Arsip | 16.46

BismillaaHir rahmaanir rahiim

22 Mei

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 41-44 (10)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 41-44“41. Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; Maka kita akan melihat Apakah Dia Mengenal ataukah Dia Termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”. 42. dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan Kami adalah orang-orang yang berserah diri”. 43. dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena Sesungguhnya Dia dahulunya Termasuk orang-orang yang kafir. 44. dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala Dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (an-Naml: 41-44)

Tatkala singgasana Balqis didatangkan kepada Sulaiman sebelum kedatangan sang ratu, maka ia memerintahkan untuk merubah sebagian sifatnya agar ia dapat menguji pengetahuan dan kemantapan sang ratu saat melihatnya. Apakah ia dapat mengenalnya sebagai singgasananya sendir atau bukan singgasananya. Dia berkata:

Nakkiruu laHaa ‘arsyaHaa nandhur ataHtadii am takuunu minal ladziina laa yaHtaduun (“Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal[nya]?”)
Ibnu ‘Abbas berkata: “Ia mencabut untaian permata dan perhiasannya.”
Qatadah berkata: “Yang ada di bawah dijadikan di atas dan yang ada di depan dijadikan di belakang. Mereka menambah dan menguranginya.”

Falammaa jaa-at qiila a Hakadzaa ‘arsyuki (“ketika Balqis datang, ditanyakan kepadanya, ‘Serupa inikah singgasanamu?’”) singgasana diperlihatkan kepadanya, padahal telah dirubah, dihapus, ditambah dan dikurangi. Sang ratu tetap kokoh dan berakal serta memiliki kecerdasan, kepandaian dan kekuatan. Dia tidak mengatakan itu sebagai singgasananya karena kejauhan jaraknya dan diapun mengatakan bahwa itu bukan singgasananya, karena ia melihat tanda-tanda dan sifat-sifatnya yang sama, sekalipun telah dirubah dan dihapus. Ia berkata: ka annaHuu Huwa (“Seakan-akan singgasana ini adalah singgasanaku.”) serupa dan hampir sama. Ini menunjukkan kecerdasan dan kepandaiannya yang sangat tajam.

Perkataannya: wa uutiinal ‘ilma min qabliHaa wa kunnaa muslimiin (“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”) Mujahid berkata, “Demikian Sulaiman berkata”, dan firman Allah Ta’ala: wa shaddaHaa maa kaanat ta’budu min duunillaaHi innaHaa kaanat min qaumin kaafiriin (“Dan apakah yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya [untuk melahirkan keislamanya] karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.”) ini merupakan kelengkapan kata-kata Sulaiman as. menurut pendapat Mujahid dan Sa’id bin Jubair, yaitu Sulaiman as. berkata: wa uutiinal ‘ilma min qabliHaa wa kunnaa muslimiin (“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”) dan sungguh ia sudah shaddaHaa, yaitu telah mencegahnya untuk beribadah kepada Allah yang Esa. maa kaanat ta’budu min duunillaaHi innaHaa kaanat min qaumin kaafiriin (“selama ini yang diibadahinya selain Allah, mencegahnya [untuk melahirkan keislamanya] karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.”) inilah yang dikatakan oleh Mujahid, Sa’id dan al-Hasan serta dikatakan pula oleh Ibnu Jarir.

Perkataannya: qiila laHadkhulish sharha falammaa ra-atHu lujjataw wa kasyafat ‘an saaqaiHaa (“Dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam istana.’ Maka tatkala ia meliahat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.”) sesungguhnya Sulaiman as. memerintahkan syaitan-syaitan untuk membangunkannya istana besar dari kaca yang dialirkan air di bawahnya. Orang yang tidak tahu hal itu, pasti menyangkanya sebagai air. Akan tetapi kaca tersebut menjadi dinding antara air tersebut dengan orang yang berjalan di atasnya. Ketika sang ratu menghadap Sulaiman, maka Sulaiman menyerunya untuk beribadah kepada Allah Yang Mahaesa serta mencela sikapnya yang menyembah matahari, sesembahan selain Allah.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Ketika ratu tersebut melihat istana, ia mengetahui, demi Allah, bahwa ia melihat suatu kerajaan yang lebih besar daripada kerajaannya.”
falammaa ra-atHu lujjataw wa kasyafat ‘an saaqaiHaa (“Maka tatkala ia meliahat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.”) ia tidak ragu lagi bahwa itu adalah air yang menggenanginya. Dikatakan kepadanya: innaHuu sharhum mumarradum min qawaariir (“Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.”)
qaalat rabbi innii dhalamtu nafsii wa aslamtu ma’a Sulaimaana lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Berkatalah Bilqis: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat dhalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.”) lalu ia masuk Islam dan keislamannya baik. Dan hanya milik Allah segala puji.
Asal makna “ash-Sharh” dalam bahasa Arab adalah istana dan setiap bangunan yang tinggi.

Allah berfirman mengabarkan tentang Fir’aun –laknatullah- bahwa ia berkata kepada menterinya, Hamman: ibnilii sharhal la’allii ablughu asbaab (“Buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu”) (al-Mukmin: 36). Ash-Sharh adalah suatu istana di Yaman yang gedung-gedungnya tinggi, sedangkan al-Mumarrad adalah sebuah bangunan yang kokoh dan licin, min qawaariir; yaitu dari kaca.
Melicinkan bangunan adalah dengan menghaluskannya. Dan maarid adalah sebuah benteng di Daumatul Jandal.

Tujuan Sulaiman membuat istana besar yang megah dari kaca untuk kerajaannya ini agar ia perlihatkan kepada ratu tentang besar dan kokohnya kekuasaan yang ia miliki. Ketika ia melihat apa yang diberikan Allah Ta’ala kepada Sulaiman dan melihat sendiri perkaranya, ia mulai tunduk kepada perintah Allah Ta’ala dan mengetahui bahwa Sulaiman adalah seorang Nabi yang mulia dan raja yang agung serta iapun berserah diri kepada Allah swt. Ia berkata: rabbi innii dhalamtu nafsii (“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat dhalim terhadap diriku.”) dengan perlakuannya yang terdahulu, dimana ia dan kaumnya kufur, syirik dan menyembah matahari, sesembahan selain Allah.

wa aslamtu ma’a Sulaimaana lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.”) yaitu mengikuti agama Sulaiman dalam beribadah hanya kepada Allah Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia yang menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukurannya.

Bersambung ke bagian 11

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 38-40 (9)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 38-40“38. berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. 39. berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. 40. berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (an-Naml: 38-40)

Muhammad bin Ishaq berkata, bahwasannya Yazid bin Ruman berkata, Ketika para utusan kembali kepada sang ratu dengan membawa pesan dari Sulaiman, ratu pun berkata: “Sungguh demi Allah, aku tahu dia bukanlah seorang raja dan kita tidak memiliki kemampuan serta tidak kuasa untuk menentangnya sedikitpun. Aku akan mengutus kepadanya untuk mengabarkan bahwa aku akan datang membawa raja-raja kaumku, untuk aku lihat apa perintahnya dan agama apa yang ia serukan kepada kami.”

Kemudian dia memerintahkan penjagaan singgasana kerjaan tempat duduknya, lalu dibuatlah 7 buah pertahanan yang saling menyambung dan dikuncinya pintu-pintu tersebut. Lalu ia berkata kepada para pengawal yang yang ditinggal di kerajaannya: “Jagalah apa yang sudah ada sebelummu dan singgasana kerajaanku. Jangan ada seorang hamba Allah yang mampu lolos menembusnya dan jangan pula ada seorang pun yang melihatnya sampai aku datang.”

Lalu sang ratu menuju kerajaan Sulaiman dengan didampingi 12.000 orang. Satu pendapat mengatakan bahwa para raja Yaman berada di bawah kekuasaannya. Pendapat lain mengatakan, lebih dari 12.000 orang, hingga Sulaiman mengutus jin untuk mengawasi mereka, baik di perjalanan maupun di tempat sampainya, sepanjang siang dan malam. Sehingga ketika rombongan itu sudah dekat, Sulaiman mengumpulkan bala tentaranya di kalangan jin dan manusia yang berada di bawah kekuasaannya. Lalu ia berkata: yaa ayyuHal mala-u ayyukum ya’tinii bi’arsyiHaa qabla ay ya’tuunii muslimiiin (“Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”)

Qaala ‘ifritum minal jinni (“Berkata ‘ifrit [yang cerdik] dari golongan jin”) Mujahid berkata, “Yaitu jin pembangkang.” Syu’aib al-Jubba-i berkata: “Namanya adalah Kuzan.” Demikian yang dikatakan oleh Muhammad bin Ishaq, dari Yazid bin Ruman dan dikatakan pula oleh Wahb bin Munabbih. Sedangkan Abu Shalih berkata, “Dia seakan-akan seperti gunung.”
Ana aatiika biHii qabla an taquuma mim maqaamik (“Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari maqammu.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu sebelum engkau berdiri dari majelismu.” Mujahid berkata, “Yaitu dari tempat dimana ia duduk untuk memberikan keputusan dan hukuman kepada manusia serta untuk makan dari pagi hingga tergelincir matahari.”

Wa innii ‘alaiHi laqawiyyun amiin (“Sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya dan dapat dipercaya.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu kuat untuk membawanya dan dapat dipercaya untuk menjaga perhiasan yang ada di dalamnya.” Lalu Sulaiman as. berkata, “Aku ingin yang lebih cepat dari itu.”
Dari sini tampak jelas bahwa Sulaiman ingin mendatangkan singgasana tersebut untuk menujukkan kebesaran kerajaan yang diberikan Allah kepadanya serta bala tentara yang dikuasainya, dimana hal tersebut belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumnya serta tidak ada sesudahnya.
Begitu pula hal tersebut menjadi hujjah kenabiannya di hadapan ratu Balqis dan rakyatnya. Karena hal ini merupakan peristiwa yang sangat besar dan luar biasa, dimana ia dapat membawa singgasana sang ratu sebelum mereka datang, padahal semuanya ditutup secara rapat dan terjaga. Ketika Sulaiman berkata, “Aku ingin yang lebih cepat daripada itu.” Qaalal ladzii ‘indaHuu ‘ilmum minal kitaabi (“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu Ashif, sekretaris Sulaiman.” Demikian yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq, dari Yazid bin Ruman bahwa laki-laki itu adalah Ashif bin Barkhiya. Dia adalah orang shiddiq [patuh beragama] yang mengetahui ismun A’zham.

Ana aatiika biHii qabla ay yartadda ilaika tharfuka (“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”) yaitu angkat pandanganmu dan lihatlah sepanjang kemampuan pandanganmu, karena engkau tidak akan melelahkan pandanganmu itu kecuali singgasana itu sudah hadir di hadapanmu. Wahb bin Munabbih berkata, “Tutuplah matamu, maka tidak mencapai sekejap pasti aku sudah membawanya kepadamu. Mereka menceritakan bahwa dia diperintahkan untuk memandang Yaman, tempat singgasana yang dicari itu berada, kemudian ia berdiri dan berwudlu’ serta berdoa kepada Allah Ta’ala.”

Muhahid berkata, “Dia berdoa: yaa dzal jalaali wal ikraam [wahai Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan.].” az-Zuhri berkata: “Ia berdoa: yaa IlaHanaa wa ilaaHa kullu syai-in ilaaHaw waahidal laa ilaaHa illaa anta i’tunii bi’arsyiHaa (ya Ilah kami dan Ilah segala sesuatu, Ilah yang Esa, tidak ada Ilah kecuali Engkau, datangkanlah kepadaku singgasananya). Dia mencontohkannya di hadapannya.”

Mujahid, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ishaq, Zubair bin Muhammad dan selain mereka berkata: “Tatkala ia berdoa dan meminta kepada Allah untuk didatangkan singgasana Balqis yang berada di Yaman, sedangkan Sulaiman berada di Baitul Maqdis, tiba-tiba singgasana itu hilang menembus bumi, kemudian muncul di hadapan Sulaiman.”
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Sulaiman tidak merasakan sesuatu kecuali singgasana itu telah berada di hadapannya.” Dia berkata: “Ini dibawa oleh para hamba [Allah yang ada di] laut.” Ketika Sulaiman dan para pembesarnya menyaksikan hal itu serta melihatnya berada di sisinya, qaala Haadzaa min fadl-li rabbii (“Ia pun berkata, ‘ Ini termasuk karunia Rabb-ku.’”) yaitu ini adalah di antara nikmat-nikmat Allah kepadaku, liyabluwanii; yaitu untuk mengujiku, a asykuru am akfuru wa man syakara fa innamaa yasykuru linafsiHi (“apakah aku bersyukur atau mengingkari. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk [kebaikan] dirinya sendiri.”

Perkataannya: wa man kafara fa inna rabbii ghaniyyun kariim (“dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya dan Mahamulia.”) yaitu Dia Mahakaya terhadap hamba-hamba-Nya dan tidak membutuhkan peribadahan mereka. dia Mahakarim, yaitu Maha-mulia pada diri-Nya sendiri meskipun tidak ada satu pun yang beribadah kepada-Nya. Karena kebesaran-Nya tidak membutuhkan kepada seseorang pun.

Dalam shahih Muslim dijelaskan: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kamu, manusia maupun jin semuanya bertakwa kepada-Ku seperti orang yang paling bertakwa di antara kamu, maka hal tersebut tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang yang pertama hingga yang terakhir di antara kamu, manusia maupun jin berhati jahat seperti orang paling jahat di antara kamu, maka hal tersebut tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya semua itu adalah perbuatanmu, kemudian Aku akan membalasnya. Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah menyesali kecuali dirinya sendiri.”

Bersambung ke bagian 10

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 36-37 (8)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 36-37“36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. 37. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak Kuasa melawannya, dan pasti Kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”. (an-Naml: 36-37)

Banyak ahli tafsir dari kalangan ulama salaf dan lain-lain menceritakan bahwa ia mengirimkan sebuah hadiah besar untuknya yang berisi emas, permata, intan dan lain-lain, wallaaHu a’lam. Yang jelas bahwa Sulaiman as. sama sekali tidak melihat dan tidak memperhatikannya, bahkan ia menolaknya. Dia berkata mengingkari sikap mereka: atumidduunani bimaal (“Apakah patut kamu menolongku dengan harta?”) yakni apakah kalian mendukungku dengan harta agar aku membiarkan kalian dalam syirik dan kekuasaan kalian?

Famaa aataaniyallaaHu khairum mimmaa aataakum (“Apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu.”) yaitu kerajaan, harta dan balatentara yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang kalian miliki.
Bal antum biHadiyyatikum tafrahuun (“Tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.”) yakni kalian adalah orang-orang yang tunduk pada hadiah dan bingkisan. Adapun aku, tidak akan menerima keculi Islam atau pedang.
Irji’ ilaiHim (“Kembalilah kepada mereka”) yaitu kembalikanlah hadiah mereka.

Falana’tiyannaHum bijunuudil laa qibala laHum biHaa (“Sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya.”) tidak kuasa membunuh mereka.
Wa lanukhrijannaHum minHaa adzillatun (“dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri ini [Saba’] dengan terhina.”) yaitu kami pasti akan mengusir mereka dari negeri mereka dengan kehinaan.
Wa Hum shaaghiruun (“Dan mereka menjadi [tawanan-tawanan] yang hina dina”) yaitu terhina lagi terjajah. Ketika utusannya kembali dengan membawa hadiahnya serta membawa berita tentang kata-kata Nabi Sulaiman, ia dan kaumnya mendengarkan dan mentaatinya serta menerima apa yang akan dilakukan kepada bala tentaranya dengan penuh kerendahan dan pengagungan kepada Sulaiman as. serta berniat mengikutinya dalam keislaman. Ketika Sulaiman as. mendapat kepastian tentang kedatangan mereka, dia gembira dan senang.

Bersambung ke bagian 9

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 32-35 (7)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 32-35“32. berkata Dia (Balqis): “Hai Para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”. 33. mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. 34. Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia Jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. 35. dan Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”. (An-Naml ayat 32-35)

Ketika ratu telah membacakan surat Nabi Sulaiman as. kepada mereka, ia pun bermusyawarah dengan mereka tentang urusan tersebut dan apa [kira-kira] yang akan terjadi. Untuk itu ia berkata, yaa ayyuHal mala-u aftuunii fii amrii maa kuntu qaathi’atan amran hattaa tasyHaduun (“Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku [ini], aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”.) yaitu hingga kalian datang dan mengemukakan pendapat kalian.

Qaaluu nahnu uluu quwwatiw wa uluu ba’sin syadiidin (“mereka menjawab: ‘Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan [juga] memiliki keberanian yang sangat [dalam peperangan],’”) mereka menyebutkan kuantitas, kualitas dan kekuatan mereka, dan setelah itu mereka menyerahkan urusan tersebut kepada sang ratu. Mereka berkata: wal amru ilaiki fandhurii maa dzaa taraa (“keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.) kami tidak memiliki kebiasaan membangkang dan juga tidak mengapa bagi kami jika engkau hendak mendatangi dan memeranginya. Setelah itu semua, terserah padamu, maka perintahkanlah kami dengan pendapatmu yang akan kami junjung tinggi dan taati.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mereka menyerahkan urusan mereka kepada sang ratu. Ketika mereka telah mengemukakan pendapat, maka tentu ratu memiliki pendapat yang lebih kuat dan lebih mengerti tentang urusan Nabi Sulaiman.” Ratu berkata kepada mereka: “Aku takut, jika memerangi dan membangkang kepadanya, dia akan datang kepada kita dengan membawa bala tentaranya dan menghancurkan kita serta membuat kehancuran dan kebinasaan tanpa sisa.” Untuk itu ia berkata:

Iinal muluuka idzaa dakhaluu qaryatan afsaduuHaa (“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka menghancurkannya.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu apabila mereka memasuki suatu negeri untuk mengadakan penyerangan, niscaya mereka menghancurkannya, yaitu membinasakannya.” Wa ja’aluu a-‘izzata aHliHaa adzillatan (“Dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina”) mereka mengincar para pembesar dan tentara untuk dihinakan serendah-rendahnya, baik dengan membunuhnya maupun menawannya.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Balqis berkata: ‘Iinal muluuka idzaa dakhaluu qaryatan afsaduuHaa Wa ja’aluu a-‘izzata aHliHaa adzillatan (“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka menghancurkannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina”)
Rabb berfirman: wa kadzaalika yaf’aluun (“Dan memang demikianlah yang mereka perbuat.”)
Kemudian dia mencoba melakukan perundingan, perdamaian, diplomasi dan dialog, dimana dia berkata: wa innii mursilatun ilaiHim biHadiyyatin fanaadhiratun bimaa yarji’ul mursaliin (“Dan sesungguhnya aku akan mengirimkan utusan kepada mereka dengan [membawa] hadiah, dan [aku akan] menunggu apa yang akan dibawa oleh utusan-utusan itu.”) yakni aku akan mengutus seseorang untuk membawa hadiah yang pantas dan aku akan tunggu apa yang akan dijawabnya. Mudah-mudahan ia mau menerimanya dan menahan diri dari menyerang kita. Atau ia akan menetapkan pajak yang harus kita serahkan kepadanya setiap tahun dan tidak membunuh dan menyerang kita.”

Qatadah berkata, “Dia tetap paling cerdik, baik pada masa keislaman maupun di saat dia masih musyrik. Dia mengetahui bahwa hadiah akan sangat berpengaruh pada manusia.” Ibnu ‘Abbas dan lain-lain berkata, “Ia berkata kepada kaumnya, jika ia mau menerima hadiah itu berarti ia adalah seorang raja, maka perangilah ia. Dan jika ia tidak menerimanya, itu berarti ia adalah seorang Nabi, maka ikutilah dia.”

Bersambung ke bagian 8

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 27-31 (6)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 27-31“27. berkata Sulaiman: “Akan Kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu Termasuk orang-orang yang berdusta. 28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” 29. berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. 30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 31. bahwa janganlah kamu sekalian Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. (an-Naml: 27-31)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang pendapat Sulaiman kepada Hud-Hud di saat ia telah menyampaikan kabar tentang Saba’ dan kerajaannya: qaala sanandhuru ashadaqta am kunta minal kaadzibiin (“Berkata Sulaiman: ‘Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”) yakni apakah engkau jujur dalam berita yang engkau sampaikan ini.
am kunta minal kaadzibiin (“ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”) dalam pembicaraanmu untuk sekedar melepaskan diri dari ancaman yang aku berikan.

idzHab bikitaabii Haadzaa fa-alqaH ilaiHim tsumma tawalla ‘anHum fandhur maa dzaa yarji’uun (“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”) untuk itu Nabi Sulaiman menulis sepucuk surat kepada Balqis dan Rakyatnya. Surat itu diberikan kepada Hud-Hud untuk dibawanya. Menurut satu pendapat, ia membawa surat itu pada sayapnya sebagaimana kebiasaan burung. Pendapat lain mengatakan, di paruhnya. Lalu ia pergi ke istana Bilqis ke sebuah tempat yang digunakannya untuk menyendiri. Maka ia segera menjatuhkannya melalui sebuah celah yang ada di hadapannya. Kemudian ratu berpaling ke arah sisi dengan penuh adab dan wibawa dan ia tampak heran dengan apa yang dilihatnya. Lalu ia mengambil surat itu, kemudian membuka stempel dan membacanya. Di dalamnya tertulis:

innaHuu min sulaimaana wa innaHuu bismillaaHir rahmaanir rahiim. Allaa ta’luu ‘alayya wa’tuunii muslimiin (“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”)

Maka ia mengumpulkan para gubernur, para menteri dan para pejabat negara serta pembesar kerajaannya dan berkata kepada mereka: yaa ayyuHal mala-u innii ulqiya ilayya kitaabun kariim (“Hai para pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.”) yaitu dengan penuh hormat, dimana ia melihat urusan yang cukup aneh saat seekor burung membawa sepucuk surat lalu melemparkannya, setelah itu ia pergi dengan penuh hormat. Ini adalah satu perkara yang tidak mampu dilakukan oleh seorang raja pun serta tidak ada jalan bagi mereka untuk melakukannya. Kemudian ia bacakan surat itu kepada mereka. innaHuu min sulaimaana wa innaHuu bismillaaHir rahmaanir rahiim. Allaa ta’luu ‘alayya wa’tuunii muslimiin (“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”)

Mereka mengetahui bahwa surat itu berasal dari seorang Nabiyullah, yaitu Sulaiman as. padahal dia belum pernah bertemu mereka. Surat ini berisi sastra yang cukup tinggi, karena mengandung makna yang cukup luas, dengan menggunakan ungkapan yang paling mudah dan paling baik. Para ulama berkata, “Tidak ada seorang pun yang menulis BismillaaHir rahmaanir rahiim sebelum Sulaiman as.” Maimun bin Mihran berkata, “Dahulu, Rasulullah saw. menulis surat dengan bismikallaaHumma, hingga diturunkan ayat ini. Lalu beliau menulis surat dengan BismillaaHir rahmaanir rahiim.”

Allaa ta’luu (“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku.”) Qatadah berkata, “Janganlah kalian sombong kepadaku.” Wa’tuunii muslimiin (“Dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu muwahhidiin (orang-orang yang bertauhid).” Ulama lain berkata, “Yaitu mukhlisiin (orang-orang yang ikhlas).” Sedangkan Sufyan bin Uyainah berkata, “Yaitu thaa-i-‘iin (orang-orang yang taat).

Bersambung ke bagian 7