Arsip | 14.43

Bai’at Aqabah Pertama

22 Apr

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Pada tahun itulah Islam tersebar di Madinah. Pada tahun berikutnya, dua belas orang lelaki dari Anshar datang di musim haji menemui Rasulullah saw. di Aqabah (Aqabah Pertama). Mereka kemudian berbaiat kepada Rasulullah saw. seperti isi baiat kaum wanita (tidak berbaiat untuk perang dan jihad). Di antara mereka terdapat As’ad bin Zurarah, Rafi’ bin Malik, Ubadah bin Shamit, dan Abul-Haitsam bin Tihan.

Dalam sebuah riwayat, Ubadah bin Shamit mengatakan, “Kami sebanyak duabelas orang lelaki. Rasulullah saw. kemudian bersabda kepada kami, ‘Kemarilah! Berbaiatlah kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak akan berdusta untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan dan di belakangmu, dan tidak akan membantah perintahku dalam hal kebaikan. Jika kamu memenuhi, pahalanya terserah kepada Allah. Jika kamu melanggar sesuatu dari janji itu, lalu dihukum di dunia maka hukuman itu merupakan kafarat baginya. Jika kamu melanggar janji itu, kemudian Allah menutupinya maka urusannya kepada Allah. Bila menghendaki Allah akan menyiksanya atau memberi ampunan menurut kehendak-Nya.’”
Ubadah bin Shamit berkata, “Kami kemudian berbaiat kepada Rasulullah saw. untuk menepatinya.”

Setelah pembaiatan ini, para utusan kaum Anshar itu pulang ke Madinah. Bersama mereka, Rasulullah saw. mengikutsertakan Mushab bin Umair untuk mengajarkan al-Qur’an dan hukum-hukum agama kepada mereka sehingga akhirnya Mushab bin Umair dikenal sebagai Muqri’ul Madinah.

BEBERAPA IBRAH

Perhatikan bagaimana mulai terjadi perubahan dan perkembangan pada apa yang biasa ditemui Rasulullah saw. selama beberapa tahun dari kenabiannya!
Kesabaran dan jerih payahnya telah mulai menampakkan hasil dan buah. Tanaman dakwah mulai menghijau dan tumbuh subur untuk memberikan hasil dan panenanyang menggembirakan.

Nabi Muhammad saw. berdakwah kepada kaum Quraisy dan juga menatangi kabilah-kabilah yang datang dari luar Makkah pada musim haji. Beliau memperkenalkan diri sebagai guide kepada mereka dan mengajak mereka untuk membawa “barang dagangan” agama dan perbekalan “tauhid”. Berkali-kali Rasulullah saw. mendatangi mereka, tetapi tak seorang pun menyambutnya.

Ahmad, para ahli hadits, dan Hakim, ia menshahihkannya, meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mendatangi orang banyak pada musim haji seraya berkata, “Adakah orang yang sudi membawaku kepada kaumnya karena sesungguhnya orang Quraisy menghalangiku untuk menyampaikan wahyu Allah.” (Fathul Bari, 7/156; Zadul Ma’ad, 2/50; Fathul fi Tartibi Musnadil Imam Ahmad 20/269)

Sebelas tahun Rasulullah saw. menghadapi kehidupan yang tidak mengenal istirahat dan ketenangan. Setiap saat selalu diancam pembunuhan dan penganiayaan dari orang-orang Quraisy. Akan tetapi, semua itu tidak mengendurkan semangat dan kekuataannya. Selama itu pula beliau mengalami keterasingan yang mencekam di antara kaumnya, tetangganya, dan semua kabilah yang ada di sekitarnya. Akan tetapi Rasulullah saw. tidak pernah putus asa dan terpengaruh oleh situasi tersebut.

Selama sebelas tahun dari jihad Rasulullah saw. dan kesabarannya di jalan Allah yang tak mengenal putus asa, merupakan “harga” yang sesuai dan jalan bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam yang pesat di segenap penjuru dunia. Jihad dan kesabaran yang mampu meruntuhkan kekuatan Romawi, meluluhlantakkan kebesaran Persia dan menghancurkan sistem-sistem dan peradaban yang ada di sekitarnya.

Adalah mudah bagi Allah untuk menegakkan masyarakat Islam tanpa memerlukan jihad, kesabaran, dan jerih payah menghadapi berbagai penderitaan tersebut. Akan tetapi, perjuangan berat ini sudah menjadi sunnatullah pada para hamba-Nya yang ingin mewujudkan ta’abbud kepada-Nya secara sukarela, sebagaimana secara terpaksa mereka harus tunduk patuh kepada ketentuan-Nya.

Ta’abud ini tidak akan tercapai tanpa perjuangan dan pengorbanan. Tidak akan dapat diketahui siapa yang jujur dan siapa yang munafik tanpa adanya ujian berat atau pembuktian. Tidaklah adil jika manusia mendapatkan keuntungan tanpa modal. Karena itu Allah mewajibkan dua hal kepada manusia. Pertama, menegakkan syariat Islam dan masyarakatnya. Kedua, berjalan mencapai tujuan tersebut di jalan yang penuh dengan onak duri.
Dan sekarang perhatikanlah hasil-hasil yang mulai tampak pada awal tahun kesebelas dari dakwah Rasulullah saw. ini.

Pertama, hasil dan buah yang dinanti-nanti ini datang dari luar Quraisy, jauh dari kaum Rasulullah saw. sendiri, kendati beliau telah bergaul dan hidup di tengah-tengah mereka sekian lama. Mengapa?

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa hikmah ilahiyah menghendaki agar dakwah islamiyah berjalan pada jalan yang tidak menimbulkan keraguan terhadap orang yang memperhatikan tabiat dan sumbernya sehingga mudah diyakini. Agar tidak terjadi kerancuan antara dakwah Islam dan dakwah-dakwah lainnya. Allah swt. mengutus Rasulullah saw. dalam keadaan ummi, tidak pandai membaca dan menulis, di tengah masyarakat umii yang tidak pernah mengimpor peradaban lain, dan tidak dikenal memiliki peradaban atau kebudayaan tertentu. Karena itu Allah menjadikannya teladan akhlak, amanah, dan kesucian.

Itulah sebabnya, Allah kemudian menghendaki agar para pendukungnya yang pertama datang dari luar lingkungan dan kaumnya supaya tidak muncul tuduhan bahwa dakwah Rasulullah saw. adalah dakwah nasionalisme yang dibentuk oleh ambisi-ambisi kaumny adan suasana lingkungannya.

Ini sebenarnya termasuk mukjizat yang akan terungkap oleh orang yang menyadari bahwa “tangan ilahi” senantiasa menuntun dakwah Nabi saw. dalam semua aspeknya sehingga tidak ada celah dan kesempatan bagi musuh Islam untuk menyerangnya. Inilah yang dikatakan oleh salah seorang penulis asing, Dient, di dalam bukunya “Dunia Islam Kontemporer”:

“Sesungguhnya kaum orientalis telah berusaha mengkritik sirah Nabi saw. dengan metode Eropa selama tiga perempat abad. Mereka telah mengkaji dan meneliti sampai mereka menghancurkan apa yang telah disepakati oleh jumhur kaum Muslimin tentang sirah Nabi saw. Seharusnya usaha pengkajian dan penelitian yang sangat lama dan mendalam itu sudah berhasil menghancurkan pendapat-pendapat dan riwayat-riwayat yang masyhur tentang sirah Nabawiyah. Berhasilkah mereka melakukan hal itu? Jawabannya, mereka tidak berhasil sama sekali. Bahkan jika kita perhatikan pendapat-pendapat baru yang dikemukakan oleh para orientalis dari Perancis, Inggris, Jerman, Belgia, dan Belanda itu ternyata saling bertentangan. Setiap orang dari mereka mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan pendapat temannya.” (Hadhirul ‘Alamil Islam, 1/33)

Kedua, jika kita perhatikan cara permulaan Islamnya kaum Anshar, tampak Allah telah mempersiapkan kehidupan dan lingkungan kota Madinah untuk menerima dakwah Islam. Di dalam dada para Penduduk Madinah telah ada kesiapan untuk menerima Islam, apakah bentuk kesiapan jiwa ini?

Seperti telah diketahui, penduduk Madinah terdiri atas penduduk asli, yaitu musyrikin Arab dan orang-orang Yahudi yang datang dari berbagai tempat di jazirah.
Kaum Arab terbagi menjadi dua kabilah besar, Aus dan Khazraj. Terjadi beberapa kali peperangan antara mereka. berkata Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam kitabnya, Mukhtashar Sirah Rasul ShalallaaHu ‘alaiHi wa sallam, bahwa peperangan antara kedua suku ini berlangsung selama 120 tahun. (Mukhtasharu Siratir Rasul, hal. 124)

Dalam peperangan yang panjang ini, masing-masing dari suku Aus dan Khazraj bersekutu dengan kabilah Yahudi. Aus bersekutu denga bani Quraidhah, sedang Khazraj bersekutu denganbani Nadhir dan bani Qainuqa’. Peperangan terakhir yang terjadi antara Aus dan Khazraj adalah Perang Bu’ats. Terjadi beberapa bulan sebelum Hijrah dan mengorbankan sejumlah pemimpin mereka.

Selam masa tersebut, setiap kali terjadi perselisihan antara Yahudi dan Arab, kaum Yahudi senantiasa mengancam orang-orang Arab dengan kedatangan Nabi yang mereka akan menjadi pengikutnya dan memerangi orang-orang Arab sebagaimana kaum ‘Aad dan Iram diperangi.

Kondisi inilah yang menjadikan penduduk Madinah senantiasa mengharapkan kedatangan agama ini. Banyak di antara mereka yang menggantungkan harapan kepada agama ini untuk bisa mempersatukan barisan mereka dan mengakhiri perselisihan yang berkepanjangan sesama mereka itu.

Hal ini termasuk sesuatu yang telah dilakukan Allah untuk Rasul-Nya sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim di dalam Zaadul Ma’ad. (2/50). Dengan demikian Dia telah mempersiapkan untuk hijrah ke Madinah karena Allah menghendaki Madinah sebagai tempat bertolaknya penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Ketiga, pada baiat Aqobah pertama, beberpa tokoh penduduk Madinah masuk Islam. Bagaimanakah gambaran keislaman mereka? apa batas-batas tanggung jawab yang dipikulkan Islam kepada mereka?

Tentu telah diketahui bahwa keislaman mereka bukan sekedar mengucapkan dua kalimah syahadah, melainkan ketetapan hati dan pengakuan lisan kemudian dilanjutkan dengan janji setia [baiat] kepada Rasulullah saw. untuk membina akhlak mereka dengan akhlak-akhlak dan prinsip-prinsip Islam, tidak menyekutukan Allah, tidak berzina, tidak mencuri, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak akan berdusta untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di belakang mereka, dan tidak akan bermaksiat kepada Rasulullah saw. dalam hal kebaikan yang diperintahkan.

Inilah rambu-rambu terpenting dari masyarakat Islam yang akan ditegakkan Rasulullah saw. Tugas Rasulullah saw. bukan sekedar mengajarkan dua kalimah syahadah kemudian membiarkan mereka mengucapkannya dengan lisan , tetapi mereka melakukan penyimpangan dan kerusakan. Memang benar seseorang akan memperoleh status Islam manakala sudah mengucapkan dua kalimah syahadah, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan membenarkan segala kewajiban. Akan tetapi pengakuan terhadap keesaan Allah dan risalah Muhammad saw. merupakan kunci dan sarana untuk menegakkan masyarakat Islam , merealisasikan sistem-sistem dan prinsip-prinsipnya, dan menjadikan segala kedaulatan dalam segala hal milik Allah semata.

Setiap keimanan terhadap keesaan Allah dan risalah Muhammad harus dibarengi dengan keimanan pada kedaulatan Allah dan keharusan mengikuti syariat dan undang-undang-Nya.
Namun anehnya, ada sebagian orang yang karena terpengaruh dan terbius oleh sistem dan perundang-undangan manusia, tidak mau secara terus terang menolak Islam, tetapi mereka berusaha melakukan “tawar-menawar” dengan Allah, Pencipta alam semesta.

Tawar-menawar mereka adalah dengan membeda-bedakan beberapa aspek kehidupan. Sebagian mereka serahkan kepada Islam tetapi sebagian lain mereka atur sesuai dengan keinginan dan hawa nafsunya sendiri.

Seandainya para thaghut yang menolak risalah para Rasul itu memahami “alternatif” aneh ini, mereka tidak akan segan-segan menerima Islam, karena menurut alternatif aneh ini, mereka tidak dituntut untuk melepaskan kedaulatan dan kewenangan mereka dalam membuat aturan dan undang-undang kehidupan . ternyata mereka cukup mengerti bahwa agama ini [Islam] mewajibkan mereka agar menyerahkan agar menyerahkan sepenuhnya undang-undang dan sistem kehidupan mereka kepada Allah semata. Karena itulah, mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. terasa berat bagi mereka untuk mengumumkan ketundukan mereka kepada dakwah Allah. Untuk menjelaskan ini semua, dan memperingatkan orang yang memahami Islam hanya sebagai ucapan dan ritual saja, Allah berfirman, yang artinya:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (an-Nisaa’: 60)

Hanya saja, dalam baiat ini tidak terdapat butir tentang jihad karena pada waktu itu jihad dan qital belum disyariatkan. Karena itu pembaiatan Rasulullah saw. kepada dua belas orang tersebut tidak menyebutkan masalah jihad. Inilahyang dimaksudkan para perawi sirah bahwa baiat ini seperti baiat kaum wanita.

Keempat, tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah saw. adalah pengemban kewajiban dakwah kepada agama Allah karena beliau utusan-Nya yang harus menyampaikan dakwah kepada semua manusia. Akan tetapi bagaimana halnya dengan orang-orang yang memeluk Islam dan apa kaitan mereka dengan tugas dakwah ini?

Jawaban terhadap pertanyaan ini terdapat pada menugasan Rasulullah saw. kepada Mush’ab bin Umair supaya menyertai duabelas orang tersebut ke Madinah. Tugasnya adalah untuk mengajak penduduk Madinah masuk Islam dan mengajarkan shalat kepada mereka.

Mush’ab bin Umair menyambut perintah Rasulullah saw. ini dengan senang hati. Sesampainya di Madinah, dia mengajak penduduk Madinah masuk Islam, membacakan al-Qur’an kepada mereka, dan mengajarkan hukum-hukum Allah. Dalam menunaikan tugas dakwahnya, tidak jarang ia menghadapi ancaman pembunuhan yang seketika ia membacakan ayat-ayat al-Qur’an dan hukum-hukum Allah kepada yang mengancamnya sehingga serta merta orang tersebut melepasan pedangnya dan menyatakan diri masuk Islam. Karena itu, tersebarlah Islam di semua penduduk Madinah dalam waktu singkat sehingga Islam menjadi pokok pembicaraan di antara penduduknya.

Tahukan anda siapakah Mush’ab bin Umair ini? Dia adalah putra Makkah yang hidup dalam kemegahan dan kemewahan Arab. Setelah masuk Islam, semua kemewahan dan kemegahan itu ia tinggalkan demi menunaikan tugas dakwah dan mengikuti perintah Rasulullah saw. dengan menanggung beban yang berat sampai akhirnya mati syahid di dalam perang Uhud. Bahkan ketika syahid, ia hanya mengenakan selembar kain yang tidak cukup untuk mengkafaninya. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah saw., beliau menangis karena mengenang kemegahan dan kemewahan yang pernah direguknya pada awal kehidupannya. Rasulullah saw. kemudian bersabda: “Tutupkanlah kain itu di atas kepalanya dan tutuplah kedua kakinya dengan pelepah.” (HR Muslim 3/48. Lihat pula al-Ishabah, Ibnu Hajar 3/403)

Tugas dakwah Islam bukan hanya tugas para Nabi dan Rasul, juga bukan hanya tugas para khalifah dan ulama yang datang sesudahnya, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari hakekat Islam itu sendiri. Tidak ada batasan bagi setiap Muslim untuk tidak melakukannya, apapun kedudukannya, pekerjaan, dan keahliannya. Halini karena hakekat dakwah Islam ialah amar ma’ruf nahi munkar yang mencakup semua pengertian jihad dalam Islam. Anda tentu cukup mengetahui bahwa jihad adalah salah satu kewajiban Islam di atas pundak setiap muslim.

Dari sini dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Islam tidak ada yang namanya rijaluddin (petugas agama) yang ditujukan kepada pihak tertentu dari kaum Muslimin. Hal ini karena setiap orang yang memeluk Islam berarti telah berbaiat kepada Allah dan Rasul-Nya untuk berjihad menegakkan agama [Islam], baik lelaki maupun wanita, orang yang berpengetahuan maupun yang bodoh. Seluruh kaum muslimin adalah prajurit bagi agama Islam. Allah telah membeli jiwa dan harta mereka dengan harta surga.

Ini tentu tidak ada kaitannya dengan spesialisasi ulama dalam melakukan kajian, ijtihad, dan penjelasan hukum-hukum Islam kepada kaum Muslimin berdasarkan nash-nash syariat Islam.

&