Arsip | Mei, 2014
Gambar

Radio Al-Hikmah

28 Mei

radio alhikmah

Radio

23 Mei

 

radio-tape

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 61 (15)

23 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 61“61. atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” (an-Naml: 61)

Allah Ta’ala berfirman: amman ja’alal ardla qaraaran (“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi qaraaran”) yaitu sebagai tempat tinggal yang tetap. Dia tidak menggoyang dan menggerakkan penghuninya serta tidak menggoncangkan mereka. seandainya itu terjadi, niscaya kehidupan tidak berlangsung baik. Akan tetapi Allah menjadikan bumi dengan keutamaan dan rahmat-Nya sebagai hamparan yang tetap, yang tidak goncang dan tidak bergerak.

Wa ja’ala khilaalaHaa anHaaran (“dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya”) yaitu Dia menjadikan sungai-sungai tawar dan baik untuk digunakan mengalirkan sungai itu di celah-celah-Nya. lalu Dia alirkan sungai-sungai besar dan kecil ke arah mana sesuai kemaslahatan hamba-hamba-Nya di wilayah dan di daerah mereka. Dimana Dia mengembangbiakkan mereka di permukaan bumi dan menumbuhkan rizky mereka sesuai kebutuhan mereka.

Wa ja’ala laHaa rawaasiya (“dan yang menjadikan gunung-gunung untuk mengokohkannya.”) yaitu gunung-gunung yang menjulang kokoh dan menancap ke bumi agar tidak menggoncangkan kalian.
Wa ja’ala bainal bahraini haajizan (“dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut”) yaitu Dia menjadikan pemisah di antara air tawar dan air asin yang dapat mencegahnya untuk bercampur agar bagian satu tidak merusak bagian yang lainnya. Sesungguhnya hikmah Ilahiyyah mengharuskan ketetapan masing-masing keduanya menurut sifatnya yang asli. Karena laut yang segar itu merupakan sumber dari sungai-sungai yang mengalir di lingkungan manusia. Tujuannya agar menjadi tawar dan nikmat, dimana hewan, manusia dan tumbuhan dapat mengambil manfaat darinya. Sedangkan lautan yang asin adalah hanya melingkari daratan dan benua di berbagai pelosok. Tujuannya agar air itu menjadi asin yang tidak merusak udara dengan baunya. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir [berdampingan]; yang ini tawar dan segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (al-Furqaan: 53). Untuk itu Allah berfirman: a ilaaHum ma’allaaH (“apakah ada ilah-ilah lain bersama Allah?”) yaitu yang dapat melakukan semua itu atau menurut pendapat yang lain, ilah-ilah lain yang diibadahi. Kedua pendapat tersebut saling terkait dan benar.
Bal aktsaruHum laa ya’lamuun (“Bahkan, kebanyakan mereka tidak mengetahui.”) tentang penyembahan mereka kepada selain-Nya.

Bersambung ke bagian 16

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 59-60 (14)

23 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 59-60“59. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan Kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?” 60. atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (an-Naml: 59-60)

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk mengucapkan: alhamdulillaaH (“Segala puji bagi Allah”) yaitu atas berbagai nikmat yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya tanpa batas dan tidak terhitung jumlahnya serta atas sifat-sifat mulia dan nama-nama yang husna yang dimiliki-Nya. Juga salam sejahtera kepada hamba-hamba Allah yang dipilih-Nya, yaitu para Rasul dan para Nabi yang mulia. Semoga bagi mereka shalawat dan salam yang utama dari Allah. Demikian yang dikatakan oleh ‘Abdurrahman bin Za’id bin Aslam dan selainnya.

Hal ini seperti firman Allah yang artinya: “Mahasuci Rabbmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan kepada para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” (ash-Shaaffaat: 180-182). Ats-Tsauri dan as-Suddi berkata: “Mereka adalah para Shahabat Nabi saw. semoga Allah meridlai mereka semuanya.” Pendapat senada juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan tidak ada pertentangan. Karena apabila mereka termasuk dari hamba-hamba Allah yang terpilih, maka para Nabi tentu lebih utama. Maksudnya adalah Allah memerintahkan Rasul dan orang –orang yang mengikutinya setelah Dia menceritakan kepada mereka apa yang telah dilakukan-Nya kepada para wali-Nya berupa keselamatan, pertolongan dan dukungan serta apa yang menimpa musuh-musuh-Nya berupa kesengsaraan, kecelakaan dan kekalahan agar mereka memuji-Nya atas seluruh perbuatan-Nya serta mencurahkan kesejahteraan kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih.

Firman Allah: aallaaHu khairun ammaa tusyrikuun (“Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya?”) adalah pertanyaan untuk mengingkari kaum musyrikin yang menyembah ilah-ilah lain bersama Allah. Kemudian Allah mulai menjelaskan bahwa Dia Mahaesa dalam penciptaan, pemberian rizky dan penataan tanpa yang selain-Nya. Maka Allah telah berfirman: amman khalaqas samaawaati (“Atau siapakah yang telah menciptakan langit?”) yaitu yang telah menciptakan langit-langit itu dengan ketinggian dan kebersihannya. Serta apa-apa yang dijadikan di dalamnya, seperti bintang-bintang yang bersinar, benda-benda langit yang indah dan planet-planet yang beredar. Yang menciptakan bumi dan kerendahan dan ketebalannya serta apa-apa yang dijadikan di dalamnya seperti gunung-gunung dan puncak-puncak dan lain-lain.

Firman Allah: wa anzala lakum minas samaa-i maa-an (“Dan yang menurunkan air untukmu dari langit-langit.”) yaitu dijadikan-Nya sebagai rizky bagi hamba-hamba-Nya. fa anbatnaa biHii hadaa-iqa (“Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu hadaa-iq”) yaitu kebun-kebun. Dzaata baHjata; yang berpemandangan indah dan berbentuk megah. Maa kaana lakum an tunbituu syajaraHaa; yaitu kalian tidak akan sanggup menumbuhkan pohon-pohonnya. Yang sanggup melakukan itu semua hanyalah Allah Mahapencipta dan Mahapemberi rizky Yang berdiri sendiri dan Esa daam hal tersebut, tanpa butuh yang lain-Nya diantara para berhala, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain yang artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: Allah.’” (az-Zukhruf: 87)
“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit kemudian menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.’” (al-Ankabuut: 63) yaitu mereka mengakui bahwa Allah lah yang melakukan semua itu dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kemudian mereka menyembah selain-Nya bersama Dia dari apa yang mereka akui bahwa tidak ada yang menciptakan dan memberi rizky selain Allah dan Dia berhak untuk diesakan dalam ibadah. Hanya Dia yan menciptakan dan memberi rizky. Untuk itu Dia berfirman: a ilaaHum ma’allaaH; yaitu, apakah di samping Allah ada ilah lain yang disembah, padahal sudah jelas bagi kalian dan bagi orang yang berakal yang mengakui pula bahwa Dialah Mahapencipta dan Mahapemberi rizky?

Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa makna firman-Nya: a ilaaHum ma’allaaH (“Apakah di samping Allah ada ilah lain”) yang melakukan ini semua? pendapat ini kembali pada makna yang pertama [Allah]. Karena, kandungan jawabannya adalah bahwa mereka berkata: “Di sana tidak ada satupun yang melakukan semua ini, bahwa Dia sendiri saja yang melakukan itu.” Dikatakan, bagaimana kalian menyembah yang lain-Nya bersama Dia, padahal Dia sendiri yang menciptakan, memberi rizky dan mengatur?
“Maka apakah [Allah] yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan [apa-apa]?” (an-Nahl: 17)

Firman Allah di sini: amman khalaqas samaawaati wal ardla (“Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi.”) amman; di dalam seluruh ayat ini kandungannya ialah, apakah yang melakukan semua ini sama dengan yang tidak mampu melakukan semua itu? Inilah makna konteks pembicaraan, sekalipun yang lain disebutkan. Karena dalam kualitas pembicaraan mengarah pada hal tersebut. Sesungguhnya Allah berfirman: aallaaHu khairun ammaa tusyrikuun (“Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya?”) kemudian Dia berfirman dalam ayat yang lain: bal Hum qaumuy ya’diluun (“Bahkan mereka adalah orang-orang yang menyimpang.”) yaitu membuat tandingan dan bandingan bagi Allah. Allah berfirman yang artinya: “[Apakah kamu hai orang-orang yang musyrik yang lebih beruntung] apakah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada [adzab] akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (az-Zumar: 9). Yakni apakah orang yang seperti itu sama seperti orang yang tidak demikian? Untuk itu Allah berfirman dalam ayat yang sama, artinya: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (az-Zumar: 9)

Bersambung ke bagian 15

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 54-58 (13)

23 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 54-58“54. dan (ingatlah kisah) Luth, ketika Dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?” 55. “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. 56. Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih”. 57. Maka Kami selamatkan Dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan Dia Termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). 58. dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), Maka Amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.” (an-Naml: 54-58)

Allah mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, Luth as. yang memperingatkan kaumnya dari kemurkaan Allah atas perilaku imoralitas yang belum pernah dilakukan oleh satu anak Adam pun, yaitu homoseksual, bukan dengan wanita. Hal ini merupakan imoralitas dahsyat, dimana laki-laki butuh laki-laki dan perempuan cukup dengan perempuan. Luth as. berkata: a ta’tuunal faahisyata wa antum tubshiruun (“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fasyiyah itu padahal kamu melihatnya.”) yakni sebagian kamu melihat sebagian yang lain dan kalian melakukan kemunkaran di lingkungan kalian sendiri.

A innakum ata’tuunar rijaala syaHwatam min duuninnisaa-i bal antum qauman tajHaluun (“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk [memenuhi] nafsumu, bukan [mendatangi] wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui.”) yakni tidak mengetahui sedikitpun, baik tabiat maupun syariat.

Fa maa kaana jawaaba qaumiHii illaa an qaaluu akhrijuu aala luuthim min qaryatikum innaHum unaasuy tatathaHHaruun (“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: ‘Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang [mendakwakan dirinya] bersih.”) yaitu mereka tersinggung dari perbuatan kalian dan ketetapan kalian atas tingkah laku kalian. Maka usirlah mereka dari tengah-tengah kalian, karena mereka tidak pantas berdekatan dengan kalian di negeri kalian. Lalu mereka bertekad untuk melakukannya, maka Allah menghancurkan mereka dan orang-orang yang semisal mereka.

Firman Allah: fa anjainaaHu wa aHlaHuu illam ra-ataHuu qaddarnaaHaa minal ghaabiriin (“Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal [dibinasakan].”) yaitu termasuk orang-orang yang celaka bersama kaumnya, karena dia adalah pendukung mereka dalam agama dan thariqah mereka dengan meridlai kelakuan mereka yang buruk. Dia pun menunjukkan kepada kaumnya tentang dua orang tamu Luth agar mereka mendatangi tamu tersebut. Dia tidak melakukan perbuatan kotor tersebut karena menghormati Nabiyyullah Luth as. dan dia pun bukan orang yang mulia.

Firman Allah: wa amtharnaa ‘alaiHim matharan (“Dan Kami turunkan hujan kepada mereka.”) yaitu hujan batu dari sijjil yang panas dan mendidih dari Rabbmu. Batu itu jatuh tepat mengenai orang-orang yang dhalim [berdosa].
Fa saa-a matharul mundzariin (“Maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.”) yaitu dimana hujjah telah tegak dan peringatan pun telah sampai kepada mereka. akan tetapi mereka menentang dan mendustakan Rasul serta berusaha mengusirnya dari lingkungan mereka.

Bersambung ke bagian 14

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 48-53 (12)

23 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 48-53“48. dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. 49. mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”. 50. dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. 51. Maka perhatikanlah betapa Sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. 52. Maka Itulah rumah-rumah mereka dalam Keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. 53. dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.” (an-Naml: 48-53)

Wa kaana fil madiinati (“Dan adalah di kota itu”) yaitu kota Tsamud; tas’atu raHthin (“sembilan orang laki-laki”) yaitu sembilan golongan. Yufsiduuna fil ardli wa laa tushlihuun (“yang membuat kerusakan di muka bumi dan mereka tidak membuat kebaikan.”) mereka mendominasi urusan Tsamud karena mereka adalah pembesar dan pemimpin mereka.

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Mereka adalah orang-orang yang membunuh unta, yaitu sesuatu yang muncul dari pendapat dan dari hasil musyawarah mereka, semoga Allah memburukkan dan melaknat mereka.”
‘Abdurrazzaq berkata, Ma’mar bin Rabi’ah ash-Shan’ani bercerita kepada kami, aku mendengar ‘Atha’ bin Abi Rabah berkata: Wa kaana fil madiinati tas’atu raHthiy Yufsiduuna fil ardli wa laa tushlihuun (“Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi dan mereka tidak membuat kebaikan.”) mereka meminjamkan beberapa dirham, dimana mereka mengambil hal tersebut darinya seakan-akan mereka bertransaksi beberapa jumlah seperti yang dilakukan oleh bangsa Arab.”

Imam Malik berkata dari Yahya bin Sa’id, bahwa Sa’id bin al-Musayyab berkata: “Memotong emas dan perak merupakan perbuatan merusak di muka bumi.”

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lain-lain dijelaskan bahwa Rasulullah saw. melarang memecahkan alat transaksi kaum Muslimin yang berlaku di kalangan mereka kecuali karena alasan. Tujuannya, bahwa di antara sifat-sifat orang kafir yang fasik adalah berbuat kerusakan di muka bumi dengan berbagai sarana yang mereka kuasai, di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh imam-imam tersebut dan para imam lainnya.

Firman Allah: qaaluu taqaasamuu billaaHi lanubayyitannaHuu wa aHlaHuu (“Mereka berkata: ‘Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari.”) yakni kalian saling bersumpah dan berbaiat untuk membunuh Nabiyyullah, Shalih as, dengan mendatanginya di waktu malam secara tiba-tiba. Hampir-hampir Allah mendekatkan mereka dan menjadikan lingkaran bagi mereka.

Mujahid berkata: “Mereka saling berbagi dan saling bersumpah untuk menghancurkannya. Sehingga mereka tidak mampu menjangkaunya, melainkan mereka dan kaum mereka seluruhnya binasa.”

Qatadah berkata: “Mereka telah saling percaya untuk menculiknya di waktu malam, lalu membunuhnyal. Diceritakan kepada kami bahwa di saat mereka mengepung Shalih untuk membunuhnya, tiba-tiba Allah mengutus sebuah batu besar kepada mereka sehingga menghancur luluhkan mereka.”

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Mereka adalah orang-orang yang membunuh unta.” Mereka berkata: “Ketika mereka membunuh unta itu agar memberi kejelasan tentang Shalih dan keluarganya, maka kami bunuh mereka.” kemudian, kami katakan kepada pengikut Shalih: “Kami tidak menyaksikan peristwa itu sedikitpun dan tidak tahu-menahu sama sekali. Maka Allah membinasakan mereka seluruhnya.”

‘Abdurrahman bin Abi Hatim berkata: “Ketika mereka membunuh unta itu, Shalih berkata kepada mereka: tamatta’uu fii daarikum tsalaatsata ayyaamin dzaalika wa’dun ghairu makdzuub (“Bersukarialah kalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.”) (Huud: 65) mereka berkata: “Shalih mengira bahwa ia dapat lepas dari kita selama tiga hari, padahal kita akan menangkapnya sebelum tiga hari.
Shalih memiliki sebuah masjid pada sebuah batu di sisi lembah, dimana ia shalat di dalamnya.”

Mereka lalu keluar menuju gua di waktu malam, mereka berkata: “Apabila ia datang untuk shalat, kita akan membunuhnya. Kemudian kita kembali jika kita sudah menyelesaikannya, lalu kita membinasakan keluarganya.” Akan tetapi Allah mengutus batu besar yang amat keras kepada mereka. mereka amat takut batu tersebut akan melahap mereka sehingga mereka lari tunggang langgang. Akan tetapi batu itu menggilas mereka di saat mereka berada di dalam gua, hingga kaum mereka tidak mengetahui dimana mereka berada. Mereka pun tidak tahu apa yang terjadi pada kaum mereka. Allah mengadzab mereka disini dan mengadzab kaumnya di sana.

Dan Allah menyelamatkan Shalih dan orang yang bersamanya. Kemudian membaca: wa makaruu makraw wa makarnaa makraw wa Hum laa yasy’uruun. Fandhur kaifa kaana ‘aaqibatu makriHim annaa dammarnaaHum wa qaumaHum ajma’iin. Fa tilka buyuutuHum khaawiyatan (“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa Sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka Itulah rumah-rumah mereka dalam Keadaan runtuh.”) yaitu kosong, tidak ada satu orang penghuni pun.

Bimaa dhalamuu inna fii dzaalika la aayatal liqaumiy ya’lamuun. Wa anjainal ladziina aamanuu wa kaanuu yattaquun (“disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.”)

Bersambung ke bagian 13

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 45-47 (11)

23 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 45-47“45. dan Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah”. tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan. 46. Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat”. 47. mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (Bukan Kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”. (an-Naml: 45-47)

Fa idzaa Hum fariiqaani yakhtashimuun (“Tetapi tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang bermusuhan.”) Mujahid berkata, “Yaitu mukmin dan kafir.”
Qaala yaa qaumi lima tasta’jiluuna bis sayyiati qablal hasanati (“Dia berkata: ‘Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum [kamu minta] kebaikan?’”) yaitu kenapa kalian meminta didatangkan adzab dan tidak meminta rahmat dari Allah.

Untuk itu Dia berfirman: lau laa tastaghfuruunallaaHa la’allakum turhamuun. Qaaluth thayyarnaa bika wa bimam ma’aka (“Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.’ Mereka menjawab, ‘Kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.’”) yakni kami tidak melihat satu kebaikan pun di wajahmu dan wajah orang-orang yang mengikutimu.

Hal ini dikarenakan keadaan mereka, dimana tidak ada satu keburukan pun yang mengimpa salah satu dari mereka kecuali mereka berkata: “Ini pasti karena Shalih dan shahabat-shahabatnya.”
Mujahid berkata, “Mereka menganggap sial terhadap Shalih dan shahabat-shahabatnya.” Mereka menjawab: iththayyarnaa bika wa bimam ma’aka, qaala thaa-irukum ‘indallaaHi (“‘Kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.’ Shalih berkata, ‘Nasibmu ada pada sisi Allah.’”) yaitu Allah membalas kalian atas semua itu, bal antum qaumun tuftanuun (“Tetapi kamu kaum yang diuji.”) Qatadah berkata, “Kalian diuji dengan ketaatan dan kemaksiatan.” Yang jelas, bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: tuftanuun (“Yang diuji”) yaitu kalian ditarik dengan berangsur-angsur ke dalam kesesatan kalian itu.

Bersambung ke bagian 12

BismillaaHir rahmaanir rahiim

22 Mei

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 41-44 (10)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 41-44“41. Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; Maka kita akan melihat Apakah Dia Mengenal ataukah Dia Termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”. 42. dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan Kami adalah orang-orang yang berserah diri”. 43. dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena Sesungguhnya Dia dahulunya Termasuk orang-orang yang kafir. 44. dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala Dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (an-Naml: 41-44)

Tatkala singgasana Balqis didatangkan kepada Sulaiman sebelum kedatangan sang ratu, maka ia memerintahkan untuk merubah sebagian sifatnya agar ia dapat menguji pengetahuan dan kemantapan sang ratu saat melihatnya. Apakah ia dapat mengenalnya sebagai singgasananya sendir atau bukan singgasananya. Dia berkata:

Nakkiruu laHaa ‘arsyaHaa nandhur ataHtadii am takuunu minal ladziina laa yaHtaduun (“Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal[nya]?”)
Ibnu ‘Abbas berkata: “Ia mencabut untaian permata dan perhiasannya.”
Qatadah berkata: “Yang ada di bawah dijadikan di atas dan yang ada di depan dijadikan di belakang. Mereka menambah dan menguranginya.”

Falammaa jaa-at qiila a Hakadzaa ‘arsyuki (“ketika Balqis datang, ditanyakan kepadanya, ‘Serupa inikah singgasanamu?’”) singgasana diperlihatkan kepadanya, padahal telah dirubah, dihapus, ditambah dan dikurangi. Sang ratu tetap kokoh dan berakal serta memiliki kecerdasan, kepandaian dan kekuatan. Dia tidak mengatakan itu sebagai singgasananya karena kejauhan jaraknya dan diapun mengatakan bahwa itu bukan singgasananya, karena ia melihat tanda-tanda dan sifat-sifatnya yang sama, sekalipun telah dirubah dan dihapus. Ia berkata: ka annaHuu Huwa (“Seakan-akan singgasana ini adalah singgasanaku.”) serupa dan hampir sama. Ini menunjukkan kecerdasan dan kepandaiannya yang sangat tajam.

Perkataannya: wa uutiinal ‘ilma min qabliHaa wa kunnaa muslimiin (“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”) Mujahid berkata, “Demikian Sulaiman berkata”, dan firman Allah Ta’ala: wa shaddaHaa maa kaanat ta’budu min duunillaaHi innaHaa kaanat min qaumin kaafiriin (“Dan apakah yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya [untuk melahirkan keislamanya] karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.”) ini merupakan kelengkapan kata-kata Sulaiman as. menurut pendapat Mujahid dan Sa’id bin Jubair, yaitu Sulaiman as. berkata: wa uutiinal ‘ilma min qabliHaa wa kunnaa muslimiin (“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”) dan sungguh ia sudah shaddaHaa, yaitu telah mencegahnya untuk beribadah kepada Allah yang Esa. maa kaanat ta’budu min duunillaaHi innaHaa kaanat min qaumin kaafiriin (“selama ini yang diibadahinya selain Allah, mencegahnya [untuk melahirkan keislamanya] karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.”) inilah yang dikatakan oleh Mujahid, Sa’id dan al-Hasan serta dikatakan pula oleh Ibnu Jarir.

Perkataannya: qiila laHadkhulish sharha falammaa ra-atHu lujjataw wa kasyafat ‘an saaqaiHaa (“Dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam istana.’ Maka tatkala ia meliahat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.”) sesungguhnya Sulaiman as. memerintahkan syaitan-syaitan untuk membangunkannya istana besar dari kaca yang dialirkan air di bawahnya. Orang yang tidak tahu hal itu, pasti menyangkanya sebagai air. Akan tetapi kaca tersebut menjadi dinding antara air tersebut dengan orang yang berjalan di atasnya. Ketika sang ratu menghadap Sulaiman, maka Sulaiman menyerunya untuk beribadah kepada Allah Yang Mahaesa serta mencela sikapnya yang menyembah matahari, sesembahan selain Allah.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Ketika ratu tersebut melihat istana, ia mengetahui, demi Allah, bahwa ia melihat suatu kerajaan yang lebih besar daripada kerajaannya.”
falammaa ra-atHu lujjataw wa kasyafat ‘an saaqaiHaa (“Maka tatkala ia meliahat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.”) ia tidak ragu lagi bahwa itu adalah air yang menggenanginya. Dikatakan kepadanya: innaHuu sharhum mumarradum min qawaariir (“Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.”)
qaalat rabbi innii dhalamtu nafsii wa aslamtu ma’a Sulaimaana lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Berkatalah Bilqis: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat dhalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.”) lalu ia masuk Islam dan keislamannya baik. Dan hanya milik Allah segala puji.
Asal makna “ash-Sharh” dalam bahasa Arab adalah istana dan setiap bangunan yang tinggi.

Allah berfirman mengabarkan tentang Fir’aun –laknatullah- bahwa ia berkata kepada menterinya, Hamman: ibnilii sharhal la’allii ablughu asbaab (“Buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu”) (al-Mukmin: 36). Ash-Sharh adalah suatu istana di Yaman yang gedung-gedungnya tinggi, sedangkan al-Mumarrad adalah sebuah bangunan yang kokoh dan licin, min qawaariir; yaitu dari kaca.
Melicinkan bangunan adalah dengan menghaluskannya. Dan maarid adalah sebuah benteng di Daumatul Jandal.

Tujuan Sulaiman membuat istana besar yang megah dari kaca untuk kerajaannya ini agar ia perlihatkan kepada ratu tentang besar dan kokohnya kekuasaan yang ia miliki. Ketika ia melihat apa yang diberikan Allah Ta’ala kepada Sulaiman dan melihat sendiri perkaranya, ia mulai tunduk kepada perintah Allah Ta’ala dan mengetahui bahwa Sulaiman adalah seorang Nabi yang mulia dan raja yang agung serta iapun berserah diri kepada Allah swt. Ia berkata: rabbi innii dhalamtu nafsii (“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat dhalim terhadap diriku.”) dengan perlakuannya yang terdahulu, dimana ia dan kaumnya kufur, syirik dan menyembah matahari, sesembahan selain Allah.

wa aslamtu ma’a Sulaimaana lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.”) yaitu mengikuti agama Sulaiman dalam beribadah hanya kepada Allah Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia yang menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukurannya.

Bersambung ke bagian 11

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 38-40 (9)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 38-40“38. berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. 39. berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. 40. berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (an-Naml: 38-40)

Muhammad bin Ishaq berkata, bahwasannya Yazid bin Ruman berkata, Ketika para utusan kembali kepada sang ratu dengan membawa pesan dari Sulaiman, ratu pun berkata: “Sungguh demi Allah, aku tahu dia bukanlah seorang raja dan kita tidak memiliki kemampuan serta tidak kuasa untuk menentangnya sedikitpun. Aku akan mengutus kepadanya untuk mengabarkan bahwa aku akan datang membawa raja-raja kaumku, untuk aku lihat apa perintahnya dan agama apa yang ia serukan kepada kami.”

Kemudian dia memerintahkan penjagaan singgasana kerjaan tempat duduknya, lalu dibuatlah 7 buah pertahanan yang saling menyambung dan dikuncinya pintu-pintu tersebut. Lalu ia berkata kepada para pengawal yang yang ditinggal di kerajaannya: “Jagalah apa yang sudah ada sebelummu dan singgasana kerajaanku. Jangan ada seorang hamba Allah yang mampu lolos menembusnya dan jangan pula ada seorang pun yang melihatnya sampai aku datang.”

Lalu sang ratu menuju kerajaan Sulaiman dengan didampingi 12.000 orang. Satu pendapat mengatakan bahwa para raja Yaman berada di bawah kekuasaannya. Pendapat lain mengatakan, lebih dari 12.000 orang, hingga Sulaiman mengutus jin untuk mengawasi mereka, baik di perjalanan maupun di tempat sampainya, sepanjang siang dan malam. Sehingga ketika rombongan itu sudah dekat, Sulaiman mengumpulkan bala tentaranya di kalangan jin dan manusia yang berada di bawah kekuasaannya. Lalu ia berkata: yaa ayyuHal mala-u ayyukum ya’tinii bi’arsyiHaa qabla ay ya’tuunii muslimiiin (“Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”)

Qaala ‘ifritum minal jinni (“Berkata ‘ifrit [yang cerdik] dari golongan jin”) Mujahid berkata, “Yaitu jin pembangkang.” Syu’aib al-Jubba-i berkata: “Namanya adalah Kuzan.” Demikian yang dikatakan oleh Muhammad bin Ishaq, dari Yazid bin Ruman dan dikatakan pula oleh Wahb bin Munabbih. Sedangkan Abu Shalih berkata, “Dia seakan-akan seperti gunung.”
Ana aatiika biHii qabla an taquuma mim maqaamik (“Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari maqammu.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu sebelum engkau berdiri dari majelismu.” Mujahid berkata, “Yaitu dari tempat dimana ia duduk untuk memberikan keputusan dan hukuman kepada manusia serta untuk makan dari pagi hingga tergelincir matahari.”

Wa innii ‘alaiHi laqawiyyun amiin (“Sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya dan dapat dipercaya.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu kuat untuk membawanya dan dapat dipercaya untuk menjaga perhiasan yang ada di dalamnya.” Lalu Sulaiman as. berkata, “Aku ingin yang lebih cepat dari itu.”
Dari sini tampak jelas bahwa Sulaiman ingin mendatangkan singgasana tersebut untuk menujukkan kebesaran kerajaan yang diberikan Allah kepadanya serta bala tentara yang dikuasainya, dimana hal tersebut belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumnya serta tidak ada sesudahnya.
Begitu pula hal tersebut menjadi hujjah kenabiannya di hadapan ratu Balqis dan rakyatnya. Karena hal ini merupakan peristiwa yang sangat besar dan luar biasa, dimana ia dapat membawa singgasana sang ratu sebelum mereka datang, padahal semuanya ditutup secara rapat dan terjaga. Ketika Sulaiman berkata, “Aku ingin yang lebih cepat daripada itu.” Qaalal ladzii ‘indaHuu ‘ilmum minal kitaabi (“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu Ashif, sekretaris Sulaiman.” Demikian yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq, dari Yazid bin Ruman bahwa laki-laki itu adalah Ashif bin Barkhiya. Dia adalah orang shiddiq [patuh beragama] yang mengetahui ismun A’zham.

Ana aatiika biHii qabla ay yartadda ilaika tharfuka (“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”) yaitu angkat pandanganmu dan lihatlah sepanjang kemampuan pandanganmu, karena engkau tidak akan melelahkan pandanganmu itu kecuali singgasana itu sudah hadir di hadapanmu. Wahb bin Munabbih berkata, “Tutuplah matamu, maka tidak mencapai sekejap pasti aku sudah membawanya kepadamu. Mereka menceritakan bahwa dia diperintahkan untuk memandang Yaman, tempat singgasana yang dicari itu berada, kemudian ia berdiri dan berwudlu’ serta berdoa kepada Allah Ta’ala.”

Muhahid berkata, “Dia berdoa: yaa dzal jalaali wal ikraam [wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan.].” az-Zuhri berkata: “Ia berdoa: yaa IlaHanaa wa ilaaHa kullu syai-in ilaaHaw waahidal laa ilaaHa illaa anta i’tunii bi’arsyiHaa (ya Ilah kami dan Ilah segala sesuatu, Ilah yang Esa, tidak ada Ilah kecuali Engkau, datangkanlah kepadaku singgasananya). Dia mencontohkannya di hadapannya.”

Mujahid, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ishaq, Zubair bin Muhammad dan selain mereka berkata: “Tatkala ia berdoa dan meminta kepada Allah untuk didatangkan singgasana Balqis yang berada di Yaman, sedangkan Sulaiman berada di Baitul Maqdis, tiba-tiba singgasana itu hilang menembus bumi, kemudian muncul di hadapan Sulaiman.”
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Sulaiman tidak merasakan sesuatu kecuali singgasana itu telah berada di hadapannya.” Dia berkata: “Ini dibawa oleh para hamba [Allah yang ada di] laut.” Ketika Sulaiman dan para pembesarnya menyaksikan hal itu serta melihatnya berada di sisinya, qaala Haadzaa min fadl-li rabbii (“Ia pun berkata, ‘ Ini termasuk karunia Rabb-ku.’”) yaitu ini adalah di antara nikmat-nikmat Allah kepadaku, liyabluwanii; yaitu untuk mengujiku, a asykuru am akfuru wa man syakara fa innamaa yasykuru linafsiHi (“apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk [kebaikan] dirinya sendiri.”

Perkataannya: wa man kafara fa inna rabbii ghaniyyun kariim (“dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya dan Mahamulia.”) yaitu Dia Mahakaya terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak membutuhkan peribadahan mereka. dia Mahakarim, yaitu Maha-mulia pada diri-Nya sendiri meskipun tidak ada satu pun yang beribadah kepada-Nya. Karena kebesaran-Nya tidak membutuhkan kepada seseorang pun.

Dalam shahih Muslim dijelaskan: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kamu, manusia maupun jin semuanya bertakwa kepada-Ku seperti orang yang paling bertakwa di antara kamu, maka hal tersebut tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kamu, manusia maupun jin berhati jahat seperti orang paling jahat di antara kamu, maka hal tersebut tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya semua itu adalah perbuatanmu, kemudian Aku akan membalasnya. Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah menyesali kecuali dirinya sendiri.”

Bersambung ke bagian 10