Arsip | 16.34

Percakapan Bahasa Arab 04: Kebangsaan 2

19 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

percakapan bahasa arab kebangsaan 2

Percakapan Bahasa Arab 03: Kebangsaan 1

19 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

kebangsaan 1 j

Percakapan Bahasa Arab 02: Perkenalan 2

19 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

percakapan 2

Gambar

Percakapan Bahasa Arab: Perkenalan 1

19 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

percakapan 1

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 22-26 (5)

19 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 22-26“22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. 23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. 24. aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, 25. agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. 26. Allah, tiada Tuhan yang disembah kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang besar”. (an-Naml: 22-26)

Allah berfirman: famakatsa (“maka datanglah”) HudHud. Ghaira ba’iidin (“tidak lama kemudian”) yaitu dia menghilang dalam waktu singkat, kemudian datang dan berkata kepada Sulaiman: ahathtu bimaa lam tuhithbiHii (“Aku telah mengetahui sesuatu yang engkau belum mengetahuinya.”) yaitu aku telah mengetahui sesuatu yang belum diketahui olehmu dan bala tentaramu. Wa ji’tuka min saba-im binaba-iy yaqiin (“dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini.”) yaitu sebuah berita jujur, benar dan yakin. Saba’ adalah Himyar, yaitu kerajaan Yaman.

Kemudian ia berkata: innii wajadtum ra-atan tamlikuHum (“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka.”) al-Hasan al-Bashri berkata: “Yaitu Balqis binti Syurahil, sang ratu Saba’.”
Qatadah berkata: “Ibunya adalah jin wanita.” Ibnu Juraij berkata: “Balqis binti Dzu Syarkh, dan ibunya adalah Balta’ah.”
Abdurrazzaq berkata, Ma’mar telah mengabarkan kepada kami bahwa Qatadah berkata tentang firman Allah: innii wajadtum ra-atan tamlikuHum (“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka.”) wanita itu berasal dari keluarga kerajaan dan memiliki 312 pemimpin dewan musyawarah. Dimana setiap satu orang pemimpin memiliki sekitar 10.000 orang. Kerajaan ini berada di daerah yang dikenal dengan Ma-rib yang berjarak 3 mil dari kota Shan’a. Pendapat ini lebih mendekati kebenaran, bahwa Yaman banyak terdapat kerajaan. wallaaHu a’lam.

Perkataannya: wa uutiyat min kulli syai-in (“Dan dia dianugerahi segala sesuatu”) yaitu harta benda dunia yang dibutuhkan oleh sebuah kerajaan yang besar, wa laHaa ‘arsyun ‘adhiim (“serta mempunyai singgasana yang besar”) yakni singgasana tempat duduknya amatlah besar, agung serta dihiasi emas dan berbagai macam mutiara dan berlian. Ilmuwan sejarah mengatakan: “Singgasana ini berada di istana yang besar, berkilau serta tinggi menjulang. Di dalamnya terdapat 360 jendela di arah timur dan barat. Bangunan tersebut dibuat sedemikian rupa agar matahari bisa masuk setiap hari dari jendela dan terbenam dari bagian jendela yang lain, dimana mereka sujud kepadanya di waktu pagi dan petang.

Untuk itu ia berkata: wajadtuHaa wa qaumaHaa yasjuduuna lisyamsi min duunillaaHi wa zayyana laHumusy syaithaanu a’maalaHum fashaddaHum ‘anis sabiil (“Aku dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah. Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan.”) yaitu jalan kebenaran. faHum laa yaHtaduun (“sehingga mereka tidak memperoleh petunjuk.”)

Perkataannya: allaa yasjuduu lillaaHi (“Agar mereka tidak beribadah kepada Allah”) yaitu agar mereka tidak mengetahui jalan kebenaran, yang intinya yaitu kemurniaan sujud kepada Allah Yang Esa, bukan kepada ciptaan-Nya yang berupa bintang-bintang dan lain-lain. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hanya kepada-Nya saja beribadah.” (Fushilat: 37)

Perkataannya: alladzii yukhrijul khab-a fis samaa-waati wal ardli (“Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Mahamengetahui apa yang tersembunyi di langit dan di bumi.” Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Qatadah dan selain mereka. Sa’id bin al-Musayyab berakata: “Al-khab-u yaitu air.”

Demikian pula ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Pendaman langit dan bumi adalah rizky yang dijadikan [ada] di dalam keduanya, hujan dari langit dan tumbuh-tumbuhan dari bumi.” Ini sesuai dengan pembicaraan HudHud yang dijadikan Allah sebagai keistimewaan baginya, yaitu seperti yang diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas dan lain-lain, bahwa ia dapat melihat air mengalir dari dasar tanah yang paling dalam.

Perkataannya: wa ya’lamu maa tukhfuuna wa maa tu’linuun (“Dan mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.”) Dia Mahamengetahui perkataan dan perbuatan yang disembunyikan serta yang ditampakkan oleh seorang hamba.

Perkataannya: AllaaHu laa ilaaHa illaa Huwa rabbul ‘arsyil ‘adhiim (“dan tiada Rabb [yang berhak diibadahi] kecuali Dia rabb yang mempunyai ‘Arsy yang besar.”) yaitu yang diseru adalah Allah Yang tidak ada Rabb yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia, Rabb ‘Arsy yang Agung dimana tidak ada makhluk-Nya yang lebih besar dan lebih agung dari-Nya. Dan karena Hud-Hud adalah penyeru kebaikan dan beribadah kepada Allah serta sujud kepada-Nya, maka ia dilarang untuk dibunuh.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah bahwa Abu Hurairah ra. berkata: Nabi saw. melarang membunuh empat binatang: semut, lebah, Hud-Hud dan burung shurad.” (isnadnya shahih).

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 20-21 (4)

19 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 20-21“Dan Dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, Apakah Dia Termasuk yang tidak hadir. sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar Dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. (an-Naml: 20-21)

Mujahid, Sa’id bin Jubair dan lain-lain berkata dengan sanad yang berasal –dari Ibnu ‘Abbas dan Shahabat lainnya berkata: “Hud-hud adalah binatang ahli dalam memberi arahan kepada Sulaiman tentang air. Jika beliau sedang berada di padang pasir, beliau memintanya untuk meneliti air yang berada di tapal batas, seperti manusia melihat sesuatu yang tampak di permukaan tanah. Jika burung Hud-hud telah memberikan petunjuk tentang hal tersebut, maka Sulaiman segera memerintahkan jin untuk menggali termpat tersebut sehingga memancar air dari dasarnya.

Suatu hari Sulaiman as. singgah di sebuah padang pasir, lalu ia memeriksa burung-burung untuk melihat Hud-hud, akan tetapi ia tidak melihatnya. Fa qaala maa liya laa aral HudHud am kaana minal ghaa-ibiin (“Lalu dia berkata: ‘Mengapa aku tidak melihat burung Hud-Hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?’”) apakah pandanganku terhadap burung-burung itu yang keliru atau ia yang ghaib/tidak hadir?

La-u’adzdzibaHuu ‘adzaaban syadiidan (“Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras.”) al-A’masy berkata dari al-Minhal bin ‘Amr dan dari Sa’id, dari Ibnu ‘Abbas, yaitu mencabut bulu-bulunya. Firman-Nya: au la-adzbahannaHuu (“atau benar-benar menyembelihnya”) yaitu membunuhnya. Au laya’tiannii bisulthaanim mubiin (“atau dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”) yaitu alasan yang jelas dan tegas.
Sufyan bin ‘Uyainah dan ‘Abdullah bin Syaddad berkata: “Ketika Hud-Hud datang, seekor berkata kepadanya: ‘Apa yang menyebabkan engkau menghilang. Sesungguhnya Sulaiman menadzarkan darahmu.’ Hud-Hud berkata: ‘Apakah ada pengecualian?’ mereka menjawab: ‘Ya.’
La-u’adzdzibaHuu ‘adzaaban syadiidan au la-adzbahannaHuu Au laya’tiannii bisulthaanim mubiin (“Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras. atau benar-benar menyembelihnya atau dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”) maka dia berkata: ‘Kalau begit aku selamat.’ Mujahid berkata: “Allah menyelamatkannya hanya karena ia telah berbakti kepada ibunya.”

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 15-19 (3)

19 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 15-19“15. dan Sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan Kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman”. 16. dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan Dia berkata: “Hai manusia, Kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”. 17. dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). 18. hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”; 19. Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (an-Naml: 15-19)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang nikmat yang diberikan kepada dua orang hamba dan Nabi-Nya yaitu Dawud dan puteranya, Sulaiman as. untuk itu Allah berfirman: wa laqad aatainaa daawuuda wa sulaimaana ‘ilmaw wa qaalal hamdulillaaHil ladzii fadl-dlalanaa ‘alaa katsiirim min ‘ibaadiHil mu’miniin (“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.”)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis surat yang isinya: “Sesunggunya Allah tidak memberikan nikmat kepada hamba-Nya, lalu ia memuji Allah karenanya melainkan pujiannya itu lebih utama daripada nikmat-Nya itu sekalipun engkau tidak mengetahui hal tersebut kecuali di dalam kitab Allah yang diturunkan.”

Allah Ta’ala berfirman: wa laqad aatainaa daawuuda wa sulaimaana ‘ilmaw wa qaalal hamdulillaaHil ladzii fadl-dlalanaa ‘alaa katsiirim min ‘ibaadiHil mu’miniin (“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.”) nikmat manakah yang lebih utama dibandingkan dengan apa yang diberikan kepada Dawud dan Sulaiman as.

Firman Allah: wa waritsa sulaimaana daawuuda (“Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud”) yaitu dalam kerajaan dan kenabian. Yang dimaksud bukanlah warisan harta. Seandainya yang dimaksud adalah warisan harta, niscaya warisan tersebut tidak hanya dikhususkan kepada Sulaiman saja dan tidak diberikan kepada anak-anaknya yang lain. Karena Dawud memiliki 100 istri. Akan tetapi warisan yang dimaksud adalah warisan kerajaan dan kenabian. Karena para Nabi tidak mewarisi harta, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya: “Kami golongan nabi tidak mewariskan harta. Apa saja yang kami tinggalkan adalah menjadi harta shadaqah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dia berkata: yaa ayyuHannaasu ‘ullimnaa manthiqath thairi wa uutiinaa min kulli syai-in (“Hai manusia kami telah diberi pengertian tentang ucapan burung dan kami diberi segala sesuatu.”) Sulaiman mengabarkan tentang nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya berupa kerajaan yang lengkap dan kedudukan yang terhormat dapat menguasai manusia, jin dan burung. Di samping itu iapun mengerti bahasa burung dan hewan. Hal tersebut adalah sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorang manusiapun sepanjang yang kita ketahui melalui berita yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. akan tetapi Allah swt. telah mengajarkan kepada Sulaiman tentang dialog burung yang terbang di udara dan ucapan-ucapan hewan sesuai perbedaan jenisnya. Untuk itu Allah swt berfirman: ‘ullimnaa manthiqath thairi wa uutiinaa min kulli syai-in (“kami telah diberi pengertian tentang ucapan burung dan kami diberi segala sesuatu.”) yang dibutuhkan oleh seorang raja. Inna Haadzaa laHuwal fadl-lul mubiin (“Sesungguhnya semua itu benar-benar suatu karunia yang nyata.”) yakni yang jelas dan nyata dari Allah untuk kami.

Firman Allah: wa husyira lisulaimaana junuuduHuu minal jinni wal insi wath-thairi faHum yuuza’uun (“Dan dihimpunlah untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib [dalam] barisan.”) yakni dihimpun untuk Sulaiman berupa tentaranya yang berupa manusia, jin dan burung. Artinya, Sulaiman mengendarai mereka dengan penuh kebesaran. Serta ada pula diantara mereka yang berada dalam satu barisan. Burung berada di atasnya, jika udara panas maka burung-burung itu menaunginya dengan sayap-sayapnya.

Firman-Nya: faHum yuuza’uun (“lalu mereka diatur dengan tertib”) yakni posisi yang pertama ditata dengan posisi yang lain, agar tidak ada satupun yang keluar dari tempatnya yang teratur. Mujahid berkata: “Setiap golongan memiliki komandan yang dijadikan rujukan satu dengan yang lainnya seperti yang dilakukan oleh raja-raja saat ini, agar tidak saling mendahului.”

Firman-Nya: hattaa idzaa atau ‘alaa waadin namli (“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut”) yakni apabila Sulaiman as. dengan bala tentara dan pasukannya melintasi lembah semut: qaalat namlatuy yaa ayyuHan namludkhuluu masaakinakum laa yahtimannakum sulaimaanu wa junuuduHuu wa Hum laa yasy’uruun (“Seekor semut berkata: ‘Hai semut-semut masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari.”)
Semut itu takut jika semut-semut lain terinjak oleh telapak-telapak kaki kuda. Maka ia memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam sarang-sarang mereka. hal tersebut telah dipahami oleh Sulaiman as.

Fatabassama dlaahikam min qauliHaa wa qaala rabbi au ji’nii an asykura nikmatakal latii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardlaaHu (“Maka dia tersenyum dan tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dan dia berdoa: ‘Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan mengerjakan amal shalih yang Engkau ridlai.”)
Yaitu berilah ilham kepadaku untuk mensyukuri nikmat yang Engkau telah limpahkan kepadaku dengan mengajari aku pembicaraan burung-burung dan hewan-hewan serta nikmat yang Engkau limpahkan kepada kedua orang tuaku dengan ber-islam dan beriman kepada-Mu.

Wa an a’mala shaalihan tardlaaHu (“dan mengerjakan amal shalih yang Engkau ridlai”) yaitu amal yang Engkau cintai dan ridlai.
Wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikash shaalihiin (“Serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”) yaitu jika Engkau wafatkan aku, maka kumpulkanlah aku dengan hamba-hamba-Mu yang shalih serta berada bersama wali-wali-Mu dalam kedudukan yang tinggi. wallaaHu a’lam. Maksudnya, Nabi Sulaiman memahami perkataannya dan dia tersenyum karenanya. Ini adalah yang sangat besar sekali.

Ibnu Abi Hatim berkata, bahwa Abu ash-Shiddiq an-Naji berkata: “Sulaiman bin Dawud as. keluar untuk minta diturunkan hujan, tiba-tiba seekor semut yang sedang berbaring tertelungkup mengangkat kedua kaki depannya ke arah langit, dan berdoa: ‘Ya Allah. Sesungguhnya kami adalah makhluk diantara makhluk-Mu. Kami tidak dapat lepas dari hujan yang Engkau turunkan. Jika Engkau tidak turunkan hujan, niscaya kami akan binasa.’ Maka Sulaiman berkata: ‘Kembalilah kalian. Sesungguhnya kalian telah diberi hujan dengan sebab doa selain kalian.”

Di dalam shahih Muslim yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dinyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seorang Nabi pernah digigit oleh seekor semut. Lalu ia memerintahkan menyerang sarang semut yang kemudian dibakarnya. Maka Allah memberikan wahyu kepadanya: ‘Apakah hanya karena satu semut menyengatmu, engkau membinasakan satu umat yang bertasbih; kenapa tidak satu ekor semut saja?’”

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 7-14 (2)

19 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 7-14“7. (ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: “Sesungguhnya aku melihat api. aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang”. 8. Maka tatkala Dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. dan Maha suci Allah, Tuhan semesta alam”. 9. (Allah berfirman): “Hai Musa, Sesungguhnya, Akulah Allah, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 10. dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti Dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku. 11. tetapi orang yang Berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); Maka seaungguhnya aku Maha Pangampun lagi Maha Penyayang. 12. dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu[1091], niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) Termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir’aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik”. 13. Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”. 14. dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (an-Naml: 7-14)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. guna mengingatkan atas peristiwa Musa as. ketika dipilih dan diajak bicara oleh Allah swt. Maka Allah berfirman: wa idz qaala muusaa li aHliHii (“[ingatlah] ketika Musa berkata kepada keluarganya.”) yakni ingatlah ketika Musa berjalan dengan keluarganya, lalu tersesat jalan. Di waktu itu adalah malam hari dan sangat gelap, tiba-tiba tampak cahaya api dari bukit Thuur dimana ia melihat api menyala dan gemuruh. Maka ia berkata: li aHlihii innii aanastu naaran sa-aatiikum minHaa bikhabarin (“Kepada keluarganya: ‘Sesungguhnya aku melihat api. Aku akan membawa kepadamu kabar tentangnya.’”) yaitu tentang arah jalan, au aatiikum bisyiHaabin qabasil la’allakum tashthaluun (“Atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang.”) yaitu menghangatkan diri dengannya. Demikianlah terjadi sesuai dengan apa yang dikatakannya. Ia kembali membawa berita besar dan memperoleh api yang panas.

Untuk itu Allah berfirman: falammaa jaa-aHaa nuudiya ambuurika man finnaari wa man haulaHuu (“Maka tatkala dia tiba di tempat api itu, diserulah dia: ‘Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu dan orang-orang yang ada di sekitarnya.’”) yakni tatkala ia mendatanginya dan menyaksikan pemandangan yang menakjubkan di tempat ia berhenti dan api itu menyala di pohon yang hijau. Api itu tidak bertambah apa-apa melainkan terus semakin menyala dan pohon itu juga tidak bertambah kecuali semakin hijau dan indah. Kemudian ia mengangkat kepalanya, tiba-tiba cahayanya bersambung ke langit.

Ibnu ‘Abbas dan ulama lain berkata: “Itu bukanlah api, akan tetapi cahaya yang benderang.” Maka Musa terpaku takjub dengan apa yang dilihatnya, nuudiya am buurika min finnaari (“Diserulah dia: ‘Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu.’”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu disucikan.” Wa man haulaHaa (“dan orang-orang yang berada disekitarnya.”) yaitu para malaikat. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, al-Hasan dan Qatadah.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Musa ra. bahwa ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak patut bagi-Nya untuk tidur. Dia menaikkan dan menurunkan neraca. Amal malam hari akan naik kepada-Nya sebelum siang hari. Dan amal siang akan naik kepada-Nya sebelum amal malam hari.”

Al-Mas’udi menambahkan: “Hijabnya adalah cahaya atau api. Seandainya hal itu disingkapkan, niscaya bagian wajahnya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh pandangan.”

Kemudian Abu ‘Ubaidah membaca:
ambuurika man finnaari wa man haulaHuu (“‘Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu dan orang-orang yang ada di sekitarnya.’”) asal hadits ini dikeluarkan dalam shahih Muslim dari hadits ‘Amr bin Murrah.

Firman Allah: wa subhaanallaaHi rabbal ‘aalamiin (“Dan Mahasuci Allah Rabb semesta alam.”) yaitu Rabb Yang melakukan apa yang dikehendaki-Nya dang tidak ada satu makhluk pun yang menyerupai-Nya serta tidak satupun makhluk-Nya yang dapat menyelami ciptaan-Nya. Dia Mahatinggi lagi Mahabesar yang mengawasi seluruh makhluk-Nya dan tidak dihalangi oleh langit dan bumi, bahkan Dia lah Yang Mahaesa, segala sesuatu bergantung kepada-Nya yang suci dari pneyerupaan dengan makhluk.

Firman Allah Ta’ala: yaa muusaa innaHuu anallaaHul ‘aziizul hakiim (“[Allah berfirman]: ‘Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’”) yakni memberitahukan bahwa yang mengajak bicara dan berdialog dengannya adalah Rabb, Allah al-Aziiz Yang Mahaperkasa dan menundukkan segala sesuatu serta Mahabijaksana dalam segala perbuatan dan firman-Nya. Kemudian Musa diperintahkan untuk melemparkan tongkat dari tangannya untuk menampakkan suatu bukti nyata bahwa Dia adalah pelaku berkehendak yang Mahakuasa terhadap segala sesuatu. Ketika Musa melemparkan tongkat tersebut dari tangannya, saat itu juga berubah menjadi ular besar yang ganas dan lincah.

Untuk itu Allah berfirman: falammaa ra-aaHaa taHtazzu ka-annaHaa jaannnun (“Maka tatkala Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit.”) al-jaann; adalah sejenis ular yang amat gesit dan banyak bergerak. Ketika Musa menyaksikan hal tersebut, wallaa mudbiraw walam yu’aqqib (“Larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh.”) yaitu berpaling dengan cepat.

Yaa muusaa laa takhaf innii laa takhaafu ladayyal mursaluun (“Hai Musa, jangan kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan Rasul tidak takut di hadapan-Ku.”) yakni janganlah engkau takut terhadap apa yang engkau lihat. Sesungguhnya Aku hendak memilihmu menjadi Rasul dan menjadikanmu sebagai Nabi yang terkemuka.

Firman Allah Ta’ala: illaa man dhalama tsumma baddala husnam ba’da suu-in fa innii ghafuurur rahiim (“Tetapi orang yang berlaku dhalim, kemudian ditukarnya kedhalimannya dengan kebaikan [Allah akan mengampuninya]; maka sesungguhnya Aku Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) ini merupakan istisna munqathi’ [pengecualian terputus] dan mengandung kabar gembira yang sangat besar untuk manusia. Hal itu disebabkan bahwa barangsiapa yang dahulunya melakukan amal yang buruk, kemudian ia mencabut diri, kembali bertaubat dan berserah diri, maka Allah pasti menerima taubatnya, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Aku Mahapengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.” (ThaaHaa: 82). Sedangkan ayat-ayat yang menjelaskan masalah ini banyak sekali.

Firman Allah: wa adkhil yadaka fii jaibika takhruj baidlaa-a min ghairi suu-i (“Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya dia akan keluar putih bukan kerena penyakit.”) ini adalah tanda lain dan dalil yang kuat tentang kekuasaan Allah yang berbuat dan menentukan pilihan serta membenarkan orang yang diberikan mukjizat. Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala memerintahkan Musa untuk memasukkan tangannya ke kantong bajunya dan mengeluarkannya kembali, niscaya akan keluar cahaya putih bersinar seakan-akan sepotong bulan yang memiliki cahaya bersinar seperti sambaran kilat.

Firman Allah: fii tis’i aayaati (“termasuk sembilan buah ayat”) dua bagian ini adalah bagian dari sembilan ayat yang Aku jadikan sebagai pendukungmu dan Aku jadikan hal itu sebagai bukti nyata kepada Fir’aun dan kaumnya. innaHum kaanuu qauman faasiqiin (“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.”) inilah sembilan ayat yang difirmankan Allah swt: wa laqad aatainaa muusaa tis’a aayaatim bayyinaat (“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata.”) (al-Israa’: 101). Sebagaimana telah berlalu rincian yang demikian dalam tempatnya.

Firman Allah: falammaa jaa-atHum aayaatunaa mubshiratan (“Maka tatkala mukjizat-mukjizat Kami sampai kepada mereka mubshirah”) yakni secara jelas, nyata dan tampak. Qaaluu Haadzaa sihrum mubiiin (“Berkatalah mereka: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’”) dan mereka hendak mengalahkannya dengan sihir mereka, lalu mereka dikalahkan dan menjadikan mereka orang-orang yang hina, wa jahaduu biHaa (“dan mereka mengingkarinya”) dalam urusan mereka yang paling nyata.

wastaiqanatHaa anfusuHum (“Padahal hati mereka meyakininya”) mereka mengetahui dalam diri mereka bahwa hal tersebut adalah kebenaran dari sisi Allah, akan tetapi mereka mengingkari, menentang dan menyombongkan diri terhadapnya. Dhulumaw wa’uluwwan (“Karena kedhaliman dan kesombongan.”) yaitu mendhalimi diri mereka sebagai satu sifat yang terlaknat, dan ‘uluwwan yaitu sombong untuk mengikuti kebenaran. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: fandhur kaifa kaana ‘aaqibatul lilmufsidiin (“Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.”) perhatikanlah wahai Muhammad, bagaimana akibat perkara mereka dimana Allah membinasakan dan menenggelamkan mereka secara menyeluruh dalam satu waktu. Konsekuensi baliknya adalah Dia berfirman: “Waspadailah hai orang-orang yang mendustakan dan menentang apa yang dibawa oleh Muhammad dari apa yang menimpa orang-orang dahulu. Sesungguhnya Muhammad saw. adalah lebih mulia dan lebih besar daripada Musa.” Dalilnya lebih nyata dan lebih kuat daripada dalil Musa berupa dalil-dalil yang diberikan Allah swt. yang disertai dengan keberadaan dirinya dan biografinya serta tanda-tanda yang mendahuluinya dari para Nabi dan perjanjian yang diambil dari Rabb-nya.

Bersambung ke bagian 3