Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 87-90 (25)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 87-90“87. dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, Maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. 88. dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 89. Barangsiapa yang membawa kebaikan, Maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. 90. dan barang siapa yang membawa kejahatan, Maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (an-Naml: 87-90)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang keterkejutan manusia pada hari ditiupkan sangkakala. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang mana terompet ditiupkan pada waktu itu. Di dalam hadits sangkakala tersebut dinyatakan bahwa Israfil-lah yang meniupkannya dengan perintah Allah Ta’ala. Tiupan pertama adalah tiupan yang mengejutkan, hingga cukup lama waktunya dan hal ini terjadi di akhir umur dunia ketika hari kiamat terjadi, menimpa manusia-manusia terburuk. Maka saat itu terkejutlah penghuni langit dan penghuni bumi.
Illaa maa syaa-allaaHu (“Kecuali siapa yang dikehendaki Allah”) mereka adalah para syuhada, karena mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rizky.

Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan, ‘Ubaidullah bin Mu’adz al-Anbarry bercerita kepada kami, ayahku bercerita kepada kami bahwasannya Syu’bah bercerita kepada kami dari an-Nu’man bin Salim, aku mendengar Ya’qub bin ‘Ashim bin ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi berkata, aku mendengar Abdullah bin ‘Amr didatangi seseorang dan berkata, “Hadits apa yang engkau ceritakan bahwa hari kiamat itu akan terjadi demikian dan demikian?” dia menjawab, “SubhaanallaaH?” atau laa ilaaHa illallaaH, atau kalimat semisalnya. Sesungguhnya aku berkeinginan untuk tidak menceritakan sesuatu selama-lamanya. Aku hanya mengatakan, sesungguhnya kalian akan menyaksikan sebentar lagi sebuah perkara besar yang dapat menghancurkan rumah, lalu terjadi ini dan itu, kemudian ia mengatakan, Rasulullah bersabda: ‘Dajjal akan keluar pada umatku, lalu tinggal selama 40 –aku tidak tahu 40 hari, 40 bulan, atau 40 tahun-, Allah mengutus ‘Isa bin Maryam seakan-akan ia seperti ‘Urwah bin Mas’ud, lalu ia mencari dan membinasakannya. Kemudian manusia tinggal selama 7 tahun, dimana tidak ada lagi permusuhan di antara mereka. kemudian Allah mengirimkan angin dingin dari arah Syam, sehingga tidak ada satu makhluk pun yang di dalam hatinya terdapat sedikit saja kebaikan atau keimanan di permukaan bumi yang tersisa, kecuali angin itu yang akan mewafatkannya. Sehingga seandainya salah seorang kalian masuk ke dalam bagian terdalam gunung pun, angin itu akan mengejar dan mewafatkannya.’”

Dia berkata, aku mendengarnya dari Rasulullah saw. ia bersabda: “Maka tersisalah manusia-manusia yang terburuk seperti ringannya burung dan buasnya binatang buas. Mereka tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar. Lalu syaitan dalam bentuk manusia datang kepada mereka dan berkata: ‘Apakah kalian tidak memperkenankan kami?’ Mereka berkata, ‘Lalu apa yang akan engkau perintahkan kepada kami?’ maka syaitan itu memerintahkan mereka untuk menyembah patung-patung, dan dengan demikian mereka memiliki banyak rizky dan kehidupan yang baik. Kemudian ditiupkanlah sangkakala, maka tidak ada satu orangpun yang mendengarkannya kecuali dia mendongak ke atas terheran-heran. Dan orang pertama yang mendengarnya adalah seseorang yang sedang memperbaiki dan melumuri kolam minum ontanya dengan lumpur, lalu ia pingsan dan matilah seluruh manusia. Kemudian Allah mengirimkan hujan, seolah-olah rintik-rintik atau awan gelap [Nu’man ragu-ragu], lalu tumbuhlah jasad-jasad manusia. Kemudian ditiupkan kembali sangkakala dan tiba-tiba mereka berdiri, bangun dan memandang. Lalu dikatakan: ‘Hai manusia! Datanglah kalian menuju Rabb kalian.’ Dan tahanlah merek [di tempat perhentian], karena merek akan ditanya, kemudian dikatakan: ‘Keluarkanlah utusan api neraka.’ maka ditanyakan, ‘Berapa orang?’ dijawab: ‘Dari setiap 1000 ada 999.’ Itulah hari dijadikannya anak-anak beruban dan betis-betis tersingkap.’”

Kemudian, ditiupkanlah sangkakala, maka tidak ada satu orang pun yang mendengarnya melainkan ia mendengarkan seraya mengangkat kepalanya dalam keadaan bingung. Al-lait adalah bagian tengkuk, yaitu miring tengkuknya untuk mendengarkan dengan seksama sesuatu dari langit, inilah tiupan yang mengagetkan. Kemudian setelah itu tiupan kematian. Kemudian, setelah itu lagi tiupan yang membangunkan manusia di hadapan Rabbul ‘aalamiin, yaitu saat dibangkitkan dari kubur untuk seluruh makhluk. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: wa kullu atauHu daakhiriin (“Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”) dibaca dengan madd [panjang] atau tidak di atas fi’il [kata kerja] semuanya memiliki satu makna (daakhiriin) yaitu, rendah diri dan taat, tidak ada satu makhlukpun yang menyelisihi-Nya sebagaimana firman Allah yang artinya: “Yaitu pada hari Dia memanggilmu, lalu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya, dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam [di dalam kubur] kecuali sebentar saja.” (al-Israa’: 52)

Di dalam hadits sangkakala dinyatakan bahwa pada tiupan ketiga, Allah memerintahkan ruh-ruh untuk diletakkan di lubang sangkakala. Kemudian Israfil meniupkannya setelah jasad-jasad itu tumbuh di dalam kubur dan tempatnya. Jika sangkakala itu ditiup, ruh-ruh itu beterbangan, dimana ruh orang-orang Mukmin bercahaya dan ruh orang-orang kafir begitu gelap. Maka Allah berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh setiap ruh akan kembali kepada jasadnya.” Lalu ruh-ruh itu datang menuju jasadnya masing-masing dengan menyusup ke dalamnya seperti menyusupnya bisa ular orang yang disengat. Kemudian mereka berdiri dengan membersihkan debu dari kubur-kubur mereka.”

Allah berfirman yang artinya: “[yaitu] pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala [sewaktu di dunia].” (al-Ma’aarij: 43)

Firman Allah Ta’ala: wa taral jibaala tahsabuHaa haamidataw wa Hiya tamurru marras sahaab (“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan.”) yaitu engkau lihat dia seakan-akan tetap tidak bergerak seperti apa adanya, padahal ia berjalan seperti gerakan awan, yaitu bergerak dari tempat-tempatnya, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan [ingatlah] akan hari [yang ketika itu] Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar.” (al-Kahfi: 47).
Dan firman Allah: shun’allaaHil ladzii atqana kulla syai-in (“Demikianlah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.”) yaitu Dia melakukan itu dengan ketetapan-Nya yang besar. Alladzii atqana kulla syai-in (“Yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu”) yaitu membuat kokoh setiap apa yang diciptakan-Nya dan meletakkan hikmah-hikmah di dalamnya.

innaHuu khabiirum bimaa taf’aluun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) yaitu Dia mengetahui tentang apa yang dikerjakan hamba-hamba-Nya, baik dan buruk. Lalu mereka akan dibalas dengan balasan yang sempurna. Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan kondisi orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka di saat itu. Dia berfirman: man jaa-a bil hasanati falaHuu khairum minHaa (“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik daripadanya.”) Qatadah berkata: “Keikhlasan.”

Sedangkan Zainul ‘Abidin berkata: “Yaitu, Laa ilaaHa illallaaH.” Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjelaskan di tempat yang lain bahwa satu kebaikan memiliki 10 nilai bandingan. Wa Hum min faza’iy yauma-idzin aaminuun (“Sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu.”) sebagaimana Dia berfirman dalam ayat lain yang artinya: “Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar [pada hari kiamat].” (al-Anbiyaa’: 103).

Firman Allah Ta’ala: wa man jaa-a bis sayyi-ati fakubbat wujuuHuHum fin naari (“Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka.”) yaitu barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan membawa keburukan, tidak memiliki kebaikan, atau keburukannya mengalahkan kebaikannya, seluruhnya akan dibalas sesuai keadaannya. Untuk itu, Allah berfirman: Hal tujzauna illaa maa kuntum ta’maluun (“Tiadalah kamu dibalasi, kecuali setimpal dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.”)

Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Anas bin Malik, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Mujahid, Ibrahim an-Nakha’i, Abu Wa-il, Abu Shalih, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam, az-Zuhri, as-Suddi, adh-Dhahhak, al-Hasan, Qatadah dan Abu Zaid berkata tentang firman-Nya: waman jaa-a bis sayyi-ati (“Dan barangsiapa yang membawa kejahatan”) yaitu syirik.

Bersambung ke bagian 26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: