Arsip | 13.32

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 78-82 (10)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 78-82“78. (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku, 79. dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu, 80. dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku, 81. dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), 82. dan yang Amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (asy-Syu’araa’: 78-82)

Yakni, aku tidak beribadah kecuali kepada Rabb yang dapat melakukan semua ini, alladzii khalaqanii faHuwa yaHdiin (“Yaitu Rabb Yang telah menciptakanku, maka Dialah yang menunjuki aku.”) yakni Mahapencipta yang telah menetapkan takdir dan menunjuki seluruh makhluk kepada-Nya. Dia lah Yang Memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. walladzii Huwa yuth’imunii wa yasqiin (“Dan Rabb-ku, Dia Yang Memberi makan dan minum kepadaku.”) Dia adalah Pencipta dan memberiku rizky dengan apa yang telah diatur dan dimudahkan-Nya dengan sebab-sebab langit [takdir] dan sebab-sebab bumi [sunnatullah]. Dia telah membelah awan, diturunkan-Nya air, dihidupkan-Nya tanah dengan air tersebut dan dikeluarkan-Nya seluruh buah-buahan sebagai rizky bagi hamba-hamba-Nya. Dia turunkan air tawar yang sejuk, yang diminum oleh binatang-binatang ternak dan banyak manusia.

Firman-Nya: wa idzaa maridl-tu faHuwa yasy-fiin (“Dan apabila aku sakit, Dia lah yang menyembuhkanku.”) disandarkan penyakit pada dirinya, sekalipun hal itu merupakan qadar, qadla dan ciptaan Allah. Akan tetapi disandarkannya penyakit itu pada dirinya sebagai sikap beradab. Makna hal itu bahwa, jika aku menderita sakit, maka tidak ada seorang pun yang kuasa menyembuhkannya kecuali Allah sesuai takdirnya yang dikarenakan sebab yang menyampaikannya.
Walladzii yumiitunii tsumma yuhyiin (“Dan Yang mematikanku, kemudian akan menghidupkanku [kembali],”) yakni Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dimana tidak ada seorang pun yang kuasa terhadap semua itu. Karena Dialah Yang memulai penciptaan dan mengulanginya.

Walladzii athma’u ay yaghfira lii khatii-atii yaumad-diin (“Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.”) yaitu tidak ada yang kuasa mengampuni berbagai dosa di dunia dan di akhirat kecuali Dia. dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Allah Yang melakukan segala apa yang dikehendaki-Nya.

Bersambung ke bagian 11

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 69-77 (9)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 69-77“69. dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. 70. ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” 71. mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan Kami Senantiasa tekun menyembahnya”. 72. berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, 73. atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” 74. mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang Kami berbuat demikian”. 75. Ibrahim berkata: “Maka Apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, 76. kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, 77. karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam,” (asy-Syu’araa: 69-77)

Ayat ini merupakan kabar dari Allah Ta’ala tentang hamba, Rasul dan kekasih-Nya, yaitu Ibrahim, imamnya orang-orang yang hanif. Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya, yaitu Muhammad saw. untuk membacakan hal itu kepada umatnya agar mereka menteladani beliau dalam keikhlasan, tawakkal dan pengabdiannya kepada Allah yang Mahaperkasa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan sikap membebaskan diri dari perilaku syirik dan para penganutnya. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan Ibrahim petunjuk-Nya sejak dahulu, yaitu sejak masa kecilnya hingga masa dewasanya. Karena, sejak masa pertumbuhan dan masa mudanya dia sudah mengingkari kaumnya untuk menyembah berhala-berhala serta menyekutukan Allah swt.

Idz qaala li abiiHi wa qaumiHii maa ta’buduun (“Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Apakah yang kamu sembah?’”) yakni apakah patung-patung yang kalian kelilingi ini? Qaaluu na’budu ashnaaman fanadhallu laHaa ‘aakifiin (“Mereka menjawab: ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’”) yaitu, diam bersemedi dalam menyembah dan memohon kepadanya.

Qaala Hal yastami’uunakum idz tad’uun. Au yanfa’uunakum au yadlurruun. Qaaluu bal wajadnaa aabaa-anaa kadzaalika yaf’aluun (“berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar [doa]mu sewaktu kamu berdoa [kepadanya]?, atau [dapatkah] mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” mereka menjawab: “[Bukan karena itu] sebenarnya Kami mendapati nenek moyang Kami berbuat demikian.”)
Mereka mengakui bahwa berhala-berhala mereka tidak dapat melakukan itu semua. mereka melakukannya hanya karena mereka melihat nenek moyang mereka melakukan hal-hal yang sama. Dan mereka hanya mengikuti jejak-jejak nenek moyang mereka. dan saat itulah Ibrahim berkata kepada mereka:

Afara-aitum maa kuntum ta’buduuna, antum wa aabaa-ukumul aqdamuun. Fa innaHum ‘aduwwullii illaa rabbal ‘aalamiin (“Ibrahim berkata: ‘Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam.’”) jika berhala-berhala tersebut memiliki sesuatu yang dapat berpengaruh, maka ia pasti akan memberikan keburukan bagiku. Karena aku adalah musuhnya yang tidak mempedulikan dan tidak memikirkannya.

Dan firman-Nya: wa idz qaala ibraaHiimu li abiiHi wa qaumiHii innii barii-um mimmaa ta’buduun. Illaladzii fatharanii fa innaHuu sayaHdiin. Wa ja’alaHaa kalimatan (“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi [aku beribadah kepada] Rabb Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.’ Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid.” (az-Zukhruf: 26-28). Yaitu kalimat “Laa ilaaHa illallaaH” (tidak ada Ilah yang berhak diibadahi [dengan benar] kecuali Allah).

Bersambung ke bagian 10

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 60-68 (8)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 60-68“60. Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. 61. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. 62. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. 63. lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. 64. dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. 65. dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. 66. dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. 67. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. 68. dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (asy-Syu’araa: 60-68)

Tidak hanya satu ahli tafsir yang berkata bahwa Fir’aun keluar dengan rombongan dan pasukan yang besar; fa atba’uuHum musyriqiin (“Maka Fir’aun dan balatentaranya dapat menyusul mereka di waktu matahari terbit.”) yakni pasukan Fir’aun mampu menyusul mereka [Bani Israil] ketika matahari terbit.

Falammaa taraa-al jam’aani (“Setelah kedua golongan itu saling melihat”) yakni dua golongan itu satu sama lain saling melihat, di saat itu: qaala ash-haabu muusaa innaa lamudrakuun (“Berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’”) hal itu dikarenakan ketika mereka tiba di pinggil laut Qulzum, di hadapan mereka hanya terdapat lautan, sedangkan di belakang mereka Fir’aun dan pasukannya mulai tampak menyusul. Maka mereka mengatakan demikian.

Qaala kallaa inna ma’iya rabbii sayaHdiin (“Musa menjawab: ‘Sekali-sekali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’”) yakni, ia tidak akan mampu menyusul kalian sedikitpun seperti yang kalian takutkan. Karena Allah-lah yang telah memerintahkanku untuk menempuh perjalanan bersama kalian. Sedangkan Allah tidak mengingkari janji. Lalu Fir’aun dan pasukannya mulai mendekat dan tidak ada jarak lagi yang tersisa kecuali sedikit saja.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Salam, bahwa tatkala Musa telah tiba di tepi laut, ia berkata: “Hai Rabb yang telah ada sebelum segala sesuatu, Pencipta segala sesuatu dan Rabb yang selalu ada setelah lenyapnya segala sesuatu, jadikanlah untuk kami jalan keluar.” Maka Allah mewahyukan: anidl-rib-bi’ashaakal bahr (“Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.”) lalu Musa memukulkan tongkatnya. Di dalamnya terdapat kekuasaan Allah yang diberikan kepadanya hingga lautan itu terbelah.

Allah Ta’ala berfirman: fan falaqa fa kaana kullu firqin kath-thaudil ‘adhiim (“Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah ath-Thaud al-‘Adhiim, yaitu seperti gunung yang besar.

‘Atha’ al-Khurasani berkata: “Yaitu celah di antara dua gunung.”
Ibnu ‘Abbas berkata: “Lautan itu terbelah menjadi 12 jalan, dimana untuk setiap jalur terdapat satu jalan.” Sedangkan as-Suddi menambahkan: “Di dalamnya terdapat celah-celah yang satu bagian dengan bagian lainnya dapat saling memandang. Air itu berdiri tegak di atas batu-batuan seperti tembok dan Allah mengutus angin ke dasar laut, lalu menerpa air laut tersebut hingga menjadi kering seperti permukaan tanah.”

Firman Allah: fadl-rib laHum thariiqan fil bahri yabasal laa takhaafu darkaw wa laa takhsyaa (“Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di atas lautan itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut [akan tenggelam].”)(ThaaHaa: 77). Di dalam kisah ini, Dia berfirman: wa azlafnaa tsammal aakhariin (“Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain.”) yakni di sana Kami dekatkan Fir’aun dan pasukannya menuju lautan dan Kami hampirkan mereka kepadanya.

Wa anjainaa muusaa wa mam ma’aHuu ajma’iin. Tsumma aghraqnal aakhariin (“Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tengelamkan golongan yang lain itu.”) yakni Kami selamatkan Musa dan Bani Israil serta orang-orang yang mengikuti agamanya, hingga tak ada seorang pun yang binasa. Serta Kami tenggelamkan Fir’aun dan pasukannya, hingga tak ada seorang laki-laki pun di antara mereka yang tersisa. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: inna fii dzaalika la aayatan (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar [mukjizat].”) yakni di dalam kisah ini terdapat berbagai keajaiban, pertolongan dan dukungan kepada hamba-hamba Allah yang beriman itu terdapat dalil, hujjah yang pasti dan hikmah yang sempurna.

Wa maa kaana aktsaruHum mu’miniin. Inna rabbaka laHuwal ‘aziizur rahiim (“Dan tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang.”) hal ini sudah ditafsirkan sebelumnya.

Bersambung ke bagian 9

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 52-59 (7)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 52-59“52. dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena Sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli”. 53. kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. 54. (Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, 55. dan Sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, 56. dan Sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga”. 57. Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, 58. dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia. 59. Demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (Itu) kepada Bani Israil.” (asy-Syu’araa’: 52-59)

Ketika masa Musa as. di kota Mesir cukup lama dan berusaha menyampaikan hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti-Nya kepada Fir’aun dan para pendukungnya, di sisi lain mereka begitu sombong dan membangkang. Maka tidak ada lagi yang tersisa untuk mereka kecuali siksaan dan kehinaan. Maka Allah memerintahkan Musa as. untuk membawa keluar bani Israil di waktu malam dari kota Mesir serta menyelamatkan mereka sesuai perintah. Lalu Musa melakukan perintah dari Rabb-nya itu. wallaaHu a’lam.

Ketika pagi hari, di tempat berkumpulnya mereka tidak terdengar lagi seruan atau jawaban. Saat itulah Fir’aun sangat murka –sesuai kehendak Allah- untuk menghancurkannya. Lalu ia mengutus para hasyir, yaitu orang-orang yang mengumpulkan dan menghimpun tentara seperti komandan, para pengawal dan para peniup [terompet] mereka di negerinya dengan cepat.

Inna Haa-ulaa-ika (“Sesungguhnya mereka.”) yakni Bani Israil; lasyirdimatun qaliiluun (“benar-benar golongan kecil”) yaitu kelompok kecil, wa innaHum lanaa laghaa-idhuun (“dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan kemarahan kita.”) yaitu setiap waktu, sampai berita kepada kami dari mereka hal-hal yang membuat kami murka, wa innaa lajamii’un haadziruun (“Dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga.”) yaitu setiap waktu kami mewasdai tipu daya mereka.

Sebagian ulama membaca: wa innaa lajamii’un haadziruun; yaitu bersiap-siap menyandang persenjataan. Aku ingin menumpas mereka seluruhnya serta menikmati kesenangan mereka. maka apa yang dia inginkan kepada Bani Israil itu ternyata menimpa dirinya sendiri dan bala tentaranya.

Allah berfirman: fa akhrajnaaHum min jannaatiiw wa’uyuun. Wa kunuuziw wa maqaamin kariim (“Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan [dari] perbendaharaan dan kedudukan yang mulia.”) lalu mereka keluar dari kenikmatan ini menuju kesengsaraan serta meninggalkan istana-istana yang megah, kebun-kebun, sungai-sungai, harta benda, rizky-rizky, kerajaan dan kehormatan yang melimpah di dunia.
Kadzaalika wa auratsnaaHaa banii israa-iil (“Demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya [itu] kepada Bani Israil”) sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi padanya….” (al-A’raaf: 137)

Bersabung ke bagian 8

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 49-51 (6)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 49-51“49. Fir’aun berkata: “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya Dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu Maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); Sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya”. 50. mereka berkata: “tidak ada kemudharatan (bagi kami); Sesungguhnya Kami akan kembali kepada Tuhan Kami, 51. Sesungguhnya Kami Amat menginginkan bahwa Tuhan Kami akan mengampuni kesalahan Kami, karena Kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman”. (asy-Syu’araa’: 49-51)

Fir’aun mencoba mengancam mereka, akan tetapi semua itu tidak bermanfaat bagi mereka dan mencoba menakut-nakuti mereka, akan tetapi semua itu tidak menambah mereka kecuali keimanan dan ketundukan. Hal itu disebabkan karena telah tersingkap dari hati mereka penutup kekufuran dan jelas bagi mereka kebenaran, dimana mereka mengetahui apa yang kaum mereka tidak ketahui bahwa yang ditampilkan Musa tidak akan dapat terjadi dari hasil manusia kecuali Allah mendukungnya dan menjadikannya sebagai hujjah dan bukti yang menunjukkan kejujuran risalah yang dibawa dari Rabb-nya.

Untuk itu Fir’aun berkata kepada mereka: aamantum laHuu qabla an aadzana lakum (“Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu?”) yaitu, selayaknya kalian meminta izin kepadaku tentang apa yang kalian lakukan dan janganlah kalian melangkahiku dalam masalah ini. Jika aku telah mengizinkan kalian, kalian baru dapat melakukannya. Dan jika aku melarang kalian, maka kalian harus meninggalkannya. Karena aku adalah hakim yang harus ditaati.

innaHuu lakabiirukumul ladzii ‘allamakumus sihr (“Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu.”) ini merupakan kesombongan yang dapat diketahui kebathilannya oleh setiap orang. Karena mereka belum pernah berjumpa dengan Musa sebelum peristiwa itu, maka bagaimana mungkin dia memimpin mereka yang mengajarkan teori sihir kepada mereka? ini tidak mungkin diucapkan oleh orang yang rasional.

Kemudian Fir’aun mengancam mereka dengan hukuman potong tangan, kaki dan salib. Maka mereka berkata: laa dlair (“tidak ada kemudlaratan bagi kami.”) yaitu tidak mengapa dan sama sekali hal itu tidak akan mencelakai kami dan kami tidak akan peduli.
Innaa ilaa rabbinaa munqalibuun (“Sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.”) yaitu tempat kembali kami adalah kepada Allah swt. Dia tidak menyia-nyiakan pahala orang yang amalannya baik, serta tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya apa yang akan engkau lakukan kepada kami dan Dia akan membalas kami atas semua itu dengan balasan yang amat sempurna.

Untuk itu mereka berkata: innaa nathma’u ay yaghfira lanaa rabbunaa khathaayaanaa (“Sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Rabb kami akan mengampuni kesalahan kami.”) yaitu dosa-dosa yang telah kami geluti dan sihir-sihir yang engkau paksakan kepada kami. An kunnaa awwalal mu’miniin (“Karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman.”) yakni dengan sebab kami menganjurkan kepada kaum kami dari Qibthi untuk beriman. Lalu dia membunuh mereka seluruhnya.

Bersambung ke bagian 7

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 38-48 (5)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 38-48“38. lalu dikumpulkan Ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang ma’lum, 39. dan dikatakan kepada orang banyak: “Berkumpullah kamu sekalian. 40. semoga kita mengikuti Ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang” 41. Maka tatkala Ahli-ahli sihir datang, merekapun bertanya kepada Fir’aun: “Apakah Kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika Kami adalah orang-orang yang menang?” 42. Fir’aun menjawab: “Ya, kalau demikian, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)”. 43. berkatalah Musa kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”. 44. lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: “Demi kekuasaan Fir’aun, Sesungguhnya Kami benar-benar akan menang”. 45. kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya Maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. 46. Maka tersungkurlah Ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah), 47. mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, 48. (yaitu) Tuhan Musa dan Harun”. (asy-Syu’araa’: 38-48)

Untuk itu, ketika para tukang sihir itu datang dan dikumpulkan dari berbagai wilayah di negeri Mesir, di saat itu mereka adalah orang-orang yang paling ahli dalam ilmu sihir, paling canggih dan pandai dalam kemampuan khayalnya. Tukang sihir itu amat banyak dan orang-orang berusaha untuk berkumpul hari itu, seseorang berkata: la’allanaa nattabi’us saharata in kaanuu Humul ghaalibuun (“Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir, jika mereka adalah orang-orang yang menang.”) dan mereka tidak mengatakan bahwa kami akan mengikuti kebenaran, baik itu berasal dari tangan tukang sihir ataupun berasal dari Musa, bahkan seluruh rakyat berada di pihak raja mereka.

Falammaa jaa-as saharatu (“Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang”) yaitu ke majelis Fir’aun, mereka membuat pembatas, dan mengumpulkan para pembantunya, para pengawal, para menteri, para pembesar negeri dan para tentara kerajaannya, tukang-tukang sihir berdiri di hadapan Fir’aun dalam rangka mencari nilai kebaikan mereka darinya dan mendekatkan diri kepadanya jika mereka menang. Inilah tujuan mereka dikumpulkan, maka mereka berkata: a inna lanaa la ajran in kunnaa nahnul ghaalibiin. Qaala na’am wa innakum idzal laminal muqarrabiin (“’Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang? Fir’aun menjawab: ‘Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan.’”) yakni, aku akan memberikan sesuatu yang lebih istimewa daripada apa yang kalian minta, yaitu aku akan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang dekat denganku dan singgasanaku. Lalu mereka kembali ke medan perdebatan.

Qaaluu yaa muusaa immaa an tulqiya wa immaa an nakuuna awwala man alqaa. Qaala bal alquu (“Mereka berkata: ‘Hai Musa, engkaukah yang akan memulai melemparnya atau kami yang akan memulai melemparnya?’ Musa menjawab: ‘Silakan, lemparkanlah olehmu sekalian.’”)(Thaahaa: 65-66). Di dalam ayat ini diringkas ceritanya, dimana Musa berkata:
Alquu maa antum mulquun. Fa alqau hibaaluHum wa ‘isyiyyaHum wa qaaluu bi’izzati fir’auna innaa lanahnul ghaalibuun (“’Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan.’ Lalu mereka melemparkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka dengan dan mereka berkata: ‘Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.’”) perkataan ini sama seperti yang dikatakan oleh orang-orang awam yang bodoh, jika mereka melakukan sesuatu: “Ini demi balasan fulan.” Di dalam surah ThaaHaa ia berkata:

“66. berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. 67. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. 68. Kami berkata: “Janganlah kamu takut, Sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). 69. dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”. (ThaaHaa: 66-69)

Sedangkan di ayat ini disebutkan: fa alqaa muusaaa ‘ashaaHu fa idzaa Hiya talqafu maa ya’fikuun (“Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.”) yaitu disambar dan dijangkaunya dari seluruh sudut lalu ditelannya, hingga tidak ditinggalkan sedikitpun. Ini merupakan kejadikan yang sangat besar dan bukti yang amat kuat untuk sebuah alasan serta hujjah yang jelas.

Hal itu dikarenakan, sesungguhnya orang-orang yang dimintakan pertolongan dan dituntut untuk menang, ternyata dikalahkan, tunduk dan beriman kepada Musa pada saat kejadian dan mereka sujud kepada Allah, Rabb semesta alam Yang telah mengutus Musa dan Harun dengan kebenaran dan mukjizat yang menagumkan. Lalu Fir’aun menderita kekalahan yang tidak pernah diderita oleh [siapapun di] dunia seperti itu. Hal tersebut merupakan balasan setimpal baginya orang yang dilaknat Allah, para Malaikat dan seluruh manusia. Maka, ia mulai mengandalkan kesombongan, pembangkangan dan anggapan kebathilannya dengan mencoba mengancam dan menakut-nakuti mereka dengan berkata: innaHuu lakabiirukumul ladzii ‘allamakumus sihra (“Sesungguhnya dia benar-benar memimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu.”) dan: in Haadzaa lamakrum makartumuuHu fil madiinati (“Sesungguhnya [perbuatan] ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini….”) (al-A’raaf: 123)

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 29-37 (4)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 29-37“29. Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. 30. Musa berkata: “Dan Apakah (kamu akan melakukan itu) Kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata ?” 31. Fir’aun berkata: “Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah Termasuk orang-orang yang benar”. 32. Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata. 33. dan ia menarik tangannya (dari dalam bajunya), Maka tiba-tiba tangan itu Jadi putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya. 34. Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, 35. ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri dengan sihirnya; Maka karena itu Apakah yang kamu anjurkan?” 36. mereka menjawab: “Tundalah (urusan) Dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (ahli sihir), 37. niscaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu”. (asy-Syu’araa’: 29-37)

Ketika hujjah telah disampaikan kepada Fir’aun secara jelas dan rasional, maka ia mulai melakukan pemaksaan kepada Musa dengan menggunakan tangan dan kekuasaannya, dimana ia mengira bahwa di balik sikapnya itu, Musa tidak bisa memberi komentar. Dia berkata: la init takhadz-ta ilaaHan ghairii la-aj’alannaka minal masjuuniin (“Sesungguhnya jika kamu menyembah ilah selainku, benar-benar aku akan menjadikanmu salah seorang yang dipenjara.”)

Di saat itu Musa menjawab: a walau ji’tuka bisyai-im mubiin (“Dan apakah tetap berlaku meskipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang nyata?”) yaitu dengan bukti yang pasti dan nyata.
Qaala fa’tibiHii in kunta minash-shaadiqiin. Fa alqaa ‘ashaaHu fa idzaa Hiya tsu’baanum mubiin (“Fir’aun berkata: ‘Datangkanlah sesuatu yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa melemparkan tongkatnya yang tiba-tiba menjadi ular yang nyata.”) yaitu yang jelas dan benar-benar nyata lagi sangat besar yang memiliki tulang-tulang besar, mulut yang besar dan bentuk yang ganas.
Wa naza’a yadaHu (“Dan ia menarik tangannya”) yaitu dari lengan bajunya: fa idzaa Hiya bai-dlaa-a linnaadhiriin (“Maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih bersinar bagi orang yang melihatnya.”) yaitu bersinar seperti rembulan, lalu Fir’aun dengan kekejamannya bersegera mendustakan dan menentangnya. Dia berkata kepada para tokoh di sekelilingnya: inna Haadzaa lasaahirun ‘aliim (“Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai.”) yakni amat ahli dan pandai dalam ilmu sihir.”)

Fir’aun mencoba memberikan pandangan kepada mereka bahwa semua itu muncul dari kemampuan sihir, bukan dari hasil mukjizat. Kemudian dia menganjurkan dan mendorong mereka untuk menentang dan mengkufurinya, ia berkata: yuriidu ay yukhrijakum min ardlikum bi sihriHii…. (“Ia hendak mengusirmu dari negerimu sendiri dengan sihirnya…”) yaitu dengan semua itu Musa ingin mengalihkan perhatian orang-orang agar tetap bersamanya, hingga banyaklah pendukung, penyokong dan pengikutnya serta hendak berusaha menguasai negeri ini dengan merampasnya dari kalian. Maka berikan pendapat kalian, apa yang harus aku lakukan?

Qaaluu arjiH wa akhaaHu wab’ats fil madaa-ini haasyiriin. Ya’tuuka bikulli sahhaarin ‘aliim (“Mereka menjawab: ‘Tundalah [urusan] dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan [ahli sihir], niscaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu.’”) yaitu tundalah dia dan saudaranya hingga engkau mampu mengalahkannya dan mampu mendapat pertolongan dan dukungan. Maka Fir’aun memperkenankan usulan tersebut. Ini merupakan pengaturan Allah Ta’ala kepada mereka agar manusia berhimpun di satu tempat dan menampakkan ayat-ayat-Nya, hujjah-hujjah dan bukti-bukti-Nya kepada manusia di siang hari yang nyata.

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 23-28 (3)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 23-28“23. Fir’aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?” 24. Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya”. 25. berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?” 26. Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”. 27. Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila”. 28. Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”. (al-Furqaan: 23-28)

Allah berfirman tentang perkataan Fir’aun: wa maa rabbul ‘aalamiin (“Siapa Rabb semesta alam itu?”) hal itu karena Fir’aun berkata kepada kaumnya: maa ‘alimtu lakum min ilaaHin ghairii (“Aku tidak tahu ada Ilah selainku untukmu.”)(al-Qashash: 38). Saat itu mereka mengingkari Rabb Mahapencipta, serta berkeyakinan bahwa tidak ada Rabb lain bagi mereka selain Fir’aun. Maka tatkala Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku adalah utusanRabbul ‘Aalamiin.” Fir’aun berkata kepadanya: “Siapakah yang engkau anggap Rabb semesta alam selain diriku ini?”

Demikianlah yang ditafsirkan oleh para ulama salaf dan imam-imam Khalaf, hingga as-Suddi berkata tentang ayat ini, seperti firman Allah yang artinya: “Berkata Fir’aun: ‘Maka siapakah Rabb-mu berdua, hai Musa?’ Musa berkata: ‘Rabb kami adalah [Rabb] yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’” (ThaaHaa: 49-50).

“Barangsiapa di antara para ahli mantiq [ahli fikir] dan ahli-ahli lainnya yang menyangka bahwa pertanyaan ini menyangkut Dzat [Rabb], hal itu merupakan kekeliruan. Karena Fir’aun bukanlah orang yang mengakui adanya Rabb Mahapencipta hingga ia harus bertanya tentang Dzat-Nya, akan tetapi ia mengingkarinya secara menyeluruh sesuai kenyataan, sekalipun dalil-dalil dan bukti-bukti nyata telah diajukan kepadanya.

Di saat dipertanyakan tentang siapa Rabb semesta alam itu, maka Musa menjawab: qaala rabbus samaawaati wal ardli wa maa baina Humaa (“Rabb pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya.”) yaitu Mahapencipta, Pemilik dan Pengatur segala sesuatu, serta Ilah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah Rabb yang menciptakan sesuatu seluruhnya, semua itu adalah hamba Allah yang tunduk dan patuh kepada-Nya.

In kuntum muuqiniin (“Jika kamu sekalian mempercayainya.”) yaitu jika kalian memiliki hati yang yakin dan wawasan yang luas. Di saat itulah Fir’aun berpaling ke sekelilingnya, memandang para tokoh dan pembesar negerinya dengan berkata kepada mereka sambil mengejek, mencela dan mendustakan tentang apa yang dikatakan Musa:
Allaa tastami’uun (Apakah kamu tidak mendengarkan?”) yakni apakah kalian tidak merasa heran dengan apa yang disangkanya bahwa ada ilah untuk kalian selain aku? Maka Musa berkata kepada mereka: rabbukum wa rabbu aabaa-ikumul auwaluun (“Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu yang terdahulu.”) yaitu Dia lah Pencipta kalian dan pencipta nenek moyang kalian yang terdahulu sebelum Fir’aun dan masanya.

Qaala (“Berkata Fir’aun kepada kaumnya”): inna rasuulakumul ladzii ursila ‘alaikum lamajnuun (“Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.”) yaitu dia tidak memiliki akal dalam pengakuannya yang menyatakan bahwa di sana ada Rabb selainku.
Qaala (“Berkata Musa”) kepada mereka yang ditanamkan pemikiran syubhat oleh Fir’aun dimana Musa menjawabnya dengan kata-kata: rabbul masyriqi wal maghribi wa maa bainaHumaa in kuntum ta’qiluun (“Rabb yang menguasai Timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu menggunakan akal”) yaitu Dia lah yang telah menjadikan timur sebagai tempat munculnya bintang-bintang, dan menjadikan barat sebagai barat tempat surufnya bintang-bintang dalam garis edarnya bersama sistem yang diberlakukan dan ditetapkan bagi semua itu. Maka jika yang dia sangka bahwa dia adalah Rabb dan Ilahkalian itu benar maka dia pasti bisa membalikkan semua perkara tersebut dimana timur menjadi barat dan barat menjadi timur, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 258)

Untuk itu ketika Fir’aun merasa telah terkalahkan dan mulai digugurkan dalil-dalilnya, maka ia mulai mengandalkan kesombongan, kekuatan dan kekuasaannya. Ia berkeyakinan bahwa hal itu bisa bermanfaat bagi dirinya dan dapat mengalahkan Musa as. Maka Fir’aun berkata sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Ta’ala yang artinya:

“29. Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain Aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. 30. Musa berkata: “Dan Apakah (kamu akan melakukan itu) Kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata ?” 31. Fir’aun berkata: “Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah Termasuk orang-orang yang benar”. 32. Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata. 33. dan ia menarik tangannya (dari dalam bajunya), Maka tiba-tiba tangan itu Jadi putih (bersinar) bagi orang-orang yang melihatnya. 34. Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, 35. ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri dengan sihirnya; Maka karena itu Apakah yang kamu anjurkan?” 36. mereka menjawab: “Tundalah (urusan) Dia dan saudaranya dan kirimkanlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (ahli sihir), 37. niscaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu”. (asy-Syu’araa’: 29-37)

Bersambung ke bagian 4