti ia termasuk orang-orang yang beriman dan orang-orang yang sempurna. Kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya saw., apabila seseorang dari mereka meminta izin, agar beliau memberinya izin jikalau beliau berkehendak. Oleh karena itu Allah berfirman: fa’dzal liman syi’ta minHum wastaghfir laHumullaaHa… (“Berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampun untuk mereka kepada Allah…”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasannya ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang dari kamu mendatangi majelis, hendaklah ia memberi salam. Jika ia ingin beranjak, hendaklah ia memberi salam. Salam yang pertama tidaklah lebih utama daripada salam yang kedua.”
Demikianlah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari hadits Muhammad bin ‘Ajlan. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan.”

Bersambung ke bagian 31

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (29)

4 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 61“61. tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, Makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu Makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (an-Nuur: 61)

Ahli tafsir berbeda pendapat tentang alasan pemberian dispensasi kepada orang buta, orang pincang dan orang sakit yang disebutkan dalam ayat ini.

‘Atha’ al-Khurasani dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan jihad, mereka menyamakan ayat ini dengan ayat yang terdapat dalam surah al-Fath yang berkenaan dengan masalah jihad. Yaitu tidak ada dosa atas mereka untuk meninggalkan jihad karena kelemahan dan ketidakmampuan mereka. dan seperti yang disebutkan dalam surah at-Taubah yang artinya:

“91. tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, 92. dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (at-Taubah: 91-92)

Adh-Dahhak berkata: “Sebelum datang Islam, mereka [orang buta, orang pincang dan orang sakit] merasa minder makan bersama orang-orang normal karena merasa diri mereka kotor dan rendah.”

Firman Allah: wa laa ‘alaa anfusikum an ta’kuluu mim buyuutikum (“Dan tidak [pula] bagi dirimu sendiri, makan [bersama-sama mereka] di rumahmu sendiri.”) hal ini sengaja disebutkan meskipun hukumnya sudah dimaklumi. Termasuk juga rumah anak sendiri. Karena tidak disebutkan di ayat ini. Oleh karena itu, sebagian ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil bahwa harta anak kedudukannya sama dengan harta ayahnya.

Dalam kitab al-Musnad dan as-Sunan telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.”

Firman Allah: au buyuuti aabaa-ikum au buyuuti ummaHaatikum –sampai firman-Nya:- au maa malaktum mafaatihaHu (“Atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu…..(sampai firman-Nya): di rumah yang kamu miliki kuncinya.”) makna ayat sudah jelas, ayat ini juga dipakai sebagai dalil bagi sebagian ulama yang mewajibkan nafkah kepada sesama karib kerabat, sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya. Ini merupakan madzab Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambal dalam riwayat yang masyhur dari mereka berdua.

Adapun Firman Allah: au maa malaktum mafaatihaHu (“Di rumah yang kamu miliki kuncinya”) Sa’id bin Jubair dan as-Suddi mengatakan: “Mereka adalah para khadim, yaitu budak dan para pelayan, mereka boleh makan dari makanan yang disimpan dengan cara yang ma’ruf.”

Firman Allah: au shadiiqikum (“atau di rumah kawan-kawanmu”) yaitu di rumah teman-teman dan para shahabat, kalian boleh makan di rumah mereka jika kalian tahu hal itu tidak menyusahkan mereka dan mereka tidak membencinya.

Laisa ‘alaikum junaahun an ta’kuluu jamii’an au asytaatan (“Tidak ada halangan bagimu makan bersama-sama mereka atau sendirian.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwaatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas berkaitan dengan ayat ini, ketika Allah menurunkan ayat: walaa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathil (“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.”) (al-Baqarah: 188). Beliau berkata: “Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya Allah telah melarang kita memakan harta sebagian yang lain di antara kita dengan cara yang bathil, dan makanan adalah harta kita yang utama. Tidak halal bagi seorang pun makan di rumah orang lain.” Maka kaum Muslimin pun meninggalkan kebiasan seperti itu. Lalu Allah menurunkan: laisa ‘alal a’maa harajuw walaa ‘alal a’raji harajun…(sampai firman-Nya): au shadiiqikum (“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak [pula] bagi orang pincang…(sampai firman-Nya): atau di rumah kawan-kawanmu.”) sebelumnya mereka juga merasa risih dan merasa keberatan makan sendiri sehingga ada orang lain yang menemaninya.

Lalu Allah memberi dispensasi bagi mereka. turunlah ayat: Laisa ‘alaikum junaahun an ta’kuluu jamii’an au asytaatan (“Tidak ada halangan bagimu makan bersama-sama mereka atau sendirian.”) ini merupakan dispensasi dari Allah swt. untuk makan sendirian atau makan bersama-sama, meskipun makan bersama lebih banyak berkahnya atau lebih utama. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Wahsyi bin Harb, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa seorang lelaki berkata keapda Rasulullah saw.: “Kami makan tetapi tidak merasa kenyang.” Rasulullah bersabda: “Barangkali kalian makan berpencar-pencar. Makanlah bersama, sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberkahi kalian pada makanan itu.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadits al-Walid bin Muslim)

Bersambung ke bagian 30

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (28)

4 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 58-60“58. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. 59. dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. 60. dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) Menampakkan perhiasan, dan Berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Bijaksana.” (an-Nuur: 58-60)

Ayat yang mulia ini mencakup masalah permintaan izin kepada karib kerabat, sebagian mereka atas sebagian yang lainnya. Pada awal surah telah disebutkan tata cara meminta izin kepada ajaanih [bukan karib kerabat], sebagian mereka atas sebagian yang lainnya. Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar para pelayan yang mereka miliki dan anak-anak yang belum baligh meminta izin kepada mereka pada tiga waktu:

1. Pertama, sebelum shalat shubuh, karena biasanya orang-orang pada waktu itu sedang nyenyak tidur di pembaringan mereka.
2. Kedua, wa hiina tadla’uuna tsiyaabakum minadh-dhaHiirati (“ketika kamu menanggalkan pakaian [luar]mu di tengah hari.”) yaitu pada waktu siang hari, karena pada waktu itu orang-orang melepas pakaian mereka untuk bersantai bersama keluarga.
3. Ketiga, wa mim ba’di shalaatil ‘isyaa-i (“sesudah shalat ‘isya’”) karena pada waktu itu adalah waktunya tidur, pelayan dan anak-anak diperintahkan agar tidak masuk menemui ahli bait pada waktu-waktu tersebut, karena dikhawatirkan seseorang sedang bersama istrinya atau sedang melakukan hal-hal yang bersifat pribadi.

Oleh sebab itu Allah berfirman: tsalaastu ‘auraatil lakum laisa ‘alaikum wa laa ‘alaiHim junaahum ba’daHunn (“[Itulah] tiga aurat bagimu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak [pula] atas mereka selain dari [tiga waktu] itu.”) yakni jika mereka masuk pada waktu di luar tiga waktu tersebut, dan tidak ada dosa atas kamu bila membuka kesempatan untuk mereka [masuk] dan tiada dosa atas mereka bila melihat sesuatu di luar tiga waktu tersebut. Mereka telah diizinkan masuk menemui kalian, karena mereka keluar masuk untuk melayanimu atau untuk urusan lainnya. Para pelayan yang biasa keluar masuk diberi dispensasi yang tidak diberikan kepada selain mereka. oleh karena itu, Imam Malik, Imam Ahmad dan penulis kitab Sunan meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang kucing: “Ia [kucing] tidaklah najis, karena ia selalu berkeliaran di sekitar kalian.”

Ayat ini adalah ayat muhkam, tidak mansukh dan kaum Muslimin yang mengamalkannya pun sangat sedikit, oleh karena itu ‘Abdullah bin ‘Abbas mengingkari perbuatan mereka itu. Di antara bukti ayat ini muhkam yang tidak mansukh adalah firman Allah: thawwafuuna ‘alaikum kadzaalika yubayyinullaaHu lakumul aayaati wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”)

Kemudian firman Allah: wa idzaa balaghal athfaalu minkumul huluma falyasta’dzanuu kamas ta’dzanal ladziina min qabliHim (“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka meminta izin.”) yakni apabila anak-anak yang sebelumnya harus meminta izin pada tiga waktu yang telah disebutkan di atas, apabila mereka telah mencapai usia baligh, mereka wajib meminta izin di setiap waktu, yakni terhadap orang-orang asing dan di waktu-waktu yang mana seorang sedang bersama istrinya, walaupun di luar tiga waktu tersebut.

Al-Auza’i meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, ia mengatakan: “Apabila seorang anak masih balita, ia harus meminta izin kepada kedua orang tuanya [bila ingin masuk menemui keduanya di dalam kamar] pada tiga waktu tersebut, dan apabila telah mencapai usia baligh, ia harus meminta izin di setiap waktu.”
Demikian pula dikatakan oleh Sa’id bin Jubair. Ia berkata berkaitan dengan firman Allah: kamas ta’dzanal ladzinna min qabliHim (“Seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin”) yakni seperti halnya orang-orang dewasa dari putera seseorang atau dari kalangan karib kerabatnya wajib meminta izin.

Firman Allah: wal qawaa’idu minan nisaa-i (“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti [dari haidh dan mengandung]”) Sa’id bin Jubair, Muqatil bin Hayyan, adh-Dahhak dan Qatadah mengatakan: “Mereka adalah wanita yang terputus dari haidh dan tidap punya harapan melahirkan anak.”

Firman Allah: allatii laa yaarjuuna nikaahan (“Yang tidak ingin kawin [lagi]”) yakni tidak ada keinginan mereka untuk kawin lagi.
Falaisa ‘alaiHinna junaahun ay yadla’na tsiyaabaHunna ghaira mutabarrijaatim biziinatin (“Tidaklah dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka.”) ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Yakni jilbab dan kerudung.” Demikian pula diriwayatkan dari ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abusy Sya’tsaa, Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, az-zuhri, al-Auza’i dan selain mereka.

Berkenaan dengan firman Allah: mutabarrijaatim biziinatin (“Dengan tidak [bermaksud] menampakkan perhiasan”) Sa’id bin Jubair berkata: “Janganlah mereka menampakkan perhiasan dengan melepas jilbab agar terlihat perhiasan yang mereka pakai.”
Wa ay yastaghfifna khailul laHunna (“Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka”) yaitu dengan tidak melepas pakaian mereka meskipun hal itu tidak boleh dilakukan, itu lebih baik dan lebih afdlal bagi mereka. Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.

Bersambung ke bagian 29

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (27)

4 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

Firman Allah: wa layumakkinna laHum diinaHumul ladzir tadlaa laHum (“dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlai-Nya untuk mereka.”) dan ayat seterusnya.

Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw. kepada ‘Adi bin Hatim ra. ketika ia datang menemui Rasulullah saw.: “Pernahkah engkau singgah di kota Heerat?” ‘Adi menjawab: “Aku belum pernah melihatnya, tetapi aku pernah mendengar tentangnya.” Rasulullah berkata: “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah pasti akan menyempurnakan urusan ini hingga seorang wanita bersafar dari Heraat sampai ke Baitullah al-Haram dan thawaf di situ tanpa ada seorang pun yang mengawalnya. Dan umat ini akan menguasai kerajaan Kisra bin Hurmuz.” Aku [‘Adi bin Hatim] berkata: “Kisra bin Hurmuz?” Nabi menjawab: “Ya Kisra bin Hurmuz dan akan dibagi-bagikan harta hingga tak ada seorang pun yang mau menerimanya lagi.”

‘Adi bin Hatim berkata: “Wanita ini bersafar dari Heraat sampai ke Baitullah al-Haram lalu thawaf di situ tanpa seorangpun yang mengawalnya. Sungguh aku termasuk salah seorang yang menaklukkan kerajaan Kisra bin Hurmuz. Dan demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, akan terjadi penaklukan ketiga kalinya karena Rasulullah saw. telah mengatakannya demikian.” (HR Ahmad dan al-Baghawi, bagian akhir diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalur lain)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Berilah kabar gembira bagi umat ini berupa kedudukan yang mulia, derajat yang tinggi, agama yang teguh, pertolongan dan kekuasaan di atas muka bumi. Barangsiapa dari mereka yang beramal amalan akhirat untuk kepentingan dunia, maka ia tidak akan memperoleh bagian sedikitpun di akhirat.”

Firman Allah: ya’buduunanii laa yusyrikuunabii syai-an (“Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku.”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwa Mu’adz bin Jabal ra. bercerita kepadanya:

Ketika aku berbonceng di belakang Rasulullah saw. di atas seekor keledai, tidak ada penghalang antara aku dengan beliau kecuali ujung pelana. Beliau berkata: “Hai Mu’adz.” “Labbaika yaa Rasulullah wa sa’daik.” Jawabku. Kemudian beliau berjalan sesaat dan berkata: “Hai Mu’adz bin Jabal!” “Labbaika yaa Rasulullah wa sa’daik.” Jawabku. Kemudian beliau berjalan sesaat dan berkata lagi: “Hai Mu’adz bin Jabal!” “Labbaika yaa Rasulullah wa sa’daik.” Jawabku. Beliau berkata: “Tahukah engkau apakah hak Allah atas para hamba-Nya?” Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau berkata: “Hak Allah atas para hamba adalah mereka harus beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Kemudian beliau berjalan sesaat lalu berkata: “Hai Mu’adz bin Jabal!” “Labbaika yaa Rasulullah wa sa’daik.” Jawabku. “Tahukah engkau apa hak hamba yang pasti dipenuhi Allah apabila mereka menunaikan hak-Nya itu?” tanya beliau. Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah Dia tidak akan mengadzab mereka [apabila mereka memenuhi hak-Nya tadi].”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari jalur Qatadah.

Firman Allah: wa man kafara ba’da dzaalika fa ulaa-ika Humul faasiquun (“Dan barangsiapa yang [tetap] kafir sesudah [janji] itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”) yakni barangsiapa tidak mentaatiku setelah peringatan ini, berarti ia telah keluar dari perintah Rabbnya dan cukuplah itu menjadi dosa besar baginya. Para shahabat adalah manusia yang paling teguh memegang perintah-perintah Allah setelah Rasulullah saw. yang paling taat kepada-Nya, oleh karena itulah Allah menolong mereka sehingga mereka mengibarkan kalimat Allah di timur dan di barat. Dan memberi dukungan yang besar sehingga mereka memerintah umat manusia dan negeri-negeri mereka. ketika manusia setelah zaman shahabat mulai longgar memegang sebagian perintah agama, kekuasaan mereka pun berkurang.

Akan tetapi, dalam kitab ash-Shahihain telah diriwayatkan dari beberapa jalur, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Akan senantiasa ada satu golongan dari umatku yang tegak di atas kebenaran, tidak merugikan mereka orang-orang yang mengacuhkan mereka dan tidak juga orang-orang yang menyelisihi mereka sampai hari kiamat.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Hingga datang ketentuan Allah, sementara mereka tetap berada di atasnya.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “Hingga mereka memerangi Dajjal.”
Dalam riwayat lain: “Hingga turun ‘Isa bin Maryam dan mereka memperoleh kemenangan.”
Semua riwayat di atas shahih dan tidak bertentangan satu sama lainnya.

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 56-57“56. dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat. 57. janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat melemahkan (Allah dari mengazab mereka) di bumi ini, sedang tempat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka. dan sungguh Amat jeleklah tempat kembali itu.” (an-Nuur: 56-57)

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar menegakkan shalat, yaitu beribadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan menunaikan zakat, yaitu berbuat baik kepada para makhluk yang lemah dan fakir. Dan dalam melaksanakannya hendaklah mereka mentaati Rasulullah saw. yakni berjalan di bawah perintah beliau dan meninggalkan apa yang dilarang. Semoga dengan itu Allah akan merahmati mereka. tidak diragukan lagi bahwa siapapun yang melaksanakan hal itu maka Allah pasti akan merahmatinya. Seperti yang difirmankan Allah yang artinya: “Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)

Firman Allah: laa tahsabanna (“Janganlah kamu kira”) yaitu janganlah kamu sangka hai Muhammad, alladziina kafaruu (“orang-orang kafir itu”) yakni orang-orang yang menyelisihimu dan mendustakanmu. Mu’jiziina fil ardli (“dapat melemahkan [Allah dari mengadzab mereka] di bumi ini.”) yakni mereka tidak akan dapat melemahkan Allah, bahkan Allah berkuasa atas mereka dan akan mengadzab mereka dengan adzab yang sangat pedih. Oleh karena itu Allah berfirman: wa ma’waaHum (“sedang tempat tinggal mereka [di akhirat]”) yakni di kampung akhirat nanti, an naaru wa labi’sal mashiir (“Adalah neraka, dan sungguh amat buruklah tempat kembali itu”) yakni seburuk-buruk tempat kembali adalah tempat kembalinya orang-orang kafir, seburuk-buruk tempat tinggal dan tempat bermukim.

Bersambung ke bagian 28

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (26)

4 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 53-54“53. dan mereka bersumpah dengan nama Allah sekuat-kuat sumpah, jika kamu suruh mereka berperang, pastilah mereka akan pergi. Katakanlah: “Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diminta ialah) ketaatan yang sudah dikenal. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 54. Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (an-Nuur: 53-54)

Allah menceritakan perilaku orang munafik yang bersumpah kepada Rasulullah saw. bahwa jikalau beliau memerintahkan mereka keluar berperang, mereka pasti akan berangkat perang. Allah berfirman: qul laa tuqsimuu (“Janganlah kamu bersumpah”) yakni janganlah kamu mengucapkan sumpah. Firman Allah: thaa’atum ma’ruufatun (“Ketaatan yang sudah dikenal”) ada yang mengatakan bahwa maknanya, ketaatan kalian adalah ketaatan yang sudah dimaklumi, yakni sudah diketahui bersama bahwa ketaatan kalian hanyalah ucapan di bibir saja dan tidak akan kalian lakukan. Setiap kali bersumpah, kalian pasti berkata dusta. Seperti yang Allah ungkapkan: it takhadzuu aimaanaHum junnatan (“Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai”)( al-Munaafiquun: 2)

Salah satu watak dan tabiat mereka adalah suka berkata dusta, sampai-sampai dalam perkara yang mereka pilih. Ada yang mengatakan bahwa makna firman Allah: thaa’atum ma’ruufatun (“Kataatan yang sudah dikenal”) yakni hendaklah kalian taat dalam perkara ma’ruf tanpa harus bersumpah seperti halnya kaum Mukminin mentaati Allah dan Rasul-Nya tanpa bersumpah, jadilah seperti mereka.

Firman Allah: innallaaHa khabiirum bimaa ta’maluun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan”) yaitu Allah mengetahui keadaan kalian, ketaatan sementara dalam hati bertolak belakang meskipun manusia menerimanya, namun al-Khaliq mengetahui segala rahasia dan apa yang tersembunyi. Kemudian Allah mengatakan: qul athii’uullaaHa wa athii’ur rasuula (“Katakanlah: ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul”) yaitu ikutilah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”)

Firman Allah: fa in tawallau (“Dan jika kamu berpaling”) yaitu berpaling darinya dan meninggalkan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya. Firman Allah: fa innamaa ‘alaiHi maa hummila (“Maka sesungguhnya kewajiban Rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya.”) yaitu menyampaikan risalah Ilahi dan menunaikan amanat. Firman Allah: wa ‘alaikum maa hummiltum (“Kewajibanmu adalah apa yang dibebankan kepadamu”) yakni menerimanya, mengagungkannya, dan melaksanakan segala konsekuensinya. Firman Allah: wa in tuthii’uuHu taHtaduu (“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk”) karena Rasul mengajak kepada jalan yang lurus. Firman Allah: wa maa ‘alar rasuuli illal balaaghul mubiin (“Dan tidaklah kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan [amanat Allah] dengan terang”) sama seperti firman Allah yang artinya: “Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan, sedang Kamilah yang menghisab amalan mereka.” (ar-RA’du: 40)

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 55“55. dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nuur: 55)

Ini adalah janji Allah kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan menjadikan umat ini sebagai khalifah di muka bumi, yaitu menjadi pemimpin umat manusia dan penguasa mereka. di tangan mereka lah negeri-negeri akan menjadi baik. Umat manusia tunduk kepada mereka. dan Dia benar-benar akan merubah [keadaan] mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, menjadi hakim di tengah manusia. Allah swt. telah melaksanakan janji ini, segala puji dan karunia hanyalah milik-Nya. Dalam kitab ash-Shahih diriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah membentangkan bumi kepadaku sehingga aku dapat melihat belahan timur dan belahan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai belahan bumi yang telah dibentangkan kepadaku itu.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Urusan manusia akan senantiasa berjalan [dengan baik] selama diperintah oleh dua belas pemimpin.” Lalu beliau mengucapkan perkataan yang samar kudengar, lalu kutanyakan kepada ayahku tentang apa yang diucapkan Rasulullah saw. tadi. Ayahku berkata: kulluHum min Quraisyin (“Seluruhnya dari suku Quraisy”) hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Hadits ini merupakan dalil bahwa pasti akan muncul dua belas khalifah yang adil. Mereka bukanlah dari Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, karena banyak dari mereka tidak berada di atas petunjuk. Adapun dua belas khalifah ini seluruhnya berasal dari suku Quraisy, mereka memerintah dan berlaku adil.

Kabar gembira tentang mereka telah disebutkan dalam kitab-kitab suci terdahulu. Kemudian tidak menjadi syarat bahwa kemunculan mereka secara berurutan, namun bisa jadi berurutan dan bisa pula tidak berurutan. Empat dari mereka telah muncul secara berurutan. Mereka adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar, lalu ‘Utsman, kemudian ‘Ali ra. Kemudian terputus selama masa tertentu kemudian akan muncul lagi pada masa yang dikehendaki Allah, kemudian muncul pula sisanya pada waktu yang hanya Allah yang tahu. Di antaranya adalah al-Mahdi yang nama kun-yahnya sama persis dengan kunyah Rasulullah saw. Dia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan yang sebelumnya telah dipenuhi oleh kedhaliman dan kesewenang-wenangan.

Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmdizi dan an-Nasa’i telah meriwayatkan dari hadits Sa’id bin Juhman, dari Safinah maula Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Khilafah setelahku akan bertahan selama tigapuluh tahun. Kemudian akan muncul kerajaan turun-temurun.”

Bersambung ke bagian 27

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nuur (25)

4 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nuur (Cahaya)
Surah Madaniyyah; surah ke 24:64 ayat

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 45“45. dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (an-Nuur: 45)

Allah menyebutkan kekuasaan-Nya yang Mahasempurna dan kerajaan-Nya yang Mahaagung dengan menciptakan berbagai jenis makhluk dalam bentuk, rupa, warna dan gerak-gerik yang berbeda dari satu unsur yang sama, yaitu air.

Firman Allah: fa minHum may yamsyii ‘alaa bathniHii (“Sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya”) seperti ular dan sejenisnya. Wa minHum may yamsyii ‘alaa rijlaini (“sebagian berjalan dengan dua kaki.”) seperti manusia dan burung. Wa min Hum may yamsyii ‘alaa arba’ (“Sedang sebagian [yang lain] berjalan dengan empat kaki”) seperti hewan ternak dan binatang-binatang lainnya. Oleh karena itu, Allah berfirman: yakhluqu may yasyaa-u (“Allah menciptakan apa yang yang dikehendaki-Nya”) yakni menciptakan dengan kekuasaan-Nya, karena apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Oleh karena itu Allah menutup firman-Nya : innallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”)

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 46“46. Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (an-Nuur: 46)

Allah menegaskan bahwa Dia banyak sekali menurunkan hikmah, hukum dan permisalan yang jelas dan muhkam dalam al-Qur’an ini. Allah swt. mengajak Ulil Albaab, Ulil Bashaa-ir dan Ulin NuHaa supaya memahami dan memikirkannya. Karena itu Allah berfirman: wallaaHu yaHdii may yasyaa-u ilaa shiraatim mustaqiim (“Dan Allah menunjukki siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”)

tulisan arab alquran surat an nuur ayat 47-52“47. dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan Kami mentaati (keduanya).” kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. 48. dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. 49. tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. 50. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya Berlaku zalim kepada mereka? sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zalim. 51. Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. 52. dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan[1046].” (an-Nuur: 47-52)

Allah swt. menceritakan karakter kaum munafik yang menampakkan semua yang bertentangan dengan apa yang terselip di dalam hati. Mereka mengatakan dengan lisan mereka: aamannaa billaaHi wa birrasuuli wa atha’naa tsumma yatawallaa fariiqum minHum mim ba’di dzaalika (“Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati [keduanya], kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu.”) ucapan mereka menyelisihi amal perbuatan mereka. mereka mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Oleh karen itu Allah befirman: wa maa ulaa-ika bil mu’miniin (“Sekali-sekali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”)

Firman Allah: wa idzaa du’uu ilallaaHi wa rasuuliHii liyahkuma bainaHum (“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum [mengadili] di antara mereka.”) yakni jika mereka diminta untuk mengikuti hidayah yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, mereka berpaling darinya dan menolak untuk mengikutinya dengan sikap sombong.

Firman Allah: wa iy yakul laHumul haqqu ya’tuu ilaiHi mudz’iniin (“Tetapi jika keputusan itu untuk [kemaslahatan] mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh.”) yakni jika keputusan hukum menguntungkan mereka dan tidak merugikan mereka, maka mereka datang dengan patuh dan taat, itulah makna dari “mudz’iniin”. Jika keputusan hukum tidak menguntungkan mereka, maka mereka pun berpaling darinya dan mengajak untuk berhukum kepada yang tidak haq serta menghendaki agar berhukum kepada selain Rasulullah saw. demi mendukung kebathilan mereka.

Firman Allah: a fii quluubiHim maradlun (“Apakah [ketidak datangan mereka itu karena] dalam hati mereka ada penyakit.”) yakni tidak ada alternatif lain selain hati mereka telah terjangkiti penyakit yang selalu menyertai atau keraguan tentang agama ini telah masuk ke dalam hati mereka atau mereka khawatir Allah dan Rasul-Nya berlaku dhalim dalam menetapkan hukum. Apa pun alternatifnya, tindakan mereka itu merupakan kekufuran yang nyata. Allah Mahatahu tentang mereka semua dan siapa saja yang memiliki karakter seperti itu.

Firman Allah: bal ulaa-ika Humudh dhaalimuun (“Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dhalim”) yakni pada hakekatnya merekalah orang-orang yang dhalim dan fajir, Allah dan Rasul-Nya terlepas dari apa yang mereka sangka dan perkirakan, yaitu sangkaan akan berlaku dhalim dan curang. Mahasuci Allah dan Rasul-Nya dari hal tersebut.

Kemudian Allah menceritakan sifat kaum Mukminin yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya: innamaa kaana qaulal mu’miniina idzaa du’uu ilallaaHi wa rasuuliHii liyahkuma bainaHum ay yaquulu sami’naa wa atha’naa (“Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami patuh.’”) yakni kami mendengar dan mematuhinya. Oleh sebab itu Allah mensifati mereka sebagai orang-orang yang beruntung, yaitu yang berhasil meraih apa yang diinginkan dan selamat dari apa yang ditakuti. Allah berfirman: wa ulaa-ika Humul muflihuun (“Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”).

Firman Allah: wa may yuthi’illaaHa wa rasuulaHuu (“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya”) Qatadah mengatakan: “Mentaati Allah dan Rasul-Nya dengan mengerjakan segala perkara yang telah diperintahkan dan meninggalkan segala perkara yang telah dilarang, takut kepada Allah terhadap dosa yang telah dilakukannya dan bertakwa kepada-Nya untuk masa yang akan datang.

Firman Allah: fa ulaa-ika Humul faa-izuun (“Maka mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”) yaitu merekalah orang-orang yang menang dan memperoleh segala kebaikan dan aman dari segala keburukan di dunia dan di akhirat.

Bersambung ke bagian 26

Gambar

Doa Setelah Mendengar Adzan

4 Apr

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

BACAAN KETIKA MENDENGARKAN ADZAN

Dalam sebuah Riwayat, Rasulullah bersabda:

يَقُوْلُ مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ إِلاَّ فِيْ (حَيََّ عَلَى الصَّلاَةِ وَ حَيََّ عَلَى الْفَلاَحِ) فَيُبْدِلُهُمَا: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Seseorang yang mendengarkan adzan, hendaklah mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, kecuali dalam kalimat: Hayya ‘alash shalaah dan Hayya ‘alal falaah. Maka mengucapkan: ’Laa haula wala quwwata Illa billah’. (HR. Bukhari: 1/152, Muslim: 1/288)

(( وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا ))

“Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agama (yang benar). (Dibaca setelah muadzin membaca syahadat).

Membaca shalawat atas Nabi  sesudah adzan.

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ، (إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ).

“Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah Al-Wasilah (derajat di Surga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi ) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”.

Berdo’a untuk diri sendiri antara adzan dan iqamah, sebab do’ pada waktu itu dikabulkan.

&

Doa Keluar Dari Masjid

4 Apr

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

DO’A KELUAR DARI MASJID

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

“Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”.

Tambahan: Allaahumma’shimni minasy syai-thaanir rajim, adalah riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah: 129.

&

Distorting revelations is the biggest sin

4 Apr

Whom Should We Worship?
Authorship: Majed S. Al-Rassi
Short Link: http://IslamHouse.com/431561

The Qur’an has emphasized, in more than one verse, that distorting Allah’s revelation is a severe sin. Allah has said in the Qur’an: {So woe to those who write the scripture with their own hands, then say: This is from Allah, in order to exchange it for a small price. Woe to them for what their hands have written and woe to them for what they earn.} (Qur’an 2: 79)

An important note It shall be noted that those who followed the scriptures when they were in their pure and unadulterated forms are considered to be on the right religion, and will have nothing to fear on the Day of Judgement.

&