Arsip | 15.16

Halaman Blog Alqur’anmulia

21 Mei

Alam semesta: ditaklukkan untuk manusia

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Agama Islam adalah agama yang istimewa. Melalui pengarahan bahwa manusia telah diberi kekuasaan oleh Allah untuk memanfaatkan segala potensi alam semesta ini. Yang jelas, Allah telah menaklukkan alam semesta bagi manusia, mulai dari yang pengaruhnya besar, seperti matahari, hingga yang pengaruhnya kecil, seperti atom dan lebah.

Firman Allah:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 32-34)

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 29)

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya), Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). dan dengan bintang-bintang Itulah mereka mendapat petunjuk. Maka Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nahl: 12-18)

Ayat-ayat di atas dan juga ayat lain yang sejenis mendorong manusia untuk melembutkan hati, memuji Allah, menyukuri nikmat Allah, bertasbih kepada Allah, dan bertauhid kepada Allah, serta mampu mendidik daya afeksi dan emosional manusia untuk tunduk kepada Allah. Selain itu melalui ayat tersebut, akal manusia terdidik untuk terbiasa dalam kondisi ilmiah. Artinya kita menggunakan prinsip praktis dan penggunaan kaidah-kaidah ilmiah dalam mengolah potensi alam untuk kesejahteraan manusia.

Setiap ayat yang diturunkan sejak 14 abad silam, menuturkan pemanfaatan sinar matahari, cahaya bulan, tenaga angin, cahaya bintang, gunung-gunung, lautan, dan segala perkara yang telah ditundukkan Allah bagi manusia dan Allah pun telah memberikan kunci-kuncinya kepada manusia. Ketentuan tersebut mencakup segala perkara yang ada di bumi, sebagaimana difirmankan Allah:

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 29)

Dilihat dari segi pendidikan, al-Qur’an telah mendidik manusia dalam pemanfaatan alam semesta melalui cara yang tidak menyesatkan atau melampaui batas. Dengan demikian pemanfaatan tersebut mengotori air sungai, tidak berlebihan dalam memanfaatkan satwa lautan, serta tidak mendhalimi saudaranya lewat permusuhan atau dusta.

Melalui pendidikan Islam, manusia dididik untuk memanfaatkan alam semesta sesuai dengan perintah dan batas-batas syariat-Nya. Allah tidak mentoleransi kedhaliman dan permusuhan, bahkan Dia menyerukan agar manusia saling mengasihi dan saling bertanggung jawab. Jika manusia mengingat Allah dalam segala perilaku, perbuatan, dan dalam pemanfaatan segala fasilitas hidup, manusia akan terhindar dari kedurhakaan, permusuhan, kerusakan, dan kebohongan.

&

Alam semesta tunduk kepada Allah

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Dari bahasan terdahulu, kita dapat menyimpulkan bahwa seluruh semesta ini tunduk pada pengaturan, perintah, iradat dan kehendak Allah. Allah menjelaskan hal itu dalam berbagai ayat:

“Mereka [orang-orang kafir] berkata: ‘Allah mempunyai anak.’ Mahasuci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan apabila Dia berkehendak [untuk menciptakan] sesuatu, maka [cukuplah] Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah.’ Lalu jadilah ia.” (al-Baqarah: 117-118)

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada satupun melainkan bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. sesungguhnya Dia adalah Mahapenyantun lagi Mahapengampun.” (al-Israa’: 16-17)

Ketaatan dan ketundukan alam semesta membuktikan keagungan dan kesucian Allah. Maka manusia yang berfikir dan berakal, lebih layak lagi untuk mengakui nikmat dan karunia Allah, merasakan kebesaran-Nya, atau memuji dan menyucikan-Nya dengan bertasbih. Inilah pendidikan manusia yang paling mendasar.

&

Sunnatullah untuk Manusia

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Agar hidup manusia teratur, Allah telah menyusun sunnah-sunnah yang diberikan melalui para Rasul. Dengan Sunnah-Nya, Allah berhak mengadzab umat, membinasakan sebagian umat, menetapkan ajal, dan mengubah berbagai kondisi seperti yang digambarkan dalam firman-Nya:

“Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan Ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (ar-Ra’du: 10-11)

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan.” (Ali ‘Imraan: 137)

Sunnah-sunnah Allah tersebut sangat mempengaruhi kehidupan ilmuwan muslim. Dalam Muqadimah-nya Ibnu Khaldun memperoleh arah yang jelas dari sunnah-sunnah kemasyarakatan yang dituturkan dalam al-Qur’an, terutama dalam bahasan tentang asas-asas sosiologi.

&

Keteraturan semesta: Kekuasaan Allah

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Allah adalah penata sunnah semesta yang dengan topangan kekuasaan-Nya, Dia menjalankan dan mengatur semesta sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

“….dan Dia menahan [benda-benda] langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya…” (al-Hajj: 65)

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah…” (Fathir: 41)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu [juga] kamu keluar [dari kubur].” (ar-Ruum: 25)

Manusia merupakan bagian dari alam semesta ini. Karenanya dalam segala persoalan hidup dan matinya, manusia harus tunduk pada ketentuan Allah, Penguasa tertinggi dan sunnah-sunnah ciptaan-Nya.

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (al-An’am: 61)

&

Tunduknya semesta adalah takdir Allah

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Firman Allah:
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Yaasiin: 37-40)

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (al-Hijr: 19-21)

Peredaran matahari dan bulan pada garis edarnya tidak akan menyimpang dan tidak akan berbeda musimnya. Masing-masing berjalan menurut sunah kauniyah yang telah diciptakan Allah dan selaras dengan ketetapan Allah. Demikian pula dengan gerak kehidupan di bumi, Allah telah memberikan penghidupan yang sesuai dengan kadar dan ketentuan. Dia telah menurunkan sesuatu, hujan misalnya, kecuali menurut kadarnya. Kepada manusia, Allah telah mengajarkan ihwal perhitungan melalui pergantian siang dan malam, pergantian musim, dan bulan-bulan Komariyah.

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (Al-Israa’: 12)

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.” (al-An’am: 96)

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, seluruh ilmu hitung bertumpu pada pengulangan satuan bilangan yang sama dan penambahan bilangan yang satu ke bilangan yang lainnya. Konsep tersebut berlaku pada sistem penjumlahan, yang menambahkan berbagai kelompok bilangan yang berbeda; sistem perkalian yang mengulang kelompok bilangan yang sama; sistem pengurangan yang membuang salah satu satuan bilangan; serta sistem pembagian yang membagian perkalian satuan bilangan sejenis dan sama. Konsep tersebut melahirkan manusia-manusia yang pakar dalam bidang aritmatika, aljabar, kalkulus, diferensial, atau kalkulus integral. Dengan demikian konsep dasar bidang-bidang ilmu hitung itu lahir dari perhitungan hari, bulan, dan tahun yang semuanya itu berkaitan erat dengan kekuasaan Allah untuk menentukan rotasi bumi, bulan dan musim.

Dari gambaran di atas kita menemukan bahwa dalam mendidik manusia, al-Qur’an memiliki dua prinsip ilmiah yang melengkapi aspek pasivisme, finalitas dan logika. Dua prinsip itu adalah:

A. Berulangnya berbagai kejadian semesta melalui sunnah yang ditetapkan Allah. Dia yang Mahaagung dan Mahatinggi berkuasa mengubah sunnah itu jika Dia kehendaki. Prinsip itu merupakan landasan dalam berfikir ilmiah, dengan landasan itu, manusia bereksploitasi dan berkreasi dalam segala fenomena peradaban.

B. Kedua, sesungguhnya sunnah-sunnah semesta dengan segala kejadian, fenomena dan wujudnya, mulai dari yang berupa atom hingga yang terbesar, merupakan ciptaan Allah yang diturunkan sesuai dengan kadarnya, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada satupun perkara yang melampaui batasan-Nya dan merusak keseimbangan atau sistem lain yang berdekatan, baik dengan mempengaruhi maupun dipengaruhi. Prinsip tersebut telah diambil oleh ilmuwan muslim dari al-Qur’an dan dikembangkan dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dalam perkembangannya, ilmu-ilmu itu dikuasai oleh ilmuwan Eropa, terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan metode berfikir ilmiah, kaidah ilmu modern, dan logika. Prinsip inilah yang menunjukkan logika yang ilmiah, yaitu melakukan observasi ilmiah berdasarkan analogi kuantitatif, bukan berdasarkan deskripsi kualitatif. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan akal secara cermat dan mengambil segala sesuatu berdasarkan analogi.

&

Alam semesta: diciptakan untuk satu tujuan

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Alam semesta ini tidak diciptakan berdasarkan permainan atau senda gurau. Firman Allah:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (ad-Dukhaan: 38-39)
“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan [tujuan] yang benar dan dalam waktu yang ditentukan.” (al-Ahqaf: 3)

Kepada manusia disajikan berbagai pertanyaan dan anjuran untuk beribadat kepada Allah sekaligus mengesakan-Nya setelah manusia merenungkan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, firman Allah:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka Itulah orang-orang yang merugi. Katakanlah: “Maka Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 62-64, dan 67)

Pandangan Islam terhadap alam semesta menimbulkan berbagai dampak dalam bidang pendidikan, diantaranya adalah:

Pertama: keterkaitan seorang muslim dengan Pencipta semesta melalui tujuan yang paling tinggi, yaitu beribadat kepada Allah.
Kedua: mendidik manusia supaya bersungguh-sungguh karena seluruh semesta ini diciptakan untuk tujuan tertentu serta masa yang ditentukan pada sisi Allah, bukan untuk main-main atau senda gurau.

Firman Allah: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan [istri dan anak], tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, [tentulah Kami telah melakukannya].” (al-Anbiyaa’: 16-17)

Ayat tersebut mengajak manusia untuk mencapai tujuan dari berbagai fenomena semesta melalui cara yang serius, tanpa main-main, senda gurau, dan kesia-siaan. Selain itu, hendaknya, perenungan terhadap alam semesta ini merupakan perenungan yang logis dan ilmiah. Untuk mewujudkan ini, al-Qur’an mengarahkan pandangan si perenung pada masalah-masalah yang lebih mendalam.

&

Ibadah kepada Allah: tugas tertinggi manusia

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Seluruh tugas manusia dalam hidup ini, berakumulasi pada tanggung jawabnya untuk beribadah dan mengesakan Allah sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya ini:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzaariyaat: 56)

“Dan sesungguhnya, masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah sesuatupun di dalamnya disamping [menyembah] Allah.” (al-Jinn: 18)

&

Tanggung Jawab Manusia

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Islam bukan hanya memuliakan, mengunggulkan, dan mengistimewakan manusia atas makhluk lainnya. Sejalan dengan ini Islam pun memberikan tanggung jawab yang disertai balasan sepadan. Islam membebani manusia dengan tanggung jawab penerapan syariat Allah dan perwujudan penghambaan kepada-Nya. Padahal, makhluk-makhluk lain tidak bersedia memikul tanggung jawab tersebut. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 72-73)

Sejalan dengan kebebasan, kehendak, dan kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan, Allah telah menentukan balasan atau balasan yang setimpal dengan alternatif yang dipilih manusia, apakah yang dipilihnya itu kebaikan ataukah keburukan? Untuk itu Al-Qur’an mengatakan:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat [balasan]nya pula.” (al-Zalzalah: 7-8)

Atas pendengaran, penglihatan, hati dan seluruh anggota tubuh yang diberikan Allah, manusia bertanggung jawab untuk memanfaatkan semuanya dalam jalan kebaikan sebagaimana firman Allah berikut:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Israa’: 36)

Rasa tanggung jawab itu akan terpelihara di dalam diri manusia yang sadar, selalu ingat, adil, jauh dari penyelewengan, tidak tunduk pada hawa nafsu, jauh dari kedhaliman dan kesesatan serta istiqamah dalam segala perilaku. Rasulullah pun mengatakan bahwa manusia itu bertanggung jawab atas harta, umur dan kemudaannya lewat sabdanya ini:

“Tidaklah beranjak kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum dimintai pertanggungjawaban empat hal ini: tentang usia, dihabiskan untuk apa usia itu; tentang ilmu pengetahuan diamalkan untuk apa ilmunya itu; tentang harta, diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa hartanya itu; dan tentang tubuhnya, dilusuhkan untuk apa tubuhnya itu.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

&

Manusia: Makhluk yang Dapat Dididik

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Allah telah membekali manusia dengan kemampuan untuk belajar dan mengetahui sebagaimana firman-Nya ini:
“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 3 dan 5)

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 31-32)

Allah pun telah menganugerahi manusia berbagai sarana untuk belajar, seperti penglihatan, pendengaran, dan hati sebagaimana firman Allah:
“… dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (an-Nahl: 78)

Sehubungan dengan itu, al-Maududi mengatakan: “Pendengaran merupakan pemeliharaan pengetahuan yang diperoleh dari orang lain. Penglihatan merupakan pengembangan pengetahuan dengan hasil observasi dan penelitian yang berkaitan dengannya. Hati merupakan sarana membersihkan ilmu pengetahuan dari kotoran dan noda sehingga lahirlah ilmu pengetahuan yang murni. Jika ketiga pengetahuan itu dipadukan, terciptalah ilmu pengetahuan yang sesuai dengan yang dikaruniakan Allah kepada manusia yang hanya dengan ilmu pengetahuan itulah manusia mampu mengatasi dan menundukkan makhluk lain agar tunduk pada kehendaknya.”

Jika manusia tidak memanfaatkan sarana-sarana pendidikan tersebut, Allah swt. menggolongkan mereka dalam kehinaan sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut ini:

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raaf: 179)

Sarana pendidikan lain yang dimiliki manusia adalah bahasa, kemampuan untuk mengeluarkan gagasan, dan kemampuan untuk menulis. Keberadaan sarana pendidikan tersebut ditegaskan dalam firman Allah berikut:
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan bibir?” (al-Balad: 8-9)
“[Tuhan] Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarkannya pandai berbicara.” (ar-Rahmaan: 1-4)
“Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (al-Qalam: 1)

Melalui berfikir dan belajar, diharapkan manusia mampu mempelajari dan memahami syariat-syariat Allah. Lebih jelasnya lagi, Allah berfirman:
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 129)

Lewat inipun manusia diajak untuk mentafakuri penciptaan langit, bumi, dan dirinya sendiri sebagaimana firman Allah:
“Dan [juga] pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (adz-Dzaariyaat: 21)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan?” (al-Ghaasyiyah: 17)
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang buta dengan orang yang melihat?’ maka apakah kamu tidak memikirkan[nya]?” (al-An’am: 50)

Ayat-ayat di atas telah menegaskan bahwa Allah telah menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana untuk merenung, tafakur, berfikir jernih, serta meneliti alam semesta ini. Kemudian dengan akal dan hatinya, manusia mengolah alam ini untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Kita didik secara ilmiah melalui berfikir, observasi, diskusi, hingga penyimpulan sampai akhirnya kita dapat meraih ilmu pengetahuan dan menghasilkan sesuatu. Jika demikian, sangat terasa penyia-nyiaan kita terhadap fungsi pendengaran, penglihatan, dan hati sehingga yang asalnya umat Islam menjadi pemimpin atas umat lainnya, kini kita harus menyaksikan kemajuan orang lain.

&