Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Furqaan (8)

7 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Furqaan (Pembeda)
Surah Makkiyyah; surah ke 25:77 ayat

tulisan arab alquran surat al furqaan ayat 41-44“41. dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang di utus Allah sebagai Rasul?. 42. Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan- sembahan kita, seandainya kita tidak sabar(menyembah)nya” dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalanNya. 43. Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, 44. atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqaan: 41-44)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang ejekan orang-orang musyrik kepada Rasulullah saw. jika mereka melihatnya, sebagaimana firman Allah: wa idzaa ra-aakal ladziina kafaruu iy yattakhidzuunaka illaa Huzuwan (“Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok…”)(al-Anbiyaa’: 36) yang mereka kehendaki adalah aib dan kekurangannya.

Dalam ayat ini Allah berfirman: wa idzaa ra-aakal ladziina kafaruu iy yattakhidzuunaka illaa Huzuwan a Haadzaal ladzii ba’atsa rasuulan (“Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu, mereka hanya membuatmu sebagai ejekan [dengan mengatakan]: ‘Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?’”) yaitu dengan merendahkan dan meremehkan, lalu Allah menjelekkan mereka sebagaimana Dia berfirman: wa laqadis tuH-zi-a birusulim min qablika (“Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa Rasul sebelummu.”)(al-An’am: 10)

Firman Allah tentang perkataan orang-orang kafir itu: in kaada layudlillunaa ‘an aayaatinaa (“Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita.”) yang mereka maksudkan hampir saja ia memalingkan mereka dari menyembah patung-patung seandainya mereka tidak sabar, tidak teguh dan tidak konsisten. Allah Ta’ala berfirman mengancam dan menghardik mereka:

Wa saufa ya’lamuuna hiina yaraunal ‘adzaab (“Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat adzab, siapa yang paling sesat jalannya.”)… kemudian Allah berfirman kepada Nabi-Nya dalam rangka menyadarkan, bahwa siapa yang telah ditentukan Allah celaka dan sesat, maka tidak ada satu orang pun yang mampu menunjukkinya kecuali Allah swt. Ara-aita manit takhadza ilaaHaHuu Hawaa-Hu (“Terangkanlah kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya.”) yaitu kapan saja ia menilai baik sesuatu dan melihatnya sebagai suatu kebaikan dari hawa nafsunya sendiri, maka itulah agama dan madzabnya. Untuk itu Dia berfirman: a fa anta takuunu ‘alaiHi wakiilan (“Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya.”)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Dahulu laki-laki di zaman jahiliyyah, satu masa menyembah batu putih. Jika ia melihat yang lainnya lebih baik dari batu itu, maka ia akan menyembah yang kedua dan meninggalkan yang pertama.”

Kemudian Allah berfirman: am tahsabu anna aktsaraHum yasma’uuna aw ya’qiluuna (“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.”)… Yaitu keadaan mereka adalah seburuk-buruk kondisi dibandingkan binatang ternak yang digembalakan, karena binatang itu terbuat untuk apa yang diciptakan. Sedang mereka diciptakan untuk beribadah kepada Allah Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi mereka tidak melakukannya dan beribadah kepada selain-Nya serta menyekutukan-Nya, padahal telah tegak hujjah bagi mereka dan telah diutus para Rasul kepada mereka.

“45. Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, 46. kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada kami dengan tarikan yang perlahan-lahan. 47. Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (al-Furqaan: 45-47)

Dari ayat ini Allah mulai menjelaskan dalil-dalil tentang wujud dan kekuasaan-Nya yang sempurna dalam penciptaan segala sesuatu yang berbeda dan bertentangan. Maka Allah berfirman: alam yara ilaa rabbika kaifa maddadh dhaala (“Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang.”) Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, Masruq dan Mujahid berkata: “Yaitu bayangan yang berada di antara terbit fajar hingga terbit matahari.”

Wa lau syaa-a laja’alaHuu saakinan (“Dan kalau Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu.”) yaitu terus-menerus, tetap, tidak hilang, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus…” (al-Qashash: 71)

Firman Allah: tsumma ja’alnasy syamsa ‘alaiHi daliilan (“Kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu.”) yaitu seandainya tidak ada matahari yang terbit, niscaya tidak akan diketahui. Karena lawan sesuatu tidak akan diketahui kecuali dengan lawannya [juga].
Qatadah dan as-Suddi berkata: “Yaitu tanda yang mengiringi dan mengikutinya hingga seluruhnya datang.”

Firman Allah: tsumma qayadl-naaHu ilainaa qab-dlay yasiiran (“Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.”) yaitu bayang-bayangnya, dan satu pendapat mengatakan yaitu matahari. Yasiiran; yaitu mudah. Ibnu ‘Abbas berkata: “Cepat.” Mujahid berkata: “Tersembunyi.” Sedangkan Ayyub bin Musa berkata tentang ayat: qab-dlay yasiiran; yaitu sedikit demi sedikit.

Dan firman-Nya: wa Huwal ladzii ja’ala lakumul laila libaasan (“Dialah yang menjadikan untukmu malam sebagai pakaian.”) yaitu pakaian dan selimutnya. Sebagaimana Allah berfirman: wal laili idzaa yaghsyaa (“Demi malam apabila menutupi [cahaya siang].”) wan nauma subaasan (“dan tidur untuk istirahat”) yaitu berhenti beraktifitas untuk istirahat badan. Karena anggota badan akan lelah disebabkan banyak aktifitas saat bertebaran di siang hari untuk mencari penghidupan. Jika tiba waktu malam dan ia tinggal, maka berhentilah berbagai aktifitas tersebut dan istirahat, lalu tercapailah tidur yang merupakan pengistirahatan badan dan ruh bersama-sama.

Wa ja’alan naHaara nusyuuran (“Dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”) manusia bertebaran di waktu itu untuk kehidupan, perdagangan dan usaha mereka.

Bersambung ke bagian 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: