Arsip | 15.58

Nabi Muhammad saw. Mendatangi Kabilah-kabilah dan Permulaan Kaum Anshar Menganut Islam

21 Apr

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Pada setiap musim haji, Nabi Muhammad saw. mendatangi kebilah-kabilah yang datang ke Baitul Haram, membacakan Kitab Allah kepada mereka dan mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah. Akan tetapi, tidak seorang pun menyambut seruannya.

Ibnu Sa’ad di dalam Thabaqat-nya berkata: “Pada setiap musim haji, Rasulullah saw. mendatangi dan mengikuti orang-orang yang sedang menunaikan haji sampai di rumah-rumah mereka dan di pasar-pasar ‘Ukazh, Majinnah, dan Dzil-Majaz. Beliau mengajak mereka agar bersedia membelanya sehingga ia dapat menyampaikan risalah Allah dengan imbalan surga bagi mereka. Akan tetapi, Rasulullah saw.tidak mendapat seorang pun yang membelanya.

Rasulullah saw. berseru kepada mereka: “Wahai manusia, ucapkanlah: Laa ilaaHa illallaaH, niscaya kalian akan beruntung. Dengan kalimat ini, kalian akan menguasai bangsa Arab dan orang-orang ‘ajam. Jika kalian beriman, kalian akan menjadi raja di surga.”

Setiap kali beliau berkata demikin, Abu Lahab selalu mengikuti beliau seraya menimpali: “Jangan kalian mengikutinya! Sesungguhnya ia seorang murtad dan pendusta.” Kemudian mereka dengan cara yang kasar menolak dan menyakiti Nabi saw.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari az-Zuhri bahwa Nabi saw. datang kepada bani Amir bin Sha’Sha’ah lalu mengajak mereka beriman kepada Allah dan menawarkan agama Islam kepada mereka. salah seorang dari mereka, Bahirah bin Firas, kemudian berkata: “Demi Allah, kalau aku mengambil anak muda ini dari Quraisy, pasti orang-orang Arab akan membunuhnya.” Selanjutnya ia bertanya: “Bagaimana jika kami baiat kepadamu kemudian Allah memenangkan kamu atas musuhmu?”
Nabi saw. menjawab: “Sesungguhnya urusan kekuasaan itu berada di tangan Allah. Dia akan memberikan kekuasaan kepada itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Bahirah bin Firas berkata: “Apakah engkau akan menyerahkan leher-leher kami kepada orang-orang Arab itu demi membelamu, tetapi setelah Allah memenangkanmuu, kekuasaan itu diserahkan kepada selain kami? Kami tidak ada urusan dengamu!” (Sirah Ibnu Hisyam, 1/425 dan Tarikhuth Thabari 2/350)

Pada tahun kesebelas dari kenabian, Rasulullah saw. mendatangi kabilah-kabilah sebagaimana dilakukannya setiap tahun. Ketika berada di Aqabah (suatu tempat di antara Mina dan Makkah, tempat melempar jumrah), Nabi saw. bertemu dengan sekelompok orang dari kabilah Khazraj yang sudah dibukakan oleh Allah untuk menerima kebaikan. Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, “Kalian siapa?” Mereka menjawab: “Kami orang-orang dari kabilah Khazraj.” Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian dari orang-orang yang bersahabat dengan orang-orang Yahudi?” Mereka menjawab: “Ya Benar.” Nabi saw. bertanya: “Apakah kalian bersedia duduk bersama kami untuk bercakap-capak?” Jawab mereka: “Baik.” Mereka lalu duduk bersama beliau. Beliau mengajak mereka supaya beriman kepada Allah, menawarkan Islam kepada mereka, kemudian membacakan beberapa ayat suci al-Qur’an.

Di antara hal yang telah mengkondisikan hati mereka untuk menerima Islam adalah keberadaan orang-orang Yahudi di negeri mereka. sementara itu orang-orang Yahudi dikenal sebagai ahli agama dan ilmu pengetahuan. Jika terjadi pertentangan atau peperangan antara mereka dan orang-orang Yahudi, kaum Yahudi berkata kepada mereka: “Sesungguhnya sekarang telah tiba saatnya akan dibangkitkan seorang Nabi. Kami akan mengikutinya dan bersamanya kami akan memerangi kalian, sebagaimana pebunuhan ‘Aad dan ‘Iraam.”

Setelah Rasulullah saw. berbicara kepada mereka dan mengajak mereka untuk menganut Islam, mereka berkata seraya sambil berpandangan: “Demi Allah, ketahuilah bahwa dia adalah Nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepadamu. Jangan sampai mereka mendahului kamu.”

Akhirnya mereka bersedia menganut Islam dan berkata: “Kami tinggalkan kabilah kami yang selalu bermusuhan satu sama lain. Tidak ada kabilah yang bermusuhan begitu hebat seperti mereka; masing-masing berusaha menghancurkan lawannya. Mudah-mudahan bersama anda, Allah akan mempersatukan mereka lagi. Kami akan mendatangi mereka dan mengajak mereka supaya taat kepada anda. Kepada mereka akan kami tawarkan pula agama yang kami terima dari anda. Apabila anda berkenan mempersatukan mereka di bawah pimpinan anda, tidak ada orang yang lebih mulia dari anda!” mereka kemudian pulang dan berjanji kepada Rasulullah saw akan bertemu lagi pada musim haji mendatang. (Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Ashim bin Umar dan beberapa tokoh kaumnya. Lihat sirah Ibnu Hisyam 1/426).

&

Mukjizat Isra’ Mi’raj

21 Apr

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Isra’ adalah perjalanan Nabi saw. dari Masjid haram di Makkah ke Masjid Aqsha di al-Quds. Mi’raj ialah kenaikan Rasulullah saw. menembus langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam semalam.

Terjadi silang pendapat tentang terjadinya mukjizat ini. Apakah pada tahun kesepuluh kenabian ataukah sesudahnya? Menurut riwayat Ibnu Sa’ad di dalam Thabaqat-nya peristiwa ini terjadi delapan belas bulan sebelum Hijrah.
Jumhur ulama sepakat bahwa perjalanan ini dilakukan Rasulullah saw. dengan jasad dan ruh. Karena itu, ia merupakan salah satu mukjizatnya yang mengagumkan yang dikarunikan Allah kepadanya.

Kisah perjalanan ini disebutkan oleh Bukhari dan Muslim secara lengkap di dalam shahihnya. Disebutkan bahwa dalam perjalanan ini, Rasulullah saw. mengendarai buraq, yakni satu jenis binatang yang lebih besar sedikit dari keledai dan lebih kecil sedikit dari unta. Binatang ini berjalan dengan langkah sejauh mata memandang. Disebutkan pula bahwa Nabi saw. memasuki masjidil Aqsha lalu shalat dua rakaat di dalamnya. Jibril kemudian datang kepadanya seraya membawa segelas khamr dan segelas susu. Nabi saw. lalu memilih susu. Setelah itu Jibril berkomentar: “Engkau telah memilih fitrah.”
Dalam perjalanan ini Rasulullah saw. naik ke langit pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai di sidratul muntaha. Di sinilah kemudian Allah mewahyukan kepadanya apa yang telah diwahyukan, diantaranya kewajiban shalat lima waktu atas kaum Muslim, dimana pada awalnya sebanyak lima puluh kali sehari semalam.

Keesokan harinya Rasulullah saw. menyampaikan apa yang disaksikannya kepada penduduk Makkah. Akan tetapi oleh kaum musyrik, berita ini ditertawakan dan didustakan. Sebagian mereka menantang Rasulullah saw. untuk mengambbarkan Baitul Maqdis jika benar ia pergi dan melakukan shalat di dalamnya. Padahal ketika menziarahinya tidak pernah terlintas dalam fikiran Rasulullah saw. untuk menghafal bentuknya dan menghitung tiang-tiangnya. Allah kemudian memperlihatkan bentuk dan gambar Baitul Maqdis di hadapan Rasulullah sehingga dengan mudah beliau menjelaskan secara rinci sebagaimana yang mereka minta.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ketika kaum Quraisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr [Ismail], lalu Allah memperlihatkan Baitul Maqdis kepadaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya dari apa yang aku lihat.”

Berita ini oleh kaum musyrikin disampaikan kepada Abu Bakar dengan harapan dia akan menolaknya. Ternyata Abu Bakar menjawab: “Jika benar Muhammad yang mengatakannya, dia telah berkata benar dan sungguh aku akan membenarkannya lebih dari itu.””

Pada pagi hari dari malam Isra’ itu, Jibril datang kepada Rasulullah saw. mengajarkan cara shalat dan menjelaskan waktu-waktunya. Sebelum disyariatkannya shalat lima waktu, Rasulullah saw. melakukan shalat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari sebagaimana dilakukan oleh Ibrahim as.

BEBERAPA IBRAH

1. Pertama, penjelasan tentang Rasul dan mukjizat.
Banyak penulis yang begitu gemar menggambarkan kehidupan Rasulullah saw. sebagai manusia biasa, jauh dari hal-hal yang luar biasa dan mukjizat, bahkan tidak memperhatikan samasekali kemukjizatan dalam kehidupan Rasulullah saw. Mereka mengingkari hal-hal luar biasa dan kemukjizatan dalam kehidupan Nabi saw. dengan berdalil: “….katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah…” (al-An’am: 109)

Gambaran seperti ini akan memberikan kesan kepada para pembaca bahwa sirah Rasulullah saw. sama sekali jauh dari mukjizat dan bukti-bukti yang biasanya digunakan Allah untuk mendukung Nabi-nya yang jujur dan benar.

Jika kita telusuri sumber “teori” tentang Rasulullah saw. ini, ternyata kita dapati berasal dari pemikiran sebagian orientalis dan peneliti asing, seperti Gustav Labon, August Comte, Goldzhier, dan teman-temannya. Timbulnya teori ini disebabkan oleh tidak adanya keimanan kepada Pencipta mukjizat. Sebab, jika keimanan kepada Allah telah menghujam di dalam hati, akan mudah untuk meyakini segala sesuatu yang berhak disebut mukjizat.

Ironisnya teori ini telah disambut baik oleh sebagian pemikir kaum Muslim, seperti Syekh Muhammad Abduh, Muhammad Farid Wajdi, dan Husain Haekal. Mereka menyebarkan pemikiran-pemikiran asing ini hanya karena mereka tertipu oleh kelicikan tipu daya musuh dan fenomena kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa dan Barat.

Selanjutnya pemikiran-pemikiran asing yang dikemukakan oleh sebagian pemikir kaum Muslimin ini oleh para musuh Islam, khususnya orientalis, dijadikan alat untuk membuka medan-medan dan ladang-ladang baru untuk melakukan ghazwul fikri dan menimbulkan keraguan kaum muslimin terhadap agamanya, senjata bagi serbuan langsung aqidah Islamiyah dan penanaman pemikiran-pemikiran sekuler di benak kaum Muslim.

Demikianlah mereka mulai memberikan sifat-sifat tertentu kepada Rasulullah saw. seperti heroik, jenius, pahlawan, dan pemimpin dalam arti yang serba menakjubkan. Pada waktu yang sama mereka menggambarkan kehidupan umum Rasulullah saw. jauh dari mukjizat dan hal-hal luar biasa yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Dengan demikian akan tercipta suatu gambaran baru tentang Nabi Muhammad saw. di dalam benak kaum Muslim. Kadang mereka menamakan Rasulullah saw. sebagai jenius atau seorang komandan atau seorang pahlawan. Akan tetapi sesuatu yang tidak boleh muncul sama sekali adalah gambaran Muhammad saw. sebagai seorang Nabi dan Rasul. Sebab semua hakekat kenabian dan segala yang berkaitan dengannya seperti wahyu, mukjizat, dan hal-hal luar biasa telah dibuang –melalui penonjolan isilah-istilah tertentu, seperti jenius dan pahlawan yang jauh dari kemukjizatan- ke dalam keranjang mitologi atau dongeng-dongeng yang sudah usang. Ini karena mereka menyadari bahwa fenomena wahyu dan kenabian merupakan puncak kemukjizatan.

Pada saat itulah akan muncul anggapan bahwa sebab kemajuan dakwah Rasulullah saw. dan banyaknya pengikut yang setia kepadanya adalah karena faktor kejeniusan dan kepahlawanannya. Perhatikanlah! Sesungguhnya, sasaran yang ingin mereka capai ini tampak jelas ketika memasarkan istilah “Muhammadenist” sebagai ganti dari “Muslimin”.
Akan tetapi, sejauh manakah kebenaran gambaran tentang diri Muhammad saw. ini dalam kacamata kajian objektif dan logis?

Pertama, jika kita perhatikan fenomena wahyu yang tampak dengan jelas pada kehidupan Rasulullah saw. (pada bab terdahulu telah dijelaskan secara rinci), nyatalah bagi kita bahwa sifat yang paling menonjol dalam kehidupannya ialah sifat “kenabian”. Kenabian adalah termasuk nilai-nilai keghaiban yang tidak mengikuti kriteria-kriteria yang bersifat empirik. Dengan demikian, arti mukjizat yang di luar kebiasaan itu tetap ada pangkal keberadaan Nabi Muhammad saw. Tidak mungkin menolak mukjizat dan hal-hal luar biasa dari kehidupan Rasulullah saw. kecuali dengan menghancurkan makna kenabian itu sendiri dari kehidupannya. Ini berarti juga penolakan terhadap agama itu sendiri kendatipun “kesimpulan” ini disebutkan secara eksplisit oleh sebagian orientalis dan cukup dengan menjelaskan kejeniusan dan keberanian Rasulullah saw. Mereka tidak perlu lagi menjelaskan “kesimpulan” karena telah cukup dengan “Muqaddimah”. Kesimpullan akan terbentuk secara otomatis setelah diterima muqaddimahnya.

Akan tetapi banyak juga di antara mereka yang secara terus terang menyebutkan “kesimpulan” karena kebencian yang tidak tertahankan lagi, seperti Syibli Syamil ketika menamakan keimanan kepada agama dengan “keimanan kepada mukjizat yang mustahil.” (Dr.Syibli Syamil mengatakannya di dalam pengantarnya untuk terjemahan ke dalam Bahasa Arab buku Boekinz ketika menjelaskan teori evolusi Darwin)

Dengan demikian, tidak ada gunanya lagi membahas keingkaran atau keimanan mereka terhadap mukjizat. Sejak awal, mereka sudah meragukan atau menolak dasar agama itu sendiri.

Kedua, jika kita perhatikan sirah kehidupan Rasulullah saw., akan kita dapati bahwa Allah telah memberikan banyak mukjizat kepada Nabi Muhammad saw. Keberadaan dan kebenaran mukjizat-mukjizat ini tidak dapat kita tolak begitu saja karena peristiwa-peristiwa mukjizat itu disampaikan kepada kita dengan sanad-sanad yang shahih dan mutawatir yang mencapai tingkat pasti dan yakin.

Di antara mukjizat-mukjizat tersebut adalah peristiwa memancarnya air dari jari-jari Rasulullah saw. yang mulia. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Bukhari di dalam bab “wudlu”, Muslim di dalam bab “al-Fadha’il” (keutamaan), Malik di dalam al-Muwaththa’, dan Imam-imam hadits lainnya dengan beberapa jalan yang berlainan. Kemudian az-Zarqani meriwayatkan perkataan al-Qurthubi, “Sesungguhnya, peristiwa memancarnya air dari jari-jari Rasulullah saw. berulang-ulang di beberapa tempat.”
Peristiwa ini juga diriwayatkan dari jalan yang banyak. Semuanya mencapai tingkatan yang pasti, bahkan dapat dikatakan mutawathir ma’nawi. (lihat az-Zarqani ‘Alal Muwatha’ 1/65)

Mukjizat Rasulullah saw. lainnya ialah peristiwa terbelahnya bulan pada masa Nabi Saw. ketika orang-orang musyrik memintanya. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Bukhari di dalam bab “Ahaditsul Anbiya’”. Muslim di dalam bab “Shifatul Qiyamah” dan imam-imam hadits lainnya. Berkata Ibnu Katsir, “Peristiwa ini diriwayatkan oleh hadits-hadits yang mutawatir dengan sanad-sanad yang shahih.” Para ulama telah sepakat bahwa peristiwa ini terjadi pada masa Nabi saw. dan merupakan salah satu mukjizat yang mengabumkan. (lihat tafsir Ibnu Katsir 4/261)

Peristiwa isra’ mi’raj yang sedang kita bahas ini merupakan salah satu mukjizat Nabi saw. Sebagian besar kaum Muslimin bahkan telah sepakat bahwa Isra’ dan Mi’raj ini termasuk mukjizat Nabi saw yang terbesar.
Akan tetapi anehnya, orang-orang yang memberikan sifat jenius kepada Rasulullah saw. dan menolak apa yang disebut mukjizat dari kehidupannya, berpura-pura tidak mengetahui hadits-hadits mutawatir yang mencapai derajat qath’i [pasti] ini. Mereka tidak pernah mau menyinggungnya sama sekali, baik dalam konteks positif maupun negatif, seolah-olah kitab-kitab hadits tidak pernah memuatnya, padahal setiap mukjizat diriwayatkan lebih dari sepuluh jalan [sanad].

Penyebab utama dari sikap “tidak mau tahu” ini adalah karena mereka ingin menghindari kemusykilan yang akan mereka hadapi manakala membaca hadits-hadits tentang mukjizat ini karena hadits-hadits ini bertentangan diametral dengan “teori” yang ada di kepala mereka. (Diantaranya penulis Hayatu Muhammad. Penulis buku ini secara sengaja menghindari hadits-hadits mukjizat agar “teori”nya bisa terselamatkan.)

Ketiga, mukjizat ialah sebuah kata yang jika direnungkan tidak memiliki definisi yang berdiri sendiri. Ia hanya suatu makna yang nisbi. Menurut istilah yang sudah berkembang, mukjizat ialah setiap perkara yang luar biasa. Sementara itu kebiasaan pasti akan berkembang mengikuti zaman dan berlainan sesuai dengan perbedaan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Mungkin sesuatu pada masa tertentu dianggap sebagai suatu mukjizat, tetapi pada masa sekarang sudah menjadi hal biasa. Mungkin juga sesuatu yang biasa di lingkungan orang-orang yang sudah maju, masih dianggap mukjizat di kalangan orang-orang primitif.

Yang benar adalah sesuatu yangt biasa dan yang luar biasa itu pada dasarnya dalah mukjizat. Galaksi adalah mukjizat, planet adalah mukjizat, hukum gaya tarik, peredaran darah, ruh dan manusia itu sendiri adalah mukjizat. Sungguh tepat ketika seorang ilmuwan Perancis, Chatubriant, menamakan manusia dengan “makhluk metafisika” yaitu makhluk ghaib yang misterius.

Hanya saja, manusia telah melupakan –karena terlalu lama dan sering menghadapi dan merasakannya- segi mukjizat dan nilainya, kemudian mengira, -karena kebodohannya- bahwa mukjizat ialah sesuatu yang “mengejutkan” dan di luar biasa ini dijadikan ukuran keimanan dan penolakannya terhadap sesuatu. Ini adalah kebodohan manusia yang aneh pada abad ilmu pengetahuan dan teknologi.

Seandainya manusia mau berfikir lebih jauh sedikit, niscaya akan tampak baginya bahwa Allah yang menciptakan mukjizat seluruh alam semesta ini tidak pernah kesulitan untuk menambahkan mukjizat lainnya atau menggantikan sebagian sistem yang telah berjalan di alam semesta ini. Seorang orientalis, Wiliam Johns, sempat sampai pada pemikiran seperti ini ketika mengatakan: “Kekuatan yang telah menciptakan alam semesta ini tidak pernah kesulitan untuk membuang atau menambahkan sesuatu padanya. Adalah mudah untuk dikatakan bahwa masalah ini tidak dapat digambarkan dengan akal. Akan tetapi yang harus dikatakan bahwa masalah ini tidak tergambarkan, bukan untuk tidak dapat digambarkan sampai ke tingkat adanya alam.”

Maksudnya, seandainya alam ini tidak ada, kemudian dikatakan kepada seseorang yang mengingkari mukjizat dan hal-hal luar biasa serta tidak dapat menggambarkan keberadaannya. “akan alam semesta,” niscaya dia akan menjawab: “Ini tidak mungkin dapat digambarkan.” Penolakannya terhadap gambaran seperti ini akan lebih keras ketimbang penolakannya terhadap gambaran adanya mukjizat.
Inilah yang harus dipahami oleh setiap muslim, baik mengenai Rasulullah saw. maupun mukjizat-mukjizat yang dikarunikan oleh Allah kepadanya.

2. Kedua, kedudukan mukjizat Isra’ dan Mi’raj di antara peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah saw. pada waktu itu.
Rasulullah saw. telah merasakan berbagai penyiksaan dan gangguan yang dilancarkan kaum Quraisy kepadanya. Di antara penderitaan terakhir [sampai terjadinya Isra’ dan Mi’raj] ialah apa yang dialami ketika hijrah ke Thaif yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Perasaan tak bedaya sebagai manusia dan betapa perlunya pembelaan terungkap seluruhnya dalam doa Nabi saw. yang diucapkan setelah tiba di kebun kedua anak Rabi’ah. Suatu anggapan yang menggambarkan ‘ubudiyah kepada Allah. Dalam munajatnya ini pula terungkap makna pengaduan kepada Allah dan keinginannya untuk mendapatkan penjagaan dan pertolongan-Nya. Bahkan beliau khawatir jangan-jangan apa yang dialaminya itu karena murka Allah kepadanya. Karena itu di antara doanya terucap kalimat: “Jika Engkau tidak murka padaku, maka semua itu tidak aku hiraukan.”

Kemudian setelah itu datanglah “undangan” Isra dan Mi’raj sebagai penghormatan dari Allah dan penyegaran semangat dan ketabahannya. Di samping sebagai bukti bahwa apa yang baru saja dialaminya dalam perjalanan ke Tha’if bukan karena Allah murka atau melepaskannya, melainkan hanya merupakan sunnatulallah yang harus berlaku pada para kekasih-Nya. Sunnah dakwah Islamiyah pada setiap masa dan waktu.

3. Ketiga, makna yang terkandung dalam perjalanan Isra’ ke Baitul Maqdis.
Berlangsungnya perjalanan Isra’ ke Baitul Maqdis dan mi’raj ke langit tujuh dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, menunjukkan betapa tinggi dan mulia kedudukan Baitul Maqdis di sisi Allah. Hal ini juga merupakan bukti nyata akan adanya hubungan yang sangat erat antara ajaran ‘Isa a.s. dan ajaran Muhammad saw., ikatan agama yang satu diturunkan Allah kepada para Nabi ‘alaiHis salam.

Peristiwa ini juga memberikan isyarat bahwa kaum Muslimin di setiap tempat dan waktu harus menjaga dan melindungi rumah suci [Baitul Maqdis] ini dari keserakahan musuh-musuh Islam. Seolah-olah hikmah Ilahiyah ini mengingatkan kaum Muslimin zaman sekarang agar tidak takut dan menyerah menghadapi kaum Yahudi yang tengah menodai dan merampas rumah suci ini, untuk membebaskannya dari tangan-tangan najis dan mengembalikannya kepada pemiliknya, kaum Muslimin.

Siapa tahu? Barangkali peristiwa Isra’ yang agung inilah yang menggerakkan Shalahuddin al-Ayyubi untuk mengerahkan kekuataannya melawan serbuan-serbuan Salibis dan mengusirnya dari rumah suci ini !!

4. Keempat, pilihan Nabi saw. terhadap minuman susu, ketika Jibril menawarkan dua jenis minuman, susu dan khamr, merupakan isyarat secara simbolik bahwa Islam adalah agama fitrah yakni agama yang aqidah dan seluruh hukumnya sesuai dengan tuntutan fitrah manusia. Di dalam Islam tidak ada sesuatu pun yang bertentangan dengan tabiat manusia. Seandainya fitrah berbentuk jasad, niscaya Islam akan menjadi bajunya yang pas.

Faktor inilah yang menjadi rahasia mengapa Islam begitu cepat tersebar dan diterima manusia. Hal ini karena betapapun tingginya budaya dan peradaban manusia dan betapapun manusia telah mereguk kebahagiaan material, ia akan tetap cenderung ingin melepaskan segala bentuk beban dan ikatan-ikatan yang jauh dari tabiatnya. Islam adalah satu-satunya sistem yang dapat memenuhi semua tuntutan fitrah manusia.

5. Kelima, jumhur ulama, baik salaf maupun khalaf, telah sepakat bahwa Isra’ dan mi’raj dilakukan dengan jasad dan ruh Nabi saw.
Imam Nawawi berkata dalam Syarhu Muslim, “Pendapat yang benar menurut kebanyakan kaum Muslimin, ulama salaf, semua fuqaha, ahli hadits, dan ahli ilmu tauhid adalah bahwa Nabi Muhammad saw. diisra’kan dengan jasad dan ruhnya. Semua nash menunjukkan hal ini dan tidak boleh ditakwilkan dari dhahirnya kecuali dengan dalil. (Syarhun Nawawi ‘alaa Shahihi Muslim, 2/29)

Ibnu Hajar di dalam Syarahnya terhadap Bukhari, berkata, “Sesungguhnya Isra’ dan Mi’raj terjadi pada satu malam, dalam keadaan sadar, dengan jasad dan ruhnya. Pendapat inilah yang diikuti oleh jumhur ulama, ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ilmu kalam. Semua arti dhahir dari hadits-hadits shahih menunjukkan pengertian tersebut tidak boleh dipalingkan dari pengertian lain karena tidak ada sesuatu yang mengusik akal untuk menakwilkannya.” (Fathul Bari, 7/136-137)

Di antara dalil yang secara tegas menunjukkan bahwa Isra’ dan Mi’raj ini dilakukan dengan jasad danruh ialah sikap kaum Quraisy yang menantang keras kebenaran peristiwa itu. Bila peristiwa ini hanya melalui mimpi kemudian Rasulullah saw. menyatakannya demikian kepada mereka, niscaya tidak akan mengundang keheranan dan pengingkaran sedemikian rupa. Hal ini karena penglihatan dalam mimpi itu tidak ada batasnya . bahkan mimpi seperti itu, pada waktu itu, bisa saja dialami oleh orang Muslim atau kafir. Bila peristiwa itu hanya dilakukan dengan ruh, niscaya mereka tidak akan bertanya tentang gambaran Baitul Maqdis untuk memastikan dan menentangnya.

Mengenai bagaimana mukjizat ini berlangsung dan bagaimana akal dapat menggambarkannya maka sesungguhnya mukjizat ini tidak jauh berbeda dengan mukjizat alam semesta dan kehidupan ini dengan mudah dapat digambarkan dan diterima akal manusia, mengapa mukjizat ini tidak dapat diterima pula dengan mudah?

6. Ketika membahas kisah Isra’ dan Mi’raj, hati-hatilah dan jauhkanlah diri anda dari apa yang disebut “Mi’raj Ibnu ‘Abbas”. Buku ini berisi kumpulan cerita palsu yang tidak memiliki sandaran kebenaran sama sekali. Penulisnya telah berdusta besar atas nama Ibnu ‘Abbas. Setiap orang yang terpelajar dan berakal sehat pasti mengetahui bahwa Ibnu ‘Abbas ra. bebas dari segala kedustaan yang ada di dalam buku itu.

&