Arsip | 12.51

Munculnya Pemukiman-Pemukiman Muslim di Kota-kota Pesisir

5 Mei

Sejarah Peradaban Islam;
DR.Badri Yatim, M.A.

Menjelang abad ke 13 M, di pesisir Aceh sudah ada pemukiman muslim. Persentuhan antara penduduk pribumi dengan pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan India memang terjadi di daerah ini. Karena itu diperkirakan, proses Islamisasi sudah berlangsung sejak persentuhan itu terjadi. Dengan demikian dapat dipahami mengapa kerajaan Islam pertama di kepulauan Nusantara ini berdiri di Aceh, yaitu kerajaan Samudera Pasai yang didirikan pada pertengahan abad ke 13 M.

Setelah kerajaan Islam ini berdiri, perkembangan masyarakat Muslim di Malaka makin lama makin meluas dan pada awal abad ke 15 M di daerah ini lahi kerajaan Islam, yang merupakan kerajaan Islam kedua di Asia Tenggara. Kerajaan ini cepat berkembang bahkan dapat mengambil alih dominasi pelayaran dan perdagangan dari kerajaan Samudera Pasai yang kalah bersaing. Lajunya perkembangan masyarakat muslim ini berkaitan erat dengan keruntuhan Majapahit.

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511 M) mata rantai pelayaran beralih ke Aceh, kerajaan Islam yang melanjutkan kejayaan Samudera Pasai. Dari sini, proses Islamisasi di kepulauan Nusantara berlangsung cepat dari sebelumnya. Untuk menghindari Portugis yang menguasai Malaka, untuk sementara waktu kapal-kapal memilih berlayar menyusuri pantai Barat Sumatera. Aceh kemudian berusaha melebarkan kekuasaannya ke selatan sampai ke Pariaman dan Tiku. Dari pantai Sumatera, kapal-kapal memasuki Selat sunda menuju pelabuhan-pelabuhan di pantai Utara Jawa.

Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1515), dalam Suma Oriental-nya, dapat diketahui bahwa daerah-daerah di bagian pesisir Sumatera Utara dan timur Selat Malaka, yaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam. Akan tetapi menurut berita itu, daerah-daerah yang belum masuk Islam juga masih banyak, yaitu Palembang dan daerah-daerah pedalaman Aceh, Sumatera Barat, terutama sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad ke 16 dan 17 M.

Sementara itu, di Jawa, proses islamisasi sudah berlangsung, sejak abad ke 11 M, meskipun belum meluas; terbukti dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun di Leren Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M). Berita tentang Islam di Jawa pada abad 11 dan 12 M memang masih langka. Akan tetapi sejak akhir abad ke 13 M dan abad-abad berikutnya, terutama ketika majapahit mencapai puncak kebesarannya, bukti-bukti adanya proses Islamisasi sudah banyak, dengan ditemukannya beberapa puluh nisan kubur di Troloyo, Trowulan, dan Gresik. Bahkan, menurut berita Ma-huan tahun 1416 M, di pusat Majapahit maupun di pesisir, terutama di kota-kota pelabuhan, telah terjadi proses Islamisasi dan sudah pula terbentuk masyarakat Muslim.

Pertumbuhan masyarakat muslim di sekitar Majapahit dan terutama di beberapa kota pelabuhan di Jawa erat hubungannya dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan orang-orang Islam yang telah mempunyai kekuasaan ekonomi dan politik di Samudera Pasai, Malaka, dan Aceh.

Tome Pires juga menyebutkan bahwa di Jawa sudah ada kerajaan yang bercorak Islam, yaitu Demak, dan kerajaan-kerajaan di daerah pesisir utara Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, di samping masih ada kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu.

Melihat makam-makam Muslim yang terdapat di situs-situs Majapahit, diketahui bahwa Islam telah hadir di ibu kota Majapahit sejak kerajaan itu mencapai puncaknya. Meskipun demikian lazim dianggap bahwa Islam di Jawa pada mulanya menyebar selama periode merosotnya kerajaan Hindu-Budhis. Islam menyebar ke pesisir pulau Jawa melalui hubungan perdagangan, kemudian dari pesisir ini, agak belakangan menyebar ke pedalaman pulau itu. Tome Pires memberi gambaran tentang bagaimana wilayah-wilayah pesisir Jawa berada di bawah pengaruh muslim:

“Pada waktu terdapat banyak orang kafir di sepanjang pesisir Jawa, banyak pedagang yang biasa datang: orang Persia, Arab, Gujarat, Bengali, Melayu, dan bangsa-bangsa lain. Mereka mulai berdagang di negeri itu dan berkembang menjadi kaya. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mullah-mullah datang dari luar. Oleh karena itu, mereka datang dalam jumlah yang terus meningkat. Anak-anak orang kaya Muslim sudah menjadi orang Jawa yang kaya, karena mereka telah menetap di daerah ini sekitar 70 tahun. Di beberapa tempat, raja-raja Jawa yang kafir menjadi Muslim, sementara para mullah dan para pedagang Muslim mendapat posisi disana. Yang lain mengambil jalan membangun benteng di sekitar tempat-tempat tinggal mereka dan mengambil masyarakat pribuminya, yang berlayar di kapal-kapal mereka.”

Perkembangan Islam di pulau Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi raja Majapahit. Hal ini memberi peluang kepada raja-raja Islam pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah bimbingan spiritual Sunan Kudus, meskipun bukan yang tertua dari Wali Songo, Demak akhirnya berhasil menggantikan Majapahit sebagai kraton pusat.

Pengaruh Islam masuk ke Indonesia bagian timur, khususnya daerah maluku, tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang pada pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke 14 M, Islam datang ke daerah Maluku. Raja Ternate yang keduabelas, Molomatea (1350-1357 M) bersahabat karib dengan seorang Arab yang memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal-kapal, tapi agaknya bukan dalam hal kepercayaan. Hal ini menunjukkan bahwa Ternate sudah ada masyarakat Islam sebelum rajanya masuk Islam. Demikian juga Banda, Hitu, Makyan, dan Bacan. Menurut Tome Pires, orang masuk Islam di Maluku kira-kira tahun 1460-1465 M. Hal ini sejalan dengan berita Antonio Galvao.

Orang-orang Islam datang ke Maluku tidak menghadapi kerajaan-kerajaan yang sedang mengalami perpecahan sebagaimana halnya di Jawa. Mereka datang dan menyebarkan agama Islam melalui perdagangan, dakwah dan perkawinan.

Kalimantan timur pertama kali diislamkan oleh Datuk Ri Bandang dan Tunggang Parangan. Kedua mubaligh ini datang ke Kutai dan daerah sekitarnya diperkirakan terjadi sekitar tahun 1575.

Sulawesi, terutama bagian selatan, sejak abad ke 15 M sudah didatangi oleh pedagang-pedagang Muslim, mungkin dari Malaka, Jawa dan Sumatera. Pada awal abad ke 16 M, di Sulawesi banyak sekali kerajaan yang masih beragama berhala. Akan tetapi, pada abad ke 16 di daerah Gowa, sebuah kerajaan terkenal di daerah itu, telah terdapat masyarakat muslim. Di Gowa dan Tallo raja-rajanya masuk Islam secara resmi pada tanggal 22 September 1605 M.

Proses Islamisasi pada taraf pertama di kerajaan Gowa dilakukan dengan cara damai, oleh Dato’ Ri Bandang dan Dato’ Sulaeman, keduanya memberikan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat dan raja. Setelah resmi memeluk agama Islam, Gowa mengislamkan Soppeng, Wajo (10 Mei 1610), dan Bone (23 November 1611 M)

&

Kondisi dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan di Indonesia

5 Mei

Sejarah Peradaban Islam;
DR.Badri Yatim, M.A.

Cikal bakal kekuasaan Islam telah dirintis pada periode abad 1-5 H/7-8 M, tetapi semuanya tenggelam dalam hegemoni maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan kerajaan Hindu-Jawa seperti Singasari dan Majapahit di Jawa Timur. Pada periode ini pada pedagang dan Mubaligh Muslim membentuk komunitas-komunitas Islam. Mereka memperkenalkan Islam yang mengajarkan toleransi dan persamaan derajat di antara sesama, sementara ajaran Hindu-Jawa menekankan perbedaan derajat manusia. Ajaran Islam ini sangat menarik perhatian penduduk setempat. Karena itu, Islam tersebar di kepulauan Indonesia terhitung cepat, meski dengan damai.

Masuknya Islam di daerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan. Di samping itu, keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah ketika didatangi Islam juga berlainan. Pada abad ke 7-10 M, kerajaan Sriwijaya meluaskan kekuasaannya ke daerah semenanjung Malaka sampai Kedah. Hal ini erat hubungannya dengan usaha penguasaan Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran ke daerah itu sama sekali belum memperlihatkan dampak-dampak politik, karena mereka datang memang hanya untuk pelayaran dan perdagangan.

Keterlibatan orang-orang Islam dalam politik baru terlihat pada abad 9 M, ketika mereka terlibat dalam pemberontakan petani-petani Cina terhadap kekuasaan T’ang pada masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889 M). Akibat pemberontakan itu, kaum Muslimin banyak yang dibunuh. Sebagian lainnya lari ke Kedah, wilayah yang masuk kekuasaan Sriwijaya, bahkan ada yang di Palembang dan membuat perkampungan Muslim di sini (:Uka Tjandrasasmita, Sejarah Nasional Indonesia III [Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984 hal. 2). Kerajaan Sriwijaya pada waktu itu memang melindungi orang-orang Muslim di wilayah kekuasannya.

Kemajuan politik dan ekonomi Sriwijaya berlangsung sampai abad 12 M. Pada akhir abad ke 12 M, kerajaan ini mulai memasuki masa kemundurannya. Untuk mempertahankan posisi ekonominya, kerajaan Sriwijaya membuat peraturan cukai yang lebih berat bagi kapal-kapal dagang yang singgah ke pelabuhan-pelabuhannya. Akan tetapi usaha ini tidak mendatangkan keuntungan bagi kerajaan, bahkan sebaliknya karena kapal-kapal dagang asing seringkali menyingkir. Kemunnduran ekonomi ini membawa dampak terhadap perkembangan politik.

Kemunduran politik dan ekonomi Sriwijaya dipercepat oleh usaha-usaha kerjaan Singosari yang sedang bangkit di Jawa. Kerjaan Jawa ini melakukan ekspansi Pamalayu tahun 1275 M dan berhasil mengalahkan kerajaan Melayu di Sumatera. Keadaan ini mendorong daerah-daerah di Selat Malaka yang dikuasai kerajaan-kerajaan Sriwijaya melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan tersebut.

Kelemahan Sriwijaya dimanfaatkan pula oleh pedagang-pedagang Muslim untuk mendapatkan keuntungan di bidang politik dan pedagangan. Mereka mendukung daerah-daerah yang muncul dan daerah yang menyatakan diri sebagai daerah yang bercorak Islam, yaitu kerjaan Samudera Pasai di pesisir Timur Laut Aceh. Daerah ini sudah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke 7 dan ke 8 M. Proses Islamisasi tentu berjala di sana sejak abad tersebut. Kerajaan Samudera Pasai dengan segera berkembang baik dalam bidang politik maupun perdagangan.

Karena kekacauan-kekacauan dalam negeri sendiri akibat perebutan kekuasaan di istana, Kerajaan Singasari, juga pelanjutnya: Majapahit, tidak mampu mengontrol daerah Melayu dan Selat Malaka dengan baik, sehingga kerajaan Samudera Pasai dan Malaka dapat berkembang dan mencapai puncak kekuasaannya hingga abad ke 16 M.

Di kerajaan Majapahit, ketika Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada masih berkuasa, situasi politik pusat kerajaan memang tenang, sehingga banyak daerah di kepulauan Nusantara mengakui berada di bawah perlindungannya. Tetapi sejak Gajah Mada meninggal dunia (1364 M) dan disusul Hayam Wuruk (1389 M), situasi Majapahit kembali mengalami kegoncangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawhardana dan Bhre Wirabumi berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Setelah Bhre Wirabumi meninggal, perebutan kekuasaan di kalangan istana kembali muncul dan berlarut-larut.

Pada tahun 1468 M Majapahit diserang Girindrawardhana dari Kediri. Sejak itu, kebesaran Majapahit dapat dikatakan sudah habis. Tom Pires (1512-1515 M), dalam tulisannya “Suma Oriental”, tidak lagi menyebut-nyebut nama Majapahit. Kelemahan-kelemahan yang semakin lama semakin memuncak akhirnya menyebabkan keruntuhannya.

&

Kedatangan Islam di Indonesia

5 Mei

Sejarah Peradaban Islam;
DR.Badri Yatim, M.A.

Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad Masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. (Lihat: Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta, Balai Pustaka, 1984 hal.2)

Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual di sana menarik bagi para pedagang dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual ke pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera dan Jawa antara abad ke 1 dan ke 7 M sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri [Aceh], Barus dan Palembang di Sumatera, (Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa).

Pedagang-pedagang Muslimm asal Arab, Persia, dan India juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke 7 (abad 1 H), ketika Islam pertama kali berkembang di Timur Tengah. Malaka, jauh sebelum ditaklukkan Portugis (1511), merupakan pusat utama lalu lintas pedagangan dan pelayaran. Melalui Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibawa ke Cina dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka pada waktu itu. Dengan demikian, Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting.

Lebih ke barat dari Gujarat, perjalanan laut melintasi Laut Arab. Dari sana perjalanan bercabang dua. Jalan pertama di sebelah utara menuju teluk Oman, melalui Selat Ormuz, ke Teluk Persia. Jalan kedua melalui Teluk Aden dan Laut Merah, dan dari kota Suez jalan perdagangan harus melalui daratan ke Kairo dan Iskandaria. Melalui jalan pelayaran tersebut, kapal-kapal Arab, Persia, dan India mondar-mandir dari Barat ke Timur dan terus ke negeri Cina dengan menggunakan angin musim untuk pelayaran pulang perginya.

Ada indikasi bahwa kapal-kapal Cina pun mengikuti jalan tersebut sesudah abad ke 9 M, tetapi tidak lama kemudian kapal-kapal tersebut hanya sampai di pantai barat India, karena barang-barang yang diperlukan sudah dapat dibeli disini. Kapal-kapal Indonesia juga mengambil bagian dalam perjalanan niaga tersebut. Pada zaman Sriwijaya, pedagang-pedagang Nusantara mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai Timur Afrika.

Menurut J.C. van Leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di tepi barat laut Sumatera, yaitu di Barus, daerah penghasil kapur barus terkenal. Dari berita Cina bisa diketahui bahwa di masa dinasti Tang (abad 9-10) orang-orang Ta-Shih sudah ada di Kanton (Kan-fu) dan Sumatera. Ta-Shih adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia, yang ketika itu sudah menjadi Muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian barat dan timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah di bagian barat dan kerajaan Cina zaman dinasti Tang di Asia bagian timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara.

Akan tetapi menurut Taufik Abdullah, belum ada bukti bahwa pribum Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang Muslim itu beragama Islam. Adanya koloni itu, diduga sejauh yang paling bisa dipertanggungjawabkan, ialah para pedagang Arab tersebut, hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran.

Baru pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk Islam, bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang Muslim itu. Menjelang abad ke 13 M, masyarakat muslim sudah ada di Samudera Pasai, Perlak, dan Palembang di Sumatera.

Di Jawa, makam Fatimah binti Maumun di Leren (Gresik) yang berangka tahun 475 H (1082M), dan makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke 13 M merupakan bukti berkembangnya komunitas Islam, termasuk di pusat kekuasaan Hindu-Jawa ketika itu, Majapahit. Namun sumber sejarah yang shahih yang memberikan kesaksian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan tentang berkembangnya masyarakat Islam di Indonesia, baik berupa prasasti dan historiografi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika “komunitas Islam” berubah menjadi pusat kekuasaan.

Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam itu, perkembangan agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase:
1. Singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama Cina.
2. Adanya komunitas-komunitas Islam di berbagai daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya di samping berita-berita asing, juga makam-makam Islam.
3. Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.

&

Arab Sebelum Islam

5 Mei

Sejarah Peradaban Islam;
DR.Badri Yatim, M.A.

Ketika Muhammad saw. lahir [570 M], Makkah adalah sebuah kota penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota, Makkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal. Agama dan masyarakat Arab waktu itu mencerminkan realita kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.

Biasanya, dalam membicarakan wilayah geografis yang didiami bangsa Arab sebelum Islam, orang membatasi hanya pada jazirah Arab, padahal bangsa Araba juga mendiami daerah-daerah di sekitar jazirah. Jazirah Arab memang merupakan kediaman mayoritas bangsa Arab waktu itu. Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Di sana tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair di musim hujan. Sebagian besar daerah jazirah adalah padang pasir Sahara yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sifat yang berbeda-beda, karena itu ia bisa dibagi menjadi tiga bagian:

1. Sahara Langit memanjang 140 mil dari utara ke Selatan dan 180 mil dari timur ke barat, disebut juga Sahara Nufud. Oase dan mata air sangat jarang, tiupan angin seringkali menimbulkan kabut debu dan mengakibatkan daerah ini sukar ditempuh.
2. Sahara Selatan yang membentang menyambung Sahara Langit ke arah Timur sampai Selatan Persia. Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus dan pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut dengan al-Rub’al Khali [bagian yang sepi]
3. Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari tanah liat yang berbatu hitam bagaikan terbakar. Gugusan batu-batu hitam itu menyebar di keluasan Sahara ini, seluruhnya mencapai 29 buah.

Penduduk Sahara yang sangat sedikit terdiri dari suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan dan nomadik, berpindah dari suatu daerah ke daerah lain guna mencari air dan padang rumput untuk binatang gembala mereka, kambing dan unta.

Daerah pesisir, bila dibandingkan dengan daerah Sahara sangat kecil, bagaikan selembar pita yang mengelilingi jazirah. Penduduknya sudah hidup menetap dengan mata pencaharian bertani dan berniaga. Karena itu mereka sempat membina berbagai macam budaya, bahkan kerajaan.

Bila dilihat dari asal-usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu Qahthaaniyun [keturunan Qahthan] dan ‘Adnaaniyuun [keturunan Ismail ibn Ibrahim]. Pada mulanya wilayah utara diduduki golongan ‘Adnaaniyuum, dan wilayah selatan didiami golongan Qahthaaniyuun. Akan tetapi, berangsur kedua golongan ini membaur karena perpindahan-perpindahan dari utara ke selatan atau sebaliknya.

Masyarakat baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan Badui. Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah [clan]. Beberapa kelompok kabilah membentuk suku [tribe] dan dipimpin oleh seorang syaikh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan, sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang. Sikap ini rupanya sudah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang Arab.

Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi seperti ini terus berlangsung sampai agama Islam lahir. Dunia Arab saat itu merupakan kancah peperangan yang terus menerus. pada posisi yang lain, meskipun masyarakat Badui mempunyai pemimpin, namun mereka hanya tunduk pada syaikh atau amir [ketua kabilah] itu dalam hal yang berkaitan dengan peperangan, pembagian harta rampasan dan pertempuran tertentu. Di luar itu, syaikh atau amir tidak kuasa mengatur anggota kabilahnya.

Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang. Karena itu bahan-bahan sejarah Arab pra Islam sangat langka di dapatkan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab. Ahmad Syalabi menyebutkan, sejarah mereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama Islam. (Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, I, Jakarta: Pustaka al-Husna 1983 hal 29)
Pengetahuan ini diperoleh dari syair-syair yang beredar di kalangan para perawi syair. Dengan begitulah sejarah dan sifat Badui Arab dapat diketahui, antara lain bersemangat tinggi dalam mencari nafkah, sabar menghadapi kekerasan alam, dan juga dikenal sebagai masyarakat yang cinta kebebasan.

Dengan kondisi alami yang seperti tidak pernah berubah itu, masyarakat Badui pada dasarnya tetap berada dalam fitrahnya. Kemurniannya terjaga, jauh lebih murni dari bangsa-bangsa lain. Dasar-dasar kehidupan mereka mungkin dapat disejajarkan dengan bangsa-bangsa yang masih berada dalam taraf permulaan perkembangan budaya. Bedanya dengan bangsa lain, hampir seluruh penduduk Badui adalah penyair.

Lain halnya dengan penduduk negeri yang telah berbudaya dan mendiami pesisir jazirah Arab, sejarah mereka dapat diketahui dengan jelas. Mereka selalu mengalami perubahan sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi yang mengitarinya. Mereka mampu membuat alat-alat dari besi, bahkan mendirikan kerajaan-kerajaan. Sampai kehadiran Nabi Muhammad, kota-kota mereka masih merupakan kota-kota perniagaan dan memang jazirah Arab ketika itu merupakan daerah yang terletak pada jalur perdagangan yang menghubungkan antara Syam dan Samudera India. Sebagaimana masyarakat Badui, penduduk negeri ini juga mahir menggubah syair. Biasanya, syair-syair itu dibacakan di pasar-pasar, mungkin semacam pagelaran pembacaan syair, seperti di pasar ‘Ukaz’. Bahasa mereka kaya dengan ungkapan, tata bahasa, dan kiasan.

Melihat bahasa dan hubungan dagang bangsa Arab, Leboun berkesimpulan, tidak mungkin bangsa Arab pernah memiliki peradaban yang tinggi, apalagi hubungan dagang itu berlangsung selama 2000 tahun. Ia yakin, bangsa Arab ikut memberikan saham dalam peradaban dunia, sebelum mereka bangkit kembali pada masa Islam. Golongan Qahthaaniyuun misalnya, pernah mendirikan kerajaan Saba’ dan kerajaan Himyar di Yaman, bagian selatan jazirah Arab, sebuah bendungan raksasa yang menjadi sumber air untuk seluruh wilayah kerajaan. Pada masa kejayaannya, kemajuan kerajaan Saba’ di bidang kebudayaan dan peradaban dapat dibandingkan dengan kota-kota dunia lain saat itu. Bekas-bekas kerajaan sekarang masih terbenam dalam timbunan tanah.

Pada masa pemerintahaan Saba’, bangsa Arab menjadi penghubung perdagangan antara Eropa dan dunia Timur Jauh. Setelah kerajaan mengalami kemunduran, muncuk kerajaan Himyar menggantikannya. Kerajaan baru ini terkenal dengan kekuatan armada niaga yang menjelajah mengarungi India, Cina, Somalia, dan Sumatera ke pelabuhan-pelabuhan Yaman. Perniagaan ketika itu dapat dikatakan dimonopoli Himyar.

Terutama setelah bendungan Ma’arib runtuh, masa gemilang kerajaan Himyar sedikit demi sedikit memudar. Banyak bangunan roboh dibawa air dan sebagian besar penduduk mengungsi ke bagian utara Jazirah. Meskipun demikian, karena daerahnya berada pada jalur perdagangan yang strategis dan tanahnya subur, daerah ini tetap menjadi incaran kerajaan besar Romawi dan Persia yang selalu bersaing untuk menguasainya.

Di sebelah utara jazirah juga pernah berdiri kerajaan-kerajaan. Tetapi kerajaan-kerajaan tersebut lebih merupakan kerajaan protektorat. Ini terjadi karena kafilah-kafilah Romawi dan Persia selalu mendapat gangguan dari suku-suku Arab yang memeras dan merampoknya. Untuk melindungi kafilah-kafilah ini, atas inisiatif kerajaan besar tersebut didirikanlah kerajaan Hirah di bawah perlindungan Persia dan kerajaan Ghassan di bawah perlindungan Romawi. Kedua kerajaan ini berkembang dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu kira-kira abad ketiga sampai abad kedatangan Islam. Raja-raja yang berkuasa umumnya berasal dari keturunan Arab Yaman.

Bagian lain dari daerah Arab yang sama sekali tidak pernah dijajah oleh bangsa lain, baik karena sulit dijangkau maupun karena tandus dan miskin, adalah Hijaz. Kota terpenting di daerah ini adalah Makkah, kota suci tempat Ka’bah berdiri. Ka’bah pada masa itu bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut-penganut asli Makkah, tetapi juga oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di sekitarnya.

Untuk mengamankan para peziarah yang datang ke kota ini, didirikanlah suatu pemerintahan yang pada mulanya berada di tangan dua suku yang berkuasa, yaitu Jurhum, sebagai pemegang kekuasaan politik dan Ismail [keturunan Nabi Ibrahim], sebagai pemegang kekuasaan atas Ka’bah. Kekuasaan politik kemudian berpindah ke suku Khuza’ah dan akhirnya ke suku Quraisy di bawah pimpinan Qushai. Suku terakhir inilah yang kemudian mengatur urusan-urusan politik dan urusan-urusan yang berhubungan dengan Ka’bah. Semenjak itu, suku Quraisy menjadi suku yang mendominasi masyarakat Arab. Ada sepuluh jabatan tinggi yang dibagi-bagikan kepada kabilah-kabilah asal suku Quraisy, yaitu hijabah, penjaga kunci Ka’bah; siqayah, pengawas mata air zamzam untuk dipergunakan para peziarah; diyat, kekuasaan hakim sipil dan kriminal; sifarah, kuasa usaha negara atas duta; liwa’, jabatan ketentaraan; rifadah, pengurus pajak untuk orang miskin; nadwah, jabatan ketua dewan; khaimmah, pengurus balai musyawarah; khazinah, jabatan administrasi keuangan; dan azlam, penjaga panah peramal untuk mengetahui pendapat dewa-dewa. Dalam pada itu, sudah menjadi kebiasaan bahwa anggota yang tertua mempunyai pengaruh paling besar dan memakai gelar rais.

Setelah kerajaan Himyar jatuh, jalur-jalur perdagangan didominasi oleh kerajaan Romawi dan Persia. Pusat perdagangan serentak kemudian beralih ke daerah Hijaz. Makkah pun menjadi masyhur dan disegani. Begitu pula suku Quraisy. Kondisi ini membawa dampak positif bagi mereka, pedagangan menjadi semakin maju. Akan tetapi kemajuan Makkah tidaklah sebanding dengan kemajuan yang pernah dicapai kerajaan-kerajaan Arab sebelumnya. Meskipun demikian, dengan Makkah menjadi pusat peradaban, bangsa Arab bagaikan memulai babak baru dalam hal kebudayaan dan peradaban.

Jadi apa yang berkembang menjelang kebangkitan Islam itu merupakan pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih awal maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke jazirah Arab melalui beberapa jalur; yang terpenting antara lain:
1. Melalui hubungan dagang dengan bangsa lain
2. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, Hirah dan Ghassan
3. Masuknya misi Yahudi dan Kristen.

Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa Syria, Persia, Habsyi, Mesir [Qibthi], dan Romawi yang semuanya telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, banyak berdiri koloni-koloni tawanan perang Romawi dan Persia di Ghassan dan Hirah. Penganut agama Yahudi juga banyak mendirikan koloni di jazirah Arab, yang terpenting di antaranya adalah Yatsrib. Penduduk koloni ini terdiri dari orang-orang Yahudi dan orang-orang Arab yang menganut agama Yahudi.

Mayoritas penganut agama Yahudi tersebut pandai bercocok tanam dan membuat alat-alat dari besi, seperti perhiasan dan persenjataan. Sama dengan penganut Yahudi, orang-orang Kristen juga mendapat pengaruh dari kebudayaan Hellenisme dan pemikiran Yunani. Aliran Kristen yang masuk ke jazirah Arab ialah aliran Nestorian di Hirah dan aliran Jacob-Barady di Ghassan.

Daerah Kristen yang terpenting adalah Najran, sebuah daerah yang subur. Penganut agama Kristen tersebut berhubungan dengan Habasyah [Ethiopia], negara yang melindungi agama ini. Penganut aliran Nestorian-lah yang bertindak sebagai penghubung antara kebudayaan Yunani dan kebudayaan Arab pada masa awal kebangkitan Islam.

Walaupun orang Yahudi dan Kristen sudah masuk ke jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka, yaitu percaya pada banyak dewa yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung. Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Berhala-berhala itu dipusatkan di Ka’bah, meskipun di tempat-tempat lain ada juga. Berhala-berhala yang terpenting adalah Hubal, yang dianggap sebagai dewa terbesar, terletak di Ka’bah; latta, dewa tertua, terletak di Thaif; Uzza, bertempat di Hijaz, kedudukannya berada di bawah Hubal dan Manat yang bertempat di Yatsrib. Berhala-berhala itu mereka jadikan tempat menanyakan dan mengetahui nasib baik dan nasib buruk. Demikianlah, keadaan bangsa dan jazirah Arab menjelang kebangkitan Islam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 221-227 (31)

5 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 221-227“221. Apakah akan aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? 222. mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, 223. mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. 224. dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. 225. tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah, 226. dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? 227. kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (asy-Syu’araa’: 221-227)

Allah berfirman berdialog dengan orang-orang musyrik yang mengira bahwa risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. tidak benar dan merupakan sesuatu yang dibuat-buat oleh dirinya sendiri atau hasil yang diperoleh dari pemberian jin. Maka Allah swt. mensucikan diri Rasulullah saw. dari berbagai komentar dan tuduhan mereka serta mengingatkan bahwa risalah yang dibawanya adalah benar-benar berasal dari sisi Allah swt. Untuk itu Allah berfirman: Hal unabbi-ukum (“Apakah akan Aku beritakan kepadamu.”) maukah Aku beritakan kepada kalian:

‘alaa man tanazzalusy syayaathiinu. Tanazzalu ‘alaa kulla affaakin atsiim (“Kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap affaakin atsiim.”) affaaak; yaitu para pendusta dalam perkataannya, atsiim; yaitu orang yang durjana dalam perbuatannya. Inilah orang-orang yang kepadanya setan-setan itu turun, yaitu para dukun dan para pendusta fasik yang sejenis dengan mereka. karena setan-setan itu pun adalah pendusta yang fasik.

Yulquunas sam’a (“Mereka menghadapkan pendengaran.”) yaitu mencuri pendengaran dari langit, hingga mereka mendengar kalimat dari ilmu ghaib, lalu ditambahkannya dengan 100 kedustaan. Kemudian, hal itu disampaikan kepada manusia yang menjadi wali-wali mereka. lalu diceritakannya hal itu dan dibenarkan oleh manusia setiap apa yang mereka katakan, dengan sebab kejujuran mereka terhadap kalimat yang didengarnya dari langit itu sebagaimana yang telah shahih dalam hadits mengenai hal itu.

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits az-Zuhri, telah mengabarkan kepadaku Yahya bin ‘Urwah bin az-Zubair, bahwa ia mendengar ‘Urwah bin az-Zubair berkata: ‘Aisyah ra. berkata: “Para shahabat bertanya kepada Nabi saw. tentang para dukun. Lalu beliau saw. bersabda: “Mereka bukan apa-apa.” Mereka bertanya kembali: “Ya Rasulullah, mereka mengatakan sesuatu yang terkadang benar.” Maka Nabi bersabda: “Kalimat itu adalah bagian kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga walinya seperti kokokan ayam. Maka, mereka mencampurnya dengan lebih dari 100 kedustaan.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Para malaikat bercerita di atas langit tentang urusan yang terjadi di muka bumi, lalu setan-setan itu mendengar kalimat tersebut yang kemudian diperdengarkan kepada telinga para dukun sebagaimana botol bergerincing. Maka, mereka menambahkan bersamanya dengan 100 kedustaan.”

Firman Allah: wasy-syu’araa-u yattabi’uHumul ghaawuun (“Dan penyair-penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas: “Orang-orang kafir itu diikuti oleh manusia dan jin yang sesat.”) demikianlah yang dikatakan oleh Mujahid ra. ‘Abdrurrahman bin Zaid bin Aslam dan selain keudanya.

‘Ikrimah ra. berkata: “Ada dua orang ahli syair yang saling bersaing. Satu ahli syair didukung oleh sebagian kelompok manusia dan yang satu ahli yang lain didukung pula oleh bagian kelompok manusia yang lain.” Maka Allah Ta’ala menurunkan: wasy-syu’araa-u yattabi’uHumul ghaawuun (“Dan penyair-penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat.”) Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Sa’id berakata: “Di saat kami berjalan bersama Rasulullah saw. di tangga, tiba-tiba seorang ahli syair bersenandung, maka Nabi saw. bersabda: “Tahanlah setan oleh kalian. Karena penuhnya tenggorokan seseorang dengan nanah lebih baik daripada dipenuhi oleh syair.”

Firman Allah: alam tara annaHum fii kulli waadiy yaHiimuun (“Tidakkah kamu melihat bahwasannya mereka mengembara di tiap-tiap lembah.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas: “Di dalam setiap permainan, mereka geluti.” Adh-Dhahhak berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Di dalam setiap seni bahasa.”

Demikian yang dikatakan oleh Mujahid dan lain-lain. Al-Hasan al-Bahsri berkata: “Sesungguhnya –demi Allah- kami melihat tempat-tempat mereka bergelut, sesekali mencela si fulan dan sesekali mereka memuji seseorang.”

Firman Allah Ta’ala: wa annaHum yaquuluuna maa laa taf’aluun (“Dan bahwasannya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan[nya].”) al-‘Aufi berkata, dari ‘Ibnu ‘Abbas: “Ada dua orang di masa Rasulullah saw. salah satunya dari kalangan Anshar dan yang kedua dari kalangan yang lain. Keduanya saling bersaing. Maka setiap orang di antara keduanya memiliki pendukung dari kaumnya, yaitu para sufaha [orang-orang yang bodoh], maka Allah Ta’ala berfirman: wasy-syu’araa-u yattabi’uHumul ghaawuun. alam tara annaHum fii kulli waadiy yaHiimuun. Wa annaHum yaquuluuna maa laa yaf’aluun (“Dan penyair-penyair yang diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasannya mereka mengembara di tiap-tiap lembah. Dan bahwasannya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan[nya].”)

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Kebanyakan kata-kata mereka adalah kedustaan.” Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ini adalah kenyataan yang terjadi sebenarnya. Karena para tukang syair berbangga-bangga dengan perkataan dan perbuatan yang tidak muncul dari diri mereka sendiri, bukan pula karena mereka, maka banyaklah sesuatu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka. untuk itu para ‘ulama berbeda pendapat tentang hal dimana apabila tukang syair mengakui dalam syairnya terdapat sesuatu yang menyebabkan ia terkena hukuman had, apakah akan dikenakan hukuman had sebab pengakuan tersebut atau tidak, karena mereka mengucapkan apa-apa yang tidak mereka kerjakan? Dalam hal ini ada dua pendapat. Muhammad bin Ishaq dan Muhammad bin Sa’ad dalam ath-Thabaqaat, serta az-Zubair bin Bikar dalam al-Fakahah menceritakan bahwa Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab ra. mengangkat an-Nu’man bin ‘Adi bin Nadh-lah sebagai pegawai di Maysan, tanah Bashrah. Dia mengucapkan syair yang menceritakan dirinya mabuk khamr dan mendengarkan lantunan seorang biduan.

Ketika berita tersebut sampai kepada Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab ra. beliau berkata: “Demi Allah, sesungguhnya hal tersebut memberikan penilaian jelekku kepadanya. Barangsiapa yang bertemu dengannya, maka beritahukan bahwa aku telah memecatnya.” ‘Umar menulis surat kepadanya: “Dengan nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. haamiim. Diturunkan al-Kitab ini dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui. Mahapengampun dosa, Mahapenerima tobat, Mahakeras siksa-Nya, Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah [yang haq] selain Dia. hanya kepada-Nyalah kembali semua makhluk.” (al-Mu’min: 1-3)
Amma ba’du, sesungguhnya perkataanmu telah sampai kepadaku.”
Semoga Amirul Mukminin memburukkannya
Kami duduk bersama, di istana yang hancur.
Dan demi Allah, sesungguhnya hal tersebut memberikan penilaian jelekku kepadamu dan aku memecatmu.”

Ketika ia menemui ‘Umar, ia menangis karena syair itu, dan berkata: “Demi Allah, ya Amirul Mukminin, aku sama sekali tidak menyadarinya. Syair itu sama sekali tidak keluar kecuali sesuatu yang meluap dari lisanku.” Lalu ‘Umar berkata: “Aku menduga demikian. Akan tetapi, demi Allah, engkau tidak akan menjadi pekerjaku selam-lamanya. Apa yang telah engkau ucapkan, ya sudah, itulah yang engkau ucapkan.”
Dia tidak menyebutkan hukuman had tersebut, sekalipun hal tersebut terkandung dalam syairnya, karena mengucapkan apa yang mereka tidak lakukan. Akan tetapi, ‘Umar ra. mencela, menghina dan memecatnya. Untuk itu, dijelaskan dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya penuhnya tenggorokan kalian oleh nanah yang merusaknya lebih baik bagi kalian daripada dipenuhi oleh syair.” (Muttafaq ‘alaiH)

Yang dimaksud dengan hadits di atas adalah bahwa Rasulullah saw. yang al-Qur’an diturunkan kepadanya bukanlah seorang dukun, bukan pula seorang ahli syair. Karena sikap beliau bertentangan dengan sikap mereka dari berbagai sudut yang nyata. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya [Muhammad] dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan.” (Yaasiin: 69)

Firman-Nya: illalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih.”) Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Mujahid, Qatadah, Zaid bin Aslam dan banyak ulama berkata bahwa ini adalah pengecualian terhadap hal yang lalu. Tidak ada keraguan lagi, bahwa hal tersebut memang pengecualian. wallaaHu a’lam.

Di dalamnya termasuk para tukang syair kaum Anshar dan lain-lain serta termasuk pula di dalamnya orang yang bergelut dengan syair jahiliyyah yang mencela Islam dan para penganutnya, kemudian ia bertobat, berserah diri, kembali, mencabut diri, beramal shalih dan banyak mengingat Allah sebagai lawan dari perkataan buruknya yang lalu. Karena berbagai kebaikan akan menghapus berbagai keburukan.

Demikian yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Abu Sufyan, Shakhr bin Harb ketika masuk Islam ia berkata: “Ya Rasulullah, berikan aku [perintah] tiga hal.” Beliau menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Mu’awiyah engkau jadikan penulis pendampingmu.” Beliau menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Engkau perintahkan aku hingga aku perangi orang-orang kafir seperti dulu aku memerangi orang-orang Muslim.” Beliau menjawab: “Ya.” Dan dia menyebut yang ketiga.

Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: illalladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih.”) dikatakan maknanya adalah mereka banyak menyebut Allah dalam pembicaraan mereka. pendapat lain mengatakan, yaitu di syi’ir-syi’ir mereka. keduanya adalah shahih, yaitu sesuatu yang dapat menghapus hal-hal yang lalu.

Firman Allah: wantasharuu mim ba’di maa dhulimuu (“Dan mendapat kemenangan sesudah menderita kedhaliman.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu mereka membalas orang-orang kafir yang menyombongkan diri terhadap orang-orang mukmin.” Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah dan banyak ulama lainnya.
Pendapat ini sebagaimana tercantum dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Hassan: “Tandingi mereka dan Jibril bersamamu.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik bahwa ayahnya berkata kepada Nabi saw. “Sesungguhnya Allah swt. telah menurunkan ayat untuk para ahli syair.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang Mukmin berjuang itu dengan pedang dan lisannya. Demi Allah Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya, seakan-akan kalian melontarkan anak ujung tombak kepada mereka.”

Firman Allah Ta’ala: wa saya’lamulladziina dhalamuu ayya munqalabiy yanqalibuun (“Dan orang-orang yang dhalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”) di dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jauhkanlah oleh kalian kedhaliman. Karena kedhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”

Qatadah bin Di’amah berkata mengenai firman Allah Ta’ala: wa saya’lamulladziina dhalamuu ayya munqalabiy yanqalibuun (“Dan orang-orang yang dhalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”) yang benar ayat ini berlaku umum pada setiap orang yang dhalim, sebagaimana ibnu Abi Hatim berkata bahwa ‘Aisyah ra. berkata: “Ayahku menulis wasiatnya menjadi dua baris: ‘BismillaaHir rahmaanir rahiim. Ini adalah wasiat Abu Bakar bin Abi Qahafah ketika meninggal dunia, di saat orang kafir beriman, orang fajir berhenti dan pendusta menjadi jujur. Sesungguhnya aku mengangkat ‘Umar binaal-Khaththab sebagai penggantiku. Jika ia berbuat adil, maka itulah dugaanku dan harapanku. Sedangkan jika ia berbuat dhalim dan berubah, maka aku tidak mengetahui yang ghaib. wa saya’lamulladziina dhalamuu ayya munqalabiy yanqalibuun (“Dan orang-orang yang dhalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”)

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 213-220 (30)

5 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 213-220“213. Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang di’azab. 214. dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, 215. dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman. 216. jika mereka mendurhakaimu Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”; 217. dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, 218. yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), 219. dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. 220. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (asy-Syu’araa’: 213-220)

Allah berfirman memerintahkan agar manusia beribadah hanya menyembah kepada-Nya semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya serta mengabarkan bahwa barangsiapa yang menyekutukan-Nya, niscaya Dia akan mengadzabnya. Kemudian Allah berfirman memerintahkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. untuk memperingatkan keluarganya yang terdekat dimana tidak ada yang bisa menyelamatkan diri mereka kecuali keimanannya kepada Rabb swt. serta memerintahkan untuk bersikap lembut kepada para pengikutnya yang termasuk hamba-hamba Allah yang beriman. Barangsiapa di antara makhluk Allah yang bermaksiat kepada-Nya dalam keadaan bagaimanapun, maka hendaklah ia berlepas diri darinya.

Untuk itu Allah berfirman: fa in ‘ashauka faqul innii barii-um mimmaa ta’maluun (“Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”) peringatan khusus ini berarti menghapuskan peringatan yang umum, bahkan hal tersebut merupakan salah satu bagian di antaranya. Sebagaimana firman Allah: “Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.” (Yaasiin: 6)

Firman Allah: li-undzirakum biHii wa mam balagh (“Supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an [kepadanya].”) (al-An’am: 19)

Di dalam hadits shahih Muslim disebutkan: “Demi Rabb Yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara umat ini yang mendengar dariku, baik Yahudi maupun Nasrani kemudian dia meninggal dan tidak beriman kepadaku, pasti ia termasuk penduduk neraka.”

Banyak sekali hadits-hadits yang berkenaan dengan sebab turunnya ayat yang mulia ini. Di antaranya:

1. Imam Ahmad ra. meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: Ketika Allah menurunkan ayat: wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”) Nabi saw. mendatangi bukti Shafa, lalu naik ke atasnya dan memanggil: “Hai orang-orang yang ada di pagi hari.” Lalu berhimpunlah banyak orang menuju beliau, baik orang yang datang langsung atau mengutus seseorang. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Ya Bani ‘Abdul Muththalib, ya Bani Fihr, ya Bani Lu-ay. Apa pendapat kalian seandainya aku kabarkan kepada kalian bahwa satu pasukan kuda yang ada di balik gunung ini hendak menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku?” mereka menjawab: “Ya.” Beliau pun bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan di hadapan Rabb yang memiliki adzab yang pedih.”

Lalu Abu Lahab berkata: “Celaka engkau sepanjang hari, apakah engkau memanggil kami hanya untuk ini?” lalu Allah menurunkan: tabbat yadaa abii laHabiw watabba (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”)(al-Lahab: 1) (HR Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i)

2. Imam Ahmad berkata bahwa ‘Aisyah ra. berkata tatkala turun: wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”) Rasulullah saw. berdiri dan bersabda: “Ya Fathimah binti Muhammad, ya Shafiyyah putri ‘Abdul Muththalib, ya Bani ‘Abdul Muththalib. Aku tidak dapat membela kalian sedikitpun dari Allah swt. Mintalah kalian dari bagian hartaku yang kalian inginkan.” (HR Muslim)

3. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Hurairah ra. berkata: Tatkala turun ayat ini: wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”), Rasulullah saw. memanggil orang-orang Quraisy, baik secara umum maupun secara khusus. Lalu beliau bersabda: “Hai orang-orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai bani ‘Abdul Muththalib, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Sesungguhnya aku – demi Allah- tidak dapat membela sedikitpun di hadapan Allah, kecuali kalian memiliki hubungan rahim yang akan memercikkan basahnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi dari hadits ‘Abdul Malik bin ‘Umair dan at-Tirmidzi berkata: “Gharib dari jalur ini.” Diriwayatkan pula oleh an-Nasa-i serta keduanya ditakhrij di dalam ash-Shahihain dari hadits az-Zuhri).

4. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Ali ra. berkata: tatkala turun ayat ini: wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin (“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”), Nabi menghimpun keluarganya hingga mencapai 30 orang, lalu mereka makan dan minum, kemudian Nabi saw. berkata kepada mereka: “Siapa yang dapat menanggung hutang dan perjanjianku dan ia akan bersamaku di surga serta menjadi penggantiku di dalam keluargaku?” maka berkata seorang laki-laki –yang tidak disebut namanya oleh Syuraik-: “Hai Rasulullah, engkau adalah lautan, siapakah yang mampu melaksanakan hal tersebut?” Kemudian beliau mengatakan hal itu –sebanyak tiga kali- kepada yang lainnya dan disodorkan kepada keluarganya. Maka ‘Ali berkata: “Aku.”

firman Allah: wa tawakkal ‘alal ‘aziizir rahiim (“Dan bertakwalah kepada [Allah] Yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang].”) dalam sebuah urusanmu. Karena Dia adalah pendukung, pemelihara, penolong, penghantar dan peninggi kalimatmu.

Firman Allah: alladzii yaraakal hiina taquum (“Yang melihatmu ketika kamu berdiri [untuk shalat].”) yaitu Dia memperhatikanmu. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: washbir lihukmi rabbika fa innaka bi a’yuninaa (“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (ath-Thuur: 48)

Ibnu ‘Abbas berakata: alladzii yaraakal hiina taquum (“Yang melihatmu ketika kamu berdiri [untuk shalat].”) yaitu hendak shalat. ‘Ikrimah berkata: “Dia memperhatikan berdiri, ruku’ dan duduknya.” Sedangkan al-Hasan berkata: “alladzii yaraakal hiina taquum (“Yang melihatmu ketika kamu berdiri [untuk shalat].”) jika engkau shalat sendiri.
Qatadah berkata: alladzii yaraaka (“Yang memperhatikanmu”) dalam keadaan berdiri dan duduk serta dalam seluruh keadaanmu.

Firman Allah: wa taqallubaka fis saajidiin (“Dan [melihat pula] perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yangsujud.”) Qatadah berkata: “alladzii yaraakal hiina taquum. wa taqallubaka fis saajidiin (“Yang melihatmu ketika kamu berdiri [untuk shalat]. Dan [melihat pula] perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yangsujud.”) di waktu shalat sendiri dan berjamaah, dan Dia melihatmu. Inilah pendapat ‘Ikrimah, ‘Atha’ al-Khurasani dan al-Hasan al-Bahsri. Mujahid berkata: “Rasulullah saw. dapat melihat orang yang berada dibelakangnya sebagaimana beliau dapat meliahat orang yang berada di depannya.” Ini dibenarkan oleh sebuah hadits: “Ratakanlah shaf-shaf kalian, karena aku melihat kalian dari belakangku.”

Firman-Nya: innaHuu Huwas samii’ul ‘aliim (“Sesungguhnya Dia adalah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”) yaitu Mahamendengar seluruh perkataan hamba-hamba-Nya lagi Mahamengetahui seluruh gerakan dan diamnya mereka.

Bersambung ke bagian 31

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 210-212 (29)

5 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 210-212“210. dan Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan- syaitan. 211. dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan Kuasa. 212. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Quran itu.” (asy-Syu’araa’: 210-212)

Allah berfirman mengabarkan tentang kitab-Nya yang mulia; wa maa nazzalat biHisy syayaathiinu (“Dan al-Qur’an ini bukanlah dibawa turun oleh syaithan-syaithan”) kemudian Dia menyebutkan bahwa hal itu tercegah karena tiga alasan. Salah satunya bahwa hal tersebut tidak layak bagi mereka. karena di antara karakter mereka adalah merusak dan menyesatkan para hamba. Sedangkan di dalam al-Qur’an terkandung amar ma’ruf dan nahi munkar, cahaya, hidayah dan bukti nyata yang jelas. Maka di antara al-Qur’an dan syaithan sangat bertolak belakang. Untuk itu Allah berfirman: wamaa yanbaghiilaHum (“dan tidaklah patut mereka membawa turun al-Qur’an itu.”) sekalipun patut bagi mereka, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pastilah kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (al-Hasyr: 21)

Kemudian Dia menjelaskan bahwa sekalipun mereka patut dan mereka mampu membawa dan menyampaikannya, niscaya mereka tidak akan mampu menjangkaunya, karena mereka akan tersingkir dari pendengaran al-Qur’an pada waktu turunnya. Karena langit dipenuhi oleh penjagaan yang ketat dan bola-bola api [meteor] pada saat diturunkannya al-Qur’an kepada Rasulullah saw. maka tidak ada satu shaitanpun yang dapat lolos mendengarkan satu huruf pun agar tidak terjadi pencampuradukan. Hal ini merupakan rahmat Allah kepada hamba-Nya, penjagaan Allah terhadap syariat-Nya dan dukungan Allah kepada kitab dan Rasul-Nya.

Untuk itu Allah berfirman: innaHum ‘anis sam’il ma’zuuluun (“Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar al-Qur’an itu.”) sebagaimana Allah berfirman mengabarkan tentang jin yang artinya: “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui [rahasia] langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.” (al-Jinn: 8)

Bersambung ke bagian 30

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 200-209 (28)

5 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 200-209“200. Demikianlah Kami masukkan Al Quran ke dalam hati orang- orang yang durhaka. 201. mereka tidak beriman kepadanya, hingga mereka melihat ‘azab yang pedih, 202. Maka datanglah ‘azab kepada mereka dengan mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya, 203. lalu mereka berkata: “Apakah Kami dapat diberi tangguh?” 204. Maka Apakah mereka meminta supaya disegerakan azab kami? 205. Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, 206. kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, 207. niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya. 208. dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; 209. untuk menjadi peringatan. dan Kami sekali-kali tidak Berlaku zalim.” (asy-Syu’araa’: 200-209)

Allah berfirman: Demikianlah Kami masukkan kedustaan, kekufuran, pembangkangan dan penentangan, yaitu Kami masukkan itu semua ke dalam hati orang-orang yang durhaka. Laa yu’minuuna biHii (“Mereka tidak beriman kepadanya”) yaitu kepada kebenaran, hattaa yarawul ‘adzaabal aliim (“Hingga mereka melihat adzab yang pedih”) yaitu alasan orang-orang dhalim tidak lagi bermanfaat bagi mereka dan mereka akan mendapatkan laknat serta tempat yang buruk. Fa ya’tiyaHum baghtatan (“Maka datanglah kepada mereka baghtatan”) yaitu adzab Allah datang secara mendadak. waHum laa yasy’uruuna. Fa yaquuluu Hal nahnu mundharuun (“Sedang mereka tidak menyadarinya lalu mereka berkata: ‘Apakah kami dapat diberi tangguh?’”) mereka berangan-angan ketika melihat adzab, seandainya mereka diberi tangguh sedikit saja agar mereka dapat beramal dalam taat kepada Allah menurut prasangkaan mereka. maka setiap orang yang dhalim, durhaka dan kafir ketika menyaksikan siksaan, niscaya ia akan sangat menyesal.

Firman Allah: falammaa ra au ba’sanaa qaaluu aamannaa billaaHi wahdaHu (“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata, ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja.’”)(al-Mu’min: 84) a fa bi’adzaabinaa yasta’jiluuna (“Maka apakah mereka meminta supaya disegerakan adzab Kami,”) guna mengingkari dan mengancam mereka. karena sesungguhnya mereka berkata kepada Rasul sambil mendustakan dan meremehkan, datangkan kepada kami adzab Allah. Sebagaimana Allah berfirman: “Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturnkan adzab.”(al-‘Ankabuut: 53)

Kemudian Dia berfirman: a fa ra-aita im matta’naaHum siniin. Tsumma jaa-aHum maa kaanuu yuu’aduuna. Maa aghnaa ‘anHum maa kaanuu yumatta’uuna (“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.”) yaitu seandainya Kami akhirkan, Kami tunda dan Kami biarkan mereka untuk beberapa masa atau zaman atau lebih lama lagi, kemudian perintah [adzab] Allah datang kepada mereka, apalah artinya kenikmatan yang mereka dapat setelah datangnya adzab itu?

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasakan seakan-akan tinggal [di dunia] melainkan [sebentar saja] di waktu sore atau pagi hari.” (an-Naazi’aat: 46). Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: maa aghnaa ‘anHum maa kaanuu yumatta’uun (“Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang selalu mereka menikmatinya.”)

Diriwayatkan dalam hadits shahih: “Orang kafir didatangkan dan dicelupkan ke dalam api neraka, kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau melihat kebaikan sedikit saja?’ ‘Apakah engkau melihat kebaikan sedikit saja?’ orang itu menjawab: ‘Tidak, demi Allah ya Rabb.’ Lalu didatangkan manusia paling susah keadaannya di dunia dan dicelupkan ke dalam jannah, kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau melihat kesulitan sedikitpun?’ Dia menjawab: ‘Tidak, demi Allah ya Rabb-ku.’ (yakni seakan-akan tidak ada kesusahan sedikitpun).”

Untuk itu, ‘Umar bin al-Khaththab ra. mengibaratkan dengan bait syair ini:
Seakan-akan tidak ada keganjilan satu malampun dalam satu tahun
Apakah engkau menemukan yang engkau cari.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang keadilan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dimana Dia tidak membinasakan satu umat pun kecuali setelah adanya alasan yang diajukan, adanya kabar ancaman dan diutusnya para rasul serta tegaknya hujjah bagi mereka. untuk itu Allah befirman: wa maa aHlaknaa min qaryatin illaa laHaa mundziruun. Dzikraa wa maa kunnaa dhaalimiin (“Dan Kami tidak membinasakan satu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-sekali tidak berlaku dhalim.”) sebagaimana firman Allah: wa maa kunnaa mu’adzdzibiina hattaa nab’atsa rasuulan (“Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.”)(al-Israa’:15)

Bersambung ke bagian 29

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 196-199 (27)

5 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 196-199“196. dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu. 197. dan Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa Para ulama Bani Israil mengetahuinya? 198. dan kalau Al Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab, 199. lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir); niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya.” (asy-Syu’araa’: 196-199)

Allah Ta’ala berfirman, sesungguhnya sebutan dan kemasyhuran al-Qur’an telah ada dalam kitab-kitab orang-orang terdahulu yang diberitakan dari para Nabi mereka yang mengabarkan sejak masa lampau hingga masa yang baru. Az-Zuburr; dalam ayat ini adalah kitab-kitab, sebagai kalimat jamak dari Zabur. Demikian pula kitab Zabur, yaitu kitabnya Nabi Dawud as.
Wa kullu syai-in fa’aluuHu fiz-zubur (“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.”)(al-Qamar: 52), tercatat dalam buku-buku catatan para Malaikat.

Kemudian Allah berfirman: awalam yakul laHum aayatan ay ya’lamaHuu ‘ulamaa-u banii israa-iila (“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama bani Israil mengetahui?”) yakni apakah tidak cukup satu saksi yang jujur bagi mereka atas masalah itu. Sesungguhnya para ulama bani Israil mendapatkan sebutan al-Qur’an ini di dalam kitab-kitab mereka yang mereka pelajari. Yang dimaksud [ulama Bani Israil] adalah, orang-orang adil di antara mereka yang mengakui isi kitab yang ada di tangan mereka berupa sifat Muhammad saw., pengutusannya dan umatnya, sebagaimana yang dikabarkan oleh orang beriman di antara mereka seperti ‘Abdullah bin Salam dan Salman al-Farisi kepada orang yang menemui mereka dan orang-orang yang sama dengan mereka. “[Yaitu] orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi….” (al-A’raaf: 157)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang kekerasan dan penentangan orang kafir Quraisy terhadap al-Qur’an. Seandainya turun satu kalimat saja kepada orang ajam [selain Arab] yang tidak mengerti bahasa Arab serta diturunkan kitab ini sebagai penjelasan dan kefasihannya, niscaya mereka tidak mengimaninya.

Untuk itu Allah berfirman: walau nazzalnaaHu ‘alaa ba’dlil a’jamiina. Fa qara-aHuu ‘alaiHim maa kaanuu biHii mu’miniin (“Dan seandainya al-Qur’an itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka [orang-orang kafir]; niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya.”) sebagaimana diceritakan pula tentang mereka dalam ayat yang lain: “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman.” (Yunus: 96)

Bersambung ke bagian 28

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syu’araa’ ayat 192-195 (26)

5 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’araa’ (Para Penyair)
Surah Makkiyyah; surah ke 26:227 ayat

tulisan arab alquran surat asy syu'araa' ayat 192-195“192. dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, 193. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), 194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, 195. dengan bahasa Arab yang jelas.” (asy-Syu’araa’: 192-195)

Allah berfirman mengabarkan tentang kitab yang diturunkan-Nya kepada seorang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Muhammad saw. wa innaHuu (“Dan sesungguhnya”) yaitu al-Qur’an, yang tersebut di awal surah dalam firman-Nya: wa maa ya’tiiHim min dzikrim minar rahmani muhdatsin (“Dan sekali-sekali tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Rabb Yang Mahapemurah…”)(asy-Syu’araa’: 5)

Latanziilu rabbil ‘aalamiin (“Ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam”) yaitu diturunkan dan diwahyukan oleh Allah kepadamu. Nazala biHir ruuhul amiin (“Dia diabawa turun oleh ar-Ruhul Amiin”) yaitu Jibril as. Itulah yang dikatakan oleh beberapa ulama salaf. Ini adalah pendapat yang tidak lagi dipertentangkan. ‘alaa qalbika litakuuna minal mundziriin (“Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.”) yaitu dibawa oleh malaikat yang mulia lagi terpercaya yang memiliki kedudukan di sisi Allah serta ditaati di Mala-il a’laa (alam langit). ‘alaa qalbika (“ke dalam hatimu”) ya Muhammad, dalam keadaan selamat dari kotoran, penambahan dan pengurangan. Litakuuna minal mundziriin (“agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.”) yaitu agar engkau memberi peringatan tentang hukuman dan kemurkaan Allah bagi orang yang menyelisihi dan mendustakannya serta memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengikutinya.

Firman Allah: bilisaanin ‘arabiyyim mubiin (“Dengan bahasa Arab yang jelas.”) al-Qur’an yang Kami turunkan kepadamu ini, Kami turunkan dengan bahasa Arab yang fasih, sempurna dan lengkap agar menjadi penjelas yang tegas dan nyata serta dapat memutuskan alasan, menegakkan bukti dan menunjukkan kepada kebenaran.

Bersambung ke bagian 27