Arsip | 13.23

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 146-152 (19)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 146-152“146. Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman, 147. di dalam kebun-kebun serta mata air, 148. dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut. 149. dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin; 150. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; 151. dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, 152. yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak Mengadakan perbaikan”. (asy-Syu’araa’: 146-152)

Nabi Shalih memberi nasehat dan mengancam mereka dengan kemurkaan Allah akan menimpa mereka serta mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmat Allah atas mereka. untuk itu dia berkata: wa nakhlin thal’uHaa Ha-dliim (“Dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut.”) al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas, yang paling menarik dan indah itu adalah Ha-dliim. Abu Shakhr berkata: “Aku tidak melihat mayangnya ketika terbelah penutupnya, lalu engkau dapat melihat mayang itu saling menempel antara satu bagian dengan bagian lainnya, itulah al-Ha-dliim.”

Firman-Nya: wa tanhituuna minal jibaali buyuutan aaminiin (“Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.”) Ibnu ‘Abbas dan selainnya berkata: “Yaitu dengan cerdik.”
Di dalam suatu riwayat tentang pendapatnya, yaitu dengan antusias dan rajin. Itulah pilihan Mujahid dan jama’ah serta tidak saling bertentangan antara dua pendapat itu.

Untuk itu Allah berfirman: fattaqullaaHa wa athii’uun (“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”) yaitu terimalah apa yang manfaatnya dapat kembali kepada kalian di dunia dan akhirat dengan beribadah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan dan memberikan rizky kepada kalian agar kalian beribadah mengesakan dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.

Wa laa tuthii’uu amral musrifiin. Alladziina yufsiduuna fil ardli wa laa yushlihuun (“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”) yaitu para tokoh dan pembesar mereka yang mengajak mereka kepada kesyirikan, kekafiran dan menentang kebenaran.

Bersambung ke bagian 20

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 141-145 (18)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 141-145“141. kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. 142. ketika saudara mereka, shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? 143. Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, 144. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. 145. dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (asy-Syu’araa: 141-145)

Ini merupakan khabar dari Allah swt. tentang hamba dan Rasul-Nya yaitu Shalih as. yang diutus kepada kaumnya, Tsamud. Mereka adalah orang-orang desa yang tinggal di kota Hijr antara Wadi [sungai kering di padang pasir] Makkah dan negeri Syam. Tempat kediaman mereka itu cukup terkenal.
Telah dijelaskan di dalam surah al-A’raf tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai lewatnya Rasulullah saw. ke tempat tersebut ketika hendak perang Syam, sehingga sampai ke Tabuk, kemudian kembali ke Madinah untuk bersiap-siap.

Mereka ada setelah kaum ‘Aad dan sebelum al-Khalil Ibrahim as. Nabi Shalih as. mengajak mereka kepada Allah swt. hanya untuk beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya serta mentaati-Nya terhadap risalah yang telah disampaikan kepada mereka. akan tetapi mereka membangkang, mendustakan dan menyelisihinya. Lalu, Nabi Shalih as. mengabarkan kepada mereka bahwa dirinya tidak minta upah dari seruannya. Dia hanya mencari pahala dari Allah swt. Kemudian Nabiyullah mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmat Allah kepada mereka:

“146. Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman, 147. di dalam kebun-kebun serta mata air, 148. dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut. 149. dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin; 150. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; 151. dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, 152. yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak Mengadakan perbaikan”. (asy-Syu’araa’: 146-152)

Bersambung ke bagian 19

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 136-140 (17)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 136-140“136. mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi Kami, Apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, 137. (agama Kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.
138. dan Kami sekali-kali tidak akan di “azab”. 139. Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. 140. dan Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (asy-Syu’araa’: 136-140)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang jawaban kaum Nabi Huud kepadanya: qaaluu sawaa-un ‘alainaa awa ‘adhta am lam takum minal waa-‘idhiim (“Mereka menjawab: ‘Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memeri nasehat.’”) yaitu kami tidak akan menarik prinsip kami ini. Mereka berkata: in Haadzaa illaa khulqul awwaliin (“[Agama kami] ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang terdahulu.”) dengan fathah kha’ dan sukun lam.

Ibnu Mas’ud dan al-‘Aufi berkata dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Alqamah dan Mujahid, maksud mereka adalah apa yang engkau kabarkan kepada kami ini tidak lain kecuali hanya adat kebiasaan yang dulu, sebagaimana orang-orang musyrik Quraisy berkata: wa qaaluu asaathiirul awwaliinak tatabaHaa faHiya tumlaa ‘alaiHi bukrataw wa ashiilan (“Dan mereka berkata: ‘Dongengan orang-orang terdahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka bacakanlah dongengan itu kepadanya pada setiap pagi dan petang.’”) (al-Furqaan: 5)

Ulama lain membacanya: in Haadzaa illaa khuluqul awwaliin (“[Agama kami] ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang terdahulu.”) dengan dlamah kha’ dan lam. Yaitu agama yang mereka pegang dan urusan yang menjadi prinsip mereka adalah agama nenek moyang mereka dahulu. Kami hanya mengikutinya dan berjalan di belakangnya. Kami hidup sebagaimana mereka hidup, dan kami mati sebagaimana mereka mati, tidak ada kebangkitan dan tidak ada tempat kembali. untuk itu mereka berkata: wa maa nahnu bimu’adzdzabiin (“Dan kami sekali-sekali tidak akan diadzab.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas, in Haadzaa illaa khuluqul awwaliin (“[Agama kami] ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang terdahulu.”) ia berkata: “Agama orang-orang terdahulu.” Dan inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah: fakadzdzabuuHu fa aHlaknaaHum (“Maka mereka mendustakan Huud, lalu Kami binasakan mereka.”) yaitu mereka tetap konsisten mendustakan Nabiyullah Huud as., menentang dan membangkang kepadanya, lalu Allah membinasakan mereka. Dia telah menjelaskan pembinasaan mereka dalam beberapa tempat di dalam al-Qur’an. Yaitu, Dia mengirim kepada mereka angin sharshaarin ‘aathiyah, yaitu angin yang sangat kencang lagi sangat dingin. Maka, sebab pembinasaan mereka sejenis dengan mereka. sebagaimana mereka sangat membangkang dan sangat keras, maka demikianlah pula Allah berikan kepada mereka sesuatu yang amat dahsyat dan amat kuat. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Adapun kaum ‘Aad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi Amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu Lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (al-Haaqqah: 6-7)

Yaitu mereka hanya tinggal badan tanpa kepala seakan-akan mereka seperti batang kurma yang lebar. Mereka membentengi diri di gunung-gunung, goa-goa dan lubang-lubang. Mereka menggali tanah sedalam leher-leher mereka. akan tetapi semua itu tidak dapat menghindarkan mereka dari adzab Allah sedikitpun. Untuk itu Allah berfirman: fakadzdzabuuHu fa aHlaknaaHum (“Maka mereka mendustakan Huud, lalu Kami binasakan mereka.”)

Bersambung ke bagian 18

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 123-135 (16)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 123-135“123. kaum ‘Aad telah mendustakan Para rasul. 124. ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? 125. Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, 126. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. 127. dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. 128. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah Tinggi bangunan untuk bermain-main, 129. dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? 130. dan apabila kamu menyiksa, Maka kamu menyiksa sebagai orang- orang kejam dan bengis. 131. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. 132. dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. 133. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, 134. dan kebun-kebun dan mata air, 135. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (asy-Syu’araa’: 123-135)

Ini merupakan kabar dari Allah tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Huud as. yang menyeru kaum ‘Aad. Dahulu kaumnya tinggal di Ahqaaf, yaitu sebuah gunung pasir yang berdekatan dengan Hadhramaut yang bersatu dengan negeri Yaman. Zaman mereka berada setelah kaum Nuh, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Wadzkuruu idz ja’alakum khulafaa-a mim ba’di qaumi nuuhiw wa zaadaHum fii khalqi bash-thatan (“Dan ingatlah olehmu sekalian di waktu Allah menjadikanmu sebagai pengganti-pengganti [yang berkuasa] sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu [daripada kaum Nuh itu].”)(al-A’raaf: 69)

Hal itu dikarenakan mereka berada dalam kondisi yang amat kokoh bentuk tubuhnya, kekuatannya, taman-tamannya, kehebatannya, leluasanya, kemakmuran rizkinya, harta-hartanya, taman-taman, sungai-sungai, anak-anaknya, taman-tamannya dan buah-buahannya. Akan tetapi di lain sisi mereka beribadah kepada selain Allah. Lalu Allah mengutus Huud as. kepada mereka sebagai seorang laki-laki dari kalangan mereka, seorang Rasul yang membawa kabar gembira dan ancaman. Dia menyeru mereka kepada Allah Yang Esa serta mengancam mereka dengan kemurkaan dan adzab-Nya ketika mereka menentang dan memeranginya.

Nuh as. berkata kepada mereka: atabnuuna bikulli riihin aayatan ta’batsuun (“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi sebuah bangunan untuk bermain-main?”) ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna “ar-rii” yang kesimpulannya adalah tempat yang tinggi di samping jalan-jalan yang indah lagi terkenal. Di situ dibangun gedung-gedung mewah, indah dan menawan. Yaitu kalian melakukan hal itu hanya untuk main-main, bukan karena membutuhkannya, sekedar untuk permainan, kesenangan dan menunjukkan kekuatan. Nabi Huud mengingatkan akan hal itu, karena hanya akan menghabiskan waktu dan melelahkan badan tanpa memiliki manfaat dan produktifitas, yang tidak berguna di dunia dan di akhirat.

Wa tat-takhidzuuna mashaani’a la’allakum takhluduun (“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal [di dunia]?”) Mujahid berkata: “Al-Mashaani; yaitu benteng-benteng yang kokoh dan bangunan-bangunan yang besar.” Di dalam satu riwayat darinya, yaitu benteng-benteng pemandian. Qatadah berkata: “Yaitu tempat mengambil air.”

Dalam qiraat yang masyhur: Wa tat-takhidzuuna mashaani’a la’allakum takhluduun (“Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal [di dunia]?”) yaitu agar kalian tinggal di dalamnya selama-lamanya. Hal itu tidak akan tercapai bagi kalian, bahkan semuanya akan lenyap dari kalian sebagaimana lenyapnya orang-orang yang ada sebelum kalian.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Abud Darda’ ra. ketika melihat apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin di Ghuthah dalam pembangunan dan penancapan pohon-pohon, dia berdiri dalam masjid dan menyeru: “Hai penduduk Damaskus, berhimpunlah kalian menuju masjid!” lalu dia memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian berkata: “Apakah kalian tidak merasa malu, apakah kalian tidak merasa malu. Kalian menghimpun apa yang kalian tidak makan. Kalian membangun sesuatu yang tidak kalian tempati dan kalian mengharapkan apa yang kalian tidak dapatkan. Sesungguhnya telah ada sebelum kalian beberapa generasi yang menghimpun, lalu mereka menjaganya. Mereka membangun, lalu mereka memperkuatnya. Mereka berangan-angan dengan angan-angan yang terlalu jauh. Maka jadilah angan-angan mereka itu sebuah tipuan, pengumpulan mereka menjadi sia-sia dan tempat-tempat tinggal mereka hanya menjadi kuburan. Ketahuilah, bahwa kaum ‘Aad telah memiliki kuda dan kendaraan sepanjang ‘Adn dan Oman. Siapakah yang mau membeli dariku warisan ‘Aad dengan dua dirham?”

Firman Allah: wa idzaa bathasytum bathasytum jabbaariin (“Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam dan bengis.”) yaitu mereka disifatkan dengan kekuatan, kekasaran dan kesombongan. Fat taqullaaHa wa athii’uun (“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”) yaitu beribadahlah kepada Rabb kalian dan taatlah kepada Rasul kalian.

Kemudian Huud as. mengingatkan mereka tentang nikmat-nikmat Allah kepada mereka dengan perkataannya: wat-taqulladzii amaddakum bimaa ta’maluun. Amaddakum bi-an’aamiw wa baniin. Wa jannaatiw wa ‘uyuunin innii akhaafu ‘alaikum ‘adzaaba yaumin ‘adhiim (“dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.”) jika kalian mendustakan dan menentang.

Lalu Nabi Huud as. menyerukan mereka ke jalan Allah dengan memberi kabar gembira dan ancaman, namun hal itu tidak bermanfaat bagi mereka.

Bersambung ke bagian 17

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 116-122 (15)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 116-122“116. mereka berkata: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan Termasuk orang-orang yang dirajam”. 117. Nuh berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; 118. Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku”. 119. Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. 120. kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.
121. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. 122. dan Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (asy-Syu’araa: 116-122)

Tatkala bermukimnya Nabiyullah telah berlangsung lama di antara mereka dengan menyeru kepada Allah siang dan malam, secara rahasia maupun terang-terangan, dan setiap kali dakwah itu diulang-ulang, setiap kali itu pula mereka buta terhadap kebenaran dengan tetap di atas kekafiran yang kuat dan penolakan yang kokoh, pada akhirnya mereka berkata:

La-il lam tantaHi yaa nuuhu latakuunanna minal marjuumiiin (“Sungguh jika kamu tidak [mau] berhenti wahai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.”) yakni jika kamu tidak berhenti dari seruanmu kepada kami untuk memeluk agamamu, niscaya kami akan merajam-mu. Di saat itulah Nuh as. memohon kepada Allah dengan suatu permohonan yang diperkenankan oleh Allah. Dia berkata: Rabbi inna qaumii kadzdzabuun. Faftah bainii wa bainaHum fathan (“Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang Mukmin bersertaku.”) di dalam ayat ini Dia berfirman:

Fa anjainaaHu wa mam ma’aHuu fil fulkil masy-huun. Tsumma aghraqnaa ba’dul baaqiin (“Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.”) al-masyhuun; yaitu dipenuhi barang-barang dan pasangan-pasangan yang masing-masing membawa pasangannya. Yaitu, Kami selamatkan Nuh dan seluruh orang yang mengikutinya, serta Kami tenggelamkan seluruh orang kafir kepadanya dan yang membangkang terhadap perintah Nuh as.

Inna fii dzaalika la aayataw wa maa aktsaruHum mu’miniin. Wa inna rabbaka laHuwal ‘aziizur rahiim (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda [kekuasaan Allah], tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabb-mu Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang.”)

Bersambung ke bagian 16

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 111-115 (14)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 111-115“111. mereka berkata: “Apakah Kami akan beriman kepadamu, Padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?”. 112. Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? 113. perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. 114. dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. 115. aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan”. (asy-Syu’araa’: 111-115)

Mereka berkata: “Kami tidak akan beriman dan tidak akan mengikutimu. Kami tidak akan mencontoh hal itu dengan orang-orang rendah yang mengikuti dan membenarkanmu. Karena itu mereka adalah orang-orang yang rendah di antara kami.” Untuk itu:
Qaaluu anu’minu laka wat taba’akal ardzaluun, qaala wa maa ‘ilmii bimaa kaanuu ya’maluun (“Mereka berkata: ‘Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu ialah orang-orang yang hina?’ Nuh menjawab: ‘Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan?’”) yaitu apa yang mengharuskanku mengikuti mereka? sekalipun mereka berada pada prinsip yang mereka pegang, tidak ada yang mengharuskanku meneliti, membahas dan memeriksanya. Kewajibanku hanyalah menerima pembenaran mereka tentang aku. Sedangkan rahasia-rahasia mereka, aku serahkan kepada Allah swt.

In hisaabuHum illaa ‘alaa rabbii lau tasy’uruun. Wamaa ana bithaaridil mu’miniin (“Perhitungan [amal perbuatan] mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.”) seakan-akan mereka meminta kepadanya untuk menjauhkan mereka dari dirinya dan agar mereka mau mengikutinya. Akan tetapi Nuh as. menolak yang demikian itu.
Wa maa ana bithaaridil mu’miniin. In ana illaa nadziirum mubiin (“Dan aku sekali-sekali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku [ini] tidak lain hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.”) yakni aku hanya diutus sebagai pemberi ancaman. Barangsiapa yang mentaati, mengikuti dan membenarkanku niscaya dia akan ada bersamaku. Dan aku sama dengannya, baik ia orang mulia maupun rakyat jelata, baik ia orang terhormat maupun orang biasa.

Bersambung ke bagian 15

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 105-110 (13)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 105-110“105. kaum Nuh telah mendustakan Para rasul. 106. ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? 107. Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, 108. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. 109. dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. 110. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku”. (asy-Syu’araa’: 105-110)

Ini merupakan berita dari Allah swt. tentang hamba dan Rasul-Nya yaitu nabi Nuh as. yang merupakan Rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada penghuni bumi setelah terjadinya penyembahan berhala dan tandingan-tandingan. Lalu Allah mengutusnya guna melarang hal tersebut dan mengancam mereka dari bahaya siksaan-Nya.

Firman Allah: kadzdzabat qaumu nuuhil mursaliin. Idz qaala laHum akhuuHum nuuhun alaa tattaquun (“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul. Ketika saudara mereka [Nuh] berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’”) yakni apakah kalian tidak takut kepada Allah karena penyembahan kalian kepada selain-Nya? iinii lakum rasuulun amiin (“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan [yang diutus] kepadamu.’”) yakni, aku adalah utusan yang jujur dari Allah kepada kalian yang menjadi penjaga terhadap risalah yang diutuskan kepadaku untuk aku sampaikan risalah-risalah Rabb-ku itu, tidak aku lebihkan dan tidak aku kurangi.

fattaqullaaHa wa athii’uun. Wa maa as-alukum ‘alaiHi ajran (“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-sekali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu.”) yakni aku tidak meminta upah kepada kalian atas nasehatku kepada kalian, bahkan aku menyimpan pahala itu di sisi Allah.
fattaqullaaHa wa athii’uun (“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”) telah jelas bagi kalian dan telah nyata kejujuran, nasehat dan amanahku terhadap risalah yang diutuskan dan diamanahkan kepadaku.

Bersambung ke bagian 14

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 90-104 (12)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 90-104“90. dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, 91. dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang- orang yang sesat”, 92. dan dikatakan kepada mereka: “Dimanakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) 93. selain dari Allah? dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” 94. Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, 95. dan bala tentara iblis semuanya. 96. mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: 97. “Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, 98. karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”. 99. dan Tiadalah yang menyesatkan Kami kecuali orang-orang yang berdosa. 100. Maka Kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun, 101. dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, 102. Maka Sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya Kami menjadi orang-orang yang beriman”. 103. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. 104. dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (asy-Syu’araa’: 90-104)

Wa uzlifatil jannatu (“Dan [di hari itu] didekatkan surga.”) yaitu didekatkan sedekat-dekatnya kepada penghuninya, penuh dengan kemegahan dan hiasan bagi yang memandangnya, yakni mereka orang-orang yang bertakwa yang amat menyukainya dan beramal di dunia untuk mencapainya.

Wa burrizatil jahiimu lilghaawiin (“dan diperlihatkan dengan jelas neraka jahim kepada orang-orang yang sesat.”) neraka jahim itu disingkapkan dan ditampakkan baginya lalu bergemuruhlah suara mendidihnya yang sampi ke dalam hati. Dan dikatakan kepada penghuninya dengan penuh celaan dan hinaan.

Aina maa kuntum ta’buduuna min duunillaaHi Hal yanshuruunakum au yantashiruun (“Dimanakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah[nya] selain Allah? Dapatkah mereka menolongmu atau menolong diri mereka sendiri?”) yakni ilah-ilah yang telah kalian sembah selain Allah yang berupa berhala dan tandingan-tandingan lain pada hari ini tidak dapat berbuat apa-apa serta tidak mampu membela kalian. Karena, kalian dan dia pada hari itu menjadi bahan bakar Jahanam yang akan kalian masuki.

Firman-Nya: fa kubkibuu fiiHaa wal ghaawuun (“Maka mereka [sembahan-sembahan] dijungkirkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat.”)
Mujahid berkata: “Mereka dijungkirkan ke dalamnya.” Ulama lain berkata: “Mereka dijerumuskan ke dalamnya.” Makna yang dimaksud bahwa Dia akan melemparkan sebagian orang kafir kepada orang kafir lain serta para pemimpin yang menyeru mereka kepada kesyirikan.

Wa junuudu ibliisa ajma’uun (“Dan bala tentara iblis semuanya”) yaitu mereka seluruhnya dijerumuskan ke dalamnya.
Qaaluu waHum fiiHaa yakhtashimuun. tallaaHi in kunnaa lafii dlalaamim mubiin. Idz tusawwiyakum birabbil ‘aalamiin (“Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: ‘Demi Allah, sungguh kita dahulu [di dunia] dalam kesesatan yang nyata, karena kita menyamakanmu dengan Rabb semesta alam.’”) yakni orang-orang lemah berkata kepada para pembesar mereka: “Sesungguhnya dahulu kami adalah pengikut kalian. Maka apakah kalian tidak dapat membela kami dari siksa neraka.” mereka mengatakan dengan penuh penyesalan terhadap diri-diri mereka sendiri: tallaaHi in kunnaa lafii dlalaamim mubiin. Idz tusawwiyakum birabbil ‘aalamiin (“‘Demi Allah, sungguh kita dahulu [di dunia] dalam kesesatan yang nyata, karena kita menyamakanmu dengan Rabb semesta alam.’”) yaitu kami menjadikan orang yang taat kepada perintah kalian sebagaimana mentaati perintah Rabb semesta alam, serta kami abdi kalian bersama Allah, Rabb semesta alam.

Wa maa adlal-lanaa illal mujrimuun (“Dan tidaklah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa.”) yaitu tidak ada yang mengajak kami kepada hal itu kecuali orang-orang yang durhaka. Fa maa lanaa min syaafi’iin (“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun”) sebagian mereka berkata, yaitu Malaikat, sebagaimana mereka berkata: “Maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafaat kepada kami, atau dapatkah kami dikembalikan [ke dunia], sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” (al-A’raaf: 53)

Demikianlah mereka berkata: Fa maa lanaa min syaafi’iin. Wa laa shadiiqin hamiim (“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun. Dan tidak pula mempunyai teman yang akrab.”) yaitu kawan yang dekat. Qatadah berkata: “Mereka mengetahui, demi Allah, bahwa seorang teman akan bermanfaat jika ia seorang yang shalih. Sesungguhnya orang yang akrab jika ia shalih, maka ia akan memberikan syafaat.”

Falau anna lanaa karratan fanakuuna minal mu’miniin (“Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi [ke dunia], niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.”) hal itu karena mereka berharap dikembaliken ke dunia agar mereka mengerjakan ketaatan kepada Rabb mereka seperti yang mereka perkirakan. Sedangkan Allah Ta’ala Mahamengetahui bahwa seandainya mereka dikembalikan ke dunia, niscaya mereka akan kembali melaksanakan apa yang dilarang dan mereka adalah orang-orang yang pendusta.

Kemudian firman Allah: inna fii dzaalika la aayataw wa maa kaana aktsaruHum mu’miniin (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah], tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”) yakni dalam perdebatan Ibrahim terhadap kaumnya dan disampaikannya hujjah kepada mereka tentang tauhid merupakan ayat yang menunjukkan secara jelas dan pasti bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi secara benar selain Allah. wa maa kaana aktsaruHum mu’miniin. Wa inna rabbaka laHuwal ‘aziizur rahiim (“tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang.”)

Bersambung ke bagian 13

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 83-89 (11)

2 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 83-89“83. (Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, 84. dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) Kemudian, 85. dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, 86. dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat, 87. dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, 88. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, 89. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (asy-Syu’araa’: 83-89)

Ini merupakan permintaan Ibrahim as. agar Rabb-nya memberikan hikmah. Ibnu ‘Abbas berkata: “[Hikmah] yaitu ilmu.”
As-Suddi berkata: “[Hikmah] yaitu kenabian.”
Wa alhiqnii bish-shaalihiin (“dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih.”) yaitu jadikanlah aku bersama golongan orang-orang yang shalih di dunia dan di akhirat, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda di saat sakaratul maut: “Ya Allah jadikanlah aku beserta-Mu teman [Rabb] Yang Mahatinggi.” Beliau mengucapkan sebanyak tiga kali. (Muttafaq ‘alaiHi)

Firman-Nya tentang doa Ibrahim: waj’allii lisaana shidqin fil aakhiriin (“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang [yang datang] kemudian.”) yakni jadikanlah untukku sebutan yang indah setelahku sebagai kenangan bagiku dan tauladan dariku dalam kebaikan.
Mujahid dan Qatadah berkata: waj’allii lisaana shidqin fil aakhiriin (“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang [yang datang] kemudian.”) yakni pujian yang baik.

Mujahid berkata seperti firman-Nya: “Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia.” (an-Nahl: 122).
Al-Laits bin Abu Sulaim berkata: “Lisaana shidqin yaitu millah yang dicintai dan diikuti, demikian komentar ‘Ikrimah.”

Firman Allah Ta’ala: waj’alnii miw waratsati jannatan na’iim (“Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga dan kenikmatan.”) yakni berikanlah nikmat kepadaku di dunia dengan kekalnya sebutan indah diriku sepeninggalanku. Dan di akhirat Engkau jadikan aku termasuk pewaris Jannah yang penuh kenikmatan.

Waghfirli abii (“dan ampunilah bapakku.”) seperti firman-Nya: rabbanaghfirlii wa liwaalidayya (“Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku.”) (Ibrahim: 41). Ini adalah hal yang telah diralat oleh Ibrahim as. sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.” (at-Taubah: 114)

Sesungguhnya Allah telah menghalangi sampainya permohonan ampunan Ibrahim as. untuk ayahnya. Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” (Mumtahanah: 4)

Wa laa tukhzinii yauma yub’atsuun (“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”) yaitu peliharalah aku dari kehinaan di hari kiamat dan di hari seluruh makhluk dibangkitkan dari awal hingga akhir.

Al-Bukhari berkata pada ayat ini: Ibrahim bin Thuhman berkata dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat Ibrahim melihat ayahnya dalam keadaan tertutup debu dan debu.”

Di dalam riwayat lain dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Pada hari kiamat Ibrahim berjumpa ayahnya dan berkata: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakanku pada hari berbangkit.’ Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengharamkan jannah bagi orang-orang kafir.’”

Firman Allah: yauma laa yanfa’u maaluw wa laa banuun (“[yaitu] di hari harta dan anak-anak lelaki tidak berguna.”) yakni harta seseorang tidak dapat menjaga dirinya dari adzab Allah, sekalipun dia menebusnya dengan emas sepenuh bumi. Wa laa banuun (“tidak pula anak-anak”) yakni sekalipun ia menebusnya dengan seluruh penghuni bumi. Saat itu tidak ada yang bermanfaat kecuali beriman kepada Allah, memurnikan ketundukan kepada-Nya dan membebaskan diri dari perilaku syirik dan para penganutnya.

Untuk itu Dia berfirman: illaa man atallaaHi biqalbin saliim (“Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”) yaitu selamat dari kotoran dan syirik.

Ibnu Sirin berkata: “Qalbun salim; yaitu ia mengetahui bahwa Allah swt. adalah haq dan sesungguhnya hari kiamat tidak ragu lagi pasti akan tiba, serta Allah akan membangkitkan para penghuni kubur.”

Bersambung ke bagian 12