As-Sunnah: Teladan Pendidikan Islam

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Setelah al-Qur’an, pendidikan Islam menjadikan as-Sunnah sebagai dasar dan sumber kurikulumnya. Secara harfiah, sunnah berarti jalan, metode dan program. Sedangkan secara istilah, sunnah adalah sejumlah perkara yang dijelaskan melalui sanad yang shahih, baik itu berupa perbuatan, perkataan, peninggalan, sifat, pengakuan, larangan, hal yang disuka dan dibenci, peperangan, tindak-tanduk, dan seluruh kehidupan Nabi saw. Pada hakekatnya, keberadaan sunnah ditujukan untuk mewujudkan dua sasaran, yang pertama, menjelaskan apa yang terdapat dalam al-Qur’an. Tujuan ini diisyaratkan dalam firman-Nya:

“….Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.” (an-Nahl: 44)

Kedua, menjelaskan syariat dan pola perilaku sebagaimana ditegaskan Allah:
“Dialah yanag mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah [as-Sunnah]…” (al-Jumu’ah: 2)

Ayat tersebut merujuk pada keberadaan as-Sunnah sebagaimana ditafsirkan oleh Imam Syafi’i dan jalan ilmiah untuk mewujudkan ajaran-ajaran al-Qur’an. Tujuan ini ditegaskan oleh Sabda Rasulullah saw.:
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab dan sesuatu yang seperti al-Kitab itu.”

Dalam dunia pendidikan, as-Sunnah memiliki dua manfaat pokok.
Manfaat pertama, as-Sunnah mampu menjelaskan konsep dan kesempurnaan pendidikan Islam sesuai dengan konsep al-Qur’an, serta lebih merinci penjelasan al-Qur’an. Kedua, as-Sunnah dapat menjadi contoh yang tepat dalam penentuan pendidikan. Misalnya kita dapat menjadikan kehidupan Rasulullah saw. dengan para shahbat atau pun anak-anak sebagai sarana penanaman keimanan.

Rasulullah saw. adalah sosok pendidik yang agung dan pemilik metode pendidikan yang unik. Beliau sangat memperhatikan manusia sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, dan kemampuan akalnya, terutama jika beliau berbicara dengan anak-anak. Jenis bakat dan kesiapan pun merupakan pertimbangan beliau dalam mendidik manusia. Kepada wanita beliau mamahami fitrahnya sebagai wanita. Kepada laki-laki beliau memahami fitrahnya sebagai laki-laki. Dan seterusnya. Biliau sangat memahami kondisi naluriah setiap orang sehingga beliau mampu menjadikan mereka suka cita, baik material maupun spiritual. Beliau senantiasa mengajak setiap orang untuk mendekati Allah dan syariat-Nya sehingga terpeliharalah fitrah manusia melalui pembinaan diri setahap demi setahap, penyatuan kecenderungan hati, dan pengarahan potensi menuju derajat yang lebih tingggi. Lewat cara itulah beliau membawa masyarakat pada kebangkitan dan ketinggian derajat.

Sebagian ulama Islam telah menemukan tujuan-tujuan pendidikan kenabian tersebut yang kemudian mereka klasifikasikan menjadi kelompok hadits yang memiliki tujuan pendidikan tertentu, seperti yang terdapat dalam at-Targhib wat Tarhib, karya ahli hadits Abdul ‘Adhim al-Mundziri (581-656). Materi buku tersebut meliputi hadits-hadits pembinaan diri yang mendorong manusia untuk mencintai amal kebaikan dan menjauhi keburukan. Buku tersebut terdiri atas beberapa jilid yang materinya meliputi berbagai masalah kehidupan material, spiritual, harta, jasmaniah, individual, sosial, ritual dan pemikiran.

Selain itu, ada juga ulama yang mengklasifikasikan hadits dari kehidupan praktis Rasulullah saw. yang kemudian juga disusun menjadi buku seperti Tuhfah al-Maudud fii Ahkam al-Maulud nya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dan al-‘Adab al-Mufrad nya Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.

Buku-buku tersebut sarat dengan konsepsi Nabi dalam mendidik dan memperlakukan anak-anak dan anak yatim, seperti mengungkapkan rasa sayang, mencium, bersenda gurau dan lain-lain. Buku itupun dilengkapi dengan konsep yang berhubungan dengan etika masyarakat.

Di dalam Adab al-Mufrad, materi dilengkapi dengan bahasa tentang sahabat dan tabi’in. Penyusunan buku itupun tidak berpegang teguh pada syarat tertentu seperti yang dipegang pengarangnya ketika menyusun al-Jami’ ash-Shahih. Cara penyusunannya lah yang membedakan buku tersebut dengan shahih Bukhari. Tampaknya buku-buku yang berhubungan dengan pendikan Islam banyak yang bisa dijadikan sebagai referensi pendidikan Islam.

&

Satu Tanggapan to “As-Sunnah: Teladan Pendidikan Islam”

  1. Anandatoer 10 Juli 2015 pada 01.00 #

    Reblogged this on Anandatoer’s Weblog and commented:
    Setelah Al-Qur’an, pendidikan Islam menjadikan as-Sunnah sebagai dasar dan sumber kurikulumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: