Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 41-44 (10)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 41-44“41. Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; Maka kita akan melihat Apakah Dia Mengenal ataukah Dia Termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”. 42. dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan Kami adalah orang-orang yang berserah diri”. 43. dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena Sesungguhnya Dia dahulunya Termasuk orang-orang yang kafir. 44. dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala Dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (an-Naml: 41-44)

Tatkala singgasana Balqis didatangkan kepada Sulaiman sebelum kedatangan sang ratu, maka ia memerintahkan untuk merubah sebagian sifatnya agar ia dapat menguji pengetahuan dan kemantapan sang ratu saat melihatnya. Apakah ia dapat mengenalnya sebagai singgasananya sendir atau bukan singgasananya. Dia berkata:

Nakkiruu laHaa ‘arsyaHaa nandhur ataHtadii am takuunu minal ladziina laa yaHtaduun (“Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal[nya]?”)
Ibnu ‘Abbas berkata: “Ia mencabut untaian permata dan perhiasannya.”
Qatadah berkata: “Yang ada di bawah dijadikan di atas dan yang ada di depan dijadikan di belakang. Mereka menambah dan menguranginya.”

Falammaa jaa-at qiila a Hakadzaa ‘arsyuki (“ketika Balqis datang, ditanyakan kepadanya, ‘Serupa inikah singgasanamu?’”) singgasana diperlihatkan kepadanya, padahal telah dirubah, dihapus, ditambah dan dikurangi. Sang ratu tetap kokoh dan berakal serta memiliki kecerdasan, kepandaian dan kekuatan. Dia tidak mengatakan itu sebagai singgasananya karena kejauhan jaraknya dan diapun mengatakan bahwa itu bukan singgasananya, karena ia melihat tanda-tanda dan sifat-sifatnya yang sama, sekalipun telah dirubah dan dihapus. Ia berkata: ka annaHuu Huwa (“Seakan-akan singgasana ini adalah singgasanaku.”) serupa dan hampir sama. Ini menunjukkan kecerdasan dan kepandaiannya yang sangat tajam.

Perkataannya: wa uutiinal ‘ilma min qabliHaa wa kunnaa muslimiin (“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”) Mujahid berkata, “Demikian Sulaiman berkata”, dan firman Allah Ta’ala: wa shaddaHaa maa kaanat ta’budu min duunillaaHi innaHaa kaanat min qaumin kaafiriin (“Dan apakah yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya [untuk melahirkan keislamanya] karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.”) ini merupakan kelengkapan kata-kata Sulaiman as. menurut pendapat Mujahid dan Sa’id bin Jubair, yaitu Sulaiman as. berkata: wa uutiinal ‘ilma min qabliHaa wa kunnaa muslimiin (“Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”) dan sungguh ia sudah shaddaHaa, yaitu telah mencegahnya untuk beribadah kepada Allah yang Esa. maa kaanat ta’budu min duunillaaHi innaHaa kaanat min qaumin kaafiriin (“selama ini yang diibadahinya selain Allah, mencegahnya [untuk melahirkan keislamanya] karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.”) inilah yang dikatakan oleh Mujahid, Sa’id dan al-Hasan serta dikatakan pula oleh Ibnu Jarir.

Perkataannya: qiila laHadkhulish sharha falammaa ra-atHu lujjataw wa kasyafat ‘an saaqaiHaa (“Dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam istana.’ Maka tatkala ia meliahat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.”) sesungguhnya Sulaiman as. memerintahkan syaitan-syaitan untuk membangunkannya istana besar dari kaca yang dialirkan air di bawahnya. Orang yang tidak tahu hal itu, pasti menyangkanya sebagai air. Akan tetapi kaca tersebut menjadi dinding antara air tersebut dengan orang yang berjalan di atasnya. Ketika sang ratu menghadap Sulaiman, maka Sulaiman menyerunya untuk beribadah kepada Allah Yang Mahaesa serta mencela sikapnya yang menyembah matahari, sesembahan selain Allah.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Ketika ratu tersebut melihat istana, ia mengetahui, demi Allah, bahwa ia melihat suatu kerajaan yang lebih besar daripada kerajaannya.”
falammaa ra-atHu lujjataw wa kasyafat ‘an saaqaiHaa (“Maka tatkala ia meliahat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.”) ia tidak ragu lagi bahwa itu adalah air yang menggenanginya. Dikatakan kepadanya: innaHuu sharhum mumarradum min qawaariir (“Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.”)
qaalat rabbi innii dhalamtu nafsii wa aslamtu ma’a Sulaimaana lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Berkatalah Bilqis: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat dhalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.”) lalu ia masuk Islam dan keislamannya baik. Dan hanya milik Allah segala puji.
Asal makna “ash-Sharh” dalam bahasa Arab adalah istana dan setiap bangunan yang tinggi.

Allah berfirman mengabarkan tentang Fir’aun –laknatullah- bahwa ia berkata kepada menterinya, Hamman: ibnilii sharhal la’allii ablughu asbaab (“Buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu”) (al-Mukmin: 36). Ash-Sharh adalah suatu istana di Yaman yang gedung-gedungnya tinggi, sedangkan al-Mumarrad adalah sebuah bangunan yang kokoh dan licin, min qawaariir; yaitu dari kaca.
Melicinkan bangunan adalah dengan menghaluskannya. Dan maarid adalah sebuah benteng di Daumatul Jandal.

Tujuan Sulaiman membuat istana besar yang megah dari kaca untuk kerajaannya ini agar ia perlihatkan kepada ratu tentang besar dan kokohnya kekuasaan yang ia miliki. Ketika ia melihat apa yang diberikan Allah Ta’ala kepada Sulaiman dan melihat sendiri perkaranya, ia mulai tunduk kepada perintah Allah Ta’ala dan mengetahui bahwa Sulaiman adalah seorang Nabi yang mulia dan raja yang agung serta iapun berserah diri kepada Allah swt. Ia berkata: rabbi innii dhalamtu nafsii (“Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat dhalim terhadap diriku.”) dengan perlakuannya yang terdahulu, dimana ia dan kaumnya kufur, syirik dan menyembah matahari, sesembahan selain Allah.

wa aslamtu ma’a Sulaimaana lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.”) yaitu mengikuti agama Sulaiman dalam beribadah hanya kepada Allah Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia yang menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukurannya.

Bersambung ke bagian 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: