Arsip | 07.15

Penciptaan Ahli Surga

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Surga adalah rumah kedamaian, keamanan, cinta, murni dan bersahabat. Ketika seorang mukmin masuk surga, Allah dengan kemahautamaan-Nya akan mencabut segala jenis penyakit dari hati orang-orang mukmin, seperti dendam, iri, dengki, benci, dan sejenisnya dari seluruh sifat-sifat buruk yang biasa terdapat di dunia. Apa jadinya jika orang-orang Mukmin yang masuk surga masih memiliki sifat-sifat dunia? Akan ada seorang Mukmin surga yang tertipu oleh mukmin yang lainnya, akan ada yang disusahkan. Namun karena kemahautamaan Allah swt. Dia telah mencabut semua sifat buruk tersebut dari hati orang-orang Mukmin sehingga antarmukmin bersaudara, akrab dan saling mencinta. Tidak ada apa pun di antara mereka kecuali keserasian, ketulusan, dan saling cinta.

Firman Allah yang artinya: “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapandi atas dipan-dipan.”(al-Hijr: 47)

“Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai…” (al-A’raaf: 43)

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menghilangkan rasa dendam dari hati orang-orang mukmin. Arti kata “ghillin” pada ayat di atas berarti dendam, dengki dan iri hati. Setiap sesuatu yang menggerogoti hati orang-orang mukmin, seperti dengki terhadap saudara-saudaranya sesama muslim, akan dihilangkan Allah swt. agar tidak menjadi kendala untuk memasukkan mereka ke dalam surga.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kelompok pertama yang akan masuk surga itu berwajah tampan dan cantik seperti bulan di malam purnama. Kemudian, cahaya wajah orang-orang yang mengikuti di belakangnya seperti bintang kejora yang paling gemerlap cahayanya di langit. (Dalam suatu riwayat disebutkan, setelah itu cahaya-cahaya pun turun). Mereka tidak perlua buang air kecil dan buang air besar, perapian atau tempat rias mereka seperti kayu gaharu yang sangat harum, istri-istri mereka adalah para bidadari yang bermata bening (dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setiap orang memiliki dua istri yang air sumsum betisnya terlihat dari balik dading karena kecantikannya), dan tidak ada perseteruan atau saling dengki di antara mereka. postur tubuh mereka sama rata, seperti postur kakek moyang mereka, yakni Nabi Adam as. yang tingginya sekitar enam puluh hasta.” (HR Muslim)

Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari disebutkan, “Tak ada perseteruan atau saling dengki di antara mereka. hati mereka seperti hati milik satu orang. Mereka senantiasa bertasbih menyucikan nama Allah setiap pagi dan malam.” (HR Bukhari)

Sebagaimana Allah swt. berbuat untuk mereka (menghilangkan perasaan dendam atau dengki dari hati mereka) sebelum mereka masuk surga, ketika mereka masih di atas jembatan di antara surga dan neraka. mereka membersihkan, memurnikan, dan saling bersikap toleransi antara satu dengan lainnya, kemudian mereka masuk surga.

Diceritakan dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang Mukmin lolos dari neraka, lalu mereka ditahan sejenak di atas jembatan yang melengkung antara surga dan neraka, untuk mengembalikan kedhaliman dari seseorang terhadap yang lain, yang masih tersisa di dunia. Setelah mereka benar-benar bersih, barulah mereka diizinkan masuk surga. Oleh karena itu, demi Allah Dzat yang diri Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, tidak seorang pun yang bisa memberikan tempatnya di surga kepada orang lain, sebagaimana saat di dunia.” (HR Bukhari).

&

Nama Pemimpin Penghuni Surga

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

DUA PEMIMPIN PARUH BAYA

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Abu Bakar dan Umar adalah dua orang pemimpin golongan paruh baya penghuni surga, dari orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian.”

DUA PEMIMPIN PEMUDA

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hasan dan Husain adalah dua pemimpin pemuda penghuni surga.”

PARA PEMIMPIN PEREMPUAN

Pemimpin yang benar adalah yang memuji Tuhannya dan bersaksi kepada-Nya. sedangkan pemimpin perempuan yang mulia adalah yang ridla dengan Tuhannya dan menerima-Nya dengan baik. Dan, perempuan yang paling utama adalah mereka yang menghuni surga na’im karena para perempuan penghuni surga tetap lebih utama. Adapun para pemimpin perempuan penghuni surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam dan Asiyah.

Dalam musnad karya imam Ahmad, Musykilul Atsar karya ath-Thahawiy, dan Mustadrak karya Hakim, disebutkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. menggaris di atas tanah dengan empat garis, kemudian beliau bersabda: “Tahukah kalian apa ini?” Para shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian beliau bersabda lagi: “Perempuan penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryamm binti Imraan, dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.

Maryam dan Khadijah adalah yang lebih utama di antara mereka. dalam Shahih Bukhari dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik perempuan adalah Maryam dan sebaik-baik perempuan adalah Khadijah.”

Jumhur ulama sepakat bahwa Fatimah merupakan wanita yang paling utama karena berada dalam setengah masa kenabian.

Dikatakan juga bahwa Maryam lah pemimpin wanita yang paling utama secara mutlak. Pendapat ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dengan sanad shahih atas syarat Muslim dari Jabir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Para pemimpin perempuan penghuni surga setelah Maryam binti Imraan adalah Fatimah, Khadijah dan Asiyah istri Fir’aun.

Maryam sebagai wanita paling utama secara mutlak telah dijelaskan dalam al-Qur’an, yang artinya: “Dan [ingatlah] ketika malaikat berkata: ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam [pada masa itu].” (Ali ‘Imraan: 42)

Bagaimana keadaan Maryam tidak demikian, padahal Allah swt. telah menerimanya? Hal ini sesuai dengan firman-Nya yang artinya: “Maka Dia [Allah] menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik…” (Ali ‘Imraan: 37)

Keempat wanita itu merupakan contoh paling baik bagi para wanita yang shalihah. Sedangkan, Maryam binti Imraan telah dipuji Allah dalam firman-Nya yang artinya: “… yang memelihara kehormatannya maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh [ciptaan] Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya dan dia termasuk orang-orang yang taat.” (at-Tahrim: 12)

Adapun Khadijah adalah wanita yang beriman kepada Rasulullah saw., mengutakan, serta menolongnya dengan jiwa dan hartanya. Tuhannya telah memberi kabar gembira dalam kehidupannya dengan istana di surga yang terbuat dari kayu yang tidak tercampur dengan apapun.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Jibril mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata kepadanya, “Wahai Rasulallah, ini adalah Khadijah. Dia telah datang dengan membawa wadah yang berisi makanan dan minuman. Jika ia datang kepadamu, bacalah atasnya salam dari Tuhannya dan dan dariku. Berilah kabar gembira kepadanya dengan rumah di surga yang terbuat dari kayu tanpa campuran apapun.” (HR Bukhari)

Adapun Asiyah istri Fir’aun, dia telah dihinakan oleh raja dunia, lalu kafir terhadap Fir’aun dan ketuhanannya. Maka disiksalah ia oleh suaminya hingga meninggal dunia.

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata: “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim.” (at-Tahrim: 11)

Sedangkan Fatimah az-Zahra’ binti Rasulullah saw. termasuk orang yang sabar bermuhasabah [instropeksi diri], wara’, dan mendidik anak manusia.

&

Orang Mukmin di Surga Diberi Kekuatan Setara dengan Seratus Laki-laki

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Hadits-hadist sebelumnya telah menerangkan bahwa Postur tubuh ahli surga adalah seperti Nabi Adam as., tingginya 60 harta dan berumur sekitar 33 tahun. Dan seorang mukmin di surga diberi kekuatan setara dengan 100 laki-laki dalam hal makan, minum, maupun jima’, yang semua itu adalah seimbang dengan kehidupan surga yang kekal, yang telah dijanjikan Allah swt. dengan segala kenikmatannya. Allah swt. menjelaskan bahwa manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam bentuk dan ciptaan yang lain. Dan dengan kebangkitan yang baru ini, seluruh kondisi fisik, fikiran, maupun jiwa manusia juga akan berubah.

“…dan kebangkitan kamu kelak [di akhirat] dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. Dan sungguh, kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Waaqi’ah: 61-62)

Diceritakan dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin di surga akan diberi kekuatan begini dan begitu dalam bidang seksual.” Shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, kekuatan yang seperti apa?” Rasulullah saw. menjawab: “Ia diberi kekuatan setara dengan 100 laki-laki.” (HR Turmudzi dalam Misykah al-Mashabih). Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani.

Diceritakan dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya laki-laki ahli surga akan diberikan kekuatan setara dengan 100 laki-laki dalam hal makan, minum, jima’ dan syahwat.” Lalu seorang Yahudi berkomentar, “Sesungguhnya orang yang makan dan minum pasti buang ari besar atau kecil.” Rasulullah saw. menjawab: “Setelah itu dari kulit merek keluar keringat dan seketika itu perutnya langsung kempes.” (HR ad-Darimi dan Ahmad dalam kitab Musnad). Hadits ini dinyatakan sah oleh Albani.

Diceritakan dari Ibnu Abbas ra. bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw. “Apakah kami harus memberikan nafkah batin kepada istri kami di surga sebagaimana di dunia?” Rasulullah menjawab, “Ya, demi Dzat yang aku berada dalam kekuasaan-Nya. sesungguhnya laki-laki akan memberikan nafkah batin dalam satu hari pada 100 perawan.” (HR Thabrani dalam Jami’ Ash-Shaghir, Abu Nu’aim dalam bab Shifatul Jannah dan Bazzar)

Diceritakan dari Abu Umamah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tak seorang pun yang dimasukkan ke surga oleh Allah, kecuali akan diberi dua istri ditambah tujuh puluh istri dari bidadari, serta bonus tujuh puluh bidadari lagi yang diambil dari bagian orang-orang ahli neraka. tidak seorang pun dari bidadari itu yang tidak perawan, sedangkan bagi suaminya akan senantiasa jantan.” (HR Ibnu Hibban)

Semua kenikmatan yang dianugerahkan Allah swt kepada orang-orang mukmin ini, seperti makanan, minuman, buah-buahan, istana, kamar, tenda, sungai dan bidadari bukanlah segala-galanya. Hal ini disebabkan kenikmatan Allah swt. yang diberikan kepada orang-orang mukmin masih akan ditambah agar makin sempurna. Dan tentu saja seluruh amal yang dilakukan di dunia akan menjadi seperti tidak berarti ketika berhadapan dengan penghormatan Allah yang agung untuk orang-orang mukmin di surga-Nya yang kekal.

&

Mencintai Keagungan Allah swt.

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Jiwa orang-orang yang mencintai Allah akan nampak pada keagungan derajat dan sifat yang tinggi tentang tujuan dunia dan kemaslahatan di dalamnya.

Jalan menuju kecintaan kepada Allah swt. bukanlah perkara yang remeh dan mudah karena orang yang sampai pada jalan ini harus memiliki beberapa sifat dan keutamaan di dalam dirinya, jauh dari syahwat dan keinginan duniawi.

Mereka yang mencintai Allah swt. adalah orang-orang suci dan mampu membina masyarakat menjadi murni dan kosong dari keinginan yang bersifat duniawi. Masyarakat tersebut mampu membangun sebuah bangunan besar yang sulit dihancurkan. Dan tidaklah dikatakan masyarakat jika masyarakat tersebut lebih kuat dari masyarakat yang tidak mempunyai kemaslahatan dunia.

Dewasa ini, kemaslahatan apa pun, tujuannya adalah dunia dan tamak terhadap rizky-nya sehingga mengantarkan pada jalan yang tidak baik [rusak] dengan keegoisannya atau keegoisan yang mencarinya. Jika amal itu diperuntukkan bagi Allah swt semata, di jalan-Nya, dan mengharapkan keridlaan-Nya, hal itu akan lebih pantas dan lebih kuat dalam membangun sebuah bangunan masyarakat yang kukuh, yang sulit untuk dirobohkan. Oleh karena itu, kecintaan terhadap Allah swt. merupakan cinta yang paling kuat dan hubungan yang paling mulia.

Orang-orang yang cinta kepada Allah swt. adalah mereka yang suci. Oleh karena itu, Dia menjadikan mereka ke dalam golongan orang-orang yang dimuliakan dan dekat dengan-Nya di akhirat. Allah swt. akan memberikan kenikmatan kepada mereka, menjadikan mereka termasuk orang-orang yang terhormat dan mempunyai kedudukan yang tinggi, yaitu kedudukan di sisi Raja Yang Maha Kuasa.

Rasulullah saw. menerangkan bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah swt dan dinaungi dengan rahmat-Nya pada awal kalimat, akan berada dalam perhentian yang agung.

Rasulullah saw. “Ada tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari kiamat, yaitu pada hari ketika tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya. Di antara mereka adalah imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, dan dua orang yang berkumpul karena Allah dan berpisah karena-Nya pula.” (HR Bukhari)

“…. yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah…” (al-Baqarah: 165)

Dalam hadits qudsi juga disebutkan, “Orang-orang yang mencintai karena kebesaran-Ku, akan berada di bawah naungan ‘Arsy-Ku pada hari ketika tidak ada naungan, kecuali naungan-Ku.” (HR Ahmad dan Thabrani dalam al-Kabir dari al-Arbadh bin Sariyah ra.)

Mungkin akan ada pertanyaan, dimana orang-orang terdahulu yang berbakti, para shidiqiin dan wali? Apakah mereka tidak tergolong ke dalam orang-orang yang terhormat di akhirat?

“Dan orang-orang yang paling dahulu [beriman], merekalah yang paling dahulu [masuk surga], mereka itulah orang yang dekat [kepada Allah], berada dalam surga kenikmatan.” (al-Waaqi’ah: 10-12)

Orang-orang terdahulu adalah orang-orang yang tergolong dalam ahli keutamaan yang berkumpul pada diri mereka segenap sifat yang telah disebutkan atau sebagiannya. Mereka adalah orang-orang yang suka menafkahkan harta di jalan Allah, para zahid, hafidz, orang-orang yang selalu mengingat Allah, wara’, serta orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar. Apa yang dikatakan oleh orang-orang terdahulu diikuti oleh generasi shiddiqiin. Mereka suka berbuat kebajikan dan merupakan wali-wali Allah swt.

&

Mempelajari Kitab Allah swt. dan Mengamalkannya

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Kitab Allah adalah mahkota segala yang ada di langit dan di bumi, yaitu kalam [firman]Nya, kekuasaan, kehendak, perintah, dan larangan-Nya. Di dalamnya terkandung ilmu yang awal dan yang akhir, awal dan akhir dunia. Firman-Nya kekal, lebih tinggi daripada setiap sifat dan lebih luas daripada setiap penafsiran. Barangsiapa yang mempelajari, mencamkan dalam hati, dan mengamalkannya, ia telah dilimpahi curahan rahmat dan dilingkupi dengan kenikmatan, dan di akhirat kelak akan mendapatkan kemuliaan yang besar dan balasan yang mulia serta kedudukan yang baik. Tempatnya tidak dapat disifati, sedangkan rahmat Allah swt. tidak terlepas dan kehormatannya di surga juga tidak terbatas.

Orang yang membawa, mempelajari dan membacanya adalah orang-orang yang mulia di dunia dan terhormat di akhirat, yang termasuk golongan orang-orang yang memiliki derajat tinggi. Dalam hadits Rasulullah saw. diterangkan dengan sangat jelas tentang faedah mempelajari al-Qur’an.

Dari Ibnu ‘Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang paling mulia di antara umatku adalah pembawa al-Qur’an dan penghuni malam [orang yang suka mengerjakan shalat malam].” (HR Thabrani dan Baihaqi)

Allah swt. mengangkat derajat orang-orang yang mempelajari al-Qur’an dan menjadikan keluarganya –dengan keistimewaan yang agung ini- menempati kedudukan yang mulia dan tinggi di sisi Allah swt.

Dari Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai keluarga dari manusia, yaitu ahli al-Qur’an dan orang-orang yang dekat dengan-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim)

Dalam hadits juga diterangkan bahwa orang-orang yang mempelajari al-Qur’an akan menempati kedudukan di surga sesuai dengan hafalan dan pengamalannya terhadap ayat-ayat-Nya. Setiap huruf juga memiliki derajat. Namun hanya Allah yang mengetahui antara derajat satu dengan lainnya. Dengan izin-Nya, kita berada di surga yang seluas langit dan bumi walaupun derajat seorang hamba tersebut sangat tinggi, kerajaan Allah swt. sangat besar sehingga tidak dapat dijangkau oleh akal fikiran manusia. Matahari hanyalah satu dari berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar bintang yang beredar di angkasa. Besarnya 300.000 kali bumi. Lalu bagaimana kita akan berkhayal tentang surga yang luasnya seukuran langit dan bumi?

“Dan apabila engkau melihat [keadaan] di sana [surga], niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (al-Insaan: 20)

Allah swt. mengatakan bahwa kerajaan-Nya sangat besar, sedangkan besar bagi kita [manusia] mungkin dapat diketahui oleh akal. Akan tetapi, besar di sisi Tuhan sudah keluar dari batas akal manusia dan kemungkinannnya.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Dikatakan kepada pemilik al-Qur’an ketika memasuki surga, ‘Bacalah dan naiklah!’ Kemudian ia membacanya dan naik ke derajat [yang lebih tinggi] dengan setiap ayat hingga ia membaca sesuatu yang paling akhir.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Semuanya mendaki atau naik dengan apa yang dibaca dari al-Qur’an, yaitu hafalannya dari setiap ayat. Rasulullah saw. membatasi pengertian derajat agar tidak membingungkan kita bahwa derajat adalah perpindahan atau perputaran dari satu tempat ke tempat lain di dunia ini.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkat yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya. Di antara dua tingkat itu sebagaimana antara langit dan bumi. Oleh karena itu, jika Allah menanyakan sesuatu kepadamu, mintalah surga firdaus.”

Allah swt. menghendaki para hamba-Nya agar membaca al-Qur’an karena Dia mengetahui bahwa membaca al-Qur’an dapat memberikan petunjuk bagi jiwa, menentramkan hati, dan memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman.

“Sungguh, Al-Qur’an memberikan petunjuk ke [jalan] yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin…” (al-Israa’: 9)

Al-Qur’an adalah jalan yang lurus, yang mengantarkan orang-orang beriman pada keridlaan Allah. Sedangkan keridlaan-Nya mengantarkan hamba yang mukmin ke surga dan surga mengantarkan pewarisnya pada kemuliaan dan kehormatan.

&

Anak-Anak Kecil di Surga

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di antara yang tidak perlu diragukan lagi tentang salah satu kesenangan yang telah dijanjikan Allah di surga adalah anak-anak yang diibaratkan seperti mutiara yang tersembunyi dan bertaburan keindahan serta kebaikan untuk melayani orang-orang mukmin ahli surga. Anak-anak itu menyajikan makanan dan minuman dan boleh jadi melayani hal-hal lain yang banyak sekali dan ktia tidak bisa menjelaskan semuanya. Hal ini disebabkan hanya Allah Yang Mahatahu. Di dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang anak-anak surga ini.

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek, dan sloki [piala] berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir.” (al-Waaqi’ah: 17-18)

“Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertebaran.” (al-Insaan: 19)

“Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan. [Di dalam surga itu] mereka saling mengulurkan gelas yang isinya tidak [menimbulkan] ucapan yang tidak berfaedah ataupun perbuatan dosa. Dan di sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk [melayani] mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.” (ath-Thuur: 22-24)

&

Mengingat dan Bertasbih kepada Allah swt.

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa pada hari kiamat kelak Allah akan berfirman: “Pada hari ini [kiamat], ahli jama’ah akan mengetahui siapa yang termasuk ahlul karam.” Dikatakan: “Siapakah ahlul karam itu wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Yaitu anggota majelis dzikir di dalam masjid.” (HR Ahmad dan Abu Ya’la dari Abu Sa’id al-Khudri ra.)

Faedah dzikir di dunia sangat besar, di antaranya Allah swt. menjadikannya sebagai pintu pembuka ampunan terhadap dosa, kemudahan, dan kemauan seorang mukmin. Seorang yang beriman adalah manusia yang bisa saja salah dan terperosok dalam dosa. Meskipun ia tercatat dalam golongan orang-orang yang beriman dan tidak akan dihapus, manusia tidak dapat terlepas dari kesalahan. Dan di antara kasih sayang Allah swt. terhadap hamba-Nya yang beriman adalah ampunan, balasan, serta pahala yang besar, yang dimuliakan bersama orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah swt. baik laki-laki maupun perempuan.

Perkara dzikir ini sangat besar, al-Qur’an menyebutkannya dalam bentuk ayat lebih dari dua ratus ayat, baik dalam bentuk perintah, peringatan, maupun petunjuk. Kemudian disebutkan pula tentang balasan yang disediakan Allah swt bagi orang-orang yang selalu mengingat-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Yang termasuk balasan adalah sebagaimana firman Allah:

“…laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Yang termasuk petunjuk adalah sebagaimana firman Allah:
“Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat…” (an-Nuur: 37)

“….sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan] keji dan munkar. Dan [ketahuilah] mengingat Allah [shalat] itu lebih besar [keutamaannya dari ibadah yang lain]. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Ankabuut: 45)

“….ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28)

Sedangkan yang termasuk janji adalah sebagaimana firman Allah:
“….maka celakalah orang-orang yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh, dia telah menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (ThaaHaa: 124)

Makna dzikir sangat banyak, dan setiap ibadah adalah dzikir. Sedangkan makna khusus dzikir kepada Allah swt. adalah tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid. Artinya, lidah selalu mengucapkannya untuk mengingat Allah swt. karena dengan begitu hati akan selalu tenteram. Tidak ada yang lebih bear di sisi Allah swt. selain lidah orang-orang yang telah menjadikan dzikir sebagai ampunan di dunia dan pahala yang besar pada hari kiamat.

Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mengatakan subhaanallaaH wa bihamdiH seratus kali dalam sehari, akan dihapuskan kesalahannya meskipun seperti buih di lautan.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam hadits qudsi juga disebutkan, “Sesungguhnya para wakil-Ku di antara para hamba-Ku, kekasih-Ku, dan ciptaan-Ku adalah orang-orang yang menyebut dzikir kepada-Ku dan Aku mengingat dengan dzikir mereka.” (HR Turmudzi dan Abu Nu’aim dari Amr bin al-Jumuh ra.)

“Seorang hamba-Ku tidak mengingat-Ku dalam dirinya. Namun, Aku akan mengingatnya dalam kumpulan orang-orang terkemuka di antara malaikat-Ku, dan tidak mengingat-Ku dalam kumpulan tersebut, melainkan Aku akan mengingatnya di dalam rafiqu’ a’laa.” (HR Thabrani dari Mu’adz bin Anas)

Allah swt. mewahyukan kepada Musa, “Hai Musa, apakah engkau suka Aku menenteramkan rumahmu bersama orang yang bangga karena sujud kepada Allah?” Musa menjawab: “Wahai Tuhanku, bagaimana hal itu bisa terjadi?” Allah berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku, dan dimana saja hamba-Ku minta pertolongan, niscaya akan mendapati-Ku.” (HR Ibnu Syahid dari Jabir)

Karena perkara tasbih ini sangat agung, Allah swt. menyebutkan dalam al-Qur’an bahwa segala yang diciptakan-Nya bertasbih memuji diri-Nya.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesutu pun, melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. sungguh, Dia adalah Maha Penyantun, Maha Pengampun.” (al-Israa’: 44)

&

Zuhud dan Wara’

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Secara bahasa “zuhud” adalah meninggalkan. Jadi kalau anda mengatakan bahwa Anda zuhud terhadap sesuatu, berarti anda telah meninggalkannya. Demikian pula, zuhud terhadap dunia, berarti meninggalkan urusan dunia. Pelaku zuhud disebut zahid. Secara istilah, zuhud adalah meningkatkan hubungan dengan Allah swt. untuk mencapai derajat yang mulia dan tinggi. Oleh karena itu, kebanyakan orang yang bersifat zuhud menghindari perbuatan dosa, sekecil apapun.

Pada hakekatnya zuhud sangat sulit, bahkan pengertian dan pemahamannya berubah-ubah bagi kebanyakan orang sehingga setiap orang yang bersifat zuhud seakan-akan mempunyai sekolah dan pengajarannya tersendiri. Derajat yang paling tinggi bagi seorang zahid adalah yang zuhud terhadap sesuatu sesuai dengan kamampuannya atau berusaha semampunya. Itulah yang diridlai Allah swt.

Allah swt. telah menciptakan dunia dan perhiasannya serta syahwat bagi kita. Sedangkan kita tidak dapat menjauh darinya. Rasulullah saw. adalah contoh dan teladan yang paling tinggi bagi kita dalam urusan zuhud.

Bukanlah orang zahid yang mengharamkan dirinya dari syahwat dan kecenderungannya. Sifat manusiawi ini telah diciptakan oleh Allah swt. untuk menguji mereka dalam kehidupan di dunia. Dan Allah swt. tidak akan membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Al-Qur’an secara jelas telah menerangkan masalah ini sehingga pengertian zuhud tidak perlu ditafsirkan, bahkan sampai pada pandangan yang indah tentang apa yang telah diciptakan Allah swt. dan kenikmatan yang telah dihalalkan bagi kita.

“Katakanlah [Muhammad], ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rizky yang baik-baik….” (al-A’raaf: 32)

Allah swt. tidak melarang kita dari hal-hal yang baik dan perhiasan dunia serta kenikmatanny, sebagaimana yang disyariatkan oleh-Nya selama sesuai dengan akhlak dan perintah-perintah yang ditentukan.

Zuhud yang sebenarnya adalah zuhud terhadap segala yang haram dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Dan termasuk zuhud adalah menginginkan dunia dengan disertai usaha dan perbuatan untuk mencari rizky dan penghidupan sehingga menafkahkan harta dengan baik untuk berjihad di jalan Allah swt. demi agama dan negaranya. Bahkan mampu menjaga hak orang lain dalam kehidupan agar dapat sempurna dalam menjalankan kehidupan di dunia. Itulah yang diridlai Allah swt.

Jadi zuhud bukan hanya duduk selamanya untuk taat tanpa mencari rizky di muka bumi untuk ketentaraman hidup dan kebahagiaannya. Semua itu dimaksudkan agar kita tidak membutuhkan yang lainn, kecuali Allah semata. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya, dari Abu Hurairah ra.)

“Apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah…” (al-Jumu’ah: 10)

Jika zuhud dengan pengertian dan pemahamanya yang tinggi menjadi tujuan peningkatan pribadi untuk mencapai derajat yang tinggi, berarti tidak ada amal yang lebih dicintai oleh Allah swt. dari seorang zahid yang menjadikan dunia bukan untuk tujuan utamanya, melainkan sebagai perantara untuk dapat sampai kepada Allah swt.

Allah swt. berfirman dalam hadits Qudsi: “Wahai Musa, sesungguhnya orang tidak dapat berpura-pura dari-Ku, seperti zuhud terhadap dunia, tidak mendekatkan diri kepada-Ku sebagaimana orang-orang yang wara’ dari apa yang Aku haramkan atas mereka, dan tidak pula para ahli ibadah yang beribadah kepada-Ku seperti menangis karena takut kepada-Ku.” (HR al-Qadha’i dari Ka’ab)

Jadi orang-orang yang bersifat zuhud adalah mereka yang mampu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, hina, dan syubhat, serta orang-orang ahli ibadah dengan kekuatan, mengingat Allah swt. dengan tafakur, dan berjihad di jalan Allah swt. dengan harapan syahid. Mereka itulah orang-orang yang menjual dengan keridlaan Allah.

Allah swt. berfirman dalam hadits qudsi: “Wahai Musa, sesungguhnya hamba-Ku tidak akan mendapati-Ku di hari kiamat kelak melainkan Aku periksa apa yang ada di tangannya, kecuali orang-orang yang wara’. Oleh karena itu Aku menghidupkan mereka, memuliakan dan memasukkan ke dalam surga tanpa hisab.” (HR Turmudzi dari Ibnu ‘Abbas)

Apa pendapat anda tentang orang-orang yang masuk surga tanpa hisab? Bukankah mereka termasuk orang-orang yang terhormat, pembesar, dan memiliki derajat yang tinggi serta dekat dengan Allah swt, Nabi Muhammad saw. dan para Nabi-Nya?

&

Tanah Surga dan Kesuburannya

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Surga tidak diciptakan dari tanah dan batu, sebagaimana di dunia. Akan tetapi, tanah di surga tercipta dari minyak kasturi dan za’faran [jenis tumbuh-tumbuhanan]. Jika disentuh, kehalusannya laksana darmakah [tepung putih yang halus dan lembut].

Rasulullah saw. telah menerangkan kepada kita tentang jenis tanah surga, dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. yang disarikan dari kisah perjalanan Isra’ beliau. Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian Jibril berangkat bersamaku hingga sampai di Sidratul Muntaha, lalu terpancarlah sinar yang warna-warnanya belum aku ketahui. Lalu ia memasukkan aku ke dalam surga. Tiba-tiba, di dalamnya terdapat kubah, permata, dan tanahnya dari kasturi.” (HR Muttafaq ‘alaiHi)

Dalam shahih Muslim dan Musnad Ahmad, dari Abu Sa’id bahwa Ibnu Shayyad bertanya kepada Rasulullah saw. tentang tanah di surga. Beliau menjawab, “Yaitu darmakah yang putih dan kasturi yang murni.”

Dalam musnad Ahmad, dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang orang-orang Yahudi, “Aku bertanya kepada mereka tentang surga, yaitu darmakah yang putih.” Maka mereka menjawab, “Roti, wahai Abu Qasim.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Ya, roti dari darmakah.”

Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah saw., “Dari apa makhluk diciptakan?” Beliau menjawab, “Dari air.” Aku [Abu Hurairah] bertanya lagi, “Dari apa surga dibangun?” Beliau menjawab, “Batu emas permata, lantainya dari kasturi yang harum baunya, kerikilnya dari yakut, dan tanahnya dari za’faran. Barangsiapa yang memasukinya, ia akan memperoleh kenikmatan dan tidak akan sengsara, ia kekal dan tidak mati, pakaiannya tidak akan usang, dan keremajaannya tidak akan hilang.”

&

Sifat-Sifat Surga

8 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Berbagai sifat surga, baik tenda, istana, sungai, mata air, pohon, buah-buahan, burung, dipan, pakaian maupun bejana, secara detail diungkapkan dalam hadits Qudsi, “Aku telah menyediakan untuk para hamba-Ku yang shalih, apa-apa yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah pula muncul di benak manusia. Maka bacalah jika kalian menghendaki (: “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyenangkan hati…” [as-Sajdah: 17])(HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Jika kita mengatakan bahwa tanah, pohon, tenda dan istana, semua itu adalah nama-nama yang kita kenal di dunia. Di dalam surga tidak ada sesuatu pun yang menyerupai yang ada di dunia, kecuali namanya. Ibnu ‘Abbas ra. mengatakan: “Tidak ada sesuatu pun di dalam surga yang menyerupai apa yang ada di dunia, kecuali namanya.”

Demikianlah, orang-orang yang beriman mengetahui berbagai makna apa-apa yang telah disediakan oleh Allah bagi mereka di dunia, tanpa mengetahui hakekat yang sebenarnya. Semua itu disebabkan apa-apa yang disediakan bagi mereka, berada di luar khayalan dan kemampuan akal mereka. sungguh kita tidak akan mengetahui hakekatnya dan merasakan keindahannya hingga Allah menjadikan penglihatan kita pada hari kiamat tajam serta menumbuhkan kita dengan pertumbuhan yang lain.

“….maka Kami singkapkan tutup [yang menutupi] matamu sehingga penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” (Qaaf: 22)

“….dan membangkitkan kamu kelak [di akhirat] dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. Dan sungguh, kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Waaqi’ah: 61-62)

Allah juga menerangkan kepada kita tentang penyerupaan nama tersebut dengan firman-Nya yang artinya:
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 25)

Dalam kitab “Shafwah at-Tafasir”, ash-Shabuni berpendapat bahwa penghuni surga itu diberi rizky dari buah-buahan. Mereka didatangi malaikat. Dan ketika didatangi untuk kedua kalinya, para penghuni surga itu berkata: “Inilah yang pernah dijanjikan kepada kami sebelumnya.” Maka malaikat itu berkata: “Makanlah, wahai hamba Allah. Warna buah-buahan itu hanya satu, tetapi rasanya sangat beragam.”

Sebagian mufasir berpendapat bahwa makna dari “min qabl” adalah di dunia. Sedangkan pendapat yang benar adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. dan yang lain bahwa yang dimaksud ayat ini adalah di surga. Dan, di surga tidak ada yang sama dengan di dunia, kecuali namanya.

Yang jelas, setiap yang ada di surga tidak ada yang serupa dengan yang ada di dunia, kecuali namanya. Oleh karena itu ketika ketika kita membicarakan sifat-sifat surga, wajib bagi kita mengetahui bahwa sifat yang ditafsirkan, dijelaskan, dan diterangkan berasal dari nash. Sedangkan hakekat rasa dan pandangannya berbeda dengan yang dipahami dan ditafsirkan oleh akal manusia sesuai dengan kemampuannya. Perkara surga dan apa yang ada di dalamnya sangatlah agung, dan Rajanya Mahabesar.

“Dan apabila engkau melihat [keadaan] di sana [surga], niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (al-Insaan: 20)

“…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

“….dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.” (an-Nisaa’: 146)

Yang mengatakan agung dan besar adalah Allah swt. Pemahaman atau pengertian tentang besar dan agung bagi manusia adalah sesuatu, sedangkan di sisi Allah swt. adalah sesuatu yang lain.

&