Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 27-31 (6)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 27-31“27. berkata Sulaiman: “Akan Kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu Termasuk orang-orang yang berdusta. 28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” 29. berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, Sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. 30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 31. bahwa janganlah kamu sekalian Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. (an-Naml: 27-31)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang pendapat Sulaiman kepada Hud-Hud di saat ia telah menyampaikan kabar tentang Saba’ dan kerajaannya: qaala sanandhuru ashadaqta am kunta minal kaadzibiin (“Berkata Sulaiman: ‘Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”) yakni apakah engkau jujur dalam berita yang engkau sampaikan ini.
am kunta minal kaadzibiin (“ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”) dalam pembicaraanmu untuk sekedar melepaskan diri dari ancaman yang aku berikan.

idzHab bikitaabii Haadzaa fa-alqaH ilaiHim tsumma tawalla ‘anHum fandhur maa dzaa yarji’uun (“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”) untuk itu Nabi Sulaiman menulis sepucuk surat kepada Balqis dan Rakyatnya. Surat itu diberikan kepada Hud-Hud untuk dibawanya. Menurut satu pendapat, ia membawa surat itu pada sayapnya sebagaimana kebiasaan burung. Pendapat lain mengatakan, di paruhnya. Lalu ia pergi ke istana Bilqis ke sebuah tempat yang digunakannya untuk menyendiri. Maka ia segera menjatuhkannya melalui sebuah celah yang ada di hadapannya. Kemudian ratu berpaling ke arah sisi dengan penuh adab dan wibawa dan ia tampak heran dengan apa yang dilihatnya. Lalu ia mengambil surat itu, kemudian membuka stempel dan membacanya. Di dalamnya tertulis:

innaHuu min sulaimaana wa innaHuu bismillaaHir rahmaanir rahiim. Allaa ta’luu ‘alayya wa’tuunii muslimiin (“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”)

Maka ia mengumpulkan para gubernur, para menteri dan para pejabat negara serta pembesar kerajaannya dan berkata kepada mereka: yaa ayyuHal mala-u innii ulqiya ilayya kitaabun kariim (“Hai para pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.”) yaitu dengan penuh hormat, dimana ia melihat urusan yang cukup aneh saat seekor burung membawa sepucuk surat lalu melemparkannya, setelah itu ia pergi dengan penuh hormat. Ini adalah satu perkara yang tidak mampu dilakukan oleh seorang raja pun serta tidak ada jalan bagi mereka untuk melakukannya. Kemudian ia bacakan surat itu kepada mereka. innaHuu min sulaimaana wa innaHuu bismillaaHir rahmaanir rahiim. Allaa ta’luu ‘alayya wa’tuunii muslimiin (“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian Berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”)

Mereka mengetahui bahwa surat itu berasal dari seorang Nabiyullah, yaitu Sulaiman as. padahal dia belum pernah bertemu mereka. Surat ini berisi sastra yang cukup tinggi, karena mengandung makna yang cukup luas, dengan menggunakan ungkapan yang paling mudah dan paling baik. Para ulama berkata, “Tidak ada seorang pun yang menulis BismillaaHir rahmaanir rahiim sebelum Sulaiman as.” Maimun bin Mihran berkata, “Dahulu, Rasulullah saw. menulis surat dengan bismikallaaHumma, hingga diturunkan ayat ini. Lalu beliau menulis surat dengan BismillaaHir rahmaanir rahiim.”

Allaa ta’luu (“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku.”) Qatadah berkata, “Janganlah kalian sombong kepadaku.” Wa’tuunii muslimiin (“Dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”) Ibnu ‘Abbas berkata, “Yaitu muwahhidiin (orang-orang yang bertauhid).” Ulama lain berkata, “Yaitu mukhlisiin (orang-orang yang ikhlas).” Sedangkan Sufyan bin Uyainah berkata, “Yaitu thaa-i-‘iin (orang-orang yang taat).

Bersambung ke bagian 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: