Arsip | 13.28

Percakapan Bahasa Arab 13: Pagi Hari

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

Percakapan Bahasa Arab 13: Pagi Hari

Percakapan Bahasa Arab 12: Perabot Rumah

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

Percakapan Bahasa Arab 12: Perabot Rumah

Percakapan Bahasa Arab 11: Apartemen

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

Percakapan Bahasa Arab 11: Apartemen

Percakapan Bahasa Arab 10: Tempat Tinggal

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

Percakapan Bahasa Arab 10: Tempat Tinggal

Nabi Muhammad saw. Mengizinkan Para Shahabat Hijrah ke Madinah

20 Mei

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Ibnu Sa’ad di dalam kitabnya ath-Thabaqat menyebutkan riwayat dari Aisyah ra., “Ketika jumlah pengikutnya mencapai tujuh puluh orang, Rasulullah saw. merasa senang karena Allah telah membuatkannya “benteng pertahanan” dari suatu kaum yang memiliki keahlian dalam peperangan, persenjataan, dan pembelaan. Akan tetapi penyiksaan adan permusuhan kaum musyrik terhadap kaum Muslimin semakin gencar dan berat. Mereka menerima cacian dan penyiksaan yang sebelumnya tidak pernah mereka alami sehingga para shahabat mengadu kepada Rasulullah saw. dan meminta izin untuk berhijrah. Pengaduan dan permintaan izin ini dijawab oleh Rasulullah saw., “Sesungguhnya akupun telah diberitahu bahwa tempat kalian adalah Yatsrib. Barangsiapa yang ingin keluar maka hendaklah keluar ke Yatsrib.”

Para shahabat pun kemudian bersiap-siap, mengema semua keperluan perjalanan, lalu berngkat ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Shahabat yang pertama kali sampai di Madinah adalah Abu Salamah bin Abdul Asad, kemudian Amir bin Rab’ah bersama istrinya, laila binti Abi hasyamah; dialah wanita yang pertama datang di Madinah dengan kendaraan menggunakan sekedup. Setelah itu para shahabat Rasulullah saw. datang secara bergelombang. Mereka turun di rumah-rumah kaum Anshar mendapatkan tempat dan perlindungan.

Tidak seorang pun dari shahbat Rasulullah saw. yang berani berhijrah secara terang-terangan kecuali Umar Ibnul Khaththab ra.
Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan bahwa ketika Umar ra. hendak berhijrah, ia membawa pedang, busur, panah, dan tongkat di tangannya menuju Ka’bah. Sambil disaksikan oleh tokoh-tokoh Quraisy, Umar ra. kemudian melakukan thawaf tujuh kali dengan tenang. Lalu datang ke Maqam mengerjakan shalat kemudian berdiri seraya berkata, “Semoga celakalah wajah-wajah ini! Wajah-wajah inilah yang akan dikalahkan Allah! Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anaknya, istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim piatu hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini!”

Selanjutnya Ali ra. mengatakan, “Tidak seorang pun berani mengikut Umar kecuali beberapa kaum lemah yang yang telah diberitahu oleh Umar. Umar kemudian berjalan dengan aman.”

Demikianlah secara berangsur-angsur kaum Muslimin melakukan hijrah ke Madinah sehingga tidak ada yang tertinggal di Makkah kecuali Rasulullah saw., Abu Bakar ra, Ali ra., orang-orang yang ditahan, orang-orang sakit, dan orang-orang yang tidak mampu keluar.

BEBERAPA IBRAH

Cobaan berat yang dihadapi oleh para shahabat Rasulullah saw. semasa di Makkah berupa gangguan, penyiksaan, cacian, dan penghinaan dari kaum musyrik. Setelah Rasulullah saw. mengizinkan mereka berhijrah, cobaan berat itu kini berupa meninggalkan rumah, tanah air, harta kekayaan dan keluarga.

Para shahabat dengan setia dan ikhlas kepada Allah menghadapi kedua bentuk cobaan tersebut. Semua penderitaan dan kesulitan mereka hadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Hingga ketika Rasulullah saw. memerintahkan mereka hijrah ke Madinah, tanpa merasa berat, mereka berangkat meninggalkan tanah air, kekayaan, dan rumah mereka. mereka tidak bisa membawa harta benda dan kekayaan mereka karena harus berangkat secara sembunyi-sembunyi. Semua itu mereka tinggalkan di Makkah untuk menyelamatkan agamanya dan mendapatkan ganti rugi berupa ukhuwah yang menantikan mereka di Madinah.

Inilah gambaran yang benar tentang pribadi Muslim yang mengikhlaskan agamanya kepada Allah, tidak memedulikan harta kekayaan, tanah air, dan kerabat demi menyelamatkan agama dan aqidahnya. Itulah yang dilakukan oleh para shahabat Rasulullah saw. di Makkah.

Bagaimana halnya para penduduk Madinah yang telah memberikan perlindungan dan pertolongan kepada mereka? sesungguhnya mereka telah menunjukkan keteladanan yang baik tentang ukhuwah Islamiyah dan cinta kepada Allah.

Tentu anda telah tahu bahwa Allah telah menjadikan persaudaraan aqidah lebih kuat ketimbang persaudaraan nasab. Karena itu, pewarisan harta kekayaan di awal Islam didasarkan pada asas aqidah, ukhuwah, dan hijrah di jalan Allah.

Hukum waris berdasarkan hubungan kerabat tidak ditetapkan kecuali setelah sempurnanya Islam di Madinah dan terbentuknya Darus Islam yang kuat. Firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah.” (al-Anfaal” 72)

Dari persyaratan hijrah ini, dapat diambil dua hukum syar’i:
Yang pertama, wajib berhijrah dari Darul harbi ke Darul Islam. Al-Qurthuby meriwayatkan pendapat Ibnu Arab, “Sesungguhnya, hijrah ini wajib pada masa Rasulullah saw. dan tetap wajib sampai hari kiamat. Hijrah yang terputus dengan fathul Makkah itu hanya di masa Nabi saw. Karena itu jika ada orang tetap tinggal di Darul Harbi, berart ia melakukan maksiat.”

Yang dimaksud dengan Darul Harbi adalah tempat dimana orang Muslim tidak dapat melakukan syiar-syiar Islam seperti shalat, puasa, berjamaah, adzan, dan hukum-hukum lain yang bersifat lahiriyah. Pendapat ini berdasarkan firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),” (an-Nisa’: 97-98)

Kedua, selama masih memungkinkan, sesama kaum muslimin wajib memberikan pertolongan sekalipun berlainan negara dan belahan bumi. Para Imam dan ulama sepakat bahwa kaum Muslimin, apabila mampu, wajib menyelamatkan orang-orang muslim yang tertindas, ditawan, atau dianiaya dimana saja. jika mereka tidak melakukannya, mereka berdosa besar.

Abu Bakar Ibnu Arabi berkata, “Jika ada di antara kaum Muslimin yang ditawan atau ditindas, kaum muslimin lainnya wajib menolong dan menyelamatkannya. Jika jumlah kita memadai untuk membebaskan mereka, kita wajib keluar atau megerahkan seluruh harta kekayaan kita, bila perlu sampai habis untuk membebaskan mereka.”

Sesama kaum Muslimin wajib saling menolong dan memberikan loyalitas. Akan tetapi, pemberian loyalitas, saling menolong atau persaudaraan ini tidak boleh dilakukan antara kaum Muslimin dan orang-orang non muslim. Secara tegas, Allah menyatakan hal ini dalam firman-Nya:
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (al-Anfaal: 73)

Ibnu Arabi berkata, “Allah memutuskan walayah [perwalian] antara orang-orang kafir dengan orang Mukmin, kemudian menjadikan orang-orang mukmin sebagian mereka menjadi pelindung bagi bagian yang lain. Sedangkan orang-orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain. Mereka saling menolong dan saling menentukan sikap berdasarkan agama dan aqidah mereka masing-masing.”

Tidak diragukan lagi bahwa pelaksanaan ajaran-ajaran Ilahi seperti ini merupakan asas dan pengkal kemenangan kaum Muslimin pada setiap masa. Sebaliknya, penbaian kaum muslimin terhadap ajaran-ajaran ini merupakan pangkal kelemahan dan kekalahan kaum muslimin yang kita saksikan sekarang ini di setiap tempat.

&

Percakapan Bahasa Arab 09: Adzan Shubuh

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

Percakapan Bahasa Arab 09: Adzan Shubuh

Percakapan Bahasa Arab 08: Silsilah Keturunan

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

Percakapan Bahasa Arab 08 ttg keturunan

Percakapan Bahasa Arab 07: Keluarga

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

percakapan bahasa arab ttg keluarga

Percakapan Bahasa Arab 06: Profesi 2

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

Percakapan Bahasa Arab 06: Profesi 2

Percakapan Bahasa Arab 05: Profesi 1

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

percakapan bahasa arab  ttg profesi