Arsip | 13.53

Bai’at Aqabah Kedua

24 Apr

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Pada musim haji berikutnya, Mush’ab bin Umair kembali ke Makkah dengan membawa sejumlah besar kaum Muslimin Madinah. Mereka berangkat dengan menyusup di tengah-tengah kaum musyrikin yang pergi haji.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik, “Kami kemudian berjanji kepada Rasulullah saw.untuk bertemu di Aqabah pada pertengahan hari Tasyriq. Setelah selesesai pelaksanaan haji dan pada malam perjanjikan kami dengan Rasulullah saw. kami tidur pada malam itu bersama rombongan kami. Ketika sudah larut malam, kami keluar dengan sembunyi-sembunyi untuk menemui Rasulullah saw. sampai kami berkumpul di sebuah tempat di pinggir Aqabah. Kami waktu itu berjumlah tujuh puluh orang laki-laki dan dua orang wanita: Nasibah binti Ka’ab dan Asma’ binti Amr bin ‘Addi.

Di lembah itulah kami berkumpul menunggu Rasulullah saw.sampai beliau datang bersama pamannya, ‘Abbas bin Abdul Muthalib. Orang-orang pun lantas berkata, “Ambillah dari kami apa saja yang engkau suka untuk dirimu dan Rabbmu.” Rasulullah saw. kemudian berbicara dan membacakan al-Qur’an. Beliau mengajak supaya mengimani Allah dan memberikan dorongan kepada Islam, kemudian beliau bersabda: “Aku baiat kamu untuk membela diriku sebagaimana kamu membela istri-istri dan anak-anakmu.”

Barra’ bin Ma’rur kemudian menjawab tangan Nabisaw. Seraya mengucapkan, “Ya, demi Allah yang mengutusmu sebagai Nabi yang membawa kebenaran, kami berjanji akan membelamu sebagaimana kami membela diri kami sendiri. Baiatlah kami wahai Rasulullah! Demi Allah, kami adalah orang-orang yang ahli perang dan senjata secara turun-temurun.”

Di saat itu Barra’ masih berbicara dengan Rasulullah saw. ketika Abul Haitsam bin Taihan menukas dan berkata, “Wahai Rasulullah. Kami terikat perjanjian dengan orang-orang Yahudi dan perjanjian itu akan kami putuskan! Kalau semuanya itu telah kami lakukan, kemudian Allah memenangkan engkau [dari kaum musyrik], apakah engkau akan kembali lagi kepada kaummu dan meninggalkan kami?” mendengar itu Rasulullah saw. tersenyum kemudian bersabda: “Darahmu adalah darahku, negerimu adalah negeriku; aku darimu dan engkau dariku, aku berperang melawan siapa saja yang memerangimu dan aku akan berdamai dengan siapa saja yang berdamai denganmu.”

Rasulullah saw. kemudian meminta dihadirkan dua belas orang dari mereka sebagai wakil [naqib] dari masing-masing kabilah yang ada di rombongan. Dari mereka terpilih sembilan orang dari kabilah Khazraj dan tiga orang dari kabilah Aus. Kepada dua belas naqib yang terpilih itu, Rasulullah saw. bersabda: “Selaku pemimpin dari masing-masing kabilahnya, kalian memikul tanggungjawab atas keselamatan kabilahnya sendiri-sendirisebagai kaum hawariyyin [dua belas murid Nabi ‘Isa as.] bertanggung jawab atas keselamatan Isa Putra Maryam. Adapun aku bertanggungjawab atas kaumku sendiri [yakni kaum Muslimin di Makkah].”

Orang yang pertama maju membaiat Rasulullah saw.adalah Barra’bin Ma’rur kemudian diikuti oleh yang lainnya.

Setelah kami berbaiat kepada Rasulullah saw. beliau bersabda: “Sekarang kamu kembalilah ke tempat perkemahanmuy.” Abbas bin Ubadah bin Niflah kemudian berkata: “Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran, jika engkau suka, kami siap menyerang penduduk Mina dengan pedang-pedang kami esok hari.”
Akan tetapi Rasulullah saw. menjawab: “Kita belum diperintahkan untuk itu, tetapi kembalilah kamu ke tempat perkemahanmu.”

Kami kemudian kembali ke tempat-tempat tidur kami lalu tidur hingga pagi. Ketika kami bangun pagi-pagi, tiba-tiba sejumlah orang Quraisy datang kepada kami seraya berkata, “Wahai kaum Khazraj, kami mendengar bahwa kamu menemui Muhammad dan mengajaknya pergi dari kami. Kamu juga berbaiat kepadanya untuk melancarkan peperangan terhadap kami. Demi Allah, tidak ada sesuatu yang dibenci kabilah Arab manapun selain perpecahan antara kami dan mereka.”

Ketika itu, beberapa orang musyrik yang datang dari Madinah bersama kami menyatakan kesaksian mereka dengan sumpah bahwa apa yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy itu tidak benar dan mereka tidak mengetahui hal itu. Orang-orang musyrik Madinah itu tidak berdusta, mereka benar-benar tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Mendengar kesaksian itu, kami merasa heran dan beradu pandang.

Setelah rombongan meninggalkan Mina, barulah orang-orang Quraisy mengetahui perkara sebenarnya. Mereka kemudian mengejar dan mencari kami. Kami semua berhasil lolos kecuali Sa’ad bin Ubadah dan al-Mundzir bin Amr [keduanya adalah naqib] tertangkap di Adzakhir [sebuah tempat dekat Makkah]. Karena al-Mundzir dapat meloloskan diri dari kepungan-kepungan orang Quraisy, akhirnya Sa’ad bin Ubadah yang diseret dengan kedua tangannya diikat ke lehernya dibawa ke Makkah.”

Berkata SA’ad, “Demi Allah, ketika mereka menyeretku, tiba-tiba datang menghampiriku salah seorang dari mereka seraya berkata: ‘Celaka, tidakkah engkau memiliki salah seorang kawan dari Quraisy yang terikat perjanjian dan pemberian hak perlindungan denganmu?’ Aku jawab, ‘Demi Allah ada. Aku pernah memberikan perlindungan kebada Jubair bin Muth’am dan Harits bin Umayyah. Aku pernah melindungi perdagangannya dan membelanya dari orang yang ingin merampoknya di negeriku.’ Lalu aku panggil keduanya kemudian mereka membebaskan aku dari tangan mereka.’”

Ibnu Hisyam berkata, “Bai’atul Harbi (baiat untuk berperang) ini dilakukan tepat ketika Allah mengizinkan Rasul-Nya untuk melakukan peperangan. Baiat ini berisi beberapa persyaratan selain yang disebutkan dalam Bai’at Aqabah Pertama. Bai’at Aqabah Pertama isinya sama dengan bai’at kaum wanita. Karena itu, Allah belum mengizinkan beliau berperang. Rasulullah saw. membaiat mereka pada Aqabah terakhir untuk berperang. Sebagai imbalan kesetiaan pada baiat ini, Rasulullah saw. menjanjikan surga kepada mereka.”

Ubadah bin Shamit berkata, “Kami berbaiat kepada Rasulullah saw. pada baiatul Harbi untuk mendengar dan setia, baik pada waktu susah maupun senang, tidak akan berpecah-belah, akan mengatakan kebenaran dimana saja berada, dan tidak akan takut kepada siapapun di jalan Allah.”

Ayat yang pertama turun mengizinkan perang kepada Rasulullah saw. ialah firman Allah yang artinya:
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan Kami hanyalah Allah”. dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, (al-Hajj: 39-40)

BEBERAPA IBRAH

Baiat Aqabah kedua ini secara prinsip sama dengan baiat Aqabah pertama karena keduanya merupakan pernyataan masuk Islam di hadapan Rasulullah saw. dan perjanjian untuk taat, mengikhlaskan agama kepada Allah, dan patuh kepada perintah-perintah Rasul-Nya. Akan tetapi ada dua perbedaan penting yang patut dicatat disini:

Pertama, jumlah orang-orang Madinah yang berbaiat pada baiat ‘Aqabah pertama sebanyak dua belas orang lelaki, sedangkan pada baiat Aqobah kedua lebih dari tujuhpuluh orang, dua di antaranya perempuan.
Kedua belas orang tersebut kembali ke Madinah bersama Mus’ab bin Umair bukan untuk menyembunyikan diri di rumah masing-masing, melainkan untuk menyebarkan Islam kepada orang-orang di sekitarnya, dengan membacakan al-Qur’an dan menjelaskan hukum-hukumnya kepada mereka. karena itulah, Islam tersebar cepat di madinah hingga tidak ada rumah lagi yang tidak disentuh oleh Islam. Terlebih lagi, Islam kemudian menjadi buah bibir semua penduduknya. Ini adalah kewajiban setiap Muslim di mana dan kapan saja.

Kedua, butir-butir baiat yang pertama tidak menyebutkan masalah jihad dengan kekuatan. Akan tetapi baiat kedua menyebutkan secara jelas perlunya jihad dan membela Rasulullah saw. dan dakwahnya dengan segala sarana.

Penyebab terjadinya perbedaan ini ialah karena orang yang berbaiat yang pertama, ketika mereka hendak ke Madinah, mereka berjanjikepada Rasulullah saw. untuk kembali menemui beliau pada tahun berikutnya dengan membawa sejumlah kaum Muslimin dan memperbarui baiat dan sumpah setia mereka. karena itu, tidak ada sesuatu yang mengharuskan dilakukannya baiat perang, apalagi izin belum diberikan.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa bai’at ‘Aqabah Pertama merupakan baiat sementara, menyangkut beberapa masalah [butir] saja, sebagaimana baiat kaum wanita sesudah itu.
Sementara itu baiat kedua merupakan landasan bagi hijrah Rasulullah saw. ke Madinah karena baiat ini menyebutkan prinsip-prinsip yang akan disyariatkan setelah hijrah ke Madinah, terutama mengenai masalah jihad dan membela dakwah Islam dengan kekuatan. Kendatipun hukum ini belum disyariatkan Allah di Makkah, tetapi sudah disyariatkan kepada Rasulullah saw. bahwa hukum tersebut sebentar lagi akan disyariatkan.’

Dari sini dapat diketahui bahwa qital [peperangan] dalam Islam tidak disyariatkan kecuali setelah hijrah Rasulullah saw. ke Madinah. Bukan seperti yang dipahami dari perkataan Ibnu Hisyam di dalam Sirahnya bahwa qital disyariatkan sebelum Hijrah, yaitu pada waktu baiat aqobah kedua. Sebenarnya tidak ada butir-butir baiat yang menunjukkan disyariatkannya qital pada waktu itu sebab Nabi saw. mengambil baiat jihad dari penduduk Madinah hanya karena mempertimbangkan masa depan ketika beliau nanti berhijrah dan tinggal di tengah-tengah mereka di Madinah. Hal itu dikuatkan oleh perkataan Abbas bin Ubaidah setelah berbaiat, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, esok hari penduduk Mina akan kami serang dengan pedang-pedang kami,” yang dijawab Rasulullah saw., “Kami belum diperintahkan untuk itu, tetapi kembalilah ke tempat perkemahanmu.”
Menurut pendapat yang disepakati, ayat jihad yang pertam diturunkan adalah,

“Telah diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka.” (al-Hajja: 39)

At-Tirmidzi dan Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Ketika Nabi saw. diusir dari Makkah, Abu Bakar berkata, “Innaa lillaaHi wa innaa ilaiHi raaji’uun. Mereka telah mengusir Nabi mereka. sungguh mereka akan binasa..” selanjutnya Ibnu Abbas berkata, “Allah kemudian menurunkan firman-Nya: ‘Telah diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka.’” Abu Bakar berkata, “kemudian aku tahu bahwa sebentar lagi akan terjadi qital.”

Akan tetapi mengapa jihad dengan kekuatan dan qital baru disyariatkan pada masa tertentu? Itu karena beberapa hikmah, di antaranya sebagai berikut:

1. Tepat sekali jika dilakukan pengenalan tentang Islam, seruan kepadanya, pembeberan argumen-argumentasinya, dan penjelasan terhadap segala kemusykilannya sebelum diwajibkan qital. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan tahapan awal dalam jihad. Karena itu pelaksanaannya merupakan fardlu kifayah, dimana kaum Muslimin sama-sama bertanggung jawab terhadapnya.

2. Adalah rahmat Allah kepada hamba-Nya bahwa Allah tidak mewajibkan qital kecuali setelah ada Darul Islam yang dapat dijadikan sebagai tempat berlindung dan mempertahankan diri. Dalam kaitan ini, Madinah adalah Darul Islam yang pertama.

&

Anak yang Dibuang di Jalan

24 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Apabila ditemukan anak yang dibuang orang tuanya di jalan [laqith] dalam negara Islam maka laqith tersebut dihukumi sebagai Muslim. Demikian pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Hanafi berpendapat: jika ia ditemukan di dalam gereja atau rumah peribadatan Yahudi, atau di suatu desa di perkampungan orang-orang dzimmi, maka ia dihukumi sebagai seorang dzimmi [orang kafir yang dijamin negara Islam].

Para ulama Maliki berbeda pendapat tentang anak yang ditemukan di negara Islam. Yaitu anak kecil yang sudah mumayyiz, tetapi belum baligh dan berakal. Menurut pendapat pertama dari mereka adalah keislamannya dipandang sah. Demikian juga pendapat Hanafi dan Hambali. Pendapat kedua, belum dianggap sah keislamannya. Pendapat ketiga, ditangguhkan hukumnya. Dari Syafi’i diperoleh tiga pendapat, dan yang paling kuat adalah bahwa anak kecil yang merdeka belum dipandang sah keislamannya.

Apabila didapati anak kecil di dalam negara Islam maka ia dipandang sebagai anak yang merdeka dan Muslim. Jika sudah baligh ia menolak untuk memeluk agama Islam maka ia tidak dapat ditetapkan sebagai muslim. Jika tetap enggan, ia boleh dibunuh. Demikian menurut Maliki dan Hambali. Sedang Hanafi berpendapat: ia dikenai had, tidak perlu dibunuh. Syafi’i: hendaknya diterangkan kepadanya keburukan-keburukan kekafirannya. Tetapi jika ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya maka ia dihukumi sebagai seorang kafir.

Para imam madzab sepakat bahwa anak kecil dihukumi Islam sesuai dengan keislaman bapaknya. Demkian keislaman bagi ibunya, kecuali menurut pendapat Maliki yang menyatakan bahwa anak tidak dihukumi Islam lantaran keislaman ibunya. Dalam riwayat lain Maliki berpendapat yang sesuai dengan pendapat madzab jamaah di atas.

&

Barang Temuan (Luqathah)

24 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzab sepakat bahwa barang temuan [luqathah] harus diumumkan selama satu tahun penuh jika barang tersebut adalah barang berharga.

Apabila pemiliknya datang maka ia lebih berhak memilikinya daripada orang yang menemukannya. Apabila barang temuan itu sudah terlanjur dimakan oleh penemunya sesudah lewat satu tahu sejak penemuan dan pemiliknya menghendaki agar diganti maka pemilik itu mendapat ganti. Sedangkan jika barang disedekahkan oleh penemunya sesudah lewat satu tahun dari penemuan dan pemiliknya menghendaki agar diganti pemilik itu mendapat ganti. Sedangkan jika barang disedekahkan oleh penemunya sesudah lewat satu tahun dari penemuannya maka pemiliknya disuruh memilih antara meminta ganti atau mendapat pahala dari kerelaan menyedekahkannya.

Para imam madzab sepakat tentang dibolehkannya memungut barang temuan. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama antara membiarkan dan memungutnya. Dalam masalah ini, Hanafi mempunyai dua pendapat. Pertama, memungut adalah lebih utama. Kedua, membiarkannya adalah lebih utama. Dari Syafi’i juga diperoleh dua pendapat. Pertama memungutnya lebih utama. Kedua memungutnya adalah wajib. Pendapat paling shahih adalah mustahab bagi mereka yang dirinya merasa aman. Hambali berpendapat: meninggalkan atau membiarkannya adalah lebih utama.

Apabila seseorang memungutnya, lalu dikembalikan lagi ke tempatnya semula, maka Hanafi berpendapat: apabila ia mengambilnya untuk diberikan kepada pemiliknya maka ia tidak dikenai pertanggungjawaban [dhaman]. Sedangkan jika tidak dikembalikan kepada pemiliknya maka ia dikenai dhaman. Maliki: jika ia mengambilnya dengan maksud memeliharanya, kemudian dikembalikan lagi maka dikenai dhaman atasnya. Sedangkan jika mengambilnya dengan perasaan diliputi ragu-ragu dalam dirinya antara mengambil atau meninggalkannya, kemudian dikembalikan, maka tidak ada dhaman atasnya. Syafi’i dan Hambali mengatakan: ia dikenai dhaman.

Barangsiapa menemukan seekor kambing di tanah lapang yang terpencil dari keramaian, yang menurut perkiraannya tidak ada orang yang menjaminnya selain dirinya, sedangkan di sekelilingnya tidak terdapat sesuatu yang dapat menyelamatkannya, dan ia khawatir atas keselamatannya, maka mengenai hal ini Maliki berpendapat: ia boleh memilih antara membiarkannya atau memakannya, dan ia tidak dikenai dhaman. Demikian juga sapi yang dikhawatirkan akan dimakan binatang buas. Hanafi, Syafi’i dan Hambali mengatakan: jika dimakan, maka ia wajib memberikan dhaman apabila pemiliknya datang.

Hukum barang temuan yang diperoleh di tanah Haram dan di tempat lain adalah sama saja. demikian pendapat Maliki. Oleh karena itu, orang yang menemukan barang temuan tersebut boleh mengambilnya atas dasar hukum luqathah dan kemudian pemiliknya sesudah berlalu masa yang ditentukan. Ia boleh mengambilnya untuk dipelihara. Seperti itu juga pendapat Hanafi. Sedangkan Syafi’i dan Hambali mengatakan: boleh diambil untuk dipelihara dan dikembalikan kepada pemiliknya dengan cara mengumumkannya selama ia bermukim di tanah Haram. Jika ia pergi meninggalkan tanah Haram maka hendaknya barang itu diserahkan kepada hakim, dan ia tidak boleh mengambilnya untuk dimiliki.

Apabila barang temuan telah diumumkan selama satu tahun, tetapi pemiliknya tidak dapat mencarinya, maka orang yang menemukannya boleh terus menahan barang tersebut selamanya. Ia boleh mensedekahkannya dan boleh juga dimakannya, baik ia orang kaya maupun orang miskin. Demikian pendapat Maliki dan Syafi’i. Dan Hanafi berpendapat: jika ia seorang fakir maka ia boleh memilikinya. Sedangkan jika ia seorang kaya maka ia tidak boleh memilikinya.

Menurut Hanafi dan Maliki, orang yang menemukannya boleh menyedekahkannya sebelum dimiliki dengan syarat jika pemiliknya datang dan membolehkannya disedekahkan. Sedangkan jika pemiliknya tidak membolehkannya maka penemunya harus menggantinya. Syafi’i dan Hambali mengatakan: yang demikian tidak diperbolehkan karena ia merupakan sedekah yang menggantung.

Apabila telah lewat masa satu tahun atas barang temuan, lalu penemu menjualnya atau menyedekahkannya, maka jika pemiliknya datang, hendaknya ia membayar harganya menurut harga yang berlaku pada hari barang tersebut dimilikinya. Demikian pendapat Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Dawud berpendapat: Pemilik sudah tidak berhak lagi.

Apabila pemilik barang temuan itu datang maka ia harus menjelaskan tanda-tanda dan sifat-sifat barang tersebut. Jika sudah dijelaskan semuanya serta tepat maka penemu wajib menyerahkannya dan ia tidak dituntut pembuktian. Demikian menurut pendapat Maliki dan Hambali. Hanafi dan Syafi’i: tidak sekedar keterangan mengenai tanda-tanda dan sifat-sifatnya, tetapi harus ada pembuktian.

&

Hibah

24 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para Imam madzab sepakat, hibah menjadi sah hukumnya jika dilakukan dengan tiga perkara: ijab, kabul dan qabdhu [serah terima barang yang dihibahkan].

Oleh karena itu, menurut pendapat Hanafi, Syafi’i dan Hambali, hibah tidak sah kecuali berkumpulnya ketiga perkara tersebut. Maliki: sah dan lazimnya suatu hibah itu tidak memerlukan serah terima barang, tetapi cukup adanya ijab dan kabul saja.

Serah terima barang merupakan syarat pelaksanaan dan syarat sempurnanya hibah. Apabila orang yang menghibahkan dengan mengakhirkan penyerahan barang [iqbadh], padahal yang menerima hibah terus-menerus memintanya hingga orang yang menghibahkan mati, sedangkan yang menerima terus memintanya [karena belum menerima hibah tersebut], hibahnya tidak menjadi batal, dan ia berhak meminta kepada ahli warisnya. Dan jika ia tidak mau menerimanya sehingga orang yang menghibahkan mati atau sakit, hibahnya menjadi batal. Demikian pendapat Maliki.

Ibn Abi Zaid al-Maliki dalam ar-Risalah mengatakan: Hibah dan sedekah tidak sah kecuali dengan penyerahan barangnya kepada penerima. Demikian juga dengan wakaf. Oleh karena itu, apabila ia meninggal sebelum menerimanya, maka barang itu menjadi barang pusaka.

Dari Hambali diperoleh satu riwayat yang menyatakan bahwa hibah dimiliki tanpa diperlukan penerimaan barangnya. Diperlukan izin pemberi hibah dalam menerima barang yang dihibahkan, menurut pendapat Maliki dan Syafi’i, dan Hambali. Menurut pendapat Hanafi: tidak diperlukan izin.

Menghibahkan barang yang masih dalam perserikatan hukumnya boleh, sebagaimana boleh barang itu dijual. Sah menerimanya jika diserahkan oleh pemberi hibah kepada penerima hibah, lalu penerima hibah mengambil haknya. Bagian kongsi dari pemberi hibah mengikuti aturan dari penerima hibah tersebut. Demikian menurut pendapat Maliki dan Syafi’i.

Hanafi: kalau barang tersebut berupa barang yang tidak dapat dibagi, seperti permata, boleh dihibahkan. Adapun jika barang itu berupa barang yang dapat dibagi, tidak boleh dihibahkan tanpa dibagi terlebih dahulu.

Apabila seseorang menyuruh orang lain mendiami rumah dengan mengatakan, “Rumahku ini aku berikan kepadamu agar kamu diami sepanjang umurmu”, maka hal itu berarti ia telah memberikan manfaat kepadanya untuk mendiami rumah tersebut sepanjang hidupnya. Jika ia telah meninggal, rumah tersebut kembali ke pemiliknya, yaitu orang yang memberinya. Demikian juga bila seseorang mengatakan: “Aku berikan rumahku kepadamu jika aku meninggal sebelummu.” Oleh karena itu jika ia meninggal sebelum penerima hibah itu meninggal, ahli waris memiliki manfaatnya, dan jika tidak ada seorangpun di antara ahli waris yang masih hidup maka rumah tersebut dikembalikan kepada pemberi hibah sebab ia memberi manfaat, bukan memberikan bendanya. Demikian pendapat Maliki.

Menurut Hanafi, Syafi’i dan salah satu riwayat Hambali: rumah yang diberikan tersebut menjadi milik pemberi hibah dan ahli warisnya, jika ia sudah meninggal. Jika pemberi hibah tidak mempunyai ahli waris, rumah itu diserahkan ke Baitul Mal. Namun Syafi’i mempunyai pendapat lain, yaitu seperti pendapat Maliki.

Memberi hibah secara ruqba’, yaitu seseorang mengatakan, “Rumahku untukmu jika aku meninggal sebelummu, kamu gabungkan pada rumahmu. Dan rumahmu untukku, jika engkau meninggal sebelumku, aku gabungkan pada rumahku.” Maka hukumnya adalah sah. Demikian menurut pendapat Syafi’i, Hambali, dan Abu Yusuf. Sedangkan menurut Maliki, Hanafi dan Muhammad bin al-Hasan: hibah ruqba’ adalah tidak sah.

Barangsiapa yang memberikan kepada anak-anaknya suatu pemberian, hendaknya disamaratakan pemberian tersebut di antara mereka. demikian pendapat Hanafi dan Maliki serta pendapat madzab Syafii yang paling kuat. Adapun menurut Hambali dan Muhammad bin Hasan: hendaknya dilebihkan bagian anak laki-laki atas perempuan, sebagaimana pembagian warisan. Seperti itu juga salah satu pendapat dalam madzab Syafi’i. Memberi hibah kepada sebagian anak saja hukumnya makruh, juga melebihkan sebagian atas sebagian lainnya. Demikian menurut kesepakatan pendapat para imam madzab.

Apakah jika diberikan dengan tidak merata bisa ditarik kembali? menurut Hanafi, Maliki dan Syafi’i: tidak lazim. Sedangkan menurut Hambali: wajib ditarik kembali.

Apabila seseorang menghibahkan sesuatu kepada anaknya, ia tidak boleh menarik kembali sama sekali. Demikian pendapat Hanafi. Sedang Syafi’i: boleh menarik kembali hibahnya.

Maliki: boleh ditarik kembali, walaupun sesudah diterima barang-nya, yaitu jika ia memberikannya berdasarkan kasih sayang. Adapun jika dasarnya adalah sedekah maka tidak boleh ditarik kembali. barang hibah itu ditarik kembali selama belum berubah ditangan anaknya, atau terjadi utang sesudah hibah, atau anak perempuannya yang telah diberi hibah itu telah kawin, atau tidak dicampur oleh penerima hibah dengan harta lain yang tidak bisa dibedakan. Jika keadaannya demikian, barang hibah tidak dapat ditarik kembali.

Dari Hambali diperoleh beberapa riwayat, pertama, boleh ditarik kembali, seperti pendapat Syafi’i. Kedua tidak boleh ditarik kembali, seperti pendapat Hanafi. Ketiga, seperti pendapat Maliki.

Apakah boleh hibah ditarik kembali jika hibah tersebut diberikan kepada selain anak? Syafi’i: Hibah boleh ditarik kembali jika hibah diberikan kepada orang-orang yang bisa dinamakan anak, baik secara hakiki maupun kiasan, sepeti anaknya sendiri, cucu dari salah satu anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun jika hibah tersebut diberikan kepada orang lain, tidak boleh ditarik kembali.

Syafi’i tidak mensyaratkan terjadinya utang dan kawinnya anak perempuan yang diberi hibah sebagaimana yang disyaratkan oleh perempuan yang diberi hibah sebagaimana hendaknya barang yang ditarik kembali tersebut berada di tangan penerima hibah. Jika sudah diwakafkan atau dijual, tidak boleh ditarik kembali. adapun jika disewakan atau digadaikan, boleh ditarik kembali.

Hanafi: apabila hibah diberikan kepada muhrim dengan sebab keturunan, tidak boleh ditarik kembali. adapun jika dihibahkan kepada orang lain dengan tidak menerima ganti apapun, boleh ditarik kembali, kecuali jika barang tersebut bertambah dengan tambahan yang terpisah, salah satu di antara keuda orang yang melakukan akad itu meninggal, barang tersebut telah keluar dari penerima hibah, atau barang tersebut telah keluar dari pemilikan penerima hibah.

Hanafi: tidak boleh seseorang menarik kembali hibah yang diberikan kepada anak, saudara laki-laki ataupun perempuan, paman dan bibi [dari pihak ayah], atau kepada setiap perempuan yang tidak boleh dinikahi karena hubungan nasab. Oleh karena itu apabila diberikan kepada anak-anak pamannya [saudara ayah] atau kepada orang lain, boleh ia menarik kembali hibahnya.

Seseorang yang menghibahkan suatu hibah, kemudian ia meminta balasan,ia mengatakan, “Tidak ada yang aku harapkan kecuali balasan.” Maka hendaknya diperhatikan. Jika ia meminta balasan dari penerima hibah tersebut, ia berhak dipenuhi permintaannya, sebagaimana hibah orang fakir kepada orang kaya, pemberian rakyat kepada pemimpinnya, dan pemberian bawahan kepada atasannya. Demikian menurut pendapat Maliki dan salah satu pendapat Syafi’i.

Hanafi: ia tidak berhak memperoleh balasan kecuali telah disyaratkan. Ini juga pendapat Syafi’i yang lain dan juga pendapat yang paling kuat dalam madzab Syafi’i.

Para imam madzab sepakat bahwa menepati janji dalam kebaikan dituntut oleh syara’. Apakah hal itu wajib hukumnya ataukah hanya sunnah? Dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat di antara para imam madzab. Menurut pendapat Hanafi, Syafi’i, Hambali dan kebanyakan para ulama: mustahab. Jika hal itu ditinggalkan, berarti ia telah meninggalkan keutamaan serta telah mengerjakan kemakruhan, tetapi tidak berdosa.

Menurut golongan ulama, hukumnya adalah wajib. Di antara mereka adalah Umar bin Abdul ‘Aziz. Para ulama Maliki berpendapat: janji itu jika disyaratkan dengan suatu sebab, seperti orang mengatakan, “Kawinlah maka engkau akan kami beri ini dan itu.” Oleh karena itu janji tersebut wajib ditepati, sedangkan jika janji tersebut diucapkan secara mutlak maka tidak wajib dipenuhi.

&

Wasiat

24 Apr

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Wasiat yaitu menyerahkan pemilikan sesuatu kepada seseorang sesudah pemilik tersebut meninggal dunia, diperbolehkan dalam agama Islam, tetapi tidak diwajibkan. Demikian menurut ijma para imam madzab.

Kesunnahan ini ditujukan kepada orang yang tidak mempunyai amanah, yang harus dikeluarkan sebagian dari hartanya, terhadap orang yang tidak mempunyai utang, dan yang tidak diketahui siapa pemilik piutang itu. Wasiat juga ditujukan kepada orang yang tidak menyimpan suatu jaminan orang lain, yang tidak ada sanksinya. Jika ia mempunyai pertanggungjawaban terhadap sesuatu di antara hal-hal tersebut, maka ia wajib berwasiat agar dapat diserahkan kepada orang yang mempunyai hak.

Mewasiatkan sesuatu kepada orang yang bukan ahli waris adalah sangat disukai (mustahab). Demikian menurut ijma para imam madzab. Az-Zuhri dan ulama ahlu dhahir mengatakan: berwasiat untuk kerabat yang tidak mendapat warisan dari si mayit hukumnya adalah wajib, baik mereka itu dari ‘ashahab maupun dzawil arham, yaitu jika terdapat ahli waris selain mereka.

Para imam madzab sepakat bahwa berwasiat untuk selain ahli waris sebanyak sepertiga bagian adalah dibolehkan dan tidak memerlukan persetujuan ahli waris. Sedangkan berwasiat untuk ahli waris dibolehkan setelah mendapat persetujuan dari ahli waris yang lain.

Apabila telah diwasiatkan lebih dari sepertiga bagian dari harta pusaka, dan ahli waris pun menyetujuinya, maka jika persetujuan dibuat dalam keadaan sakit, tidak boleh dicabut persetujuannya sesudah orang yang mati itu memberikan wasiat. Jika persetujuan tersebut dibuat ketika pemberi wasiat dalam keadaan sehat, maka ahli waris boleh mencabut kembali persetujuannya sesudah yang pemberi wasiat meninggal dunia. Demikian menurut madzab Maliki. Sedangkan Hanafi dan Syafi’i mengatakan: mereka berhak menarik kembali persetujuannya, baik persetujuannya itu dibuat ketika pemberi wasiat dalam keadaan sakit maupun dalam keadaan sehat.

Barangsiapa berwasiat kepada seseorang agar diberikan unta untuk orang tertentu, maka boleh diberikan kepadanya unta betina. Juga jika ia berwasiat agar diberikan unta betina yang gemuk atau sapi, maka boleh diberikan yang jantan, karena sama saja. demikian pendapat Hanafi, Maliki dan Hambali. Syafi’i berpendapat: tidak boleh dalam membayarkan wasiat unta kecuali yang jantan, dan dalam unta betina dan sapi kecuali yang betina.

Apabila seseorang berwasiat agar dikeluarkan sepertiga hartanya untuk melepaskan budak, maka harus dimulai dengan memerdekakan budak-budaknya, sebagaimana zakat. Demikian menurut pendapat Maliki, Hanafi, dan Syafi’i mengatakan: hendaknya diberikan kepada budak yang telah dijanjikan tuannya untuk dimerdekakan.

Apabila orang yang medapat wasiat dapat memiliki sesuatu yang diwasiatkan setelah pemberi wasiat itu mati, atau setelah dilakukan serah terima, ataukah ditangguhkan? Syafi’i mempunyai tiga pendapat dalam masalah ini, tetapi pendapat yang paling kuat adalah ditangguhkan, yakni tidak terus menjadi milik penerima wasiat. Sedangkan menurut pendapat Hanafi, Maliki dan Hambali: dimiliki setelah dilakukan serah terima.

Apabila seseorang mewasiatkan suatu barang kepada seseorang, lalu pemberi wasiat itu mewasiatkannya lagi kepada orang lain, tetapi ia tidak tegas menerangkan bahwa ia telah mencabut wasiatnya yang pertama, maka barang tersebut harus dibagi dua. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab.

Al-Hasan, ‘Atha’ dan Thawus mengatakan: berwasiat kepada orang kedua berarti membatalkan wasiat pertama. dengan demikian, wasiat tersebut untuk orang kedua.
Dawud berpendapat: tetap menjadi milik yang pertama.

Memerdekakan budak, memberi hibah, wakaf dan semua pemberian yang dilakukan dalam keadaan sakit yang membawa kematian dihitung dari sepertiga harta. Demikian menurut kesepakatan pendapat para imam madzab. Mujahid dan Dawud mengatakan: dihitung dari pokok harta.

Para imam madzab berbeda pendapat mengenai pemberian yang dilakukan oleh orang yang hendak dihukum mati, orang yang terkepung musuh, atau orang yang sedang terombang-ambing kapal yang hendak tenggelam. Dalam hal ini menurut pendapat Hanafi, Maliki dan pendapat Hambali yang masyhur: diambil dari sepertiga hartanya. Syafi’i mempunyai dua pendapat dan yang lebih shahih menyatakan diambil dari sepertiga hartanya, sedang pendapat lainnya adalah diambil dari seluruh hartanya.

Perempuan hamil bila telah masuk bulan kesembilan, tidak boleh membelanjakan hartanya lebih dari sepertiga bagian. Demikian menurut Maliki.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang berwasiat kepada budak. Maliki dan Hambali: sah secara mutlak, baik diberikan kepada budak maupun kepada lainnya sama saja. Syafi’i: tidak sah secara mutlak. Hanafi: sah jika diberikan kepada budaknya sendiri, dengan syarat tidak ada di antara orang yang mendapat warisan orang yang sangat tua, dan tidak sah berwasiat untuk budak orang lain.

Orang yang mempunyai ayah dan kakek tidak boleh berwasiat kepada orang lain untuk mengurusi keperluan anak-anaknya, sesudah ia mati, kecuali jika penerima wasiat itu orang yagn adil. Demikian menurut pendapat Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Hanafi dan Maliki mengatakan: sah berwasiat kepada orang lain untuk mengurus keperluan anak-anaknya dan membayar utang-utangnya serta mengurus sepertiga hartanya, meskipun ada ayah atau kakek.

Apabila seseorang berwasiat untuk orang yang adil, lalu orang itu berubah menjadi fasik, maka wasiat tersebut hendaknya dicabut, sebagaimana jika seseorang menyandarkan wasiat kepadanya, maka hal itu tidak sah karena ia tidak bisa dipercaya untuk mengurusnya. Demikian pendapat Maliki dan Syafi’i. Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Hanafi: apabila ia menjadi fasik maka dibantukan orang adil kepadanya. Sedangkan jika diberikan wasiat kepada orang fasik maka hakim bertindak menyelesaikan wasiat tersebut. Apabila hakim tidak bertindak menyelesaikannya maka sahlah wasiat itu.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang berwasiat untuk orang kafir. Dalam hal ini Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan: wasiat tersebut adalah sah, baik diberikan kepada ahli harb maupun kafir dzimmi. Hanafi berpendapat: tidak sah wasiat untuk ahli harb [orang kafir yang memerangi umat Islam], tetapi sah hukumnya untuk kafir dzimmi.

Orang yang diserahi urusan wasiat boleh menyerahkan kepada orang lain, walaupun tidak mendapat pembenaran yang jelas dari orang yang mewasiatkan. Demikian menurut pendapat Hanafi dan para ulama pengikutnya serta menurut pendapat Maliki. Menurut Syafi’i dan pendapat Hambali dalam salah satu riwayatnya: tidak dibolehkan.

Apabila orang yang diserahi urusan wasiat itu seorang yang adil maka tidak diperlukan penetapan hakim. Pelaksanaan wasiat diserahkan kepada dirinya sendiri, dan segala pembelanjaannya dianggap sah. Demikian pendapat Maliki, syafi’i dan Hambali. Menurut Hanafi: kalau tidak dibenarkan oleh hakim maka seluruh barang yang dibeli dan dijual untuk kepentingan orang yang diwasiati jadi tertolak. Tetapi pembelanjaan yang dikeluarkannya dianggap sah.

Barang yang diwasiatkan harus dijelaskan dan ditentukan. Jika wasiat itu bersifat mutlak, seperti orang mengatakan: “Aku berwasiat kepadamu.” Maka wasiat tersebut tidak sah. Demikian menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali karena yang demikian itu seperti main-main. Maliki: wasiatnya adalah sah, dan orang yang menerima wasiat berhak mengurus segalanya. Dari Maliki diperoleh riwayat yang lain: yakni bahwa wasiatnya tidak sah, kecuali dijelaskan benda yang diwasiatkan itu.

Apabila seseorang berwasiat untuk kerabat-kerabatnya maka tidak termasuk ke dalamnya anak-anak dari anak perempuan. Sebab anak-anak dari anak perempuan tidak termasuk cucu yang mendapat warisan. Oleh karena itu, hendaknya diberikan kepada kerabat, lalu yang lebih dekat lagi. Demikian menurut Maliki. Dan Hanafi berpendapat: yang dimaksud kerabat-kerabatnya adalah orang-orang yang mempunyai hubungan nasab dengannya, tetapi tidak diberikan kepada anak-anak paman dan anak-anak saudara ibu.

Syari’i berpendapat: apabila seseorang mengatakan: “Aku berwasiat untuk kerabat-kerabatku.” Maka termasuk di dalamnya adalah semua kerabat, meskipun jauh, kecuali pokok [ayah dan kakek] dan furu’ [anak dan cucu laki-laki dari anak laki-laki]. Apabila orang yang berwasiat itu mengatakan: “Untuk keturunanku dan cucu-cucuku.” Maka termasuk di dalamnya adalah anak perempuan.
Hambali mengatakan dalam salah satu riwayatnya: orang yang menjadi kerabat dalam hidupnya boleh diberi wasiat. Jika tidak ada, maka wasiatnya diberikan kepada kerabat-kerabatnya dari pihak ayah.

Apabila seseorang berwasiat untuk tetangganya maka yang termasuk ke dalamnya hanyalah tetangga yang berdampingan dengan rumah pemberi wasiat. Demikian menurut Hanafi. Sedangkan Syaf’i: batas tetangga adalah empat puluh rumah dari setiap sisi. Dari Hambali diperoleh dua riwayat pendapat. Pertama, empat puluh rumah. Kedua tiga puluh rumah. Adapun menurut Maliki adalah tidak ada batasan bagi tetangga.

Berwasiat untuk orang yang sudah mati hukumnya adalah batal. Demikian pendapat Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Maliki berpendapat: sah wasiatnya, dengan demikian jika orang yang sudah mati itu mempunyai hutang atau kafarah, maka dibayarlah dengan barang wasiat itu. Sedangkan jika tidak mempunyai utang atau tanggungan kafarah maka diberikan kepada ahli warisnya.

Apabila seseorang berwasiat untuk orang lain sebanyak 1000, sedangkan harta yang ada padanya hanya 1000, dan harta lainnya tidak ada di tempatnya, berupa kebun atau piutang yang masih ada pada orang lain, dan ahli warisnya pun kikir, mereka mengatakan: “Kami tidak menyerahkan kepada orang yang diserahi urusan wasiat kecuali sepertiga dari 1000 itu.”, maka semua hartanya itu tidak untuk mereka. demikian menurut pendapat Maliki, Hanafi, Syafi’i. Dan Hanafi mengatakan: orang yang diwasiati mendapat sepertiga dari 1000. Sisanya merupakan haknya yang ada dalam perserikatan dalam semua harta yang ditinggalkan pemberi wasiat yang harus dipenuhi haknya.

Apabila anak yang belum baligh berwasiat dan dia sudah mengerti maksud wasiatnya maka wasiatnya dianggap sah. Demikian menurut pendapat Maliki. Dan Hanafi berpendapat: tidak dibolehkan. Pendapat Syafi’i berbeda, tetapi pendapat yang paling shahih dalam madzabnya adalah tidak sah. Demikian juga pendapat Hambali menyatakan tidak sah.

Apabila orang yang sedang sakit tidak dapat berbicara, apakah sah wasiatnya dengan menggunakan isyarat? Menurut pendapat Hanafi dan Hambali: tidak sah. Menurut pendapat Syafi’i: sah sedangkan menurut pendapat Maliki: dibolehkan.

Apabila orang yang menerima wasiat untuk mengurus harta telah menerima wasiat ketika orang pemberi wasiat masih hidup maka ia tidak boleh menolak sesudah pemberi wasiat itu mati. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Maliki. Dan Hanafi berpendapat: ia tidak boleh menolak semasa hidupnya pemberi wasiat, kecuali pemberi wasiat itu datang menyaksikannya. Syafi’i dan Hambali mengatakan: ia tidak boleh menolak kapan saja dan membebaskan diri dari urusan itu.

An-Nawawi berpendapat: tidak boleh ia menolak kalau ternyata dialah yang seharusnya menjalankan tugas menyelesaikan wasiat, atau menurut dugaannya, jika ia tidak menyelesaikannya, mungkin harta tersebut akan musnah lantaran perbuatan orang dhalim.

Apabila seseorang berwasiat untuk seseorang yang merdeka yang berayah seorang budak. Lalu wasiat itu diterima, sedangkan si anak [penerima wasiat] dalam keadaan sakit. Setelah itu ayah si sakit menjadi merdeka dan si anak itu meninggal. Dalam hal ini si ayah tidak menerima waris dari anaknya. Demikian menurut pendapat Syafi’i dan Hambali. Menurut pendapat Maliki dan jumhur ulama: si ayah tersebut berhak menerima waris dari anaknya.

Apabila seseorang menuliskan wasiatnya sendiri, dan diketahui bahwa tulisan tersebut adalah tulisannya, tetapi tidak ada saksi yang menyaksikannya, maka apakah wasiat itu dapat ditetapkan dengan tulisan tersebut sebagaimana jika disaksikan oleh dirinya sendiri? Menurut pendapat Hanafi, Maliki dan Syafi’i: tidak dapat ditetapkan dengan tulisan tersebut. Hambali berpendapat: dapat ditetapkan dengan tulisan tersebut selama tidak diketahui bahwa ia telah menarik wasiatnya.

Apabila seseorang berwasiat kepada dua orang untuk menyelesaikan suatu perkara tanpa menyebutkan suatu urusan yang harus diselesaikan oleh keduanya, apakah boleh salah satunyya menyelesaikannya sendiri tanpa yang lain? Menurut pendapat Maliki, Syafi’i, dan Hambali: tidak boleh secara mutlak. Hanafi berpendapat: boleh diselesaikan oleh seorang saja dalam delapan perkara, yaitu:

1. Membeli kain kafan;
2. Mengurus biaya penguburan mayat;
3. Memberi makan kepada anak-anak kecil;
4. Memberi pakaian kepada mereka;
5. Mengembalikan jaminan yang berupa benda;
6. Membayar utang;
7. Menyelesaikan wasiat tertentu;
8. Memerdekakan budak tertentu dan memperkarakan hak orang mati.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang sahnya menikahkan seseorang yang sedang sakit yang membawa kematiannya. Menurut pendapat Hanafi, Syafi’i dan Hambali: sah. Maliki berpendapat: tidak sah menikahkan maka pernikahannya dianggap dianggap batal dan harus talak, baik sudah bercampur maupun belum.
Apabila ternyata ia sembuh, apakah nikahnya batal atau sah? Maliki dalam masalah ini mempunyai dua pendapat.

Apabila seseorang mempunyai tiga anak laki-laki. Lalu ia berwasiat untuk orang lain sebanyak bagian salah seorang di antara mereka. maka, ia berhak menerima seperempat bagiannya. Demikian menurut pendapat Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Maliki berpendapat: ia berhak menerima sepertiga bagian saja.

Apabila orang tersebut mewasiatkan seluruh hartanya, sedangkan ia pun tidak menerima ahli waris, maka wasiatnya dianggap sah. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Hambali dalam salah satu riwayatnya. Menurut pendapat Syafi’i, satu riwayat Maliki, dan riwayat lain dari Hambali: wasiatnya tidak sah kecuali sepertiga saja.

Apakah boleh orang yang dipercaya mengurus wasiat membeli sesuatu untuk dirinya dari harta anak yatim? Hanafi: boleh, kalau dibeli dengan harga yang lebih dari harga biasa. Jika ia membeli dengan harga umum, maka tidak boleh. Maliki: boleh jika dibeli dengan harga umum. Dari Hambali diperoleh dua riwayat, dan yang lebih masyhur menyatakan tidak boleh. Sedangkan pendapat lainnya adalah jika diwakilkan orang lain, maka boleh.

Apabila orang yang dipercaya mengurus wasiat mengaku bahwa ia telah menyerahkan harta kepada anak yatim sesudah baligh maka pengakuannya dapat diterima berdasarkan sumpahnya. Pengakuannya diterima, sebagaimana diterimanya jika ia mengaku bahwa harta wasiat musnah. Demikian pendapat Hanafi dan Hambali. Maliki dan Syafi’i mengatakan: pengakuan orang tersebut tidak dapat diterima, kecuali disertai pembuktian.

Apabila seseorang berwasiat untuk masjid maka wasiatnya adalah sah. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hanafi berpendapat: tidak sah, kecuali ia mengatakan: “Dibelanjakan untuk kepentingan masjid.”

Jika seseorang berwasiat untuk keluarga si fulan maka tidak termasuk ke dalamnya melainkan yang laki-laki saja. demikian menurut kesepakatan imam madzab. Mereka mendapatkan bagianyang sama. Sedangkan jika diwasiatkan untuk anak-anak si fulan maka termasuk di dalamnya laki-laki dan perempuan, dan mereka pun mendapat bagian yang sama.

Jika orang yang dipercaya mengurus wasiat adalah seseorang yang kaya, apakah boleh ia memakan harta anak yatim ketika diperlukan? Menurut Hambali: tidak boleh, meskipun dengan cara utang dan sebagainya. Syafi’i dan Hambali: boleh memakannya sekedar upah dan mencukupi baginya.

Apabila ia seorang yang berpunya, apakah ia harus menggantikannya? Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Dari Syafi’i juga ada dua pendapat. Maliki berpendapat: jika ia orang kaya, hendaknya memelihara diri dari memakannya. Sedangkan jika ia seorang yang fakir, hendaknya ia memakannya dengan cara yang pantas, yakni sekedar upahnya saja.

&

Hadits tentang Shirath

24 Apr

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. berkata: Kami bertanya kepada Rasulullahsaw. “Wahai Rasulallah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat kelak?” Beliau menjawab, “Apakah ada yang membahayakan dalam melihat matahari dan bulan ketika cuaca cerah?” Kami berkata: “Tidak.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya kalian tidak dibahayakan dalam melihat Tuhan kalian pada hari itu, kecuali sebagaimana kalian melihat matahari dan bulan.” Abu Sa’id al-Khudri mengatakan ada seseorang yang berkata, “Hendaklah setiap kaum pergi menuju apa yang mereka sembah. Maka orang-orang menyembah salib pergi bersama salib mereka dan orang-orang yang menyembah berhala pergi bersama berhala mereka, serta mereka yang menyembah tuhan selain Allah, baik dari yang taat atau berbakti, yang hanyut dalam kemaksiatan, maupun ahli kitab. Kemudian diperlihatkan kepada mereka neraka jahanam, seolah-olah fatamorgana. Lalu dikatakan kepada orang-orang Yahudi: “Apa yang kalian sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Uzair anak Allah.” Allah menjawab: “Kalian bohong. Allah tidak mempunyai istri dan anak. Lalu apa mau kalian?” mereka menjawab: “Kami menginginkan diberi minum.” Lalu dikatakan: “Minumlah.” Maka mereka jatuh ke neraka.

Dikatakan pula kepada orang-orang Nasrani, “Apa yang kalian sembah?” Mereka menjawab: “Kami menyembah al-Masih anak Allah.” Dikatakan kepada mereka: “Kalian bohong. Allah tidak mempunyai istri dan anak. Lalu apa mau kalian?” mereka menjawab: “Kami menginginkan diberi minum.” Lalu dikatakan: “Minumlah.” Maka mereka jatuh [ke neraka] hingga yang tersisa orang-orang yang menyembah Allah, baik dari yang taat maupun yang berbuat maksiat. Dikatakan kepada mereka, “Apa yang merintangi kalian, padahal banyak manusia telah pergi [jatuh ke neraka]?” mereka menjawab: “Kami memisahkan diri dari mereka [ketika di dunia] dan pada hari ini kami lebih butuh [sesembahan kami] daripada mereka. kami juga mendengar seseorang yang menyeru, ‘Hendaklah setiap umat menemui apa yang mereka sembah.’ Saat ini kami sedang menunggu Tuhan kami.”

Kemudian datanglah seseorang yang perkasa dalam bentuk yang lain [bukan bentuk aslinya], yang baru pertama mereka lihat. Orang itu berkata: “Aku adalah tuhan kalian.” Mereka menjawab: “Kamu adalah tuhan kami.” Sedangkan dalam riwayat Bukhari, mereka menjawab: “Ini tempat kami hingga datang Tuhan kami. Jika Tuhan kami datang, niscaya kami mengetahui-Nya.” maka Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang mereka ketahui. Tidak ada seorang pun yang diajak bicara kecuali para Nabi. Dikatakan kepada mereka: “Apakah di antara kalian dan Dia ada tanda yang kalian ketahui?” mereka menjawab: “Betis.” Maka disingkaplah betisnya, lalu setiap orang yang beriman bersujud kepada-Nya hingga tersisalah orang-orang yang menyembah Allah karena riya’ [pamer]. Mereka pun pergi untuk sujud, lalu kembali dengan punggung yang terasa sakit. Kemudian diberilah mereka jembatan [jisrun] yang diletakkan di antara sisi neraka jahanam.

Kami berkata: “Ya Rasulullah, apakah jisrun itu?” Beliau menjawab: “Tempat tergelincirnya kedua kaki, di atasnya terdapat besi pengait dan alat pengorek bara api yang sangat tajam serta duri yang runcing dari jenis tumbuh-tumbuhan. Orang beriman melewati jembatan itu dengan cepat sambil memejamkan kedua matanya. Ada pula di antara mereka yang menyeberanginya seperti kilat, angin, kuda dan hanya berjalan biasa. Orang muslim dan yang mempunyai bekas cakaran [makhdusy] berhasil selamat, sedangkan yang menolak menyeberanginya masuk neraka hingga yang terakhir kali adalah yang berjalan dengan menyeret kakinya. Kalian tidak lebih mengerti daripada diriku tentang kebenaran. [Sekarang] telah jelas bagi kalian bahwa orang mukmin pada hari itu adalah milik Dzat Yang Mahaperkasa. Ketika mereka mengetahui bahwa diri mereka telah selamat, sedangkan saudara-saudara mereka [orang-orang yang berbuat maksiat] gagal, mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, saudara-saudara kami itu shalat bersama kami, puasa bersama kami, dan bekerja juga bersama kami.’ Kemudian Allah berkata kepada mereka: ‘Pergilah kalian kepada mereka! Maka barangsiapa yang mendapatkan di hati mereka ada iman meskipun hanya sekeping dinar, keluarkanlah mereka.’ Allah swt. mengharamkan gambar mereka di neraka.

Mereka mendatangi saudara-saudara mereka, tetapi sebagian dari mereka telah hilang dari pandangan. Mereka telah tenggelam ke dalam neraka. ketika mereka melihat saudara-saudara mereka yang jatuh ke neraka dan mengetahui ada iman di hatinya, mereka membawanya keluar dan kembali kepada Allah swt. Dia berkata lagi: ‘Pergilah kalian, jika kalian dapati di hati mereka ada iman setengah dinar saja, keluarkanlah mereka!’ Maka keluarlah orang-orang yang masih mempunyai iman di hati mereka, lalu kembali menemui Tuhan mereka. Tuhan mereka berkata: ‘Pergilah kalian! Barangsiapa mendapatkan iman di hati mereka walau hanya sebesar zarrah [biji sawi], keluarkanlah mereka dari neraka.”

Kemudian orang-orang yang diketahui masih mempunyai iman pun keluar dari neraka. kemudian Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Jika kalian tidak percaya kepadaku, bacalah [Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seorang pun walau sebesar zarrah. Dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya…] (an-Nisaa’: 40). Para Nabi, malaikat dan orang-orang beriman mendapatkan syafaat. Kemudian Dzat Yang Mahaperkasa berkata, ‘Syafaat-Ku masih tersisa.’ Kemudian Allah menggenggam neraka dan mengeluarkan orang-orang yang sudah terbakar, lalu melemparkan mereka ke dalam sungai yang berada di depan pintu surga. Kalian telah melihatnya berada di sisi gurun dan tumbuh-tumbuhan. Jika terkena matahari, ia berubah menjadi hijau dan jika ternaungi, ia berubah menjadi putih. Kemudian mereka keluar dari sungai itu seperti permata. Allah swt. memberikan kalung pada leher mereka, lalu mereka masuk ke dalam surga. Penduduk surga berkata: “Mereka itulah yang diampuni oleh Tuhan, lalu dimasukkan ke dalam surga tanpa ada perbuatan baik yang mereka lakukan.” Kemudian dikatakan kepada mereka: “Kalian telah melihatnya sendiri dan begitu juga orang yang bersamanya.” (HR Muttafaq ‘alaiHi)

&