Arsip | 14.24

UMRAH QADHA

24 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Kemudian pada bulan Dzul Qaidah tahun ke-7 Hijrah Nabi saw berangkat menuju Mekkah guna menunaikan umrah qadha. Bulan Dzul Qaidah adalah bulan dilarangnya Rasulullah saw masuk Mekkah oleh kaum Musyrikin pada tahun sebelumnya. Ibnu Sa‘ad menyebutkan di dalam Thabaqatnya bahwa orang-orang yang melaksanakan umrah pada bulan dan tahun ini bersama Rasulullah saw sebanyak 2000 orang. Mereka terdiri dari ahlul Hudaibiyah dan orang-orang yang bergabung kepada mereka. Seluruh Ahlul Hudaibiyah tidak ada yang ketinggalan kecuali yang mati atau syahid di Khaibar.

Ibnu Ishaq berkata : Kaum Quraisy menyebarkan berita bohong, bahwa Nabi saw dan para sahabatnya sedang menghadapi kesukaran, kesulitan dan kepayahan. Ia berkata : Saat itu kaum Musyrikin Quraisy berbaris di pintu Darun-Nadwah, ingin melihat Rasulullah saw dan para sahabatnya. Setibanya di Mekkah, Rasulullah saw langsung masuk ke dalam masjid al-Haram, kemudian duduk menghamparkan burdahnya dan sambil mengangkat tangan kanannya lalu beliau berucap : „Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini dapat menyaksikan kekuatan yang datang dari hadhirat-Nya.“ Kemudian beliau mencium Hajar Aswad, lalu berjalan cepat bersama para sahabatnya mengelilingi Ka‘bah.

Dalam thawaf ini beliau berlari kecil tiga keliling dan selebihnya berjalan biasa. Ibnu Abbas berkata : Orang-orang mengira bahwa hal itu bukan sunnah umum, Rasulullah saw melakukan hal itu sekedar untuk membantah desas-desus yang disebarkan oleh orang-orang Quraisy tersebut. Tetapi pada haji wadah Rasulullah saw juga melakukannya sehingga hal ini menjadi sunnah. Dalam kesempatan ini Nabi saw juga melangsungkan pernikahan dengan Maimunah binti al-Harits. Dia katakan bahwa Nabi saw melangsungkan pernikahannya dalam keadaan ihram (akad nikahnya saja). Tetapi riwayat lain mengatkaan setelah tahallul. Orang yang menikahkan adalah Abbas bin Abdul Muthallib, suami Ummul Fadhal saudaranya Maimunah.

Setelah tiga hari Rasulullah saw tinggal di Mekkah (waktu yang disepakati dalam perjanjian Hudaibiyah), orang-orang Musyrik datang kepada Ali seraya berkata : Katakan kepada temanmu (Nabi saw) agar segera meninggalkan Mekkah karena waktunya telah habis. Akhirnya Nabi saw keluar meninggalkan Mekkah. Rasulullah saw menyelenggarakan walimah (pesta) pernikahannya dengan Maimunah di tengah perjalanan menuju Madinah, di sebuah tempat bernama „Sarif“ dengat Tan‘im. Kemudian pada bulan Dzul Hijjah berangkat ke Madinah.

Beberapa Ibrah :

Umrah ini dianggap sebagai penunaian janji Allah keapda Rasulullah saw dan apra sahabatnya bahwa mereka akan masuk Mekkah dan thawaf di Ka‘bah. Telah anda ketahui bagaimana Umar pernah bertanya kepada Rasulullah saw pada waktu perdamaian Hudaibiyah : „Tidakkah engkau pernah menjanjikan bahwa kita akan thawaf di Ka‘bah ?“ Nabi saw menjawab :“Ya, tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan melaksanakannya tahun ini ?“. Umar mengakui :“Tidak“. Nabi saw menegaskan :“Sesungguhnya kamu akan datang ke sana dan thawaf di Ka‘bah.“

Ini adalah penunaian janji Rasulullah saw tersebut. Di samping Allah juga mengingatkan kepada para hamba-Nya akan penunaian janji ini di dala firman-Nya : „Sesungguhnya Allah pasti membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepada dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat“. (QS AFath 27)

Selain itu Umrah ini mengandung arti pengkondisian dan pendahuluan bagi „kemenangan besar“ (al fat-hul-kabir) yang datang sesudahnya. Pemandangan berupa sejumlah besar dari kaum Muhajirin dan Anshar yang mengelilingi Rasulullah saw dengan penuh semangat dan thawaf , sa‘i dan seluruh upacara pelaksanaan ibadah umrah., yang disaksikan oleh kaum Musyrikin ini punya pengaruh yang sangat mendalam terhadap jiwa mereka. Mereka telah dicekam rasa takut terhadap kaum Muslimin setelah dikejutkan oleh kenyataan yang sama sekali bertentangan dengan gambaran yang selama ini mereka percayai tentang kaum Muslimin.

Digambarkan bahwa kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan pemalas akibat penyakit panas dan jeleknya cuaca Yatsrib, Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa kaum Muslimin berlari-lari kecil di sekitar Ka‘bahdan di Mas‘a (tempat Sa‘I), sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain :“Itukah mereka yang kalian sangka loyo akibat penyakit panas ?! … Mereka lebih gagah dari ini dan itu“.

Tak pelak lagi bahwa umrah ini dengan sedemikian rupa pelaksanaannya memiliki pengaruh besar dalam jiwa kaum Musyriin menjadi „persiapan“ untuk „Fathu Makkah“(penaklukan Mekkah) secara damai sebagaimana akan anda saksikan. Pelajaran yang lain yang dapat kita ambil dari umrah ini diantaranya :

Pertama :
Ketika thawaf disunnahkan menampakkan lengan dan berlari-lari kecil pada tiga putaran yang pertama, karena mengikuti Rasulullah saw. Hal ini disunnahan bagi thawaf yang dilanjutkan dengan Sa‘i. Demikian pula disunnahkan berlari-lari kecil antara dua tanda di Mas‘a (tempat sa‘I antara Shafa dan Marwah), tetapi tidak disunnahkan bagi wanita.

Kedua, Sebagian fuqaha‘ membolehkan akad nikah dalam keadaan ihram haji atau ihram umrah, berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw melaksanakan akad nikahnya dengna Maimunah dalam keadaan ihram. Tetapi jumhur fuqaha‘ tidak membolehkan seorang ynag sedang ihram untuk melangsungkan akad nikah untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Hanafiah berpendapat bahwa seorang yang sedang ihram tidak boleh mewakili akad nikah untuk orang lain yang tidak dalam keadaan ihram.

Demikianlah, Rasulullah saw telah menunaikan empat kali umrah dan satu kali haji. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw menunaikan empat kali umrah yang semuanya dilaksakanan pada bulan Dzul Qaidah. Kedua umrah pada tahun berikutnya di bulan Dzul Qaidah. Ketiga, umrah dari Ji‘ranah dimana dibagikan pampasan Hunain di bulan Dzul Qaidah. Keempat, umrah bersama hajinya.

&

Beberapa Ibrah Pemberangkatan Sariyah ke Berbagai Kabilah dan Pengiriman surat kepada Para Raja

24 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

1. Rambu-rambu Periode Baru
Sejumlah sariyha yang diberangkatkan Rasulullah saw ke berbagai kabilah dan sejumlah surat yang dikirim Rasulullah saw kepada para raja dan pemimpin dunia, merupakan bagian dari faktor yang membedakan periode dakwah ini dari periode sebelumnya.

Periode dakwah semenjak Hijrah sampai ke perdamaian Hudaibiyah, sebagaimana telah kami katakan, adalah periode defensif di samping melaksanakan tugas-tugas secara damai. Selama periode tersebut Rasulullah saw tidak pernah memulai serangan atau peperangan terhadap kelompok manusia manapun. Juga Rasulullah saw selama periode tersebut tidak pernah memberangkatkan sariyah kepada suatu kabilah guna mengajak mereka kepada Islam, yang jika mereka menolak maka akan diperangi karena penolakkan tersebut.

Setelah mengadakan perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Musyrikin dan kaum Muslimin pun telah merasa aman dari segala gangguan dan manuver orang-orang Quraisy, maka leluasalah bagi Nabi saw untuk memasuki periode baru ynag harus ditempuhnya dalam rangka menerapkan syariat Islam yang merupakan misi dakwahnya, yaitu periode memerangi orang-orang yang telah mendapatkan dakwah dan memahaminya tetapi tidak mau mengimani dan tunduk kepadanya karena kesombongan dan permusuhan.

Itu adalah periode dimana Nabi saw dengan lancar dan gemilang menunaikan dakwah Rabb-nya. Periode ynag dengan amal dan perkataannya menjadi hukum syar‘I dengan kesepakatan kaum Muslimin di setiap jaman sampai di hari kiamat. Periode yang ingin dihapuskan dan dilenyapkan dari pandangan kaum Muslimin oleh para perancang ghazwul fikri, dengna dalih bahwa semua hal yang berkaitan dengan jihad dalam syariat Islam hanyalah dilakukan atas dasar perang defensif dan membalas serangan. Bahkan kara mereka mengingat PBB telah siap bertindak melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang tertindas maka tidak perlu lagi mempertahankan prinsip perang defensive sekalipun.

Bukan rahasia lagi bahwa faktor yang mendorong mereka melakukan makar dan kajian yang menyesatkan ini ialah rasa takut yang begitu besar di kalangan negara-negara asing baik Barat ataupun Timur terhadap kembalinya semangat jihad fi sabilillah ke dalam jiwa kaum Muslimin dan terpautnya nilai ini secara kuat dengan pangkal keimanan di dalam hati mereka. Jika semangat jihad ini bangkit maka saat itu tidak diragukan lagi peradaban Eropa pasti akan runtuh betapapun perkasanya bangungan itu.

Sebenarnya pemikiran orang Eropa telah matang untuk memeluk Islam hanya demi mendengar dakwah yang bersih, apalagi jiwa dakwah ini disertai dengan pengorbanan dan jihad ?

2. Hikmah Disyariatkannya Periode ini :
Barangkali anda bertanya : Apa hikmah digiringnya seorang Musyrikin atau atheis kepada Islam ? Bagaimana mungkin pemikiran abad dua puluh akan dapat memahami syariat ini ?

Jawabannya, kami balik bertanya : Apa hikmah seseorang dipaksa oleh suatu negara supaya tunduk mengikuti sistem dan falsafahnya, padahal ia memiliki kebebasan dan hak persamaan dengan orang lain dari seluruh penduduk negeri tersebut baik penguasa ataupun rakyat biasa ? Manusia diciptakan di atas muka bumi ini hanyalah untuk menegakkan Negara Allah dan menerapkan hukum-Nya. Itulah hikmah keberadaannya dan makna yang dimasud dari khilafah yang terdapat di dalam firman-Nya :
„Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi …“ (QS Al-Baqarah : 30 )

Falsafah negara ini (negara Allah) didasarkan kepada hakekat penghambaan kepada Allah semata, sedangkan sistemnya didasarkan kepada suatu keyakinan bahwa kedaulatan hanyalah milik Allah semata, karena Dialah semata yang menguasai manusia dan menguasai segala sesuatu. Dialah semata, yang menciptakan petala langit dan bumi. Masuk akalkah jika sebuah negara yang dikendalikan oleh para hamba yang berada di bawah kekuasaan Allah saja „punya hak“ memaksa rakyat untuk tunduk mengikuti sistem prinsip dan hukum yang mereka buat, sedangkan Allah sebagai Pencipta mereka semuat idak punya hak memaksa mereka untuk tunduk kepada kekuasaan-Nya dan melepaskan semua aqidah selain aqidah-Nya ?

Apabila manusia adalah Khalifah Allah dalam mengaplikasikan perintah-perintah dan hukum-hukum-Nya di muka bumi, maka sudah sewajarnya pemaksaan agar tunduk kepada kekuasaan dan hukum-Nya dilakukan melalui perantaraan manusia. Masuk ke dalam agama-Nya dan berbaiat kepada Allah untuk mengorbankan harta danjiwa demi menegakkan hukum dan masyarakat Islam, merupakan kewajiban manusia. Setelah anda memahami hal ini, tidaklah penting jika pada abad dua puluh ini ada pikiran-pikiran yang tidak bersedia menerimanya atau tidak dapat memahaminya. Karena secara alamiah pikiran-pikiran semacam ini akan muncul selama di sana ada beraneka macam manusia ynag melancarkan ghazwul fikri demi memadamkan kesadaran Islam di dunia. Mereka tidak pernah menghargai kebebasan manusia tetapi selalu memasungnyan.

Saya ingin tahu, adakah terjamin kebebasan manusia di sisi orang-orang yang membohongi diri dan rakyat mereka dengan merusak gambaran Islam dan menggambarkan kaum muslimin sebagai manusia-manusia buas yang hidup di pedalaman bersama onta dan binatang ternak. Dengan cara ini mereka ingin mencegah manusia dari memahami hakekat Islam, mengimaninya dan merealisasikan sampai terwujud daulah.

Tetapi harus diingat bahwa dakwah silmiah (dakwah secara damai) dengan hikmah, diskusi dan nasehat ynag baik di setiap bidang dan tempat merupakan hal yang wajib dilakukan terelbih dahulu dalam waktu yang lama. Jika kaum Muslimin telah melaksanakan kewajiban dakwah ini secara benar maka akan tumbuh suatu keyakinan bahwa Islam adalah agama fitrah dan manusia siapapun orangnyaakan merasakan agama ini sebagai suatu yang dicari-carinya selama ini. Hanya orang-orang yang dengki saja yang tidak mau menerimanya.

Harus diinat pula bahwa pemaksaan (ilzam) yang kami sebutkan di atas, hanyalah terhadap orang-orang atheis, musyrik, penyembah berhala dan mereka yang mengikuti jejaknya. Kepada ahli Kitab tidak akan dipaksa kecuali untuk tunduk kepada system masyarakat Islam, sebab keimanan mereka kepada Allah dan interaksi mereka dengan kaum Muslimin diharapkan akan dapat menyadarkan kesalahan mereka serta meluruskan aqidah mereka.

Berkenaan dengan surat-surat yang dikirimkan Rasulullah saw kepada para raja dan pemimpin dunia tersebut terdapat beberapa hukum dan pelajaran penting, diantanya :

Pertama :
Bahwa dakwah ynag dibawa Rasulullah saw adalah dakwah kepada semua ummat manusia, bukan kepada kaum tertentu. Sedangkan Risalah adalah insaniyah-syamiliyah tidak memiliki unsur rasial, nasionalis atau kelompok tertentu. Oleh sebab itu, Nabi saw menyampaikan dakwahnya kepada semua pemimpin dunia. Diriwayatkan dari Anas ra bahwa Nabi saw mengirim surat kepada Kisra, Kaisar, Najasyi dan semua pemimpin, mengajak mereka untuk beriman kepada Allah.

Kedua :
Sikap Heraclius dan para pengikutnya yang mengaku sebagai pengikut Isa menunjukkan betapa besarnya kesombongan kebanyakan para ahli Kitab terhadap kebenaran (Islam). Merekalah yang mengubah agama menjadi tradisi dan bersifat rasialis. Mereka tidak memandang agama dari sudut yang benar atau batil tetapi mereka memandang sebagai bagian dari tradisi dan simbol fanatisme golongan mereka, tanpa mempedulikan apakah itu benar atau batil.

Pada mulanya sikap Heraclius nampak seolah-olah serius ingin objektif dan mencari kebenaran, tetapi ternyata ia sekadar menguji rakyatnya dan membangkitkan emosi mereka supaya ia dapat melakukan sesuatu yang akan mengukuhkan kekuasaannya dan kerajaannya dari peristiwa ini.

Ketiga :
Tindakan Rasulullah saw ini menunjukkan dibolehkannya memakai cincin. Cincin Rasulullah saw terbuat dari perak. Sebagaimana juga menunjukkan dibolehkannya mengukir nama di atasnya. Sebagian ulama berdasarkan hal ini, menganggap sunnat (istihbab) memakai cincin dari perak di jari kelingkinnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi saw.

Keempat :
Perbuatan Rasulullah saw tersebut juga menunjukkan bahwa kaum Muslimin harus mempersiapkan segala sarana guna melakukan dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia. Di antara sarana yang terpenting adalah menguasai bahasa setiap kaum yang diserunya. Sebagaimana kita lihat, dalam sehari Rasulullah saw memberangkatkan enam sahabat untuk menemui para raja. Masing-masing dari mereka menguasai bahasa negeri para raja tersebut.

Kelima :
Amalan Rasulullah saw tersebut menunjukkan, dengan tetap memperhatikan urutan skala prioritas, bahwa kaum Muslimin berkewajiban melaksanakan tanggung jawab dakwah sesama mereka, dan memperbaiki diri mereka sendiri, sampai mereka dapat menerapkan sistem Islam pada kehidupan mereka. Setelah itu tiba saatnya untuk melaksanakan kewajiban yang kedua tersebut. Sebenarnya Nabi saw mampu mengutus para sahabatnya kepada raja jauh sebelum waktu yang dipilihnya tersebut, tetapi hal ini akan mengganggu pelaksanaan kewajiban yang harus disempurnakan sebelumnya. Perlu disadari bahwa perbaikan internal kaum Muslimin itu sendiri merupakan bagian besar dari dakwah kepada orang lain untuk memeluk Islam. Sebab manusia, sejak dahulu sampai sekarang masih terus mencari contoh ideal dalam masalah perilaku dan akhlak untuk diikutinya. Seandainya kaum Muslimin sekarang berbangga dengan keislaman mereka dan menerapkan prinsip-prinsip dan hukumnya niscaya anda akan melihat cahaya petunjuk itu bersinar terang di seantero pedalaman Afrika dan Eropa.

Pengiriman surat-surat ini, sebagaimana disepakati para ulama sirih adalah pada tahun ketujuh Hijrah yakni sebelum Fath. Tetapi Imam Bukhari di dalam shahihnya menyebutkan pengiriman ini dilakukan setelah perang Tabuk, pada tahun ke-9. Ibnu Hajar berkata : Kedua riwayat ini dapat dikompromikan dengan penjelasan bahwa Nabi saw pernah menulis surat kepada Kaisar dua kali, bahwa surat Nabi saw yang kedua kepada Kaisar ini telah disebutkan secara tegas oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya. Demikian pula kepada Najasyi. Pertama kepada Najasyi yang kemudian masuk Islam dan yang kedua kepada najasyi yang menggantikannya (kafir).

&

Pemberangkatan Sariyah ke Berbagai Kabilah dan Pengiriman surat kepada Para Raja

24 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Kemudian mulailah Rasulullah saw memberangkatkan beberapa Sariyah (pasukan kecil dari para sahabatnya) ke berbagai kabilah Arab yang tersebar di jazirah Arabia, guna menunaikan tugas dakwah (seruan) kepada Islam. Jika mereka menolak maka mereka akan diperangi.

Pemberangkatan beberapa Sariyah ini berlangsung selama tahun ke Sembilan Hijrah dan jumlahnya mencapai sepuluh Sariyah. Pada periode ini pula Nabi saw mulai mengirim beberapa surat kepada para raja dan pemimpin dunia, mengajak mereka untuk memeluk Islam dan meninggalkan agama-agama kebatilan yang mereka anut.

Ibnu Sa‘ad meriwayatkan di dalam Thabaqatnya : Sekembalinya dari Hudaibiyah pada bulan Dzulhijjah tahun keenam Hijrah, Rasulullah saw mengirim beberapa utusan kepada raja dan menulis beberapa surat, mengajak mereka untuk menganut Islam.
Dikatakan kepada Rasulullah saw, sesungguhnya para raja tidak mau membaca surat yang tidak distempel. Maka sejak itu Rasulullah saw membuat stempel (cincin) terbuat dari perak yang bertuliskan tiga kata :
Muhammad
Rasul
Allah

Dengan cincin inilah Rasulullah saw menyetempel surat-suratnya. Pada bulan Muharram tahun kesembilan Hijrah, berangkatlah dalam satu hari sebanyak enam utusan. Masing-masing utusan menguasai bahasa negeri dan kaum yang hendak didatanginya.
Utusan yang pertama kali dikirim oleh Rasulullah saw adalah Amer bin Umaiyyah Adh Dhamri. Ia dikirim menemui Najasyi. Najasyi menerima surat Nabi saw kemudian meletakkannya di hadapannya dan ia turun dari tempat tidurnya lalu duduk di atas tanah dengan penuh tawadhu‘ dan akhirnya masuk Islam. Kemudian ia berkata : „Seandainya aku bisa datang menemuinya (Nai saw) niscaya aku berangkat menemuinya“

Rasulullah saw juga mengutus Dahyah bin Khalifah Al Kalbi kepada Heraclius, raja Romawi. Surat Rasulullah saw ini disampaikan oleh Dahyah kepada gurbernur Bashrah untuk selanjutnya diteruskan kepada Heraclius. Surat itu berbunyi :

Bismillahirrahmanirrahim !
Dari Muhammad Rasul Allah kepada Heraclius raja Romawi.
Bahagialah orang yang hidup mengikuti hidayah Illahi.
Amma ba‘du, anda kuajak supaya memeluk Islam. Peluklah Islam, anda tentu selamat dan Allah akan melimpahkan dua kali lipat imbalan pahala kepada anda. Akan tetapi jika anda menolak, maka anda memikul dosa para petani (rakyat). Dan „Wahai para ahli kitab, merilah kita bersatu kata, antara kalian dan kami bahwa kita tidka bersembah sujud selain kepada Allah, dan bahwa kita tidak menjadikan siapapun di antara kita sendiri tuhan-tuhan selain Allah. Apabila mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka :”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah.“

Selanjutnya Ibnu Sa‘ad berkata di dalam Thabaqatnya : Setelah membaca surat tersebut, Heraclius berkata kepada para pembesar dan stafnya :“Wahai bangsa Romawi, adakah kalian menghendaki kemenangan, kelurusan, kelanggengan kerajaan kalian dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Isa putera Maryam ?“ Mereka menjawab :“Apa itu wahai paduka raja?“ Ia menjelaskan :“Kalian mengikuti Nabi dari Arab ini!“. Mendengar ini bangkitlah kemarahan mereka, bahkan mereka menentang hal ini seraya mengangkat salib. Melihat sikap ini, Heraclius pun merasa putus asa mengharapkan keislaman mereka dan takut terhadap keselamatan diri dan kerajaannya. Kemudian dia berkata :“Hal ini kusampaikan kepada kalian hanyalah sekedar untuk menguji sejauh mana keteguhan kalian terhadap agama kalian. Sesungguhnya aku telah melihat sikap kalian yang sangat menyenangkan.“ Akhirnya mereka bersembah sujud kepadanya.

Rasulullah saw mengutus Abdullah bin Hudzafah As Sahmi kepada Kisra untuk menyampaikan surat dan mengajaknnya masuk Islam. Abdullah bin Hudzafah berkata :“Kemudian surat itu kuserahkan kepadanya.“ Setelah dibacanya, surat itu dirobek-robek.

Setelah mendengar berita ini Rasulullah saw berdo‘a :Semoga Allah merobek-robek kerajaannya.“ Selanjutnya Kisra menulis surat kepada Badzan, gurbernur di Yaman, yang isinya memerintahkan supaya Badzan mengutus dua orang lelaki perkasa untuk menangkap Nabi saw. Perintah ini dilaksanakan Badzan dengan mengutus dua orang lelaki perkasa ke Madinah guna menyampaikan surat Badzan kepada Nabi saw. Nabi saw menyambutnya seraya tersenyum dan berkata :“ Kembalilah dulu hari ini, besok saja kalian menghadapku karena aku ingin mengkhabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang aku inginkan.“

Keesokkan harinya kedua orang tersebut menghadap Nabi saw, lalu Nabi saw berkata kepada keduanya :“ Sampaikanlah kepada gurbernur kalian bahwa Rabbku telah membunuh tuannya, Kisra, pada malam ini. Tepatnya enam jam yang lalu.“ Ibnu Sa‘ad berkata :“Yaitu pada malam Selasa, 10 Jumadil Ula tahun kesembilan.“ Allah menggerakkan Syirawaih, anak Kisra, untuk membunuhnya.“ Akhirnya kedua orang ini kembali menemui Badzan guna menyampaikan berita tersebut. Setelah mendengar berita ini Badzan bersama anak buahnya masuk Islam.

Al-Azdi kepada penguasa Romawi di Bashra, Syurahbil bin Amer al-Ghassani, yang kemudian mengikat al-Haritz bin Umair dan membunuhnya. Para Ulama sirah berkata :“Tidak ada utusan Rasulullah saw yang dibunuh selain al-Harits bin Umair.“

Selain itu Rasulullah saw juga mengutus beberapa utusan yang lain kepada para pemimpin Arab di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang menolak tetapi sebagian besar menerimanya dan masuk Islam. Di tahun ini pula Rasulullah saw menerima banyak utusan yang berdatangan dari berbagai daerah guna menyatakan keisalaman mereka. Di antara pemimpin Arab yang masuk Islam pada masa ini ialah Khalid bin Walid dan Amr bin Ash.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Amr bin Ash, ia berkata : Aku sengaja keluar untuk menemui Rasulullah saw kemudian di tengah jalan aku bertemu dengan Khalid bin Walid yang datang dari Mekkah. Peristiwa ini terjadi sebelum penaklukan Mekkah. Kemudian aku bertanya : Hendak kemana wahai Abu Salman ?“ Ia menjawab :“Demi Allah, aku sedang pergi untuk masuk Islam, kapan lagi ?“ Aku katakan kepadanya :“Aku datang juga untuk masuk Islam.“ Akhirnya kami berangkat bersama-sama. Khalid maju menyatakan diri masuk Islam kemudian aku mendekat dan berbaiat kepadanya (Nabi saw).

&

Beberapa Ibrah Perang Khaibar

24 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Hal yang pertama kali yang harus kita perhatikan dari peperangan ini ialah perbedaan antara tabiat peperangan ini dan tabiat peperangan-peperangan sebelumnya yang telah kita bahas. Peperangan-peperangan sebelumnya berlangsung karena faktor-faktor defensive yang menuntut kaum Muslimin agar melakukan peperangan guna mempertahankan eksistensi mereka dan membalas serangan-serangan biadab para musuh. Sedangkan peperangan ini, peperangan ynag terjadi setelah peristiwa Banu Quraidha dan perjanjian damai Hudaibiyah, punya kondisi yang berbeda. Peperangan ini berbeda jauh dari pepernagan-peperangan sebelumnya. Ia menunjukkan bahwa dakwa Islamiah telah memasuki periode baru pasca perjanjian Hudaibiyah.

Perang Khaibar merupakan peperangan pertama kali dimana Rasulullah saw sebagai pihak yang memulai melancarkan serangan secara mendadak kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Khaibar. Motivasi satu-satunya dari peperangan ini ialah berdakwah mengajak orang-orang Yahudi untuk memeluk Islam. Mereka diperangi karena keengganannya menerima kebenaran. Dan kebencian mereka yang membara di dada meskipun telah lama diseru secara damai dengan berbagai argumentasi.

Karena itu, pada malam pertama kedatangannya ke Khaibar , Nabi saw tinggal secara diam-diam tanpa diketahui oleh mereka. Setelah tiba waktu subuh tidak terdengar suara adzan sama sekali syiar Islam yang agung Nabi saw segera melancarkan serangan kepada mereka. Sebagaimana telah kami sebutkan bahwa Nabi saw tidak akan menyerang suatu kaum sebelum menunggu waktu subuh, apabila terdengar suara adzan di tempat itu maka Nabi saw membatalkan penyerangannya dan apabila tida terdengar suara adzan maka segera dilakukan serangan.

Pertanyaan Ali ra kepada Rasulullah saw setelah diserahi panji : “Apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka seperti kita (Muslim)?“ Nabi saw menjawab :“Kerjakanlah! Tetapi jangan tergesa-gesa. Tunggu sampai engkau tiba di halaman mereka. Kemudian ajaklah mereka memeluk Islam dulu dan beritahukan kepada mereka kwajiban apa yang harus mereka lakukan terhadap Allah.“

Para Ulama telah menyimpulkan beberapa pelajaran dan hukum dari penyerangan Khaibar ini, diantaranya :

1. Boleh menyerang orang yang telah memperoleh dakwah Islam dan hakekatnya tanpa peringatan terlebih dahulu atau dakwah lagi. Ini adalah madzhab Syafi‘I dan jumhur fuqoha. Itulah ynag dilakukan oleh Nabi saw dalam serbuannya terhadap Khaibar. Sampainya dakwah Islam dan dipahaminya Islam secara benar merupakan syarat yang disepakati oleh para Ulama.

2. Pembagian Ghanimah berdasarkan Hadits yang disebutkan di sini. Yaitu pembagian empat perlima kepada mereka yang berperang, satu saham bagi yang berjalan kaki dan tiga saham bagi yang menunggang kuda : satu saham untuk dirinya dan dua saham untuk kudanya. Sedang sisa khumus (seperlimanya) dibagikan kepada mereka yang ditegaskan oleh ayat : „Ketahulilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak Yatim, orang-orang miskin dan ibnul sabil….“ QS AL-Anfal 41)

Saham Rasulullah saw dari khumus ini dibagikan sepeninggal beliau, kepada kemaslahatan kaum Muslimin sebagaimana pendapat Syafi‘iah dan Hanafiah. Ada juga yang berpendapat, diserahkan kepada khalifah pemanfaatan dan pendistribusian. Kedua pendapat ini hampir sama.

3. Boleh memberikan Ghanimah kepada orang yang tidak ikut berperang tetapi hadir ke tempat peperangan. Tentunya hal tersebut sesudah minta ijin kepada mereka yang memiliki hak. Nabi saw telah memberikan ghanimah kepada Ja‘far dan orang-orang yang datang bersamanya, dengan ijin dari para sahabat, ketika mereka datang dari Habasyah dan Yaman.

Riwayat Bukhari mengenai masalah ini tidak menyebutkan tentang syarat meminta ijin kepada kaum Muslimin. Tetapi al-Abihaqi menambahkan di dalam riwayatnya bahwa Nabi saw sebelum membeirkan bagian kepada merkea (Ja‘far dkk), terlebih dahulu beliau membicarakan dengan kaum Muslimin. Tambahan riwayat shahih dapat diterima. Tetapi riwayat Baihaqi ini menyebutkan pula bahwa nabi saw tidak memberikan kepada Aban bin Sa‘id yang tadinya diutus oleh Nabi saw memimpin Sariyah (pasukan kecil) ke Nejd lalu kembali ke Khaibar setelah berakhirnya peperangan.

Aban bin Sa‘id berkata kepada Rasulullah saw :“Berilah kami wahai Rasulullah“. Tetapi Rasulullah saw tidak memberinya. Kedua hadits ini dapat dikompromikan dengan penjelasan bahwa yang pertama mendapatkan ijin jama‘ah untuk memberikannya sedangkan yang kedua tidak mendapatkan ijin.

Barangkali anda ingin bertanya : Bagaimana nasib hukum pembagian ghanimah ini di tengah perkembangan situasi peperangna dan kebijaksanaan negara yang telah menggaji para tentara sesuai dengan pangkat mereka ?
Jawabannya , seperti telah anda ketahui bahwa harta-harta ghanimah yang tidak bergerak itu tidak boleh dibagikan kepada para tentara yang berperang, menurut pendapat Malik dan Abu Hanifah kecuali jika kemaslahatan dan dharurat menuntutnya. Sedangkan harta-harta ghanimah yang bergerak wajib dibagikan kepada mereka sesuai dengan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw , dengan tetap memperhatikan perkembangan sarana peperangan dan cara-cara peperangan yang ada. Tidak ada halangan untuk membagikan bagian mereka dengan memperhatikan perbedaan pangkat kemiliteran mereka yang penting negara tidak boleh memonopoli harta ghanimah ini untuk kepentingannya sendiri.

4. Disyariatkan Aqdul Musaqat.
Yaitu seorang pemilik tanah menyerahkan pengelolaan kebunnya kepada orang lain dengan perjanjian bagi hasil. Mali, Syafi‘I dan Ahmad mengganggap sah akad ini berdasarkan kepada perlakuan Nabi saw teradap penduduk Khaibar. Tetapi Abu Hanifah tidak membolehkannya. Abu Hanifah menilai hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai dalil yang membolehkannya, sebab Khaibar ditaklukkan dengan kekerasan sehingga para penduduknya menjadi budak bagi Nabi saw. Apa yang diambil dan apa yang ditinggalkan adalah miliknya (Nabi saw). Tetapi kedua rekan Abu Hanifah tidak sependapat dengannya. Keduanya bersama Juhur menilai sah akad tersebut. Selanjutnya para ulama berbeda pendapat apakah keabsahan khusus pohon korma dan ataukah anggur, sebab semua pohon Khaibar waktu itu adalah korma dan anggur. Kebanyakan para fuqaha berpendapat mencakup semua jenis pohon.

Tetapi kebanyakan ulama yang membolehkan musaqat diantara Syafi‘iyah, melarang muzara‘ah : seorang pemilik tanah menyerahkan tanahnya untuk digarap (ditanami) oleh orang lain dengan sistem bagi hasil. Jumhur Syafi‘iah menyatakan system ini tidak sah, karena terdapat di dalam shahih Muslim bahwa Nabi saw pernah melarang muzara‘ah dan memerintahkan mu‘ajarah (sistem upah). Mereka (para ulama Syafiiah) mengatakan, kecuali jika aqdul muzara‘ah itu mengikuti musaqat yakni diantara pohonpohon itu ada tanah kosong yang disepakati oleh kedua belah pihak untuk ditanami.

Bila diperhatikan dalil-dalil yang ada nyatalah bahwa perjanjian musaqat dan muzara‘ah adalah sah. Para Ulama mengatakan bahwa adanya larangan itu pada mulanya karena bahwa kebutuhan masyarakat. Karena kaum Muhajirin tidak punya tanah, kemudian Nabi saw memerintahkan kaum Anshar supaya membantu mereka. Dalam riwayat Muslim dari Jabir ra , ia berkata : „Orang-orang Anshar pada waktu itu memiliki kelebihan tanah kemudian merkea menyewakannya dengan sepertiga dan seperempat dari hasil tanamannya sehingga Rasulullah saw bersabda :“Baransiapa punya tanah hendaknya ia menanaminya atau memberinya kepada saudaranya, jika enggan maka hendaklah ia menahannya.“ Kemudian setelah kondisi kaum Muslimin membaik maka hilanglah kebutuhan itu, lalu mereka dibolehkan melakukan muzara‘ah dan muajarah (sistem upah) yang berlangsung pada mas Nabi saw dan apra Khalifah sesudahnya.

5. Boleh mencium dan merangkul orang yang baru datang. Mengenai masalah ini tidak ada perselisihan di kalangan para Ulama. Hal ini sudah menjadi kebiasaan para sahabat apabila ada seseorang yang baru datang dari perjalanan (Safar) atau sudah lama tidak bertemu. Para Ulama dalam masalah ini berdalil dengan riwayat bahwa Rasulullah saw mencium kening Ja‘far bin Abu Thalib dan merangkulnya ketika ia baru datang dari Habasyah. Riwayat tersebut dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Bahkan Turmidzi meriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata :“Ketika Zaid bin Haritsa datang ke Madinah, Rasulullah saw ada di rumahku, kemudian ia datang kepada beliau dan mengetuk pintu. Lalu Nabi saw berdiri menyambutnya seraya menarik pakaiannya kemudian merangkulnya dan menciumnya.“

Tetapi secara sepintas ada pertentangan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmidzi dar Anas ra ia berkata :“Pernah seorang lelaki bertanya, wahai Rasulullah saw bolehkah seorang yang bertemu dengan saudaranya atau temannya kemudian tunduk memberi hormat kepadanya?“. Nabi saw menjawab :“Tidak boleh“. Orang itu bertanya :“Bolehkah merangkul dan menciumnya?“ Jawab Nabi saw :“Tidak boleh“. Orang itu bertanya lagi : „Bolehkah menjabat tangannya ?“ Nabi saw menjawab :“Boleh“.

Sebenarnya hadits ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya, karena pertanyaan orang ini tentang pertemuan-pertemuan biasa yang berulang-ulang antara seseorang dengan temannya, sehingga dalam situasi seperti ini sambutan dengan mencium dan merangkul itu tidak dibolehkan. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Nabi saw kepada Ja‘far dan Zaid adalah karena keduanya baru datang dari Safar yang jauh. Jadi haris dibedakan antara kedua kondisi tersebut.

6. Haramnya Riba kelebihan dalam pertukaran makanan (pokok). Yaitu dua orang saling bertukar makanan dari jenis yang sama dengan adanya kelebihan (timbangan). Perbuatan ini dilarang oleh Nabi saw dalam beberapa hadits shahih, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ubadah bin Shamit ra, ia berkata :
„Aku pernah mendengar Rasulullah saw malerang pembelian emas dengan emas, perak dengan perak, tamar dengan tamar, gandum dengan gandum , tepung dengan tepung, garam dengan garam, kecuali sama timbangan dan jenisnya. Barangsiapa yang meminta kelebihan maka ia telah makan riba.“

Juga hadits riwayat Bukhari yang menyebutkan bahwa Nabi saw melarang pertukaran korama yang baik dengan korma yang tidak baik dengan timbangan yang sama. Tentang hikmah diharamkannya cara penukaran ini dan kenapa dinilai sebagai riba yang haram telah dibahas secara panjang lebar di dalam buku-buku fiqh.

Tetapi yang perlu kami ingatkan di sini ialah bahwa Nabi saw mengarahkan orang yang ingin menukar korma yang baik dengan korma yang jelek atu dengan jenis makanan lainnya yang sma, kepada sarana atau cara lain ynag dibolehkan dan tidak mengandung riba. Yaitu hendaknya ia menjual korma ynag jelek itu terlebih dahulu kemudian dengan uang itu ia membeli korma yang baik yang diinginkannya. Tidak ada salahnya ia berwasilahkan jual-beli untuk mendapatkan yang tadinya diharamkan (dengan cara lain), kendatipun ia tidak memaksudkannya sebagai jual beli, karena Rasulullah saw telah membolehkannya. Sesuatu yang haram ialah sesuatu yang dilarang oleh al-Quran secara jelas.

Hukum yang dapat diambil dari sini ialah bahwa kita dibolehkan bertawasul mengalihkan suatu hukum kepada hukum lain dengan perantara yang disyariatkan. Misalnya seorang yang punya piutang boleh memberikan zakat hartanya kepada orang yang berhutang kepadanya yang tidak mampu membayarnya kemudian ia memintanya lagi sebagai pembayaran hutangnya. Dalam peperangan ini t erjadi dua peristiwa, keduanya disebutkan oleh hadits shahih, yang merupakan peritiwa luar biasa yang dijadikan oleh Allah sebagai dukungan kepad Muhammad saw.

Pertama, Nabi saw mengobati mata Ali ra dengan meludahinya kemudian seketika itu juga kedua mata Ali ra sembuh.
Kedua, Allah memberikan wahyu kepadanya tentang kambing beracun itu, pada saat beliau hendak memakannya. Karena qadha Allah juallah Basyar bin Barra‘ menelan suapannya sebelum Rasulullah saw menyatakan bahwa kambing itu beracun. Itu sudah menjadi qadha-Nya. Barangkali hal itu semakin memperjelas makna perlindungan dan pemeliharaanb Allah kepada Nabi-Nya :“Dan Allah memelihara kamu dair (tipu daya) manusia.“

Telah kami sebutkan bahwa para perawi berselisih pendapat :“Apakah wanita Yahudi itu masuk Islam atau tidak ? Tetapi riwayat yang leibh kuat seperti juga apa yang dipastikan oleh Az-Zuhri dan lainnya menegaskan bahwa wanita itu kemudian masuk Islam. Oleh sebab itu Nabi saw tidak membunuhnya sebagaimana ditegaskan oleh riwayat Muslim.

Tidak boleh dikatakan bahwa hukum qishas mengharuskan dibunuhnya wanita tersebut, sebab kaidah yang disepakati menegaskan :“Islam menghapuskan apa yang sebelumnya“. Pembunuhan yang harus diqishas ialah pembunuhan yang terjadi setelah Islamnya si pembunuh itu. Adapun sebelum keislamannya maka masalah itu dikategorikan kepada masalah hirabah (peperangan). Seperti diketahui bahwa hirabah akan berakhir dengan masuknya seseorang tersebut ke dalam Islam.

Kemudian orang-orang Yahudi Khaibar itu diijinkan tinggal di Khaibar sambil menggarab tanah Khaibar dengan sistem bagi hasil (paron) sampai masa Khalifah Umar ra. Karena mereka membunuh salah seorang Anshar dan melukai kedua tangan Abdullah bin Umar. Khalifah Umar mengumumkan keputusan pengusiran mereka. Katana : „Sebagaimana kalian ketahui, Rasulullah saw dahulu mengatakan bahwa kita boleh mengusir mereka jika kita menghendaki hal itu. Mereka telah menyerang Abdullah bin Umar dan melukai kedua tangannya. Sebagaimana kalian dengar, sebelum itu mereka juga telah menyerang seorang Anshar. Kami tidak meradukan bahwa yang berbuat kejahatan itu bukan teman-teman orang-orang Anshar sendiri, sebab di sana tidak ada musuh selain mereka (Yahudi Khaibar). Karena itu, barangsiapa di antara kalian mempunyai titipan harta di Khaibar hendaknya segera dibereskan. Aku akan mengusir orang-orang Yahudi itu.

Demikian, akhirnya mereka diusir dari Jazirah Arabia. Kalau bukan karena kejahatan dan kesombongan mereka sendiri niscaya mereka tidak akan diusir dari jaz irah Arabia. Tetapi bumi ini diwariskan Allah kepada hambah-Nya ynag shahih. Kemenangan pada akhirnya berada di tangan orang-orang yang bertaqwa.

&

Kedatangan Ja‘far bin Abu Thalib dari Habasyah

24 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Bertepatan dengan jatuhnya Khaibar ke tangan kaum Muslimin, Ja‘far bersama rombongannya dari Habasyah 16 orang lelaki dan seorang perempuan, juga sejumlah orang yang selama itu tinggal di Yaman, datang menemui Rasulullah saw di Khaibar. Kepada mereka Rasulullah saw memberikan bagian dari rampasan perang, setelah meminta ijin dari kaum Muslimin ynag ikut berperang.

Ibnu Hisyam berkata : Ketika Ja‘far bin Abu Thalib datang kepada Rasulullah saw, ia disambut oleh beliau dengan mencium di antara kedua matanya dan merangkulnya kemudian berkata :“Tak tahulah aku mana yang lebih menggembirakan jatuhnya Khaibar ataukah datangnya Ja‘far?“ Ketika hendak berangkat ke Madinah, Rasulullah saw mengangkat seorang dari Anshar, Sawwab bin Ghazayyah dari suku Adi, sebagai wakilnya di Khaibar. Kemudian Sawwad membawa buah korma yang paling baik (janib) dan diberikannya kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw bertanya :“Apakah semua korma Khaibar seperti ini ? Ia menjawab : „Tidak wahai Rasulullah saw . Kami tukarkan dua atau tiga gantang korma yang agak jelek (jam) dengan satu gantang korma yang bagus ini. Nabi saw bersabda :“Jangan kamu lakukan (cara itu). Juallah korma yang agak jelek itu terlebih dahulu kemudian dengan uang itu belilah korma yang bagus.”

&

Perang Khaibar

24 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Kemudian pada akhir Muharram tahun ke 7 Hijrah Rasulullah saw bergerak menuju Khaibar. Khaibar adalah sebuah kota besar yang memiliki banya benteng dan ladang, terletak sekitar 100 mil sebelah utara Madinah ke arah Syam.

Di dalam peperangan ini Rasulullah saw berangkat bersama 1400 tentara yang berjalan kaki dan menunggang kuda. Ibnu Hisyam berkata :“Setelah sampai di Khabiar Nabi saw berkata kepada para sahabatnya :“Berhentilah“, kemudian bermunajat kepada Allah : „Ya Allah, Penguasa langit dan segala keteduhannya, Penguasa kami dengan segala isinya, Penguasa semua setan dengna segala penyesatannya, dan Penguasa angin dengan segala tiupannya, kami memohon kepada-Mu, ya Allah, semua kebajikan yang ada di pemukiman ini, segala yang baik penghuninya, dan segala kebaikan yang ada di dalamnya. Kami berlindung kepada-Mu, ya Allah, dari keburukan yang datang dari pemukiman ini, dari penghuninya dan dari apa yang ada di dalamnya.“
Setelah selesai bermunajat Rasulullah saw memerintahkan :“Majulah ….Bismillah…“.

Biasanya Nabi saw tidak akan mulai memerangi suatu kaum sampai waktu padi datang. Jika beliau mendengar suara adzan di tempat itu beliau tidak jadi memerangi kaum itu. Jika tidak terdengar suara adzan maka beliau akan menyerang kaum itu. Kemudian Rasulullah saw bergerak maju. Ketika para petani Khaibar , yang membawa cangkul dan keranjang, menyaksikan kedatangan Nabi saw mereka lari terbirit-birit seraya berteriak “Muhammad datang beserta tentaranya.“ Menyaksikan hal ini kemudian Nabi saw bersabda : „Allah Maha Besar! Binasalah Khaibar ! Bila kami tidak di halaman suatu kaum, maka pagi harinya orang-orang yang telah diberi peringatan akan mengalami nasib buruk“.

Ibnu Sa‘ad berkata : Kemudian Rasulullah saw menyampaikan nasehat kepada para sahabat dan membaginya beberapa panji kepada mereka. Akhirnya pertempuran pun berkecamuk antara Rasulullah saw dan penduduk Khaibar yang bertahan di bentengbenteng mereka. Benteng demi benteng berhasil ditaklukan kecuali dua benteng : Al-Wathih dan benteng Sulalim. Rasulullah saw mengepung kedua benteng ini selama sepuluh malam.

Imam Ahmad, Nasa‘I , Ibnu Hibban dan al-Hakim meriwayatkan dari hadits Buraidah bin Khashib ia berkata : Pada waktu perang Khaibar, Abu Bakar memegang panji tetapi tidak berhasil menaklukkannya lalu ia kembali. Keesokkan harinya panji itu diambil Umar ra, tetapi ia pun tidak berhasil menaklukkannya. Kemudian Nabi saw bersabda : Besok pagi panji peperangan akan kuserahkan kepada seseorang yang melalui kedua tangannya Allah akan menaklukannya (perkampungan ini). Seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.“

Sepanjang malam banyak para sahabat yang meraba-raba siapakah gerangan yang akan diserahi panji itu ? Keesokkan harinya mereka berdatangan kepada Nabi saw. Semua mengharapkan diserahkannya panji itu kepada dirinya. Kemudian Rasulullah saw bertanya :“Dimana Ali ?“ Mereka menjawab :“Wahai Rasulullah saw ia sedang sakit mata.“ Setelah Ali dibawa ke hadapan Rasulullah saw lalu beliaupun meludahi kedua mata Ali seraya berdo‘a. Saat itu pula kedua mata Ali sembuh, kemudian Rasulullah saw menyerahkan panji kepadanya. Ali bertanya :“Wahai Rasulullah saw, apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka jadi seperti kita (Muslim)?“ Jawab Nabi saw : „Kerjakanlah! Tetapi jangan tergesa-gesa. Tunggu sampai engkau tiba di halaman mereka. Kemudian ajaklah mereka memeluk Islam dulu dan beritahukan mereka kewajiban apa yang harus mereka lakukan terhadap Allah. Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada seorang dari mereka melalui engkau, itu lebih baik daripada engkau memperoleh nikmat yang berupa onta merah.“

Kemudian Ali maju bertempur hingga berhasil menaklukannya. Dan kaum Muslimin pun mengambil semua harta yang ada di dalam benteng-benteng itu sebagai barang rampasan. Di sekitar kedua benteng yang belum bisa ditaklukan itu kaum Muslimin terus melakkan pengepungan. Setelah orang-orang yang ada di dalam benteng merasa tidak berdaya akhirnya mereka meminta kepada Rasulullah saw agar mengeluarkan dan melindungi darah mereka, dan mereka rela menyerahkan harta kepada Rasulullah saw. Permintaan ini akhirnya disetujui oleh Rasulullah saw.

Di samping itu mereka juga meminta kepada Rasulullah saw untuk bisa tetap menggarap tanah Khaibar, karena mereka lebih tahu tentang pengelolaan tanah garapan itu, dengan imbalan separuh dari hasil panennya. Permohonan ini dikabulkan oleh Nabi saw tetapi dengan persyaratan yang dikemukakan Nabi saw :“Kalau kami hendak mengusir kalian maka kalian harus bersedia kami usir.“

Ibnu Ishaq berkata :“Setelah Rasulullah saw merasa aman dan tentang Zainab binti al-Harits, istri Sallam bin Misykan, menghadiahkan kambing bakar kepada beliau. Sebelumnya Zainab telah bertanya daging bagian manakah yang paling disukai Rasulullah saw ? Dikatakan kepadanya :“Daging bagian paha. Kemudian dia menaburkan racun ke seluruh kambing itu terutama bagian pahanya. Setelah dihidangkan maka Rasulullah saw pun mencicipi dan mengunyahnya tetapi tidak sampai ditelan. Sedang Basyar bin Barra‘ bin Ma‘rur yang ikut mencicipi bersama Rasulullah saw telah mengunyah dan menelannya. Rasulullah saw memuntahkan kunyahan itu seraya berkata :“Tulang ini memberitahukan kepadaku bahwa ia mengandung racun.“ Kemudian Nabi saw memanggil wanita itu dan mengakui perbuatannya. Nabi saw bertanya :“Kenapa kamu lakukan itu ?“ Ia menjawab :“Anda telah bertindak terhadap kaumku sedemikian rupa. Kalau anda seorang raja (akan mati karena racun) dan aku merasa lega, tetapi kalau anda benar seorang nabi tentu anda akan diberitahu (oleh Tuhan tentang racun itu).“

Perempuan itu kemudian dilepaskan oleh Rasulullah saw. Akibat makan daging beracun itu, Basyar bin Barra‘ meninggal dunia. Az-Zuhri dan Sulaiman at-Taimi memastikan di dalam Maghazinya bahwa wanita itu kemudian masuk Islam. Tetapi para ahli sejarah berselisih pendapat apakah Nabi saw mengqishasnya atas kematian Basyar atau tidak. Ibnu Sa‘ad meriwayatkan dengan beberapa sanad bahwa Nabi saw menyerahkan kepada keluarga Basyar kemudian mereka membunuhnya. Tetapi yang shahih adalah riwayat yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi saw bersabda kepadanya :“Allah tidak akan mengizinkan kamu untuk membunuhku.“ Para sahabat bertanya :“Apakah kita tidak membunuhnya wahai Rasulullah ?“ Jawab Nabi :“Tidak“. Rasulullah saw membagikan barang rampasan perang Khaibar kepada kaum Muslimin. Bagi yang berjalan kaki mendapatkan satu saham sedangkan bagi seekor kuda mendapatkan dua saham. Nafi‘ ra di dalam riwayat Bukhari, menafsirkan hal tersebut dengan :Jika seorang membawa seekor kuda maka dia mendapatkan tiga saham, jika tidak maka dia mendapatkan satu saham.

Shafiyah binti Huyai bin Akhthab pemimpin Yahudi Khaibar termasuk di antara para wanita Yahudi yang jatuh sebagai tawanan di tangan salah seorang sahabat Nabi saw. Oleh Rasulullah saw wanita Yahudi itu diminta dari sahabatnya, kemudian dimerdekakan dan dinikahi oleh beliau setelah masuk Islam dan pembebasannya itu dijadikan sebagai maharnya.

&

Hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah Perdamaian Hudaibiyah

24 Agu

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

1. Meminta bantuan kepada non-muslim bukan dalam keadaan perang :
Telah kami tegaskan bahwa Nabi saw pernah mengutus Basyar bin Sofyan sebagai intel untuk mencari berita tentang Quraisy. Basyar bin Sofyan waktu itu adalah seorang Musyrik dari kabilah Khuza‘ah. Hal ini menegaskan apa yang pernah kami sebutkan terdahulu bahwa masalah meminta bantuan kepada non-muslim itu tergantung kepada kondisi dan situasi orang yang diminta bantuan tersebut.

Jika dinilai aman dan dapat dipercaya maka boleh meminta bantuannya. Jika tidak dapat dipercayai maka tidak boleh meminta bantuannya. Apa yang pernah dilakukan Nabi saw ialah meminta bantuan non-Muslim bukan dalam keadaan perang, seperti pengiriman intel ke barisan musuh untuk meminjam senjata dari mereka dan lain sebagainya. Nampaknya meminta bantuan non-Muslim dalam masalah-masalah perdamaian juga dibolehkan di antaranya dalam tugas-tugas pertempuran dan peperangan.

2. Tabiat Syura dalam Islam :
Telah kita ketahui bahwa semua tindakan Rasulullah saw menunjukkan disyariatkannya syura dan keharusan seorang pemimpin untuk berpegang teguh kepada prinsip ini. Perbuatan Nabi saw di sini menunjukkan tabiat Syura dan tujuan disyariatkannya syura. Syura adalah syariat Islam tetapi tidak bersifat mengikat (pimpinan), sebab tujuan syura ialah untuk mendapatkan berbagai pandangan kaum Muslimin dan mencari kemaslahatan yang mungkin hanya diketahui oleh sebagian orang, atau untuk memperoleh kerelaan jiwa mereka. Apabila seorang penguasa Muslim merasa mantap dengan pendapat mereka atas dasar dalih-dalih dan hukum-hukum syariat maka ia boleh mengambilnya. Tetapi juga kurang mantap dengan syarat, tidak boleh bertentangan dengan nash yang terdapat di dalam al-Quran, As-Sunnah dan ijma‘ kaum Muslimin.

Dalam perdamaian Hudaibiyah ini Nabi saw meminta pandangan para sahabatnya kemudian Abu Bakar pun mengemukakan pandangannya sebagaimana telah anda ketahui. Ia berkata :“Rasul Allah, keluar hendak melaksanakan Thawaf di Ka‘bah berangkatlah saja!“ Siapa yang menghalangi kita akan kita perangi.“ Pada mulanya Rasulullah saw menyetujui pendapat Abu Bakar ini, kemudian bersama-sama para sahabatnya menuju ke Mekkah sampai onta beliau mogok pertanda tidak boleh terus. Lalu Nabi saw meninggalkan pendapat yang telah dikemukakan Abu Bakar ra seraya mengumumkan : „Demi Allah, jika mereka meminta kepadaku suatu langkah (persyaratan) yang akan menghormati tanah Haram pasti akan aku kabulkan.“

Sejak itulah pandangan yang dikemukakan Abu Bakar ra ditinggalkan dan beralih kepada masalah perdamaian dan menyetujui persyaratan-persyaratan kaum Musyrikin tanpa meminta pandangan siapa pun dalam hal ini bahkan tanpa memperdulikan berbagai keberatan yang dilontarkan oleh sebagian para sahabat sebagaimana anda lihat. Ini berarti bahwa masalah syura harus tunduk kepada hukum wahyu yang adalah sekarang berupa al-Quran, As-Sunnah dan Ijma‘ pada Imam. Ia jga menunjukkan bahwa syura itu disyarioatkan hanya untuk mendapatkan pandangan bukan untuk voting suara.

3. Tabarruk dengan bekas pakai Nabi saw :
Telah kami katakan bahwa Urwah bin Mas‘ud memandangi para sahabat Nabi saw dengan kedua matanya seraya berkata :“Demi Allah, tidaklah Rasulullah saw meludah kecuali ludah itu jatuh ke telapak tangan seorang di antara mereka lalu mengusapkannya ke muka dan kulit mereka. Apabila dia (Nabi saw) memerintahkan sesuatu kepada mereka, mereka berebut untuk melakukannya. Apabila dia berwudlu , mereka berebut seperti orang hendak bertengkar untuk mendapatkan sisa air wudlunya. Apabila mereka berbicara di hadapannya , mereka berbicara dengan menundukkan kepada dan merendahkan suara demi menghormatinya. Itu adalah gambaran hidup dari Urwah bin Mas‘ud tentang sejauh mana cinta para sahabat Rasulullah saw. Ia mengandung sejumlah pelajaran penting yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim.

Pertama,
Ia menunjukkan bahwa tidak mungkin beriman kepada Rasulullah saw tanpa mencintainya. Cinta kepadanya bukan sekadar dalam pikiran tetapi cinta yang memberikan kesan mendalam di dalam hati sehingga membentuk kepribadiannya seperti yang digambarkan oleh Urwah bin Mas‘ud tentang para sahabat Rasulullah saw.

Kedua,
Menunjukkan bahwa tabarruk dengan benda-benda bekas pakai Nabi saw adalah perkara yang disyariatkan. Di dalam beberapa hadits shahih disebutkan bahwa para sahabat pernah tabarruk dengan rambut, keringat, sisa air wudlu dan ludah Nabi saw.

4. Hukum berdiri kepada orang yang duduk :
Telah anda ketahui bahwa Mughirah bin Syu‘bah mengawal Rasulullah saw dengan membawa pedang. Setiap kali Urwah bin Mas‘ud ingin memegang jenggot Nabi saw , ia menepisnya dengan gagang pedangnya seraya berkata :“Jauhkanlah tanganmu dari jenggot Rasulullah saw sebelum kutampar mukamu.“

Dalam pembahasan tentang perang Banu Quraizha telah kami sebutkan bahwa berdiri kepada orang yang duduk adalah dilarang, karena hal itu termasuk bentuk ta‘zhim (penghormatan) yang dipraktekan oleh orang-orang asing dan diingkari Islam. Ia termasuk tamatsul (cara penghormatan) yang dilarang oleh Nabi saw : „Barang siapa ingin menghormati dirinya dengan berdiri maka hendaklah ia mempersiapkan t empat duduknya di neraka.“Adakah terjadi kontradiksi dalam masalah ini ?

Jawabnya bahwa larangan secara umum itu dikecualikan dalam kondisi khusus seperti tersebut di atas. Yakni dalam kondisi kedatangan utusan para musuh kepada seorang Imam atau khalifah, tidak dilarang, bila seorang pengawal atau seorang prajurit berdiri di sisinya guna menampakkan izzah Islamiyah, kemuliaan sang Imam dan melindunginya dari segala kejahatan ynag mungkin akan dilancarkan kepadanya secara tiba-tiba. Adapun dalam kondisi biasa maka hal itu dilarang, karena bertentangan dengan konsekuensi tauhid dan aqidah Islamiah.

Hal ini sama dengan masalah cara jalan Abu Dujanah dalam perang Uhud yang telah kami jelaskan. Dalam pembahasan tersebut telah kami tegaskan bahwa semua bentuk kesombongan dan keangkuhan dalam cara berjalan terlarang secara syariat, tetapi khusus dalam kondisi peperangan hal itu dibolehkan, sebagaimana penegasan Nabi saw tentang cara jalan Abu Dujanah :“Itu adalah cara berjalan ynag dimurkai Allah kecuali di tempat ini.“

5. Disyariatkan Perjanjian Damai antara Kaum Muslimin dan Musuh Mereka.
Para Ulama dan Imam menjadikan perdamaian Hudaibiyah ini sebagai dalil bagi bolehya mengadakan perjanjian damai antara kaum Muslimin dengan musuh mereka selama waktu tertentu, baik dengan da ganti rugi yang diambil oleh kaum Muslimin ataupun tidak. Sebab dalam perdamaian Hudaibiyah ini kaum Muslimin tidak mendapatkan ganti rugi. Jika tanpa ganti rugi saja dibolehkan maka apalagi dengan adanya ganti rugi yang diperoleh oleh kaum Muslimin.

Tetapi jika perdamaian itu mengharuskan kaum Muslimin membayar harta maka menurut jumhur tidak diperbolehkan, karena hal itu merendahkan martabat kaum Muslimin di hadapan musuh, di samping karena tidak adanya dalil al-Quran dan as Sunnah yang membolehkannya. Para Ulama berkat :“Kecuali jika dalam keadaan sangat darurat dan tidak ada jalan lain, seperti dikhawatirkan kaum Muslimin akan binasa atau jatuh menjadi tawanan, sebagaimana seorang ynag ditawan boleh menebus dirinya dengan harta.

6. Imam Syafi‘I Ahmad dan sejumlah Imam yang lainnya berpendapat perjanjian damai
harus dibatasi jangka waktunya, dan tidak boleh lebih dari sepuluh tahun, karena selama
masa 10 tahun itulah Nabi saw mengadakan perjanjian damai dengan Quraisy pada tahun
Hudaibiyah.

7. Syarat dalam mengadakan perjanjian damai ada yang sah dan ada pula yang
bathil :
Syarat yang sah ialah setiap syarat yang tidak bertentangan dengan nash al-Quran atau Sunnah Nabi-Nya. Misalnya mensyaratkan agar pihak musuh membayar harta atau mensyaratkan kepada pihak musuh agar mengembalikan orang-orang Muslim yang datang kepada mereka atau menjamin keamannya. Para Imam menyepakati keabsahan syarat yang terakhir ini kecuali Imam Syafi‘I yang mempersyaratkan untuk itu adanya keluarganya ynag melindunginya di antara kaum Kafir. Sebab, menurut Imam Syafi‘I Nabi saw menyetujui persyaratan Quraisy itu dengan catatan tersebut.

Syarat yang bathil ialah setiap persyaratan yang bertentangan dengan hukum syariat yang ada, misalnya mempersyaratkan pengembalian wanita-wanita muslimat atau mahar-maharnya kepada mereka (musuh) atau memberikan sebagian senjata atau harta kaum Muslimin kepada mereka. Hal ini didasarkan kepada sikap-sikap Nabi saw yang tidak mau mengembalikan wanita-wanita Muslimah yang lari membawa agamanya. Bahkan al-Quran secara tegas melarang hal tersebut.

Barangkali ada yang ingin bertanya : Apakah dengan demikian tidak berarti bahwa Rasulullah saw mengingkari janjinya ? Sebab Nabi saw telah menyepakati untuk mengambalikan setiap Muslim yang datang dari Mekkah? Jawabnya bahwa dalam perjanjian tersebut tidak disebutkan secara eksplisit termasuk kaum wanita, bahkan ada kemungkinan hanya berlaku bagi kaum Laki-laki saja. Dan anda pun tahu bahwa tindakan-tindakan Nabi saw tidak memiliki kekuatan hukum syariat kecuali setelah dilegalisir oleh al-Quran dengan mendiamkannya atau mempertegasnya. Ternyata dalam masalah ini al-Quran telah mengakui semua butir perjanjian damai, kecuali yang berkaitan dengan pengembalian wanita (Muslimah) ke negeri kafir inipun seandainya hal tersebut dimasukkan dalam butir-butir kesepakatan dan persyaratannya.

8. Hukum Ihshar (Membatalkan) Penunaian Haji dan Umrah :
Amalan Rasulullah daw berupa tahallul, menyembelih qurkan dan bercukur , stelah menyelesaikan urusan perjanjian damai, menunjukkan bahwa orang yang Muhshar (membatalkan janji karena suatu halangan) dibolehkan tahallul dengan menyembelih kambing di tempat pembatalannya dan mencukur rambut kemudian berniat tahallul baik dari haji ataupun umrah.

Amalan Rasulullah saw tersebut juga menunjukkan bahwa orang-orang yang bertahallul tidak diwajibkan mengqadlah hadi atau umrah apabila merupakan haji atau umrah sunnah. Sebab Nabi saw tidak pernah memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk mengqadlah setelah itu. Ketika Rasulullah saw melakukan umrah pada tahun berikutnya, tidak semua orang ynag keluar pada tahun Hudaibiyah ini ikut umrah bersama nabi saw sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan mendatang, Insya Allah.

&