Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 60-68 (8)

14 Apr

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 60-68“60. Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. 61. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. 62. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. 63. lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. 64. dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. 65. dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. 66. dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. 67. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. 68. dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (asy-Syu’araa: 60-68)

Tidak hanya satu ahli tafsir yang berkata bahwa Fir’aun keluar dengan rombongan dan pasukan yang besar; fa atba’uuHum musyriqiin (“Maka Fir’aun dan balatentaranya dapat menyusul mereka di waktu matahari terbit.”) yakni pasukan Fir’aun mampu menyusul mereka [Bani Israil] ketika matahari terbit.

Falammaa taraa-al jam’aani (“Setelah kedua golongan itu saling melihat”) yakni dua golongan itu satu sama lain saling melihat, di saat itu: qaala ash-haabu muusaa innaa lamudrakuun (“Berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’”) hal itu dikarenakan ketika mereka tiba di pinggil laut Qulzum, di hadapan mereka hanya terdapat lautan, sedangkan di belakang mereka Fir’aun dan pasukannya mulai tampak menyusul. Maka mereka mengatakan demikian.

Qaala kallaa inna ma’iya rabbii sayaHdiin (“Musa menjawab: ‘Sekali-sekali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’”) yakni, ia tidak akan mampu menyusul kalian sedikitpun seperti yang kalian takutkan. Karena Allah-lah yang telah memerintahkanku untuk menempuh perjalanan bersama kalian. Sedangkan Allah tidak mengingkari janji. Lalu Fir’aun dan pasukannya mulai mendekat dan tidak ada jarak lagi yang tersisa kecuali sedikit saja.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Salam, bahwa tatkala Musa telah tiba di tepi laut, ia berkata: “Hai Rabb yang telah ada sebelum segala sesuatu, Pencipta segala sesuatu dan Rabb yang selalu ada setelah lenyapnya segala sesuatu, jadikanlah untuk kami jalan keluar.” Maka Allah mewahyukan: anidl-rib-bi’ashaakal bahr (“Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.”) lalu Musa memukulkan tongkatnya. Di dalamnya terdapat kekuasaan Allah yang diberikan kepadanya hingga lautan itu terbelah.

Allah Ta’ala berfirman: fan falaqa fa kaana kullu firqin kath-thaudil ‘adhiim (“Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah ath-Thaud al-‘Adhiim, yaitu seperti gunung yang besar.

‘Atha’ al-Khurasani berkata: “Yaitu celah di antara dua gunung.”
Ibnu ‘Abbas berkata: “Lautan itu terbelah menjadi 12 jalan, dimana untuk setiap jalur terdapat satu jalan.” Sedangkan as-Suddi menambahkan: “Di dalamnya terdapat celah-celah yang satu bagian dengan bagian lainnya dapat saling memandang. Air itu berdiri tegak di atas batu-batuan seperti tembok dan Allah mengutus angin ke dasar laut, lalu menerpa air laut tersebut hingga menjadi kering seperti permukaan tanah.”

Firman Allah: fadl-rib laHum thariiqan fil bahri yabasal laa takhaafu darkaw wa laa takhsyaa (“Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di atas lautan itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut [akan tenggelam].”)(ThaaHaa: 77). Di dalam kisah ini, Dia berfirman: wa azlafnaa tsammal aakhariin (“Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain.”) yakni di sana Kami dekatkan Fir’aun dan pasukannya menuju lautan dan Kami hampirkan mereka kepadanya.

Wa anjainaa muusaa wa mam ma’aHuu ajma’iin. Tsumma aghraqnal aakhariin (“Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tengelamkan golongan yang lain itu.”) yakni Kami selamatkan Musa dan Bani Israil serta orang-orang yang mengikuti agamanya, hingga tak ada seorang pun yang binasa. Serta Kami tenggelamkan Fir’aun dan pasukannya, hingga tak ada seorang laki-laki pun di antara mereka yang tersisa. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: inna fii dzaalika la aayatan (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar [mukjizat].”) yakni di dalam kisah ini terdapat berbagai keajaiban, pertolongan dan dukungan kepada hamba-hamba Allah yang beriman itu terdapat dalil, hujjah yang pasti dan hikmah yang sempurna.

Wa maa kaana aktsaruHum mu’miniin. Inna rabbaka laHuwal ‘aziizur rahiim (“Dan tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang.”) hal ini sudah ditafsirkan sebelumnya.

Bersambung ke bagian 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: