Arsip | 06.21

Keadaan Orang-orang Mukmin ketika Melewati Shirath

25 Apr

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Keadaan orang-orang beriman dalam menyeberangi jembatan [shirath] bermacam-macam sesuai dengan keimanan, perbuatan, kemaksiatan, dan dosa yang pernah dilakukannya di dunia. Di antara mereka ada yang selamat ketika menyeberanginya. Ada yang menyeberanginya seperti angin dan ada pula yang sempat tercakar oleh besi berkait yang berada di sisi shirath. Akan tetapi mereka berhasil selamat. Sedangkan sebagian lagi ada yang jatuh ke neraka disambar oleh duri-duri yang siap menyeret mereka.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda dalam sebuah hadits yang panjang, “….kemudian jembatan [shirath] itudiletakkan di dua sisi neraka jahanam.”

Dalam riwayat yang lain diterangkan, “Jembatan [shirath] itu diletakkan di atas neraka jahanam dan sayalah Rasul pertama yang diizinkan menyeberanginya bersama umatnya. Tidak seorang pun pada hari itu berkata-kata, kecuali para Rasul. Ucapan para rasul hari itu adalah, ‘Ya Allah, selamatkanlah kami.’ Di neraka itu terdapat duri yang runcing dan tajam [sa’dan], seperti duri tumbuh-tumbuhan. Apakah kalian pernah melihatnya?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu beliau berkata, “Ya, duri itu seperti duri yang kalian lihat, tetapi tidak diketahui berapa besarnya, kecuali Allah swt. Dan duri itu akan menyambar manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka ketika hidup di dunia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra.bahwa Rasulullah saw. bersabda, “… kemudian ada jembatan yang diletakkan di atas neraka jahanam dan diizinkan [pemberi] syafaat. [Para Nabi] berdoa, ‘Ya Allah selamatkanlah kami. Selamatkanlah kami.’ Dikatakan, “Ya Rasulallah, apa itu jisrun?” Beliau menjawab, “Tempat tergelincirnya kaki. Di antaranya terdapat besi pengait yang tajam, besi [seperti cakar] yang tajam, dan duri-duri runcing yang disebut sebagai sa’dan [yang siap menyambar orang yang menyeberanginya].
Orang-orang beriman menyeberang di atasnya dengan berbagai keadaan. Ada yang menyeberanginya dengan mata terpejam tetapi cepat, ada pula yang seperti kilat, angin, burung, kuda yang berlari cepat, dan seperti orang yang naik kendaraan. Orang muslim dan makhdusy [yang tercakar] selamat, sedangkan yang makdus [menolak menyeberanginya] masuk ke neraka. dengan demikian, semua orang yang beriman selamat dari api neraka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian akan mencari keterangan dari Allah swt. tentang saudara-saudara kalian yang beriman yang berada di dalam neraka. Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, mereka [saudara-saudara kami] puasa, shalat, dan haji [bersama kami].’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Keluarkanlah orang yang masih mempunyai iman di antara mereka jika kalian mengetahuinya karena wujud mereka diharamkan [tidak diperkenankan] di neraka.’ maka mereka mengeluarkan banyak makhluk dari neraka dan sebagian dari mereka telah terbakar api neraka. Ada yang sampai betis dan ada pula yang sampai lutut mereka.” (HR Muslim)

Dalam meafsirkan hadits di atas, Imam Nawawi ra. berpendapat bahwa ada tiga golongan manusia dalam menyeberangi shirath. Pertama, golongan yang selamat dan tidak kena apa-apa ketika menyeberangi shirath. Kedua, golongan yang tercakar oleh besi berkait yang tajam, tetapi mereka selamat. Ketiga, golongan yang terbelenggu kakinya dan jatuh ke neraka.

Orang-orang yang beriman dan benar berjalan di atas shirath dengan aman dan selamat. Mereka disinari oleh keimanan dan amal shalih mereka. sinar itu memancar di depan dan di sebelah kanan mereka.

“….. pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (at-Tahrim: 8)

“(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (Dikatakan kepada meraka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar”. (al-Hadid: 12)

Dari Sahl bin Sa’ad ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Berilah kabar gembira kepada orang yang berjalan menuju masjid di malam hari dengan cahaya yang terangdi hari kiamat.”(HR Ibnu Majah, Ibnu Huzaimah, dan Hakim)

Setiap orang Mukmin melewati shirath dengan berjalan bersama cahaya keimanan, amal, keyakinan, dan ucapan mereka. kekuatan cahaya itu sesuai dengan kekuatan iman mereka.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Qatadah mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Di antara orang Mukmin, cahayanya ada yang menyinari dari Madinah sampai Adn dan Dhan’a. Selain itu, ada pula cahayanya yang hanya menyinari tempat kakinya berpijak.”

Dalam menafsirkan ayat (cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka), Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir mengatakan –berdasarkan pendapat Ibnu Mas’ud ra- bahwa yang dimaksud ayat ini adalah mereka menyeberangi shirath sesuai dengan perbuatan mereka. di antara mereka cahayanya ada yang seperti gunung, ada pula yang seperti pohon kurma, orang yang sedang berdiri, dan yang paling lemah cahayanya adalah cahaya yang menyinari ibu jarinya, terkadang hidup dan terkadang mati.

Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Shirath itu tajam seperti pedang dan merupakan tempat tergelincirnya kaki. Orang-orang beriman berjalan di atasnya sesuai dengan kadar cahaya yang menyinarinya. Di antara mereka ada yang berjalan seperti planet, berjalan cepat dengan kedua matanya terpejam, seperti angin, orang yang berjalan seperti hujan rintik-rintik. Kemudian ada pula yang melewati shirath itu, sementara cahayanya hanya menyinari ibu jari kedua kakinya. Lalu mereka saling berpegangan dan berangkulan sehingga terkena api neraka.” (HR Ibnu Abi Dun-ya, Thabrani, dan Hakim)

&