Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 59-60 (14)

23 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 59-60“59. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan Kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?” 60. atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (an-Naml: 59-60)

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk mengucapkan: alhamdulillaaH (“Segala puji bagi Allah”) yaitu atas berbagai nikmat yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya tanpa batas dan tidak terhitung jumlahnya serta atas sifat-sifat mulia dan nama-nama yang husna yang dimiliki-Nya. Juga salam sejahtera kepada hamba-hamba Allah yang dipilih-Nya, yaitu para Rasul dan para Nabi yang mulia. Semoga bagi mereka shalawat dan salam yang utama dari Allah. Demikian yang dikatakan oleh ‘Abdurrahman bin Za’id bin Aslam dan selainnya.

Hal ini seperti firman Allah yang artinya: “Mahasuci Rabbmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan kepada para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” (ash-Shaaffaat: 180-182). Ats-Tsauri dan as-Suddi berkata: “Mereka adalah para Shahabat Nabi saw. semoga Allah meridlai mereka semuanya.” Pendapat senada juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan tidak ada pertentangan. Karena apabila mereka termasuk dari hamba-hamba Allah yang terpilih, maka para Nabi tentu lebih utama. Maksudnya adalah Allah memerintahkan Rasul dan orang –orang yang mengikutinya setelah Dia menceritakan kepada mereka apa yang telah dilakukan-Nya kepada para wali-Nya berupa keselamatan, pertolongan dan dukungan serta apa yang menimpa musuh-musuh-Nya berupa kesengsaraan, kecelakaan dan kekalahan agar mereka memuji-Nya atas seluruh perbuatan-Nya serta mencurahkan kesejahteraan kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih.

Firman Allah: aallaaHu khairun ammaa tusyrikuun (“Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya?”) adalah pertanyaan untuk mengingkari kaum musyrikin yang menyembah ilah-ilah lain bersama Allah. Kemudian Allah mulai menjelaskan bahwa Dia Mahaesa dalam penciptaan, pemberian rizky dan penataan tanpa yang selain-Nya. Maka Allah telah berfirman: amman khalaqas samaawaati (“Atau siapakah yang telah menciptakan langit?”) yaitu yang telah menciptakan langit-langit itu dengan ketinggian dan kebersihannya. Serta apa-apa yang dijadikan di dalamnya, seperti bintang-bintang yang bersinar, benda-benda langit yang indah dan planet-planet yang beredar. Yang menciptakan bumi dan kerendahan dan ketebalannya serta apa-apa yang dijadikan di dalamnya seperti gunung-gunung dan puncak-puncak dan lain-lain.

Firman Allah: wa anzala lakum minas samaa-i maa-an (“Dan yang menurunkan air untukmu dari langit-langit.”) yaitu dijadikan-Nya sebagai rizky bagi hamba-hamba-Nya. fa anbatnaa biHii hadaa-iqa (“Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu hadaa-iq”) yaitu kebun-kebun. Dzaata baHjata; yang berpemandangan indah dan berbentuk megah. Maa kaana lakum an tunbituu syajaraHaa; yaitu kalian tidak akan sanggup menumbuhkan pohon-pohonnya. Yang sanggup melakukan itu semua hanyalah Allah Mahapencipta dan Mahapemberi rizky Yang berdiri sendiri dan Esa daam hal tersebut, tanpa butuh yang lain-Nya diantara para berhala, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain yang artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: Allah.’” (az-Zukhruf: 87)
“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit kemudian menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ tentu mereka akan menjawab: ‘Allah.’” (al-Ankabuut: 63) yaitu mereka mengakui bahwa Allah lah yang melakukan semua itu dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kemudian mereka menyembah selain-Nya bersama Dia dari apa yang mereka akui bahwa tidak ada yang menciptakan dan memberi rizky selain Allah dan Dia berhak untuk diesakan dalam ibadah. Hanya Dia yan menciptakan dan memberi rizky. Untuk itu Dia berfirman: a ilaaHum ma’allaaH; yaitu, apakah di samping Allah ada ilah lain yang disembah, padahal sudah jelas bagi kalian dan bagi orang yang berakal yang mengakui pula bahwa Dialah Mahapencipta dan Mahapemberi rizky?

Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa makna firman-Nya: a ilaaHum ma’allaaH (“Apakah di samping Allah ada ilah lain”) yang melakukan ini semua? pendapat ini kembali pada makna yang pertama [Allah]. Karena, kandungan jawabannya adalah bahwa mereka berkata: “Di sana tidak ada satupun yang melakukan semua ini, bahwa Dia sendiri saja yang melakukan itu.” Dikatakan, bagaimana kalian menyembah yang lain-Nya bersama Dia, padahal Dia sendiri yang menciptakan, memberi rizky dan mengatur?
“Maka apakah [Allah] yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan [apa-apa]?” (an-Nahl: 17)

Firman Allah di sini: amman khalaqas samaawaati wal ardla (“Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi.”) amman; di dalam seluruh ayat ini kandungannya ialah, apakah yang melakukan semua ini sama dengan yang tidak mampu melakukan semua itu? Inilah makna konteks pembicaraan, sekalipun yang lain disebutkan. Karena dalam kualitas pembicaraan mengarah pada hal tersebut. Sesungguhnya Allah berfirman: aallaaHu khairun ammaa tusyrikuun (“Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya?”) kemudian Dia berfirman dalam ayat yang lain: bal Hum qaumuy ya’diluun (“Bahkan mereka adalah orang-orang yang menyimpang.”) yaitu membuat tandingan dan bandingan bagi Allah. Allah berfirman yang artinya: “[Apakah kamu hai orang-orang yang musyrik yang lebih beruntung] apakah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada [adzab] akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (az-Zumar: 9). Yakni apakah orang yang seperti itu sama seperti orang yang tidak demikian? Untuk itu Allah berfirman dalam ayat yang sama, artinya: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (az-Zumar: 9)

Bersambung ke bagian 15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: