Arsip | 07.28

Buah-Buahan Ahli Surga

16 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di antara fasilitas yang dinikmati oleh orang-orang mukmin di surga adalah makanan, minuman, dan buah-buahan. Allah swt banyak menyebut kata-kata “buah-buahan surga” dalam al-Qur’an. Hal ini termasuk kesenangan dan kelezatan yang dinikmati ahli surga.

Di surga tidak ada buah-buahan yang menyerupai buah-buahan sebagaimana yang ada di dunia, rasanya beda, bentuknya juga beda. Mahabesar Allah dengan firman-Nya, “.. Mereka telah diberi [buah-buahan] yang serupa….” (al-Baqarah: 25)

Di dalam al-Qur’an, Allah memberi nama dengan nama-nama yang ada di dunia agar orang-orang beriman mudah menangkap maksud dari firman Allah swt.

Di antara bentuk penghargaan Allah adalah Allah menjadikan buah-buahan surga tersebut tunduk sehingga mudah dijangkau oleh tangan-tangan orang mukmin kapan saja mereka kehendaki. Tidak susah dipetik dan tidak perlu pertolongan atau alat-alat bantu karena Allah swt. benar-benar membuat mereka tunduk. Firman-Nya yang artinya: “Dan naungan [pepohonan]nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik [buah]nya.” (al-Insaan: 14)

Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan ayat-ayat ini berkata, “Kalau orang-orang mukmin menginginkan buah-buahan, maka buah-buahan itu langsung tunduk kepadanya sehingga mudah dipetik dan mereka memperoleh apa yang diinginkan. Dalam Tafsir ash-Shabuni disebutkan, “Artinya buah-buahan itu tunduk kepada mereka sehingga mereka dapat memetiknya dengan mudah.”

Allah swt. menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa ahli surga berhak memperoleh tiap buah-buahan, maksudnya segala macam buah-buahan, baik yang diketahui maupun yang belum diketahui, tidak habis oleh waktu dan tidak tercegah oleh harga.

Allah swt. berfirman setelah menuturkan tentang sungai-sungai di surga dengan airnya yang tawar, sungai khamar, serta madu., “Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka.” (Muhammad: 15)

Allah menuturkan tentang buah-buahan surga, yang menyatakan bahwa buah-buahan tersebut untuk orang-orang mukmin:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 25)

“[Yaitu] surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bersandar [di atas dipan-dipan] sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman [di surga itu].” (Shaad: 50-51)

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan. Di dalam surga itu terdapat banyak buah-buahan untukmu yang sebagiannya kamu makan.” (az-Zukhruf: 72-73)

Perhatikan besarnya rahmat, pengargaan, dan anugerah Allah swt. Allah berfirman: “Yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya.” (al-Waaqi’aH: 33) artinya selalu dan senatiasa sebagaimana mereka yang akan kekal dan abadi di surga. Setiap saat tidak terputus, tidak tercegah, dan tidak seorang pun bisa mencegahnya.

Allah swt. menyebutkan sebagian nama-nama buah-buahan surga tersebut, dalam surah ar-Rahmaan, dengan memberikan karakteristik dua surga yang di bawahnya ada dua buah mata air yang mengalir:
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?, kedua syurga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang mengalir. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua syurga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.” (ar-Rahmaan: 46-52)

Allah Swt. juga berfirman tentang dua surga yang lain:
“Dan selain dari dua syurga itu ada dua syurga lagi. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? kedua syurga itu (kelihatan) hijau tua warnanya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang memancar. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.” (ar-Rahmaan: 62-68)

Allah swt. telah menentukan kurma dan delima di antara buah-buahan yang disebutkan karena kelebihan dan kemuliaan yang dimiliki keduanya. sebagaimana Allah juga telah menentukan kebun kurma dan anggur dalam surah an-Naba’ sebab keduanya merupakan jenis buah-buahan yang memiliki kelebihan, dari sisi kebaikan dan manisnya.

Diceritakan dari Abu Musa al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. menurunkan Nabi Adam dari surga dan mengajarkannya agar mampu membuat segala sesuatu dan membekalinya buah-buahan di antara buah-buahan surga. Oleh karena itu, buah-buahan kalian ini termasuk buah-buahan surga. Hanya saja yang di sini berubah, sedangkan yang di sana masih asli.” (HR Ibnu Huzaimah dalam kitab Shahihnya, al-Baihaqi, dan ath-Thayalisi)

Disebutkan juga dalam hadits Laqith bin Shabrah, yang diriawayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Musnad bapaknya: Saya bertanya, “Wahai Rasulallah, apa yang disuguhkan pada ahli surga?” rasulullah saw. menjawab: “Mereka akan mendapatkan sungai dari sungai madu murni, sungai dari minuman [khamar] yang tidak memusingkan kepala dan tidak menimbulkan penyesalan, yang tidak berubah rasanya serta baunya, dan juga dihidangkan buah-buahan.”

Diceritakan dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: “Buah-buahan surga itu seperti Qilal [jenis buah dari pohon yang berkayu] dan ad-Dila’ [jenis buah], lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, lebih lembut dari yoghurt, dan tidak terdapat cacat sedikitpun.”

Diceritakan dari al-Barra bin Azib ra. “Sesungguhnya ahli surga makan buah-buahan surga dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, dalam keadaan apapun mereka mau.” (Dituturkan oleh al-Manduri dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib dan Fathul Bari)

Diceritakan dari Salim bin Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi manfaat kepada kita berkat orang-orang desa dan permasalahan mereka.” Suatu ketika ada orang desa datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya, “Wahai Rasulallah, Allah swt. menyebutkan bahwa di surga ada pohon yang menyakitkan, sedangkan saya tidak pernah melihat di kebun ada pohon yang menyakitkan dan menyerang pemiliknya.” Rasulullah saw. menjawab, “Apakah itu?” Orang desa tersebut berkata: “Yaitu pohon bidara atau lotus [jenis tanaman berduri] sebab pohon itu memiliki duri dan menyakitkan.” Rasulullah saw. menjawab: “Bukankah Allah swt. berfirman: ‘[Mereka] berada di antara pohon bidara yang tidak berduri.” (al-Waaqi’ah: 28) (at-Targhib wa at-Tarhib, HR Ibnu Abi Ad-Dun-ya dengan sanad yang hasan)

&

Khamr di Surga

16 Apr

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di dalam al-Qur’an terdapat kata-kata “khamr”, termasuk salah satu kesenangan ahli surga, yang dapat dinikmati dengan kenikmatan yang sangat luar biasa. Hal ini karena Allah telah mengharamkannya di dunia dengan keharaman yang mutlak dan mengancam peminumnya dengan siksa yang pedih di hari kiamat. Hal ini dikarenakan khamr di dunia itu kotor, menghilangkan akal dan hati, serta bisa menjadikan seseorang kehilangan kendali.

Manusia menjadi bernilai karena akalnya. Ketika akalnya hilang, ia menjadi seperti binatang. Allah swt. tidak menginginkan hamba-Nya kehilangan akal yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, untuk menghargai dan memuliakannya. Barangsiapa memenuhi kehendak Allah dan menghindari khamr di dunia, Dia berjanji bahwa nanti di surga, yang juga Dia janjikan, khamr akan mengalir di sekitar mereka, di bawah mereka, di bawah istana mereka, di tenda-tenda mereka, dan di kamar-kamar mereka. Air sungai terdiri dari atas khamr, tetapi khamr di sana tidak memabukkan, tidak membuat pusing kepala, atau merusak jiwa (menghilangkan ingatan).

“Kepada mereka diedarkan gelas [yang berisi air] dari mata air [surga], [warnanya] putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada di dalamnya [unsur] yang memabukkan dan mereka tidak mabuk karenanya.” (ash-Shaaffaat: 45-47)

“…khamr [anggur yang tidak memabukkan] yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murni…” (Muhammad: 15)

“Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki [piala] berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.” (al-Waaqi’ah: 17-19)

Imam Ibnu Katsir menyatakan dalam tafsirnya bahwa kepala mereka tidak akan merasa pusing, akal mereka tidak akan hilang, bahwa ia tetap stabil dengan kesenangan dan kelezatan yang teramat sangat.

Jenis khamr yang ada di surga benar-benar berbeda dibandingkan dengan khamr yang ada di dunia, yang membuta kepala pusing, buang air kecil, muntah serta menghilangkan akal.

Al-Qur’an telah datang dengan menjelaskan karakteristik yang indah, baik, dan menyegarkan ahli surga. Mereka berada di atas dipan-dipan bertelekan. Mereka minum dengan dikelilingi minuman-minuman yang sangat lezat, sementara itu lak atau segelnya adalah kasturi, yang mengambah kelezatan dan kenikmatan bagi yang meminumnya.

Firman Allah yang artinya:
“Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (al-Muthaffifiin: 22-28)

Dalam tafsir ath-Thabari, Tafsir al-Qurthubi, serta Shafwah at-Tafasir dijelaskan tentang firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.” Maksudnya, orang-orang yang taat kepada Allah akan masuk surga yang menghijau, dengan naungan yang membentang dan mereka dapat menikmatinya.

“Mereka [duduk] di atas dipan-dipan melepas pandangan.” Artinya mereka gembira dihiasi dengan pakaian dan tabir yang mewah. Mereka memandangi kenikmatan yang telah dijanjikan Allah swt. kepada mereka, seperti bermacam-macam penghormatan dan kenikmatan di surga.

“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.” Artinya kalau kamu lihat mereka, kamu akan tahu bahwa mereka pantas memperoleh kenikmatan, setelah engkau memperhatikan wajah-wajah mereka ada cahaya, warna putih, tampan, serta rona kegembiraan dan kesenangan yang memesona.

“Mereka diberi minum dari khamr murni [tidak memabukkan] yang [tempatnya] masih di-lak [disegel].” Artinya, di surga mereka diberi minuman khamr, berwarna putih, baik, murni, dan tidak dikotori oleh sentuhan tangan-tangan manapun, yang ditaruh pada wadah-wadah atau bejana. Siapapun tidak akan dapat membukanya, kecuali orang-orang yang taat kepada Allah.

“Lak-nya dari kasturi” artinya, setelah meminumnya, akan menyeruap aroma harum seperti misik.
“Dan untuk demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba.” Artinya demi kenikmatan, minuman yang enak, cenderunglah pada ketaatan kepada Allah swt. bahkan berlomba-lombalah untuk meraihnya.

Imam ath-Thabari mengatakan bahwa kata “at-tanafus” memiliki pengertian “sesuatu yang berhubungan dengan kejiwaan, artinya manusia akan memiliki kecenderungan kepadanya. Mereka menginginkan dan jiwa mereka akan mengejarnya.” Maksudnya, “Berlomba-lombalah memperoleh kenikmatan ini dengan jiwa yang bersemangat.”

“Dan campurannya dari tasnim.” Artinya, campuran tersebut terdiri atas bahan-bahan yang berkualitas tinggi, yaitu minuman ahli surga yang sangat mulia dan tertinggi yang diberi nama “tasnim.”

“[Yaitu] mata air yang diminum oleh mereka yang dekat [kepada Allah].” Maksudnya mata air yang di surga, yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah swt. dengan shirfan [meneguk], lalu membagikannya untuk seluruh ahli surga.
Dalam kitab at-Tashil disebutkan, tasnim adalah nama mata air di surga, yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan kepada Allah swt. dengan shirfan [meneguk], lalu dicampuri khamr murni, yang kemudian diminum oleh orang-orang yang banyak berbuat kebajikan. Ini menunjukkan bahwa derajat al-Muqarrabun [orang-orang yang didekatkan kepada Allah swt] lebih tinggi daripada derajat al-abrar [orang-orang yang banyak berbuat kebajikan].

&