Arsip | Juni, 2014

Asas Kedua: Ukhuwah Sesama Kaum Muslimin

12 Jun

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Kemudian Rasulullah saw, mempersaudarakan para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar atas dasar kebenaran dan rasa persamaan. Bahkan mereka dipersaudarakan untuk saling mewarisi sepeninggal mereka, sehingga pengaruh Ukhuwwah Isalmiyah lebih kuat dan membekas daripada pengaruh ikatan darah (keluarga /kekerabatan).

Rasulullah saw mempersaudarakan Ja‘far bin Abi Thalib dengan Mu‘adz bin Jabal, Hamzah bin Abdul Mutthalib dengan Zaid bin Zuhair, Umar bin Khatthab dengan ‚Ütbah bin Malik, Abdul Rahman bin Auf dengan Sa‘id bin Rabi‘ dan seterusnya. Selanjutnya Rasulullah saw mengikat persaudaraan antara para sahabat ini dengan suatu kerangka umum berupa Ukhuwwah dan muwalah (penyerahan loyalitas ) , seperti yang akan kita lihat. Ukhuwwah ini juga didasarkan pada prinsip-prinsip material, di antaranya ialah ditetapkannya prinsip saling mewatisi sesama mereka. Ikatan-ikatan perusaudaraan ini tetap didahulukan daripada hak-hak kekeluargaan sampai terjadi perang Badar Kubra, ketika diturunkan firman Allah swt : „…Dan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagaimana lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam Kitab Allah swt. Sesungguhnya Allah swt Mengetahui segala sesuatu.“ (QS Al-Anfal (8) : 75)

Ayat ini menghapuskan hukum yang berlaku sebelumnya sehingga turunnya ayat ini terhapuslah pengaruh Ukhuwwah Islamiyah dalam hal waris-mewarisi. Setelah itu, setiap orang kembali kepada nasab kerabatnya masing-masing. Dan abadilah persaudaraan sesama kaum Muslimin.
Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata :“ Ketika kaum Muhajirin dating ke Madinah seorang Muhajir mewarisi seorang Anshar tanpa adanya hubungan keluarga, karena Ukhuwwah yang telah dijalin oleh Nabi saw ketika turun ayat (artinya) : „Bagi tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ….“ Terhapuslah hukum tersebut. Dengan demikian, berakhirlah masa keberlakuan hukum waris-mewarisi berdasarkan ikatan ukhuwwah tersebut.

Beberapa Ibrah

Itulah asas kedua yang dibangun Rasulullah saw untuk menegakkan masyarakat dan Negara Islam. Urgensi asas ini akan tampak dalam beberapa aspek berikut : Pertama, Negara manapun tidak akan berdiri dan tegak tanpa adanya kesatuan dan dukungan ummatny.a Sedangkan kesatuan dan dukungan tidak akan lahir tanpa adanya saling bersaudara dan mencintai. Setiap Jama‘ah yang tidak disatukan oleh ikatan kasih sayang dan persaudaraan yang sebenarnya, tidak akan mungkin dapat bersatu pada suatu prinsip. Selama persatuan yang sebenarnyat idak terwujudkan dalam suatu ummat atau Jama‘ah maka selama itu pula tidak akan mungkin terbentuk sebauh negara. Tetapi persaudaran juga harus didahului oleh awidah yang menjadi ideologi dan faktor pemersatu. Persaudaraan antara dua orang yang saling berbeda aqidah dan pemikiran adalah mimpi dan kurafat, apalagi jika aqidah atau pemikiran tersebut akan melahirkan perilaku tertentu dalam kehidupan nyata.

Oleh sebab itu, Rasulullah saw menjadian Aqidah Islamiyah yang bersumber dari Allah swt, sebagai asas persaudaraan yang menghimpun hati para sahabatnya, dan menempatkan semua manusia dalam satu barusan ‚ubudiyah hanya kepada-Nya tanpa perbedaan apapun kecuali ketaqwaan dan amal shalih. Karena tidak mungkin persaudaraan , saling tolong-menolong dan saling mengutamakan, dapat berkembang di antara orang-orang yang dipecah-pecah oleh aqidah dan pemikiran yang beraneka ragam, yang masing-masing senantiasa memperturutkan egoisme hawa nafsunya sendiri.

Kedua,
Sosok masyarakat-masyarakat manapun akan berbeda dari kumpulan manusia yang bercerai berai dengan satu hal, yaitu tegaknya prinsip saling tolong menolong, dan mendukung sesama anggota masyarkat tersebut dalam segala aspek kehidupan. Jika prinsip saling tolong menolong dan mendukung ini dilaksanakan sesuai prinsip keadilan dan persamaan , maka itulah masyarakat yang adil dan sejahtera. Sebaliknya, andaikata prinsip ini dilaksankaan secara dhalim dan tidak benar maka itulah masyarakat yang dalim dan menyimpang. Jikalau suatu masyarakat yang sejahtera hanya bisa diwuudkan berdasarkan prinsip keadilan dalam memanfaatkan sarana-sarana kehidupan, lalu faktor apakah yang dapat menjamin penerapan keadilan ini secara baik ?

Sesungguhnya jaminan alamiah bagi terlaksananya keadilan tersebut hanyalah terdapat pada persaudaraan dan kasih sayang yang sebenarnya. Setelah itu baru menyusul jaminan kekuasaan dan undang-undang. Betapapun keinginan suatu pemerintahan untuk melaksanakan prinsip-prinsip keadilan ini di antara warganya, namun keinginan itu tidak akan terlaksana selama tidak didasarkan pada prinsip saling bersaudara dan mencintai sesama mereka. Bahkan prinsip-prinsip keadilan itu, tnapa persaudaraan dan kasih sayang, hanya akan menjadi sumber kebencian dan kedengkian sesama anggota masyarakat tersebut.

Karena itulah Rasulullah saw menjadikan persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar sebagai asas bagi prinsip-prinsip keadilan sosial yang telah terbuktikan sebagai sistem sosial yang paling baik di dunia. Prinsip-prinsip keadilan ini kemudian berkembang dan mengikat menjadi hukum-hukum dan undang-undang syariat yang tetap. Tetapi kesemua hukum dan undang-undang syariat ini terbentuk berdasarkan pada basis pertama yaitu Ukhuwwah Islamiyah. Seandainya Ukhuwwah Islamiyah yang agung tidak ada maka dapat dipastikan bahwa prinsip-prinsip keadilan itu tidak akan memiliki pengaruh yang positif dan aplikatif dalam menegakkan masyarakat Islam dan mendukung eksistensinya.

Ketiga, Nilai yang menyertai Syiar Persaudaraan
Persaudaraan yang ditegakkan Rasulullah saw , di antara pada sahabatnya bukan sekedar syiar yang diucapkan, tetapi merupakan kenyataan yang terlihat dalam realitas kehidupan dan menyangkut segala bentuk hubungan yang berlangsung antara Muhajirin dan Anshar. Karenaitu Rasulullah saw menjadikan Ukhuwwah ini sebagai tanggung jawab yang harus dilaksanakan secara bersama. Dan tanggung jawab ini telah dilaksanakan oleh mereka dengan sebaik-baiknya. Sebagai contohnya, cukuplah kami sebutkan apa yang dilakukan oleh Sa‘d bin Rabi‘ yang dipersaudarakan oleh Rasulullah saw dengan Abdul Rahman bin Auf untuk mengambil separuh dari kekayaan yang dimilikinya bahkan salah seorang istrinya. Sikap persaudaraan seperti ini tidak hanya dilakukan dan ditujukan oleh Sa‘d bin Rabi‘ , tetapi dilakukan oleh semua sahabat dalam melakukan hubungan dan solidaritas sesama mereka, khususnya setelah hijrah dan setelah dipersaudarakan Rasulullah saw.

Karena itu pula Allah swt menjadikan hak waris berdasarkan ikatan Ukhuwwah ini, tanpa ikatan keluarga dan kerabat. Di antara hikmah persyariatan ini ialah untuk menampakkan Ukhuwwah Islamiyah sebagai hakekat yang dirasakan secara nyata. Juga supaya diketahui dan disadari bahwa ikatan persaudaraan dan kasih sayang sesama Muslim bukan sekedar slogan yang diucapkan, tetapi lebih dari itu merupakan sesuatu kewajiban yang memiliki berbagai konsekuensi sosial.

Menyangkut hikmah dihapuskannya hak waris berdasarkan ukhuwwah ini, ternyata sistem pembagian warisan yang pada akhirnya ditetapkan pun tidak jauh berbeda. Sebab, sistem pembagian warisan yang secara final ditetapkan juga didasarkan pada hukum Ukhuwwah Islamiyah, yakni orang yang berlainan agama tidak boleh saling mewarisi. Selama masa pertama hijrah masing-masing dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar harus menghadapi tanggung jawab khusus berupa saling tolong-menolong dan saling memberikan perlindungan disebabkan oleh perpindahan kaum Muhajirin ke Madinah meninggalkan keluarga, rumah dan harta kekayaan mereka di Mekkah. Untuk menjamin terlaksananya tanggung jawab inilah maka Rasulullah saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, dengan konsekuensi atau tuntutan tanggung jawabnya adalah bahwa ukhuwwah tersebut harus lebih kuat pengaruhnya daripada jalinan kerabat.

Setelah kaum Muhajirin menetap di Madinah dan semengat Islam menjadi detak jantung dan denyut nadi kehidupan masyarakat baru, maka tibalah saatnya untuk mencabut sistem hubungan antara Muhajirin dan Anshar yang selama ini diberlakukan. Sebab, di bawah naungan Ikhuwwah Islamiyah dengan berbagai tanggung jawabnya akan menimbulkan perpecahan di kalangan mereka. Tak perlu dikhawatirkan lagi jika hubungan kerabat sesama kaum Muhajirin kembali diakui pengaruhnya di samping ikatan Islam dan Ukhuwah Islamiyah.

Di samping itu, sesungguhnya sebelum mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar ini, Rasulullah saw telah mempersaudarakan antara sesama kaum Muhajirin di Mekkah. Ibnu Abdil Barr berkata ;“ Persaudaraan ini diadakan dua kali : pertama antara kaum Muhajirin secara khusus di Mekkah, kedua antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar di Madinah. “Hal ini menegaskan kepada kita bahwa asas Ukhuwwah ialah ikatan Islam. Hanya saja setelah hijrah perlu diperbaharui dan ditegaskan kembali karena tuntutan situasi dan pertemuan kaum Muhajirin dan Anshar di satu negara (Madinah). Persaudaraan ini tidak berbeda dari ukhuwwah yang didasarkan pada ikatan Islam dan kesatuan Aqidah. Bahkan merupakan penegasan secara aplikatif terhadapnya.

&

Hukum Memugar Masjid, Menghiasi dan Mengukir Dindingnya

12 Jun

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Pemugaran dimaksudkan ialah membangun masjid dengan tembol bata untuk memanbah kekuatan bangunan atap dan tiang-tiangnya. Sedangkan yang dimaksudkan dengan menghiasi dan mengukir ialah menambah bangunan asal dengan beraneka ragam hiasan. Semua Ulama membolehkan bahwa menganjurkan pemugaran masjid berdasarkan kepada apa yang dilakukan Umar ra, dan Utsman ra, yang telah membangun ulang masjid Nabi saw. Kendatipun perbuatna ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw , tetapi juga tidak menunjukkan kepada pemahaman sebaliknya yakni pelarangan pemugaran. Sebab masalah pemugaran ini tidak berkaitan dengan sifat yang akan merusak hikmah disyari‘atkannya pembangunan masjid, bahkan pemugaran itu sendiri akan meningkatkan pemeliharaan terhadap Syiar-syiar Allah swt.

Para Ulama juga menguatkan pendapat ini dengan mendasarkan apda firman Allah swt : „Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah swt ialah orang-orang yang beriman kepada Allah swt dan hari Kemudian…..“. (QS At-Taubah (9) : 18.)
Pemakmuran ini di antaranya dengan jalan pemugaran dan pemeliharaan bangunannya. Berkaitan dengan masalah ukiran dan hiasan (seperti membuat ornamen, relief, menulisi ataupun menggantungkan hiasan pada dinding) masjid, para Ulama umumnya memakruhkan. Bahkan sebagian Ulama ada yang mengharamkannya. Namun demikian baik yang memakruhkan dan mengharamkannya, semua sepakat mengharamkan penggunakan harta wakaf untuk keperluan menghiasi dan mengukir masjid. Sedangkan jika uang yang dipakai untuk menghias dan mengukir berasal dari pembangunan masjid itu sendiri, ternyata hal ini pun masih diperselisihkan. Az-Zarkasyi menyebutkan pendapat Imam al-Baghawi yang mengatakan :“ Tidak boleh mengukir masjid dengan memakai harta wakaf. Bila ada orang yang melakukannya maka dia harus dituntut untuk membayar ganti rugi. Andai ia melakukannya dengan hartanya sendiri maka hal itu dimakruhkan karena mengganggu kekhusyukan orang-orang yang shalat.“

Perbedaan pendapat antara pemugaran secara umum dan pengukiran atau penghiasan secara khusus cukup jelas. Masalah pemugaran, seperti telah kami sebutkan , tidak berkaitan dengan sifat atau tujuan yang dapat merusak hikmah persyari‘atan pembangunan masjid, sebab dapat merusak kekhusyukan orang-orang yang shalat, atau mengingatkan orang kepada bentuk-bentuk kemegahan kehidupan duniawi. Padahal tujuan memasuki masjid, di antara ialah, ingin menjauhkan pikiran dari segala bentuk ketertambatan pada kemegahan dan perhiasan duniawi. Inilah yang diperintahkan oleh Umar ra, ketia ia memerintahkan pembangunan masjid. Katanya :“Lindungilah ornag-orang dari tampias hujan. Janganlah kamu mewarnai (dinding masjid) dengan warna merah atau kuning sehingga dapat menimbulkan fitnah“.

Para Ulama berselisih pendapat tentang penulisan ayat-ayat al-Quran pada bagian Kiblat masjid, apakah termasuk ukiran yang dilarang atau tidak. Berkata Az-Zarkasyi di dlaam kitabnya A’‘amu’‘-Masjid : „Makruh menulis ayat-ayat al-Quran atau yang lainnya pada bagian Kiblat masjid, sebagaimana pendapat Imam Malik. Sebagian Ulama membolehkannya dan sebagaian yang lain tidak menganggapnya sebagai kesalahan. Pendapat mereka ini didasarkan kepada apa yang dilakukan oleh Utsman ra, terhadap masjid Rasulullah saw yang dalam hal ini tak seorangpun yang mengingkarinya.“

Dari penjelasan di atas nyatalah kesalahan-kesalahan orang-orang sekarang yang memakmurkan masjid dengan jalan mengukir dan menghiasinya dengan beraneka ragam seni ukiran dan lukis yang mencerminkan kemegahan, sehingga setiap orang yang memasuki masjid tidak lagi dapat merasakan arti ‚ubudiyah yang merendahkan diri di hadapan Allah swt. Bahkan apa yang dirasakan hanyalah kebanggaan terhadap kemajuan seni bangunan dan seni lukis (kaligrafi).

Sebagai akibat terburuk dari permainana setan terhadap kaum Muslimin ini, bahwa kaum fakir miskin, tidak lagi dapat menemukan tempat untuk menjauhkan diri dari segala bentuk ztawaran kemegahan duniawi. Dulu masjid menjadi tempat menyejukkan hati orangorang fakir miskin dan mengeluarkan mereka dari suasana dan kemegahan dunia menuju kepada keutamaan akherat. Tetapi sekerang, di dalam masjid pun mereka disodori kemegahan duniawi yang tidak pernah mereka nikmati dan rasakan.

Betapa buruk kondisi kaum Muslimin yang telah meninggalkan hakekat Islam dan memperhatikan bentuk-bentuk lahiriyah yang palsu yang penuh dengan dorongan hawa nafsu
dan syahwat.

&

Hukum Perlakukan Terhadap Anak Kecil dan Anak Yatim yang belum Dewasa.

12 Jun

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Sebagian fuqaha‘ dari madzhab Hanafiah menjadikan Hadits ini sebagai dalil yang keabsahan tindakan yang diambil oleh anak-anak yang belum dewasa (baligh). Argumentasinya , bahwa Rasulullah saw membeli kebun dari dua anak yatim, setelah dilakukan tawar-menawar. Seandainya tindakan kedua anak itu tidak sah, tentu Nabi saw, tidak akan membeli kebun tersebut. Tetapi jumhur fuqaha‘ berpendapat bahwa tindakan anak-anak yang belum mencapai
usia baligh, tidak sah. Pendapat ini didasakan kepada firman Allah swt : „Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaaat, hingga sampai ia dewasa.“ QS Al-An‘am (6) : 152.

Mengenai Hadits „pembelian kebun“ di atas, dapat dibantah dengan dua hal :

Pertama : Dalam riwayat Ibnu ‚Uyainah disebutkan bahwa Nabi saw, telah membicarakan masalah tersebut dengan paman kedua anak yatim itu. Jadi Rasulullah saw membeli kebun kedua anak yatim itu dengan perantaraan sang paman yang menjadi penanggung jawab kedua anak tersebut. Dengan demikian, pendapat Hanafiah tidak dapat diterima.

Kedua :
Bahwa Nabi saw memiliki walayah (perwalian / otoritas) khusus dalam urusan seperti itu. Nabi saw, membeli tanah dari kedua anak yatim tersebut selaku wali umum bagi semua kaum Muslimin, bukan selaku individu di dalam masyarakat Muslimin.

&

Urgensi Masjid di dalam Masyarakat dan Negara Islam

12 Jun

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Sesampainya di Madinah dan menetap di sana, Rasulullah saw segera mengakkkan masyarakat Islam yang kokoh dan terpadu yang terdiri atas kaum Anshar dan Muhajirin. Sedangkan sebagai langkah pertama ke arah ini Rasulullah saw membangun masjid. Tidaklah heran, jika masjid merupakan asas utama dan terpenting bagi pembentukkan masyarakat Islam. Karena masyarakat Muslim tidak akan terbentuk secara kokoh dan rapi kecuali dengan adanya komitmen terhadap sistem, aqidah dan tatanan Islam. Hal ini tidak akan dapat ditumbuhkan kecuali melalui semangat masjid.

Di antara sistem dan prinsip Isla ialah tersebarnya ikatan Ikhuwwah dan mahabbah sesama kaum Muslimin. Tetapi tersebarnya ikatan ini tidak akan terjadi kecuali di dalam masjid. Selama kaum Muslimin tidan bertemu setiap hari, dann berkali-kali , di rumah-rumah Allah swt sampai terhapusnya perbedaan-perbedaan pangkat, kedudukan, kekayaan, serta status dan atribut sosial lainnya, maka selama itu pula tidak akan terbentuk persatuan dan persaudaraan sesama mereka.

Di antara sistem dan peradaban Islam yang lain ialah tersebarnya persamaan dan keadilan sesama kaum Muslimin dalam segala aspek kehidupan. Tetapi semangat persamaan dan keadilan ini tidak mungkin dapat terwujud selama kaum Muslimin tidak bertemu setiap hari di dalam satu shaf di hadapan Allah swt, seraya menghambahkan diri kepada-Nya. Tanpa adanya kesamaan dalam ‚ubudiyah ini, betapapun mereka rajin ruku‘ dan sujud kepada Allah swt, maka nilai keadilan dan persamaan tidak akan mampu menundukkan egoisme dan keangkuhan yang ada pada masing-masing diri mereka.

Di antara sistem Islam ialah terpadunya beraneka ragam latar belakang kaum Muslimin dalam suatu kesatuan dan kokoh yang diikat oleh tali Allah swt, yaitu Hukum dan syari‘at-Nya. Tetapi selama belum berdiri masjid-masjid, tempat kaum Muslimin berkumpul untuk mempelajari huukm dan syari‘at Allah agar dapa berpegang teguh padanya secara sadar di seluruh penjuru dan lapisan masyarakat, maka selama itu pula kaum Muslimin akan tetap terpecah belah. Demi mewujudkan semua nilai ini di dalam masyarakat Muslim dan Negara mereka yang baru maka Rasulullah saw segera mendirikan masjid sebelum melakukan yang lainnya.

&

Asas Masyarakat Baru, Asas Pertama : Pembinaan Mesjid

12 Jun

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Hujrah Rasulullah saw , ke Yastrib, yang kemudian kelak bernama Madinah, merupakan langkah awal proses terbentuknya Darul Islam yang pertama di muka bumi saat itu. Di samping juga merupakan pernyataan berdirinya Negara Islam dibawah pimpinan pendirinya yang pertama, Muhammad saw. Karena pekerjaan yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah saw , ialah meletakkan sas-asas penting bagi negara ini. Asas-asas tersebut tercermin pada tiga pekerjaan berikut :

Pertama : Pembangunan Mesjid.
Kedua : Mempersaudarakan sesama Muslimin secara umum dan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar secara khusus.
Ketiga : Membuat perjanjian (dustur) yang mengatur kehidupan sesama kaum Muslimin dan menjelaskan hubungan mereka dengan orang-orang di luar Islam secara umum dan dengan kaum Yahudi secara khusus. Kita mulai dengan masalah yang pertama (pembinaan mesjid). Seperti telah kami sebutkan bahwa unta Rasulullah saw berhenti pada sebidang lahan milik dua anak Yatim dari kaum Anshar. Sebelum kedatangan Rasulullah saw saw ke Madinah, tempat tersebut oleh As‘ad bin Zurarah sudah dijadikan sebagai Mushalah, tempat ia bersama para sahabatnya melaksanakan shalat Jama‘ah. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan supaya dibangun masjid di atas tanah tersebut. Rasulullah saw, memanggil kedua anak yatim itu, keduanya berada di bawah asuhan dan tanggung jawab As‘ad bin Zurarah untuk menanyakan harga tanah. Kedua anak itu menjawab :“ Tanah itu kami hibahkan saja wahai Rasulullah“. Tetapi Rasulullah saw tidak bersedia menerimanya sehingga beliau membayarnya dengan harga sepuluh dinar.

Di atas tanah ini terdapat beberapa pohon gharqad, kurma dan beberapa kuburan orang-orang Musyrik. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan pembongkaran kuburan dan penebangan pohon-pohonnya. Setelah tanah itu diratakan maka dibangunlah sebuah masjid yang panjangnya seratus hasta dengan lebar kurang lebih sama. Masjid ini dibangun dengan menggunakan bahan batu bata. Dalam pembangunan ini Rasulullah saw ikut serta mengusung batu bata. Kiblat masjid (pada waktu itu) menghadap Baitul Maqdis. Tiang dan atapnya terbuat dari batang dan pelepah kurma. Ketika Rasulullah saw ditanya tentang atapnya, beliau menjawab,“Sebuah tenda (sederhana) seperti tenda Musa, terbuat dari kayu-kayu kecil dan anyaman pelepah. Masalahanya kita dituntut agar segera merampungkannya“. Adapun lantai masjid ini diuruk dengan kerikil dan pasir.

Bukhari di dalam sanadnya meriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa ketika masuk wkatu shalat Rasulullah saw melaksanakan shalat di tempat penambatan kambing. Setelah itu Rasulullah saw memerintahkan pembangunan masjid. Kemudian Rasulullah saw memanggil para tokoh Bani Najjar dan berkata kepada mereka,“Wahai Bani Najjar, berapakah harga tanah kalian ini ? Mereka menjawab,“ Demi Allah kami tidak menghendaki harganya kecuali dari Allah swt.“ Selanjutnya Anas bin Malik mengatkaan,“Di tanah itu terdapat beberapa kuburan kaum Musyrikin, puing-puing bangunan tua dan beberapa pohon kurma. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan agar kuburan tersebut dipindahkan , pohon-pohonnya ditebang dan puing-puingnya diratakan.“. Anas bin Malik melanjutkan,“ Kemudian mereka menata batang-batang kurma itu sebagai kiblat masjid“. Dan sambil merampungkan pembangunan masjid bersama mereka , Rasulullah saw mengucapkan do‘a : „Allahumma, ya Allah! Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan Akhirat, maka tolonglah kaum Anshar dan Muhajirin.“

Masjid Rasulullah saw dengan bentuknya yang asli ini , tanpa penambahan atau pemugaran, bertahan sampai akhir masa Khilafah Abu Bakar. Baru pada masa Khilafah Umar ra, mengalami sdikit perbaikan, tetapi bangunannya tetap seperti sediakala. Kemudian pada masa Khilafah Utsman ra, terjadi banya penambahan dan perluasan. Dinding-dinginnya dibangun dengan batu-batu berukir dan batu-batu yang dibakar.

Beberapa Ibrah:
Dari apa yang disebutkan di atas terdapat beberapa pelajaran (Ibrah) penting bagi kita.

1. Urgensi Masjid di dalam Masyarakat dann Negara Islam. Sesampainya di Madinah dan menetap di sana, Rasulullah saw segera mengakkkan masyarakat Islam yang kokoh dan terpadu yang terdiri atas kaum Anshar dan Muhajirin. Sedangkan sebagai langkah pertama ke arah ini Rasulullah saw membangun masjid. Tidaklah heran, jika masjid merupakan asas utama dan terpenting bagi pembentukkan masyarakat Islam. Karena masyarakat Muslim tidak akan terbentuk secara kokoh dan rapi kecuali dengan adanya komitmen terhadap sistem, aqidah dan tatanan Islam. Hal ini tidak akan dapat ditumbuhkan kecuali melalui semangat masjid.

Di antara sistem dan prinsip Isla ialah tersebarnya ikatan Ikhuwwah dan mahabbah sesama kaum Muslimin. Tetapi tersebarnya ikatan ini tidak akan terjadi kecuali di dalam masjid. Selama kaum Muslimin tidan bertemu setiap hari, dann berkali-kali , di rumah-rumah Allah swt sampai terhapusnya perbedaan-perbedaan pangkat, kedudukan, kekayaan, serta status dan atribut sosial lainnya, maka selama itu pula tidak akan terbentuk persatuan dan persaudaraan sesama mereka.

Di antara sistem dan peradaban Islam yang lain ialah tersebarnya persamaan dan keadilan sesama kaum Muslimin dalam segala aspek kehidupan. Tetapi semangat persamaan dan keadilan ini tidak mungkin dapat terwujud selama kaum Muslimin tidak bertemu setiap hari di dalam satu shaf di hadapan Allah swt, seraya menghambahkan diri kepada-Nya. Tanpa adanya kesamaan dalam ‚ubudiyah ini, betapapun mereka rajin ruku‘ dan sujud kepada Allah swt, maka nilai keadilan dan persamaan tidak akan mampu menundukkan egoisme dan keangkuhan yang ada pada masing-masing diri mereka.

Di antara sistem Islam ialah terpadunya beraneka ragam latar belakang kaum Muslimin dalam suatu kesatuan dan kokoh yang diikat oleh tali Allah swt, yaitu Hukum dan syari‘at-Nya. Tetapi selama belum berdiri masjid-masjid, tempat kaum Muslimin berkumpul untuk mempelajari huukm dan syari‘at Allah agar dapa berpegang teguh padanya secara sadar di seluruh penjuru dan lapisan masyarakat, maka selama itu pula kaum Muslimin akan tetap terpecah belah. Demi mewujudkan semua nilai ini di dalam masyarakat Muslim dan Negara mereka yang baru maka Rasulullah saw segera mendirikan masjid sebelum melakukan yang lainnya.

2. Hukum Perlakukan Terhadap Anak Kecil dan Anak Yatim yang belum Dewasa.
Sebagian fuqaha‘ dari madzhab Hanafiah menjadikan Hadits ini sebagai dalil yang keabsahan tindakan yang diambil oleh anak-anak yang belum dewasa (baligh). Argumentasinya , bahwa Rasulullah saw membeli kebun dari dua anak yatim, setelah dilakukan tawar-menawar. Seandainya tindakan kedua anak itu tidak sah, tentu Nabi saw, tidak akan membeli kebun tersebut. Tetapi jumhur fuqaha‘ berpendapat bahwa tindakan anak-anak yang belum mencapai
usia baligh, tidak sah. Pendapat ini didasakan kepada firman Allah swt : „Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaaat, hingga sampai ia dewasa.“ QS Al-An‘am (6) : 152.

Mengenai Hadits „pembelian kebun“ di atas, dapat dibantah dengan dua hal :
Pertama : Dalam riwayat Ibnu ‚Uyainah disebutkan bahwa Nabi saw, telah membicarakan masalah tersebut dengan paman kedua anak yatim itu. Jadi Rasulullah saw membeli kebun kedua anak yatim itu dengan perantaraan sang paman yang menjadi penanggung jawab kedua anak tersebut. Dengan demikian, pendapat Hanafiah tidak dapat diterima.
Kedua :
Bahwa Nabi saw memiliki walayah (perwalian / otoritas) khusus dalam urusan seperti itu. Nabi saw, membeli tanah dari kedua anak yatim tersebut selaku wali umum bagi semua kaum Muslimin, bukan selaku individu di dalam masyarakat Muslimin.

3. Pembolehan Memindahkan Kuburan Usang dan Menjadikannya sebagai Masjid.
Mengomentari Hadits ini, Imam Nawawi mengatkan, „Hadits ini menunjukkan bahwa memindahkan kuburan usang adalah boleh. Jika tanah yang bercampur dengan darah dan daging mayat telah dibersihkan maka dibolehkan shalat di atas tanah tersebut, atau menjadikannya sebagai masjid. Hadits ini juga menunjukkan bahwa tanah kuburan yang sudah usang boleh dijual dan tetap menjadi harta pemiliknya , serta merupakan harta warisan bagi para ahli warisnya, selama belum diwakafkan“. Para Ualama ‚Sirah menegaskan bahwa kuburan yang ada di kebun tersebut adalah kuburan lama yang sudah usang, sehingga tida mungkin masih ada darah dan nanah mayat yang tertinggal. Sekalipun demikian, tetap diperintahkan agar digali dan dibersihkan semua sisa-sisa yang ada. Saya berkata: “Dibolehkannya memindahkan kuburan usang dan menjadikannya sebagai masjid , ialah jika tanah tersebut tidak berstatus sebagai tanah wakaf. Jika tanah tersebut berstatus sebagai tanah wakaf tidak boleh diubahperuntukannya kepada selain dari bunyi wakaf tersebut.

4. Hukum Memugar Masjid, Menghiasi dan Mengukir Dindinnya.
Pemugaran dimaksudkan ialah membangun masjid dengan tembol bata untuk memanbah kekuatan bangunan atap dan tiang-tiangnya. Sedangkan yang dimaksudkan dengan menghiasi dan mengukir ialah menambah bangunan asal dengan beraneka ragam hiasan. Semua Ulama membolehkan bahwa menganjurkan pemugaran masjid berdasarkan kepada apa yang dilakukan Umar ra, dan Utsman ra, yang telah membangun ulang masjid Nabi saw. Kendatipun perbuatna ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw , tetapi juga tidak menunjukkan kepada pemahaman sebaliknya yakni pelarangan pemugaran. Sebab masalah pemugaran ini tidak berkaitan dengan sifat yang akan merusak hikmah disyari‘atkannya pembangunan masjid, bahkan pemugaran itu sendiri akan meningkatkan pemeliharaan terhadap Syiar-syiar Allah swt.

Para Ulama juga menguatkan pendapat ini dengan mendasarkan apda firman Allah swt : „Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah swt ialah orang-orang yang beriman kepada Allah swt dan hari Kemudian…..“. (QS At-Taubah (9) : 18.)
Pemakmuran ini di antaranya dengan jalan pemugaran dan pemeliharaan bangunannya. Berkaitan dengan masalah ukiran dan hiasan (seperti membuat ornamen, relief, menulisi ataupun menggantungkan hiasan pada dinding) masjid, para Ulama umumnya memakruhkan. Bahkan sebagian Ulama ada yang mengharamkannya. Namun demikian baik yang memakruhkan dan mengharamkannya, semua sepakat mengharamkan penggunakan harta wakaf untuk keperluan menghiasi dan mengukir masjid. Sedangkan jika uang yang dipakai untuk menghias dan mengukir berasal dari pembangunan masjid itu sendiri, ternyata hal ini pun masih diperselisihkan. Az-Zarkasyi menyebutkan pendapat Imam al-Baghawi yang mengatakan :“ Tidak boleh mengukir masjid dengan memakai harta wakaf. Bila ada orang yang melakukannya maka dia harus dituntut untuk membayar ganti rugi. Andai ia melakukannya dengan hartanya sendiri maka hal itu dimakruhkan karena mengganggu kekhusyukan orang-orang yang shalat.“

Perbedaan pendapat antara pemugaran secara umum dan pengukiran atau penghiasan secara khusus cukup jelas. Masalah pemugaran, seperti telah kami sebutkan , tidak berkaitan dengan sifat atau tujuan yang dapat merusak hikmah persyari‘atan pembangunan masjid, sebab dapat merusak kekhusyukan orang-orang yang shalat, atau mengingatkan orang kepada bentuk-bentuk kemegahan kehidupan duniawi. Padahal tujuan memasuki masjid, di antara ialah, ingin menjauhkan pikiran dari segala bentuk ketertambatan pada kemegahan dan perhiasan duniawi. Inilah yang diperintahkan oleh Umar ra, ketia ia memerintahkan pembangunan masjid. Katanya :“Lindungilah ornag-orang dari tampias hujan. Janganlah kamu mewarnai (dinding masjid) dengan warna merah atau kuning sehingga dapat menimbulkan fitnah“.

Para Ulama berselisih pendapat tentang penulisan ayat-ayat al-Quran pada bagian Kiblat masjid, apakah termasuk ukiran yang dilarang atau tidak. Berkata Az-Zarkasyi di dlaam kitabnya A’‘amu’‘-Masjid : „Makruh menulis ayat-ayat al-Quran atau yang lainnya pada bagian Kiblat masjid, sebagaimana pendapat Imam Malik. Sebagian Ulama membolehkannya dan sebagaian yang lain tidak menganggapnya sebagai kesalahan. Pendapat mereka ini didasarkan kepada apa yang dilakukan oleh Utsman ra, terhadap masjid Rasulullah saw yang dalam hal ini tak seorangpun yang mengingkarinya.“

Dari penjelasan di atas nyatalah kesalahan-kesalahan orang-orang sekarang yang memakmurkan masjid dengan jalan mengukir dan menghiasinya dengan beraneka ragam seni ukiran dan lukis yang mencerminkan kemegahan, sehingga setiap orang yang memasuki masjid tidak lagi dapat merasakan arti ‚ubudiyah yang merendahkan diri di hadapan Allah swt. Bahkan apa yang dirasakan hanyalah kebanggaan terhadap kemajuan seni bangunan dan seni lukis (kaligrafi).

Sebagai akibat terburuk dari permainana setan terhadap kaum Muslimin ini, bahwa kaum fakir miskin, tidak lagi dapat menemukan tempat untuk menjauhkan diri dari segala bentuk ztawaran kemegahan duniawi. Dulu masjid menjadi tempat menyejukkan hati orangorang fakir miskin dan mengeluarkan mereka dari suasana dan kemegahan dunia menuju kepada keutamaan akherat. Tetapi sekerang, di dalam masjid pun mereka disodori kemegahan duniawi yang tidak pernah mereka nikmati dan rasakan.

Betapa buruk kondisi kaum Muslimin yang telah meninggalkan hakekat Islam dan memperhatikan bentuk-bentuk lahiriyah yang palsu yang penuh dengan dorongan hawa nafsu
dan syahwat.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 20 (6)

12 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 20“20. dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: “Hai Musa, Sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu”. (al-Qashash: 20)

Allah Ta’ala berfirman: wa jaa-a rajulun (“Dan datanglah seorang laki-laki”) dia disifati sebagai laki-laki, karena ia berbeda jalan, dimana ia menempuh jalan yang lebih dekat daripada jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diutus di belakangnya, sehingga ia berhasil lebih dahulu menemui Musa. Lalu ia berkata kepadanya: “Hai Musa ! innal mala-a ya’tamiruuna bika (“Sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentangmu.”) yaitu mereka bermusyawarah tentangmu, liyaqtuluuka fakhruj (“untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah”) dari negeri ini. Innii laka minan naashihiin (“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu.”)

Bersambung ke bagian 7

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 18-19 (5)

12 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 18-19“18. karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), Maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)”. 19. Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, Apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan Tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang Mengadakan perdamaian”. (al-Qashash: 18-19)

Allah Ta’ala berfirman memberitahukan tentang Musa as. ketika ia membunuh laki-laki Qibthi bahwa karenanya, jadilah, fil madiinati khaa-ifan (“Musa di kota itu merasa takut.”) yaitu akibat perbuatannya.

Yataraqqabu; yaitu mengendap-endap dan mewaspadai apa yang akan terjadi dari peristiwa itu, lalu ia melintasi di sebagian jalan dimana tiba-tiba ia melihat laki-laki yang meminta tolong kepadanya kemarin sedangkan sekarang ia berkelahi dengan laki-laki lain. Maka ketika Musa melewatinya, laki-laki itu pun kembali memohon pertolongannya. Maka Musa berkata: innaka laghawiyyum mubiin (“Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata.”) yaitu jelas kesesatannya dan keburukannya. Kemudian Musa bertekad untuk memukul laki-laki Qibthi itu. Maka laki-laki Israil itu yakin bahwa Musa akan melaksanakannya karena teriakan dan kelemahan orang Qibthi itu, maka ia berkata kepada Musa untuk mempertahankan dirinya, yaa Muusaa (“Hai Musa”) apakah engkau akan membunuhku, sebagaimana engkau telah membunuh seseorang kemarin? Hal itu disebabkan tidak ada yang mengetahui peristiwa itu kecuali dia dan Musa as. sendiri. Tatkala laki-laki bani Israil mendengar perkataan orang Qibthi itu, ia ambil perkataan itu dan pergi ke pintu Fir’aun serta melaporkannya. Maka Fir’aun mengetahui hal tersebut, sangat geramlah dia dan berkehendak untuk membunuh Musa, lalu mereka mencarinya agar dihadapkan kepada Fir’aun.

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 14-17 (4)

12 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 14-17“14. dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya Hikmah (kenabian) dan pengetahuan. dan Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 15. dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). 16. Musa mendoa: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah Menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
17. Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerah- kan kepadaKu, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa”. (al-Qashshas: 14-17)

Ketika Allah menceritakan awal pertama peristiwa Musa as, Dia pun mengabarkan bahwa tatkala ia telah mencapai masa dewasa, Allah memberinya hikmah dan ilmu. Mujahid berkata: “Yaitu kenabian.”

Wa kadzaalika najzil muhsiniin (“Dan demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”) Kemudian Allah menceritakan tentang sebab Musa mencapai ketinggian derajatnya, dengan kenabian dan diajak bicara oleh-Nya, pada saat adanya upaya dirinya membunuh seorang laki-laki Qibthi yang menjadi sebab keluarnya ia dari Mesir menuju ke Madyan. Maka Allah berfirman: wa dakhalal madiinata ‘alaa hiini ghaflatin min aHliHaa (“dan Musa masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah”)

Ibnu Juraij berkata dari ‘Atha al-Khurasani, dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu di antara waktu Maghrib dan ‘Isya’.” Ibnul Munkadir berkata dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Ibnu ‘Abbas: “Hal itu terjadi di pertengahan siang.” Demikian yang dikatakan oleh Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, as-Suddi dan Qatadah.

Fa wajada fiiHaa rajulaini yaqtatilaani (“Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi”) yaitu yang saling memukul dan saling memarahi. Haadzaa min syii’atihii (“Yang seorang dari golongannya.”) yaitu bani Israil. Wa Haadzaa min ‘aduwwiHi (“dan yang seorang lain dari musuhnya.”) yaitu bangsa Qibthi.

Hal itu dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah, as-Suddi dan Muhammad bin Ishaq. Lalu laki-laki bani Israil itu meminta tolong kepada Musa as. dan Musa mendapatkan satu kesempatan yaitu di saat penduduknya sedang lengah. Maka ia menghampiri laki-laki Qibthi itu, fawakazaHuu muusaa faqadlaa ‘alaiHi (“Lalu meninjunya dan matilah musuhnya itu.”)

Mujahid berkata: “FawakazaHu; yaitu meninju dengan seluruh genggaman tangannya.” Qatadah berkata: “FawakazaHu; yaitu memukulnya dengan tongkat yang dibawanya, faqadlaa ‘alaiHi; yaitu ia sekarat dan akhirnya mati.”

Qaala (“Berkata”) Musa: Haadzaa min ‘amalisy syaithaani innaHuu ‘aduwwum mudlillum mubiin. Qaala rabbi innii dhalamtu nafsii faghfirlii faghafara laHuu innaHuu Huwal ghafuurur rahiim. Qaala rabbi bimaa an’amta ‘alayya (“Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa mendoa: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah Menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerah- kan kepadaKu,”) dimana Engkau berikan aku kehormatan, kemuliaan dan kenikmatan.
Falan akuuna dhaHiiran (“Aku sekali-sekali tidak akan menjadi penolong.”) yaitu pendukung, lilmujrimiin (“Bagi orang-orang yang berdosa.”) yaitu orang-orang yang kafir kepada-Mu dan menentang perintah-perintah-Mu.

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 10-13 (3)

12 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 10-13“10. dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hati- nya, supaya ia Termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). 11. dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, 12. dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; Maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat Berlaku baik kepadanya?”. 13. Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (al-Qashshash: 10-13)

Allah berfirman mengabarkan tentang perasaan ibu Musa ketika puteranya hilang bersama air laut, dimana ia merasa kosong dari selurh urusan dunia kecuali tentang Musa. Hal itu dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’ad bin Jubair, Abu ‘Ubaidah, adh-Dhahhak, al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan selain mereka.

In kaadat latubdii biHii (“Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa”) yakni hal itu hampir saja terjadi karena begitu dahsyatnya perasaan dan kesedihannya, juga kekecewaannya, dimana ia memberitahukan tentang kehilangan anaknya, seandainya Allah tidak menetapkan dan memberinya kesabaran. Allah berfirman: lau laa ar rabath-naa ‘alaa qalbiHaa litakuuna minal mu’miniin. Wa qaalat li ukhtiHii qushshiiH (“Seandainya Kami tidak teguhkan hatinya, supaya dia termasuk orang-orang yang percaya [kepada janji Allah]. Dan berkatalah Ibu Musa kepada sudara perempuan Musa: ‘Ikutilah dia.’”) yakni ia memerintahkan puterinya yang telah dewasa yang telah mengerti apa yang diucapkannya dengan mengatakan: qushshiiH’ yakni ikuti jejaknya, ambillah beritanya dan carilah kabarnya dari seluruh sudut negeri. Maka ia keluar untuk hal tersebut. Fabashurat biHii ‘an junubin (“Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh.”)
Ibnu ‘Abbas berkata: “Dari satu arah.” Mujahid berkata: “Yaitu dari jauh.”

Qatadah berkata: “Ia mulai memperhatikannya dan seakan-akan ia tidak menghendakinya.” Hal itu dikarenakan, tatkala Musa as. sudah tinggal di istana Fir’aun dan sang permaisuri amat mencintainya dan memberikan kebebasan kepadanya, maka mereka mengajukan wanita-wanita penyusu di lingkungan istana, akan tetapi tidak satupun wanita yang berhasil membuatnya menyusu. Lalu mereka keluar ke pasar-pasar untuk mencari seorang wanita yang layak menyusuinya. Ketika kakak perempuannya melihat bayi itu dalam gendongan mereka, ia mengenali adiknya, walaupun ia tidak menjelaskan dan mereka tidak mengetahuinya. Allah berfirman: wa harramnaa ‘alaiHil maraadli’a min qablu (“Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang hendak menyusuinya sebelum itu.”) yaitu mencegah yang menjadi takdir.

Hal itu disebabkan karena kemuliaan dan terpeliharanya dia di sisi Allah dari penyusuan selain dari ibunya. Dan karena Allah swt. menjadikan hal itu sebagai sebab kembalinya dia kepada sang ibu untuk disusui. Itulah rasa aman yang ada setelah ia mengalami rasa takut. Ketika ia melihat mereka mulai kebingungan tentang siapa yang akan menyusuinya: faqaalat Hal adullukum ‘alaa aHli baitiy yakfuluunaHuu lakum wa Hum laHuu naashihuun (“Maka berkatalah saudara perempuan Musa: ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Ketika ia[kakak perempuan Musa] mengatakan demikian mereka menangkapnya dan mengadukan urusannya dan mereka berkata kepadanya: ‘Bagaimana engkau tahu tentang perlakuan baik dan kasih sayang mereka kepadanya?’ Maka ia menjawab: ‘Mereka begitu baik dan kasih sayang kepadanya, serta senangnya mereka dapat membahagiakan kerajaan dan mengharapkan manfaatnya, maka temuilah dia.’”
Setelah ia mengatakan hal demikian dan berhasil lolos dari tekanan mereka, maka mereka pergi bersamanya ke kediaman ahlul bait yang dimaksud. Mereka masuk menemui ibu Musa. Merekapun merasa gembira melihat peristiwa itu dan pergi mengabarkan peristiwa gembira itu kepada permaisuri raja. Lalu sang permaisuri memanggil Ibu Musa dan memperlakukannya dengan baik, serta memberinya banyak hadiah. Permaisuri sama sekali tidak mengetahui bahwa wanita itu adalah ibu yang sebenarnya, disangkanya kebetulan saja cocok dalam susuannya. Kemudian Asiyah meminta wanita itu untuk tinggal bersamanya guna menyusui bayi itu. Akan tetapi ia menolak dan berkata: “Aku mempunyai anak-anak dan suami, serta aku tidak sanggup untuk tinggal bersama anda. Akan tetapi jika anda senang aku akan menyusuinya di rumahku, aku akan melakukannya.”
Maka permaisuri Fir’aun pun memperkenankannya serta memberikan nafkah, transportasi, pakaian dan kebaikan-kebaikan lain yang cukup melimpah kepadanya. Lalu Ibu Musa pun pulang dengan penuh ridla dan diridlai [dengan] membawa anaknya. Sesungguhnya Allah telah menggantikan rasa takutnya dengan rasa aman dalam kemuliaan, kehormatan dan rizky yang melimpah. Di antara kesulitan dan kesempitan yang dilaluinya, tidak ada sama sekali melainkan sebentar saja, yaitu satu hari satu malam atau yang semisal itu. wallaaHu a’lam.

Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala urusan. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terwujud, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terwujud, yang telah menjadikan bagi orang yang bertakwa sesudah kesedihannya ada kegembiraan dan sesudah kesempitannya ada kelapangan. Untuk itu Allah berfirman: fa radadnaaHu ilaa ummiHii kai taqarra ‘ainuHaa (“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya hatinya tenang.”) karenanya: wa laa tahzan (“dan tidak berduka cita”) terhadapnya, wa lita’lama anna wa’dallaaHi haqqun (“Dan agar ia mengetahui bahwa janji Allah itu benar”) yaitu janji-Nya untuk mengembalikan Musa kepada-Nya, serta menjadikannya salah seorang dari para Rasul. Maka di saat itu, terealisasi sudah dengan dikembalikannya Musa kepada dirinya dan diapun akan menjadi salah seorang Rasul, lalu ia berusaha membinanya dengan sesuatu yang layak menurut tabiat dan syar’i.

Firman Allah: wa laakinna aktsaraHum laaya’lamuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”) yaitu tentang hukum Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya, serta akibat-akibat baiknya yang terpuji di dunia dan di akhirat. Terkadang, memang menjadi suatu perkara yang begitu dibenci oleh jiwa, padahal akibatnya secara hakiki amatlah terpuji, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi [pula] kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.” (al-Baqarah: 216)

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 7-9 (2)

12 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 7-9“7. dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul. 8. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menja- di musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Ha- man beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. 9. dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (al-Qashash: 7-9)

Mereka bercerita bahwa ketika Fir’aun mulai banyak membunuh anak laki-laki Bani Israil, bangsa Qibthi mulai takut akan musnahnya Bani Israil, sehingga di masa yang akan datang mereka akan mendapatkan pekerjaan berat. Untuk itu merek berkata kepada Fir’aun: “Dikhawatirkan, seandainya hal itu terus berlangsung, orang-orang tua mereka terus mati dan anak-anak mereka terus terbunuh. Sedang wanita-wanita mereka tidak mungkin dapat melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan kaum laki-laki mereka. maka carilah jalan keluar masalah tersebut untuk kita.”

Lalu dia memerintahkan untuk membunuh anak laki-laki selama setahun dan membiarkan mereka selama setahun. Harun as. dilahirkan pada tahun yang dibiarkannya anak-anak itu hidup, sedangkan Musa as. lahir di tahun pembunuhan anak-anak laki-laki. Fir’aun mempunyai orang-orang yang diberi tugas untuk hal tersebut serta memiliki bidan-bidan yang bertugas berkeliling mencari para wanita. Barangsiapa yang melihat mereka hamil, mereka mendata nama-namanya. Lalu di waktu kelahirannya, mereka tidak ditangani kecuali oleh bidan-bidan Qibthi saja, dan jika wanita bani Israil melahirkan anak perempuan maka dibiarkan hidup anak tersebut. Dan jika wanita itu melahirkan bayi laki-laki, maka algoji masuk membawa pedang terhunus dan membunuh bayi itu –semoga Allah membusukkan mereka-.

Maka ketika Ibnu Musa hamil, tidak tampak tanda-tanda kehamilannya seperti wanita lain. Akan tetapi ketika ia melahirkan anak laki-laki, tampak kekhawatiran jiwanya dan merasakan takut teramat sangat disertai perasaan cinta yang sangat mendalam kepada anaknya. Memang tidak ada satu orangpun yang melihat Musa melainkan ia akan mencintainya. Orang-orang bahagia adalah orang yang dicintai secara alami dan secara syar’i. Allah berfirman yang artinya: “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku.” (ThaaHaa: 39)

Lalu ketika perasaannya sangat menderita, ia diberi ilham secara rahasia dan disampaikan ke dalam bathinnya serta ditiupkan ke dalam hatinya, sebagaimana firman Allah: wa auhainaa ilaa ummi muusaa an ar-dli’iiH, fa idzaa khifti fa alqiiHi fil yammi wa laa takhaafii wa laa tahzanii, innaa raadduuHu ilaiki wa jaa’iluuHu minal mursaliin (“dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul.”)

Hal ini disebabkan bahwa rumahnya berada di pinggir sungai Nil. Lalu ia membuat sebuah kotak dan di dalamnya diletakkan buaian. Dia mulai menyusui puteranya dan jika ia melihat ada seseorang yang ditakutinya masuk, maka ia pergi dan meletakkan puteranya itu di kotak tersebut, dibiarkannya mengambang di laut dan diikat dengan tambang.

Suatu hari seseorang yang ditakutinya masuk menemuinya, ia pun pergi dan meletakkan puteranya itu di atas lautan. Akan tetapi ia lalai untuk mengikatnya, maka kotak itu terbawa arus laut sehingga melintas di istana Fir’aun. Maka para dayang menemukannya, lalu membawa dan menyerahkannya kepada permaisuri Fir’aun. Mereka tidak tahu isi kotak tersebut dan khawatir mendapat fitnah jika dibuka tanpa sepengetahuan sang permaisuri. Dan ketika permaisuri membuka kota tersebut, didapati di dalamnya seorang bayi laki-laki yang amat halus, tampan, manis dan bercahaya. Lalu Allah menumbuhkan rasa cinta ke dalam hati sanubari permaisuri di saat memandang bayi tersebut. Hal tersebut menyebabkan kebahagiaan baginya dan apa-apa yang Allah kehendaki untuk memuliakan permaisuri dan mencelakakan suaminya.

Untuk itu Dia berfirman: faltaqathaHuu aalu fir’auna liyakuuna laHum ‘aduwwaw wa hazanan (“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.”) Muhammad bin Ishaq dan lain-lain berkata bahwa “lam” dalam ayat ini adalah “lam” yang menunjukkan akibat, bukan “lam” untuk menunjukkan alasan. Karena mereka tidak mengehendaki menemukannya. Tidak diragukan lagi bahwa dhaHir lafadznya membenarkan apa yang mereka katakan. Akan tetapi, jika dilihat dari makna rangkaian kata, maka “lam” tetap menjadi ta’lil [alasan], karena maknanya adalah, bahwa Allah Ta’ala menggiring mereka untuk menemukannya agar ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. hal tersebut lebih tepat dalam membatalkan kewaspadaan mereka.

Untuk itu Allah berfirman: in fir’auna wa Haamaana wa junuudaHumaa kaanuu khaathi-iin (“Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah”)

Firman Allah: wa qaalatim ra-atum fir’auna qurrati a’yunillii wa laka laa taqtuluuHu ‘asaa ay yanfa’anaa au nattakhidzaHuu waladaw wa Hum laa yasy’uruun (“Dan berkatalah istri Fir’aun: ‘[Ia] adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak.’ Sedang mereka tidak menyadari.”) yaitu bahwa Fir’aun tatkala melihat bayi itu, ia berniat membunuhnya karena takut bayi itu berasal dari Bani Israil. Akan tetapi permaisurinya [Asiyah binti Muzahim] menentang dan meredam serta merayunya, dimana dia berkata: qurratu ‘ainillii wa laka (“Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.”) maka Allah memberikan hidayah kepada permaisuri dengan sebab bayi itu serta membinasakan Fir’aun dengan kedua tangan anak tersebut.

Hal tersebut telah berlalu dalam cerita fitnah di surah ThaaHaa secara panjang lebar, dari riwayat Ibnu ‘Abbas secara marfu’ yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan lain-lain.

Firman-Nya: ‘asaa ay yanfa’anaa (“Mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita”) hal itu telah tercapai baginya dan Allah memberi petunjuk dengan sebab dia [Musa], serta menempatkannya [Asiyah] di dalam jannah karenanya. Au nattakhidzaHuu waladan (“Atau kita ambil ia menjadi anak”) ia ingin menjadikan bayi itu sebagai anaknya atau mengangkatnya sebagai anak. Hal itu disebabkan dia tidak memiliki anak dari Fir’aun.

Firman Allah: wa Hum laa yasy’uruun (“Sedang mereka tidak menyadarinya”) yaitu mereka tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki dari peristiwa ditemukannya bayi tersebut oleh mereka berupa hikmah yang agung dan indah, serta hujjah yang pasti.

Bersambung ke bagian 3