Arsip | 17.22

Hikmah dari Perdamaian Hudaibiyah

14 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Sebelum masuk kepada rincian tentang pelajaran-pelajaran yang harus diambil dari perdamaian Hudaibiyah ini, terlebih dahulu kami paparkan secara singkat beberapa hikmah dari perdamaian Hudaibiyahini. Sesungguhnya peradamaian ini merupakan salahsatu bentuk tadbir Ilahi (rekayasa Ilahi) untuk menampakkan tindakan kenabian dan pengaruhnya. Kesuksesan perdamaian ini merupakan rahasia yang berkait erat dengan perkara ghaib yang tersimpan di dalam pengetahuan Allah semata. Oleh karena itu kaum Muslimin merasa heran dan terperanjat melihat peristwa tersebut karena mereka lebih banyak mengandalkan pemikiran dan pertimbangan mereka. Dari sinilah maka mai menganggap masalah perdamaian ini, dengan segala Muqadimmah, isi dan hasilnya , termasuk dasar-dasar yang penting dalam meluruskan aqidah Islamiyah dan mengukuhkannya.

Pertama, kita bahas terlebih dahulu beberapa hikmah Ilahiah ynag terkandung di dalam perdamaian yang agung ini. Kemudian kita kaji hukum-hukum syariat yang dikandung oleh beberapa kasus perdamaian ini.

Di antara hikmah ynag nampak secara jelas, bahwa perdamaian Hudaibiyah ini merupakan „muqadimmah“ bagi penaklukan kota Mekkah. Perdamaian ini seperti dikatakan oleh Ibnul Qayyim merupakan pintu dan kunci bai penaklukan kota Mekkah. Sudah menjadi kebiasaan Allah, apabila menghendaki terjadinya suatu perkara besar senantiasa memperlihatkan beberapa „muqadimmahnya“nya terlebih dahulu sebagai isyaraat kepadanya.

Kaum Muslimin pada saat itu tidak memahami isyarat tersebut, karena masalah ini termasuk masa depan yang ghaib bagi mereka. Bagaimana mungkin mereka dapat memahami hubungan antara kenyataan yang mereka lihat dengan masalah ghaib yang belum pernah mereka bayangkan sama sekali?

Tetapi tidak lama kemudian kaum Muslimin merasakan urgensi perdamaian ini dan sejumlah kebaikan yang terkandung di dalamnya. Dengan perdamaian ini, setiap orang merasa aman dari gangguan orang-orang lain. Kaum Muslimin dapat lebih leluasa bergaul dengan orang-orang kafir guna menyampaikan ayat-ayat Al-Quran kepada mereka. Bahkan orang-orang yang tadinya menyembunyikan keislamannya, dengan perdamaian ini mereka berani memunculkannya. Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Ibnu Ishaq dari Az-Zuhri ia berkata :“Belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Islam penaklukan (futuh) yang lebih besar dari perdamaian Hudaibiyah. Sebelumnya, selalu dicapai melalui peperangan, tetapi perjanjian Hudaibiyah ini telah berhasil menghindarkan peperangan dan memberikan keamanan kepada manusia sehingga mereka bisa melakukan dialog dan perundingan. Selama masa perdamaian ini, tak seorangpun yang berakal sehat yang diajak bicara Islam kecuali segera masuk Islam. Selama dua tahun tersebut orang-orang yang masuk Islam sebanyak jumlah orang Islam sebelum peristiwa tersebut atau lebih banyak.

Oleh sebab itu al-Quran menyebut peristiwa ini dengan istilah Fath (kemenangan). Firman Allah : „Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedangkan kamu tidak merasa takut maka Alah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan ynag dekat.“ (QS Al- Fath 27)

Di antara hikmah lainnya bahw aAllah dengan perdamaian tersebut menampakkan perbedaan yang sangat jelas antara wahyu kenabian dan rekayasa pemikiran manusia, antara bimbingan (taufiq) Nabi yang diutus dan tindakan seorang pemikir jenius antara ilham Ilahi yang datang dari luar alam sebab akibat dan memperturutkan isyarat sebab akibat. Allah ingin memenangkan nubuwwat Nabi-Nya, Muhammad saw dihadapan penglihatan setiap orang yang cerdas dan berpikiran mendalam. Barangkali ini merupakan sebagian dari penafsiran firman Allah :“Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.“ (QS al-Fath 3). Yakni pertolongan yang unik caranya sehingga kaan menyatakan akal-akal yang lalai dan pikiran yang tertutup. Oleh sebab itulah Nabi saw memberikan semua persyaratan yang diminta kaum Musyrikin. Nabi saw menyetujui beberapa perkara yang menurut para sahabat kurang menguntungkan. Anda tahu tentunya bagaimana Umar ra merasa cemas dan bersempit dada menanggapi masalah tersebut, sampai di kemudian hari Umar ra berkata tentang
dirinya sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya : „Aku terus berpuasa, shalat, bersedekah dan membebaskan budak (sebagai kafarat) dari apa yang pernah au lakukan, karena takut akan ucapanku yang pernah aku ucapkan pada hari itu.“

Andapun tahu bagaimana rasa sedih campur enggan melanda para sahabat ketika diperintahkan oleh Rasulullah saw agar bercukur rambut dan menyembelih binatang qurban untuk kembali ke Madinah, kendatipun Rasulullah saw mengulangi perintah tersebut sampai tiga kali. Sebabnya ialah para sahabat ra waktu itu mengamati dan menganalisa tindakan-tindakan Nabi saw dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa. Karena itu mereka tidak dapat melihat dan memahaminya kecuali sebatas apa yang dapat dipahami oleh akal mereka sebagai manusia biasa dan didasarkan kepada pengalamanpengalaman empirik. Sedangkan Nabi saw dalam mengambil tindakan-tindakannya berpijak di atas pijakan kenabian. Pelaksanaan perinta Ilahi semata-matalah yang melandasi tindakan-tindakan Nabi saw tersebut.

Hal ini tampak secara jelas dari jawaban Nabi saw kepada Umar ra ketika mendatangi Nabi saw untuk menanyakan atau meragukan tindakan tersebut. Nabi saw menjawab kepada Umar ra : „Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Aku tidak menyalahi-Nya dan Dia pasti membelaku.“ Juga nampak secara jelas dari wasiat Nabi saw kepada Ustman ra ketika diutusnya ke Mekkah untuk berunding dengan Quraisy membahas maksud kedatangan Nabi saw. Nabi saw memerintahkan Ustman agar mendatangi orang-orang Mukmin di Mekkah, lelaki dan wanita, guna menyampaikan kabar kemenangan kepada mereka dan bahwa Allah memenangkan agama-Nya di Mekkah sehingga tidak perlu lagi menyembunyikan keimanan.

Tidak heran jika kaum Muslimin tercengang menanggapi sikap Rasulullah saw yang di luar jangkauan pemahaman dan ukuran manusia biasa pada waktu itu, tetapi ketercenganan dan kekagetan itu segera sirna setelah Rasulullah saw membacakan kepada mereka surat Al-Fath yang diturunkan kepada beliau setelah pembicaraan mengenai perdamaian itu usai. Setelah itu barulah para sahabat menyadari bahwa mereka menerima syarat-syarat perdamaian tersebut merupakan mata air kemenangan bagi mereka, dan kehinaan serta kekalahan bagi kaum Musyrikin, kendatipun secara sepintas perdamaian itu memberikan kemangan kepada kaum Musyrikin. Akhirnya dari balik itu semua terbukti kemenangan yang sangat gemilang berada di tangan Rasul-Nya dan kaum Mukminin tanpa campur tangan usulan pikiran dan akal manusia.

Adakah bukti kenabian Muhammad saw yang lebih nyata dari hal ini? Pada mulanya kaum Muslimin merasa keberatan menyetujui Nabi saw dalam menerima syarat yang diajukan oleh Suhail bin Amer :
„Jika ada seorang dari Quraisy datang kepada Muhammad tanpa ijin walinya maka dia (Muhammad) harus mengembalikan kepada mereka dan barang siapa di antara pengikut Muhammad datang kepada Quraisy maka dia tidak akan dikembalikan.“

Mereka semakin merasa keberatan ketika Abu Jandal (anak Suhail bin Amer) datang melarikan diri dari kaum Musyrikin dalam keadaan terborgol rantai besi, kemudian bapaknya beridri menangkapnya seraya berkata :“Wahai Muhammad , permasalahan sudah kita sepakati sebelum anak ini datang.“ Nabi saw menyerahkan Abu Jandal kepada Quraisy, kendatipun Abu Jandal berteriak-teriak dengan suara keras :“Wahai kaum Muslimin ! Apakah aku diserahkan kembali kepada kaum Musyrikin yang akan merongrong agamaku?“ Kemudian Nabi saw bersabda kepada Abu Jandal : „Wahai Abu Jandal, bersabarlah dan berserah dirilah (Kepada Allah)! Sesungguhnya Allah pasti memberikan jalan keluar kepada kamu dan orang-orang ynag tertindas. Kita telah membuat perjanjian dengan mereka dan kita tidak boleh mengkhianati mereka.“Para sahabat memandang masalah ini dengan hati sedih….

Tetapi apakah yang terjadi setelah itu ? Sesampainya di Madinah, datanglah kepada Nabi saw salah seorang dari Quraisy bernama Abu Bashir, menyatakan diri masuk Islam. Kemudian Quraisy mengirimkan dua orang utusannya yang meminta pemulangan Abu Bashir. Sesuai perjanjian yang baru saja ditandatangani Rasulullah saw harus menyerahkan Abu Bashir kepada kedua utusan Quraisy tersebut. Lalu kedua utusan itu memawa pulang. Tetapi ketika sampai di Dzil Hulaifah, Abu Bashir berhasil merebut pedang salah seorang utusan yang membawanya tersebut dan membunuhnya, sedangkan temannya lari menyelamatkan diri. Kemudian Abu Bashir kembali menemui Rasulullah saw seraya berkata :“Wahai Nabi Allah, sungguh demi Allah, Allah telah memenuhi apa yang pernah engkau janjikan. Engkau kembalikan aku kepada mereka, kemudian Allah menyelamatkan aku dari mereka.“ Lalu ia pergi ke Saiful Bahr (daerah pantai) yang kemudian disusul oleh Abu Jandal. Akhirnya tempat ini menjadi tempat penampungan kaum Muslimin dari penduduk Mekkah. Semua orang Quraisy yang telah menyatakan diri masuk Islam pergi menyusul Abu Bashir dan kawan-kawannya ke tempat ini. Setiap kali mendengar ada kafilah Quraisy membawa perdagangan ke negeri Syam , mereka selalu mencegatnya dan mengambil harta benda mereka. Akhirnya Quraisy mengirim utusan kepada Rasulullah saw meminta agar Rasulullah saw menerima dan menarik mereka ke Madinah. Lalu mereka pun datang ke Madinah.

Ketika penaklukan Mekkah, Abu Jandal inilah yang memintakan jaminan keamanan untuk bapaknya. Ia hidup hingga mendapatkan syahid di pertempuran Yamamah. Demikianlah para sahabat Nabi saw sadar dan bangkit dari kesedihan mereka dengan keimanan yang semakin mantap terhadap hikmah Ilahiah dan kenabian Muhammad saw. Diriwayatkan oleh sebuah riwayat shahih bahwa Sahal bin Sa‘id berkata pada perang Shiffin : „Wahai manusia, tuduhlah pendapat kalian. Sesungguhnya engkau telah menyaksikan aku pada peristiwa Abu Jandal , sekiranya aku bisa menolak sikap Rasulullah saw niscaya aku tolak“.

Di antara hikmah lainnya, bahwa Allah hanyalah ingin menjadikan peristiwa penaklukan kota Mekkah dengan cara damai dan penuh rahmat, bukan penaklukan yang menimbulkan tragedi dan peperangan. Penaklukan yang menjadikan ummat manusia berduyun-duyun memeluk agama Allah dan menerima taubat orang-orang yang pernah menganiaya serta mengusir Nabi-Nya. Karena itu sebelumnya Allah menyelenggarakan pendahuluan ini :Quraisy menyadari akan dirinya dan bersama-sama para sahabat Nabi saw mengambil pelajaran dari perdamaian ini, sehingga pemikiran mereka telah matang dan siap untuk menerima kebenaran ynag mutlak.

&

Bai‘atur Ridhwan

14 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Sebelum penulisan perjanjian perdamaian, Rasulullah saw telah mengutus Ustman ra ke Mekkah untuk membahas masalah yang ada. Sesampainya di sana Ustman bin Affan raditahan selama beberapa waktu oleh orang-orang Quraisy. Dalam pada itu sampailah berita kepada Nabi saw bahwa Ustman bin Affan ra telah dibunuh. Maka Nabi sawmenyatakan tekad :“Kami tidak akan tinggal diam, hingga kami berhasil menumpas Quraisy“. Kemudian Rasulullah saw mengajak berbai‘at. Maka terjadilah Bai‘atur Ridhwan di bawah sebuah pohon di tempat itu.

Dalam pemba‘iatan ini Nabi saw mengambil tangan para sahabatnya satu demi satu. Mereka berbai‘at kepada Nabi saw untuk tidak lari meninggalkan medan perang. Sementara itu Rasulullah saw menepukkan tangannya yang satu ke tangan yang lain seraya berkata :“Pembai‘atan ini untuk Ustman“.

Setelah pembai‘atan tersebut, barulah datang berita kepada Rasulullah saw bahwa kabar terbunuhnya Ustman itu tidak benar.

&

Perdamaian Hudaibiyah

14 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqoidah, perhujung tahun keenam Hijriyah. Sebabnya karena Nabi saw mengumumkan kepada kaum Muslimin keiinginannya untuk berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah umrah. Pengumuman ini disambut oleh sekitar 1400 orang sahabat dari kaum Muhajirin dan Anshar . Nabi saw berihram untuk umrah ini ditengah perjalanan dan membawa serta binatang-binatang korban (al-Hadyu) supaya diketahui oleh orang-orang bahwa Nabi saw keluar bukan untuk bermaksud perang tetapi semata-mata untuk ziarah ke Baitullah, menunaikan ibadah umrah.

Tatkala sampai di Dzul Hulaifah Rasulullah saw mengutus seorang intelnya dari suku Khuza‘ah, Basyar bin Sofyan, untuk mencari berita mengenai penduduk Mekkah. Sementara itu Rasulullah saw melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ghadir al Asyathah. Dan, di tempat itulah intel yang diutus oleh Rasulullah saw tersebut dating menyampaikan laporan kepada Nabi saw :“Bahwa orang-orang Quraisy telah mengumpulkan bala tentara, termasuk kaum Ahabisy (orang-orang yang berada di bawah pengaruh Quraisy) untuk memerangi dan menghalau engkau dari Baitullah.“ Setelah mendengar laporan ini Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya :“Bagaimana pendapat kalian?“ Abu Bakar ra menyampaikan pendapatnya :“Wahai Rasulullah saw , engkau keluar untuk maksud ziarah ke Baitullah, bukan untuk membunuh seseorang atau memerangi seseorang. Berangkatlah terus! Jika ada orang yang menghalangi kita maka kita akan memeranginya.“ Nabi saw bersabda :“Berangkatlah dengan nama Allah.“ Kemudian Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat :“Siapakah diantara kalian yang sanggup menemukan jalan untuk kita lalui (ke Mekkah) selain jalan yang biasa kita lewati?“ Seorang dari Bani Aslam menyatakan kesanggupannya :“ Saya wahai Rasulullah.“ Lalu ia bertindak sebagai perintis jalan, naik turun lereng-lereng terjal dan batu-batu tajam. Rasulullah saw dan para sahabatnya menyusuri jalan terjal ini hingga onta Rasulullah saw berhenti di Tsaniyatil Mirar (sebuah jalan ke arah Hudaibiyah).

Melihat onta Rasulullah saw berhenti, para sahabat terperanjat lalu berseru :“Si Qushwa mogok“ Rasulullah saw menyahut :“Ia tidak mogok, ia tidak berwatak mogok, ia dihentikan oleh Allah swt yang dahulu menghentikan pasukan Gajah.“ Kemudian Rasulullah saw bersabda :“Demi Allah, jika mereka meminta kepadaku satu langkah (persyaratan) yang akan menghormati tanah haram, pasti akan aku kabulkan. Lalu Nabi saw menghardik ontanya sehingga bangun dan berjalan kembali sampai turun ke ujung Hudaibiya di dekat parit yang tidak banyak airnya. Para sahabat lalu turun dan meminum air parit itu hingga kering. Kemudian orang-orang mengadu kepada Rasulullah saw. Setelah mendengar pengaduan ini Rasulullah saw langsung mencabut anak panah lalu memerintahkan mereka agar meletakkannya di parit itu. Demi Allah tiba-tiba air memancar memenuhi parit.

Ketika para sahabat sedang dalam kesibukkan (mengurus air ini) tiba-tiba datanglah Badil bin Warqa‘ al Khuza‘I bersama beberapa orang lalu berkata :“Saya baru saja meninggalkan Ka‘ab bin Lu‘ay serta Amir bin Lu‘ay (orang-orang Quraisy) sedang menuju ke lembah Hudaibiyah dengan membawa onta-onta perah mereka akan memerangi dan menghalangi perjalanan menuju Baitul Haram“. Rasulullah saw menjawab : „Kami datang hana untuk melaksanakan umrah. Sekalipun orang-orang uraisy telah memutuskan untuk berperang, tetapi jika mereka suka aku minta untuk menangguhkannya. Jika mereka enggan, demi Allah aku siap memerangi mereka sampai orang-orang yang ada di belakangku tinggal sendirian. Dan Allah pasti akan menyelesaikan urusan-Nya.“. Jawab Badil:“Apa yang kamu katakan akan aku sampaikan kepada mereka.“ Kemudian Badil berangkat dan menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Rasulullah saw kepada orang-orang Quraisy. Setelah mendengar laporan Badil, Urwah bin Mas‘ud berdiri menawarkan diri kepada orang-orang Musyrikin untuk membicarakan rincian ucapan Rasulullah saw yang telah disampaikan kepada Badil bin Warqa‘.

Urwah bin Mas‘ud berangkat menemui Rasulullah saw. Kepada Urwah Rasulullah saw menegaskan apa yang telah disampaikannya kepada Badil. Jawab Urwah :“Apakah engkau kira orang-orang Arab akan membiarkan sanak-kadangnya binasa di tanganmu?“ Jika engkau teruskan rencanamu sungguh orang-orang Quraisy tidak akan lari dan membiarkanmu.“ Mendengar perkataan Urwah ini Abu Bakar yang berada di belakang Rasulullah saw menyahut :“hai Urwah, isaplah batu berhalamu si Latta! Kau kira kami akan lari meninggalkan dia ? “Urwah kemudian melanjutkan percakapannya dengan Nabi saw. Sambil berbicara ia menyelonongkan tangan hendak memegang jenggot Rasulullah saw, tetapi segera ditepis oleh Al-Mughirah bin Syu‘bah yang sejak tadi berdiri persis di belakang Rasulullah saw sambil membawa pedang, seraya berkata :“Jauhkan tanganmu dari jenggot Rasulullah saw sebelum kutampar mukamu!“ Sambil mengangkat kepala, Urwah bertanya :“Siapakah dia?“ Nabi saw menjawab :“Al-Mughirah in Syu‘bah.“ Lalu Urwah berkata :“Pngkhianat kau! Baru saja kemarin aku bersihkan nama baikmu dari kejahatan yang kau lakukan.“.

Kemudian Urwah memandangi para sahabat Nabi saw dengan kedua matanya. Ia berkata :“Demi Allah, tidaklah Rasulullah saw meludah kecuali ludah itu jatuh ke telapak tangan seorang di antara mereka lalu mengucapkannya ke wajah dan kulit mereka. Apabila dia (Nabi saw) memerintahkan sesuatu kepata mereka, mereka berebut untuk melakukannya. Apabila dia berwudlu, mereka berebut seperti orang yang hendak bertengkar untuk mendapatkan air sisa wudlunya. Apabila mereka berbicara di hadapannya, mereka berbicara dengan menundukkan kepala dan merendahkan suara
demi menghormatinya.“

Urwah kemudian kembali ke Mekkah melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah saw, ia berkata : „Wahai kaum! Demi Allah, saya pernah menjadi tamu para raja, kaisar, Kisra dan Najasyi. Tetapi demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh para pengikutnya sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad kepada Muhammad saw. Sesungguhnya dia telah menawarkan suatu langkah yang baik buat kalian, maka terimalah!“

Setelah itu mereka mengutus Suhail bin Amir sebagai wakil mereka untuk membuat perjanjian perdamaian antara mereka dengan kaum muslimin. Setelah itu duduk di hadapan Nabi saw, Suhail berkata :“Silahkan! Tuliskan satu perjanjian antara kami dan kalian!. Kemudian Nabi saw memanggil penulisnya (menurut riwayat Muslim, penulis yang dimaksud ialah Ali ra.) dan bersabda :“Tulislah :Bismillahirrahmanirahiim“. Suhail menukas :“Demi Allah, kami tidak tahu apa itu“Ar-Rahman“, tulislah Bismillahumma“. Kemudian kaum Muslimin berkata :“Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali „Bismillahirrahmanirrahiim“. Lalu Nabi saw bersabda :“Tulislah Bismikallahumma, ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah“. Suhail menolak dan berkata :“Demi Allah, seandainya kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangi kami. Tetapi tulislah „Muhammad bin Abdullah“. Kemudian Rasulullah saw bersabda :“Demi Allah, aku adalah Rasul Allah seandainya kalian mendustakan aku! … Tulislah Muhammad bin Abdullah.“

Di dalam riwayat Muslim disebutkan :Nabi saw memerintahkan Ali agar menghapusnya, lalu Ali berkata :“Demi Allah aku tidak mau menghapusnya.“ Kemudian Rasulullah saw bersabda :“Tunjukkanlah kepadaku mana tempatnya.“ Lalu Ali menunjukannya dan Rasulullah saw pun menghapusnya sendiri. Selanjutnya Nabi saw bersabda kepadanya :“Kalian (orang-orang musyrik) harus membiarkan kami melaksanakan Thawaf di Baitullah“. Suhail berkata :“Demi Allah, supaya orang-orang tidak mengatakan bahwa kami mendapatakan tekanan dari kalian, akan tetapi engkau boleh Thawaf pada tahun depan dan kaum muslimin tidak boleh membawa senjata kecuali pedang di dalam sarungnya.“ Kemudian Ali menulisnya. Selanjutnya Suhail berkata : „Jika ada seorang dari kami yang datang kepada engkau untuk masuk Islam maka hendaknya engkau kembalikan pada kami.“ Jawab kaum Muslimin serempak :“Subhanallah, bagaimana mungkin seorang yang telah beriman akan dikembalikan pada kaum Musyrikin?“, Mereka menoleh kepada Rasulullah saw, seraya bertanya :“Apakah kita akan menulis butir ini wahai Rasulullah saw?“ Jawab Nabi saw :“Ya, Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang pergi kepada mereka maka semoga Allah menjauhkannya dan barangsiapa di antara kalian dating kepada kita maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya.“ Perjanjian perdamaian dengan syarat-syarat tersebut menurut riwayat Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa‘Ad dan Al-Hakim berlaku selama sepuluh tahun. Selama itu tidak boleh dilanggar dan dikhianati. Siapa yang ingin bersekutu dengan Quraisy, mereka bebas melakukannya. Maka suku Khuza‘ah segera mengumumkan persekutuannya dengan Rasulullah saw, sementara Banu Bakar memilih bersekutu dengan suku Quraisy.

Setelah penulisan perjanjian ini selesai, dimintalah beberapa orang saksi dari kaum Muslimin dan beberapa orang saksi dari kaum Musyrikin. Di Dalam Ash-Shaihain disebutkan bahwa Umar bin Khattab berkata :“Kemudian aku datang kepada Nabi Allah saw, lalu aku bertanya :“Bukankah engkau Nabi Allah?“ Beliau menjawab :“Ya, benar!“, Bukankah engkau di pihak yang benar dan musuh kita berada di atas kebathilan ?“, tanyaku. „Ya, benar“ jawab Nabi saw. „Bukankah orangorang kita ynag terbunuh akan masuk surga dan orang-orang mereka yang terbunuh akan masuk neraka ?“ tanyaku, „Ya, benar „ jawab Nabi saw. „Lalu kenapa kita menyetujui agama kita direndahkan?“ tanyaku ,“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah, aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti akan membelaku!“, jawab Nabi saw. „Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan Thawaf?“ tanyaku, jawab Nabi saw „Ya, benar“. „Tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau datang ke sana tahun ini?“ , sabda Nabi saw,“Tidak,“,
jawabku.“Engkau pasti akan datang dan Thawaf di Baitullah „, tegas Nabi saw.

Namun Umar ra tidak dapat bersabar hingga mendatangi Abu Bakar ra lalu menanyakan apa yang tadi ditanyakan kepada Nabi saw. Kemudian Abu Bakar ra berkata kepadanya :“Wahai Ibnu Khattab, sesungguhnya dia adalah Rasul Allah, dia tidak akan menyalahi perintah Rabb-nya dan Allah pun tidak akan membiarkannya. Tidak lama kemudian turunlah surat Al-Fath kepada Rasulullah saw. Lalu Nabi saw segera memanggil Umar dan membacakan surat Al-Fath itu kepadanya. Kemudian Abu Bakar ra bertanya :“Wahai Rasulullah saw , apakah itu kemenangan (al-fath)?“ Jawab Nabi saw :“Ya“. Barulah hati Umar merasa tenang. Nabi saw kemudian datang kepada para sahabatnya dan bersabda :“Bergerakklah! Sembelilah ternah qurban kalian, kemudian bercukurlah! . Rasulullah saw mengulangi perintah ini sampai tiga kali, tetapi tak seorang pun di antara mereka yang bangkit menyambutnya. Kemudian beliau masuk ke dalam kemahnya dan menceritakan kejadian itu kepada istri beliau, Ummu Salamah, sebagai tanggapan Ummu Salamah berkata :“Wahai Rasulullah saw, apakah anda ingin supaya mereka melaksanakan perintah itu ? Keluarlah, tetapi jangan berbicara sepatah katapun dengan salah seorang dari mereka, sembelilah ternak qurban anda sendiri, lalu panggilah tukan cukur anda dan bercukurlah!“. Rasulullah saw kemudian keluar, tidak berbicara dengan seorangpun juga dan berbuat sebagaimana yang disarankan oleh istri beliau ….

Ketika kaum Muslimin melihat Rasulullah saw berbuat sebagaimana yang disarankan oleh Ummu Salamah, mereka segera bergerak beramai-ramai menyembelih ternaknya masing-masing dan saling mencukur bergantian. Demikian ributnya mereka itu karena kegirangan hingga satu sama lain seolah-olah sedang saling bunuh.

Setelah Rasulullah saw dan kaum Muslimin sampai di Madinah, datanglah beberapa wanita Mu‘minat berhijrah membawa agama mereka. Di antara mereka terdapat Ummu Kultsum binti ‚Uqbah. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya : „Hai orang-orang yang beriman, apabila wanita beriman datang berhijrah kepada kalian, maka hendaklah kalian uji iman mereka. Allah lebih mengetahui keimanan mereka , maka bila kalian telah mengetahui bahwa mereka itu benar-benar beriman, janganlah mereka kalian kembalikan kepada suami mereka (yang masih tetap sebagai) orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itupun tidak halal bagi para wanita Muslimat itu.“ (QS al- Mumtahanah : 10)

Kemudian Rasulullah saw tidak mau mengembalikan wanita-wanita itu kepada orang-orang kafir.

&