Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 10-13 (3)

12 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 10-13“10. dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hati- nya, supaya ia Termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). 11. dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, 12. dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; Maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat Berlaku baik kepadanya?”. 13. Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (al-Qashshash: 10-13)

Allah berfirman mengabarkan tentang perasaan ibu Musa ketika puteranya hilang bersama air laut, dimana ia merasa kosong dari selurh urusan dunia kecuali tentang Musa. Hal itu dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’ad bin Jubair, Abu ‘Ubaidah, adh-Dhahhak, al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan selain mereka.

In kaadat latubdii biHii (“Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa”) yakni hal itu hampir saja terjadi karena begitu dahsyatnya perasaan dan kesedihannya, juga kekecewaannya, dimana ia memberitahukan tentang kehilangan anaknya, seandainya Allah tidak menetapkan dan memberinya kesabaran. Allah berfirman: lau laa ar rabath-naa ‘alaa qalbiHaa litakuuna minal mu’miniin. Wa qaalat li ukhtiHii qushshiiH (“Seandainya Kami tidak teguhkan hatinya, supaya dia termasuk orang-orang yang percaya [kepada janji Allah]. Dan berkatalah Ibu Musa kepada sudara perempuan Musa: ‘Ikutilah dia.’”) yakni ia memerintahkan puterinya yang telah dewasa yang telah mengerti apa yang diucapkannya dengan mengatakan: qushshiiH’ yakni ikuti jejaknya, ambillah beritanya dan carilah kabarnya dari seluruh sudut negeri. Maka ia keluar untuk hal tersebut. Fabashurat biHii ‘an junubin (“Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh.”)
Ibnu ‘Abbas berkata: “Dari satu arah.” Mujahid berkata: “Yaitu dari jauh.”

Qatadah berkata: “Ia mulai memperhatikannya dan seakan-akan ia tidak menghendakinya.” Hal itu dikarenakan, tatkala Musa as. sudah tinggal di istana Fir’aun dan sang permaisuri amat mencintainya dan memberikan kebebasan kepadanya, maka mereka mengajukan wanita-wanita penyusu di lingkungan istana, akan tetapi tidak satupun wanita yang berhasil membuatnya menyusu. Lalu mereka keluar ke pasar-pasar untuk mencari seorang wanita yang layak menyusuinya. Ketika kakak perempuannya melihat bayi itu dalam gendongan mereka, ia mengenali adiknya, walaupun ia tidak menjelaskan dan mereka tidak mengetahuinya. Allah berfirman: wa harramnaa ‘alaiHil maraadli’a min qablu (“Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang hendak menyusuinya sebelum itu.”) yaitu mencegah yang menjadi takdir.

Hal itu disebabkan karena kemuliaan dan terpeliharanya dia di sisi Allah dari penyusuan selain dari ibunya. Dan karena Allah swt. menjadikan hal itu sebagai sebab kembalinya dia kepada sang ibu untuk disusui. Itulah rasa aman yang ada setelah ia mengalami rasa takut. Ketika ia melihat mereka mulai kebingungan tentang siapa yang akan menyusuinya: faqaalat Hal adullukum ‘alaa aHli baitiy yakfuluunaHuu lakum wa Hum laHuu naashihuun (“Maka berkatalah saudara perempuan Musa: ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Ketika ia[kakak perempuan Musa] mengatakan demikian mereka menangkapnya dan mengadukan urusannya dan mereka berkata kepadanya: ‘Bagaimana engkau tahu tentang perlakuan baik dan kasih sayang mereka kepadanya?’ Maka ia menjawab: ‘Mereka begitu baik dan kasih sayang kepadanya, serta senangnya mereka dapat membahagiakan kerajaan dan mengharapkan manfaatnya, maka temuilah dia.’”
Setelah ia mengatakan hal demikian dan berhasil lolos dari tekanan mereka, maka mereka pergi bersamanya ke kediaman ahlul bait yang dimaksud. Mereka masuk menemui ibu Musa. Merekapun merasa gembira melihat peristiwa itu dan pergi mengabarkan peristiwa gembira itu kepada permaisuri raja. Lalu sang permaisuri memanggil Ibu Musa dan memperlakukannya dengan baik, serta memberinya banyak hadiah. Permaisuri sama sekali tidak mengetahui bahwa wanita itu adalah ibu yang sebenarnya, disangkanya kebetulan saja cocok dalam susuannya. Kemudian Asiyah meminta wanita itu untuk tinggal bersamanya guna menyusui bayi itu. Akan tetapi ia menolak dan berkata: “Aku mempunyai anak-anak dan suami, serta aku tidak sanggup untuk tinggal bersama anda. Akan tetapi jika anda senang aku akan menyusuinya di rumahku, aku akan melakukannya.”
Maka permaisuri Fir’aun pun memperkenankannya serta memberikan nafkah, transportasi, pakaian dan kebaikan-kebaikan lain yang cukup melimpah kepadanya. Lalu Ibu Musa pun pulang dengan penuh ridla dan diridlai [dengan] membawa anaknya. Sesungguhnya Allah telah menggantikan rasa takutnya dengan rasa aman dalam kemuliaan, kehormatan dan rizky yang melimpah. Di antara kesulitan dan kesempitan yang dilaluinya, tidak ada sama sekali melainkan sebentar saja, yaitu satu hari satu malam atau yang semisal itu. wallaaHu a’lam.

Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala urusan. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terwujud, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terwujud, yang telah menjadikan bagi orang yang bertakwa sesudah kesedihannya ada kegembiraan dan sesudah kesempitannya ada kelapangan. Untuk itu Allah berfirman: fa radadnaaHu ilaa ummiHii kai taqarra ‘ainuHaa (“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya hatinya tenang.”) karenanya: wa laa tahzan (“dan tidak berduka cita”) terhadapnya, wa lita’lama anna wa’dallaaHi haqqun (“Dan agar ia mengetahui bahwa janji Allah itu benar”) yaitu janji-Nya untuk mengembalikan Musa kepada-Nya, serta menjadikannya salah seorang dari para Rasul. Maka di saat itu, terealisasi sudah dengan dikembalikannya Musa kepada dirinya dan diapun akan menjadi salah seorang Rasul, lalu ia berusaha membinanya dengan sesuatu yang layak menurut tabiat dan syar’i.

Firman Allah: wa laakinna aktsaraHum laaya’lamuun (“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”) yaitu tentang hukum Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya, serta akibat-akibat baiknya yang terpuji di dunia dan di akhirat. Terkadang, memang menjadi suatu perkara yang begitu dibenci oleh jiwa, padahal akibatnya secara hakiki amatlah terpuji, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi [pula] kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu.” (al-Baqarah: 216)

Bersambung ke bagian 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: